PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 18 Juli 2018

Sinopsis Lets Eat 3 Episode 2 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Dae Young pindah ke sebelah rumah Ji Woo mengaku berharap bisa saling akrab sebagai tetangga. Ji Woo merasa kalau itu hanya bercanda, Dae Young menyakinkan kalau memang benar pindah, karena sedang mencari tempat, dan ternyata suka dengan lingkungan di rumah Ji Woo.
“Aku melihat rumah di sebelahmu dekat pasar juga. Sepertinya ini takdir, jadi aku menandatangani kontrak. Apa Kau sudah makan? Ayo kita makan kalau ada sesuatu yang mau kau makan.” Kata Dae Young
“Tapi aku belum makan.” Ucap Ji Woo yang masih terlihat binggung.
“Kalau begitu ayo keluar. Aku akan traktir untuk merayakan kepindahanku Apa ada restoran yang bagus di dekat sini?” Kata Dae Young penuh semangat.  Ji Woo mengaku tak tahu.
“Kupikir kau sudah tinggal di sini beberapa tahun. Kulihat kau juga makan lauk yang dikirimkan ibumu... Aku ingat betapa lezatnya itu.” Kata Dae Young
“Aku biasanya tidak pernahmakan di rumah dan selalu makan di rumah sakit.” Ungkap Ji Woo terlihat sedih, Dae Young pun mengajak mereka untuk keluar saja. 

Ji Woo melihat kesekeliling restoran, karena berpikir Dae Young akan makan jjajangmyeon seperti tradisi pindah rumah. Ia ingin tahu kenapa Dae Young ingin makan ikan.  Dae Yong pikir kalau Jjajangmyeon saat pindah rumah, itu terlalu kuno.
“Kau dulu begitu terbuka ketika ada makanan.” Komentar Dae Young, Ji Woo seperti tak menyadarinya.  Akhirnya pelayan memberikan ikan dalam bentuk panjang diatas meja.
“Bagus. Ikan ini harus disajikan secara keseluruhan. Ini Bagus bukan?” kata Dae Young bersemangat.
“Apa Kita datang jauh-jauh ke sini cuma untuk memakan ini? Apa Cuma buat makan ikan yang dipanggang ini?” tanya Ji Woo heran
“Apa? Kau bilang "Cuma makan ikan panggang"?” keluh Dae Young sambil mengerutkan dahi dan kembali mengatakan penjelasan tentang ikan.
“Kau bisa merasakan khas ikan itu ketika kau memakannya dengan cara ini. Ikan ini seperti pisau. Bentuknya lurus dan panjang mengingatkanmu tentang pisau. Itu sebabnya nenek moyang kita layak mendapatkan kehormatan untuk namanya. Mereka juga mulai menaburkan garam kasar sebelum memanggangnya.” Kata Dae Young
“Dengan cara ini, ikan dibumbui dengan sempurna dan memiliki aroma yang enak. Itu juga membuat teksturnya dua kali lebih renyah. Memanggangnya utuh akan menjaga nilai gizinya dan mengunci kelembabannya.” Ucap Dae Young
“Sementara itu, kau harus memotong ikan ketika kau merebusnya. Dengan seperti ini, rasa juicy akan keluar dari daging dan tulangnya yang membuat kaldu itu kaya dan tebal. Apa aku benar?” kata Dae Young 

Ji Woo hanya melonggo binggung dan heran karena malah bertanya padanya. Dae Young malah heran karean Ji Woo yang membuat berpikir tentang makna dan cara untuk menikmati makanan meski itu hanya kacang.
“Kaulah penyebabnya dan mentorku yang membuatku mendeskripsikan cerita tentang makanan.” Kata Dae Young
“Apa aku begitu?” ucap Ji Woo seperti lupa, Dae Young tak ingin memperpanjang mengajak mereka makan saja.
“Aku akan singkirkan tulangnya untukmu... Lalu Sekarang, sisihkan dagingnya” kata Dae Young seperti ahli dengan ikan, Ji Woo pun terkesima melihatnya.
Mereka mulai makan ikan panggang, Dae Young menyuruh agar Ji Woo mencelupkan pada kecap asin dan wasabi lalu membungkusnya dengan rumput laut. Ji Woo pun mengikutinya dan memuji kalau sangat enak. Mereka juga mulai mencoba sup ikan pedas, Ji Woo meniupnya lebih dulu dan terlihat bahagia makan dengan Dae Young. Dae Young memberikan ikan pada mangkuk Ji Woo, terlihat Ji Woo terkesima.
“Karena ikannya lembut,. itu baik untuk orang dengan sirkulasi darah yang buruk dan sistem pencernaan yang lemah sepertimu. Dulu kau sering mengalami sakit perut. Apa Kau ingat?” ucap Dae Young, Ji Woo tersenyum makan ikan pemberiaan Dae Young dengan lahap dan memijit sela jarinya. 

Keduanya berjalan pulang, Ji Woo berkomentar kalau Makan makanan ikan tadi rasanya enak sekali. Dae Young tahu kalau mereka harus memanggangnya saat makan ikan,tapi tidak mudah memakannya saat tinggal sendiri. Ji Woo menganguk setuju.
“Kupikir kau tidak punya masalah memanggang dan memakannya sendirian.” Kata Dae Young, Ji Woo terlihat binggung.
“Kau memanggang ikan di rumahmu, dan adikmu membuat keributan, lalu dia bilang pakaiannya bau seperti ikan dan Kalian bertengkar karena itu.” Ucap Dae Young, Ji Woo cemberut mendengar ucapan Dae Young.
“Ada apa? Apa karena aku mengungkitnya lagi? Kenapa kalian bertengkar? Ayo Katakan.” Kata Dae Young.
“Dae Young... Bukankah kau punya rahasia yang tidak bisa kau... Maksudku... Apa Kau tak punya rahasia yang kau tak bisa kau bagikan ke orang lain? Dia seperti itu bagiku. Kuharap kau berhenti membicarakannya.” Kata Ji Woo. Dae Young langsung meminta maaf.
“Aku terlalu mengada-ada. Setiap orang memang punya rahasia. Apa Kau tahu kenapa aku pindah ke tempat ini? Sebenarnya, aku merasa sedikit putus asa belakangan ini. Pekerjaan tidak menyenangkan, dan aku bagaikan bawang yang layu. Tapi dengan bertemu denganmu mengingatkanku pada masa kuliah.” Cerita Dae Young
“Aku energik dan penuh semangat saat itu. Kupikir aku akan mendapatkan energi jika aku tinggal di sebelah rumahmu dan memikirkan kenangan lama itu. Kurasa aku bisa memulai sesuatu lagi dan bisa berani dan bangkit kembali.” ungkap Dae Young
“Itu juga terjadi pada semua pekerja kantoran. Aku juga akan bekerja seperti mesin. Satu-satunya tempat yang kutuju adalah rumah sakit dan rumahku. Hidupku adalah rutinitas sehari-hariku yang sama.”jelas Ji Woo
“Itu sebabnya kau sering makan di kantin rumah sakit. Dan itu menyebabkan kehilangan selera karismatikmu.”komentar Dae Young lalu melihat ponselnya yang bergetar.
Ji Woo pun memilih untuk pamit pergi, Dae Young mengangkat telp dari seseorang. Suara pria terdengar kalau menelepon setelah membaca beberapa tulisan di blog Dae Young. Dae Young pun bertanya apakah ada yang bisa dibantu.
Dae Young datang ke restoran, lalu diantar ke sebuah ruangan. Di dalam sudah menunggu seorang pria menyapa Dae Young, bernama Sun Woo Sun. Woo Sun merasa kalau makan bersama akan membuat Dae Young tidak nyaman, jadi meminta untuk bertemu saat belum jam makan. Dae Young menganguk mengerti.

“Aku manajer tim dari CQ Food. Aku tidak sengaja mengunjungi blog milik Anda, "Let's Eat". Aku sangat suka ide Anda saat memposting piring kosong atau mangkuk. Apa Anda bisa katakan apa yang baru saja aku alami dengan melihat piring kosong ini?” kata Sun Woo, Dae Young terlihat binggung.
“Ini pasti salad jamon soba... Lalu Ini pasti empat potong sashimi. Dan itu pasti ekor lobster yang dipanggang dengan mentega sementara mangkuk di depanmu pasti ochazuke di air laut merah.” Ucap Dae Young dengan cepat menunjuk mangkok kosong.
“Wow, aku terkesan dengan keahlian Anda.” Komentar Sun Woo
“Yah, itu karena aku sebelumnya juga makan menu utama di sini. Menu ini paling terkenal di restoran ini.” Kata Dae Young
“Seperti yang diharapkan... Itu sebabnya aku memanggil Anda, karena Aku ingin bekerja sama dengan Anda.” Jelas Sun Woo
“Kau minta kerja sama denganku, tapi Apa kau masih melakukan tes semacam ini padaku? Apa itu biasa-biasa saja dalam industri makanan?” keluh Dae Young
Sun Woo meminta maaf kalau Dae Young merasa kesal dengan menjelaskan kalau Ini adalah proyek yang sangat penting, jadi harus berhati-hati. Dae Young ingin tahu alasan Sun Woomencari pekerja asuransi yang tidak punya pengalaman di industri makanan.
“Aku mau kerja sama dengan orang yang mengelola blog bernama, Let's Eat, bukan orang yang latar pekerjaannya adalah konsultan asuransi. Aku mencari seseorang yang sudah mencicipi berbagai jenis makanan dan mampu memberikan komentar dan ekspresi yang tepat. Kami membuat proyek yang membawa makanan lezat dari seluruh negeri ke rumah mereka yang biasanya makan dan minum sendiri. Kami butuh ide.” Kata Sun Woo
“Entahlah. Ini terlalu mendadak, jadi kurasa aku belum memutuskannya sekarang. Aku akan memikirkannya lagi.” Tegas Dae Young. Sun Woo menganguk mengerti.
“Aku akan mengirim file-nya ke surel Anda. Aku percaya Anda akan terbuka untuk ide itu.” Ucap Sun Woo lalu pamit pergi.
“Dia benar-benar kasar untuk seseorang yang menginginkan bantuanku.” Keluh Dae Young melihat sikap Sun Woo. 

Ji Woo baru saja mencuci bajunya, lalu tercium  bau ikan panggang, lalu teringat yang dikatakan Dae Young “Kau memanggang ikan di rumahmu, dan adikmu membuat keributan, bilang pakaiannya bau seperti ikan. Kalian bertengkar karena itu.” Wajahnya terlihat kesal melihatnya.
Flash Back
Seo Yeon menyemprot semua parfum di bajunya, sementara Ji Woo sedang makan sambil menonton drama Full House.  Seo Yeon mengomel kalau Ji Woo yang jangan memanggang ikan mackerel karena bajunya itu jadi bau ikan.
“Sekarang harus bagaimana? Aku lagi ada kencan.” Keluh Seo Yeon. Ji Woo dengan santai kalau baunya akan hilang.
“Kau juga bukannya selalu pakai baju yang harum. Bahkan sepatuku berbau amis. Aku tidak bisa memakainya!” kata Seo Yeon marah
“Bukannya kau ada sepatu lain? Jadi Pakai saja sepatu lain.” Komentar Ji Woo.
Seo Yeon akhirnya keluar dari rumah, Ji Woo merasakan sesuatu dan melihat kotak sepatunya kosong. Ia langsung berlari mengejar adiknya, Seo Yeon berjalan dengan sepatu yang terlihat sangat bersih.
“Hei, Lee Seo Yeon, dasar pencuri!.. Berhenti di situ!” teriak Ji Woo dan keduanya saling menjambak di tengah jalan.
“Kau jangan pakai itu... Lepaskan itu! Lepaskan sepatunya.” Teriak Ji Woo marah
“Kau bilang sendiri aku bisa memakai sepatu yang lain.” Ucap Seo Yeon, keduanya berkelahi saling tari menarik.
Dae Young melihat keduanya meminta agar mereka bicara baik-baik saja, tapi Ji Woo malah mendorongnya. Keduanya terus berkelahi, Ji Woo menarik sepatu yang dipakai adiknya, salah satu sepatu terlepas dan akhirnya Ji Woo berhasil mengambil sepasang sepatunya.
“Hei, kau sebut dirimu kakak? Aku harus bagaimana tanpa sepatu?” teriak Seo Yeon marah. Dae Young hanya bisa melonggo melihat keduanya yang bertengkar hebat

Sung Joo pamit dengan tamanya karena Pacarnya sudah datang dengan mobilnya. Ji Seok melihat Sung Joo itu Pria beruntung itu karena Pacarnya menjemputnya dengan mobil mewah.
“Aku ingin tahu apa kita juga bisa berkencan.” Kata Byung Sam, Dae Young yakin bisa suatu hari nanti.
“Dari kita bertiga, kau punya harapan tertinggi.” Ucap Ji Seok,  Dae Young dengan yakin kalau memang lebih tampan...
“Bukan itu maksudku. Kau tinggal sendiri dan ada dua gadis yang tinggal di sebelah. Jadi Peluangmu tinggi.” Kata Ji Seok
“Apa kau pikir, Dengan salah satunya? Kau tidak tahu apa yang terjadi pagi tadi.” Ucap Dae Young
“Hei.. Kami melihat mereka setiap hari juga. Aku punya kesempatan yang sama seperti yang dimiliki Dae Young.” Kata Byung Sam
“Hei.. Bodoh. Kau bahkan tidak bisa bilang sepatah kata pun kepada mereka. “ kata Ji Seok , Dae Young tertawa mendengarnya.

“Aku seperti itu karena ini adalah pertama kalinya kami bertemu. Jika aku mulai berbicara, maka aku akan punya kesempatan yang lebih baik.”tegas Byung Sam
“Kalian hanya bicara dan tidak melakukannya.” Ejek Ji Seok, Byung Sam terlihat kesal dengan ucapan Ji Seok
“Apa Kau mau melihat betapa menariknya aku? Hari ini, aku mau gadis itu memikatku.” Kata Byung Sam  berjalan pergi. Ji Seok mengejek menyuruh Byung Sam untuk cuci muka saja dulu. 

Ji Woo sibuk belajar dan melihat adiknya pulang dengan sepatu baru. Seo Yeon dengan santai kalau itu hanya sepatu kets. Ji Woo tahu adiknya yang tidak punya uang untuk membeli sepatu itu. Seo Yeon mengaku kalau punya uang.
“Apa Kau diam-diam menyimpan uang dariku?”kata Ji Woo
“Aku pasti akan membayar jika kau membiarkanku meminjam sepatumu.” Tegas Sung Yeon. Ji Woo marah langsung berdiri.  
“Kau mau memukulku lagi? Kalau kau begitu, aku akan teriak supaya pemilik bisa mendengarnya. Apa Kau mau ketahuan kalau aku tinggal di sini?” kata Seo Yeon mengancam.
“Kau yang bicara bahkan ketika kau mengacaukan tempatku. Jadi Kalau itu maumu, teriak saja. Pemilik sedang keluar mengambil barang daur ulang. Sebenarnya, aku punya ide yang lebih baik daripada ketahuan. Jadi Pergi saja.” Kata Ji Woo langsung membuang sepatu adiknya.
“Jadi begitu? Aku tak bisa menahannya lagi.” Kata Seo Yeon ikut melempar barang-barang Ji Woo. Keduanya saling melempar barang, keluar rumah. 


Byung Sam menaiki tangga, sambil membuat rencana minta tetangga Dae Young untuk bergabung minum-minum hari ini. Ji Seok mengejek Byung Sam yang ingin bicara jadi menyuruh untuk tanyakan sendiri saja.  Lalu ketiganya hanya bisa melonggo banyak barang dan teriaka dari kamar Ji Woo.
“Mereka sedang berkelahi. Bukankah kita harus menghentikannya?” kata Ji Seok. Dae Young menjawab tak bisa
“Kita harus melakukan sesuatu. Aku akan membantu mereka untuk tenang dan menghibur mereka berdua. Hei... Byeong Sam, lihat dan pelajari bagaimana aku memanfaatkan situasi seperti itu.” Kata Ji Seok bangga
“Hentikan! Ladies, apa yang terjadi? Jika ada yang bisa aku bantu...” kata Ji Seok tapi kepalanya terkena lemparan buku.
Dae Young mengeluh kalau sudah mengatakan lebih dulu, lalu berpesan pada Byung Sam untuk melihat apa yang terjadi ketika terlibat di antara dua wanita yang berkelahi. Keduanya masih terus saling mendorong, Ji Woo dan Seo Yeon berusaha agar siapa yang masuk ke dalam rumah. Ji Woo akhirnya berhasil masuk ke dalam rumah membiarkan Seo Yeon tergelatak di depan rumah.
“Hei, kau tidak apa-apa?” tanya Jin Seok merasa kasihan, dan Seo Yeon kembali memperlihatkan ari mata buaya.
“Memangnya aku salah apa? Aku cuma butuh tempat bernaung karena tidak punya uang. Aku bahkan tak punya uang buat naik bis. Apa kalian punya uang dan Bisa aku pinjam?” kata Seo Yeon, Jin Seok langsung memberikan uangnya dengan Byung Sam. Seo Yeon mengucapkan Terima kasih dan pergi dengan membawa semua barangnya.

Byung Sam mengaku belum pernah melihat gadis-gadis itu bertengkar sebelumnya dan menurutnya sangat menakutkan. Ji Seok pikir butuh alkohol untuk membuatnya tenang. Byung Sam meminta agar membuatkan ramyun.
“Aku ada kerja sambilan.” Kata Dae Young, Keduanya binggung Kerja sambilan apa.
“Aku mau ke Jerman dua tahun ke depan. Aku masih menyesal tidak menonton setiap pertandingan sepak bola selama Piala Dunia 2002, jadi aku akan ke Jerman untuk pertandingan tahun 2006.”jelas Dae Young
“Jadi kau menabung untuk pergi ke Jerman? Lalu Pekerjaan apa?” tanya Jin Seok
“Pekerjaan yang paling trend saat ini.” Kata Dae Young bangga. 

Dae Young menjadi pelayan dalam sebuah restoran, sementara Ji Woo berbaring di depan TV merasa kalau Enaknya tinggal sendiri. Lalu berita di TV memberitahu kalau Ada kasus pembunuhan yang korbannya adalah perempuan di seantero Seoul.
“Kasus pemerkosaan dan perampokan juga meningkat secara dramatis. Polisi sedang bersiaga penuh.”
Ji Woo tiba-tiba seperti memikirkan adiknya, lalu mencoba menelp tapi tak aktif. Pikiran mulai tak karuan karena ponsel adiknya mati, akhirnya bergegas keluar dari rumah sambil  membawa payung.  
Ji Woo menunggu di halte bus, Dae Young turun dari bus melihat Ji Woo heran karena cuacanya bagus tapi malah membawa payung. Ji Woo mengaku tak ada yang akan dilakukan. Dae Young bertanya apakah Ji Woo menunggu seseorang. Ji Woo hanya diam saja.
“Seo Yeon? Kalian tadi pagi bertengkar hebat.” Kata Dae Young heran. Ji Woo mengelak.
“Aku hanya jalan-jalan saja.” Kata Ji Woo dan saat itu Seo Yeon baru turun dari mobil dengan banyak belanjaan.
“Kenapa kau tidak menjawab teleponku?” ucap Ji Woo marah mendekati adiknya.
“Apa Kau meneleponku? Aku tidak tahu. Mungkin baterainya habis.” Kata Seo Yeon lalu melihat ponselnya yang mati. Ji Woo pun mengajak pulang.
“Kenapa, Apa kau khawatir? Untuk apa payung itu? Siapa yang akan kau pukul dengan itu?” goda Seo Yeon
“Apa Kau tidak menonton berita? Mereka sering melaporkan tentang penculikan, tapi kau tetap keluar sampai selarut ini? Apa Kau mau aku memberitahu ini ke Ayah?” ucap Ji Woo
“Aigoo, itu sebabnya kau keluar dengan payung itu?” ejek Seo Yeon lalu memberikan sebuah kotak hadiah. Ji Woo binggung apa itu

“Aku suruh dia beli untukmu dan juga untukku. Bawalah ini bersamamu dan semprotkan pada orang yang aneh.” Jelas Seo Yon. Ji Woo ingin tahu cara mengunakannya.
“Aigoo, bodoh sekali.... Kau hanya Dikocok yang kencang.” Kata Seo Yeon mencontoh dan meraka langsung kembali bisa tertawa bercanda.
“Mereka begitu cepat... Mereka memang saudara.” Komentar Dae Young tak percaya melihat keduanya. 


Seo Yeon sibuk dengan kameranya ponselnya, Ji Woo menyuruh Seo Yeon agar tak foto terus karena  Tidak peduli berapa kali memotret, akan terlihat sama. Seo Yeon mengejek kalau hanya Ji Woo yang berpikir seperti itu.
“Pengikutku tidak berpikiran sama. Dengan Memposting salah satu foto selfieku akan memberiku banyak pengikut baru. Lagipula, kau juga punya kurang dari 10 pengikut. Bagaimana kau bisa memahami kehidupan media sosialku di dunia ini dengan lebih dari 10.000 pengunjung sehari?” ejek Seo Yeon. Ji Woo pun hanya diam saja.
“Haruskah aku mengubah dekorasi sosmedku dengan biji uang yang diberikan dari pengikutku?” kata Seo Yeon dengan bangga
“Apa gunanya mengubah dekorasi secara online? Kau hanya tinggal di rumahku.” Ejek Ji Woo. Seo Yeon mengeluh Ji Woo selalu menyindir tentang tempat tinggal. 

Terdengar bunyi ketukan pintu, keduanya panik mendengarnya. Ji Woo menyuruh Seo Yeon agar bersembunyi di toilet. Seo Yeon sudah bersembunyi di kamar mandi, Ji Woo bertanya siapa yang datang, dan ketika membuka pintu kaget ternyata ibunya yang datang.
“Ada apa Ibu kemari?” tanya Ji Woo heran, Ibu Ji Woo mengeluh dengan pertanyaan anaknya lalu mengeluh dengan bawaanya yang berat. Ji Woo langsung membawakan semua barang ibunya.
“Ibu... Aku sangat merindukan Ibu. Aku akan menjemputmu di Stasiun Seoul kalau Ibu memberitahuku.” Ucap Seo Yeon ramah keluar dari kamar mandi menyapa ibunya.
“Aigoo, kau baik sekali. Bagaimana aku bisa beruntung mendapat seorang putri yang cantik? Kenapa kau malah bilang "Ada apa kemari" pada ibumu? Tidak bisakah Ibu datang ke rumahmu?” keluh Ibu Ji Woo
“Itu karena Ibu tidak bilang mau datang.” Kata Ji Woo memberikan alasan.
“Ulang tahun Seo Yeon tinggal dua hari lagi. Jadi Ibu di sini untuk memberinya makanan ulang tahun. Aku akan meneleponmu, tapi kau sudah di sini.” Kata Ibu Ji Woo
“Aku di sini untuk mencuci karena saluran air terputus di asramaku.” Jelas Seo Yeon memberikan alasan.
Ji Woo hanya bisa menghela nafas mendengarnya, lalu melihat kotak makan ibunya sambi mengeluh kalau tidak perlu membawa sebanyak itu tapi masih punya banyak lauk di kulkas. Ibu Ji Woo heran anaknya yang tak memakanya dan ingin melihatnya dalam kulkas.
“Wahhh... Ini terlalu matang.Kau tidak bisa memakannya ketika sudah matang.” Ucap Ibu Ji Woo melihat ada sisi kimchi.
“Apa Ibu bisa buat kimchi sujebi?” kata Seo Yeon penuh semangat
“Apa? Tapi Ibu datang untuk memberimu makanan ulang tahunmu. Kau harus makan sup rumput laut.” Kata Ibu Ji Woo
“Kau tahu aku tidak suka makanan semacam itu. Ini hari ulang tahunku, jadi buatlah makanan yang aku inginkan. Aku mau kimchi sujebi.” Rengek Seo Yeon. Ibu Ji Woo pun menganguk setuju.
“Ibu akan membuatnya dengan kimchi matang ini.” Kata Ibu Ji Woo.

Ibu Ji Woo memotong kimchi lebih dulu, lalu membuat kaldu ikan dan memasukan kimchi, labu serta air kimchi dan menunggu sampai matang. Sambil menunggu, Ibu Ji Woo sudah membuat adonan tepung sujebi. Dan dibantu Ji Woo untuk memotongnya.
“Bukankah Ibu pikir terlalu murah hati? Bukankah adonan itu terlalu banyak?” kata Ji Woo  
“Kau benar. Simpan dan taruh beberapa saat kau membuat ramyeon nanti.” kata Ibu Ji Woo
“Kenapa tidak ditambahkan semuanya di sini dan berbagi dengan pria di sebelah?” saran Ji Woo, Ibu Ji Woo bertanya siapa yang dimaksud.
“Dia satu kampus denganku. Dia membantuku kerja sambilan dan hal-hal lainnya.” Cerita Ji Woo
“Benarkah? Bawakan saja dia. Dia pasti melewatkan makan karena dia tinggal sendiri. Ayo kita berbagi. Ada baiknya banyak orang yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.” Kata Ibu Ji Woo
“Kalau begitu aku akan membawanya.” Ucap Ji Woo penuh semangat keluar dari rumah.
“Biar Ibu lihat, tapi Sujebi mungkin tidak akan cukup.” Kata Ibu Ji Woo melihat adonan sujebi. 


Ji Woo keluar dari rumah heran melihat Dae Young seperti sedang mengendus-ngedus, bertanya apa yang dilakukan. Dae Young mengatakan tidak bisa diam karena aroma makanan ini menyebar di seluruh tempatnya. Ji Woo memuji Dae Young yang pandai menciumnya.
“Ibuku datang ke sini dan membuat makanan. Dia ingin mengundangmu. Apa tidak apa-apa?” kata Ji Woo
“Aku suka kalau ikut gabung makan.” Ucap Dae Young penuh semangat
“Aku bilang padanya bahwa Soo Yeon akan tinggal di rumahku untuk sementara, jadi tolong jangan katakan padanya.” Tegas Ji Woo memperingatkan
“Apa ini semacam rahasia lain?” tanya Dae Young, Ji Woo bertanya apakah Dae Young tak mau makanan. Dae Young seperti langsung setuju dan berpura-pura baru bertemu Seo Yeo jadi akan menyapanya. 

Semangkuk Sup Kimchi dengan Sujebi, diberikan pada Dae Young. Ibu Ji Woo merasa tak enak hati karena  mengundang seorang tamu, tapi makanannya begitu sederhana.Dae Young mengoda kalau Ibu Ji Woo  berpikir kalimat itu rendah hati, itu berarti mereka hidup seperti di Dinasti Joseon.
“Dan aku bukan seorang pria... Aku seorang wanita.”kata Dae Young berpura-pura mengibaskan rambutnya. Ibu Ji Woo terlihat binggung.
“Dia ini orangnya lucu. Jadi Mari makan.” Kata Ibu Ji Woo, Seo Yeon lebih dulu makan sujebi buatan ibunya dan berkomentar kalau itu rasa yang diingikan. Semua berkomentar kalau rasanya enak dan memuji Ibu Ji Woo yang pintar masak.
“Dadar kimchi ini lezat... Aku belum pernah makan serenyah ini.” Komentar Dae Young mencoba pancake kimchi.
“Benarkah? Itu Ji Woo yang buat.” Kata Ibu Ji Woo, Ji Woo pun tersipu malu-malu
“Aku tahu kau punya keterampilan luar biasa saat memasak di dapur. Dan Kau juga bisa membuat dadar. Triknya ada saat makanan ini panas, 'kan?” ucap Dae Young
“Tidak, triknya berada dalam bentuknya” kata Ji Woo, Dae Young terlihat binggung. Ji Woo mengangkat mangkuk kecap asin, Dae Young melihat kalau Bentuknya seperti donat.
“Itu rahasiaku membuat dadar kimchi. Tapi Sebenarnya, itu dimulai dengan adonan. Kau tak hanya menaruh tepung biasa untuk membuat dadar. Sedikit tepung panir bisa menambah rasa gurih dari dadar itu. Pokoknya, ujung luarnya adalah bagian yang begitu renyah, jadi kau harus membuatnya menjadi bentuk donat untuk efek maksimal.” Jelas Ji Woo
“Kukira ada rahasia untuk dadar enak semacam ini. Aku mau coba memasaknya sendiri.” Komentar Dae Young
“Aku khawatir saat kau membawa anak laki-laki, tapi mendengar dia berbicara membuatku berpikir sebaliknya.” Ucap Ibu Ji Woo
“Apa yang perlu dikhawatirkan?” tanya Dae Young, Ibu Ji Woo pikir tahu dengan keadaan sekarang melihat kedua anaknya perempuan.
“Ngomong-ngomong, Dae Young , kau boleh membawa makanan buatanku ke rumahmu.” Kata Ibu Ji Woo. Dae Young mengucapkan Terima kasih.
“Sebagai imbalannya, aku akan menghargainya. Jika kau membantu kedua gadisku.” Kata Ibu Ji Woo
“Ibu, kenapa dia mau menjadi pengawal kami? Dia pingsan saat melihatku berpikir aku ini hantu. Keberaniannya cuma seukuran kacang ini.” Kata Seo Yeon
“Bukankah seharusnya kau tetap meniup lilin ulang tahun? Ibu tahu ini masih belum harinya, tapi tetap saja...” kata Ibu Ji Woo, Seo Yeon langsung menolak.
“Lilin ulang tahun? Ulang tahun siapa ini?” tanya Dae Young, Seo Yeon mengaku kalau ia ulang tahun tapi dalam beberapa hari.
“Benarkah? Berarti aku salah menikmati makanan ini secara gratis. Datanglah ke restoran tempatku bekerja. Aku yang traktir.” Kata Dae Young, Ji Woo dan Seo Yeon terlihat bersemangat mendengarnya akan datang ke restoran.
Bersambung ke part 2

 PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar