Jumat, 01 Juli 2016

Sinopsis Lucky Romance Episode 11 Part 2

Gun Wook memainkan layar yang ada didepan kulkasnya, lalu mencari-cari resep untuk membuat makanan dan memilih menu sandwich buah. Setelah itu melihat bahan-bahan dari resep dan mulai memotong bagian pinggir roti, dari layarnya pun berbicara agar memotong dan merapihkan bagian pinggir roti.
Setelah itu memotong Pisang, tomat dan mulai menyurun dengan menambahkan daging asap dan juga selada. Akhirnya ia menaruh sandwich didalam kotak makanan dengan senyuman bahagia. 

Dal Nim sedang minum ditaman dengan seekor anjing, Ryang Ha datang menyapa anjing lalu dengan jahitnya menyentil leher Dal Nim, akhirnya Dal Nim sempat tersedak. Dal Nim pun menyuruh si anjing untuk mengonggong pada Ryang Ha, si anjing pun menurut mengonggonya. Ryang Ha tak percaya anjingnya itu mirip seperti orang saja yang mengerti.
Aku mau ke klub, jadi cepat katakan” ucap Ryang Ha
Begini, sejak hari itu tak ada kemajuan sama sekali. Makanya aku membuat rencana. Jadi, kupikir kalau kau mau bantu sedikit saja maka kami bakalan berkencan.” Ucap Dal Nim penuh semangat
Bus sudah lewat, dia tak tahu... Dia malah kege-eran sendiri.” Keluh Ryang Ha

Saat itu, dia akan menyadarinya. "Oh! Di sampingku, ada bluebird!"” kata Dal Nim membuat tanganya seperti burung. Ryang Ha mengeluh di malam indah harus duduk ditaman mendengarkan hal yang tak masuk akal,
“Hei, kau kira aku suka di sini? Kalau kau bukan temannya Daepyonim, mana sudi aku bertemu dengan mu?” teriak Dal Nim kesal
Kalau kau terus memperlakukanku begini, maka kau bakalan kehilangan semua info penting!” ucap Ryang Ha memperingati, dal Nim pikir penting atau tidak mereka bisa lihat nanti.
“Kau tahu Aku siapa? Malaikat penjaganya Je Soo Ho, satu-satunya temannya! Dengan lidah ini, dalam 30 menitaku bisa membuatmu duduk di samping Je Soo Ho, Kalau aku lari, dia akan duduk di sebelahmu. Tepat di sebelahmu.” Kata Ryang Ha menyakinkan
Itulah yang kumau. Apapun yang kau inginkan, akan kulakukan. Katakan saja.” Ucap Dal Nim merengek
Lepas kacamata, turunkan berat badan dan behel itu! Lepaskan semua. Lepaskan semuanya dulu. Setelah itu, mari kita pikirkan lagi, oke?” ucap Ryang Ha, Dal Nim menganggu mengerti


Bo Nui keluar ruangan, mendengar suara orang yang bersiul dengan menyanyikan lagu kesukaan orang tuanya, sampai akhirnya di atap gedung melihat sosok Soo Ho yang bersiul lalu bertanya apa yang sedang dilakukanya. Soo Ho memperlihatkan tas sushi yang dibawanya.
Akhirnya Bo Nui pun memakainya, Soo Ho bertanya apakah enak Bo Nui mengangguk, Soo Ho kembali bertanya apakah senang. Bo Nui juga mengangguk. Soo mengeluh disaat seperti itu seharusnya datang padanya tapi tak ada sepatah katapun, Bo Nui langsung menaruh kotak sushinya, Soo Ho pun mengerti akan menunggu saja.
Jangan bersiul malam-malam, Bisa sial nanti.” Kata Bo Nui
Berani kau bilang 'sial' pada Je Soo Ho? Aku sengaja bersiul! Aku sengaja bersiul 'Takdir Pilu'.” Kata Soo Ho dengan nada kesal, Bo Nui menanyakan alasanya.
Siulan sial, melodi menyedihkan. Kau mendengarnya dan mengikutinya, dan orang yang kau suka sedang memegang makanan enak dan berdiri di sana! Benar, kan?” kata Soo Ho tersenyum bahagia, Bo Nui hanya bisa diam.
“Apa Kau tahu, kenangan terakhir itu sangat penting. Saat orang menilai kejadian atau pengalaman, selalu tergantung pada kejadian yang paling mengena Sampai akhir! Semua kesedihan, yang menyakitkan...akan kuubah jadi kenangan baik. Akan kubuat paling kau ingat, sampai akhir! Mulai sekarang, ingatlah dengan senyuman.” Tegas Soo Ho penuh semangat
Bo Nui meminta Soo Ho untuk tak bersiul dimalam hari, lalu mengingatkan Terakhir kali saat menulis nama Ayahnya dengan tinta merah lalu terluka, Meskipun kemungkinannya 1/100 atau 1/1000, tetap tidak boleh. Soo Ho merasa kalau kemarin hanya kebetulan saja, mengeluh Bo Nui yang  menghubungkannya dengan sebab-akibat. Bo Nui bertanya apakah Soo Ho pernah menelp ayahnya, Soo Ho hanya terdiam memalingkan wajahnya lalu berdiri. 




Keduanya berdiri di pinggir atap, Bo Nui yakin ayah Soo Ho  pasti menyesalinya dan menyayanginya, tapi karena terlalu sayang jadi  tak tahu harus bagaimana mengatakannya.
Kalau ternyata ayahmu bukanlah ayah kandungmu... Apa pernah kau pikirkan?” tanya Soo Ho
“Kau bisa cerita pada beliau. Betapa terlukanya hatiku, kenapa sakitnya... Kalau tidak mengatakan, mana beliau tahu.” Kata Bo Nui, Soo Ho mengelengkan kepala seperti tak setuju.
Beliau sepertiku, Keras kepala, hanya tahu diri sendiri dan tak tahu caranya meminta maaf. Kalau kami bertengkar, maka kami lebih memilih tidak saling bertemu. Seperti halnya kutub magnet yang saling tolak menolak. Menjaga jarak seperti ini mungkin yang terbaik.” Jelas Soo Ho
Bo Nui mengingatkan Ayah Soo Ho itu keluarganya, Soo Ho malah menyayangkan kalau mereka itu keluarga. Bo Nui memanggilnya Presdir, Soo Ho mengeluh kalau mereka berkencan nanti meminta agar berhenti memanggilnya Presdir lalu mengajak untuk turun dengan memberikan kedipan matanya. 

Gun Wook  masuk ke Lobby Zeze menyapa Tuan Won yang sedang berjaga, tapi Tuan Won yang terlihat tertunduk tak meresponya. Akhirnya Gun Wook pun mengetuk meja, Tuan Won pun akhirnya tersadar dari tidurnya menyapanya ingin bertemu dengan siapa.
“Aku dengar Shim Bo Nui masih di atas.” Kata Gun Wook
Oh, iya! Masih di lantai atas lembur sampai malam... Aigoo, kau mau kasih bekal” kata Tuan Won melihat kotak bekal yang dibawa oleh Gun Wook. Gun Wook pun hanya bisa tersenyum meminta agar merahasiakanya. 

Soo Ho menopang dagunya sambil menatap Bo Nui yang sedang berkerja, Bo Nui melirik lalu meminta agar Soo Ho bisa melihat layar komputer agar melihat games yang sedang diperbaikinya, Soo Ho pun berdiri dengan sedikit membungkuk mendekati Bo Nui, tepat disamping wajahnya melihat kelayar komputer.
Bo Nui gugup bertanya apa yang dilakukan presdirnya, Soo Ho mengatakan Bo Nui yang menyuruhnya untuk melihat, jadi sekarang berusaha untuk melihatnya. Gun Wook dengan senyuman bahagia ingin masuk ke dalam ruangan, matanya melotot melihat Gun Wook dan Bo Nui terlihat sangat dekat dan wajah Bo Nui yang tersenyum. Akhirnya memilih untuk meninggalkan ruangan. 

Bo Nui akhirnya menyelesaikan tugasnya. Soo Ho tertepat membungkuk ada disampingnya, terlihat kebinggungan melihat apa yang kerjakanya. Keduanya tiba-tiba saling menatap, Soo Ho memejamkan mata dan seperti ingin menyiumnya, Bo Nui malah semakin menjauh dan langsung mendorongnya. Soo Ho pun langsung terduduk dikursi dan pergi menjauh dengan meringis kesakitan.
Itu yang mau kulakukan, Dilarang kontak fisik.” Teriak Bo Nui
“Hei... kau bilang dilarang...  Kita sudah ciuman 2 kali.” Ucap Soo Ho, Bo Nui pikir Soo Ho itu bermimpi karena mereka baru satu kali.
“Kau bilang Mimpi, Dasar wanita selalu cari gara-gara  Apa kau tak ingat? Waktu itu! Saat Kau mabuk! Dan Bertingkah semaumu, bahkan seenaknya saja langsung menciumku” teriak Soo Ho kesal
Bo Nui pun mengingat saat mabuk dan Soo Ho mengantarnya, lalu tanpa sadar langsung menciumnya karena berpikir kalau itu “macan” yang dicarinya.

Ah, orang bilang kau akan dengar denting lonceng Apabil pertama kali ciuman. Aku nggak dengar apa-apa tuh.” Keluh Soo Ho, Bo Nui kaget mendengar Soo Ho mengaku Ciuman pertama, Soo Ho terlihat panik langsung berdiri
“Jadi Amy bukan cinta pertamamu?” kata Bo Nui bingung, Soo Ho membalikan badanya.
Bukan! Bukan! Siapa yang bilang seperti itu? Semua ini baru pertama kalinya bagiku! Pengakuan pertamaku! Pegangan tangan pertamaku! Ciuman pertamaku! Makanya... kau harus tanggung jawab...” ucap Soo Ho malu lalu buru-buru masuk ruangan.
Bo Nui hanya bisa melonggo binggung, Soo Ho menutup jendela ruangan langsung berjongkok memukul wajahnya seperti berusaha menyadarkan. Akhirnya ia keluar ruangan ingin mengatakan sesuatu, tapi Bo Nui langsung berdiri dan pamit pulang. Soo Ho hanya bisa terlihat kesal karena pengakuanya. 
Di rumah, botol wine diatas meja tinggal setengah.  Gun Wook duduk di atas tempat tidurnya sambil menatap cincin lamaran yang tak jadi diberikan. Sementara Sul Hee duduk sendirian mengingat kata-kata Soo Ho “Apa itu... cinta?” lalu menatap tanganya, terlihat binggung apakah itu cinta, tapi kenapa malah terus membuatnya sakit

Soo Ho menelp Bo Nui sambil menjepit foto di dinding kamarnya, bertanya apakah sudah sampai rumah. Bo Nui mengatakan membenarkan. Soo Ho mengatakan sangat merindukan, Bo Nui hanya terdiam, Soo Ho pun kembali mengatakan sangat merindukan.
Bo Nui berpura-pura tak mendengar sambil berteriak kalau sinyal ponselnya itu jelek, lalu mengucapkan selamat malam dan bertemu besok di kantor. Soo Ho hanya bisa menahan rasa kesalnya karena Bo Nui masih saja berkutat dengan jawaban simpel itu, dengan menatap foto Bo Nui berharap agar Bo Nui cepat sadar. Sementara Bo Nui sedang berdoa diatap.
Tuhan, tolong aku.... Aku ingin percaya kata-katanya dan menggenggam tangannya. Tolong beri petunjuk, bagaimana mengontrol perasaanku.” Kata Bo Nui 

Pagi hari
Bo Nui baru keluar rumah mendengar suara pintu Gun Wook yang akan dibuka, dengan wajah panik memilih untuk menutup agar tak bertemu. Setelah tak mendengar suara ia membuka pintu tapi ternyata Gun Wook sudah menunggunya di depan pintu. Gun Wook menyuruh Bo Nui untuk keluar. Keduanya akhirnya keluar dari apartment bersama.
Tadi malam sungguh aku di kantor, Bukannya menghindarimu.” Jelas Bo Nui, Gun Wook memasangkan kacamata hitam.
Kurasa reporter yang tempo hari datang lagi. Aku sih masalah, tapi Nuna tidak, jadi Pakailah kacamatanya.” Kata Gun Wook,
Bo Nui melihat beberapa reporter bersembunyi dibalik semak-semak, lalu mengucapkan terimakasih, lalu bertanya kemarin masak apa karena mengatakan masak enak. Gun Wook mengaku hanya beli toppoki dan dimakan sendiri. Bo Nui mengejek Gun Wook itu Egois dan mengajak lain ali makan bersama. Gun Wook mengangguk setuju lalu pamit untuk pergi.  Beberapa saat kemudian, Gun Wook sudah berlari ditepi sungai, seperti memiliki kebiasan ketika hatinya sedang marah dilampiaska dengan berlari. 

Seorang pria dengan mengunakan masker dan topi terlihat mencurigakan di depan Zeze. Tuan Won mendekatinya, bertanya apa yang dilakukanya karna sedari tadi hanya melirik kesana kemari. Pria itu tak menjawab dan memilih berlari pergi.
Tuan Won pun kembali berjalan melihat seorang pria yang berdiri menatap atas gedung, lalu masuk gedung. Akhirnya Tuan Won bertemu di lobby gedung, meminta agar tak perlu berdebat. Tuan Je menegaskan Ayahnya Je Soo Ho, yaitu Je Mul Po dan memperlihatkan ID Card agar menyakinkan.
Tak perlu karena Sudah tertulis di agendaku,  Kalau antara jam 11-1 siang ada orang mabuk, itu Ayahnya Presdir Je Soo Ho. Jangan boleh masuk! Ini masih pagi, dam juga tidak mabuk. Jadi Mana mungkin Anda ayahnya Je Soo Ho? Kurasa kau kemari cuman mau minta sumbangan dengan modal ID Card  Orang terkenal sepertinya tak bisa semudah itu ditemui. Tolong pergilah.” Kata Tuan Won meremehkan
Bo Nui tiba-tiba datang menyapa Ayah Soo Ho, bertanya apakah ingin bertemu Soo Ho. Tuan Won kaget mendengarnya, Tuan Je mengatakan Tak perlu dan meminta agar  Jangan beritahu Soo Ho kalau ia datang dan langsung pergi.
Tuan Won bertanya apakah memang benar itu ayah Soo Ho. Bo Nui membenarkan dengan tatapan sedih. Tuan Won bertanya Bo Nui dari mana  bisa tahu. Bo Nui beralasa kalau karena sebagai pegawai dari Zeze. Tuan Won menatap curiga pasti ada sesuatu. 


Soo Ho berlari saat melihat Bo Nui yang baru masuk ke dalam lift, keduaya pun berada dalam lift terlihat hanya diam saja. Soo Ho memulai pembicaran dengan menanyakan Skenario-nya, Bo Nui langsung menjawab Kemarin malam sudah dibagikan pada yang lain.
“Lalu bagiamana dengan Desain tiap bagiannya?” tanya Soo Ho, dengan cepat Bo Nui menjawabAkan selesai sore ini.
“ Dan Hubungan kita?” kata Soo Ho, Bo Nui menjawab malam ini.... lalu terdiam karena terjebak pertanyaan Soo Ho yang bertubi-tubi.
Soo Ho tersenyum saat keluar dari lift, lalu masuk ruangan duduk dikursinya memikirkan ucapan Bo Nui Malam ini...


Pesan masuk ke dalam ponselnya Soo Ho! Ibu di rumahmu. Dengan foto ibunya bersama action figurnya. Teringat dimalam hari menempelkan foto Bo Nui di dinding kamarnya. Dengan kecepatan tinggi sampai di cafe bertanya apakah Ryang Ha yang memberikan password rumah pada ibunya.
Ryang Ha membenarkan, Soo Ho yang marah mengangkat besi dibagian atas rak lalu berlari keluar dari gedung, Ryang Ha pikir Soo Ho sudah mengantinya, menurutnya itu karena sibuk dengan Bo Nui sampai lupa dan sekarang malah meyalahkanya. Setelah itu mencoba mengangkat besi diatas rak buku, ternyata itu sangat berat tapi Soo Ho tadi bisa mengangkatnya.
Soo Ho berlari ke parkiran sepeda karena tak bawa kunci berusaha untuk menariknya tapi tetap tak bisa terbuka. Akhirnya ia langsung masuk ke dalam taksi saat seorang wanita turun. 

Soo Ho sampai dirumah berlari menaiki tangga ingin masuk kamarnya, ibunya sedang ada didapur heran melihat anaknya pulang karena hanya ingin beres-beres rumah anaknya. Soo Ho mengeluh ibunya tak perlu melakukan karena bisa memberesihkan sendiri, seperti bisa bernafas lega ibunya tak masuk kamarnya.
“Di ruang TV semuanya sudah dibersihkan . Lemari esmu sudah Ibu penuhi. Aku mau minum teh, setelah itu baru bersih-bersih lantai atas” ucap Ibunya, Soo Ho pikir tak perlu
Iya, Ibu yakin kau bisa bersih-bersih sendiri. Aku pikir harus sering-sering tiba-tiba datang ke rumahmu karena Senang bisa melihat wajahmu.” Ungkap Nyonya Yang
Soo Ho meminta ibunya tak datang, Nyonya Yang meminta anaknya untuk datang, dan bertanya apakah Soo terus tak mau menemui Ayahnya, menceritakan beberapa hari ini Ayah Soo Ho tak bisa tidur jadi memintanya aga diberi kesempatan. Soo Ho tak mau membahasnya, meminta ibunya segera pulang karena akan menganti passwordnya dan Ryang Ha tak akan mengetahuinya. 

Bo Nui berlari pergi ke sebuah restoran, ternyata bertemu dengan ibu Soo Ho. Nyonya Yang merasa Bo Nui itu pintar Tapitak tahu banyak tentangnya. Bo Nui bertanya apa yang harus Nyonya Yang ketahui karena sepertinya terlihat serius.
Orang tuamu kerja apa? Apa mereka tinggal di Seoul?” tanya Nyonya Yang
Mereka sudah meninggal, 10 tahun lalu.” Jawab Bo Nui, Nyonya Yang bertanya apakah Bo Nui punya saudara
Bo Nui menjawab punya seorang adik yang ada dirumah sakit, Nyonya Yang terlihat agak kaget lalu bertanya Jadi yang bayar tagihan rumah sakitnya Bo Nui sendirian. Bo Nui membenarkan. Nyonya Yang bertanya Bo Nui Lulusan univesitas mana dan menebak pasti lulusan SKY karena bisa masuk ZeZe, Bo Nui mengatakan sudah berhenti kuliah ditengah jalan.
“ Apa Kau kencan dengan Soo Ho?” tanya Nyonya Yang, Bo Nui langsung menyangkalnya.
Kurasa Soo Ho menyukaimu.” Kata Nyonya Yang, Bo Nui mengatakan sudah menolak Soo Ho dan tak akan menerimanya.
Bo Nui, memangnya kau siapa berani menolak anakku?” kata Nyonya Yang marah, Bo Nui binggung akhirnya Nyonya Yang meminta agar Bo Nui ikut denganya. 

Nyonya Yang pergi ke sebuah mall, lalu memilihkan sebuah lipstik berwarna pink agar Bo Nui mencobanya. Lalu keduanya duduk bersama, Nyonya Yang memberikan dua tas belanja pada Bo Nui, tapi Bo Nui menolak karena kemarin sudah membelikan jaket. Nyonya Yang meminta Bo Nui megambilnya  dan Dandan yang cantik lalu kencanlah dengan Soo Ho. Bo Nui pikir tak seperti itu.
“Kau bilang Tidak apaan? Soo Ho nempelkan fotomu di kamarnya. Bo Nui, kau sendiri bilang kalau anakku keren. Apa Kau tak melihatnya... sebagai seorang pria? Yah.... Baiklah. Aku tak akan memaksamu... Tapi terimalah ini. Kita teman satu peramal, kau Anggaplah hadiah dari temanmu, oke?” kata Nyonya Yang, Bo Nui pun mengucapkan terimakasih.
Jadi begini... Bo Nui... Bisa... kau menolongku?” kata Nyonya Yang 

Ryang Ha sedang mengunakan kursi pijat dan mengetahui temanya  meneempel semua fotonya di kamarnya, lalu tertawa mengejek tak percaya seorang Je Soo Ho melakukanya. Soo Ho pikir kenapa dirinya tak boleh melakukan itu. Ryang Ha yakin Ibunya pasti sudah lihat lalu mengejeknya sungguh kasihan. Soo Ho pun sempat inginm mengumpat lalu tiba-tiba langsung tersenyum sendiri
Kau senyum? Dasar mesum! Hei, kau ditolak Bo Nui harusnya sekarang ini kau patah hati. Sekarang kau lagi terbawa perasaan?” ejek Ryang Ha
“Menungung kereta yang tak kunjung tiba sama saja berada di neraka.  Tapi menunggu kereta yang pasti dating adalah keberkahan.” Kata Soo Ho seperti mengeluarkan pepatah, Ryang Ha meminta izin untuk pergi ke toilet karena ingin muntah.
Hei! Apa kau Lagi nulis novel ? Kau itu lulusan sains!” ucap Ryang Ha mengingatkan
Tidak, aku merasakan sesuatu. Rasanya seperti magma vulkanik yang meletup-letup di dasar hatiku.” Ucap Soo Ho pun semangat.

Ryang Ha akhirnya turun dari kursi pijat merasa yang duduk didepanya itu bukan Soo Ho yang dikenalnya selama ini.  Ponsel Soo Ho tiba-tiba berdering, keduanya langsung menatap dengan mata melotot kaget. Ryang Ha menyuruh Soo Ho untuk tetap tenang dan memelankan suaranya. Soo Ho mengangkat telpnya dan hanya mengatakan “yah aku mengerti”
Melihat wajah Soo Ho yang datar, Ryang Ha yakin Ditolak lagi mengumpat temanya yang terlalu terbawa perasaan. Soo Ho memberitahu Bo Nui yang mengajaknya makan siang bersama. Keduanya langsung menjerit bahagia.
Bo Nui baru saja selesai menelp Soo Ho, lalu didepan tempat berdoa  memohoan agar membuak semua penghalang dan Uraikan semua yang sudah menjadi simpul.


Nyonya Yang memberikan sepasang sepatu pada suaminya, Tuan Je bertanya apa lagi sekarang. Nyonya Yang meminta suaminya agar pergi denganya.
Apapun yang terjadi, tutup mulutmu. Kalau kau buka mulut, cukup katakan "benar, benar, benar". Itu saja.” Kata Nyonya Yang
Omong kosong apa lagi ini?” keluh Tuan Je
Kalau kau menolak, artinya kita cerai.” Ucap Nyonya Yang mengancam

Foto Bo Nui masih tertempel di dinding kamar, Soo Ho mulai memilih baju untuk berkencan dengan Bo Nui, mulai dengan kaos garis-garis dengan kerah lalu merapihkan rambutnya. Tapi akhirnya merasa tak cocok menganti dengan kemeja biru, dengan suara mengoda menyapa Bo Nui bertanya mau makan apa dan menyarankan untuk makan ikan.
Soo Ho menganti dengan sweater abu-abu, tapi menurutnya bahunya terlihat kekar padahal selama ini kurus. Ia memilih baju yang tak tahu bagian depanya, sampai akhirnya memasukan kepala setengah, menurutnya harus mengunakan pakaian yang biasa.
Ia menatap cermin merasa wajahnya itu terlihat lebih hitam, akhirnya membuka bajunya harus mandi kembali. Di lantai bertumpuk-tumpuk pakaian yang dicoba oleh Soo Ho. 


Bo Nui sudah menunggu disuatu tempat, saat itulah Soo Ho datang dengan baju yang biasa digunakanya, celana pendek dan baju sedikit keberaran. Bo Nui pun menyapanya lebih dulu, Soo Ho mengatakan Akhirnya paham teori relativitas!
Mulai dari kemarin malam sampai pagi ini, satu menit rasanya seperti sejam! Tapi satu jam perjalanan untuk bertemu dengamu seperti semenit! Bahkan sekarang, saat menatapmu. Saat ini waktu seolah terhenti.” Kata Soo Ho terlihat mengebu-gebu, Bo Nui ingin berbicara, Soo Ho mengajak untuk bicara didalam saja.

Tiba-tiba terdengar suara ibunya yang memanggil, Soo Ho melonggo melihat ibu dan ayahnya datang. Bo Nui memberitahu kalau mereka akan makan dengan keluarganya,  dan langsung pamit pergi. Nyonya Yang menahanya mengajak Bo Nui ikut makan karena sudah saling mengenal. Bo Nui terdiam melihat Soo Ho yang terlihat tak senang. 


Di dalam restoran
Suasana seperti terasa dingin, Nyonya Yang memulai pembicaraan sudah berapa lama ya tak berkumpul seperti sekaran, menurutnya ini pertama kali setelah Soo Ho pergi ke Amerika diusia 11 tahun. Soo Ho hanya diam saja, Nyonya Yang memberikan kode, Bo Nui pun mulai berkomentar ternyata mereka sudah 20 tahun tak bertemu. Nyonya yang menyenggol paha suaminya, Tuan Je mengatakan “benar” Soo Ho melirik sinis dengan tangan terlipat didada.
Berhubung bisa kumpul begini, maka kita harus luruskan kesalahpahaman yang ada. Semua kesalahpahaman dan kesalahan, oke?” ucap Nyonya Yang lalu menyenggol paha suaminya. Tuan Je pun membenarkan.
Ayahmu sudah tak menyentuh minuman lagi sekarang, Sudah berhenti total.” Kata Nyonya Yang, Tuan Je menjawab hentikan. Nyonya Yang melotot kaget.
Ada masalah apa dengan ku? Melipat tangan dan tatapanmu dingin begitu. Memangnya kau ini ayahku?” kata Tuan Je menantang, Soo Ho tak mau beradu mulut memilih untuk menghentikan saja dan ingin pergi.
Soo Ho! Kau Sudah 20 tahun!” ucap Nyonya Yang berharap anaknya tetap duduk
“Kalau mau pergi, Lebih baik pergi saja. Mau berapa lama orang tuamu harus merendah dan mengiba di kakimu!” kata Tuan Je marah, Nyonya Yang meminta agar suaminya menjaga sikap karena ada Bo Nui

Kenapa Ayah lakukan itu?” kata Soo Ho, Tuan Je bertanya apa yang dilakukan dan meminta agar yang jelas kalau memang bicara
Kenapa... Ayah melempar anak umur 7 tahun ke laut?” ucap Soo Ho
Anak nelayan harus bisa berenang dan Kau sama sekali tidak bisa.” Jawab Tuan Je
Kenapa kau menyalahkanku? Apa Ayah tahu... sejak hari itu anak lemah itu tak berani dekat air? Apa Ayah tahu kalau bau laut saja sudah membuatku mual? Ayah punya tambak ikan dengan air di mana-mana dan tanya kenapa aku tak mau pulang?” ucap Soo Ho mengeluarkan semua yang ditahanya selama ini
Tuan Je malah menantang apa yang ingin dilakukanya, apakah harus berlutut, lalu mengejek karena pintar jadi sombong pada orang tuanya, menurutnya anaknya sejak kecil seperti itu, bahkan berbicara seolah tahu semuanya. Soo Ho menegasan dulu waktu masih kecil Laut dan gelapnya malam membuatnya takut.
Aku masih kecil, takut pada orang yang tak kukenal, menyentuhku, menanyaiku dan melihatku dan Yang tak melihatku sebagai anak kecil adalah kalian berdua.” Tegas Soo Ho lalu keluar dari restoran, Bo Nui pun ikut keluar dari restoran, Tuan Je mulai marah
Jangan pernah buat pertemuan seperti ini lagi.” Tegas Tuan Je pada istrinya


Bo Nui mengejar Soo Ho yang sudah berjalan ditaman, Soo Ho langsung menghempaskan tanganya. Bo Nui meminta Maaf karena seharusnya tadi  mengatakan, tapi ibunya bilang kalau mengatakan mungkin Soo Ho tak akan datang. Soo Ho membenarkan karena seharusnya Bo Nui mengatakan dari awal.
Ini baru permulaan. Sakit yang Presdir rasakan, luka yang kau alami, dan penyebabnya mulai sekarang katakan pada mereka.” Kata Bo Nui
Sekarang menurutmu aku lebih marah pada siapa? Kau, Bo Nui. Hanya karena aku suka padamu, kau bisa bertindak seenaknya, begitukah? Menurutmu apa kau punya hak untuk itu?” kata Soo Ho marah  
Aku kasihan pada mu,  Hatimu begitu keras dan itu membuat hatiku terluka.” Ucap Bo Nui
“Lalu kau harus bohong?” teriak Soo Ho marah, Bo Nui menegaskan kalau sebelumnya akan mengatakan padanya.
“Yah... Ayahmu memang kasar pada kau, itu benar. Tapi yang paling kasar tindakannya adalah kau. Apa salahnya membuka tangan lebih dulu? Apa salahnya mengambil inisiatif dulu? Begitu seharusnya cinta! Kau bahkan tak tahu itu....” kata Bo Nui langsung disela oleh Soo Ho
Aku lagi yang salah... Aku tak tahu kalau kau menganggapku begitu... sejak pagi tadi aku terlalu senang... Kupikir kita mencoba memecahkan persoalan yang sama Tapi ternyata aku salah. Selama ini... sudah mengganggumu, aku minta maaf.” Kata Soo Ho lalu pergi meninggalkanya.
Bo Nui pun hanya diam menatap Soo Ho yang pergi denga mata berkaca-kaca Soo Ho sempat berhenti tapi setelah itu memilih tetap melangkah pergi. Bo Nui pun menangis meliha kepergian Soo Ho. 


[Ciuman Pertama]
Soo Ho langsung masuk ruangan setelah mengakui kalau Bo Nui sebagai ciuman pertamanya dan langsung menutup tirainya. Bo Nui masih melonggo tapi setelah itu membaringkan kepalanya tersenyum bahagia karena  Ciuman pertamanya... dengan dirinya. 
bersambung ke episode 12 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

4 komentar:

  1. Yang nyamar kan itu anak buah yang jual game soo hoo dulu bukan...???

    BalasHapus
  2. Makin makin nih drama makin seru, makin lucu, makin bikin penasaran.
    Terimakasih mba de slalu happy klo udh baca tulisan mba de.

    BalasHapus
  3. Semoga beautiful gongshim bisa di post secepat lucky romance :) gomawo min :)

    BalasHapus
  4. Mbak dyah buat sinopsis film glory days dong

    BalasHapus