Sabtu, 16 Juli 2016

Sinopsis Lucky Romance Episode 16 Part 1

Soo Ho datang kembali ke kantornya dengan senyuman lalu melihat bungkus hadiah dalam tasnya  dan keluar dari kantor. Bo Nui juga berlar ke suatu tempat dengan bahagia.
Aku rindu pada kalian.” Ucap Bo Nu mengungkapkan perasaanya dengan bahagia.
Kita hanya libur satu minggu, tapi aku tidak sabar menunggu kelas kita dimulai lagi. Bagaimana kabar kalian?” kata Bo Nui berjalan masuk ke kelas untuk para manula. Semuanya menjawab baik.
Aku rindu pada guru kita yang cantik.” Kata Nenek yang duduk dibelakang meja, Bo Nu juga mengaku sangat merindukan mereka semuanya.
Aku juga rindu pada kalian. Hari ini, kalian akan belajar  bagaimana melalukan panggilan video... dan bagaimana menggunakan layanan messenger.” Kata Bo Nui, semua pun terlihat bersemangat. 

Nyonya Yang sudah mempersiapkan makanan di tempat peristirahatan pinggir danau. Tuan Je datang bertanya apakah Nyonya Yang menelpnya lagi, padahal sudah bilang untuk berhenti  mengganggunya saat sedang sibuk. Nyonya Yang mengatakan tidak meneleponnya.
Aku menyiapkan tempatnya siapa tahu dia datang. Kalau begitu kenapa kau selalu menelepon Yeong Il? Apa dia mata-mata? Kenapa kau bertanya padanya tentang putramu?. ” keluh Nyonya Yang
 “Apa aku tidak boleh khawatir?” balas Tuan Je
Nyonya Yang tersenyum lalu memberikan topi ulang tahun, Tuan Je menyuruh untuk membuangnya saja. Nyonya Yang memohon agar memakainya satu kali saja. Tuan Je menegaskan kalau itu tak mungkn. Terdengar suara kalau meminta agar memakainya. Nyonya Yang melonggo lalu menjerit tak percaya anaknya datang, Soo Ho terlihat canggung melihat ayah dan ibunya sambil mendekat hadiah. 

Tuan Je memakai topi dan meniup lilinnya. Nyonya Yang dan Soo Ho bertepuk tanganya. Nyonya Yang mengaku tidak bisa meminta apapun lagi, bertanya-tanya Kapan terakhir kali mereka berkumpul untuk acara ulang tahun, mungkin sudah 18 tahun atau 20 tahun.
Soo Ho menjawab Sudah 21 tahun. Nyonya Yang mengajaka agar bisa merayakan ulang tahun bersama tiap tahun mulai sekarang. Tuan Je terlihat penuh semangat melihat anaknya yang datang lalu mengajak mereka mulai makan.
Akan bagus kalau dia ada di sini bersama kita. Aku penasaran bagaimana kabar gadis imut dan rapuh itu. Bagaimana dia bisa tidak menelepon kita sekalipun?” ucap Nyonya Yang khawatir dan juga kesal
Soo Ho, aku tidak pergi ke peramal lagii dan Aku jadi kesal memikirkan hal itu. Dia menyebut gadis cantik itu rakun. Aku tidak bisa percaya padanya lagi dan tidak percaya pada apa yang dia katakan.” Ucap Nyonya Yang, Soo Ho terlihat senang mendengarnya. 

Sul Hee memberikan hadiah pada sekotak hadiah pada Min Jae, terlihat Min Jae sibuk dengan ponselnya. Sul Hee memberitahu ibu Min Jae kalau anaknya memenangkan pertandingan junior dan melakukan debut di televisi, bahkan semuanya terjadi sekaligus.
Aku tidak yakin apakah aku harus menerima hadiah darimu.” Kata Ibu Min Jae
Kau pasti akan lebih sibuk mulai sekarang. Dia akan menjadi sangat sukses sampai  kau tidak bisa mengatasinya sendirian. Sekarang waktunya kau harus mempekerjakan seorang profesional. Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya padaku?” kata Sul Hee mencoba menyakinkan.
“Perusahaan lain lebih besar.” Akui Ibu Min Jae, Sul Hee mengaku  membuatnya sedih, karena sudah bilang sebelumnya, bahwa ia jauh lebih baik daripada perusahaan besar lainnya.
Kalau kau bisa bicara pada Gary Choi selama lima menit, Maka kau akan menyadarinya.” Ucap Sul Hee mencoba menyakinkan.

Kau bohong, kan?” kata Min Jae dengan terus memegang ponselnya tak percaya, Sul Hee meminta apa yang dikatakan Min Jae barusan. Min Jae tak percaya Sul Hee itu menjadi agen Gary Choi.
Sudah berapa kali aku bilang padamu? Aku bertemu dengannya saat dia  bermuka tebal seperti kau sekarang. Kami berhasil ke puncak bersama.” Kata Sul Hee berusaha menyakinkan
Kalau begitu kenapa kau tidak bekerja dengannya lagi? Aku baca di internet IM Sports memecatmu.” Ucap Min Jae.Sul Hee berteriak lalu kembali lembut mengaku bukan di pecat.
Pertama-tama Min Jae harus belajar bagaimana diwawancara. Min Jae, kalau kau bicara kasar seperti itu, wartawan tidak akan menyukaimu. Kau apa tahu itu?” ucap Sul Hee menasehati
Min Jae seperti masih meremehkanya, tiba-tiba terdengar suara orang yang memanggil nama Amy. Sul Hee melonggo melihat Gun Wook yang datang memanggilnya. Min Jae dan ibunya juga tak percaya ternyata Gary Choi pemain tenis handal bisa kenal dengan Amy. Gun Wook memberikan senyuman pada mantan agennya. 


Keduanya berjalan diluar, Sul He heran Gun Wok yang bisa mengejutkannya seperti ini. Gun Wook mengaku sangat menyenangkan.  Memberitau sedang ada syuting di sini dan Sul Hee ada rapat ditempat yang sama. Sul Hee merasa kalau memang waktunya sempurna.
“Jadi Untuk apa kau di sini hari ini?  Apa ada wawancara?” tanya Sul Hee, Gun Wook mengangguk.
Kau sekarang seperti profesional yang komplit. Setahun yang lalu, kau malu... melakukan rekaman adegan.” Komentar Sul Hee mengejek, Gun Wook meminta agar tak mengungkitnya lagi.
Saat aku memikirkan tentang apa yang aku lakukan dengan tuan Je...” kata Gun Wook terlihat malu.
Kenapa? Kalian berdua kelihatan hebat bersama. Ada daya tarik aneh antara kalian berdua.” Komentar Sul Hee melihat keduanya yang terlihat serasi. Gun Wook pun menanyakan dengan pekerjaan Sul Hee sekarang.
“Bekerja sendiri...benar-benar membunuhku. Aku tidak punya gelar atau uangBenar-benar sulit menemukan atlet yang percaya padaku.” Ucap Sul Hee tak percaya ternyata susah
“Semuanya akan berjalan lancar. Siapapun dia, atlet yang bekerja denganmu sangat beruntung.” Kata Gun Wook yakin
“Hei. Jangan lakukan itu. Aku mungkin benar-benar menangis. Aku bisa menangis kalau ada yang mengatakan sesuatu yang menyentuh.” Kata Sul Hee menahan rasa harunya.
Gun Wook memuji wajah Sul Hee yang terlihat cantik dan berseri-seri. Sul Hee melihat Gun Wook juga seperti itu dengan mengejek Bagaimana Gun Wook bisa sangat sukses tanpa dirinya bahkan sampai menang Wimbledon, dan menjadi model sampul "Time", tak pula mengucapkan Selamat dan sangat bangga pada atletnya.
“Kenapa kau seperti ini? Kita sudah bicara tentang ini di telepon.” Keluh Gun Wook
“Oh, iya… Kau bertemu dengan seseorang, kan? Apa yang kau bicarakan? Aku tidak pernah bisa menghubungimu dan Ponselmu selalu sibuk.” Kata Sul Hee kesal
“Waktunya habis. Aku harus masuk.” Kata Gun Wook melihat jam tanganya Sul Hee mengeluh Gun Wook yang tiba-tiba mengubah pembicaraan.
“Bagaimanapun, tunggu aku. Mari kita ke Zeze Factory bersama. Kau tahu hari ini hari perilisan IF, kan?” kata Gun Wook,
Sul Hee menyuruh Gun Wook pergi saja sendiri karena ia tidak kerja di IM Sports lagi,  dan bukan agennya  lagi. Gun Wook pikir tak perlu seperti itu karena Sul Hee sudah ada dari awal.  Sul Hee memberitahu ada rapat dengan perenang yang menjanjikan dan atletnya itu akan memberikan medali emas di olimpiade mendatang lalu pamit pergi dengan berharpa Semoga berhasil dengan wawancaranya, sambil berjalan mundur dengan gayanya memberikan semangat “cheer up” 


Tuan Won pergi ke meja Soo Ho memberitahu  sudah menyusun daftar perusahaan game baru. Soo Ho yang sibuk meminta agar mengirimkan berkasnya sekarang. Tuan Won memberikan list daftar Game Baru diatas meja. Soo Ho tak percaya melihatnya dan bertanya apakah Tuan Won yang menulis semuanya dengan tangan.
“Aku menulis setiap kata dengan cinta. Dengan tepat!” kata Tuan Won bangga, Soo Ho berkomentar kalau Ini luar biasa. Tuan Won makin bangga
“Ini luar biasa sia-sia… Seperti yang kau tahu,ini Daebak Soft. Kau tidak bisa jadi sukses dengan ini.” Jelas Soo Ho memarahinya.

Tuan Won pikir mengerti lalu akan kembali ke tempat duduknya, Soo Ho ingin bicara lagi, Tuan Won kembali mendekat. Soo Ho menyuruh Tuan Won harus mendaftar ke kelas komputer dan harus mulai belajar cara  menggunakan alat, serta akan membayar kursusnya. Tuan Ahn memberitahu Tuan Aon sudah belajar dengan sangat keras darinya.
“Dia mengalami peningkatan, jadi jangan khawatir.” Ucap Tuan Ahn
“Jadi kau bilang Dia mengalami peningkatan, dan dia menulis ini semua.” Kata Soo Ho tak percaya
Ryang Ha datang menyapa semuanya, dengan wajah bahagia memberitahu kalau sudah setahu dan akhirnya IF dirilis juga. Soo Ho tersenyum bahagia lalu mengajak Ryang Ha untuk pergi. Tiba-tiba Tuan Won bergegas memaka jasnya.
“Aku... sudah memikirkan hal ini. Tapi seperti yang kau tahu,IF awalnya didesain di sini. Tidak peduli berapa kali aku memikirkannya,  jadi aku harus berada di sana.”kata Tuan Won sudah siap pergi. Ryang Ha binggung dengan tingkah Tuan Won. Tuan Ahn mencoba menegurnya.
“Itu yang aku pikirkan,tapi mungkin aku seharusnya tidak ke sana.” Kata Tuan Won bisa mengerti lalu melepaskan jasnya, Soo Ho dan Ryang Ha yang tadinya melonggo pun bisa bernafas lega. 

Ryang Ha menyetir mobil bertanya apakah Soo Ho sudah  merencanakan game baru. Soo Ho menjawab Belum. Ryang Ha menjerit apa sebenarnya yang dilakukan Soo Ho sekarang karena waktu terus berjalan, dan  investor sangat gelisah.
“Mendengar kau merilis game baru setelah setahun, semua orang terus meneleponku.  Mereka bersemangat melihatnya.” Kata Ryang Ha, Soo Ho tak percaya sambil tersenyum penuh arti.
“Kau pasti punya sesuatu dalam pikiranmu.Pemegang saham terbesar Daebak Soft benar-benar bersemangat.” Kata Ryang Ha
“Tidak ada saham untuk itu.  Bagaimana kau jadi pemegang saham?” keluh Soo Ho 
“Saat kau mulai pertama kali, aku...” kata Ryang Ha langsung disela oleh Soo Ho
“Apa? Apa?Apa ini tentang bagaimana kau  membayar sewa untuk dua bulan? Itu tidak banyak. Aku sudah membayarmu kembali.” Kata Soo Ho membela diri

Ryang Ha mengingat sudah membayar, Soo Ho tahu temanya pasti akan membahas Tagihan listrik, sambil mengomel karena Ryang Ha bahkan tidak membiarkan menghidupkan AC. Ryang Ha ingin bicara tapi Soo Ho sudah tahu pasti akan membicarakan tentang tuan Won,  dengan nada kesal memberitahu Jjajangmyeon dan tangsuyuk tidak mahal. Ryang Ha mengeluh Soo Ho itu bisa membaca pikirannya.
“Bagaimanapun, sekali pemegang saham utama,  tetap pemegang saham utama. Kalau Daebak Soft go public, aku akan membeli semua sahamnya. Jadi kesepakatan ini sangat penting.Kau harus melakukan dengan baik. Oke?” ucap Ryang Ha, Soo Ho hanya tersenyum. Ryang Ha meminta temanya menjawabnya dengan mengoyangkan mobilnya. 


Dae Kwon dan Yoon Bal terlihat sedang nyaman duduk dikursi pijat. Dae Kwon bertanya Berapa jam mereka terjaga, Yoon Bal menjawa Sudah 73 jam 30 menit. Dae Kwon mengaku sudah sekarat dan harus melihat anak terkecilnya bisa berjalan sebelum mati.
“Berhenti bicara omong kosong IF akan dirilis hari ini, dan Presdir akan kembali. Ini Bagus, kan?” ucap Yoon Bal yakin
“Aku pikirakan sakit syaraf. Pemeriksaan akhir,Pemeriksaan akhir. Pemeriksaan akhir 1.1. Pemeriksaan akhir 1.2. Pemeriksaan akhir 2. Pemeriksaan akhir... Kenapa ada banyak pemeriksaan akhir?  Aku ini "AlphaGo" atau apa?” keluh Dae Kwon merasa seperti dirinya itu robot
“Tapi berkat dirimu, kita merilis IF dengan sukses. Bagus, kan?” kata Yoon Bal
Seung Hyun datang menyuruh keduanya berdiri, keduanya menolalk tidak pergi dan meminta agar menunggu sebentar. Seung Hyun memberitahu bahwa Presdir sudah datang. Keduanya tak percaya dan langsung berdiri dari tempat duduk pijat lalu belari untuk menyambutnya. 

Soo Ho didorong masuk ke Zeze dengan Ryang Ha, Hyun Bin pun menariknya, tapi Soo Ho terlihat malu-malu. Ryang Ha menjerit mengucapkan selamat atas peluncuran kembali IF dan Pencipta IF, Je Soo Ho akan memberi pidato ucapan selamat. Hyun Bin memberikan pulpen sebagai micnya.
Yoon Bal mulai menyanyi dengan lantang “cause I’m lady…” Soo Ho berpura-pura seperti mengecilkan volume suaranya seperti radio, lalu memberitahu datang hanya untuk mengucapkan selamat dan meminta agar semua bertepuk tangan. Dal Nim yang membawa cake meminta agar cepat meniup lilin sebelum mencair.
“Seperti biasanya Zeze Factory. Kalian melakukan kerja yang hebat.” Ucap Soo Ho, Ryang Ha pun mengajak mereka bersama-sama untuk meniup dalam hitungan ketiga, semua pun meniup bersama-sama.

“Presdir, kau akan kembali, kan?” ucap Yoon Bal
“Tentu. Dia alasan kita terjaga sepanjang malam.” Kata Hyun Bin, semua pun mengelu-elukan Soo Ho untuk kembali lagi ke Zeze. Soo Ho hanya bisa tersipu malu.
“Ngomong-ngomong,aku juga mau bertemu dengan pencipta IF. Bagaimana kabar Bo Nui?” Ucap Yoon Bal, Dae Kwon langsung menyenggolnya, Yoon Bal binggung ada apa sebenarnya. Seperti semuanya tahu kalau keduanya itu sudah putus.
“Semuanya. Aku bekerja untuk... Daebak Soft sekarang.Aku akan bekerja keras sampai itu akan menjadi ancaman... bagi Zeze Factory suatu hari.” Kata Soo Ho
“Oke. Aku menunggu hal itu terjadi.” Ucap Hyun Bin
“Aku harap itu akan berkembang, Presdir” kata Yoon Bal, semua pun setuju, Soo Ho tersenyum bahagia karena semua bisa menerima perkatanya. Semua pun mengajak mereka segera makan untuk mengambil pisau. 

Bo Nui pulang ke tempat adiknya, melihat sebuah note yang tertempel di jemuran (Unni, aku pergi ke Seoul. Jangan mengkhawatirkanku!) wajah Bo Nui mulai panik.
Soo Ho baru keluar dari Zeze melihat sosok wanita yang terlihat kesusahan menaiki trotoar dengan kursi rodanya. Bo Ra menghela nafas panjang karena tak bisa menaiki trotoar. Soo Ho melihat dengan jelas wajah orang yang selama ini hanya terbaring sudah bisa duduk dikursi roda.
“Ahjussi, bisakah kau membantuku?” ucap Bo Ra, Soo Ho binggung tak berpikir Bo Ra mengajaknya bicara lalu menengok kesana kemari melihat tak ada orang selain dirinya.
“Aku minta tolong membantuku. Maafkan aku, tapi aku tidak bisa naik ke sana. Bisakah kau mendorongku dari belakang?” kata Bo Ra, Soo Ho berjalan mendekat dengan tatapan tak percaya bisa melihat Bo Ra.
“Apa ini pertama kalinya kau melihat seseorang di kursi roda? Ayo Cepatlah. Aku harus pergi.” Kata Bo Ra, Soo Ho pun akhirnya membantu Bo Ra mendorong kursi roda untuk naik ke trotoar.
Bo Ra pun mengucapkan terimakasih, Soo Ho bertanya apakah Bo Ra sendirian saja. Bo Ra binggung pria yang baru ditemui seperti sudah mengenalnya. Soo Ho bertanya apakah Bo Ra tidak bersama keluarga atau temannya. Bo Ra menegaskan dirinya bukan anak-anak jadi naik bus dan taksi sendirian untuk sampai ke sini. Soo Ho tersenyum bahagia mendengarnya dan berkomentar itu mengesankan.
“Ngomong-ngomong ahjussi,  Apa kau tahu dimana Zeze Factory? Aku dengar ada di sekitar sini.” Ucap Bo Ra, Soo Ho bertanya Kenapa Bo Ra pergi ke sana
“Aku harus bertemu seseorang di sana.” Kata Bo Ra, Soo Ho mengatakan sudah dekat dan akan mengantarnya sambil mendorong kursi rodanya. Bo Ra pun mengucapkan terimakasih.

Bo Ra menatap Soo Ho yang mendorongnya lalu ingin bertanya, tapi memutuskan untuk melupakanya saja. Ia merasa mereka itu belum pernah bertemu tapi entah kenapa suaranya kedengaran akrab, lalu menduga Soo Ho itu adalah aktor pengisi suara. Soo Ho hanya bisa tersenyum.
“Apa kau aktor pengisi suara?” tanya Bo Ra
“Aku sering mendengarnya.” Kata Soo Ho dengan senyuman 


Bo Nui masih panik saat menerima telp Dal Nim,  memberitahu kebingungan apa yang harus dilakukan karena Bo Ra menghilang dan bertanya-tanya kemana sebenarnya adiknya itu.  Dal Nim memanggil temanya, tapi Bo Nui meminta maaf karena akan menelepon lagi nanti. Dal Nim memberitahu kalau Bo Ra ada ditempatnya. Bo Nui kaget.
“Adikmu, Shim Bo Ra di Zeze Factory sekarang.” Kata Dal Nim
Bo Ra terlihat terpana melihat papan tulis touch screen dengan menuliskan Shim Bo Nui. Dal Nim datang menghampiri adik temanya, mengatakan seharusnya menelepon sebelumnya. Bo Ra yakin Dal Nim pasti sudah bilang pada Bo Nui.
“Kau seharusnya datang dengan Bo Nui. Ini berbahaya datang sendirian.” Kata Dal Nim ikut khawatir
“Ini pekerjaan khususku.” Ucap Bo Ra, Dal Nim penasaran apa itu.
“Unni. Tolong Telepon tuan Je Soo Ho untukku.” Kata Bo Ra, Dal Nim binggung.

Bo Ra mengatakan Presdir Zeze,  lalu mengubahanya yang dimaksud adalah mantan Presdir karena berpikir kaalu datang pasti ada Soo Ho setiap hari di kantor. Dal Nim memberitahu Soo Ho baru saja datang tapi sudah pergi lagi. Dal Nim pun mengeluh kesal karena ternyata sudah datang terlambat jadi tak bisa bertemu denganya.
“Lalu untuk apa kau bertemu dengannya? Apa Bo Nui bilang sesuatu?” tanya Dal Nim
“Tidak, masalahnya dia tidak bilang apa-apa. Unni memberitahuku semuanya. Dia bilang padaku tentang bekerja di toko serba ada... dan makan siang apa tiap hari. Tapi dia tidak bilang apapun tentang Zeze Factory atau tuan Je Soo Ho.” Cerita Bo Ra
“Ada hal-hal yang tidak bisa kau bicarakan... karena itu menyakitkan bahkan hanya untuk dipikirkan.” Komentar Dal Nim
“Makanya aku bisa katakan kalau dia menyembunyikan sesuatu. Aku mau bertemu dengannya dan mencari tahu apa itu.” Kata Bo Ra dengan wajah sedih, Dal Nim pun ikut sedih mendengarnya. 


Di luar ruangan
Gun Wook memberikan hadiah pada semua tim, Dae Kwon pikir  mereka yang seharusnya memberinya hadiah. Gun Wook merasa mereka yang sudah bekerja keras dan  membuat hidupnya lebih baik dari yang sebenarnya. Ji Hoon berkomentar kalau Modelnya sangat menakjubkan.
“Aku menonton pertandingan Wimbledon. Itu yang terbaik.” Komentar Ji Hoon memberikan jempolnya.
“Kita harus bersama menontonnya. Aku pikir kau akan kalah saat pertandingan keempat. Jantungku berdetak kencang.” Kata Yoon Bal
“Aku hampir kena serangan jantung, Aku tidak bercanda.” Jerit Hyun Bin
“Terima kasih… Aku bisa menang berkat dorongan kalian.” Kata Gun Wook

“Orang-orang menjadi gila... saat kamera menemukan ayahmu di kursi penonton.” Ucap Seung Hyun
“Aku sedikit menangis. Saat kita mengembangkan game, aku melihat hal-hal dari sudut pandangmu Ini membuatku sangat berempati padamu. Hanya melihat ayahmu membuatku menangis.” Kata Hyun Bin kembali ingin menangis
Yoon Bal berkomentar Hyun Bin itu berlebihan. Ji Hoon menyuruh Hyun Bin itu harus bercermin menurutnya itu akan menghilangkan air mata. Seung Hyun membela Hyun Bin karena Ji Hong mengganggunya, menurutnya pria yang ada disampingnya itu baik dan memiliki hati yang lembut. Hyun Bin mengedipkan matanya, Seung Hyun membalas ditambah dengan ciuman jauh.
Gun Wook bertanya apakah Soo Ho datang juga, Yoon Bal pikir Gun Wook sudah terlambat,  karena sudah tahu Soo Ho itu seperti angin. Ji Hoon pikir padahal mereka bisa mengambil foto mereka  berdua kalau Gun Wook datang lebih awal. Yoon Bal pikir itu pasti bagus. Gun Wook merasakn ponselnya bergetar lalu mengangkat telp dari Bo Ra. Terdengar suara Bo Ra yang manja ingin menebak keberadanya sekarang. 


Gun Wook masuk ruang rapat, Dal Ni menyambutnya. Gun Wook bertanya apa yang sedang dilakukan Bo Ra di Zeze.  Dal Nim melihat Bo Ra yang sedang asik bermain memberitahu kalau Bo Ra datang untuk berkunjung dan Bo Nui akan segera datang.
“Apa kau bisa menemaninya? Aku ada pertemuan dengan para wartawan.” Kata Dal Nim. Gun Wook pun setuju dan mempersilahkan Dal Nim untuk pergi, lalu menatap Bo Ra yang sedang asik bermain games dengan kacamatanya.

Bo Ra baru selesai main berkomentar gamesnya sangat menakjubkan karena seperti nyata dan benar-benar merasa ada di pesawat serta  di atas lautan, tak percaya kalau kakaknya Shim Bo Nui yang membuatnya, Gun Wook membenarkan.
“Dia membuat ini, karena memikirkanmu.” Kata Gun Wook
“Oppa yang jadi modelnya. Tapi kenapa dia memikirkanku?” ucap Bo Ra binggung
“Dia ingin menunjukkan padamu hal-hal indah dalam kehidupan. Aku tidak ingin menjadi model tapi berubah pikiran setelah mendengarnya. Jadi, bersikap baiklah pada kakakmu.” Kata Gun Wook
“Oppa, karena aku sudah bertemu denganmu...apa aku bisa mendapatkan tanda tanganmu? Teman-temanku tidak percaya kalau aku  dekat denganmu. Bisakah aku mendapatkan 10 tanda tangan?” kata Bo Ra, Gun Wook tersenyum bertanya apakah 10 saja sudah cukup. Bo Ra mengangguk.
“Kau terlihat lebih tampan dari sebelumnya, Bahkan tanda tanganmu terlihat keren.” Komentar Bo Ra dengan menopang wajah mengunakan kedua dagunya. 

Soo Ho terlihat gelisah menunggu di pinggir jalan, sebuah taski berhenti dan Bo Nui turun dari mobil bergegas berjalan dengan ponselnya. Soo Ho terdiam melihat Bo Nui yang nampak terlihat sehat dan tak kekurangan satu apapun, setelah itu tersenyum dan berjalan pergi.
Diruangan, Gun Wook dan Bo Ra sedang selfie bersama. Bo Ra masuk dengan wajah marah, Bo Ra panik berpikir Gun Wook yang menelp kakaknya. Gun Wook pikir Bo Ra yang sudah menelpnya.   Bo Nui bertanya Kenapa adiknya  tidak mengangkat telepon karena membuatnya khawatir. Bo Ra meminta maaf pada kakaknya.
“Seharusnya kau memberitahukanku sebelumnya. Apa Kau tidak apa-apa?” ucap Bo Nui khawatir
“Dia selamat sampai di Seoul dan aku di sini menemaninya.” Ucap Gun Wook mencoba agar Bo Nui tenang tapi akhirnya tertunduk ketakutan.
“Unni, aku dengar kau yang membuat games ini.Aku tidak tahu karena kau tidak memberitahukan padaku. Apa benar kau membuatnya karena aku?” kata Bo Ra, Bo Nui membenarkan.
“Ini luar biasa dan seperti mimpi. Mimpi yang sangat indah. Terima kasih, Unni. Aku mencintaimu.” Kata Bo Ra sambil memberikan bentuk cintanya. 

Di atap
Bo Nui mengeluh adiknya itu hampir saja membuatnya gila, Masa pubernya pasti terlambat jadi pasti terus menghubungi Gun Wook setiap hari. Gun Wook pikir tak masalah karena Bicara dengannya di telepon tidak mengganggu.
“Aku bangga padanya karena Dia sudah bertahan hidup.” Kata Gun Wook
“Aku tidak tahu kalau hari seperti ini akan datang. Senang rasanya. Lalu Bagaimana kabar ayahmu? Apa dia baik-baik saja?” ucap Bo Nui
“Ya, dia mengucapkan terima kasih karena noona... sudah mengirimkan  makanan dan pakaian.” Kata Gun Wook, Bo Nui mengatakan harus bertemu dengannya

“Kita akan makan malam bersama nanti  dengan ayah dan Bo Ra. Aku minta kau untuk datang ke pertandinganku. Dan Kau sudah menyia-nyiakan tiket yang sudah aku kirimkan.” Ucap Gun Wook kesal
“Aku yakin, suatu hari nanti akan ada kesempatan.” Kata Bo Nui
Gun Wook tahu Bo Nui itu sudah lama tidak ke gedung itu, Bo Nui pikir benar Semuanya terlihat sama. Gun Wook bertanya apakah Bo Nui ingin tinggal di sana selamanya, karena merasa Bo Ra sudah mulai bosan di sana, dan lebih baik Bo Nui bekerja dan pindah ke Seoul. Bo Nui pikir Mungkin suatu hari nanti akan pindah karena mereka tidak pernah tahu, yang akan terjadi  di masa yang akan datang.


Dal Nim mengeluh berpikir Bo Nui yang akan pergi sebelum bertemu denganya, Bo Nui mengejek temanya bisa bicara seperti itu karena sengaja ingin meminta undangan pernikahan. Dal Nim tersenyum karena temanya itu tidak pernah mengecewakannya lalu mengeluarkan amplop undanganya. Bo Nui mengeluarkan undangan dan melihat itu sangat cantik.
“Aku sangat bahagia untukmu.” Kata Bo Nui, Dal Nim mengucapkan terimakasih, menurutnya Semua ini berkat Bo Nui juga dengan wajah malu-malu.
“Karena cintamu membuat semuanya  berjalan lancar, maka Kau akan menikah dengan cinta pertamamu yang sudah dua tahun.” Kata Bo Nui
Dal Nim binggung Cinta pertama apa maksudnya, lalu mengaku itu tak benar.  Bo Nui pikir Dal Nim tidak perlu menyembunyikannya. Dal Nim menegaskan kalau mengatakan yang sebenarnya. Bo Nui bertanya apakah Dal Nim itu menyukai orang lain dan ingin tahu siapa orangnya. Dal Nim melonggo, Bo Nui tak ingin mebahasnya karena sudah tidak peduli dengan itu karena menurutnya Orang yang membuatnya bahagia saat ini,  itulah yang terbaik dan berharap temanya bahagia selamanya. Dal Nim mengucapkan Terima kasih dan temanya harus datang ke pernikahannya dan tak akan mulai kalau Bo Nui tak datang. Bo Nui hanya terdiam.
“Apa kau takut akan bertemu dengannya?” tanya Dal Nim, Bo Nui hanya terdiam,
“Dengar, Bo Nui. Kau tidak bisa mengindarinya selamanya. Orang yang seharusnya dipersatukan  cepat atau lambat akan bertemu.” Kata Dal Nim
“Aku akan datang.” Ucap Bo Nui, Dal Nim tak percaya Bo Nui akan memutuskan datang meminta agar temanya berjanji. 

Daebak Soft
Soo Ho duduk diruangan dengan senyuman bahagia, mengingat bisa melihat Bo Nui. Lalu melihat mengambil salah satu buku dan mencari sesuatu, menemukan sebuah foto yang terselip didalamnya, Kenangan dengan Bo Nui, dan Bo Ra saat ada dirumah sakit masih disimpan olehnya.
“Dia bisa berjalan dan berlari kapanpun. Kau hebat, Bo Nui.” Ucap Soo Ho bangga.

Bo Ra memberikan sebuah amplop untuk kakaknya, Bo Nui binggung apa itu. Bo Ra  ingin kakaknya melihatnya sendiri, Bo Nui melihat isinya. Bo Nui  mengatakan melihatnya saat pergi ke Zeze Factory, jadi mengambilnya Lalu meminta kakaknya untuk ikut kompetisi itu. Bo Nui pikir tak perlu.
“Aku tahu, setiap malam kau  membuat sebuah game. Jujur saja, memainkan game IF membuatku sadar.. kalau kau yang terbaik. Aku yakin kau akan menang.” Ucap Bo Ra memuji kakaknya dengan dua jempol
“Bo Ra, bicaramu sangat manis.” Ejek Bo Nui,
Bo Ra menegaskan perkatanya itu serius, Bo Nui pikir tak perlu dibicarakan lagi dan melupakanya lalu mengajak adiknya masuk. 

Bo Ra melirik kakaknya sudah masuk lebih dulu lalu diam-diam menelp Dal Nim, memberitahu sudah memberikan Tapi aku tidak tahu apa kakaknya mau mendaftar atau tidak. Dal Nim pikir itu sudah bagus.
“Pemenangnya akan mendapat hadiah  uang tunai 50.000 dolar. Pemenangnya pasti akan... terlepas dari masalah keuangan  dan mulai melihat hal lain. Aku berharap dia mendaftar.” Kata Dal Nim lalu buru-buru menutup telpnya.
Ryang Ha masuk ruangan dengan bergaya imut memanggil Dal Nim bertanya-tanya keberadaanya, lalu mengatakan pacarnya itu ada di dalam hatinya. Dal Nim mengoda kalau dirinya ada dalam dadanya, Ryang Ha mengeluh hatinya terasa panas dengan gaya imut.
“Kenapa kau datang ke sini?” tanya Dal Nim
“Aku datang karena merindukanmu. Aku selalu merindukanmu setiap kali  jauh darimu. Apa yang harus aku lakukan? .” Ucap Ryang Ha mengodanya.
“Baguslah. Apa kau sudah mengirimkan  undangan pernikahannya kepada Presdir ?” kata Bo Nui dengan memegang pipinya,

Ryang Ha mengatakan kalau belum lalu mengumpat kalau memang bodoh, Dal Nim memukul Ryang Ha tak boleh sepert itu karena menurutnya Presdir Je dan Bo Nui ditakdirkan untuk  bersatu kembali di pernikahan mereka.  Ryang Ha tak percaya Dal Nim merencanakan hal yang besar, lau mengeluh kenapa tidak merencanakan  masa depan mereka terlebih dulu.
Dal Nim merasa Ryang Ha itu tidak mengerti perasaan keduanya, kalau Mereka saling merindukan satu sama lain, tapi keduanya mencoba untuk  menahannya. Menurutnya Saat keduanya bertemu di pernikahan mereka makan cinta yang mereka miliki akan meledak. Ryang Ha kembali mengeluh kenapa harus Soo Ho dan Bo Nui karena seharusnya mereka yang menikah merasakan hal itu dan mereka akan menjadi 'pemeran pembantu'.
“Tapi semua orang harus merasa bahagia pada hari itu. Apa kau ingin sahabatku... dan sahabatmu... tidak bahagia?” ucap  Dal Nim merengek.
“Tentu tidak! Kenapa kau sangat perhatian sekali?  Ahh… Kau sangat cantik.” Kata Ryang Ha mulia mengoda, Dal Nim membalasnya kalau pacarnya juga sangat tampan.
Ryang Ha mengatakan memiliki jimat dan menaruh dileher Dal Nim seperti dasi,  yang artinya Dal Nim sduah menjadi milikinya, Dal Nim melihat sebuah note bertuliskan (Kau menjadi milikku seumur hidupmu) lalu menempelkan kembali kalau Ryang Ha juga miliknya. 


Sul Hee menemui Gun Wook di café berkomentar Kebiasan adalah hal yang menakutkan padahal Sudah setahun sejak berhenti  menjadi agenya dan datang begitu menghubunginya. Gun Wook bertanya apakah Sul Hee sudah tanda tangan kontrak  dengan si perenang hebat itu. Sul Hee mengatakan belum, memangnya kenapa Gun Wook bertanya. 
“Bagaimana dengan Min Jae, Si petenis cilik itu?” kata Gun Wook
“Kami masih negosiasi. Aku benar-benar sudah berubah dengan pilihanku. Aku ingin dia lebih mudah  mengekspresikan perasaannya. Anak itu dan ibunya selalu menyiksaku, serta Selalu memusingkanku” cerita Sul Hee penuh semangat.
“Ahh..Jadi masih tidak ada.” Komentar Gun Wook meremehkan
“Kau tunggu saja, Sebuah artikel akan segera keluar. "Amy Han Sport Manajemen  menampilkan atlet pertamanya"” kata Sul Hee yakin
Gun Wook menyuruh Sul Hee menuliskan namanya, yaitu Garu Work sebagai Atlet pertamanya adalah Gary Choi. Sul Hee kaget dengan keputuasn Gun Wook. 

“Aku tidak bersama IM sport lagi” ucap Gun Wook
“Kau memenangkan turnamen Wimbledon. Kondisimu baik dan kau ada di rangking pertama. Lalu Kenapa kau ingin meninggalkan IM sport?” kata Sul Hee tak percaya
“Karena kau tidak di sana. Tidak ada yang menggangguku, jadi aku merasa bosan. Bagaimana menurutmu? Apa kau mau....atau tidak?” ucap Gun Wook
“Tentu saja, aku mau... Tapi, Gary…. Aku tidak punya banyak uang untuk DP-nya. Bisakah aku membayarmu secara bulanan?” kata Sul Hee memohon
Gun Wook berpikir sejenak sambil melirik dan akhirnya menyetujuinya. Sul Hee menjerit bahagia dan langsung memeluk Gun Wook, Gun Wook cepat berdiri mengucapkan terimakasih pada Sul Hee juga, sambil mengulurkan tanganya. Sul Hee pun menyambut tangan Gun Wook dengan senyuman bahagia. 


Bo Nui berjalan pulang menerima telp, sesampai dirumah langsung menjerit bahagia dengan adiknya, Bo Ra sudah tahu pasti kakaknya bisa menang.  Bo Nui merasa bersyukur karena sudah berhasil di tahap pertama , Bo Ra mengeluh kalau kakaknya itu rendah hati sekali.
Entah kau berhasil atau tidak.Entah kau menang atau gagal.  Itu yang harus kau pikirkan. Lalu Apa game-nya?” ucap Bo Ra, Bo Nui terlihat binggung.
Game-nya. Kau sudah lama mempersiapkannya. Apa itu? Katakan padaku.” Kata Bo Ra penasaran
Tidak ada yang perlu dikatakan. Ini sederhana” ucap Bo Nui
Apa kau punya modelnya? Aku harap modelnya seseorang yang  setampan Gary lagi maka Aku akan memainkannya setiap hari.” Ucap Bo Ra
Bo Nui mengatakan Gamenya  bukan game seperti itu. Bo Ra penasaran bagaimana Game buatan kakaknya.  Bo Nui mengaku belum memutuskan bagian akhirnya dan akan mengatakan pada adiknya jika sudah memutuskannya.

Daebak Soft
Soo ho modar mandir diruangan, Tuan Ahn memberi kode agar Tuan Won  Bicara sesuatu dengan Soo Ho. Tuan Wo bertanya apa yang ingin. dilakukanya.  Soo Ho bertanya Apa yang sebenarnya diinginkan investor. Tuan Ahn menjawab mereka tidak suka bagian soal goa Dan menurutnya karakter utamanya  kurang simpatik. Singkatnya, mereka ingin mengubah semuanya,
“Jadi Kita lupakan saja dan Jangan lakukan, Kita akan melepaskan kesepakatan ini.” ucap Soo Ho, keduanya terlihat kaget.
Tidak bisa. Aku tidak setuju. Mereka bilang orang yang memiliki uang  yang mengatur. Kau butuh uang untuk bayar  uang sewa dan gaji kita. Kau butuh uang untuk banyak hal. Ayo kita coba berikan apa yang mereka inginkan. Dan  kita lakukan itu, Presdir Je” ucap Tuan Won menyakinkan.
Saat kita melakukannya, dia pasti mengatakan masalah lainnya. Saat kita melakukannya,  dia akan mengungkit masalah lain Mereka akan terus bilang ada masalah jika berhubungan dengan game.” Kata Soo Ho
Benar juga... Setiap orang melihat game dengan cara yang berbeda.” Ucap Tuan Ahn
Tuan Won memberikan kode, Tuan Ahn pikir tapi tanpa uang, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Soo Ho pikir Bagaimanapun juga, mereka harus membuatnya dengan desainnya sendiri.
bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

1 komentar:

  1. Yeayyy akhirnya udh di posting sinop nya😊😊
    Fighting

    BalasHapus