PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 20 Juli 2018

Sinopsis What's Wrong with Secretary.Kim Episode 14 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Young Joon terbangun dengan senyuman bahagia mengangkat tanganya, saat itu Mi So memanggilnya. Terlihat Mi So mengunakan kemeja Young Joon yang kebesaran berjalan mendekat. Young Joon menatap Mi So seperti tak bisa menutupi perasaan bahagia.
“Kau harus bersiap berangkat.” Ucap Mi So seperti melayani bosnya.
“Aku tak tahu kalau baju itu sangat membahayakan.” Kata Young Joon menatap Mi So
“Apa maksudnya membahayakan?” tanya Mi So binggung
“Baju itu bisa membuat para dewan direksi memecatku karena meninggalkan tugas.” Ucap Young Joon lalu menarik Mi So kembali berbaring di tempat tidur.

Keduanya saling menatap tanpa rasa gugup, Young Joon mengungkapkan kalau Mi So sangat cantik sehingga membuatnya tak ingin berangkat kerja dan mengakui bau yang digunakan Mi So Itu menggoyahkan iman dan kendali dirinya.
“Belakangan ini, Kau tak seperti pria yang pernah kukenal.” Komentar Mi So, Young Joon tak mengerti maksudnya.
“Itu artinya aku semakin menyukaimu. Tapi kau tetap harus berangkat kerja.” Kata Mi So memberikan kecupan dibibir Young Joon lalu bergegas turun dari tempat tidur. Young Joon hanya bisa tersenyum menatap Mi So yang sudah jadi miliknya. 

Keduanya sarapan bersama, Young Joon mengambilkan salad untuk Mi So tapi Mi So memilih untuk mengembalikannya dan mengambilnya sendiri. Young Joon dengan bangga kalau Sampai sekarang, hidup dengan paras sempurna, Fisik yang kokoh, dan kompeten.
“Jadi Sekarang, aku berencana menjadi lebih peduli. Kenapa kau tak membiarkanku begitu?” keluh Young Joon. Mi So tak mengerti maksudnya.
“Baru saja, Aku menyajikan salad untukmu.” Kata Young Joon, Mi So seperti tak menyadarinya.
“Belakangan ini, keromantisanmu melebihi batas.” Komentar Mi So
“Aku harap kau bisa memberiku kesempatan untuk merawatmu juga.” Kata Young Joon.
“Aku merasa canggung, Karena itu sudah tugasku. Aku terbiasa menjadi orang yang merawat yang lain tak peduli dimanapun aku berada, Aku juga punya kebiasaan terkait pekerjaan.” Jelas Mi So

“Aku terbiasa dirawat tak peduli dimanapun aku berada. Tapi meski begitu...Aku berusaha sebaik mungkin untuk merawatmu. Tentu saja, aku tipe orang yang begitu disegani. Jadi, aku tahu akan sulit meminta bantuanku. Meski begitu, aku ingin agar kau bisa menyuruhku lakukan sesuatu, Dan memintaku untuk  membantumu juga. Aku akan memperbolehkannya.” Jelas Young Joon.
Mi So menganguk mengerti,  Young Joon merasa kalau wajah Young Joon seakan bicara, 'tidak, aku tidak mengerti.' Mi So pun hanya bisa terdiam. 


Tuan Jung memperlihatkan kalender, menanyakan pada Se Ra apa yang dipilihnya. Se Ra menunjuk Tanggal 28, 29, 30 paling sempurna. Saat itu Tuan Ko masuk bertanya Apa yang mereka lakukan. Tuan Jung mengatakan kalau memilih tanggal liburan musim panas.
“Kau sudah memilihnya selagi masih bekerja pada departemen sebelumnya, kan? Kapan kau pilih hari libur?” ucap Tuan Jung
“Aku tak libur. Karena tidur disaat telah menyelesaikan pekerjaan, cuma itu liburan yang kuperlukan.” Kata Tuan Ko bangga
“Kau sering kali berkata hal yang sama.” Komentar Tuan Park sinis. Saat itu Young Joon datang dan semua orang menyapanya. 

Mereka memanggil Mi So, bertanya Apa tak ambil libur musim panas lagi. Se Ra pikir Mi So tak mengambil liburan karena sebentar lagi akan berhenti. Mi So seperti tersadar kalau sebentar lagi harus berhenti berkerja.
“Ya, menurut ingatan luar biasaku setelah belajar di kampus bergengsi. Waktu kerjanya hanya tersisa seminggu lagi.” Kata Tuan Park, Semua terlihat sangat menyayangkan Mi So yang akan pergi.
“Aku benar-benar lupa kalau akan akan segera keluar.” Ucap Tuan Jung sedih. 

Mi So duduk di meja kerjanya menatap kearah ruangan Young Joon, lalu mengingat kembali yang dikatakn Young Joon setelah mengetahui kalau ingin berhenti dari pekerjaanya.
Flash Back
“Kita sudah bekerja bersama selama 9 tahun. Dari sejak aku mengelola perusahaan sampai sekarang. Kita bekerja secara saling melengkapi, Kalau kau mendadak berhenti, lantas aku...” ucap Young Joon
“Kau kenapa?” tanya Mi So. Young Joon  mengaku kalau akan sangat kerepotan seperti hanya mencari-cari alasan.
Mi So berpikir kalau Young Joon saat itu berusaha menahan dirinya untuk berhenti dan mungkin akan lebih bersikeras kali ini karena Young Joon dalam mode buldoser.

Ji Ah masuk ruangan memberitahu kalau  sudah terima salinan surat perjanjian dari tim operasional. Mi So memberikan pada Young Joon, surat perjanjian negosiasi ulang yang dilakukan di Paris yang telah direvisi dan Tim hukum sudah selesai menanganinya.
“Jadi mereka menambahkan klausa untuk mencegah pihak klien meminta perubahan lebih banyak.” Jelas Mi So
“Kau menyelesaikan pekerjaan dengan cara sempurna. Seperti kesempurnaan parasku ini, setuju?” kata Young Joon kembali narsis, Mi So pun menganguk setuju.
“Apa rencana makan siangnya?” tanya Young Joon.
“Kau harus makan siang pada restoran rekanmu yang baru buka belum lama ini.” Kata Mi So
“Ikutlah denganku dan makan bersama disana.” Pinta Young Joon, Mi So kaget mendengarnya.
“Aku ingin mengenalkan kau padanya.” Jelas Young Joon, Mi So menganguk mengerti dan akanbersiap.


Mi So melihat sekeliling jalan, tak percaya kalau Ada banyak tempat indah dan menawan di dekatnya.  Young Joon juga merasakan hal yang sama. Mi So mengira lokasinya akan berada di tempat kelas atas seperti Cheongdam-dong, Karena mendengar dikelola oleh teman Young Joon.
“Temanku ini cukup istimewa. Dia sebenarnya pewaris Jinyoung Group, Tapi dia menolak.” Ucap Young Joon
“Kau bilang Pewaris Jinyoung Group? Apa kalian dekat?” tanya Mi So
“Orang tua kami saling kenal, Jadi kami sudah dekat sejak kecil Dan kami sama-sama mengambil jurusan manajemen saat di Amerika.” Cerita Young Joon.
“Kau pasti bahagia bisa melihatnya lagi setelah sekian lama.” Komentar Mi So, Young Joon pun mengajak mereka segera pergi dengan mengandeng tanganya. 

Seseorang sedang menulis menu “Pasta” di depan restoran.  Seorang wanita melihat Young Joon, langsung memeluknya dengan erat. Keduanya sudah lama tak bertemu, Jung Yoo Min memuji Young  Joon yang jadi tampan sekarang.
“Tidak, aku memang selalu tampan.” Kata Young Joon tetap narsis, Yoo Min mengeluh dengan sikap teman lamanya.
“Saat kudengar teman ini istimewa, Kukira sudah pasti dia adalah pria, tapi ternyata wanita.”komentar Mi So melihat kalau itu adalah Yoo Min wanita yang cantik
“Ngomong-ngomong, ini siapa?”tanya Yoo Min, Young Joon dengan bangga mengatakan kalau Mi So adalah kekasihnya
“Kau bilang Kekasihmu?” kata Yoo Mi tak percaya, Mi So pun memperkenalkan diri lebih dulu.
“Aku Jung Yoo Mi.. Aku sudah berteman dengan Young Joon saat masih usia 5 tahun. Tapi ini pertama kalinya dia mengenalkan kekasih padaku. Jadi ini benar-benar menakjubkan.” Komentar Yoo Mi memuji Mi So yang cantik sekali.
“Tentu saja... Dia adalah wanita sempurna yang bisa menyamakan diri dengan paras sempurnaku.” Kata Young Joo kembali membanggakan diri.
“Dan kau masih saja narsis seperti biasa. Apa kau masih melakukan ini?” kata Yoo Mi mengangkat tanganya dengan mengikuti gaya Young Joon mengatakan "Aura!"
“Aku tak melakukannya dengan cara konyol seperti itu. Tapi Aku melakukannya seperti ini” kata Young Joon dengan gaya narissnya mengangkat tangan dan mengatakan 'Auraku yang keren'!
“Ini Dengan cara yang bermartabat.” Jelas Young Joon, Yoo Mi merasa kalau Young Joon masih lucu dengan meminta Mi So menyetujuinya. Tapi Mi So seperti menahan rasa malu.
“Oh begitu, dia melakukannya didepan wanita juga sebelumnya?” gumam Mi So sinis, Yoo Mi pun mengajak Mi So agar masuk ke restorannya. 


Yoo Mi membawakan makanan menyuruh mereka segera makan selagi hangat,  Mi So tak nyaman melihat Yoo Mi yang duduk bersebelahan dengan Young Joon. Yoo Mi seperti sangat mengaku senang sekali karena Young Joon  akhirnya bisa berkencan dengan seseorang.
“Kau selama ini tak pernah pacaran. Jadi aku khawatir kalau mungkin saja kau menyukaiku.” Ucap Yoo Mi, Mi So seperti menahan amarahnya dan Young Joon mulai panik
“Kenapa kau punya kekhawatiran konyol dan tak berdasar seperti itu?” keluh Young Joon.
“Ayolah, kau pernah melamarku dulu. Dia melamarku saat usia kami 5 tahun. Jadi begitu, kalian saling berbagi kenangan bersama.” Cerita Yoo Mi, saat itu pelayan meminta agar. Yoo Mi pun bergegas mengambil acar.

Young Joon merasakan terasa dingin dan kaget melihat tatapan Mi So sangat sinis padanya. Ia bertanya kenapa Mi So menatapnya seperti itu,  Mi So mencoba tersenyum menutupi tatapan sinisnya, bertanya seperti apa menatap Young Joon.
“Kau melihat wajahku dengan senyuman lebar, Dan raut wajah yang terkesan dipaksakan.” Kata Young Joon, Mi So mengelak mendengarnya.
“Sepertinya saat masih kecil kau cukup terbuka.” Sindir Mi So, Young Joon heran Mi So berpikir seperti itu
“Kau sudah melamarnya saat masih usia 5 tahun. Sepertinya kau punya potongan pria nakal juga.” Komentar Mi So
“Kau juga memintaku menikahimu saat usiamu 5 tahun.”balas Young Joon.
“Aku tak sama denganmu, Bos Aku memintamu menikahiku karena saat itu aku masih keci menaruh rasa tulus pada oppa yang telah menyelamatku. Tapi bagimu, Itu cuma modus saja.”kata Mi So dengan nada sinis.
“Kau bilang Modus? Apa kau cemburu, Sekretaris Kim?” ejek Young Joon. Mi So mengelak kalau cemburu.
“Aku bukan anak kecil,kenapa aku harus cemburu? Konyol sekali.” Kata Mi So dan makan buru-buru spagheti dari piring.
Young Joon ingin memberikan tissue, tapi Mi So lebih dulu mengamblnya. Young Joon mengeluh kaalu sudah meminta untuk membiarkan untuk merawatnya. Mi So mengaku tak terbiasa. Young Joon kembali mengeluh dengan sikap Mi So. 


Yoo Mi tiba-tiba datang meminta Young Joon membuka tutup toples untuknya, Mi So kembali terbakar cemburu.  Young Joon meminta Yoo Mi membayarnya kalau berani menyuruhnya karena ia sudah bisa menghasilkan jutaan dollar per jam.
“Ayolah, apa kau mau kuhajar ? Cepat bukakan.” Kata Yoo Mi, Young Joon menurutinya membuka tutup toples.  Mi So tak bisa menahhan tatapan sinisnya. 

Keduanya keluar dari restoran, Yoo Mi ingin tahu pendapat Young Joon apakah restorannya akan sukses. Young Joon pikir Setidaknya Yoo Mi yang tak bermasalah membayar sewanya. Yoo Mi mengucap syukur, saat itu ponsel Mi So berdering dan memilih untuk pamit sebentar.
“Kau pasti sangat menyukainya. Wajahmu begitu memancarkan cinta padanya.”komentar Yoo Mi,
“Benarkah? Sebelumnya, wajahku hanya memancarkan ketampanan yang mematikan namun sekarang juga sudah memancarkan cinta.” Kata Young Joon kembali narsis.
“Pokoknya, kau tampak bahagia.” Ucap Yoo Mi denga bisa memaklumi sikap Young Joon yang narsis.
“Ka juga tampak bahagia, apa karena kau melakukan yang kau inginkan?” tanya Young Joon.
“Sejujurnya, memikirkan harus mewarisi perusahaan membuatku depresi. Dan aku terus berpikir kalau itu bukan hidup yang kuinginkan. Aku yakin orang lain sulit memahami keputusanku, Tapi inilah yang aku inginkan. Selagi melakukan pekerjaan  yang aku inginkan. Aku bahagia bisa hidup menjadi diriku yang sesungguhnya.” Ucap Yoo Mi, Young Joon menganguk mengerti. 


Mi So yang marah ingin minum, lalu teringat dengan Yoo Mi yang santai meminta tolong Young Joon untuk membuka toples.  Akhirnya Mi So dengan gugup dan gaya manja mengatakan “Bisa bukakan ini untukku, oppa?” Young Joon mengemudikan mobilnya kaget dan menginjak rem disaat lampu merah menyala.
“Apa... apa katamu?” ucap Young Joon ingin memastikan kalau pendengaran tak salah.
“Bisa tolong bukakan, oppa?” kata Mi So menyodorokan botol minumnya.
“Tunggu. Aku harus merekamnya, bisakah kau katakan lagi? Aku harus merekamnya.” Kata Young Joon ingin mengeluarkan ponselnya.
“Katamu kau mau merawatku. Aku sedang memberimu kesempatan.” Kata Mi So
“Tapi tadi katamu kau tak terbiasa mendapat bantuan.” Kata Young Joon
“Aku perlu berusaha untuk membiasakannya.” Ucap Mi So lalu mengingat sesuatu.
Ia meminta agar Young Joon tak melakukan gaya 'aura' didepannya lagi mulai sekarang karena Sama sekali tak lucu. Young Joon mengaku ingin menyimpan ini. Mi So binggung menyimpan apa yang dimaksud. Young Joon mengatakan tentang Kelakuan Mi So sekarang.
“Aku tak punya hasrat ingin menyimpan karya agung manapun, Tapi aku ingin sekali menyimpan kelakuan cemburumu saat ini.” Ucap Young Joon.
“Astaga, aku tak pernah cemburu.” Tegas Mi So. Young Joon hanya bisa tersenyum, Mi So heran Young Joon malah tersenyum.
“Imut sekali melihatmu cemburu.” Goda Young Joon, Mi So menegaskan kalau tidak cemburu.
“Wanita cemburuan... Kau buldoser cemburuan...”ejek Young Joon, Mi So mengelak semuanya. 


Young Joon melihat tas yang Mi So bawa pasti berat, lalu bertanya apakah mau “oppa” yang membawakannya. Mi So panik karena takut ada orang yang mendengarkanya. Young Joon melihat Mi So yang kesusahan berjalan.
“Apa perlu oppa gendong?” goda Young Joon memberikan punggungnya. Mi So meminta Young Joon agar menghentikanya.

"Sepertinya kau sangat kesal. Apa kau Ingin oppa hibur?” goda Young Joon makin bahagia.
“Aku tak mau berkomentar. Sebaiknya kembali seperti sedia kala.” Kata Mi So bergegas pergi, Young Joon berteriak agar Mi So menunggunya. 


Tuan Lee membaca buku karya anaknya (Sekali dalam seumur hidup). Nyonya Choi baru pulang mengaku Senangnya bisa belanja dengan putra tertuanya setelah sekian lama. Sung Yeon juga mengaku sangat menikmatinya, lalu keduanya dikejutkan melihat Tuan Lee sudah tertidur pulas di sofa.
“Ayahmu pasti kelelahan membaca novelmu.” Ucap Nyonya Choi
“Tapi sepertinya beliau tertidur hanya dengan membaca beberapa halaman.” Kata Sung Yeon
“Itu sudah kemajuan besar dia bisa membawa sebanyak itu. Dia biasanya tak bisa membaca lebih dari 5 halaman. Sungguh misteri bagaimana dia bisa mengelola perusahaan. Itu sebabnya dia dicap sebagai ketua paling terbelakang dengan para ketua yang lain.” Bisik Nyonya Choi melihat suaminya. 

Se Ra diam-diam menemui Tuan Yang ditangga darurat dengan malu-malu bertanya Kenapa ingin menemuinya. Tuan Yang mengajak Se Ra untuk nonton musikal kalau punya waktu luang karena sudah dapatkan tiketnya musikal berjudul "Bola Phantom".
“Astaga, aku ingin sekali menotonnya.” Kata Se Ra bahagia.
“Oleh sebab itu aku menekan mouse dengan gencar agar bisa mendapatkan tempat duduk terbaik.” Ungkap Tuan Yang,
“Kau selalu menjauhkanku dari setiap masalah. Dan kau membeli tiket buat kita kali ini? Kenapa kau selalu saja keren. Kau memang benar-benar pahlawanku.” Puji Se Ra sambil memukul-mukul gemas lalu mencubit pipi Tuan Yang. 

Saat itu terdengar suara Tuan Jung mengeluh karena harus pakai tangga disaat cuaca panas begini. Se Ra yang panik langsung mencubit Tuan Yang dengan segenap tenang, memperingatakan kalau melakukan kesalahan lain, maka pipinya bisa rusak.
“Kau menakutkan... Apa kesalahannya sampai kau begitu kasar?” keluh Tuan Park yang kaget. Tuan Jung pun setuju.
“Aku harus melaporkan ini kalau saja tersedia pusat keluhan kekerasan.” Kata Tuan Jung
“Ini urusan kami, jangan kalian hiraukan. Lakukan saja urusan kalian.” Kata Mi So
“Baiklah kalau begitu. Pastikan memberitahuku kalau ada sesuatu yang ingin kau katakan atau kau ingin minum, Tolong jangan kasar padanya.” Pesan Tuan Jung lalu bergegas pergi bersama Tuan Park. 

Se Ra langsung mengelus pipi Tuan Yang sambil meminta maaf, Tuan Yang memegang pipinya. Se Ra mengaku tak masalah kencan di kantor, tapi ingin tetap merahasiakannya lalu memastikan apakah pipi Tuan Yang terasa sakit. Tuan Yang mengaku Tidak.
“Pipiku baik-baik saja, tapi hatiku terluka. Aku tak tahu apa ini sungguh dibutuhkan.” Ucap Tuan Yang marah
“Oh, tidak. Apa yang harus kulakukan pada pahlawanku?” kata Se Ra kebingungan melihat Tuan Yang pergi lebih dulu.

Se Ra dan Tuan Yang kembali ke ruangan, Tuan Jung dan Tuan Park mengejek Se Ra benar-benar pemarah. Young Ok tiba-tiba membahas kalau Young Joon yang sering berpergian sendirian belakangan ini menurutnya Tn. Yang bisa-bisa kehilangan pekerjaan.
“Hei.. Teganya kau mengatakan itu? Kau tak tahu betapa pentingnya Tn. Yangku tersayang di perusahaan ini?” ucap Se Ra tiba-tiba berdiri dan tersadar dengan ucapanya.
“Kau bilang 'Tn. Yang tersayang'?” kata Tuan Jung kaget, sementara Tuan Yang tak bisa menutupi rasa bahagianya.
“Maksudku..., dia teman kuliahku. Dia bukannya teman kuliah orang lain. Kami teman kuliah, jadi kami sudah seharusnya memanggil begitu. Bukankah begitu, Tn. Park?” kata Se Ra meminta pembelaan. Tuan Park menyilangkan tanganya tanda tak setuju.
“Kau tadi memarahinya. Kenapa kau sekarang jadi peduli?” komentar Tuan Jung heran
“Aku bukan tipe orang yang menyimpan dendam, kau tahu.” Kata Se Ra lalu bergegas pergi karena malu, Tuan Yang terus saja tersenyum.
“Sungguh sulit memahaminya... Aku tahu perasaanmu, Tn. Yang. Bagaimana kalau kita minum saja” kata Tuan Jung, Tuan Yang langsung menolak, begitu juga yang lainya seperti enggan minum dengan Tuan Jung. 


Young Joon keluar dari ruangan mengatakan akan mengantar ke rumah sakit. Mi So setuju tapi menurutnya bisa pergi dengan bus, Young Joon menolak karena akan melelahkan “Mi So-ku” jadi Sudah sewajarnya kekasihnya itu yang mengantar. Mi So mengeluh meminta Young Joon agar tak bersikap berlebihan lagi.
“Apa kau akan berjaga juga nanti malam?” tanya Young Joon.
“Tidak, ini giliran jaga Mal Hee, jadi aku cuma ingin menjenguknya saja.” Kata Mi So
“Kau dan kakak ipar pasti sangat kesulitan merawat ayah mertua.” Ucap Young Joon, Mi So seperti tak nyaman dengan panggilan Kakak ipar dan ayah mertua.
“Tentu saja, aku harus memanggil seperti itu. Apa kau tak ingin menikah denganku? Jangan bilang kau tak jalani hubungan ini dengan serius?” kata Young Joon.
“Bukan seperti itu... Tapi...Apa tak apa kau menikah denganku? Kau sudah punya tunangan sejak masih usia 5 tahun.” Komentar Mi So
Kali ini Young Joon meminta Mi So agar tak membahasnya. Keduanya lalu tertawa bahagia. 

Keduanya sampai ke rumah sakit, Mi So pikir Young Joon cukup mengantar saja dan pergi. Young Joon mengaku ingin bersama Mi So lebih lama lalu bertanya Apa  tak akan mengenalkanku pada ayah Mi So lagi kali ini. Mi So merasa ini terlalu awal.
“Ayo cari waktu yang tepat setelah beliau keluar rumah sakit.” Ucap Mi So mengoda Young Joon dengan mengencangkan dasi bosnya.

Saat itu Tuan Kim melihat anaknya dengan seorang pria, Mi So panik sampai menarik dasi Young Joon. Young Joon tak bisa bernafas, memberitahu kalau tercekik. Mi So langsung melepaskan tangan sambil meminta maaf pada Young Joon.  Akhirnya Young Joon membungkuk memberikan hormat pada Tuan Kim. 


Keduanya duduk di dalam ruangan, Tuan Kim melipat tanganya mengaku  sudah banyak mendengar Young Joon dari putrinya kalau sudah memperkerjakan Mi So begitu keras tanpa memberinya hari libur. Mi So terlihat kebingungan menjelaskanya.
“Jadi aku ingin suatu hari bisa bertemu denganmu, si tukang ngatur..... Emmm.. Maksudku, atasannya.” Kata Tuan Kim sinis
“Benar, aku tukang ngatur.” Ucap Young Joon, Tuan Kim mengulang akalu yang dimaksud atasan dari anaknya.
“Maafkan aku terlambat mengenalkan diri.” Kata Young Joon sopan
“Terima kasih karena sudah membiarkanku dirawat disini. Tapi Itu karena kerja keras putriku, makanya aku menerimanya dengan senang hati.” Kata Tuan Kim tak mau direndahkan
“Tentu saja.. Dan kau bisa bicara santai denganku.” Ucap Young Joon. Tuan Kim langsung menolaknya.
“Tidak, aku tak bisa seperti itu selagi kau adalah atasan putriku.” Tegas Tuan Kim
Young Joon meminta agar bicara santai, Tuan Kim pun tetap menolaknya. Young Joon mengaku  tidak yakin harus mengatakan ini pada Tuan Kim  sekarang. Mi So terlihat gugup mendengarnya. Young Joon  mengakui kalau sedang berkencan dengan anak Tuan Kim. Tuan Kim kaget mendengarnya.
“Apa maksudmu berkencan? Apa kencan yang kupikirkan?” ucap Tuan Kim marah, Mi So heran ayahnya yang mendadak bicara santai pada atasanya.
“Ya, kencan dalam hal percintaan... Kami pacaran, Pak.” Akui Young Joon. Tuan Kim tak percaya kalau Young Joon cukup berani.
“Baiklah, aku akan terus terang saja... Aku menentang hubungan kalian.” Tegas Tuan Kim
Mi So menerima telp dari Tuan Park, lalu memberitahu Young Joon kalau Tuan Park ingin menanyakan sesuatu yang penting. Young Joon mengambil ponsel meminta maaf pada Tuan Kim untuk keluar sebentar, saat berdiri posisi mereka pun sangat jauh dari tinggi badan. 

Mi So mengeluh dengan ayahnya yang malah menentang hubungan mereka. Tuan Kim tersenyum mengaku semakin melihat Young Joon maka semakin menyukainya. Mi So binggung dengan sikap ayanya padahal tadi sangat menentangnya.
“Itu bohong... Aku pura-pura lakukan itu untuk kebaikanmu.” Akui Tuan Kim, Mi So melonggo binggung.
“Pria itu pasti tak menduga kalau aku akan menentang hubungan kalian. Dia pasti mengira aku akan menyambutnya dengan segenap hati lantaran dia orang yang memiliki banyak uang.  Tapi aku tahu benar orang sepertinya. Semakin mereka menerima rintangan, Semakin mereka berhasrat untuk mendapatkanmu.” Jelas Tuan Kim
“Jadi Tunggu dan lihat saja... Dia akan semakin terobsesi padamu.” Tegas Tuan Kim
“Apa yang kau bicarakan?” keluh Mi So khawatir, Saat itu Young Joon masuk, Tuan Kim mengajak Young Joon untuk minum kopi dari mesin kopi. Young Joon pun menganguk setuju. 


Keduanya lalu duduk dibangku taman,  Tuan Min ingin tahu Seberapa banyak Young Joon mengenal Mi So, Young Joon pikir karena sudah bekerja dengan Mi So selama 9 tahun Jadi cukup banyak mengenalnya. Tuan Kim dengan menatap sedih menceritakan Mi S Adalah putri yang baik yang tak pernah membuatnya cemas.
“Dia tak pernah protes saat harus memakai pakaian bekas kakaknya. Dia selalu peringkat pertama meski tak ikut les. Dia anak paling terakhir tapi begitu pengertian.” Ungkap Tuan Kim
“Saat aku tertipu oleh temanku sendiri dan suatu hari menjadi miskin. Sayangnya, suatu hari itu hasil ujian masuk kampusnya keluar. Dia bisa saja terima beasiswa dan kuliah seperti kakak-kakaknya. Tapi dia bersikeras tak ingin kuliah dan malah mencari nafkah.”cerita Tuan Kim
“Aku selalu mengemban malu. Apa Kau tahu yang anak itu katakan padaku? Dia mengatakan 'Tak apa-apa, Ayah.' sambil melebarkan senyumannya. Dia pasti banyak menangis dalam hatinya saat berkata seperti itu.” Ungkap Tuan Kim
Young Joon hanya bisa terdiam,Tuan Kim mengaku Dalam sudut hatinya masih terasa perih setiapkali melihat senyuman Mi So, jadi  menurutnya meskipun Mi So tersenyum sumringah, jangan percaya begitu saja. Ia tahu kalau tak peduli berapa keras kesulitan, Mi So  selalu saja tak lupa untuk tersenyum. Young Joon mengaku sudah mengetahuinya.

“Aku dengar dia memutuskan untuk mengundurkan diri. Berapa banyak pekerjaan yang kau berikan padanya sampai gadis tekun dan terhormat itu tidak sanggup lagi?” ucap Tuan Lee, Young Joon tak bisa berkata-kata lagi
“Aku harap dia akan lebih bahagia dengan menemukan keinginannya meski sedikit terlambat.” Kata Tuan Kim. Young Joon hanya bisa terdiam mendengar semua ucapan ayah Mi So

Keduanya akhirnya kembali ke lobby, Tuan Kim menyuruh Young Joon untuk menunggu saja dibawah karena nanti akan menyuruh Mi So yang turun. Young Joon menganguk mengerti.
“Aku berkata itu agar kau bisa mengantarnya. Jangan mengira kau boleh kencan dengannya... Tidak akan, aku akan menjumpaimu kembali lain waktu.” Kata Tuan Kim lalu berjalan pergi. 

Young Joon duduk diam mengingat semua yang dilakukan dengan Mi So, saat menanyakan alasan Mi So yang ingin mengundurkan diri tanpa perencanaan, Mi So mengatakan harus menemukan hidupnya mulai sekarang Bukan hidup sebagai Sekretaris seseorang atau kepala keluarga Tapi hidupnya sendiri.
Ia juga mengingat dengan ucapan Yoo Min “ Aku yakin orang lain sulit memahami keputusanku. Tapi inilah yang kuinginkan. Aku senang bisa hidup sebagai diriku yang sesungguhnya.”
Dan ucapan ayah Mi So dengan mata berkaca-kaca “Aku harap dia bisa bahagia dengan menemukan yang diinginkannya meski sedikit terlambat.”
Young Joon mengingat semua yang dikatakan semuanya, lalu seperti memikirkan sesuatu. 

Mi So terlihat gugup di dalam ruangan karena mereka lama sekali dan ingin tahu apa saja yang dibicarakan.  Tuan Kim akhirnya kembali, Mi So mengeluh karena ayahnya lama sekai bicara dan ingin tahu keberadaan Young Joon sekarang.
“Kami berdua mengobrol cukup dalam. Sementara ini aku berhasil menciptakan ketegangan pada dirinya. Dia menunggumu di lobby, jadi cepat turun.” Kata Tuan Kim dengan tertawa senyuman lebar.
“Ada apa dengan tawa itu?” tanya Mi So melihat wajah ayahnya.
“Aku tak menyangka putri paling kecilku berkencan dengan Wakil Ketua Yumyung Group.” Komentar Tuan Kim 

Mi So turun dari mobil merasa kalau Wajah Young Joon begitu tegang dalam perjalanan pulang kali ini. Young Joon dengan gaya nasisnya merasa kalau denga wajah seperti itu maka jadi semakin tampan. Mi So ingin tahu apa yang ayahnya lakukan pada Young Joon.
“Bukan seperti itu. Tapi Aku hanya sedang menata pikiranku. Apa kita perlu jalan sebentar selagi aku telah selesai menata pikiran?” kata Young Joon. Mi So pu menganguk setuju. 



Young Joon berjalan bersama Mi So bertanya apakah masih berniat mengundurkan diri, Mi So menganguk. Young Joon ingin tahu rencana Mi So setelah keluar. Mi So mengaku belum tahu karena belum temukan rencana apapun.
“Aku langsung dapat pekerjaan setelah lulus sekolah. Aku bahkan tak punya kesempatan untuk memikirkan impian atau ketertarikan. Aku cuma fokus mencari kerja. Sejak itu, aku sibuk mencari uang dan tak punya waktu untuk berpikir.” Cerita Mi So
“Sebenarnya, Aku tidak yakin, Apa yang kuinginkan.”akui Mi So
“Kalau begitu luangkan waktumu dan pikirkan mengenai keinginanmu mulai sekarang. Memang benar...Aku berusaha menahanmu berhenti karena keegoisanku menginginkan kau tetap bersamaku dengan cara apapun. Tapi sekarang itu tak dibutuhkan lagi Karena apapun yang kau lakukan, maka aku akan disana bersamamu.” Ungkap Young Joon.
Mi So tak percaya mendengarnya, Young Joon pikir Untuk 9 tahun terakhir,Sekretaris yang sudah senantiasa tekun, sempurna dan hebat, jadi harus merelakan Mi So sekarang dan mengucapkan Terima kasih atas kerja keras Mi So selama ini.
“Sebagai gantinya, Kau harus memberitahuku saat kau sudah temukan keinginanmu... Apapun itu... Aku akan selalu mendukungmu” ucap Young Joon, Mi So menganguk mengerti dan mengucapkan  Terima kasih. Young Joon pun memeluknya dengan erat.
Bersambung ke part 2

 PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar