PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 13 Februari 2019

Sinopsis The Light In Your Eyes Episode 2 Part 1

PS : All images credit and content copyright : JBTC

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Hye Ja terbangun dari tidurnya, teringat kalau semalam mabuk akhirnya tertidur. Ia teringat saat mengatakan pada Joon Ha kalau ada kesempatan memundurkan waktu. Joon Ha pikir ituBagus kalau memang benar.
“ApaKau sungguh ingin melakukan itu? Apa kau bersungguh-sungguh, kan? Jangan menyesal nanti” ucap Hye Ja memperingati akan memutar waktu
“Cobalah, sungguh.” Kata Joon Ha merasa itu hanya bercanda
“Setelah selesai, tidak akan kembali.” kata Hye Ja. Joon Ha yakin
Hye Ja panik turun dari tempat tidur melihat wajahnya, ternyata masih sama tapi ada lingkaran hitam dan kulitnya mengendur berpikir kalau terlihat lebih tua dan berjanji tak akan memutar arloji lagi.

Hye Ja akhirnya minum sup lubak di dapur mengurangi rasa mualnya, lalu mencampurnya dengan nasi. Ibunya datang langsung memukul anaknya. Hye Ja kaget bertanya kenapa ibunya memukulnya. Nyonya Kim makin kesal anaknya malah bertanya.
“Aku orang dewasa yang boleh minum semauku.” Ucap Hye Ja merasa tak masalah
“Aku tak pedulikan itu... Kau ingin jadi pewarta tapi minum sampai larut malam dan menghantamkan kepalamu.” Ucap Nyonya Kim
“Kepalaku? Di mana?” tanya Hye Ja binggung lalu tersadar ada plester didahinya.
“Apa Aku tak hampir mati tadi malam?” tanya Hye Ja panik. Nyonya Kim mengatakan  Bukannya hampir mati, tapi hari ini anaknya akan mati dan siap memukul anaknya.
“Ibu... Ini, aku... Bisakah setidaknya biarkan aku makan sedikit sebelum mati?” kata Hye Ja memohon. Nyonya Kim pikir ini  bukan waktu yang tepat untuk makan. Hye Ja pun kabu keluar rumah mengaku tak mau makan!

Hye Ja mengeluh merasakan sakit terkena pukulan dan melihat ayahnya sedang membersihakan taksi, sambilk mengejek anaknya yang masih membersihkan mobil usang itu karena  Tak ada yang peduli. Tuan Kim menyindir anaknya  janji akan belikan taksi baru sesudah dapat banyak uang.
“Jadi mobil ini Harus Ayah gunakan sampai saat itu.” Ucap Tuan Kim. Hye Ja merasa  Sepertinya akan sulit.
“Beli saja mobil baru terlebih dahulu.” Kata Hye Ja. Tuan Kim mengejek Hye Ja  tak konsisten.
“Bukankah kau punya pacar?” goda Tuan Kim. Hye Ja tak mengerti maksud ucapan ayahnya.
“Lalu Kepalamu tak apa? Apa Kau tahu kenapa kepalamu terluka?” tanya Tuan Kim
“Tentu saja. Karena aku tak terlalu mabuk.” kaya Hye Ja memegang kepalanya.
“Sudah Ayah ceritakan kenapa stainless disebut stainless, kan? Kau pasti sudah pelajari itu.” Kata Tuan Kim menyindir. Hye Ja binggung apa itu Stainless. 

Flash Back
Hye Ja mabuk memastikan agar Jangan menyesal lalu karena tak tahan akhirnya menjatuhkan kepala dimeja membuat mangkuk melayang lalu menghantam kepalanya. Ia pun terjatuh ke belakang dari tempat duduknya. Joon Ha yang melihatnyanya hanya bisa melonggo.
Akhirnya Hye Ja  mengerti tentang stainless yaitu mangkuk udon yang membuat kepalanya terlihat. Tuan Kim berkomentar Hye Ja adalah supir yang sangat baik yang membuat Ayahnya kaget. Hye Ja tak mengerti maksudnya menyetir lalu memikirkan sesuatu.
“Benar. Kau mengendarai dia.” Kata Tuan Kim, Hye Ja hanya bisa melonggo.
Flash Back
Hye Ja digendong pulang oleh Joon Ha tapi tanganya menarik rambut Joon Ha  dianggap seperti sedang main bombomcar. Joon Ha pun tak mengeluh sakit padahal Hye Ja berteriak agar berjalan dengan benar. 

“Dasar Gila! Gila! Gila! Betapa gilanya kau tadi malam.” Jerit Hye Ja akhirnya membaringkan tubuhnya diatas mobil.
“Tanganmu penuh dengan rambutnya yang kau cabut. Kau bisa cabutin lagi yang banyak lain kali. Lalu Ayah akan menanamnya di kepalaku.” Ejek Tuan Kim
“Apa Dia bilang sesuatu?” tanya Hye Ja panik. Tuan Kim menceritakan Joon Ha tak berbuat salah, tapi terus meminta maaf.
Hye Ja ingin tahu apa yang dikatakan lagi oleh Joon Ha.  Tuan Kim pikir anaknya tak ingat sama sekali lalu mengeluh Hye Ja terus meminta menceritakan kejadian semalam.
“Ayah bilang akan membunuhnya jika dia membuat anakku minum sebanyak itu lagi.” Ucap Tuan Kim. Hye Ja panik ayahnya mengatkan hal itu.
“Kenapa? Apa Khawatir takkan pernah berjumpa pacarmu lagi?” goda Tuan Kim. Hye Ja mengeluh kalau Joon Ha sebagai pacarnya
“Reaksimu mengatakan dia pacarmu.” Ejek Tuan Kim, Joon Ha tetap mengelak akan masuk rumah tapi kembali menemui ayahnya.
“Menurut Ayah, dia bagaimana?” tanya Hye Ja penasaran. Tuan Kim pikr Joon Ha tampak seperti orang baik. Hye Ja tak percaya mendengarnya.
“Kau tak boleh berkencan dengannya.” Tegas Tuan Kim. Hye Ja pun memilih pergi 


Young Soo sedang mencoba teknik mematikan lilin dengan kibasan tanganya, wajahnya terlihat bahagia tapi dikagetkan oleh sosok wanita yang menempelkan wajahnya di jendala. Hye Ja seperti mengangguk kakaknya. Young Soo menyuruh Hye Ja agar pergi.
“Apa yang kau lakukan? Jadi, Apa kau buat angin dengan tangan?!” ucap Hye Ja masuk kamar kakaknya.
“Apa kau barusan tak lihat? Lilin itu padam?” kata Young Soo bangga. Hye Ja mengeluh kakaknya menyedihkan.
“Oh ya, di mana rumah bedebah itu?” ucap Young Soo marah. Hye Ja bertanya Siapa yang dimaksud lalu panik alasan kakaknya mengetahuinya.
“Menurutmu kenapa pria membuat wanita minum? Akan kubunuh bedebah itu. Jangan menghalangiku.” Ucap Young Soo
“Tetap diam jika tak ingin dihajar olehnya” kata Hye Ja mengancam. Young Soo tak yakin bisa dihajar. Hye Ja pikir mengejek Young Soo dihajar Hyun Joo juga.
Flash Back
“Jika itu yang kau inginkan, maka aku akan bertarung dengan taekwondo.” Ucap Young Soo dengan penuh keyakinan, Tapi saat itu bisa memberikan tendangan yang tinggi.
Young Soo mengingat kejadian memalukan mengaku tak mungkin bisa  menghajar wanita jadi membiarkan Hyun Joo yangmenghajarnya. Hye Ja tak ingin membahasnya lagi lalu meminta kakaknya agar mengambilkan sup untuk mabuk dan nasi.
“Kenapa? Apa Kau melakukan kesalahan?” ucap Young Soo lalu ingin berteriak memanggil ibunya. Hye Ja panik.
“Akan kujodohkan kau dengan wanita.” Ucap Hye Ja. Young Soo pikir kalau itu Sang Eun atau Hyun Joo
“Ada teman lain... Dia sangat cantik.” Kata Hye Ja memberikan penawaran. Young Soo pun setuju.
“Percayakan pada Kakak kalau begitu.” Ucap Young Soo yakin. Hye Ja meminta agar Jangan sampai Ibu tahu.
“Aku putra tertua keluarga ini.” Kata Young Soo yakin lalu berteriak mengaku lapar pada ibunya dan meminta agar diberikan makan. 


Hye Ja tak percaya kakaknya membawa nampan dengan sup dan juga nasi, Young Soo dengan bangga memberitahu kalau ibunya yang membuatkan sendiri untuknya. Hye Ja pun langsung melahap sup pereda mabuk. Young Soo pikir Hye Ja akan makan keripik juga.
“Kau bahkan tak dapat membuka bungkus itu dengan benar karena Ibu... Hei.. Berhenti tipu-tipu.” Ucap Hye Ja akhirnya melihat bentuk tamparan diwajah kakaknya yang disembunyikan saat masuk.
“Aissh.... Kau hanya mengisap kimchi lobak itu.” Keluh Young Soo. Hye Ja mengelak kalau mengunyahnya dan berpikir kalau harus mengeluarkan suara makannya. 

Saat itu Nyonya Kim masuk kamar marah melihat Hye Ja yang makan. Young Soo panik meminta agar Nyonya Kim sabar memberitahu ibunya kalau sudah menampar di wajah sebelah kiri. Hye Ja mencoba bersembunyi didepan rak buku kakaknya.
"The Prohibition Against Double Jeopardy". Tak seorang pun akan dikenakan pelanggaran yang sama dua kali.” Ucap Young Soo
“Ini pelanggaran lain... Kau mengambil uang dari dompet Ibu.” Ucap Nyonya Kim marah
“Aku bermaksud beritahu Ibu, tapi aku lupa karena sesuatu yang mendesak.” Kata Young Soo panik
“Apa yang mendesak itu?” tanya Nyonya Kim, Young Soo mengaku  sangat ingin makan keripik... Young Soo makin marah siap memukul anaknya dengan stick baseball.
Young Soo mengaduh kesakitan, Hye Ja mencoba kabur juga dari ibunya. Nyonya Kim pun mengejar anaknya, saat itu Hyun Joo dan Sang Eun datang. Hye Ja memberitahu ibunya kalau teman-temannya datang main. Hyun Joo pun menyapa Nyonya Kim.
“Halo, Hyun Joo dan Sang Eun... Karena sup ikan akan segera matang, kalian harus makan.” Kata Nyonya Kim ramah. Keduanya pun masuk kamar dengan wajah bahagia.
“Ibu, bisakah bawakan minuman untuk teman-temanku?” kata Hye Ja, Nyonya Kim pun tak bisa memukul anaknya.
Sementar diminimarket. Joon Ha melihat tiga orang wanita yang berjalan bersama berpikir itu Hye Ja tapi tak juga datang. Akhirnya Ia melihat jam tangan yang ditinggalkan oleh Hye Ja. 


Sang Eun mendengar cerita Hye Ja berkomentar itu  Romantis. Hyun Joo heran dengan Sang Eun yang berpikir romantis padahal terkena mangkuk udon. Hye Ja pikir kalau tak akan bisa menjumpai Joon Ha Karena sudah mempermalukan diri di depannya.
“Begitulah cinta dimulai.” Ucap Sang Eun. Hyun Joo pikir Sang Eun   beruntung jika Joon Ha tak berpikir kalau temanya itu gila. Hye Ja tak percaya mendengarnya.
“Kau layak disebut itu.” Ejek Hyun Joo, Hye Ja pun tak bisa mengelak membenarkan ucapan temanya.
“Tetap saja aku iri padamu. Dalam 10 tahun aku sebagai trainee, aku tak pernah berkencan. Yang kulakukan hanyalah membersihkan kantor, dan aku sudah tua sekarang. Aku sungguh menyia-nyiakan 25 tahun hidupku.” Ucap Sang Eun sedih
“Hei, umur 25 tahun bagi wanita adalah umur ketika kita tak dapat melakukan sesuatu yang benar-benar bermakna. Mereka bertanya padaku setiap kali aku wawancara. "Memulai sekolah lebih awal?" Itu berarti wajahku terlihat tua.” Keluh Hye Ja.
“Setidaknya kalian melakukan apa yang ingin kalian lakukan. Tapi aku Tidak ada yang ingin dilakukan, dan aku tak punya keahlian. Orang lain sibuk mencari pekerjaan dan berkencan. Aku hanya akan menua dan mati membuat chunjang.” Kata Hyun Joo sedih
“Ini Tak boleh begini. Ya, ayo pergi... Kita perlu mengangkat semangat kita. Go!”kata Hye Ja penuh semangat. 



Ketiganya berada didepan jendela, Sang Eun heran melihat Young Soo perlahan membuka bungkus mie lalu mencelupkan pada air, brtanya apa yang dilakukan kakak Hye Ja. Young Soo pun mulai makan mie tanpa dimasak.
“Karena dia akan ketahuan ibu jika mengeluarkan suara.” Ucap Hye Ja.
“Sungguh menyedihkan... Sudah kuputuskan untuk mensyukuri atas semua yang kumiliki dan bekerja keras. Perasaanku sudah lebih baik sekarang.” Komentar Hyun Joo
“Tapi, aku ingin mencoba yang dia makan.” Ucap Sang Eun, saat itu Young Soo melihat Hye Ja dan teman-temanya mengintip.
Hyun Joo panik karena Young Soo melihatnya dan akhirnya mereka pun kabur. Saat itu Young Soo keluar dari kamar memanggil Hyun Joo sebelum pergi menjauh. 

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Young Soo akhirnya duduk didepan rumah. Hyun Joo binggung akan mengaku kalau Hye Ja... Tapi Young Soo kembali bicara.
“Apa Kau di sini untuk melihatku?” ucap Young Soo. Hyun Joo mengaku bukan seperti itu, Young Soo kembali bicara sebelum Hyun Joo.
“Kukatakan kita sudah selesai... Kau Pasti sulit pindah ke lain hati,  Kuyakin kau sangat menyesal... Aku yakin, kau sudah mencoba menemukan apa yang kau sukai dariku pada pria lain. Tapi Hyun Joo, hatiku tak tertarik untuk memulai lagi.” Ucap Young Soo percaya diri. Hyun Joo hanya menatapnya.
“Kedepannya berhenti memanfaatkan Hye Ja sebagai alasan untuk melihatku. Kenyataan aku adalah pacar pertamamu adalah berkah bagi hidupmu.” Kata Young Soo, Hyun Joo sudah tak bisa menahan diri ingin melempar pot, Hye Ja dan Sang Eun menahanya lalu mengajak pergi.

Hye Ja menenangkan temanya kalau Hyun Joo bersikap seperti itu hanya karena masih SMP. Hyun Joo merasa Hidupnya hancur ketika mengingat masa-masa SMP walaupun sadar tapi seperti tak percaya saat masih remaja bisa  memiliki standar yang begitu rendah.
“Dia tampan...” ucap Sang Eun. Hyun Joo akan marah tapi heran melihat temanya berhenti disebuah cafe.
“Siapa yang dia lihat?” ucap Hye Ja akhirnya melihat Joon Ha. Hyun Joo bisa tahu kalau Joon Ha dalah pria yang membuat temanya malu karena wajah Hyun Joo langsung berubah.
“Siapa wanita itu?” tanya Sang Eun. Hye Ja menjawab Seo Yeon. Sang Eun bertanya Siapa Seo Yeon.
“Juniorku yang sekarang jadi pewarta.” Kata Hye Ja. Sang Eun mengerti kalau yang dimaksud adalah gajah di lapangan itu.
Hye Ja dengan wajah kesal berpikir Seo Yeon adalah "Dia menjual kerang laut."Sang Eun dan Hyun Joo berpikir kalau Joon Ha adalah pria yang lucu yang dipikirkan temanya. Hye Ja mengelak kalau Joon Ha tak seperti itu.
“Lalu dia menargetkannya... Dia terus tertawa lepas. Dia benar-benar main mata dengannya.” Kata Sang Eun dan Hyun Joo bersamaan melihat Seo Yeon mengoda Joon Ha.
“Apa Hye Ja kau baik-baik saja?” kata Sang Eun khawatir. Hye Ja pikir kenapa menanyakan hal itu karena Joon Ha bukan pacarnya lau mengajak pergi.
Sang Eun melihat Hyun Joo terus melihat ke arah restoran. Joon Ha pun sadar ada dua wanita yang mentapanya. Dua teman Hye Ja menatap Joon Ha dengan tatapan sinis. Joon Ha makin binggung. 



Nenek Joon Ha menarik gerobak tapi tak bisa menanjak berpikir banyak tak bisa bergerak.  Tapi saat itu gerobaknya tiba-tiba berjalan dengan cepat, Ternyata Hye Ja mendorongnya dari belakang. Nenek Joon Ha merasa tak enak hati. Hye Ja merasa tak masalah bisa membantu Nenek Joon Ha.
“Bagaimana jika kau terluka sebelum ujian pentingmu?” kata Nenek Joon Ha
“Tidak, tak akan.. Aku pun pergi lewat jalan ini” ucap Hye Ja terus mendorong gerobak nenek Joon Ha. 

“Gara-gara aku, kau berjalan jauh kemari untuk membantuku. Bagaimana ini?” ucap Nenek Joon Ha akhirnya sampai ke depan rumah.
“Tak apa... Rumahku tak terlalu jauh dari sini.” Kata Hye Ja dan akan pamit  pulang.
“Tidak... Kau Masuk kedalam, makan malam dulu... Kau Belum makan, kan?” ucap Nenek Joon Ha. Hye Ja menolak karena  akan makan dirumah.
“Aku harus makan sendirian karena cucuku belum pulang.” Kata Nenek Joon Ha sedih. Hye Ja kasih merasa tak enak akhirnya akan menemani Nenek Joon Ha makan. 

Nenek Joon Ha membawa nampan diatas meja, Hye Ja pun membantunya. Nenek Joon Ha pikir tak ada lauk pauk jadi akan menggoreng telur. Hye Ja mengaku tak perlu karena tak suka telur. Nenek Joon Ha pun mengajak Hye Ja duduk.
Saat itu Joon Ha pulang, Hye Ja pun akhirnya mau tak mau menyapanya lalu mereka duduk bersama dengan wajah gugup. Nenek Joon Ha memberitahu kalau ia makan makanan pedesaan jadi tak tahu Hye Ja akan suka atau tidak.
“Tidak... Rasanya sangat lezat.” Kata Hye Ja makan senyuman. Nenek Joon Ha memuji Hye Ja wanita yang luar biasa.
“Saat makan pun dia terlihat cantik, kan?” kata Nenek Joon Ha. Joon Ha pun membenarkan.
“Bagaimana jika wajahku memerah? Apa ini terlihat merah?”gumam Hye Ja melihat wajahnya dari cerminan sendok.
“Kimchi daun bawang hijau nenekku sangat enak. Makanlah.” Kata Joon Ha bangga. Hye Ja pun mulai makan tanpa terputus.
“Nenek, kimchi bawang merahmu terasa paling enak dengan ramyeon.” Kata Joon Ha tersenyum melihat Hye Ja seperti makan dengan lahap. Hye Ja tersenyum mendenagrnya.
“Aku akan mengemas beberapa untuk kau bawa pulang. Cobalah dengan ramyeon di rumah.” Kata Nenek Joon Ha. Hye Ja pikir tak perlu.
“Tak usah sungkan. Dia membuatku tersanjung.” Kata Nenek Joon Ha. Hye Ja pun mengucapkan Terima kasih.



Nenek Joon Ha mengaku hanya ada sedikit kimchi yang tersisa dan meminta maaf karena hanya bisa memberi Hye Ja sewadah kecil. Hye Ja melonggo karena ditanganya kotak besar yang dianggap kecil. Dan itu artinya banyak.
“Kubantu membawanya.” Kata Joon Ha. Hye Ja pikir tak masalah karena bisa membawanya sendiri.
“Jalanan Gelap. Antar dia pulang dengan selamat.” Ucap Nenek Joon Ha. Hye Ja pun pamit pergi dan Joon Ha mengantarnya.
“Terimakasih untuk makan malamnya.” Kata Hye Ja. Joon Ha berjanji tak akan lama menyuruh neneknya segera masuk ke dalam rumah.

Keduanya berjalan pulang, Joon Ha bertanya apakah Kepala Hye ja  baik-baik saja. Hye Ja mengaku baik-baik saja Karena kepalanya sekeras batu dan bertanya balik apakah rambutnya baik-baik saja. Joon Ha mengaku untungnya masih tersisa banyak.
“Terima kasih.” Kata Joon Ha. Hye Ja binggung untuk apa mengatakan itu.
“Atas tawaran memundurkan waktu untukku... Walaupun bercanda, terima kasih. Aku hampir ingin mempercayainya.” Ucap Joon Ha lalu merasa bingung untuk mengatakanya.
“Haruskah kukatakan kau tumbuh dengan orang tua yang penuh kasih? Aku iri padamu karena bisa bicara omong kosong dengan penuh percaya diri.” Ucap Joon Ha.
“Apa Kau membenciku secara halus saat ini?” komentar Hye Ja.
“Kukira aku tak cukup baik. Aku selalu memastikan melakukan semuanya dengan benar. Jika aku tak melakukan sesuatu dengan sempurna, kupikir kekurangan akan menjadi kelemahanku.” Kata Joon Ha.
“Terdengar seperti kau kurang cinta... Aku tak membenci diriku sendiri. Tak bisa kubilang, aku sangat mencintai diriku sendiri, hanya sepertinya aku baik-baik saja... Tentu saja aku punya kekurangan Tapi kupikir aku cukup imut.” Ucap Hye Ja merasa dirinya sudah gila mengatakan hal itu.
“Yah, yang coba kukatakan adalah kau harus lebih mencintai dirimu sendiri. Itu akan membantumu menjadi lebih murah hati pada diri sendiri.” Kata Hye Ja. Joon Ha mengaku suka kata-kata itu.
“Kemudian... mari kita coba untuk jadi lebih murah hati dan bicara santai satu sama lain. Mengingat apa yang kita lalui kemarin, kita harus bicara santai.” Ucap Joon Ha
“Mengenai kemarin, aku dengan tulus meminta maaf... Maksudku, aku minta maaf. Dan kedepannya, takkan terjadi lagi.” Ucap Hye Ja memohon. Joon Ha melihat apartement didepanya lalu mengajak untuk ikut denganya. 



Hye Ja tersenyum melihat Joon Ha mengajak ketempat yang romantis diatap apartement hanya berdua saja. Ia berpikir Joon Ha akan memberikan ciuman, kakinya sudah berjinjit dengan mata terpejam. Dan mulutnya sudah maju.
“Pada malam hari, pemandangan di sini sangat cantik, kan?” ucap Joon Ha. Hye Ja pun membuka matanya dengan wajah malu membenarkan ucapan Joon Ha.
“Di sini, kau mungkin dapat melihat dengan jauh.” Kata Joon Ha bahagia melihat pemandangan dimalam hari.
“Benar juga. Aku sudah lama tinggal di lingkungan ini, tapi aku tak tahu... Aku tak bermaksud mengintai, tadi kulihat kau dengan Seo Yeon.” Ucap Hye Ja penasaran.
“Ya, dia meminta untuk bertemu tiba-tiba.” Ucap Joon Ha santai. Hye Ja ingin tahu alasan dengan wajah kesal.
“Dia ingin berkencan.” Akui Joon Ha. Hye Ja kaget dan ingin tahu jawabanya.
“Aku tolak.” Kata Joon Ha. Hye Ja tersenyum bahagia mendengarnya lalu merasa Pemandangan di atas sangat cantik.
“Coba kau Lihat bulan... Bulan pun terlihat cantik... Ini Sejuk!” jerit Hye Ja bahagia. Mereka pun menikmati pemandangan malam hari.


Hye Ja perlahan diam-diam masuk rumah, saat itu Young Soo sudah ada didepan pintu kamarnya.  Hye Ja memohon agar tak memanggil ibunya. Young Soo pun menyuruh Hye Ja agar ikut ke dalam kamarnya.  Hye Ja binggung melihat ada makanan di kamar kakaknya. Young Soo menyuruh adiknya duduk.
“Kau mau apa lagi?” keluh Hye Ja sinis. Young Soo mengomel adiknya yang  Beraninya bicara seperti itu pada kakaknya.
“Ada sesuatu, kan?” ucap Young Soo. Hye Ja menyangkal kalau tak ada.
“Aku kakakmu... Aku mengenal kau lebih baik daripada orang lain.” Kata Young Soo. Hye Ja pikir Kakaknya bahkan tak ingat ulang tahunnya.
“Yang kumaksud bukan hal materi seperti itu... Maksudku secara mental.” Ucap Young Soo. Hye Ja mengaku tak ada.
“Aku tahu ada sesuatu yang terjadi. Apa itu? Katakan padaku. Apa masalah pria?” kata Young Soo yakin. Hye Ja mengelak tak ada.

“Apa masalah kerjaan?”kata Young Soo. Hye Ja merasa tak ada dan meminta agar tak membahasnya.  Young Soo mengaku sangat membenci melihat adiknya menderita.
“Sejujurnya, aku sudah menyerah jadi pewarta.” Akui Hye Ja, Young Soo tak percaya mendengarnya.
“Apa Ibu tahu?” tanya Young Soo. Hye Ja mengelengkan kepala. Young So pikir ibunya pasti  akan sangat kecewa.
“Satu-satunya impian Ibu adalah kau menjadi pewarta.” Kata Young Soo.
“Itulah yang paling kukhawatirkan.” Kata Hye Ja. Young Soo merasa kasihan sambil mengelus kepala adiknya.
“Aku tak tahu suatu hari akan dihibur kakak.” Ucap Hye Ja. Young Soo mengaku merasa kasihan.
Hye Ja tak percaya melihat sikap Young Soo meminta agar tak berlebihan. Young Soo mengaku sengaja melakukan karena Ibu mereka akan memukulm Hye Ja dengan kejam. Hye Ja panik, Young Soo berteriak memanggil ibunya. 


Young Soo berteriak kalau Hye Ja tak akan jadi pembaca berita. Hye Ja makin panik mengejar kakaknya keluar dari kamar. Ibu dan ayah Hye Ja keluar dari kamar. Hye Ja mengeluh karena Seharusnya  tak pernah mempercayai kakaknya.
“Apa katamu?” tanya Nyonya Kim. Hye Ja meminta ibunya agar tenang dan mendengarkan perkataanya.
“Ya, ibu tahu aku tak cukup baik untuk menjadi pewarta. Jadi secara objektif, aku tak punya kesempatan.” Jelas Hye Ja
“Orang tua seperti apa yang bisa objektif mengenai anak mereka sendiri? Aku tak butuh anak yang tak mengerti keprihatinan orang tua mereka.” Ucap Nyonya Kim marah
“Aku akan menemukan sesuatu yang lain. Aku tak berencana bermalas-malasan seperti dia.” Ucap Hye Ja menunjuk ke arah kakaknya.
“Tentu saja. Jadi, apa yang akan kau lakukan?”kata Nyonya Kim. Hye Ja mengaku masih memikirkanya.
“kau bilang “masih Pikir-pikir"? Berapa usiamu? Bagaimana bisa kau masih pikir-pikir? Kau sudah 25 tahun... Karena kau ingin menjadi pewarta, sejauh ini aku baik bagimu.” Ucap Nyonya Kim tak bisa menahan amarahnya.


Hye Ja panik mencoba kabur dari ibunya, Tuan Kim pun membantu anaknya untuk masuk kamar dan menahanya agar tak terdorong. Nyonya Kim berteriak agar meminta dibuka pintunya. Tuan Kim terus menahan pintu agar tak beruk.
“Awas ibu. Aku bisa membukanya dalam waktu 10 detik.” Ucap Young Soo yakin, tapi ibunya malah memukul anaknya.
“Kenapa kau memukulku?” keluh Young Soo. Nyonya Kim menyuruh Young Soo agar pergi dari hadapannya. 

Hye Ja sudah ada ditempat tidur dengan posisi panik akhirnya Pintu pun bisa terkunci.Tuan Kim memastikan kalau keadaan sudah baik-baik saja. Hye Ja pun duduk dengan tenang disamping ayahnya mengaku sangat lelalh.
“Ayah... Maafkan aku...” ucap Hye Ja merasa bersalah.
“Aku tidak pernah berpikir kau cocok menjadi pewarta. Kau akan lebih cocok menjadi... Miss Korea.” Goda Tuan Kim
“Kau seharusnya membuatku minum lebih banyak susu.” Keluh Hye Ja. Tuan Kim pikir sudah menyuruhnya tapi Hye Ja tidak ingin mendengarkan. A
“Aku benar-benar ingin menjadi pewarta dan membeli mobil baru.” Kata Hye Ja sedih
“Tapi kau tidak perlu menjadi pewarta untuk melakukan itu.” Ucap Tuan Kim. Hye Ja merasa Tuan Kim begitu berhati dingin.
“Bukannya Ayah harus bilang, "Tidak apa-apa, putriku... Aku senang selama kau sehat"?” keluh Hye Ja.
Tuan Kim pikir kalau Hye Ja sudah cukup sehat. Hye Ja pikir benar lalu menanyakan nanti ibunya. Tuan Kim yakin istrinya akan merengek selama beberapa hari Tapi setelah itu, akan berhenti dan mulai mengkeriting rambut lagi.
“Bagaimana denganmu?” tanya Hye Ja pada ayahnya. Tuan Kim pikir hanya harus menanggungnya.
“Bukan itu maksudku.. Tapi Bagaimana perasaanmu?” kata Hye Ja. Tuan Kim mengaku baik-baik selama Hye Ja agar baik-baik saja.
“Aku sangat senang kau ayahku.”ungkap Hye Ja merangkul ayahnya. 


Hye Ja terbangun dari tidurnya terdengar suara ayahnya yang pamit pergi pada istrinya akan berangkat kerja meminta agar jangan terlalu keras pada Hye Ja. Akhirnya Hye Ja terbangun melihat ada tudung saji diatas meja, saat membukanya ada menu makanan lengkap yang dibuat ibunya. Ia pun tak bisa menahan rasa harunya. 

Nyonya Kim sedang membersihkan salon, Hye Ja masuk salon melihat hari yang sempurna untuk mengkriting rambut dan akan punya banyak pelanggan hari ini sambil melipat handuk. Nyonya Kim hanya diam saja. Hye Ja pikir kalau harus mengikuti program tata rambut. Nyonya Kim kaget.
“Maksudku, Ju Young mendapat pekerjaan baru-baru ini. Dia bekerja sampai larut malam setiap hari, bosnya psikopat, dan dia juga bekerja di akhir pekan. Itu ide yang baik untuk mengambil alih salonmu...” ucap Hye Ja yang langsung disela oleh Ibunya.
“Apa Kau pikir kerjaanku mudah?” kata Nyonya Kim. Hye Ja tahu kalau  tidak bilang mudah dan tahu betapa sulitnya itu.
“Kau berdiri memotong rambut sepanjang hari sampai semua jari-jarimu bengka Dan mengkriting rambut yang sulit.” Ucap Hye Ja
“Jika kau tahu semua itu, kenapa kau ingin melakukannya?” ucap Nyonya Kim sinis lalu mengambil handuk yang dilipat oleh anaknya.
“Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.” Ucap Hye Ja. Nyonya Kim menyuru agar menemukan hal yang lain.
“Seperti apa?” tanya Hye Ja. Nyonya Kim pikir itu urusan Hye Ja dan jangan tanyakan padanya.
“Kau berusia 25 tahun, ingat? Cukup. Jangan datang ke sini lagi... Pergi sekarang. Cepat!” ucap Nyonya Kim mendorong pergi. 


Hye Ja akhirnya masuk rumah lalu melihat kotak makan dan teringat itu milik Nenek Joon Ha. Ia pergi ke rumah Joon Ha lalu mengintip ada pria di dalam rumah lalu berpikir kalau seorang pencuri. Tiba-tiba si pria membuka pintu, Hye Ja kaget dan akhirnya menyapa.
“Siapa kau?” tanya Si pria sinis. Hye Ja mengaku sebagai teman Joon Ha. Si pria bertanya kenapa datang.
“Aku ingin mengembalikan ini... Omong-omong, siapa...” kata Hye Ja memberikan kotak makan tapi si pria langsung mengambilnya dan menutup pintu. 

Hye Ja berjalan pulang bertanya-tanya, siapa pria yang ada dirumah si nenek. Saat itu ibunya dan kakaknya berlari panik keluar rumah, Hye Ja bertanya ada apa. Nyonya Kim sambil menangis memberitahu kalau ayah Hye Ja . Hye Ja pun berlari ingin tahu apa yang terjadi pada ayahnya.
**
Di rumah sakit Tuan Kim sudah dibawa masuk dengan alat bantu nafas. Semua panik dan shock, akhirnya Tuan Kim pun masuk ruang operasi.  Young Soo berbicara dengan Polisi memberitahu kalau Tuan Kim  tertabrak truk karena belok kiri di persimpangan dan tampaknya rem truk itu rusak.
Saat kejadian, Tuan Kim berbelok mengemudikan taksinya saat itu truk langsung menghantamnya lalu menyeret sampai Lingkungan Sekolah. Young Soo menganguk mengerti. 

 Hye Ja dengan ibunya hanya duduk diam di depan ruang operasi. Saat itu Hye Ja melihat ayahnya duduk didepanya, menatapnya. Saat itu dokter keluar dari ruang operasi. Nyonya Kim mendekat mendengarkan penjelasan dokter. Hye Ja menatap ayahnya dan akhirnya menghilang.
Nyonya Kim menjerit histeris tak bisa terima kalau suaminya pergi begitu saja. Young Soo terlihat sangat frustasi karena kehilangan ayahnya. Hye Ja terdiam akhirnya berlari keluar dari rumah sakit. 



Hye Ja pulang ke rumah mencari jam tanganya tapi tak ada dikotaknya, lalu mencari ditumpukan baju, tak ditemukan juga. Akhirnya Ia mengingat kejadian saat mabuk dan bergegas pergi ke minimarket.
“Berikan jamku.” Ucap Hye Ja panik. Joon Ha melihat Hye Ja mengku ingin mengembalikannya padanya.
“Cepat... Berikan padaku.” Ucap Hye Ja lalu bergegas pergi. Joon Ha bingung melihat Hye Ja langsung pergi.
Hye Ja memutar waktu yakin kalau akan berhasil akhirnya kembali saat ayahnya pamit untuk berangkat kerja meminta istirnya jangan terlalu keras pada anak perempuanya. Saat itu Hye Ja langsung berlari mencoba mengejar ayahnya, tapi kejadian tabrakan lebih dulu terjadi.
Hye Ja tak bisa terima begitu saja, kembali memutar waktu mencoba mencegah kecelakaan ayahnya. Tapi kecelakan tetap terjadi, Hye Ja tak mau menyerah terus memutar waktu agar bisa menyelamatkan ayahnya dari kecelakan.
Saat berlari Hye Ja melihat sepeda lalu mencoba mengejar ayahnya, tapi Hye Ja tak bisa mengemudikan beberapa kali mencoba tetap terjatuh. Hye Ja terus memutar waktu sampai akhirnya bisa mengayuh sepeda dengan lancar.
Tapi saat akan berbelok, sebuah mobil malah menabraknya. Hye Ja pun gagal menyelamatkan Ayahnya. Hye Ja mencoba sampai akhirnya hanya bisa menangis karena semua usahanya tak bisa menyelamatkan ayahnya. Saat itu ibu dan kakaknya pun berlari sambl menangis karen tahu Tuan Kim kecelakaan.
Bersambung ke part 2
Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar