Jumat, 15 Juli 2016

Sinopsis Lucky Romance Episode 15 Part 1

Bo Nui duduk terdiam di aspal dan melihat  mobil yang berhenti dan buket bunga pun jatuh. Akhirnya berdiri dan melihat hanya bagian tangan yang berdarah, seperti merasa bersalah Bo Nui memilih berlari menjauh dari Soo Ho.
Ini salahku.... Aku yang salah. Harusnya tak kulakukan Tak seharusnya aku dicintainya dan Tak semestinya aku mencintainya.” Gumam Bo Nui sambil menangis dan berlari, Soo Ho pun masih tergeletak di aspal.
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi ambulance.  Bo Nui menangis karena hanya bisa jauh dari Soo Ho tanpa bisa membantunya. 

Soo Ho sudah terbaring di rumah sakit, Bo Nui datang  bertanya pada perawat dimana keberadaan Kamar  Je Soo Ho, perawat memberitahu di  kamar VIP #2 dan memberitahu pasien seakrang sedang melakukan pemeriksaan dan bertanya apa Bo Nui adalah walinya.
Bo Nui memilih untuk segera mendekati ruangan, lalu menuliskan diselembar kertas jimat agar Soo Ho bisa sembuh lalu menyelipkan dibawah bantal. Soo Ho masih tak sadar dibawa masuk oleh perawat, Bo Nui hanya melihatnya dari jauh tak ingin mendekatinya. 

Bo Nui pulang ke rumah melihat foto yang ada di dinding bersama adik dan juga Soo Ho. Ia berlutut menangis menatap wajah Soo Ho seperti merasa sangat bersalah, Soo Ho terlihat masih terbaring di ruanganya. Bo Nui terus menangis merasa menyalahkan dirinya yang membawa sial. 

Soo Ho terbangun dan langsung memanggil Bo Nui, Sul Hee sudah ada di sampingnya melihat Soo Ho yang sadar langsung memanggilnya. Soo Ho melirik, Sul Hee memberitahu kalau dirinya yang ada disampingnya. Soo Ho mengingat saat kejadian mendorong Bo Nui.
Bo Nui bagaimana?” tanya Soo Ho ingin bangun dari tempat tidurnya,
“Kau lebih baik berbaring saja, tubuhmu memar semua. Dokter bilang ini keajaiban, hanya tanganmu saja yang patah.” Ucap Sul Hee, Soo Ho pun bertanya kapan Sul Hee datang.
Kemarin malam setelah ditelepon.” Kata Sul Hee, Soo Ho bertanya apakah melihat Bo Nui sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya.

Sul Hee meminta Soo Ho tak bangun dan bertanya mau kemana. Soo Ho mengatakan ingin ke IGD, menurutnya saat dibawa masuk maka Bo Nui datang bersamanya jadi mungkin terluka. Sul Hee memberitahu kalau Bo Nui yang menelpnya jadi karena itulah datang.
Dia tak bisa ke rumah sakit, makanya dia memintaku menjagamu. Sebenarnya Kalian berdua kenapa?” ucap Sul Hee binggung, lalu memberitahu harus pergi karena Gary ada interview dan akan kembali lagi.
Tak apa dan Tak perlu ke sini,.” Ucap Soo Ho, Sul Hee  mengatakan akan mengurus semuanya dan  merasa sangat bersyukur melihat Soo Ho yang sadar.  Soo Ho pun mengucapkan terimakasih. Sul Hee menyuruh istirahat dan pamit pergi. 


Soo Ho melihat kantung bajunya saat kecelaakaan dan mengambil ponselnya, mencoba menelp Bo Nui tapi tak aktif. Lalu berusaha keluar tiba-tiba ibu datang, ayahnya nyelonong masuk dengan wajah panik bertanya keadaan memeriksan tubuh Soo Ho kalau ada yang terluka, Soo Ho malah merasa kesakitan karena tubuhnya semua dipegang.
Nyonya Yang menarik tangan suaminya karena Tubuhnya memar semua jadi  kenapa harus disentuh semuanya. Tuan Joo terlihat gugup dan tertunduk malu, Soo Ho pun juga terlihat canggung melihat ayahnya sampai panik. 

Nyonya Yang duduk disamping anaknya, bertanya apa sebenarnya yang terjadi karena mendengar anaknya itu tertabrak karena mau menyelamatkan seseorang. Soo Ho mengatakan itu Tidak benar karena ia Hanya terserempet saat menyeberang.
Syukurlah. Kalau luka dalam dan dioperasi bagaimana jadinya?” kata Nyonya Yang khawatir.
Aku tak apa jadi  Ibu pulang saja.” Ucap Soo Ho dingin, Nyonya Yang merasa baru saja datang tapi anaknya sudah memintanya untuk pulang.
Aku bisa di sini sendiri.” Kata Soo Ho seperti lebih nyaman sendiri.
Apa maksudmu? Dulu kau juga begini, Kau bilang bisa berangkat ke Amerika sendiri. Tak peduli seberapa baik profesornya memperhatikanmu... Meski kau bilang tak apa-apa... Tak seharusnya kami mengirim bocah sekecil itu sendirian.” Kata Nyonya Yang merasa bersalah. Soo Ho merasa itu sudah lama jadi tak perlu dibahas.
Karena putraku jenius, dia akan baik-baik saja di luar negeri... Dia akan bekerja sebaik-baiknya membuat Amerika terkesan, jadi Ibu tak seharusnya berpikir begitu... Maafkan Ibu, Soo Ho, Mengirimmu sendirian, Ibu minta maaf.Maaf kalau terus menyuruhmu menghafal perkalian, Ibu tak tahu apa-apa..” Ucap Nyonya Yang
Soo Ho memanggil ibunya sambil menatapnya lalu  mengatakan bukannya sekarat Hanya tangan patah. Tuan Je mengajak mereka pergi saja karena anaknya juga terlihat baik-baik saja. Soo Ho meminta agar ayahnya berhati-hati saat pulang. Tuan Je mengangguk berpesan agar menjaga diri baik-baik dan Hati-hati kalau menyeberang dan harus menengok kanan kiri dulu.

“Ayahh.... Tambak ikannya, jangan dijual.
Tidak ada ikannya, siapa yang mau beli memangnya? Kalau mereka mengetahuinya, pasti tak bakalan ada yang mau tinggal di sana.” Kata Tuan Je
Ayah suka tempat itu jadi Lanjutkan saja.” Kata Soo Ho, Tuan Je langsung keluar dari ruangan.
Nyonya Yang langsung mengejar suaminya, berkomentar merasa senang karena anaknya akhirnya bisa melunak. Tuan Je terlihat terharu melihat sikap anaknya, Nyonya Yang melihat suaminya menangis. Tuan Je langsung buru-buru menghapusnya dan beranjak pergi. 

Soo Ho mencoba menghubungi Bo Nui akhirnya mencobanya untuk mengirimkan pesan “Jeng-jeng! Ini aku… Kau kaget, kan? Cedera tanganku... tak parah kok… Kupikir kau mungkin khawatir. Cepat kemarilah, tulis jimat di gips-ku supaya aku cepat sembuh. Kau Cepat ke sini yah. Shim Bo Nui, aku merindukanmu” ucap Soo Ho. Bo Nui melihat ponselnya, banyak miss call dan pesan lalu menelp Dal Nim. Dal Nim bertanya keberadan Bo Nui sekarang, bahkan tak bilang akan tak masuk kerja menurutnya sudah pasti kesal. Dengan penuh bersemangat bertanya bagaimana lamaranya,
“Dia memberimu cincin? Kau pasti bahagia. Aku iri sekali “ ucap Dal Nim lalu tersadar Bo Nui hanya diam saja dan mencoba memanggilnya.
“Dal Nim, aku minta tolong, Bisakah tolong bersihkan mejaku? Jimat, garam... semuanya buang saja.” Kata Bo Nui, Dal nim binggung Bo Nui membahas tentang  membersihkan mejanya.
“Kontrakku sudah selesai, jadi aku harus keluar.” Ucap Bo Nui, Dal Nim  masih belum mengerti
“Aku membicarakan lamaranmu, dan Kau ini bicara apa? Dengan Keluar dari Zeze, apa itu masuk akal?” kata Dal Nim sedikit marah
Bo Nui tetap mengatakan kalau akan keluar, Dal Nim mengajak Bo Nui ketemuan dan bicara, bertanya keberadanya dan akan menemuinnya. Bo Nui mengatakan nanti saja akan kuceritakan semuanya sambil meminta maaf lalu menutup ponselnya. 

Bo Nui berbicara pada adiknya yang sedang tertidur, merasa  semua sama seperti 2 tahun lalu.
“Aku mengulur waktu, lalu aku serakah dengan mengulur waktu lagi dan beginilah jadinya.  Kali ini juga… Satu hari lagi, mengulur waktu satu hari lagi... Kubiarkan dia terluka.” Ucap Bo Nui 
Ryang Ha sedang ada dikasir lalu melihat Dal Nim yang datang, dengan wajah panik mengatakna tak boleh terlihat murahan, lalu berlatih mengatakan "Ah, kau datang?" tapi menurutnya bukan seperti itu. Dal Nim memanggilnya.
“Ada yang aneh.” Ucap Dal Nim, Ryang Ha mencoba bersikap dingin. Dal Nim binggung melihat sikap Ryang Ha seperti sekarang.  Ryang Ha mencoba mencoba menutupinya dan meminta maaf

“Anu, kurasa telah terjadi sesuatu pada Bo Nui. Hingga kemarin, dia terlihat begitu senang... seperti bunga di musim semi. Lalu Tiba-tiba dia bilang pergi. Apa itu masuk akal?” cerita Dal Nim
“Katakan sekali lagi, biar aku mengerti. Yang seperti bunga di musim semi tidak usah, bunga... Faktanya saja. Bo Nui kenapa?” ucap Ryang Ha ingin to the point
“Dia bilang mau pergi.” Kata Dal Nim, Ryang Ha kaget lalu bertanya dengan kerjaanya. Dal Nim mengatakan Bo Nui keluar karena Kontraknya sudah selesai, tapi Soo Ho bilang akan direkrut sebagai karyawan tetap. Ryang Ha binggung.
“Yang aneh adalah... Dia memintaku membuang semua barang jimatnya, garam, semuanya. Apa Kau dengar sesuatu dari Presdir Je ?” ucap Dal Nim lalu tersadar Ryang Ha sudah berjarak sangat dekat

Dal Nim mulai gugup dengan wajah tertunduk meminta apabila mendengar sesuatu. Ryang Ha melihat jari Dal Nim itu cantik. Keduanya langsung menjauh sama-sama gugup. Dal Nim menceritakan sangat yakin temanya itu dilamar dan sangat senang saat pergi lalu bertanya-tanya apa ada sesuatu yang salah.
Ryang Ha kaget mengetahui Soo Ho yang akan melamar Bo Nui,  Dan tak memberitahu dirinya. Dal Ni mengejek menurutnya Ryang Ha itu bukan Best friend, bahkan sebagai malaikat pelindung, lalu meminta agar Ryang Ha memberitahunya apabila mendengar apapun lalu berjalan pergi,  Ryang Ha mengatakan ingin Dal Nim bisa lebih lama lagi.
Tiba-tiba ia mengatakan ada telp, Dal Nim berlari kembali ingin tahu. Ryang Ha mengatakan ternyata hanya spam “jangan pergi”. Dal Nim hanya tersenyum lalu pamit pergi. Ryang Ha mengatakan ada telp , Dal Nim kembali datang. Ryang Ha mengatakan spam masuk bertuliskan "setelah kerja kau ngapain?" lalu mencoba bicara secara langsung pada Bo Nui. 

“Saat di Korea, dia ikut serta dalam berbagai acara dengan sponsor korporat global. Sebagai atlet, waktunya dimanfaatkan dengan penuh makna. Dari game sampai siaran di tv. Itu kesempatan Gary Choi memperluas jaringannya ke arena baru.” Ucap Sul Hee pada wartawan
“Oh, Anda tahu... semenjak game-nya, Perilisannya ditunda entah sampai kapan. Kudengar Anda masih jadi modelnya.” Kata wartawan
“Perusahaan akan segera mengembangkan game yang lebih menarik dan menyenangkan. Kerja samaku dengan Zeze sangat berarti. Karena hal ini, aku bisa bertemu Ayahku. Timku tahu bagaimana membuat game yang bagus, secepatnya. Harapanku pribadi adalah Je Soo Ho akan kembali menduduki jabatannya.” Ucap Gun Wook, Sul Hee tersenyum mendengarnya.

Sul Hee berjalan bersama Gun Wook merasa yakin kalau itu pasti Karena Bo Nui. Gun Wook bertanya kenapa bicara seperti itu.  Sul Hee pikir itu interview yang tak perlu sebetulnya, tapi  Gun Wook bersikeras ia juga sudah bukan agennya lagi.
“IF... dibuat Bo Nui untuk adiknya. Karena dia mengetahuinya, Presdir Je mencoba melindunginya sampai akhir.” Ucap Gun Wook
“Aku mengerti. Maksudmu kau tak menyesal, karena kau sudah menganggapnya keluargamu?” kata Sul Hee. Gun Wook bertanya tentang IM,
“Aku tahu kau keluar IM dengan syarat akan membatalkan tuntutannya? Kusimpulkan kalau kau punya penyesalan terhadap Presdir, kan?” kata Gun Wook.
“Tidak .. Ini persahabatan yang sangat tulus. Tapi kau tahu... bagaimana dua orang itu sekarang? Apa Kau dengar kabar dari Bo Nui?” ucap Sul Hee

“Dia sangat bahagia seolah di dunia ini hanya ada mereka berdua.” Komentar Gun Wook
Sul Hee binggung bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi, Gun Wook bertanya ada apa sebenarnya. Sul Hee menceritakan Bo Nui menghubunginya memberitahu Soo Ho kecelakaan. Gun Wook kaget, Sul He mengatakan tidak parah ketika membesuk Bo Nui mengatakan tak bisa ikut masuk dan mintanya melihat keadaan Soo Ho, matanya sembam.
Dia terlihat sangat putus asa, jadi kubiarkan saja. Sebetulnya apa yang terjadi antara mereka... aku penasaran apa mereka bertengkar... Meskipun begitu, ini keterlaluan!” kata Sul Hee
Aku tak tahu. Apapun yang terjadi antara mereka, mereka pasti bisa mengatasinya.” Ucap Gun Wook, Sul Hee mengeluh kalau sangat yakin. 


Gun Wook pergi ke rumah dan melihat banyak di depan rumah bahkan koper dan tas milik Soo Ho, lalu masuk ke dalam dan bertanya apakah mau pindah. Bo Nui  merasa bersalah segalanya jadi begini. Gun Wook mengingat kata  Bo Nui bilang mau menunggu Bo Ra setelah membaik akan tinggal bersama. Bo Nui hanya terdiam.
“Apa ini Karena Presdir Je? Kudengar Kau meminta Amy menjaganya. Aku pikir kau jadi berhati-hati seperti halnya pada Bo Ra. Kenapa pindah...” ucap Gun Wook penasaran
Aku harus pergi. Orang itu, dia kehilangan uangnya, reputasinya, dan bahkan terluka karenaku.” Ucap Bo Nui
Kenapa itu salah Nuna? Aku juga tahu soal celana dalam merah dan burung hantu. Aku juga percaya Tapi itu hanyalah jimat. Lalu kau Bilang dia terluka karenamu, apa itu masuk akal?” kata Gun Wook
Kecelakaannya terjadi di depanku saat dia mau menyelamatkanku. Jadi Aku tak ingin melihat hal semacam itu lagi. Daripada melihat mereka terluka karenaku, lebih baik aku menjauh dari mereka. Aku lakukan itu juga pada Bo Ra dan bisa hidup seperti itu.” Jelas Bo Nui sambil membereskan barang-barangnya, Gun Wook pun mengajak mereka untuk bersama dan akan mengantarnya. 


Ryang Ha masuk rumah sakit sambil menangis memanggil temanya, melihat wajah kaki merasa kasihan setelah kecelakaan.  Lalu bertanya apa sebenanrya terjadi, lalu mulai mengomel seharusnya sopirnya mengemudi yang benar, Buka mata lebar-lebar, Perhatikan lampu lalu lintas Kalau merah harus berhenti, hijau boleh jalan dan ingin memberikan pelajaran pada supir yang brengsek.
Sudah hentikan!” keluh Soo Ho. Ryang Ha sadar sudah tua dan harus menangis berlebihan, buru-buru menghapus air matanya.
“Lalu bagaimana  dengan Bo Nui? Apa yang terjadi? Katanya kau mau melamarnya. Tapi kau terbaring di sini dan Bo Nui berhenti kerja.” Ucap Ryang Ha
Soo Ho kaget mengetahui Ryang Ha yang berhenti kerja.  Ryang Ha menceritakan Bo Nui menelpon Dal Nim minta barang-barangnya dibereskan. Soo Ho langsung turun dari tempat tidurnya, Ryang Ha panik bertanya mau kemana temanya, Soo Ho meminta agar Ryang Ha memberikan kunci mobilnya. 

Ryang Ha memberikannya tapi setelah itu menjerit melarang Soo Ho untuk pergi. Soo Ho pergi masuk dalam mobilnya, lalu mulai menyetir dengan satu tangan. Tiba-tiba sensor mobilnya berbunyi dan langsung berhenti karena ada orang yang menyebrang jalan dengan kursi roda. Soo Ho sempat sedikit shock lalu berusaha untuk menenangkan diri.
Bo Nui da Gun Wook sedang ada di dalam mobil bersama untuk segera pergi. Gun Wook sempat menatap Bo Nui yang tersenyum walaupun dalam hatinya terasa sakit. Soo Ho terus mengemudikan mobilnya dengan cepat, mobil mereka berdua saling berpapasan dengan berlawanan arah. Sesampai dirumah, Soo Ho bisa membuka pintu yang terkunci, melihat ruangan sudah kosong dan Bo Nui sudah pergi. 

Soo Ho pergi ke rumah sakit melihat tempat tidur Bo Ra sudah kosong. Perawat Lee datang membawa selimut dan batal baru. Soo Ho langsung bertanya keberadaan Bo Ra sekarang.  Perawat Lee mengatakan tak tahu. Soo Ho dengan wajah melas bertanya keberaan Bo Nui. Perawat Lee menceritakan pagi-pagi sekali Bo Nui sudah dating Lalu tergesa-gesa mengurus kepulangan Bo Ra.

Flash Back
Bo Nui mengucapkan terimakasih pada perawat Lee untuk semua selama ini dan pasti akan merindukannya. Perawat Lee merasa akan merindukan juga, Bo Nui serta Bo Ra. Bo Nui pun meminta tolong pada perawat Lee.
Orang yang selalu datang denganku, Kau ingat, kan?” ucap Bo Nui
Tentu saja! Dia menulis catatan, juga memfoto, iya kan?” kata Perawat Lee, Bo Nui mengangguk
Tolong rahasiakan kepergian kami dari orang itu.” Pintu Bo Nui, perawat Lee binggung bertanya kenapa, apakah terjadi sesuatu.
Ada alasan tertentu. Kau jangan beritahu dia, aku akan dalam masalah kalau Anda beritahu. Dia mungkin akan datang mencariku dan tak tahu caranya menyerah. Karena itulah, aku mohon bantuan mu” ucap Bo Nui
Soo Ho yang mendengar ceritanya langsung berlari keluar, Bo Nui hanya bisa melonggo.   


Soo Ho berjalan di lorong teringat sebelum bertemu, Bo Nui menangis menelp kalau ingin bertemu dan merindukanya, meminta agar semuanya itu tidak benar, semua akan baik-baik saja. Dengan mata mendelik pergi meninggalkan rumah sakit.
Beberapa saat kemudian Soo Ho sudah ada di tempat peramal, Tuan Go melihat Soo Ho yang datang menyuruh untuk duduk.  Soo Ho menyebut nama Shim Bo Nui, pasti mengenalnya, lalu bertanya apa sebenarnya yan dikatakan pada wanita itu.
Rasa-rasanya aku harus tahu apa yang kau katakan, untuk mematahkan kutukannya. Karena simpulnya diikat di sini, dan harus diuraikan di sini.” Ucap Soo Ho
Rahasia besar tak seharusnya dibocorkan, aku katakan apa yang kulihat, Yang kudengar, Apapun tindakan mereka setelah mendengar perkataanku, tergantung pada orang itu sendiri.” Ucap Tuan Goo

Anda bisa lihat apa? Anda bisa dengar apa? Apa... aku mati kalau aku bersamanya? Jadi Itukah takdirku? Siapa yang menentukan?” kata Soo Ho dengan nada sinis
Aku juga merasa bersalah dan kasihan padanya. Aku tak bisa mengabaikannya. Itu karma-ku.” Ucap Tuan Goo
Aku tak pernah berdoa dia tertimpa kemalangan. Aku berharap dia hidup. Kalau Anda ingin dia hidup, harusnya beri dia kesempatan untuk hidup! Andalah aura jahatnya, Andalah masalahnya, kutukannya-itu yang Anda katakan padanya. Anda berdoa dia hidup? Jangan mempengaruhi hatinya yang lemah dengan mengatakan ini adalah takdir. Karena Anda yang asal bicara hidupnya terancam. Wanita itu... segalanya bagiku.” Teriak Soo Ho lalu beranjak pergi. Tuan Goo hanya diam. 


Soo Ho pulang ke rumah sakit melihat di balik bantal, selembar kertas jimatnya. Ia bisa membayangkan saat Bo Nui menuliskan jimat itu dan menyelipkan dibawah bantal.
bersambung ke part 2 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar