PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 09 Oktober 2020

Sinopsis Tale of the Nine Tailed Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 

Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

 

Ji A berjalan dengan petugas kemanana. Si petugas memastikan akalu Ji A yakin di Studio Tiga. Ji A yakin perlengkapannya tertinggal di sana, tapi sudah tidak ada. Mereka pun masuk ke sebuah ruangan. Dan si petugas mencari dengan senternya.

“Produser Nam. Inikah yang kau cari?” kata Si petugas . Ji A tiba-tiba melemparkan banyak koin. Si petugas bingung bertanya Apa itu tapi akhirnya berubah dengan mata dan wajah yang memerah.

Ji A kaget melihat perubahan manusia yang menjadi rubah.  Si rubah pn langsung memakan koin seperti sangat kelaparan. Saat itu Yeon datang. Keduanya pun saling adu kekuatan dan sangat dipastikan Lee Yeon yang menang. 


“Kapan kau dibebaskan dari penjara? Bukankah kau bilang akan meninggalkan dunia itu?” ucap Yeon mengancam dengan pedanganya

“Aku tidak bersalah.” Kata si Pria. Yeon mengerti kalau itu artinya ia yang jahat.

“Tolong biarkan aku hidup.” Kata Si pria memohon. Ji A hanya bisa menatap kebingungan dan hanya terdiam.

“Beri aku satu alasan harus melakukan itu.” Ucap Yeon. Si pria kebingungan. Yeon Pikir memang tak ada jadi lebih baik mati saja.

“Tunggu... Adikmu yang memberitahuku. Katanya aku bisa makan kenyang di sini.” Ucap Si pria. 


“Lee Rang si berandal itu?” keluh Yeon kesal. Ji A pun bertanya Apa itu. Yeon menjawab Bulgasari, Hewan legendarisyang muncul saat dunia kacau

“Bulgasari? Apa Makhluk yang hidup dari mimpi buruk orang dalam legenda?” tanya Ji A

“Ya. Mereka suka tempat yang banyak orang seperti stasiun penyiaran. Mereka menunjukkan wujud asli saat diberi logam.” Ucap Yeon. Si petugas pun kembali menyerang Yeon dan akhirnya menyandera Ji A. 


“Baiklah. Aku punya pertanyaan untukmu.” Ucap Yeon. Si petugas memperingatkan agar Jangan mendekat.

“Aku tidak bicara denganmu... Hei, sandera. Jawab aku. Saat ini, apa yang bisa kau lakukan selain menggangguku?” ucap Yeon. Ji A mencoba menjawab kalau bisa...

“Kau tidak bisa melakukan apa pun.” Ucap Yeon dan akhirnya berhasil melumpahkan si rubah jahat dan menyelamatkan Ji A.

“Kembalilah ke dunia tempatmu seharusnya. Manusia yang terbiasa dengan kegelapan menjadi manusia yang bukan manusia atau semacamnya.” Ucap Yeon.

“Hei. Bangun. Aku tahu kau belum mati.” Kata Yeon menendang rumah lalu berjalan pergi. 


[Pesisir Laut Kuning, Titik Jangsan]

Para nelayan siap menarik jaring dan memisahkan ikan dari rumput laut. Salah seorang pria duduk sambil makan rumput laut mentah karena   merasa lapar. Nelayan lain berkomentar temanya  bahkan tidak berbuat banyak tapi sering sekali lapar?

“Ini sudah lewat jam makan siang. Aku mabuk laut saat perutku kosong.” Keluh si pria dengan rambut panjang dan topi.

“Dasar berandal. Kapan kau akan mulai bekerja dengan baik?” ucap si pria tua.

“Dia tidak berguna seperti milikmu.” Ejek Pria lainya. Si pria tua pun terlihat marah diejek. 


“Apa itu tengkorak? Hei, kita mendapatkan mayat!” jerit si pria rambut panjang ketakutan.

“Diamlah. Jangan mengatakan itu di laut. Kapten, kami menemukan pengembara.” Ucap nelayan pada nakodar [Pengembara. Istilah nelayan untuk mayat yang ditemukan di laut

“Perlakukan dia dengan hormat.” Kata Nakoda. Si pria gondrong ketakutan kalau mereka akan membawa ini ke daratan jadi meminta agar dikembalikan saja.

“Pengembara yang ditemukan harus dibawa ke daratan. Jika tidak, hal buruk bisa terjadi.” Ucap si paman.

“Itu hanya takhayul.”keluh si pria. Paman pun mengeluh kalau belum dengar soal pria di pulau terdekat yang usahanya hancur karena melempar pengembara. Mereka pun memberikan doa lebih dulu.

“Pasti berat berada di laut.” Ucap Si pria dan melihat Ada gigi depan emas. Lalu mereka menduga ini Pak Seo. 


Jae Hwan sudah menunggu di restoran. Ji A pun datang bertanya Tengkoraknya milik siapa dan apakah Sudah diidentifikasi. Jae Hwan mengeluh agar mereka  makan dahulu karena Ini makanan pertamanya hari ini.

“Apa Kau harus menyelidiki setiap insiden di negara ini?” ucap Jae Hwan. Ji A memberitahu Kali ini masalah pribadi.

“Tidak mungkin. Apa Kau masih mencari orang tuamu? Sadarlah, Ji-ah.” Kata Jae Hwan.

“Bagaimana kalau langsung saja? Kau tidak perlu mengomeliku.” Keluh Ji A. Jae Hwan tahu kalau Ji A harus bekerja keras.

“Tengkoraknya sudah diidentifikasi, tapi Penjaga Pesisir mengambil kasus itu” ucap Jae Hwan

“Penyebab kematiannya?” tanya  Ji A. Jae Hwan menjawab  Tidak diketahui.

“Setidaknya kita tahu siapa korbannya. Siapa?” tanya Ji A. 




Akhirnya kapal pun sampai didarat dan sebuah tengkorang dibawa oleh polisi. Didepan garis polisi, seorang anak berteriak agar bisa  melihat wajah ayahnya. Tapi polisi menghalangisnya. Empat nelayan hanya berjalan meninggalkan kapal dan menaiki ambulance.

Anak Tuan Seo pun menjerit histeris karena tak bisa melihat wajah ayahnya. 


Di rumah,

Yeon membaca buku tapi pikiran melayang saat Rang bertanya “Kau masih menunggu pacarmu yang sudah mati? Dan memberitahu “Aku mendengar rumor menarik. Haruskah kuberi tahu atau tidak? Jika kau tidak menemukanku akhir bulan ini, wanitamu akan mati.”

Akhirnya ia membuka pintu kulkas dan bertanya pada si rubah yang dikurung disana, apakah masih berpikir. Si rubah memohon agar jangan membunuhnya. Yeon menegaskan tidak akan membunuhnya Tapi  harus memberitahu keberadaan Lee Rang.

“Aku tidak tahu.”ucap Si pria. Yeon mengeluh pria itu sangat kaku dan bagaimana akan bertahan di abad ke-21


“Bagaimanapun, aku tetap akan dibunuh.” Ucap si rubah. Yeon pun memastikan apakah Lee Rang bilang begitu

“Aku bisa mengalahkannya dengan mudah. Ayo. Telepon dia. Katakan jika berubah pikiran.” Ucap Yeon akan menutup pintu.

“Tunggu... Aku akan melakukannya.” Kata Si rubah lalu akhirnya menelp Rang kalau Ada masalah.


Rang minum di pinggir pelabuhan dan terdiam saat melihat Yeon yang datang. Yeon mengejek Rang yang minum miras dan meminta agar nuangkan untuknya. Rang mengeluh Yeon yang menyuruhnya meneleponn dan merasa dia terdengar agak aneh.

“Kau banyak berubah. Dahulu kau bahkan enggan menyentuh ikan mentah.” Ucap Yeon mencoba ikan mentah.

“Berhentilah berpura-pura santai. Kau menjadi sangat tidak sabaran hingga bergegas kemari selarut ini. Aku benar, bukan? Dia lahir kembali, bukan? Dia hidup atau mati?” ucap Rang. Yeon hanya diam saja sambil minum.

“Dia masih hidup. Jika tidak, kau pasti sudah membawa mayatnya kepadaku. Kau juga tidak akan melewatkan kesempatan untuk bertaruh.” Kata Yeon. 


“Tapi bagaimana jika hadiah yang berharga tergores?” ucap Rang. Yeon memperingatkan agar Jangan sentuh dia.

“Bagaimana jika aku melakukannya? Katakan. Aku mulai bersemangat” ejek Rang

“Ini tanda kekurangan emosional.Apa Kau tidak tahu? Kau punya kompleks saudara?”balas Yeon.

“Diam. Ini semua salahmu.” Kata Rang marah. Yeon heran kenapa Rang bisa semarah itu

“Demi manusia wanita biasa, kau meninggalkan posisimu, wilayahmu, dan...” kata Rang marah

“Ya. Aku meninggalkanmu.  Itukah yang ingin kau dengar?” ucap Yeon. Rang pun menyuruh Yeon agar Enyahlah. Sekarang juga.


“Apa Kau terluka?” ejek Yeon. Rang langsun mendorong meja dan mencengkram baju Yeon.

“Jangan bercanda lagi. Gadis itu bersamaku.” Ucap Rang. Yeon mengeluh Rang yang kurang ajar.

“Jangan keluar sampai larut. Jangan minum miras terlalu banyak. Perutmu bisa sakit.” Ucap Yeon santai bisa melepasaknya.

“Dasar bedebah gila. Kau tahu di mana dia? Haruskah kuberi tahu atau tidak?” ucap  Rang. Yeon mengau Tidak perlu memberitahunya. 


Di rumah, Ji A berbicara dengan Jae Hwan agar disini saja karena hanya ada satu kejadian hari ini di daerah ini jadi bisa pergi sendiri dan hanya akan melihat-lihat. Jae hwan bertanya apakah Ji A punya semua peralatannya.

“Ya. Bantulah Nona Kim. Beri tahu aku lokasi pemakamannya.” Ucap Ji A. Jae Hwan mengerti.

Ji A akan keluar dari dari rumah lalu melihat foto ibu dan ayahnaya dan mengingat saat kepala tengkorak yang diberikan padanya, seperti tanda kalau akan bertemu dengan kepala tengkorak.

“Kau lihat sekilas info itu? Tengkorak. Aku dan juniorku bermimpi buruk. Ini tidak mungkin kebetulan.” Ucap Ji A 


Yeon duduk dibagian depan kapan, Ji A datang mengaku tidak menyadarinya sebelumnya, dan ingin memastikan di kepala Yeon ada koyok mabuk perjalanan. Yeon mencoba menutupinya

“Kau mencari siapa? Manusia? Atau rubah?”tanya Ji A.  Yen pikir itu Bukan urusan Ji A. Tapi Ji A tetap meminta agar bisa mengatakan.

“Karena pekerjaanku, aku cukup pandai menemukan orang.” Kata Ji A. Yeon merasa Sungguh tidak perlu.

“Lalu, kenapa harus pulau ini? Bukankah kau mencari orang tuamu?” kata Yeon.

“Omong-omong, apa semua makhluk mistis, bulgasari, yang muncul di mimpimu benar?” tanya Ji A 


“Sebagian benar dan sebagian lagi salah. Begitulah dia menipumu.” Kata Yeon. Ji A pikir Setidaknya sebagian benar.

“Jika itu alasanmu di sini, kembalilah. Mendengarnya bukanlah ide bagus” ucapYeon. Ji A pikir tak mungkin karena sudah di sini.

“Kapal yang sama, pulau yang sama. Seorang gadis dengan wajah yang sama dengannya. Naluriku terus mengatakan bahwa ada yang salah dengan kombinasi ini. Aku penasaran apa yang menantikanku di pulau itu.” Gumam Yeon. 


Kapal akhirnya berlabuh, seorang nenek mengeluh suaminya yang hanya beli roti streusel padahal sudah meminta membelikan roti pasta kacang merah. Ji A pun berjalan lebih dulu, sementara Yeon sibuk menghilangkan rasa mualnya.

“Aku sudah menunggumu.” Sapa seorang wanita. Ji A memastikan kalau ia putri Pak Seo Ki-chang.

Sementara Yeon akhirnya bisa menghilangkan rasa mualnya lalu berjalan menghampiri Ji A tapi tak sengaja menabrak para nelayan. Ia langsung meminta maaf tapi Para nelayan menatap sinis ke arahnya.



“Aku Produser Nam Ji-ah. Kita bicara di telepon.” Ucapj Ji A.  Nona Seo melihat Yeon bertanya  Apa Pria itu bersamanya. Ji A menjawabnya tapi Yeon membenarkan.

“ Aku bekerja di stasiun penyiaran.” Kata Yeon. Ji A hanya bisa melonggo. Si wanita pun mengajak untuk ke rumahnya. 



Mereka pun diajak masuk dan Nona Seo menawarkan teh jelai. Didepan pintu Ji Ah mengeluh Yeon yang bilang melarangnya ikut campur. Ji A memberitahu kalau sudah berubah pikiran. Ji A mengeluh dengan tingakh Yeon yang plin plan.

“Kumuh sekali. Haruskah aku melepas sepatuku?” ucap Yeon. Ji A kesal dengan tingkah Yeon. Akhirnya Yeon pun melihat ada banyak foto sementara Ji A sibuk memasang kamera.

“Tampaknya ayahmu tinggal sendirian.” Ucap Ji A. Nona Seo membenarkan.


“Aku tinggal di Incheon, bekerja untuk pabrik semikonduktor. Dan ayahku anggota kru kapal nelayan.” Ucap Nona Seo.

“Jangan terlalu gugup. Tenanglah.” Kata Ji A. Yeon yang sibuk sendiri mengambil teh dan melalui kamera begitu saja. Ji A pun merapihan kembali kameranya.

“Dia menghilang dalam kecelakaan?” tanya Ji A memulai wawancara. Noa Seo memberitahu kalau Mereka bilang kapalnya terbalik karena ombak.

“Apa kata polisi?” tanya Ji A. Nona Seo menjawab Mereka bilang tidak tahu karena jasadnya membusuk.

“Katanya baling-baling sekrup kapal kadang bisa menyebabkan kecelakaan saat memotong tubuh manusia.” ucap Nona Seo mencoba menahan rasa sedihnya.  


“Kapan kali terakhir kau bicara dengan ayahmu?” tanya Ji A. Noan Seo ingat Saat pagi sebelum kecelakaan, ayahnya menelepon.

“Tapi aku melewatkan panggilan itu.” Ucap Nona Seo lalu memberikan ponselnya.

Ji A mendengar suara Tuan Seo “Hei, Kyung-hee. Bagaimana kabarmu? Jika tidak terlalu sibuk, mampirlah. Ayah mengemas ikan Petrale soledan keong untukmu. Entah kenapa, ayah sering memimpikan ibumu belakangan ini.”

“Dia memegang tanganmu dan bergegas ke suatu tempat. Mungkin dia merindukan putrinya.”

“Apa yang terjadi pada ibumu?” tanya Ji A. Kyung Hee menjawab  Dia meninggal karena kanker.


“Aku penasaran kenapa dia bermimpi seperti itu.” Ucap Kyung Hee.  Yeon ikut berkomentar Dia datang untuk menjemputnya.

“Jika kau melihat orang mati di mimpimu yang hidup selama ini, artinya orang itu ingin menjemputmu. Orang yang seharusnya mati hari itu mungkin kau. ”ucap Yeon

“Hentikan.” Kata Ji A panik. Yeon merasa tak ada yang salah dengan ucapanya.

“Ayahmu menyelamatkan nyawamu... Yahh.. Maksudku, itu mungkin saja... Kau tidak punya Americano, ya?” ucap Yeon mencoba untuk kabur. Ji A hanya bisa menghela nafas. 


Di depan minimarket, dua kakek sedang minum. Sang nakoda meminat agar Jangan minum miras terlalu banyak. Si paman mengeuh Kenapa orang-orang televisi datang jauh-jauh dari Seoul ke perdesaan. Paman lan pun yakin Kyung-hee, gadis itu, mengkhianati mereka.

“Seharusnya kulempar gadis itu ke laut dan membiarkan ikan memakannya.” Kata si paman marah, Si nakoda langsun memarahi agar bisa memelankan suaranya.

“Makin memikirkannya, aku makin bingung. Kenapa tengkorak bedebah itu harus tertangkap jaring kita?” ucap si paman sambil mengeluh

“Omong-omong, kita belum melihat Jin-sik sejak menemukan tengkorak itu.” Kata paman lain heran. 




Jin Sik si pria rambut gondrong terlihat ketakutan dan frustasi di rumah mengaku kalau tidak melakukannya dan Bukan ia pelakunya tapi Tidak ada pilihan lain. Sementara Kyung Hee mengajak Ji A dan Yeon keluar dari rumah.

“Jangan mencari penginampan. Kalian bisa menginap di rumahku.” Ucap Kyung Hee membawa ke ruangan kosng di rumah.

“Ini kamar kalian... Sekarang aku harus pergi ke suatu tempat.” Kata Kyung Hee.  Yeon berpikir Kyung Hee yang bersikeras jadi akan tinggal disana. 


“ini Kumuh sesuai dugaanku.” Komentar Yeon saat melihat ruangan penuh dengan peralatan juga.

“Aku tidak keberatan. Aku sering menginap di tempat seperti ini saat dinas.” Ucap Ji A. Yeon mengeluh kalau ia keberatan.

“Maaf, tapi hanya ada satu kamar dan aku harus bersama wanita itu.” Kata Ji A

“Bagaimana denganku?” tanya Yeon. Ji A menunjuk kalau  Ada gunung di sana.

“Aku menonton film dokumenter dan tahu kalian pandai menggali.” Kata Ji A.

“Maaf, tapi aku salah satu yang modern. Aku tidak bisa tidur tanpa pemanas.” Kata Yeon.

“Kau tidak boleh masuk.” Kata Ji A mengancam dengan kakinya, Yeon pun mengaku pandai menggali lalu bisa merobos masuk dari kolong. 


Yeon sibuk mencari es di dalam box dan wajahnya panik lalu membuak pintu memanggil Pemilik minimarket. Si kakek tua heran bertanya siapa Yeon yang berani membuka pintu. Yeon menjawab kalau ia adalah pelanggan dan mengeluh karena tidak punya es krim cokelat mint.

“Ambil apa saja dan makanlah.” Ucap si paman. Yeon mengeluh alau Pelayanannya itu buruk sekali.

“Pemis... Kalian yang menemukan tengkoraknya, bukan?” ucap Ji A menyapa dua nelayan yang sedang minum. 


“Apa Ada yang melaporkannya ke stasiun penyiarannya?” tanya si kakek sinis. Ji A mengaku melihatnya di berita dan meminta izin untuk duduk

“Kau berteman dekat dengan sang mendiang, Pak Seo?” ucap Ji A memastikan.

“Teman apa maksudmu? Kami semua tinggal di desa yang sama. Kami hanya berpapasan. Kami hanya tetangga. Tidak lebih, tidak kurang.” Ucap S kakek

“Tapi kudengar kalian sudah lama memancing bersama.” Ucap Ji A. Si kak merasa tidak bisa memberitahu secara gratis.


“Aku ingin mencoba minuman yang dituang seorang wanita. Sudah lama aku tidak mencium aroma kosmetik.” Goda si kakek.

Dan keduanya pun tertawa mengejek. Ji A menuangkan soju tapi sengaja menumpahkanya.  Mereka pun kaget dan langsung berdiri. Ji A langsung meminta padahal sudah berusaha bersikap baik.

“Tampaknya kau tidak tahu sedang berada di mana!” ucap Si kakek marah dan ingin memukulnya.

“Jika kau ingin memukulku, bisa putar tubuhmu sedikit ke arah ini? Kau bisa terlihat di kamera.” Ucap Ji A. Kakek yang lain kaget dan mengajak temanya pergi saja. 


Yeon datang membawakan es krim lalu memuji Ji A memang barani. Ji A pikir Yeon  dan beranjak pergi. Yeon mengikutinya dari belakang. Ji A mengeluh Yeon yang mengikutinya. Tapi Yeon mengaku tidak mengikutinya. Ji A menegaksan kalau sedang bekerja.

“Aku juga melakukan hal serupa.” Ucap Yeon. Ji A pun akhirnya mempersilahkan Yeon berjalan lebih dulu.

“Aku ingin mendompleng jika itu memungkinkan.” Kata Yeon menyuruh JiA berjalan lebih dulu. Ji A pun hanya bisa mendegus kesal.

“Permisi, Bu... aku ingin menanyakan sesuatu... Izinkan aku menanyakan satu hal.Ini Tidak akan lama.”ucap Ji A bertemu dengan seorang nenek tapi nenek langsung bergegas masuk rumahnya.

“Kenapa ini sulit sekali?” ucap Yeon heran. Ji A menegaksan kalau Tidak mudah membuka pikiran lansia desa.


“Saat aku bertanya, mereka langsung menjawab.” Ucap Yeon. Ji A ingin tahu apakah Yeon punya rahasia

“Aku mematahkan jari mereka satu per satu sampai mereka menjawabku. Tampaknya ini tidak terlalu produktif. Lagi pula, kau tidak pandai dalam penyelidikan. Aku akan pergi.” ucap Yeon.

“Kau mau ke mana?” tanya  Ji A. Yeon menegaskan  Bukan hanya manusia yang punya mata dan telinga.



Ji A berjalan ke hutan dengan nafas terengah-engah mengeluh Yeon yang bisa berjalan secepat itu. Yeon hanya berdiri dalam diam didepan pohon, Ji A bertanya apakah Yeon mendengar sesuatu. Yeon memberikan kode agar Ji A diam

“Ini hutan mati. Artinya semua roh di hutan ini sudah pergi.”ucap Yeon. Ji Ah bingung Kenapa seperti itu

“Karena mereka dilupakan dan ditinggalkan oleh orang-orang.”kata Yeon, saat itu terdengar suara. Ia pun bertanya  Siapa itu. Seorang anak kecil memberanikan diri keluar. 

“Salam, Penguasa Hutan.”ucap si anak berlutut pada Yeon. Yeon bingung bertanya apakah anak itu mengenalnya.

“Aku pernah melihatmu dari kejauhan.” Ucap Si anak. Yeon tahu kalau anak itu adalah roh pohon penjaga.

“Apa yang terjadi di sini?”tanya Yeon. Si anak mengaku tidak tahu. Yeon kaget kalau roh itu tidak tahu

“Pulau ini sudah berubah. Roh yang dahulu tinggal di setiap rumah sudah pergi, jadi, tidak ada yang memberitahuku soal desa ini.” Ucap si roh. Yeon ingin tahu Sejak kapan?


“Tepat setelah Perang Korea dihentikan. Makhluk kotor datang ke pulau ini dengan angin topan, tapi aku tidak bisa melihatnya atau menghentikannya.” Ucap  si roh.

“Kau pasti sangat kesepian di sini.” Kata Yeon. Si roh mengaku  ingin pergi, tapi 

tidak bisa karena terjebak di pohon.

“Inikah alasannya?” kata Yeon melihat ada tali yang mengikat pohon. Si roh membenarkan dan meminta agar bisa membebaskannya. 




Di pingir pantai, Kyung Hee seperti sedang berdoa dengan dukun. Si dukun berteriak “Dia adalah jiwa! Dia adalah roh! Orang yang sudah mati akan menjadi jiwa dan roh!”

Ji A akhirnya bisa memotong tali, si roh pun mengucapkan  Terima kasih bisa bebask karena Ji A. Ji A mengaku  tidak tahu apa itu, tapi hanay ikut senang saja dan melihat kalau roh itu harus memakai sepatu karena Kaki indahnya dipenuhi luka.


“Kau punya koneksi dengan hutanku.” Ucap si roh. Ji A mengaku Ini kali pertamanya di sini.

“Pergilah ke sisi utara pulau. Jawaban pertamamu akan ada di sana.” Ucap Si roh. Yeon pun meliha si roh menghilang. Yeon memuji Ji A Bagus karena  berhasil memotong tali.

“Manusia mengikat ini dengan harapan besar. Hanya manusia yang bisa melepasnya.” Ucap Yeon lalu membuang tali. Ji A mengeluarkan ponselnya dan mencari tempat ke sisi utara.


“Raja Naga Laut Kuning. Nenek Yonggung.” Teriak dukun. Kyung Hee terus berdoa

“Tolong kembalikan jasad ayahku agar aku bisa mengadakan pemakaman untuknya.” Kata Kyung Hee.

“Kasihanilah gadis muda ini dan kembalikan jasad ayahnya. Kumohon padamu. Kumohon padamu seperti ini.” Teriak Dukun. Kyung Hee bingung melihat duku seperti bergerak sendiri dan bertanya ada apa.

“Dia tidak ada di sini... Mereka bilang dia tidak di laut. Jasadnya berada di depan kepalanya. Ayahmu!” ucap Dukun. Kyung Hee terlihat bingung. 


Ji Ah melihat kompasnya yang menujuk ke arah  "Gua Jangsansa" dan mengaku belum pernah mendengar tempat ini. Ia depan terlihat papan [Dilarang masuk. Pintu Masuk ke Gua Jangsansa] Yeon mengeluh kalau harus membeli makanan.

“Jangan bergerak... Tunggu. Berdiri di sana.” Ucap Ji A. Yeon bingung dan akhirnya hanya diam saja.

“Sepertinya aku pernah melihat ini... Di sini... Di sinilah mereka mengambil foto ini... Kurasa kau punya koneksi. Foto ini diambil sesaat setelah mereka mengandungku. Aku di sini bersama mereka di dalam perut ibuku.” Ucap Ji A membawa foto ayah dan ibunya. Yeon pun sempat melihatnya. 



“Kenapa ibu dan ayahku datang ke pulau ini?” gumam Ji Ah bingung menatap foto keduanya.

“Selimutnya bau. Pasti belum dicuci.” Keluh Yeon yang sudah berbaring Ji A pun menggeluh Yeon yang bersikeras datang padahal ada tempat yang lebih baik

“Kau tidak perlu tahu.” Ucap Yeon membalikan badanya. Ji A memberitahu kalau ia punya lever yang berlemak dan Penyakitnya kronis.

“Kenapa aku harus tahu kesehatan levermu?” keluh Yeon. Ji A tahu kalau Yeon itu Gumiho 

“Aku memberitahumu seandainya kau ingin makan lever.” Ucap Ji A. Yeon menegaskan kalau Makanannya tidak seperti itu.

“Apa Kau belum pernah dengar klonorsis?” ucap Yeon. Ji A hanya bisa tersenyum mendengarnya. Yeon langsung teringat saat A Eum tersenyum seperti itu

“Jangan tertawa dengan wajah itu.” Ucap Yeon kesal.

Ji Ah pun sengajak mendekat dengan nada mengoda “Ada apa dengan wajahku? Kenapa?” Yeon seperti merasa mulai berdebar tapi langsung menutup wajah Ji A dengan selimut karena wajahnya jelek.

 


Pemilik mengetahui  Yeon yang pergi ke pulau untuk mencari pengantin yang lahir kembali. Shin Joo membenarkan menurutanya  . Terlepas dari penampilannya, Yeon itu  sangat romantis. Si pemilik mendengar rubah hanya punya satu pasangan seumur hidup.

“Romantis sekali.” ucap Si pemilik. Shin Jo mengeluh akau itu dianggap romantis.

“Kau tahu harga yang harus dia bayar. “ kata Shi Joo. Si pemilik memberitahu “Ada masa-masa dalam hidup saat kau bertemu seseorang yang kau inginkan.”

“Aku tidak akan pernah mempertaruhkan hidupku demi cinta. Aku akan melindungi Lee Yeon.” Ucap Shin Joo kesal. Si pemilik yakin kaau Bisa dibilang itu cinta.



Yeon berdiri menatap Ji A yang tertidur dengan posisi duduk, ia pun meniupkan sesuatu ke mulut Ji A. Seperti tahu kalau itu adalah A Eum yang carinya.

“Apa yang kuharapkan?” gumam Yeon menatap ke arah langit diluar sambil mengingat yang dikatakan Lee Rang



“Gadis itu terlahir kembali, bukan? Dia masih hidup atau sudah mati?” ucap Rang

“Bisakah dia terlahir kembali dengan wajah yang sama?” tanya Yeon. Taluipa meminta agar Jangan mencarinya.

“Jika kau tidak menemukannya pada akhir bulan, wanitamu akan mati.” Ucap Rang memperingati.

“Itu akan mengubah takdirmu lagi.” Kata Taluipa. 


Ji A terbangun dari tidurnya dan tak melihat Yeon. Yeon sibuk menunjukan sekotak ginseng. Dua nenek tak percaya kalau itu ginseng liar yang berharga dan bertanya-tanya Berapa harga semua ini. Yeon ingin si nen  memutuskan.

“Bicaralah dengan wanita ini dahulu.”kata Yeon mengambil kotak ginsengnya. Ji A meminta agar  Jangan lancang kepada mereka.

Usia mereka 74 tahun. Mereka bayi bagiku.”kata Yeon. Si nenek pun bertanya Ji A ingin tahu tentang apa. 


“Bisakah kalian memberitahuku alasan semua orang bungkam soal tengkorak?” ucap Ji A. Dua nenek itu pun kebingungan.

“-Kau harus memberitahunya.” Kata si nenek pertama ketakutan. Akhirnya si nenek kedua meminta agar Jangan beri tahu siapa pun bahwa  mendengarnya dari mereka. Ji A pun berjanji.

“Jadi, masalahnya ini bukan kali pertama itu terjadi... Maksudku, kepala manusia.” ucap  Si nenek. 


Jae Hwan menelp meminta agar  jangan terkejut. Ji Ah kaget kalau Ada kasus lain seperti ini dan ingin tahu Bagaimana dengan korban. Jae hwan memberitahu Keempatnya wanita yang tidak dikenal. Ji A ingin tahu Kapan.

“Yang pertama pada tahun 1954.” Ucap Jae Hwa. Ji A mengingat tahun  "1954"

“Apa yang terjadi di pulau ini?” ucap Ji A lalu melihat pria Jin Si  yang membawa sabit.

“Permisi. Kau ada di kapal bersama ayah Kyung-hee, bukan?” ucap Ji A  mengejarnya. Tapi Jin Si ketakutan memilih kabur ke hutan. 


“Kenapa kau melarikan diri?” keluh Ji A melihat si paman yang kabur. Jin Si ketakutan meminta agar hantunya pergi darinya.

Sabit pun mengenai bahu Ji A, saat itu Yeon datang menyelamatkanya dan Ji A yang ketakutan meminta agar Jangan bunuh dia. Yeon akhirnya melepaskanya dan Jin Si pun kabur. 


Rang menelp Yu Ri dengan senyuman liciknya memberitahu  sesuatu yang diinginkan. Yu Ri seperti ingin tahu tempatnya. Rang memberitahu kalau Baru saja buka yaitu Rumah berhantu.

 Beberapa orang yang tinggal didesa seperti terkena kutukan langsung meninggal dengan darah yan keluar dari mulut seperti berusaha mengeluarkan sesuatu. 


Yeon melihat luka dibagian dalam baju Ji A. Ji A langsung menutupinya merasa kalau Lukanya tidak parah. Yeon langsung memberikan obat. Ji A binung apa itu. Yeon menjawab Obat tradisional. Ji A lalu mengeluh kalau merasa panas. Yeon mengejek kalau sikap Ji A itu berlebihan.

“Tanganmu terlalu panas.  Aku tidak tahan.” Ucap Ji A.  Yeon pun mleita bahu Ji A seperti memerah dan kebingungan. 


“Lama tidak bertemu, Lee Yeon.” Ucap Ji A yang tiba-tiba mencekik leher Yeon. Yeon pun bertanya siapa wanita tu

“Ini aku, yang selama ini kau tunggu.” Kata Ji A. Yeon kaget. Ji A pun mengaku ingin bertanya.

“Kenapa kau membunuhku?” ucap Ji A. Yeon hanya bisa terdiam.

Bersambung ke episode 3

Cek My Wattpad...   First Love

Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

 

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar