PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 06 Juli 2018

Sinopsis What's Wrong with Secretary.Kim Episode 9 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Young Joon dalam ruangan terlihat bangga membuat alasan 'Hari Komunikasi' seperti tak percaya kalau otaknya bisa langsung mendapat ide cemerlang seperti itu. Saat itu Mi So masuk ruangan, Young Joon ingin tahu pendapat Mi So berpikir tadi kalau cukup wajar.
“Bos... Kau mengurus pekerjaanmu sendiri, itu membuatku tak nyaman.” Kata Mi So.
“Apa kau salah ucap? Maksudmu 'nyaman' kan ?” kata Young Joon., Mi So menegaskan tidak seperti itu.
“Tidak, Aku tak ingin menerima perlakuan khusus darimu hanya karena kita pacaran. Itu melukai harga diriku.” Tegas Mi So marah
“Apa Kau tak suka aku mengurus sendiri pekerjaanku?” tanya Young Joon heran.
“Itu sudah jadi tugasku selama 9 tahun ini. Jadi, kumohon izinkan aku untuk terus melanjutkan tugasku. Aku harus kembali bekerja.” Kata Mi So, Young Joon menahan Mi So pergi.
“Sekretaris Kim... Aku mengerti maksudmu... Tapi, aku hanya tak ingin kau melakukan tugas kecil seperti itu..” kata Young Joon.
“Kau bilang 'tugas kecil'? Mengurus tugas kecil seperti itu sudah bagian dari pekerjaanku. Aku bekerja keras melakukan pekerjaan dengan sempurna termasuk tugas kecil itu supaya atasanku puas dengan kinerjaku dan membuatku bangga.” Jelas Mi So
“Tapi pemilihan katamu membuatnya terdengar kau tak menghargai tugasku, dan melukai perasaanku.” Tegas Mi So marah
“Kau yang melukai perasaanku. Apa kau sungguh tak tahu kenapa aku mengerjakan tugasku sendiri? Aku terbiasa terima pekerjaan dengan beres. Apa Menurutmu mudah saat kukerjakan semua tugas itu sendiri? Itu sulit, tapi aku berusaha melakukannya demi kau. Aku ingin bersikap baik padamu.” Balas Young Joon
“Tapi tetap saja, jangan lakukan lagi. Disini tempat kita bekerja, dan kita seharusnya cukup bekerja. Aku harus memberi batasan untuk memisahkan antara menjadi Kim Miso, dan menjadi sekretarismu. Aku tak boleh goyah. Jadi Aku harap kau bisa mengerti...” kata Mi So
“ Kau terlalu rasional.” Keluh Young Joon. Mi So pun pamit karena harus kembali bekerja.
“Semua yang dikatakannya benar. Tapi, kenapa perasaanku begini?” ucap Young Joon heran. 

Ji Ah melihat tatapan Young Joon di ruang kerja pada Mi So tapi Mi So tak mengubrisnya sibuk mengetik. Akhirnya Ji Ah bertanya apakah Mi So berbuat salah pada Young Joon. Mi So mengaku tak seperti itu. Ji Ah merasa kalau terjadi sesuatu,
“Aku lihat situasinya cukup tegang. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi apa kau bisa meminta maaf saja padanya? Saat ini aku ketakutan, jantungku terus saja berdegup kencang.” Ungkap Ji Ah
“Ya, kurasa aku tak lakukan kesalahan apapun untuk meminta maaf padanya.” Kata Mi So
“Tapi tetap saja... Kau biasanya membungkuk meminta maaf pada Bos meski kau tak melakukan kesalahan apapun.” Ungkap Ji Ah, Mi So terlihat kebingungan.
Saat itu Young Joon keluar dari ruangan, Mi So hanya menatapnya lalu Young Joon berjalan pergi. 


Young Joon datang ke tempat Tuan Park mengaku benar-benar tak mengerti karena Mi So yang berpikir irasional dan  cermat dalam segala hal, menurutnya Mi So itu benar-benar penggila kerja yang cuma memikirkan pekerjaan.
“Bukankah kau memang suka orang yang rasional, cermat, dan fokus pada pekerjaan seperti Sekretaris Kim? Bukankah itu alasan kau tetap memperkerjakannya selama 9 tahun?” kata Tuan Park
“Dia benar-benar tak mengerti perasaan pria. Apa ini karena dia tak pernah pacaran sebelumnya?” keluh Young Joon.
“Kau juga belum pernah pacaran.” Ejek Tuan Park
“Beberapa jam lalu aku tergila-gila padanya tapi aku merasa jika persoalan kecil bisa membawa petaka sekarang. Dia selalu saja mengabaikan ucapanku yang dirasanya membuat tak nyaman.” Komentar Young Joon
“Ya, pokoknya itu terjadi pada tiap hubungan.BerBeda pendapat kecil bisa menyebabkan konflik besar. Tapi masalahnya, Jika pasangan sering bertengkar karena persoalan seperti itu, dan mulai saling terpecah belah, lalu Hubungan kalian bisa berakhir. Seperti yang terjadi padaku.” Kata Tuan Park sedih. Young Joon terlihat binggung.
“Kami baru saja pacaran. Apa kau sedang mengutuk kami?” keluh Young Joon.
“Young Joon... Jangan biarkan masalah berlarut-larut. Kalau tidak, kalian bisa putus Seperti yang kualami.” Ucap Tuan Park dengan wajah sedih duduk kembali di kursinya. Young Joon hanya bisa menatap bingung dengan sikap temanya. 

Mi So pergi ke toilet menatap cermin teringat kembali ucapan Ji Ah “Tetap saja, kau selalu membungkuk meminta maaf pada bos meski kau tak melakukan kesalahan apapun.”
“Dulu aku tak berpikir panjang untuk meminta maaf padanya meski aku tak lakukan kesalahan. Sekarang, untuk suatu alasan, tak mudah lagi bagiku meminta maaf. Apa kami bisa berbaikan saat bicara nanti?” gumam Mi So
Saat kembali ke meja kerja, Ji Ah meminta izin untuk pulang lebih dulu,  karena hari ini pindahan. Mi So pun memperbolehkanya, Ji Ah pun segera  bergegas untuk pulang.  Saat itu Young Joon keluar dari ruangan, suasana terasa tak nyaman.
“Apa semua jadwalku hari ini sudah selesai?” tanya Young Joon sambil bergumam “Katakan kalau kita masih harus berbaikan.”
“Ya, tak ada jadwalmu yang lain hari ini, Bos.” Ucap Mi So dan ikut bergumam dalam hati “Katakan kita bisa menyelesaikan kesalahpahaman lewat makan malam.”
“Baiklah kalau begitu... Kau juga boleh pulang.” Kata Young Joon kembali bergumam “Katakan jangan pulang dulu dan kita perlu lakukan sesuatu bareng.”
“Baiklah, aku juga akan pulang lebih awal.” Balas Mi So dan terus  bergumam “ Katakan, 'pekerjaan sebagai Sekretaris selesai Tapi, Kim Miso harus berkencan denganku'.”
Akhirnya Young Joon pun  memilih untuk pergi tapi tetap hanya diam karena berharap Mi So mengatakan 'Kenapa kau berdiri disana? Ikutlah denganku' dan berharap Mi So menahanya untuk tak pergi.  Tapi Mi So tak berkata apa-apa, akhirnya Mi So kesal sendiri. 

Ji Ah mengeluh pada ibunya di telp karena nomor rumahnya 301, bukan 302 dan meminta agar segera mengirimkan saja ke alamat yang dikirimkan. Saat itu ia melihat petugas yang mengangkut barang ke kamar 301, dan meminta maaf karena datang terlambat.
“Tak apa. Kami sudah hampir selesai. “ ucap petugas, Ji Ah pun membantu dengan membawa barang-barang dan meninggalkan kipas angin.
Saat itu Tuan Ko sibuk dengan tab barunya terlihat sangat bahagia, lalu melihat ada kipas angin didepan rumah, karena kipas anginnya bisa berguna. Ia melihat sekeliling dan akhirnya membawa kipas karena berpikir dibuang oleh pemiliknya. 

Ji Ah kembali ke depan rumah kebingungan mencari kipas yang tertinggal, lalu bertanya pada pemilik rumah Apa  melihat kipas angin. Bibi pemilik binggung karena itu milik Ji Ah dan memberitahu kalau Pria yang tinggal di atap mengambilnya. Ji Ah melirik kesal ke arah atap rumah.
“Aku kira seseorang membuang kipas ini karena rusak. Ternyata masih berfungsi dengan baik. Aku harus menamaimu kipas versi Ko Gui Nam, Ko Kipas.” Ucap Ji Ah dengan wajah bahagia duduk dengan hembusan kipas, saat itu Ji Ah datang dengan wajah kesal.
“Hei, apa yang kau lakukan disini? Oh, apa kau pindah hari ini? Apa kau ingin memberi kue beras pada tetangga?” ucap Tuan Ko. Ji Ah mengumpat kesal.
“Wah... Dia sungguh mencuri kipasku. Apa masalahmu? Kenapa kau mengambil kipasku?” kata Ji Ah marah, Tuan Ko kaget karena kipas itu ternyata milik Ji Ah.
“Aku membawanya pulang karena mengira seseorang membuangnya. Ini salahmu. Kenapa kau menaruh kipasnya dijalanan seperti itu?” kata Tuan Ko
“Apa yang kau bicarakan? Aku sedang memindahkan barang-barangku ke dalam aparteman. Dan bagaimana bisa kau mengira kipas itu dibuang? Kipasnya masih bagus dan berfungsi dengan baik.” Ucap Ji Ah dengan nada tinggi.
“Belakangan ini, orang membuang barang yang tak rusak. Coba Lihat meja ini, kubawa pulang karena seseorang membuangnya...” kata Tuan Ko lalu meralatnya kalau bukan meja yang ada didepanya karena malu.
“Pokoknya, Aku akan kembalikan padamu tanpa kau minta.” Kata Tuan Ko. Ji Ah pikir tak perlu meminta karena kipas itu memang miliknya lalu mengambilnya dan bergegas pergi. 


Mi So berjalan pulang seperti berharap Young Joon yang menelp tapi ternyata Pil Nam, dengan wajah kecewa mengangkatnya. Ia menolak kaalu tidak mau minum karena merasa lelah lalu menutup telpnya.
Sementara  Ji Ah mengambil gambar foto makanan, merasa kalau Hari pindahan tak lengkap tanpa memakan makanan Cina. Lalu mendengar bunyi bel rumahnnya, saat membuka pintu dikagetkan dengan Tuan Ko membawakan tomat ceri dalam plastik.
“Apa... untuk apa tomat ceri ini?” tanya Ji Ah bingung.
“Aku menanam tanamannya sendiri, menyiraminya, dan memastikan mereka dapatkan cukup cahaya matahari. Mereka adalah tomat ceri yang kubesarkan seperti anakku sendiri. Jadi Ambillah.” Kata Tuan Ko sambil mengeluh kalau lenganya pegel.
“Kenapa kau memberiku sesuatu yang berharga bagimu?” tanya Ji Ah mengambil buah tomat ceri.
“Ya, aku minta maaf soal tadi, jadi Anggaplah ini bayaranku memakai kipasmu untuk beberapa menit dan hadiah penyambutanmu sebagai seniormu di kantor. Kalau begitu, aku pamit dulu.” Ucap Tuan Ko lalu bergegas pergi. Ji Ah terlihat binggug 


Ji Ah mencuci buah tomat dan berpikir kalau  sudah terlalu kasar pada Tuan Ko tadi. Lalu teringat dengan ucapan Tuan Ko saat menatap ke meja makan “Saat kau pesan makanan, makanannya akan tersisa karena biasanya porsinya terlalu banyak untuk satu orang.”
“Aku harap kau tak menyarankan makan bersama.” Ucap Ji Ah, Tuan Ko mengaku bukan seperti itu.
“Kapanpun kau pesan makanan, Kau harus memberiku setengah sebelum mulai makan. Sehingga tak ada makanan sisa, dan itu akan menguntungkan kita berdua.” Kata Tuan Ko
Akhirnya Ji Ah membawakan makana ke atap,  dengan alasan kalau Makanannya  kebanyakan Jadi berpikir sebaiknya membagikan makananya.  Tuan Ko menahan Ji Ah sebelum pergi,  Ji Ah pikir kalau Tuan Ko tak perlu bilang terimakasih.
“Aku ingin berbagi karena kau sudah kasih tomat ceri padaku.” Kata Jia Ah.
“Bukan itu, aku Cuma ingin memberitahumu kalau kau seharusnya pesan nasi goreng dengan udang. Aku lebih suka karena tekstur udangnya yang lembut dan lezat.” Kata Tuan Ko mengoceh, Ji Ah hanya bisa melonggo
“Tangsuyuk-nya juga... Aku lebih suka mencelupnya ke saus secara terpisah dari pada...” kata Tuan Ko, Ji Ah kesal akan mengambil nampan makannya, Tuan Ko menahanya,
“Aku akan memakannya karena aku tak bisa menolak kebaikanmu.” Kata Tuan Ko
“Ini bukan kebaikan, Aku melakukan karena formalitas.” Ucap Ji Ah
“Kalau begitu, aku akan terima sebagai formalitas.” Balas Tuan Ko
“Sebenarnya, bukan karena itu juga, jadi Kembalikan saja.” Kata Ji Ah marah, Tuan Ko menolak mengaku sebagai pria yang ber-etika.
“Dan kau tahu? Aku lebih suka tomat besar dari pada tomat ceri.” Balas Ji Ah
“Aku punya tomat besar disana, lain kali aku akan berikan padamu.” Kata Tuan Ko. Ji Ah menolak karena tomatnya masih mentah. Keduanya terus saling tarik menarik. 


Sung Yeon duduk menatap bukunya “Kebetulan menyatukan kita, ini mungkin pertanda bahwa kita ditakdirkan bersama. Lee Sung Yeon” teringat kembali yang dikatkan saat konser buku.
“Aku tak akan bisa melewatinya sendiri. Aku tak mau melepas wanita yang dulu telah mendampingiku. Aku akan melindunginya dengan segenap yang kumiliki.” Ucap Sung Yeon tapi Mi So malah pergi begitu saja. 

Mi So berbaring ditempat tidur dengan wajah sedih karena Young Joon yang tak menghubunginya, lalu terdengar bunyi bel rumahnya. Saat membuat pintu mulutnya melonggo kaget karena Young Joon yang datang,
“Apa kau sudah tidur?” tanya Young Joon gugup. Mi So pikir kalau Masih terlalu dini untuk tidur.
“Mengenai hari ini...” kata Young Joon dan disela kalau ada kurir yang datang membawa paket.
“Ada kiriman untukmu.” Kata Young Joon, Mi So terlihat binggung lalu menerima paket makanan dari kurir .
“Apa itu "Kimchi sawi hijau"? ucap Young Joon melihat box yang dibawa Mi So
“Kimchi ini selalu terjual habis di saluran Home Shopping. Rasanya sangat lezat.” Kata Mi So
Young Joon pikir mengingikanya juga, Mi So terlihat binggung, Young Joon mengajak makan sama-sama dengan kimchi. Mi So pun bertanya apa yang dibawa oleh bosnya. Young Joon mengaku kalau itu Makanan kesukaan Mi So. Mi So pun dengan sedikit sinis mengajak masuk ke dalam rumahnya. 


Mi So kaget melihat makanan yang dibawa Young Joon, karena pelanggan di restoran Go tapi bosnya itu datang ke sana. Young Joon mengaku  bahkan memanggang sendiri. Mi So membayangkan saat Young Joon memanggang kulit babi lalu meminta agar bibi membungkusnya.

“Oh, ya. Pemilik restoran mengingat hari kita kesana. Aku bahkan dapat oleh-oleh serangga, ternyata, kau menyukainya.” Kata Young Joon, Mi So binggung apa maksudnya serangga.  Young Joon mengeluarkan sebuah plastik.
“Oh, *Beondegi.... Ini larva ulat sutera” kata Mi So berbinar-binar melihat isi plastik.
“Kulit babi dan serangga... Pacarku sungguh punya selera yang unik.” Kata Young Joon, Mi So mengucapkan Terima kasih.
“Apa Kau berterima kasih karena aku telah membawakan makanan kesukaanmu?” tanya Young Joon
“Bukan, karena kau sudah datang kemari.” Ungkap Mi So
“Aku merindukanmu. Kenapa kau begitu rasional di kantor?” keluh Young Joon.
Mi So menjelaskan Di kantor, Young Joon adalah atasannya dan ia adalah sekretarisnya , jadi harus lebih hati-hati jadi Itulah alasan harus memberi batasan. Ia menegaskan kalau meminta maaf karena  sudah membuat Young Joon.
“Aku tak suka dan Sungguh tak kusangka.” Keluh Young Joon
“Bagaimana kau tega menolak permintaan maafku.” Balas Mi So
“Bukan itu, maksudku caramu menyebutku... Panggil aku, 'Oppa' mulai sekarang.” Ucap Young Joon
“Kenapa kita tak pakai saja panggilan seperti biasanya? Kau bisa terus memanggilku Sekretaris Kim.” Kata Mi So
“Kalau begitu, aku bisa mulai memanggil namamu saja. Jadi Panggil, 'Oppa'.” Kata Young Joon 


Mi So akan memanggil Oppa, tapi tak bisa melakukanya berpikir kalau mungkin lain kali saja dan bisa melakukan perlahan-lahan. Saat itu terdengar teriakan dari pintu kalau kakak Mi So datang kerumah, Mi So panik tapi Young Joon sudah siap mengenalkan diri.
“Aku ingin mereka mengetahuinya secepat mungkin.” Kata Young Joon merapihkan jasnya.
“Jangan sekarang, ikut denganku.” Kata Mi So menarik Young Joon, tapi Young Joon merasa tak masalah.
“Jangan berisik.” Tegas Mi So, Young Joon merasa hanya perlu menyapa mereka. Mi So membuka pintu lemari menyuruh Young Joon masuk.
“Apa kau akan menyuruhku kedalam sana?  Sekretaris Kim... Aku ini Lee Young Joon, Wakil Ketua Yumyung Group.” Tegas Young Joon.
“Kau sekarang pacarku... Berdiam disana...” kata Mi So berharap Young Joon mengikuti perkataanya. 

Mi So bergegas menaruh sepatu dalam rak lalu membuka pintu, Pila Nam mengeluh adiknya yang ada didalam rumah tapi tak segera membuka pintunya, Mi So beralasan kalau mengantuk dan hera melihat dua kakaknya datang ke rumah.
“kau terdengar kurang bersemangat tadi. Jadi, kami kemari untuk menghiburmu.” Ucap Pil Nam membawakan makanan
“Ini...kulit babi panggang dari kedai Kulit Go! Kau sudah makan rupanya.” Kata Wan Mee melihat makanan diatas meja.
“Oh, aku tiba-tiba ingin makan itu.” Kata Mi So, Wan Mee heran karena ada dua porsi diatas meja.
“Apa kau menyuruh Bosmu datang kemari lagi?” kata Pil Nam,  Mi So mengaku kalau Young Joon cuma makan dan langsung pulang.
“Dia orang kaya, apa dia tak punya tempat tujuan lain? Dia menyuruhmu masak ramen saat terakhir kali datang kemari.” Keluh Pil Nam, Young Joon yang ada didalam lemari terlihat menahan kesal.
Wal Mee baru mengetahuinya, kalau Mi So memasakkan ramen  dan menyuruh makan kulit panggang hari ini dengan mengejek kalau seleranya rendahan sekali. Mi So mengaku kalau ini Young Joon yang membawa sendiri kulit babinya.
“Ini Buruk sekali... Apa Dia membawa kulit babi panggang, bukan steak? Astaga, bagaimana bisa pria kaya seleranya rendahan begitu.” Keluh Wal Mee
“Miso, jangan sampai kau berhubungan dengannya. Sudah kubilang,Kalian beda kasta.  Meski kalian saling menyukai, keluarganya pasti menentangnya. Bagaimana kalau ibunya memberimu amplop berisi uang... Dan berkata, 'menjauhlah dari putraku,' lalu menyiram wajahmu dengan air?” ucap Pil Nam
Mi So panik karena Young Joon pasti mendengarnya, lalu mengeluuh kakaknya yang terlalu banyak menonton drama. Pil Na menegaskan meski keluarganya merestui, tapi tetap tak merestuinya. Wal Mee mendengar cerita dari Pil Nam kalau Young Joon itu narsis dan mementingkan diri sendiri. Mi So mengelak tak pernah mengatakan hal itu.
“Lebih dari itu, Kau bilang, dia bahkan tak bisa ciuman karena dia menderita kelainan seksual. Jika dia punya banyak waktu luang, Suruh dia datang ke klinik urologi di tempat kami bekerja.Jadi Ayo bicarakan sambil minum-minum.” Kata Pil Nam, Mi So dibuat panik sementara Young Joon terlihat menahan amarah. 



Ketiganya akhirnya minum-minum didepan ruang TV, Mi So berdiri dari tempat duduknya. Kedua kakaknya mengeluh karena masih ingin minum tapi Mi So menyuruh pulang, Mi So pikir lain kali saja dan mendorong kakaknya untuk pulang. Setelah itu Mi So bergegas membuka pintu lemari, Young Joon langsung melirik sinis.
“Sekretaris Kim... Bagimana kau mengadu soal diriku pada mereka?” ucap Young Joon. Mi So mengaku Bukan seperti itu maksudnya.
“Kau tak sedikitpun mengadukan hal yang mewah soal diriku. Apa kau cuma bercerita pada mereka kalau aku makan ramen disini? Dan kau bilang aku egois? Kalau tahu begini, aku tak akan membawa kulit babi panggang dan serangga, apa kau tahu?” ucap Young Joon marah
“Maafkan aku... Aku paham kekecewaanmu.” Kata Mi So, Young Joon akhirnya mengeluarkan kakinya
“Mari hentikan... Kita mungkin akan berantem lagi. Kita baru saja berbaikan” kata Young Joon lalu menarik Mi So dipangkuanya, keduanya saling menatap.
“ Dan kau sangat cantik... sehingga aku tak bisa marah.” Akui Young Joon lalu mencium Mi So lebih dulu tak ada lagi rasa trauma. Mi So pun merasakan ciuman Young Joon tanpa ragu. 


Mi So membaca pesan dari Sung Yeon dalam ponselnya “Hari itu aku bertindak gegabah dan membuatmu berada di posisi canggung, aku menyesal. Aku akan menemuimu di kantor nanti, ayo kita bicara sebentar.” Young Joon baru masuk menyapa Mi So dengan wajah bahagia.
“Apa aku boleh bertemu dengannya sebentar? Aku ingin memberitahunya perasaanku dan menyudahinya.” Kata Mi So memperlihatkan pesan dari Sung Yeon.
“Lakukanlah.” Ucap Young Joon dengan menahan amarahnya. 

Sung Yeon bertemu dengan Mi So menanyakan kabarnya lebih dulu. Mi So mengaku baik. Sung Yeon tahu kalau Mi So sudah menghindari teleponnya belakangan ini jadi merasa menyesal dan mengucapkan Terima kasih karena bersedia menemuinya.
“Senang berjumpa denganmu... Maafkan aku... karena aku mendadak mengutarakan perasaanku hari itu. Aku cuma ingin mengungkapkan perasaanku dengan tulus. Kau pasti terkejut, kan?” kata Sung Yeon
“Ya... Aku bukan ingin bertemu denganmu dengan maksud seperti itu. Saat aku kecil, kau sudah melindungiku dalam situasi yang sulit, dan aku sangat berterima kasih padamu. Pokoknya, aku sungguh ingin menemuimu. Tapi... Aku tak punya perasaan lainnya. Itulah kenapa... Aku tidak bisa... menerima perasaanmu.” Kata Mi So
“Apa itu... karena Young Joon?” ucap Sung Yeon menahan rasa kecewa. Mi So membenarkan.
“Apa kau tahu betapa sulitnya aku selama ini karena dia? Aku sengsara karena dia, Sehingga aku harus melepas semuanya dan pergi ke luar negeri. Apa Kau tahu bagaimana perasaanku?” ucap Sung Yeon dengan nada penuh amarah. 



Young Joon datang mengeluh Sung Yeon yang mengungkit kisah itu lagi,  dengan menyindir Sampai kapan akan membahas kisah itu terus dan tak lelah melakukanya. Sung Yeon tak suka dengan Young Joon yang berani mengatakan Lelah.
“Aku masih ingat dengan jelas kejadian itu. Itulah kenapa aku masih hidup dalam luka. Tapi kau baik-baik saja, kan? Kau menghapus semua ingatan yang tak menguntungkanmu.” Kata Sung Yeon
“Jangan terlalu percaya diri Dan jangan hubungi Miso lagi dan berkata yang bukan-bukan. Kalau kau bicara padanya seperti ini lagi,maka Aku tak akan tinggal diam meski kau keluargaku.” Tegas Young Joon lalu mengajak Mi So pergi. 

Mi So berjalan dengan Young Joon merasa kalau  Sung Yeon  banyak menderita dan bertanya apakah Young Joon tak merasa bersalah padanya. Young Joon pikir Masa lalu yang begitu digeluti kakaknya sama sekali tak ada dalam ingatanya.
“Merasa bersalah atas sesuatu yang bahkan tak kau ingat, bukankah sama saja munafik, kan? Kuharap kita tak membahas itu lagi.” Kata Young Joon. Mi So menganguk mengerti. 

Di dalam mobil,
Mi So bertanya kemana mereka pergi. Young Joon menjawab kalau mereka akan pergi. Mi So hanya tersenyum mendengarnya. Young Joon memuji Mi So sangat cantik saat tersenyum.
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?” tanya Young Joon, Mi So tak memikirkanya.
“Aku ingin jalan santai saja” kata Mi So. 

Mereka pergi ke taman, Mi So melihat suasanan yang terlihat sangat indahnya. Young Joon bertanya apakah Mi So merasa kedinginan, Mi So mengaku Sedikit karena berada di dekat sungai jadi sedikit kedinginan. Young Joon meminta agar Mi So menunggu lalu membawa jaket untuk Mi So.
“Terima kasih... Warna Burgundy... Sepertinya warna Burgundy cocok padamu.” Komentar Mi So melihat jaket yang dipakai
“Salah... Aku bagus memakai warna apapun... Tapi warna burgundy luar biasa bagus.” Kata Young Joon kembali percaya diri. Mi So hanya tersenyum
“Ini bukan bualanku belaka. Ada seorang desainer yang begitu mengagumiku, berkata seperti itu juga.” Kata Young Joon.
“Siapa dia? Apa Seseorang yang kukenal?” tanya Mi So. Young Joon mengatakan kalau itu kenalan ibunya.
“Dia menyayangiku sejak aku masih bayi. Jadi, dia biasanya membuatkanku pakaian.” Cerita Young Joon. 

Mi So heran karena orang itu membuatkan pakaian untuk Young Joon,  Young Joon menceritakan designer itu bahkan tak membuatkan pakaian untuk sepupu dan keponakannya Tapi membuatkan khusus untuknya. Mi So teringat ucapan ibu Young Joon “Desainer Fesyen, Jang Jung Do Membuat cardigan itu khusus untuknya.”
“Aku mungkin pilih kasih pada putraku, tapi cardigan itu cakep sekali dipakainya. Hari itu, saat itu meninggalkan rumah memakai cardigan itu, cakep sekali.” Ucap Ibu Young Joon,
Mi So hanya terdiam lalu melihat Young Joon menguap lebar, Young Joon meminta agar jangan salah paham karena bukan artinya bosan tapi merasa nyaman. Ia merasa karena terlalu nyaman Dan waktu tidurnya tak cukup. Mi So menyarankan Young Joon untuk istirahat sebentar di mobil.
“Sayang sekali disaat kita kencan... Apa bisa aku istirahat sebentar?” kata Young Joon. Mi So pun mengajak Young Joon pergi. 


Mi So menatap Young Joon yang tertidur lelap di mobil dan teringat kembali cerita ibunya “Saat itu cuaca dingin saat dia meninggalkan rumah. Dia rentan kedinginan. “ lalu Young Joon panik kalau terkena flu saat hujan turun di gunung.
Ia mengingat saat masih kecil “Aku tak akan melupakan namamu. Namamu adalah Lee...” dan anak kecil itu mengatakan “Namaku adalah Lee Sung... “ dan Nyonya Lee ingin tahu keadaan Hyun,
“Benar... Ibunya dengan jelas menyebutnya 'Hyun'. Anak kecil cenderung salah tangkap. Bagaimana kalau aku salah mengira pelafalan yang serupa?” kata Mi So menatap Young Joo akhirnya memanggil
“Sung Hyun oppa?” kata Mi So, Young Joon tiba-tiba menyahut. Mi So kaget dan saat itu Young Joon tersadar dari tidurnya.
Bersambung ke episode 10

 PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


7 komentar:

  1. Waaa ga sabar eps selanjutnya..

    BalasHapus
  2. Terimakasih sinopsisnya. Gak sabar nunggu kelanjutannya. Hwaitiiing 😍😍

    BalasHapus
  3. Trimakasih, semangat menulis...

    BalasHapus
  4. Young joon menahan penderitaannya sendiri,tak tuggu kelanjutannya,semangat

    BalasHapus