PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Senin, 04 Februari 2019

Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 4 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Eun Ho bangun dari tidurnya, lalu panik karena mengingat saat  mabuk dan pergi ke rumah Dan Yi Setelah itu...
“Apa aku memeluknya? Atau aku hanya bermimpi? Apa yang terjadi setelah itu?” gumam Eun Ho mencoba mengingat semuanya, kalau datang ke rumah Dan Yi lalu memeluknya saat pulang.

Dan Yi memanggil Eun Ho dari dapur,  Eun Ho panik langsung bersembunyi dibalik selimutnya. Dan Yi membuka pintu mengaku tahu kalau Eun Ho sudah bangun dan mengajak untuk sarapan. Eun Ho hanya diam saja dibalik selimut.
“Apa Aku mengajarimu mabuk seperti itu?” ucap Dan Yi menarik selimut Eun Ho yang menutupi tubuhnya.


Flash Back
Eun Ho dan Dan Yi duduk bersama dibar, Dan Yi melihat Eun Ho yang sudah  cukup usia jadi akan kuajari cara menikmati alkohol yang benar. Eun Ho hanya tersenyum melihat Dan Yi yang duduk didepanya. Dan Yi mengatakan kalau Eun Ho harus  Pelajari etika minum dari orang yang lebih tua dan bijak.
Saat itu banyak botol berbagai jenis Wine, Whiski. Beberapa pengunjung melihat tak percaya kalau keduanya bisa menghabiskan semua. Pelayan memberikan juga soju ditempat lain hanya untuk pelanggan VIP. Dan Yi senang lalu memberikan tip untuk pelayan.
“Syukurlah kau VIP di sini.” Ucap Eun Ho hanya tersenyum.
“Aku punya koleksi ini karena harus memuaskan berbagai cita rasa klien. Itu tugas pegawai kantoran.” Kata Dan Yi
“Baiklah. Ayo... Nona Pegawai Kantoran.” Kata Eun Ho, Dan Yi pun akan memalui dengan botol wine
“Kau harus tahu cara membukanya.” Ucap Dan Yi mencoba membuka tapi kesusahan. Akhirnya Eun Ho yang membuka mengejek akan mengananggap saja Dan Yi yang membukanya.
“Saat ada yang menuangkanmu wine...” kata Dan Yi, Eun Ho mengambil salah satu gelas.
“Jangan pegang gelasnya seperti itu. Dasar bodoh.” Teriak Dan Yi marah, Eun Ho hanya terdiam karena hanya akan mengeser dan memberikan gelas dengan besar.
“Apa Gelas untuk wine merah yang lebih lebar?” ucap Dan Yi seperti tak yakin
“Anggap saja kau bingung. Lalu Apa lagi?” kata Eun Ho melihat Dan Yi menganggap dirinya tak tahu apapun.
“Begini cara tuang wine, lalu Putar begini.” Kata Dan Yi dan Eun Ho yang sudah lebih dulu melakukanya tap meminta Dan Yi terus mengajarkanya.
“Aku akan mengajarimu minum wiski. Tergantung di mana ia dibuat, wiski... Ini akan kuminum langsung... Karena kau kali pertama, harus pakai batu es.” Ucap Dan Yi memberikan dua pilihan.
Eun Ho pun dengan cepat meminum Wiski dengan es, Dan Yi hanya bisa melonggo karena ternyata Eun Ho bisa minum lalu berpikir  mengetahui soal minuman ini sudah cukup tapi Yang paling penting pelajari cara buat bom soju.
Dan Yi pun dengan bangga membuat Soju dengan Bir memperlihatkan busa yang dibuat lalu menyuruh Eun Ho agar meminumnya. Eun Ho minum tapi Dan Yi seperti yang sudah mulai mabuk bahkan membagikan minuman pada semua pengunjung. 

Dan Yi mabuk mengedor pintu toilet, pria yang ada didepan berteriak marah karena merasa terganggu. Eun Ho melihatnya langsung menariknya karena Dan Yi salah berdiri di toilet pria lalu mendorongnya masuk ke  Toilet wanita dan menunggu diluar.
Di dalam toilet, Dan Yi seperti tak begitu mabuk melihat bibirnya, Eun Ho menunggu diluar terlihat khawatir memanggil Dan Yi, tapi tak ada sahutan lalu berpikir kalau akan masuk. Saat itu juga Dan Yi keluar dengan lipstik yang belepotan dibibirnya seperti mengoda Eun Ho .
“Bertahanlah. Coba Lihat aku sebentar.” Kata Eun Ho meminta Dan Yi bisa berdiri
“Apa Ada sesuatu di wajahku?” tanya Dan Yi mengoda sengaja mendekatkan wajahnya. Eun Ho
“Bukan apa-apa.” Ucap Eun Ho sempat memalingkan wajahnya, lalu membersihkanya dan pergi. Dan Yi mencoba mengoda berpikir dirinya tampak seksi. 


Eun Ho akan membayar tagihan dengan Totalnya 356.000 won. Tiba-tiba terdengar bunyi suara bel tanda [BEL TRAKTIR SEMUA] Wajah Eun Ho panik dan beberapa orang langsung berkumpul ditengah, Dan Yi sudah berdiri diatas podium dengan mic.
“Para hadirin... Adikku akhirnya berusia 20 tahun. Bukankah aku harus lakukan hal spesial untuk merayakan ini? Karena itu, aku akan mentraktir kalian semua... Eun-ho! Selamat.... Adikku!” teriak Dan Yi yang mabuk.
“Firasat buruk selalu benar.” Gumam Eun Ho melihat tingkah Dan Yi

Keduanya duduk di pingir jalan berjauhan, Eun Ho mengeluh Dan Yi yang menghamburkan uangnya. Dan Yi mengaku kalau itu hanya karena ingin, lalu memberitahu pemiliknya sangat menyebalkan dengan menceritakan Bedebah itu memegang bokongnya.
“Dimana bedebah itu?” tanya Eun Ho marah, Dan Yi menunjuk ke arah jalan. Eun Ho pun berpura-pura akan mengajarnya.
“Namun, aku senang telah menghabiskan uang yang kudapat berkat bedebah itu. Kini aku merasa lebih baik.” Ungkap Dan Yi, Eun Ho pun sudah tak peduli.
“Kau benar-benar bodoh. Apa Kau sadar dirimu bodoh?” komentar Eun Ho, Dan Yi mengaku sudah tahu.
“Aku sadar... Aku bodoh...” kata Dan Yi lalu merasa kedinginan dan mengajak Eun Ho pulang saja.
“Katamu dingin. Ayo Kemari.” Ucap Eun Ho lalu memakaikan jaket untuk Dan Yi agar tak kedingingan.
“Coba Lihat ini. Bagaimana lenganku?” keluh Dan Yi, Eun Ho pikir  Lebih baik Dan Yi tak gunakan lengannya karena ada didalam jaketnya.
“Buka ini.. Aku tak bisa pulang begini.” Kata Dan Yi, Eun Ho tak peduli mengajak Dan Yi pergi saja.
“Seharusnya kulakukan dari tadi.” Kata Eun Ho, Dan Yi kesal sengaja memberikan pukulan dengan lengan bajunya seperti tamparan. 



“Aku bertindak berlebihan dan menghabiskan uangku untuk mengajarimu minum. Kenapa masih mabuk seperti itu? Lalu Kau ke mana semalam?” tanya Dan Yi penasaran.
“Ke rumah wanita yang kusuka.” Akui Eun Ho, Dan Yi tak percaya Eun Ho pergi ke rumah wanita
“Seharusnya kau bilang. Kenapa pulang? Harusnya kau menginap. Apa Kau tidur dengan semua orang yang kau suka? Hei.. Ada apa dengan kepalamu? Kurasa, pikiran kotor... Wahh... Aku sudah lama tak berhubungan seks.” Ucap Dan Yi blak-blakan. Eun Ho langsung tersedak.
“Wajahmu memerah lagi... Astaga...” goda Dan Yi, Eun Ho hanya bisa terdiam.

“Semalam, apa aku tidur begitu tiba di rumah?” tanya Eun Ho. Dan Yi mengaku kalau Eun Ho tampak tidur.
“Bukan itu yang kutanyakan Sebelum aku tidur” gumam Eun Ho
“Hei, kau memelukku semalam.” Kata Dan Yi santai, Eun Ho tersedak dengan mengeluarkan semua makanan dari mulutnya.
“Dasar Menjijikkan Bahkan Kau juga mengileriku semalam... Kenapa kau menjijikkan? Hei... Mulutmu berlepotan makanan.” Ucap Dan Yi ingin membersihan wajah Eun Ho tapi Eun Ho seperti merasa canggung dan menjauh.
Dan Yi terlihat santai membersihkan mulut Eun Ho sambil mengeluh terlihat menjijikan. Eun Ho membersihkan mulutnya. 


Eun Ho selesai mandi lalu melihat ada pakaian milik Hae Rin yang masih tertinggal dilemarinya. Akhirnya Ia memasukan ke dalam tas dan mengambil minum di kulka, lalu berteriak karena Dan Yi melihat isi tasnya. Dan Yi mengaku hanya penasaran dan melihat isinya bra merah.
“Ayo. Kembalikan.” Ucap Eun Ho, Dan Yi bertanya apakah Eun Ho akan mengembalikan
“Bukan urusanmu.” Kata Eun Ho sinis, Dan Yi sadar kalau privasi itu penting lalu mengambil gelas dari tangan Eun Ho yang mengambil minum.
Eun Ho menatap Dan Yi seperti merasakan sesuatu, Dan Yi pun pamit pergi lebih dulu.  Eun Ho pikir bisa berangkat bersama, Dan Yi menolak karena  Jika orang-orang tahu maka akan tak nyaman.

Eun Ho baru turun dari mobil, Hae Rin melihatnya langsung memanggilnya. Eun Ho langsung memberikan tas isi pakaianya, Hae Rin melihat isinya binggung karena Eun Ho yang bilang kalau  biarkan saja pakaiannya di rumah Eun Ho, karena pasti nanti kalau mabuk dan datang. Eun Ho memperingatkan Hae Rin agar jangan datang saat mabuk.
“Kau Tak boleh melakukan itu lagi” tegas Eun Ho, Hae Rin melonggo binggung.
“Kini aku tinggal dengan wanita... Jadi, tak boleh datang” akui Eun Ho lalu mengajak pergi. Hae Rin terlihat penasaran. 

Dan Yi membawa buku baru dengan melihat judul [PUCAT, SUATU KEKEJAMAN - PERTARUNGAN AKAL SENGIT YANG AKAN MEMBUATMU TAKJUB] Wajahnya terlihat sangat kecewa karena dianggap bukan miliknya, akhirnya hanya mendorong trolly lalu membagikanya.
Eun Ho menerima buku yang baru rilis, Nyonya Seo, Tuan Bong, Hae Rin juga menerima buku baru. Dan Yi hanya diam saja seperti memedam perasan kecewa.
Eun Ho mengingat saat Dan Yi ingin tahu pedapatkanya tentang judul uraian.  Hae Rin pun tak enak hati karena tahu itu milik Dan Yi saat memberikan tanda bintang “PERTARUNGAN AKAL SENGIT YANG AKAN MEMBUATMU TAKJUB” 


Dan Yi pun memberikan buku pada Nyonya Go di ruanganya. Nyonya Goo bertanya pada Dan Yi tentang uraian buku baru. Dan Yi pikir itu  Tepat sasaran dan itu sempurna untuk bukunya. Nyonya Go yakin kalau Dan Yi berpikir kalau ia mencurinya.
“Sebenarnya, aku juga terpikirkan itu. Dan dari awal sudah kuputuskan untuk memakainya. Jangan bilang kau berasumsi aku tak bisa memikirkan ide yang sama denganmu. Kuharap tak begitu.” Ucap Nyonya Go sinis
“Seperti katamu, mungkin kau memikirkan uraian yang sama persis Dan tak mustahil kau yang lebih dulu. Tapi menurutku, jika memang begitu seharusnya kau bilang saat aku memberitahumu, Sebelum itu dipilih saat rapat. Namun, aku akan berusaha memahamimu dengan caraku.” Ucap Dan Yi
“Bagaimana caranya?” tanya Nyonya Go dingin. Dan Yi mengetahui kalau  orang Inuit tak butuh kata untuk menyatakan keunggulan.
“Tak ada yang namanya paus hebat atau beruang kutub hebat. Begitu juga dengan kita, manusia. Tidak ada yang bisa sempurna... Sekarang Aku harus kembali bekerja.” Kata Dan Yi berjalan pergi. Nyonya Go hanya bisa terdiam. 


Nyonya Seo melihat pengumuman berpikir kalau  pegawai baru sedang ke percetakan. Tuan Bong heran Nyonya Seo yang tak ikut. Tuan Bong merasa tak mungkin karena bisa sakit hati. Keduanya pun berjalan pergi
Di papan tertulis [JADWAL KUNJUNGAN PERCETAKAN HARI INI] dengan nama Cha Eun Ho, Oh Ji Yool, Park Hoon, Kang Dan Yi. 

Di sebuah tempat, seperti ada hujan kertas yang sudah dipotong dan juga buku-buku yang masuk mesin lalu menjadi kertas yang ditumpuk dengan tinggi. Dan Yi, Park Hoon, Ji Yool hanya bisa melonggo melihat semua karena semua buku masih tampak bagus.
“Apa kalian Lihat dua truk itu? Itu semu buku kita. Dan sebentar lagi, mereka akan berakhir seperti ini.” Ucap Eun Ho menunjuk buku yang akan menjadi lembaran sampah.
“Apa kita hanya bisa menghancurkannya? Tidak ada yang salah.” Kata Park Hoon heran
“Kita tak bisa menyimpan semua buku yang tak laku.” Pikir Ji Yool. Eun Ho menjawab kalau Itu butuh biaya.
“Buku ini dikembalikan dari toko, Sebagian rusak karena dibaca. Bahkan Lebih dari setengah yang dikembalikan dari toko sudah rusak, dan penerbit harus menanggung kerugiannya.” Cerita Eun Ho
Di toko buku, beberapa orang sengaja membuka plastik dan membacanya tapi pengunjung tak sengaja menjatuhkan kuah ramyun, melipatnya, menekanya dengan ponsel bahkan tak sengaja menjatuhkan air saat membacanya.
“Buku itu hasil kerja keras. Itu buku pengembangan diri, tapi aku mau pembaca tersentuh.” Gumam Eun Ho melihat judul buku “BAHAGIA DAN DERITA BEKERJA” 


Flash Back
Eun Ho membawa buku “BAHAGIA DAN DERITA BEKERJA seperti sesuatu yang berharga. Tuan Kim langsung mencium buku baru merasa itu aroma buku terlaris. Eun Ho mengeluh kalau Tuan Kim tak harus lakukan itu pada semua buku baru
“Ini akan dilakukan Seumur hidupku, sampai aku mati. Apa Mau coba?” ucap Tuan Kim. Eun Ho menolaknya.
“Buku ini baru muncul kemarin. Ia muncul di hadapan kita sekarang. Menarik, 'kan? Coba Lihat keindahan ini... Kita membuatnya.” Ucap Tuan Kim bangga melihat

Eun Ho melihat kembali buku "Bahagia dan Derita Bekerja." Edisi pertama, Karya Im Seong-mok, Penerbit Kim Jae-min, Namanya tertulis Cha Eun-ho dan Bong Ji-hong di Tim Editorial, Go Yu-seon dan Seo Yeong-a di Tim Pemasaran.
“Tidak ada buku yang terbit dengan sendirinya. Sebuah buku mengandung nama dan jiwa dari banyak orang yang bekerja keras di balik layar.” Gumam Eun Ho seperti mengingatnya saat membuat buku.
Flash Back
Nyonya Goo sedang ada di salon melihat berita [PENULIS MIN YEONG-HAN TERDUGA KEKERASAN SEKSUAL] wajahnya langsung panik memanggil pegawai agar bisa melepaskanya tapi tak ada yang mengampiri. Nyonya Go pun sampai terjatuh duduk kembali karena tak bisa melihat alat spanya.

Eun Ho menunggu di gudang penerbit, Hae Rin datang dengan sepatu berbeda dengan taksi. Eun Ho bertanya apakah Hae Rin sudah baca artikelnya, mereka pun bergegas masuk dan melihat tumpukan buku [LANGIT BIRU DI EKUATOR] dengan Tuan Kim dkk sedang mengeluarkan postcard Tuan Min. 

“Kenapa kemari? Kami tak sengaja menelepon.” Ucap Nyonya Seo. Tuan Bong pikir Ini hari Minggu jadi mereka anak muda harus berkencan.
“Aku tak ada kegiatan.” Kata Hae Rin, Eun Ho mengaku ada kencan jadi menyalahkan Tua Bong jika diputuskan.
“Benarkah? Aku akan menikahimu... Anak-anak, Apa kau mau Paman Eun-ho menjadi ayah tirimu?” ucap Tuan Kim. Dua anak Tuan Kim langsung menjawab menginginkanya.
“Pak Kim datang dari taman bermain.” Kata Nyonya Seo, saat itu seseorang masuk dengan rambut terlihat mengembang didepan pintu, semua menutup mata karena silau. 


Nyonya Go datang dengan rambut yang masih mengunakan dikepalanya, semua membantu mengeluarkan semua poscard didalam buku. Mereka seperti berkerja sama saat masih menjadi penerbit kecil, bahkan anak Tuan Kim juga membantu ayahnya.
“Anak-anak... Ini akan menjadi buku terbitan baru, tapi penulisnya melakukan hal buruk... Jadi, tak bisa dijual... Karena itu dibuang.” Jelas Tuan Kim menjelaskan pada anaknya.
“Putriku, apa pekerjaan ayahmu?” tanya Tuan Kim, Dua anaknya menjawab kalau Ayah mereka membuat buku.
“Anakku, apa impian ayahmu?” tanya Tuan Kim, Dua anaknya menjawab kalau  Memastikan buku yang dibuat ayah mereka dibaca semua orang di seluruh dunia.
“Maaf merusak hari Minggu kalian karena hal seperti ini. Aku juga berutang maaf pada kalian.” Kata Tuan Kim pada semua pegawainya.
“Ini sangat bodoh... Tak perlu minta maaf.” Kata Nyonya Seo, semua terlihat bahagia dalam susah dan senang bersama membangun penerbitan. 

“Aku suka keyakinan Pak Kim. Yakin jika kita lakukan yang terbaik bahkan pada hal kecil, orang akan lebih banyak baca. Dan keyakinan bahwa satu buku itu bisa mengubah hidup seseorang.” Gumam Eun Ho melihat buku  LANGIT BIRU DI EKUATOR
“Kenapa tak diobral saja? Diskon 50 persen? Kurasa orang-orang akan beli.” Kata Nyonya Seo
“Ada sistem harga pada buku.. Jadi, ada batas diskon.” Jelas Eun Ho. Dan Yi pikir bisa disumbangkan.
“Buku yang dikembalikan dari toko tak bisa dijual atau disumbangkan. Jika yang disumbangkan lalu dijual di toko barang bekas, penjualan kita bisa terhambat. Jika dihancurkan begini, setidaknya dapat uang untuk kertasnya.” Kata Eun Ho
Seorang petugas datang memastikan kalau mereka dari Gyeoroo memebritahu kalau sudah hitung jumlahnya dan memberikan amplopnya. Ji Yool melihat kalau tipis sekali. Park Hoon yakin kalau pasti cek. Ji Yool semangat mengeluarkan dan hanya ada 150ribu won saja.
“Kami menghancurkan dua truk buku. Uang yang didapat dari menghancurkan ribuan buku bahkan tak cukup untuk beli 30 buku.” Gumam Eun Ho sedih
Ji Yool dan Park Hoon hanya bisa melonggo, Dan Yi sedikit shock akhirnya berjalan melihat buku [BAHAGIA DAN DERITA BEKERJA] lalu sengaja mengambil buku yang sudah robek, dan berteriak “Kita bisa!” Ketika hanya bisa melonggo melihatnya.
“Buku-buku ini tak hilang selamanya. Setelah dihancurkan, mereka akan didaur ulang. Lalu melalui tangan kami, mereka akan menjadi buku baru.” Gumam Eun Ho lalu berjalan keluar dari gudang. 



Park Hoon mengaku ingin makan daging. Ji Yool setuju sementara Eun Ho menerima telp dari Tuan Kim memberitahu kalau ada di percetakan dan akan kembali setelah menunjukkan proses penghancuran. Tuan Kim mengetahui Eun Ho yang masih disana.
“Aku tak bisa ke sana karena aku akan sedih. Itu semua uang, Apa kau tahu! Uang kita berubah jadi debu! Itu mengesalkan” jerit Tuan Kim hanya bisa menangis. Eun Ho hanya menatap ponselnya karena Tuan Kim yang berlebihan.
“Pak Cha. Bisa buka pintunya?” kata Park Hoon bersama dengan Dan Yi dan Ji Yool sudah ada didepan pintu mobil. 

Saat itu Hae Rin datang, ketiganya langsung menyapa. Dan Yi melihat tas yang tadi pagi dilihatnya sekarang ada ditangan Hae Rin jadi kemungkinan kalau itu milik Seniornya di kantor.  Hae Ri mengajak Eun Ho pulang bersama.
“Ahh... Sudah waktunya pulang.” Kata Eun Ho melihat jam tanganya.
“Ibuku memasak kimchi dan mau kau mencobanya. Apa Ada yang bisa menyetir?” ucap Hae Rin. Park Hoon dengan penuh percaya diri mengangkat tanganya kalau bisa
“Kau Kembalikan ini ke kantor sebelum kau pulang. Sampai jumpa besok.” Ucap Hae Rin. Dan Yi seperti melihat Hae Rin yang punya hubungan dengan Eun Ho hanya bisa diam saja. 

Akhirnya ketiganya pulang dengan Park Hoon yang mengemudikan mobil. Ji Yool membahas kalau keduanya berkencan. Park Hoon bertanya siapa yang dimaksud. Ji Yool mengeluh Park Hoon masih bertanya karena pasti membahas Pak Cha dan Bu Song.
“Kurasa mereka lebih dari sekadar rekan kerja. Bukan begitu, Dan-i? Kau merasakan sesuatu, 'kan? Dia mengendarai mobil kantor ke sana agar bisa pulang bersama. Keluarganya bahkan berikan kimchi. Dia juga biasanya dingin, tapi dia tersenyum lebar pada Pak Cha. Aku bisa merasakan sesuatu. Benar, 'kan?” kata Ji Yool yakin
“Entahlah.” Komentar Dan Yi tak ingin banyak komentar, Park Hoon yakin kalau Ji Yool itu salah karena merasa biasanya sangat cekatan mengetahuinya.
“Tunggu. Kurasa bukan itu masalahnya. Apa Kau yakin mobil kita berjalan pada kecepatan yang benar? Kenapa lambat sekali?” kata Dan Yi melihat disampingnya.
Saat itu dibelakang mobil banyak yang mengantri, lalu menyalip mobil Park Hoon sambil berteriak agar menyetir yang benar. Park Hoon merasa tak ada masalahnya lalu mengaku takut dengan mengemudikan di jalur tengah dan tak bisa pindah.
“Kenapa kau bilang bisa?” keluh Ji Yool kesal. Park Hoon engaku sangat menakutkan menyuruh Ji Yool diam.
“Bukankah kau baru dapat SIM?” kata Dan Yi. Park Hoon mengaku baru kemarin.
“Pemasar harus ke mana-mana. Jadi, wajib bisa menyetir.” Ucap Park Hoon lalu panik melihat truk yang menyalip didepanya dan sangat besar!



Sementara Eun Ho terlihat menyetir dengan nyaman, Hae Rin duduk disampingnya mengaku ingin membawa kimchi ke kantor besok Tapi karena sedang di pusat logistik jadi sengaja mampir. Eun Ho juga senang karena  sudah kehabisan kimchi.
“Hei, aku mencari tahu soal Ji Seo-jun, desainer yang kau sebutkan. Usianya 29 tahun. Sejak awal karier, dia hanya bekerja untuk Wolmyeong. Tapi Apa tahu yang menarik? Dia jurusan sastra Korea.” Ucap Hae Rin
“Apa alasannya hanya bekerja untuk Wolmyeong?” tanya Eun Ho
“Aku berusaha mencari tahu, tapi hanya ada satu wawancara.” Kata Hae Rin mencari hasil wawancara memperlihatkan wajah Seo Joon di tabnya. 
“Dia tampan, 'kan?” kata Hae Rin senang, Eun Ho melirik dan teringat kalau pria itu yang didekati Seo Joon oleh Tuan Kim dan tahu kalau  bekerja di penerbit karena buku itu semua itu diterbitkan yaitu Penerbit Gyeoroo.
“Astaga, kenapa harus dia?” keluh Eun Ho, Hae Rin  mengaku sudah meminta nomornya dari kepala editor di Wolmyeong jadi akan mengirimkan pada Eun Ho. 


Park Hoon panik melihat petunjuk ke UNIVERSITAS HONGIK lalu mencoba agar pindah ke lajur kiri. Ji Yool menyuruh agar pindah, Park Hoon merasa Tangannya tak boleh dilepas dari setir dan meminta Ji Yool agar menyalakan lampu sen.
Ji Yool mencoba menyalakan tapi salah memakainya, Park Hoon panik menyuruh Ji Yool untuk menghentikan. Ji Yool panik malah menyalakan air untuk jendela. Park Hoon akhirnya mengeluh karena sudah melewati plangnya.
 “Jangan salahkanku... Kalian, tenanglah.” Ucap Park Hoon. Dan Yi menyuruh Park Hoon agar meminggirkan mobilnya saja.
“Akan kulakukan jika tahu caranya.” Kata Park Hoon. Ji Yool mengeluh kalau mereka bisa ke Busan saja.
“Lepaskan setirnya... Kau Lepaskan tanganmu dari setir.” Kata Dan Yi mencoba membantu dan menyuruh agar menginjak rem. Tapi Park Hoon akhirnya bisa pindah jalur lalu berhenti. 


“Kurasa ini membuatmu berani.” Kata Park Hoon bisa membuat mobil berhenti.
“Dan Yi, apa kau punya SIM?” tanya Ji Yool. Dan Yi mengaku bisa tapi harus diperpanjang.
“Bagaimana cara kita pulang? Ibuku menelepon... Aku janji akan kencan buta hari ini.” Kata Ji Yool menangis melihat Ponselnya.
“Apa Kau akan kencan buta? Kau baru saja putus. Apa Kau sangat ingin menikah?” sindir Park Hoon
“Kata siapa akan menikah?!! Itu hanya kencan minum kopi dan makan. Kencan buta itu untuk menikah. Aku kencan buta agar dapat uang dari ibuku.” Tegas Ji Yool
“Baiklah. Akan kupastikan kau dapat uang. Apa Kau senang?” ucap Park Hoon senang lalu akan mencoba untuk menyetir lagi.
Dan Yi menolak memilih untuk naik bus saja. Park Hoon pun memikirkan tentang dirinya karena tak mungkin agar mobilnya bisa ditinggal. Ji Yool pun meminta agar jangan menyetir. Beberapa saat kemudian Park Hoon terlihat santai mengemudikan mobil mengajak Ji Yool untuk mendengarkan musik.
“Lupakanlah.” Ucap Ji Yool kesal. Park Hoon dengan bangga merasa kalau  Menyetir itu mudah.
“Aku bisa menyetir dengan kaki.” Kata Park Hoon sampai akhirnya terlihat kalau mobil mereka ditarik oleh mobil derek. 


Didepan restoran PANGSIT SUNHA, Ibu Hae Rin terlihat bahagia melihat Eun Ho yang datang dengan anaknya.  Hae Rin mengeluh karena Ibunya hanya bisa melihat Eun Ho dan melihat anaknya.
“Ibu bisa melihatmu... Aku melihat kalian sebagai pasangan.” Goda Ibu Hae Rin mengajak untuk segera masuk karena dingin.
“Kalian Duduk di sini... Sulit dipercaya ada bangku kosong saat ramai begini. Kurasa alam semesta tahu kalian akan datang.” Kata Ibu Hae Rin pergi karena Akan mebawakan menu favorit Eun Ho.
“Setengah daging dan kimchi, 'kan?” kata Ibu Hae Rin, Eun Ho mengangguk.
“Astaga, pelanggannya banyak. Apa kita tak mengganggu, datang saat ramai begini?”kata Eun Ho melihat restoran yang penuh
“Apa Kau tak lihat senyum ibuku tadi? Kurasa dia lebih menyukaimu.” Keluh Hae Rin
“Itu Mustahil... Dia baik padaku, agar aku baik padamu.” Kata Eun Ho.
Saat itu ada pelanggan yang meminta tambah kimchi. Ibu Hae Rin memanggil suaminya, Tapi suaminya tak keluar akhirnya Eun Ho tak enak hati membantu mengambilkan kimchi. Dan Yi melihat sikap Eun Ho seperti merasa bahagia. 


Dan Yi menaiki bus, mengingat yang saat Hae Rin mengatakan “Ibuku memasak kimchi dan mau kau mencobanya.” Lalu mencoba mengambar dengan spidol di jendela kalau menemukan bra di rumah Eun Ho, lalu Eun Ho menaruh bra itu di tas belanja.
“Tas belanja itu ada pada Song Hae-rin. Ibunya memberikan kimchi buatan rumah.” Kata Dan Yi mengambar kotak KIMCHI
“Artinya mereka pasti berkencan.” Gumam Dan Yi lalu mengingat saat bertanya alasan Eun Ho yang tak mengangkat telpnya.
“Aku sibuk  dan baru diputuskan.” Kata Eun Ho saat itu. Dan Yi ingin tahu alasanya. Eun Ho mengaku wanita itu aneh.
“Apa Dia yang meninggalkan bra? Katanya aku tak kenal cinta. Tapi katanya dia sudah putus.” Gumam Dan Yi mencoba mengingat kembali
Dan Yi saat bertanya ke mana Eun Ho semalam. Eun Ho menjawab kalau pergi Ke rumah wanita yang disuka. Dan Yi pikir kalau keduanya  pasti berbaikan malam itu jadi  Itu sebabnya Eun Ho menerima kimchi dari orang tuanya. Setelah mengambar semua pikiranya, buru-buru menghapus dari jendela bus.
Bersambung ke part 2
Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar