Jumat, 30 Juni 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 32

PS : All images credit and content copyright : SBS
Nyonya Park makan bersama dengan Nyonya Hong lalu bertanya  Apa cocok dengan seleranya. Nyonya Hong mengaku Tidak buruk, tapi... Nyonya Park menyela kalau Pemilik restoran tempat mereka makan itu terkenal dengan masakannya.
“Semua orang punya selera yang berbeda, kau tahu itu” ucap Nyonya Hong sinis. Nyonya Park benar-benar tak mengerti dengan sikap ibu Ji Wook itu.
“Bagaimana anakmu sama sekali tidak mirip denganmu?” keluh Nyonya Park. Nyonya Hong membela diri kalau Waktu Ji Wook masih anak-anak, orang sering bilang Kalau mereka itu sangat mirip saat dengan bersama.
“Orang hanya membicarakan yang benar, kau terlalu dalam menanggapinya Mulai dari wajahnya sampai kepribadiannya, Aku tidak tahu bagaimana kau bisa punya anak seperti dia Apa kau menemukannya di jalanan atau apa?” ejek Nyonya Park
“Tidak, aku tidak memungutnya di jalanan.. Aku memang bukan ibu kandungnya, tapi aku membesarkannya dengan hatiku. Apa kita sudah selesai sekarang?” balas Nyonya Hong
Nyonya Park merasa bersalah mendengarnya, lalu meminta maaf dan mengaku kalau perkataan sebelumnya hanya bercanda lalu mengumpata pada diri sendiri kalau Mulutnya memang buruk. Nyonya Hong mengaku kalau berharap Nyonya Hong tidak minta maaf,
“Aku bahkan tidak bisa marah padamu sekarang” keluh Nyonya Hong
“Apakah kau ibu kandungnya atau bukan... Tidak merubah apapun.Semua ibu menyayangi anaknya Dengan sama” kata Nyonya Park lalu mengajak untuk minum soju. Nyonya Hong dengan gaya sombongnya hanya terbiasa minum anggur. 


Nyonya Park menceritakan pada Bong Hee berusaha yang terbaik untuk berteman dengan Nyonya Hong tapi menurutnya mereka begitu berbeda. Bong Hee bisa mengerti dengan wajah sendunya.  Nyonya Park juga berpikir kalar merasa tidak enak pada saat yang sama karena Sebenarnya hatinya lembut.
“Sebagai mertua masa depanmu, dia... Tidak terlalu buruk” ucap Nyonya Park. Bong Hee mengeluh dengan perkataan ibunya karena hatinya sedang gundah.
“Jangan khawatir... Ibu yakin sudah melatihmu, jadi kau harus... Terus bersinar untuk Pengacara No” kata Nyonya Park penuh semangat.
Bong Hee ingin memberitahu masalah sebenarnya, tapi tertunda karena ada telp dan itu dari Kantor polisi. Bong Hee bergegas masuk kantor polisi, lalu melihat seorang anak kecil. Anak itu langsung menunjuk Bong Hee sebagai pengacara. Bong Hee kaget tiba-tiba seorang anak kecil menunjuk padanya. 

Polisi mengatakan kalau si anak itu bekata bahw  pelatih taekwondonya adalah pengacaranya dan apa itu benar. Bong Hee membenarkan, lalu menyimpulkan penjelasan dari polisi,bahkan anak itumenyaksikan pembunuhan dan Satu-satunya saksi mati. Polisi pun meminta anak buahnya agar memperlihatkan rekaman CCTV. Bong Hee melihat Seorang pria keluar dari toko klontong, setelah itu si anak berlari keluar dari toko.
“Kau melihat wajah si pembunuhnya, benarkan? Tapi kenapa kau tidak memberitahu kami?” ucap Polisi. Bong Hee melihat si anak yang ketakutan dengan meremas tanganya.
“Tidak apa-apa, kau bisa memberitahu mereka” ucap Bong Hee menenangkanya.
“Dia bilang mau didampingi pengacara... Hei kau, berhentilah menonton TV” keluh Si polisi.
“Bukan begitu, aku benar-benar tidak ingat wajahnya” teriak si anak kecil. 


Bong Hee datang ke kantor dengan si anak. Tuan Bang dan Eun Hyuk berteriak gembira melihatnya. Tuan Byun sedang mencuci piring kembali memanggilnya Nona kurang bukti dengan mengomel kalau tak boleh izin berkerja. Bong Hee hanya bisa meminta maaf.
“Tapi, anak siapa itu?” tanya Tuan Byun melihat seorang anak yang bersembunyi dibalik tubuh Bong Hee. Ji Wook pun turun melihat Bong Hee dengan seorang anak. Bong Hee ingin menjelaskan tapi Si anak lebih dulu memanggil Bong Hee dengan panggilan “ibu”
Semua hanya bisa melonggo karena Bong Hee tiba-tiba datang dengan seorang anak yang memanggilnya “ibu”. Si anak menceritakan kalau Ayahnya sudah meninggal dan tinggal dengan bibinya yang jelek dan pamannya, ia adalah anak yang malang seperti Harry Potter.
“Kenapa tidak kau beritahu dulu namamu?” kata Bong Hee. Si anak memberitahu namanya Kim Jae Hong. Tuan Bang pun menyapa dengan senyuman lebarnya.
“Dia pengacaraku” ucap Jae Hong kembali mengatakan pada semuanya. Bong Hee mengaku kalau semua terjadi begitu saja, dengan memeluk Jae Hong. 


Tuan Bong kaget mengetahui Jae Hong adalah saksi mata pembunuhan. Bong Hee dan Jae Hong mengangguk bersamaan.
Flash Back
Jae Hong pergi ke toko klontong, dengan membawa uang koin tak sengaja menjatuhkan dan mencoba mengambil dari kolong rak. Lalu seseorang masuk dan menikam si pemilik toko dengan pisau. Jae Hong yang kaget langsung bersembunyi di balik rak, si pelaku merasakan ada seseorang didalam toko ketika ingin mendekat ponselnya berbunyi dan akhirnya keluar dari toko. 

Jae Hong menceritakan kalau Itulah yang terjadi. Tuan Byun memarahi si anak yang berbohong karena menurutnya Jae Hong masih terlalu kecil untuk itu. Jae Hong berbisik pada Bong Hee kalau tidak menyukai kakek di depanya. Bong Hee berbisik kalu bisa mengerti. Tuan Byun yang mendengarnya menyuruh keduanya keluar saja dengan nada marah.
“Predir Byun, kau yang seharusnya pergi” ejek Eun Hyuk. Ji Wook pun tak banyak berbicara hanya bisa menatap  Bong Hee dan juga Jae Hong. 

Ji Wook membuat kopi didapur, Bong Hee sedikit gugup karena harus berpapasan hanya berdua lalu berkata kalau Jae Hong bertanya apa ada makanan, seperti Es krim atau apa saja yang bisa dimakan. Ji Wook mengejek kalau Jae Hong itu mirip seseorang yang dikenalnya.
Bong Hee mengurangi rasa gugup dengan Ji Wook yang sudah  Lama tidak bertemu, Ji Wook membenarkanya saja, lalu menanyakan kabar Bong Hee. Bong Hee mengaku kalau baik-baik saja.
“Apa kau benar-benar tidak apa-apa?” tanya Ji Wook. Bong Hee mengaku kalau baik-baik saja.
“Itu bukan apa-apa bagiku, kau tahu betapa sehatnya aku” ucap Bong Hee tak ingin sebelumnya bertemu dengan Ji Wook.
Ji Wook tiba-tiba mendekat membuat Bong Hee berdegup kencang, tapi Ji Wook hanya ingin mengambilkan es krim dan memberikan pada Bong Hee. Bong Hee mengambilnya dan buru-buru pergi sambil mengucapkan Terima kasih. Ji Wook hanya bisa tersenyum melihat Bong Hee seperti panik didekatinya.

Tuan Bang berbicara di telp  sambil berkata akan mengurusnya sementara waktu dan akan mengunjunginya. Setelah itu menutup telpnya.  Jae Hong sedang makan es krim merasa sudah bilang, bibinya tidak perduli padanya. Bong Hee pikir Jae Hong bisa tinggal denganya sampai selesai mengurus pernyataannya. Ji Wook masuk membawakan buah.
“Oh, benar... Kau seharusnya tinggal di rumah bibimu. Aku tinggal dengan orang lain sekarang, jadi aku tidak bisa mengurusmu, maafkan aku” ucap Bong Hee sedih.
“Bagaimana dengan Presdir Byun atau pengacara Ji?” tanya Ji Wook
“Presdir Byun pergi main golf dan Pengacara Ji ada persidangan” ucap Tuan Bang.
“Aku tidak bisa meninggalkan anak ini sendirian karena dia saksi mata” kata Ji Wook.
Jae Hong membela diri kalau  Ia bukan anak kecil. Ji Wook kesal menyuruh Jae Hong makan cemilan saja dari daripada membodohi orang dewasa. Bong Hee binggung dengan yang harus mereka lakukan. Ji Wook pikir akan mengirim Jae Hong ke rumahnya Presdir Byun atau pengacara Ji.Tuan Bang pikir Jae Hong masih kecil, tapi Ji Wook menyuruh semua pergi saja. 
Akhirnya hanya ada Ji Wook dan Jae Hong dalam ruang rapat. Ji Wook menegaskan apda Jae Hong kalu mereka  sekarang ada di lantai 1, dan lantai diatas adalah adalah lantai 2 jadi Jae Hong tidak boleh naik ke lantai 2 serta Jangan naik ke atas atau berbicara denganku

“Jangan memintaku melakukan apapun untukmu atau berjalan-jalan sendirian. Jangan lakukan apapun, kau harus berpikir... Dan tetap berada di tempatmu, Buatlah pernyataan dan pergilah secepatnya, Mengerti?” ucap Ji Wook seperti tak ingin dibuat repot dengan anak kecil. Jae Hong menganguk mengerti. 

Eun Hyuk mengantar Bong Hee dengan mobilnya, lalu bertanya apakah Bong Hee tak ingin  berterima kasih karena memberikan tumpangan. Bong Hee mengaku sangat berterima kasih dan menyukainya. Eun Hyuk senang melihat Bong Hee tersenyun dan tidak sakit, menurutnya kelihatan hebat
“Tapi aku memang jarang sakit” ucap Bong Hee bangga. Eun Hyuk mengejek kalau Bong Hee memang jarang sakit, tapi suhu tubuhnya sampai 40°C. Bong Hee membenarkan.
“Tapi Bagaimana kau tahu itu?” kata Bong Hee binggung. Eun Hyuk mengatakan aklau datang ke rumah sakit
“Tunggu, aku tidak ingat melihatmu” pikir Bong Heee. Eun Hyuk merasa Bong Hee tidak ingat karena suhu tubuhnya sangat tinggi
Bong Hee menganguk mengerti kalau Eun Hyuk datang ke rumah sakit lalu memikikan sesuatu. Eun Hyuk membenarkan kalau pergi dengan Ji Wook. Bong Hee benar-benar tak percaya lalu mengingat kalau ia mencium Ji Wook. Eun Hyuk binggung apa yang dipikirkan Bong Hee sekarang.

Bong Hee mencoba menyakini kalau hanya bermimpi, Eun Hyuk binggung apa yang dipikirkanya. Bong Hee kembali mengingat tadi menyapa Ji Wook yang sudah lama tak bertemu lalu merasa benar-benar tak percaya Ji Wook bersikap seolah-olah sudah lama tak bertemu.
Eun Hyuk benar-benar penasaran apa yang dipikirkan Bong Hee. Bong Hee pikir Setelah mencampakkannya, melakukan itu padanya, bahkan mengatakan padanya kalau lama tidak bertemu tanpa tahu malu dan membenturkan kepala berpikir lebih baik mati saja. Eun Hyuk mencoba menahan kepala Bong Hee malah terjepit.
“Kalau kau benar-benar menyesal, maka hentikan, kita bisa saja kecelakaan nanti” keluh Eun Hyuk merasa kesakitan. Bong Hee pun mengangguk mengerti walaupun merasa sangat malu. 

Jae Hong tidur di kamar Bong Hee tapi mimpi buruk kembali datang dengan pembunuh yang mendekatinya, lalu terbangun dari tidurnya. Ji Wook tertidur di sofa dan merasakan ada seseorang yang datang dan langsung berteriak kesal memarahi Jae Hong.
“Bukankah aku sudah bilang jangan naik? Kau Turun sana” ucap Ji Wook. Jae Hong malah mendekat.
“Apa yang kau lakukan? Jangan dekat-dekat... Hei, mundur, kembali” kata Ji Wook. 

Ji Wook pun membiarkan Jae Hong tidur dikamarnya, Jae Hong hanya berbaring memalingkan wajahnya. Ji Wook bertanya apa yang dilihat Jae Hong sampai membuatnya Naik dan pergi kekamarnya. Jae Hong mengaku itu karena bermimpi buruk
“Kau itu masih anak-anak, seharusnya kau tidak punya... Mimpi buruk” kata Ji Wook merasa kasihan.
“Kalau aku tidak bersaksi, Apa bisa pelakunya tertangkap? Dan kalau pelakunya tidak tertangkap karena aku tidak bersaksi, Apakah itu salahku?”kata Jae Hong dengan tatapan polosnya. Ji Wook pun mengingat dengan kejadianya saat kecil.

Flash Back
Jaksa Jang mengatakan kalau semua salah Ji Wook jadi harus bersaksi supaya kami bisa menangkap pelakunya Kalau pelakunya tidak tertangkap, maka itu semua salahnya.
“Kau hanya harus mengatakan padaku apa yang kau lihat, Kau tahu apa yang kau lihat, Benarkan?” ucap Jaksa Jang.
Jae Hong melihat Ji Wook hanya diam saja memanggilnya. Ji Wook pun sadar dari lamunannya. Ji Wook mengatakan kaalu Jae Hong tidak perlu bersaks, Lakukan saja apa yang diinginkan menurutnya Tidak masalah apakah Jae Hong bersaksi atau tidak dan Semuanya bukan salahnya. Seperti ia tak ingin membuat Jae Hong seperti dirinya yang dipaksa untuk bersaksi. 



Bong Hee menerima telp dari Detektif Park, lalu memberitahu bahw Kim Jae Hong bilang tidak ingat apapun, Jadi tidak banyak yang bisa dilakuka dan akan berusaha bicara dengannya Tapi menurutnya jangan terlalu berharap.
Beberapa anak sekolah keluar dari sekolah, Bong Hee binggung karena meminta Jae Hong menunggu tapi tak ada didepan sekolah. Lalu bertanya pada dua pelajar lainya, apakah mereka satu kelas dengan Kim Jae Hong di kelas satu –tiga. Mereka mengelengkan kepala karena tak kenal. Bong Hee panik kemana Jae Hong pergi. 

Jae Hong berlari ketakutan dan sampai akhirnya map yang dibawanya jatuh, lalu melihat pria yang membantunya bertanya apakah ada orang yang mengejarnya. Bong Hee akhirnya melihat Jae Hong dengan memarahinya karena menyuruh menunggu di depan gerbang sekolah, lalu melihat apakah terluka.
“Aku baru saja bicara dengan Detektif Park, ternyata Detektif Park keras kepala juga. Jae Hong tidak ingat apapun, Tapi dia terus memaksa, yang membuat aku merasa tidak nyaman” ucap Bong Hee mengeluh sendiri.
“Tidak apa-apa, Kau tidak perlu bersaksi kalau itu terlalu berat, Kau tahu itu kan?” kata si pria
“Lagian aku tidak bisa bersaksi karena aku tidak ingat apapun” kata Jae Hong. 

Bong Hee berjalan dengan Jae Hong dan dikagetkan dengan melihat Ji Wook yang sudah menunggu didepan sekolah. Keduanya terlihat gugup, akhirnya Jae Hong pergi menaiki mobil Ji Wook tanpa Bong Hee. Wajah Jae Hong menatap Ji Wook dengan senyuman mengejek.
“Apa mungkin, kau... Dan pengacara Eun...” ucap Jae Hong dengan mengejek. Ji Wook langsung memarahinya.Jae Hong terus tertawa mengejek.
“Aku bilang jangan tertawa” kata Ji Wook. Jae Hong tetap saja tertawa. Ji Wook mengejek kalau Jae Hong itu tak tahu apapun dan menyuruhnya agar berhenti tertawa dengan berusaha menutup mulut Jae Hong. 

Jae Hong tertidur dan tiba-tiba terbangun dengan wajah ketakutan,   Ji Wook pun bertanya apakah Jae Hong bermimpi buruk lagi. Jae Hong benar-benar ketakutan karena bayangan pembunuh kembali datang. Ji Wook akhirnya memeluk Jae Hong untuk menenangkanya.
“Itu sakit... “ ucap Jae Hong. Ji Wook mengangguk mengerti.
“Bagaimana kalau...Pelakunya... Datang dan berusaha membunuhku” kata Jae Hong ketakutan. Ji Wook menyakinkan kalau itu tidak akan terjadi dan tidak akan pernah terjadi,
“Aku tidak tahu siapa pelakunya Dan aku tidak tahu apakah harus bersaksi... Atau tidak” ucap Jae Hong
“Aku akan memastikan... Kau aman apapun keputusan yang kau pilih. Tapi ada satu hal yang harus kau ketahui. Kalau kau terus mengunci masalah ini tanpa menyelesaikannya Mimpi buruk itu mungkin Akan terus memburumu. Bahkan saat kau sudah besar dan jadi orang dewasa” nasehat Ji Wook. 


Jae Hong bangun pagi lalu pergi menemui Ji Wook di dapur dan mengatakan kalau akan bersaksi. Ji Wook tersenyum mendengarnya lalu mengantar Jae Hong ke kantor polisi.  Polisi pun bertanya apakah mengingat sesuatu dan datanguntuk memberi kesaksian. Jae Hong mengangguk, Polisi pun memuji Jae Hong memang anak baik
“Di supermarket... “ ucap Jae Hong mulai ragu. Polisi pun mulai menasehati Jae Hong.
“Jae Hong, kau kesini untuk bersaksi, kau boleh memberitahu kami apapun yang kau lihat” kata polisi. Ji Wook memeluk Jae Hong agar menenangkanya.

“Itu orangnya” ucap Jae Hong menunjuk Si pria yang bertemu sebelum di sekolah.
Si pria yang berkerja sebagai polisi binggung tiba-tiba di tunjuk oleh Jae Hong. Jae Hong lalu mengetahui kalau itu bunyi ringtone yang didengarnya, Pria itu mengeluarkan ponselnya yang berdering dengan membela diri kalau Semua orang tahu nada dering jadi berhentilah bercanda.
“Sepatu itu... Ada darah di sepatunya” kata Jae Hong menujuk. Si polisi mulai panik. Ji Wook menatap seperti tak percaya. 


Si polisi akhirnya dibawa ke penjara dengan berteriak kalau  tidak melakukannya dan tak ada yang percaya padanya.  Polisi pun akan hanya harus menuliskan pernyataannya.
Ji Wook seperti mengingat kembali saat masa kecilnya, saat memberikan pernyataan Ji Wook mengatakan tak tahu dan tidak ingat siapa orangnya, lalu diberikan foto Tuan Eun dan dengan mudah mengatakan kalau itu pelakunya.
“Kenapa Dua ingatan yang berbeda muncul di dalam kepalaku? Yang mana... Yang benar?”gumam Ji Wook panik
“Pengacara Bang, Aku tiba-tiba harus ada yang dikerjakannya, Tolong kerjakan yang lain untukku” kata  Ji Wook. Tuan Bang menganguk mengerti.

Ji Wook pun berpesan pada Jae Hong agar jangan takut dan khawatir karena Tuan Bang akan ada bersamanya. Setelah itu keluar dari ruangan dengan berjalan sempoyongan mencoba mengingatnya.
Tuan Jang meminta agar Ji Wook bisa mengenalinya, kalau Tuan Eun  adalah orang Yang membunuh ayah dan ibunya, dengan memperlihatkan foto Ayah Bong Hee.
“Orang ini adalah orang yang membunuh ibu dan ayahmu, Dia membunuh ibumu” Tuan Jang menyakinkan. Dan ingatan Ji Wook pun mengatakan kalau tak ingat dan tidak tahu. 


Bong Hee menerima telp dari Pengacara Bang  saat menjengkuk Hyun Soo yang masih terbaring dengan alat bantu nafas.  Ia memberitahu kalau Hyuk Soo masih tetap sama dan Dokter bilang tidak ada peningkatan. Tapi saat menutup telp dan berbaring, Bong Hee dikagetkan dengan melihat Hyun Soo yang bisa bangun dan turun dari tempat tidurnya. Hyun Soo menatap Bong Hee seperti siap membunuhnya. 

[Epilog]
Di depan ruang IGD, Ji Hae melihat Eun Hyuk yang sangat mengkhawatirkan Bong Hee, lalu meberitahu kalau Bong Hee sudah meminum penurun panas, jadi akan segera sembuh. Eun Hyuk terlihat sangat gelisah melihat Bong Hee.
“Kita bisa melihat bagaimana keadaannya kalau kau khawatir” kata Ji Hae akan masuk. Eun Hyuk memegang tangan Ji Hae menahanya. Ji Hae terkejut tiba-tiba Eun Hyuk memegang tanganya.
“Kita seharusnya... Tetap berada di sini” kata Eun Hyuk lalu ponselnya berdering. Yoo Jung menelpnya lalu ia berjalan pergi. Ji Hae tersipu malu memegang pipinya karena Eun Hyuk mengatakan "Kita"
Bersambung ke episode 33

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted
                                                                                                                                                                                  

2 komentar:

  1. gumawo unnie udah buat sinopsisnya....ijin ambil linknya buat dipublish blog aku...

    baca sini buat baca sinopsis suspicious partner selengkapnya...

    BalasHapus