PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 06 Juli 2018

Sinopsis What's Wrong with Secretary.Kim Episode 9 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Mi So akhirnya mengaku kalau menyukai Young Joon juga, Young Joon pun memeluk Mi So dan ingin menciumnya,tapi ditelinganya kembali terdengar suara wanita yang menakutkan “Ikutlah denganku. Aku tak mau pergi sendirian.” Dan akhirnya matanya kembali terbuka.
Young Joon kebingungan karena untuk kedua kalinya tak bisa mencium Mi So, akhirnya Mi So lebih dulu mencium Young Joon dan Young Joon pun melawan rasa traumanya dengan mencium Mi So. 

Keduanya berjalan bersama dengan wajah tersipu malu, Young Joon tiba-tiba meminta agar lebih diperjelas. Mi So terlihat binggung,  Young Joon ingin memastikan kalau mereka berhenti menjalin hubungan yang tak jelas dan menjadi pasangan sekarang.
“Benar sekali. “ kata Mi So dengan nada sopan. Young Joon seperti tak suka dengan jawaban  'Benar sekali'
“Orang mengira kau sedang menyajikan acara kuis. Kenapa bicaramu formal sekali?” kata Young Joon.
“Ya, benar.” Ucap Mi So lalu bergegas pergi karena malu. 
Young Joon sengaja mengoda Mi So dengan panggilan “Gadisku” agar bisa menunggunya, Mi So lebih cepat berjalan. Young Joon akhirnya meraih tangan Mi So agar bisa bergandengan dan kembali mengodanya dengan memanggil “Gadisku”

Mi So turun dari mobil berpesan agar Young Joon Hati-hati saat pulangnya, Young Joon hanya menatap. Mi So binggung dengan tatapan Young Joon. Young Joon mengaku kalau tak ingin berpisah, Mi So hanya bisa tersenyum mendengarnya.
“Sekretaris Kim... Seperti yang pernah kubilang, aku cerdas, Bugar, kaya, dan handal. Jadi...menikahlah denganku.... Secepatnya.” Kata Young Joon.
“Kita baru mulai pacaran satu jam yang lalu. Tidakkah menurutmu terburu-buru?” ucap Mi So kebingungan.
“Siapa juga yang lebih dulu minta dinikahin.” Keluh Young Joon berbisik. Mi So bertanya apa yang dikatakan bosnya. Young Joon mengaku bukan apa-apa dan menyuruh Mi So masuk saja.
“Baiklah, sampai ketemu besok.” Kata Mi So dengan ramah lalu berjalan masuk. 


Young Joon mengemudikan mobilnya, senyumanya tak bisa hilang dan teringat kembali kenangan masa lalunya.
Flash Back
Mi So bermain sendirian di halaman dan Young Joon menatap dari kejauhan dengan senyuman bahagia. Mi So akhirnya menyuruh Young Joon naik kuda-kudaan dan akan membantu mendorongnya. Young Joon pun mengucapkan terimakasih.
“Tapi, ngomong-ngomong, oppa aku ingin menikah denganmu.” Ucap Mi So. Young Joon kaget mendengarnya.
“Ya, kau mirip pangeran... Kau harus Janji ya?” kata Mi So berharap
“Aku akan kembali lagi lain kali, Miso...” ucap Young Joon.
Young Joon mengingat semua kenangan merasa kalau sudah tak tahan, akhirnya memutar balikan mobilnya. 

Mi So kaget melihat Young Joon yang datang kembali, Young Joon mengaku hanya berjaga-jaga kalau ada yang kangen semalaman. Mi So terlihat binggung. Young Joon mengartikan kalau yang dimaksud Mi So yang akan kangen denganya lebih dulu.
“Aku kembali karena mungkin saja kau akan merindukanku semalaman. Kau tahu, kan... Aku bukan seseorang yang memberi kesempatan kedua, tahu 'kan? Tapi aku ingin menawarkanmu bukan hanya kesempatan kedua atau ketiga. Maksudnya kesempatan untuk melihatku.” Ucap Young Joon percaya diri, Mi So hanya bisa tersenyum
“Jadi Bagaimana? Apa kau merasa tersanjung karena menjadi seseorang yang istimewa bagiku?” kata Young Joon, Mi So mengaku merasa tersanjung.
“Mimpi indah, Sekretaris Kim... Kau tahu maksudku berkata 'mimpi indah' kan?” kata Young Joon
“Tentu saja, aku akan memimpikanmu, Bos.” Ungkap Mi So. Young Joon menatap Mi So lebih dalam.
“Izinkan aku memelukmu sekali lagi.” Kata Young Joon tak bisa menahan rasa rindunya, Mi So pun membiarkanya.
“Kurasa... Aku juga akan mimpi indah malam ini.” Kata Young Joon tak mau melepaskan pelukanya, Akhirnya Mi So mendorong Young Joon agar melepaskanya.
“Besok kau harus rapat dengan para petinggi. Alangkah lebih baik kalau kau segera pulang dan tidur, Bos.” Kata Mi So.

Young Joon tersenyum mengaku suka mendengar omelannya hari ini dan menyuruh agar masuk saja.  Mi So menyuruh Young Joon pergi lebih dulu dan akhirnya masuk ke dalam rumah. Ia melihat dari depan jendela kalau Young Joon pergi dengan mobilnya, senyuman pun tak bisa tertahankan. Sementara Young Joon pulang menatap cermin dikamarnya.
“Hei, sudut mulutku... Berhenti naik keatas.” Ucap Young Joon yang selalu tersenyum.
“Sepertinya aku tak bisa menghentikan kalian.” Kata Young Joon akhirnya menarik bibirnya sendiri agar tak tersenyum. 

Young Joon tidur dengan lelap, sementara Mi So kembali bermimpi saat melingkarkan jari kelingking dan jempolnya untuk berjanji, Si anak kecil itu berjanji akan kembali lagi kemari lain kali. Mi So kembali memastikan kalau Oppa itu akan kembali lagi untuk menemuinya. Si pria membenarkan.
“Aku benar-benar tak akan melupakan namamu.... Lee Sung Yeon.” Ucap Mi So.
Saat itu Mi So terbangun, wajahnya terlihat kebingungan dan merasa sangat yakin kalau memang nama pria yang dicarinya bernama Sung Yeon.

Tuan Park keluar dari ruangan dengan wajah binggung dan bertanya apakah Young Joon sedang tak enak badan, karena melakukan hal diluar kebiasaannya. Mi So terlihat binggung. Tuan Park menegaskan yang dimaksud Young Joon.
“Tadi dia terkantuk-kantuk saat rapat Dan sekarang tidur.” Kata Tuan Park. Mi So heran Young Joon yang melakukan itu.
“Tadi pagi dia telat bangun juga. dan hampir terlambat ikut rapat.” Ucap Mi So ikut heran.
“Si Lee Young Joon Agung bisa juga lengah. Ada apa dengannya?” kata Tuan Park. Mi So mengaku kalau tak tahu.
“Oh, ya... Apa Kau mau lihat sesuatu yang menyenangkan?” kata Tuan park. Mi So binggung apa maksud Sesuatu yang menyenangkan. 

Mi So dan Tuan Park melihat Young Joon yang tertidur lelap, lalu mulai mengajak bicara dan Young Joon bisa menyahut. Tuan Park bertanya  Young Joon lebih suka ibu atau ayahnya. Keduanya tak bisa menahan tawa karena Young Joon seperti mengingau saja.
“Aku tak menyangka dia bisa menyaut bahkan saat tidur. Mungkin otak Young Joon menyala 24jam sehari.” Kata Tuan Park
“Kurasa seperti itu. Aku baru tahu hari ini mengenai hal ini.” Komentar Mi So
“Ini pertama kalinya melihatnya tampak sangat nyaman seperti ini. Apa sesuatu terjadi yang menyebabkan pergeseran kognitif akut padanya?” kata Tuan Park lalu menerima telp dari Sekretaris Seol dan bergegas meminta agar menyiapkan materinya tapi ponselnya malah ditutup.
Ia akhirnya pamit pergi dengan membiarkan Mi So agar Young Joon tidur. 


Mi So duduk disamping Young Joon dengan memakaikan selimut, lalu menatapnya seperti tidur sangat nyaman. Ia teringat waktu melihat Young Joon terakhir kali tertidur tapi seperti mimpi buruk dan ketakutan.
“Terakhir kali dia terbangun karena mimpi buruk. Tapi, dia tampak sangat nyenyak sekarang.” Kata Mi So lalu memilih untuk pergi. 

Tiba-tiba tangan Young Joon menahan Mi So pergi,  Mi So kaget melihat tangan Young Joon. Young Joon mengeluh mau pergi kemana Mi So karena meninggalkan orang yang tidur. Mi So panik saat Young Joon langsung menariknya dan memeluknya dari belakang.
“Bagaimana kalau ada yang lihat, Bos?” kata Mi So panik.
“Tak ada yang akan berani menerobos masuk kemari. Jangan khawatirkan itu.” Kata Young Joon.
“Bukan itu yang aku khawatirkan.” Ucap Mi So. Young Joon bertanya apa maksudnya.
“Seharusnya kau sudah bisa mengantisipasinya, jika kau membangunkan gairah lelap seseorang.” Kata Young Joon.
Mi So tak mendengar apa yang lelap, Young Joon langsung menjawab “Gairah.” Mi So langsung panik dan berdiri wajahnya langsung gugup merasa tak percaya kalau mengunakan kata yang memalukan seperti itu sebagai kata-kata biasa.
“Siapkan dirimu... Karena aku tak akan pelan-pelan lagi.” Tegas Young Joon.

“Ngomong-ngomong, kau tidak sedang sakit, kan? Aku bertanya, karena kau tak pernah tidur seperti ini sebelumnya.” Tanya Mi So penasaran.
“Beban yang berat sudah terangkat dari bahuku, kemarin. Dan kurasa aku tak akan bermimpi buruk lagi, juga.” Ungkap Young Joon
Mi So makin binggung, Young Joon menyuruh agar menghubungi Dr. Choi agar mengatakan tak perlu lagi memberi obat penenang. Mi So memastiakn kalau Young Joon memang lebih baik saja.  Young Joon menegaksan kalau tidak sakit lagi. Mi So heran dengan kalimat Young Joon 'Lagi'.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” ucap Young Joon. Mi So mengaku kalau Ada yang ingin ditanyakan.
“Apa bocah laki-laki yang kucari sungguh Tn. Penulis?” tanya Mi So
“Kenapa kau bertanya hal yang jawabannya sudah pasti?” ucap Young Joon
“Ini mungkin terdengar aneh, Tapi dalam ingatanku selalu mengira kau adalah bocah itu. Kau seperti seseorang yang mengalami trauma Kau juga punya bekas luka di pergelangan kaki.” Kata Mi So
“Akan bagus kalau pria yang kau suka adalah bocah pria yang kau cari. Tapi aku bukan bocah itu. Mimpi buruk dan bekas lukaku tak berhubungan dengan kasus itu. Dan mau aku bocah itu atau bukan, apa itu penting? Apa itu merubah perasaanmu padaku?” tanya Young Joon
“Tidak, tidak benar... Terlepas dari itu, Kau yang kusuka.” Ucap Mi So lalu menyuruh agar bisa tidur lagi saja. 

Ji Ah berbicara di telp mengatakan kalau akan datang jam 7 jadi  akan kirim pesan sandi masuk jadi bisa membuka pintu dan taruh barangnya di dalam kalau mereka sampai lebih dulu.
“Hari ini aku pindahan..” ucap Ji Ah. Mi So  heran karena ini hari kerja.
“Biaya pindahan lebih murah saat hari kerja. Aku baru saja bekerja. Jadi orang tuaku yang membayar deposit dan jasa pengangkut barang juga. Aku perlu mengurangi anggaran sedikit mungkin.” Cerita JiAh
“Pasti sulit hidup terpisah dengan orang tuamu.” Ucap Mi So
“Tetap saja, aku akan menjadi wanita karir sepertimu. Aku akan punya rumah dekat dan fokus bekerja.” Kata Ji Ah penuh semangat.
“Bukankah ini waktumu ikut rapat dengan tim bisnis?” ucap Mi So. Ji Ah teringat dan langsung bergegas pergi. 

Mi So melihat ponselnya yang berdering, Lee Sung Yeon yang menelp. Tatapan Mi So langsung mengarah pada Young Joon. Sung Yeon cemberut karena Mi So yang tak bisa mengangkat telpnya.  Saat itu seorang wanita masuk dengan tergesa-gesa.
“Apa kau sudah menunggu lama?” ucap si wanita. Sung Yeon mengelengkan kepala.
“Konser bukumu banyak mengundang respon positif. Agensi kami bahkan kewalahan menanggapinya. Banyak yang memintamu untuk wawancara dan tampil di TV. Kau akan terima, kan?” ucap si wanita. Sung Yeon menolaknya.
“Alangkah lebih baik kalau kau terima. Kau juga pembicara yang handal. Aku sangat menikmati konser bukumu, Terutama, saat kau mengutarakan perasaanmu pada orang yang kau suka. Dia disana juga, kan? Dia pasti sangat terharu.” Ungkap Si wanita, Sung Yeon hanya terdiam. 

Tuan Park membereskan semua berkasnya lalu memangil Sekretaris Seol memberitahu kalau  Tn. Choi sedang latihan militer cadangan jadi meminta agar bisa mengantarnya hari ini, karena perlu mempelajari materi selagi diperjalanan.
“Baiklah, biar aku saja yang menyetir.... Aku akan menemanimu tanpa lakukan kesalahan.” Ucap Sek Seol yain
“Kau tak akan menemaniku menuju gerbang kematian, kan?” kata Tuan Park mengejek. Sek Seol mengaku tak mungkin seperti itu. 

Young Joon menatap Mi So yang sedang duduk di meja kerja lalu menekan tombol. Mi So langsung bergegas masuk dengan sopan, Young Joon memastikan merkea bisa makan siang bersama, Mi So membenarkan karena Young Joo tak punya jadwal makan siang.
“Ini makan siang pertama kita setelah menjadi pasangan. Aku ingin kita makan ditempat yang istimewa.” Ucap Young Joon
“Kalau begitu aku akan pesan tempat direstoran yang istimewa.” Kata Mi So
“Bukan di restoran yang sering kita kunjungi, aku ingin restoran yang baru.” Tegas Young Joon
“Baiklah, aku akan beri daftar restoran baru.” Kata Mi So. Young Joon pikir mereka harus menyiapkan kue juga.
“Kita perlu rayakan momen istimewa ini juga.” Jelas Young Joon.
“Baiklah, aku akan menyiapkan kue istimewa kesukaanmu, cheesecake.” Kata Mi So. Young Joon pun memujinya.
Tiba-tiba keduanya merasakan ada yang aneh, Young Joon bergumam “Apa ini bagaimana pasangan mengobrol?” Sementara Mi So merasa kalau tadi adalah ucapan yang biasa dilakukan tapi tiba-tiba merasa kurang enak didengar. 


Keduanya duduk berhadapan, cake dibawa oleh pelayan. Young Joon pikir Meski kekanak-kanakan, berpikir kalau menaruh beberapa lilin. Mi So pikir Itu tidak penting. Young Joon merasa kalau  sengaja  menyiapkan ini untuk merayakan awal hubungan mereka.
“Yang benar, aku yang menyiapkannya, karena aku yang pesan tempatnya.” Kata Mi So dengan wajah sedikit kaku lalu keduanya sama-sama memalingkan wajah seperti merasa tak ada yang nyaman.
Young Joon memilih untuk minum, Mi So langsung menuangkanya. Young Joon terbatuk dan Mi So bergegas memberikan sapu tangan. Seperti layaknya sekertaris melayani bosnya.
“Apa kalian suka dengan makanannya?” tanya koki datang, Mi So berkomentar makanannya lezat.
“Terima kasih banyak, kalian pasangan yang serasi. Orang lain mungkin akan mengira kalau kau sekretarinya.” Kata Chef.
Young Joon terdiam seperti merasa bersalah, Mi So pun tak banyak berkata-kata. Akhirnya Chef pergi dan keduanya makin canggung. 


Young Joon berjalan keluar restoran menyarankan agar jangan dulu balik ke kantor dan nikmati kencan lebih lama. Mi So terlihat gugup, Young Joon mengajak untukjalan-jalan sedikit dan nonton film. Mi So langsung menolak.  Young Joon pikir Mi So tak perlu tegang begitu.
“Lagipula, aku tak ada jadwal sore ini.” Kata Young Joon.
“Tetap saja, kau harus berada dikantor. Ini Tak pantas kalau kita lakukan hal pribadi selama jam kerja., Terutama kencan.” Kata Mi So
“Membingungkan.... Saat ini kau sekretarisk dan Saat ini kau juga kekasihku. Kurasa, kita perlu perjelas sedikit.” Kata Young Joon, Mi So tak mengerti maksudnya.
“Sejauh ini kau sudah banyak membantuku, Namun, sekarang itu justu membuatku tampak seperti pria jahat. Aku tak merasa nyaman akan hal ini. Contohnya, kau menuangkan aku air dan memberiku sapu tangan tadi. Itu bukan hal yang biasanya pasangan lakukan.” Ucap Young Joon
“Tidak bisa seperti itu... Ini Sudah tugasku untuk membuatmu nyaman,” kata Mi So
“Itulah kenapa kita perlu perjelas sesuatu disini. Mulai sekarang, kau melayaniku hanya soal pekerjaan. Untuk hubungan kita, itu akan jadi tugasku.” Tegas Young Joon
“Tetap saja, itu sedikit...” ungkap Mi So. Young Joon menegaskan agar Mi So melakukan yang dikatakan.
“Aku mungkin saja atasan yang egois. Tapi, aku tak ingin jadi pacar yang egois.” Ucap Young Joon. Mi So menganguk mengerti. 



Tuan Park meminta agar Sek Seol tak akan membuat kesalahan lagi dan Jangan sampai tersesat. Sek Seol pikir Tuan Park  Jangan khawatir. Karena tahu banyak lokasi yang tuju, bahkan bisa menuju lokasinya dengan mata tertutup.
“Kau tak akan menutup matamu selamanya, kan?” sindir Tuan Park. Sek Seol hanya tersenyum.
“Coba Lihat, kita hampir sampai.” Ucap Sek Seol bangga berhenti di lampu merah.
“Ini Tumben sekali,  tapi membuatku lebih cemas karena melihatmu tak lakukan kesalahan.” Kata Tuan Park
Saat lampu untuk pejalan kaki menyala, Tuan Park terdiam melihat sosok wanita menyeberangi jalan dengan seorang wanita. Sek Seol ikut melonggo mengetahui kalau wanita itu mantan istrinya. Tuan Park terlihat tak percaya kalau istrinya sudah mendapatkan penganti.
“Pria itu mungkin saja temannya. Wahh... Kau tak akan melihatnya kalau aku tersesat. Kenapa aku tak lakukan kesalahan hari ini dibanding hari lain? Maafkan aku.” Ucap Sek Seol merasa bersalah
“Tak apa-apa, jangan dihiraukan.” Kata Tuan park dengan wajah lesu. 


Young Joon melihat berkas lalu seperti ingin menyuruh sesuatu pada Mi So dan akhirnya keluar dari ruangan. Mi So bertanya apakah memelukan sesuatu. Young Joon mengatakan kalau itu Kelalaian.
“Aku perlu kau berlaku lalai dan bermalas-malasan.” Kata Young Joon lalu keluar dari ruangan. 

Tuan Jung dkk baru saja selesai rapat dan kaget melihat Young Joon sedang berdiri di depan mesin foto copy.  Mereka langsung bergegas kalau seharusnya meminta tolong pada pegawainya jika perlu sesuatu. Se Ra pun ingin membantunya.
“Tidak, aku sudah selesai, dan aku mahir dalam memakai mesin ini juga. Aku bahkan tahu bagaimana membuat salinan dengan memperbesar dan mengecilkan ukurannya. Mulai sekarang aku yang akan mengurus sendiri soal salin-menyalin.” Ucap Young Joon akan bergegas pergi.
“Kenapa kalian berdiri disana?” kata Young Joon semua hanya melonggo, semua pun memberikan jalan untuk Young Joon. 

Mi So baru saja keluar dari ruangan menatap Young Joon dengan senyuman, Ji Ah langsung bertanya apakah tempat duduknya kosong. Mi So mengaku kalau sedari tadi duduk dimejanya. Ji Ah heran dengan yang terjadi tadi. Mi So bertanya apa sebenarnya yang terjadi.
“Kau tahu, Bos... fotocopy sendiri.” Ucap Se Ra , Mi So kaget begitu juga Tuan Jung merasa jantungnya copot. 

Mi So kembali melihat Young Joon seperti bangga kalau melakukan pekerjaanya sendiri. Ia berkomentar kalau tak menyangka situasi membingungkan ini. Saat itu Ji Ah datang memanggil Mi So
“Sekretaris Kim... Kau perlu ke kantor CFO, dia menyuruhmu kesana.” Kata Ji Ah. Mi So menganguk mengerti lalu berjalan pergi. 

Tuan Jung membahas tentang biskut milik Young Joon yang mahal dan lezat lalu berpikir kalau mereka bisa mencicip satu potong saja. Saat itu Se Ra dan Tuan Jung kaget melihat Young Joon berada di pantry membuat kopi dan juga biskuit.
“Apa Kalian mau?” tanya Young Joon,  Tuan Jung langsung mengelengkan kepala.
“Tolong lupakan perkataan bodohku barusan, Bos. Aku tak pernah menaruh tanganku pada biskuit milikmu sebelumnya.” Ucap Tuan Jung. Se Ra mengangguk membenarkan. Young Joon seperti tak peduli lalu membawa kopi sendiri ke ruanganya. 

Mi So baru saja kembali melonggo binggung karena Young Joon berjalan dengan membawa kopi, lalu bertanya pada pegawai lain apakah Mi So yang mengambil biskuit dan teh sendiri, Se Ra memberitahu kalau melihatnya dengan matanya sendiri dan sangat membuatnya takut.
“Ada apa dengannya hari ini? Dia menyalin dokumen dan bahkan mengambil sarapan sendiri.” Kata Tuan Park 
“Aku rasa aku tahu alasannya. Bagi yang mau dengar, silakan kumpul.” Kata Tuan Jung. Se Ra mengeluh mereka pun sudah berkumpul.
“Kurasa...sikap bungkamnya seolah bermakna PHK. Dia akan berkata 'Aku bisa lakukan segalanya tanpa kalian'” kata Tuan Jung, Mi So merasa kalau tak seperti itu.
“Aku rasa seperti itu. Kalau bukan, bagaimana kau akan jelaskan. sikap anehnya itu?” kata Se Ra, Mi So mencoba menyakinkan tapi semua terlihat panik.
“Putriku baru akan berusia 1 tahun... Itu bukan masalah, bagaimana dengan hutang-hutangku?” kata Tuan Jung
“Hancurlah aku! Aku punya banyak makanan yang ingin dimakan.” Ungkap Young Ok
“Kalian semua pasti khawatir. Makanya kalian seharusnya meningkatkan kualifikasi kinerja kalian dulu sebelum dipecat sepertiku.” Komentar Tuan Park bangga.
“Kenapa kau tak tingkatkan prilakumu beriringan dengan kualifikasi kinerjamu? Bisa kulihat prilakumu sangat rendah.” Ejek Tuan Jung. Salah satu karyawan ingin tahu.
Tuan Jung melihat nama Bae Hyun Seung, menurutnya tak masalah karena statusnya masih magang.  Semua merasa khawatir kalau Young Joon yang akan melakukan PHK pada karyawanya. Mi So pun kebingungan dengan sikap Young Joon yang membuat semua karyawan panik. 

Mi So melihat Young Joon di ruangan dengan tatapan sinis. Young Joon menatap cangkirnya dengan bangga kalau itu teh pertama yang diseduh jadi lebih baik diberikan pada Sekretaris Kim dengan menaruh didepan mejanya. Mi So masih menatap Young Joon sampai bosnya melambaikan tangan untuk datang.
“Apa Kau memanggilku?” ucap Mi So sopan, Young Joon menyuruh Mi So agar duduk.
“Aku menyeduh teh pertama kalinya dalam hidupku Dan aku ingin kau meminumnya. Jadi Silakan kau minum” kata Young Joon.
“Ada yang ingin kukatakan padamu.” Ucap Mi So. Young Joon pikir Mi So bisa mengatakan nanti dan minum dulu.
“Teh yang kubuat untuk pertama kalinya bisa dingin kalau dibiarkan.” Ucap Young Joon.
Mi So pun menurut dengan meminum lebih dulu, tapi tehnya terlalu panas dan melukai lidahnya, Young Joon panik berpikir kalau lidah Mi So terbakar dan meminta agar membuka mulutnya, Saat itu Ji Ah dkk melihat dari depan jendela hanya bisa melonggo. 


Akhirnya semua berkumpul, Young Joon terlihat kebingungan akan menjelaskan pada semua pegawainya, begitu juga Mi So. Akhirnya Young Joon sudah menemukan alasan mengaku kalau Ada yang ingin dikatakan pada semua pegawainya.
“Sebenarnya, hari ini, sedikit istimewa untukku.”ucap Young Joon. Tuan Jung bertanya-tanya Hari ini hari istimewa baginya.
“Ya, hari ini...hari pertama komunikasi tim. yang aku adakan mulai hari ini.” Akui Young Joon, semua terlihat binggung apa maksudnya.
“Hari ini hari dimana kita saling tatap-menatap satu sama lain, satu-persatu, secara bergiliran untuk mengucap rasa terima kasihku pada kalian. Dan sasaran pertamaku adalah Sekretaris Kim.” Jelas Young Joon. Mi So terlihat binggung tapi mencoba untuk tenang.
“Baiklah, aku akan mulai lakukan kontak mata dengan sasaran keduaku.” Kata Young Joon dengan memulai dari Tuan Jung.
Keduanya saling menatap, Young Joon mengucapkan Terima kasih atas kerja kerasnya, Ji Ah pun menatap bosnya, Young Joon pun mengaku senang bertemu lagi. Se Ra sudah siap saling bertatap, tapi Mi So memanggil Young Joon yang membuat sedikit senang.
“Kau punya setumpuk dokumen yang harus kau periksa jadi perlu segera meninjaunya agar bisa diproses.” Ucap Mi So. Young Joon menganguk mengerti.
“Sayang sekali, tapi aku akan nantikan kembali tahun depan untuk lakukan kontak mata dengan sisa dari kalian. Dan Kerja bagus semuanya.” Ucap Young Joon dan semua pegawai keluar dari ruangan. 


Semua masih heran dengan Young Joon karena  mendadak ada hari komunikasi tim. Tuan Park pikir kalau Young Joon mungkin mendadak perlu komunkasi dengan tim mereka.  Se Ra merasa kalau mengerti situasiny dan yakin kalau semua ini karena Sekretaris Kim.
“Apa? Aku tak tahu apa yang kau bicarakan.” Kata Mi So mencoba mengelak.
“Jujurlah... Apa kau akan terus menyembunyikannya dari kami? Kau yang mengusulkannya, kan? Untuk mengadakan komunikasi tim dan memperhatikan kami. Maksudku, Bos bukan orang yang akan punya ide semacam itu. Jadi Sudah pasti itu idemu. Benarkah, Sekretaris Kim?” kata Se Ra
Mi So dengan gugup akhirnya mengakuinya, Semua mengeluh dengan ide dari Mi So, karena membuatnya sangat resah sepanjang waktu. Tuan Jung merasa karena bos mengadakan hari ini untuk memperhatikan mereka jadi tak bakalan di pecat, tapi Tuan Jung tetap merasa heran dengan sikap Young Joon yang sangat berbeda hari ini, Mi So hanya mengelengkan kepala.
Bersambung ke part 2

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar