Rabu, 28 Juni 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 11 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Dong Man dan Ae Ra duduk di tepi pantai dengan kembang api terlihat di langit. Dong Man pikir Pemerintah harus melarang kembang api karnea pasti semua orang memakainya untuk merayu wanita sertaakan membuat pantai kebakaran dan tangan mereka terbakar. Ae Ra heran karena tak mungkin pantai kebakaran.
“Omong-omong, kenapa kau selalu begitu ekstrem, impulsif, vulgar, dan jantan? Kenapa kau seperti itu?” keluh Ae Ra dengan yang dilakukan Dong Man sebelumnya
“Tadi itu tidak impulsif, Sudah lama aku hanya bisa melihat bibirmu.” Akui Dong Man. Ae Ra benar-benar tak menyangka Dong Man mengatakan blak-blakan.
“Jadi, mulai hari ini kita resmi berpacaran?” kata Dong Man. Ae Ra menegaskan kalau Mencium teman itu ilegal dan pelanggaran.

“Kita harus berpacaran. Sebaiknya kau tidak berpikir untuk memacari orang lain. Bahkan di bus pun, jangan duduk di samping pria.” Tegas Dong Man. Ae Ra benar-benar tak percaya Dong Man overprotect.
“Jangan pikirkan orang lain, Khususnya cinta pertamamu. Jangan pikirkan pria pergelangan tangan itu. Pikirkan aku saja.” Tegas Dong Man melarang Ae Ra memikirkan orang lain.
“Cinta pertamaku dan pria pergelangan tangan adalah kau.” Akui Ae Ra. Dong Man terkejut mendengarnya.
“Cinta pertamaku. Si bodoh itu. Pria yang telah menggangguku selama 20 tahun. Itu adalah kau. Kau seperti jerawat meradang bagiku. Tiba-tiba Muncul sendiri, lalu sembuh. Terasa Sakit, lalu tidak lagi. Akan sembuh sendiri jika kubiarkan, tapi sakit sekali saat dipecahkan. Seperti itulah selama 20 tahun.” Ungkap Ae Ra mengumpakan.
Dong Man benar-benar tak percaya kalau memang ia orangnya, menurutnya Ae Ra itu tipe yang bisa menculik pria yang disukainya. Ae Ra pikir mereka tidak boleh menjadi temannya lagi, karena mereka sudah berciuman, jadi, jika kembali berteman, maka tidak sanggup menjalani hidupnya.
“Aku sungguh... sangat menyukaimu.” Akui Ae Ra. Dong Man mengumpat Ae Ra bodoh.
“Kenapa kau tidak pernah coba menciumku? Pasti aku langsung jatuh hati padamu. Apa Kau menyukainya? Apa Kau mau mencobanya sekali lagi?” ungkap Dong Man malu-malu lalu mendekat dan mencium Ae Ra kembali. 
Bibi Ganako melihat keduanya berciuman bertanya apakah bisa menembakkan kembang api itu kepada seseorang. Pelatih Hwan pikri sudah mengatakan firasatnya ini akan berhasil. Bibi Ganako seperti tak suka dengan melihat keduanya bersama. 



Beberapa perabotan dibawa ke lantai atas, Dong Man dan Joo Man melihat banyak barang yang dibawa lalu bertanya Apa orang masih membagikan kue beras kepada tetangga baru. Dong Man pikir Barang itu tidak akan muat di sebuah unit studio. Joo Man pikir kalau penghuninya wanita. Lalu Dong Man berpikir-pikir apakah penghuni baru itu cantik.
Sementara di kamar, Sul Hee berdanda melihat Ae Ra sibuk memakai bando lalu bertanya akan pergi kemana. Ae Ra mengatakan akan membuang sampah. Sul Hee heran kenapa harus berpenampilan seperti itu padahal hanya membuang sampah
“Pakaianku selalu seperti ini saat membuang sampah.” Kata Ae Ra membela diri.
“Apa ada yang terjadi di Daecheon? Apa kau dan Dong Man...” kata Sul Hee melihat perubahan temanya.
“Kami tidak melakukannya.” Ucap Ae Ra menyangkal. Sul Hee malah makin penasaran melakukan apa yang dimaksud.  Ae Ra terlihat gugup. 

Ae Ra akhirnya keluar rumah bersama Sul Hee bertemu dengan dua pria. Joo Man melihat pakaian Ae Ra yang diikat berpikir kalau sedang memeras cucian. Dong Man pun panik melihat pacarnya karena malah memamerkan perutnya dan buru-buru menurunkan bajunya.
“Dia bilang ini pakaiannya saat membuang sampah.” Ucap Sul Hee mengejek. Ae Ra langsung menyuruh Sul Hee agar pergi saja ke kantor.
“Apa kalian akan berdua lagi hari ini?” tanya Sul Hee curiga melihat keduanya seperti mesra bahkan saling menyuapi.
“Ya. Kami berdua tidak bekerja, jadi, tidak akan bosan.” Kata Dong Man. Joo Man mengajak minum anggur plum nanti. Keduanya pun setuju.
“Kalian berdua... Sebaiknya kalian tidak melakukannya.” Kata Sul Hee memperingati. Ae Ra dan Dong Man langsung terbaku mendengarnya.
“Jangan buka itu. Jangan buka anggurnya itu.” Kata Joo Man memperingatinya. 

Tiba-tiba bibi Ganako sudah ada dibelakang mereka memangil “Kamar 101” keduanya kaget. Bibi Ganako yakin keduanya pasti tidak dapat kue beras, karena melihatnya  nona itu tidak memberikan kue beras kepada keduanya dan hanya Ae Ra, karena mungkin melupakannya.
“Apa?!! Kenapa dia melupakanku? Itu menyebalkan.” Keluh Ae Ra kesal
“Kudengar dia terkenal. Petugas pindahan saja meminta tanda tangannya., Mungkin dia artis. Kudengar dia sangat terkenal di Korea dan Seorang penyiar.” Kata Bibi Ganako. Dong Man dan Ae Ra saling berpandangan seperti memikirkan seseorang. 

Keduanya menaiki tangga dan kaget melihat Hye Ran baru saja menuruni tangga. Ae Ra heran melihat Hye Ran yang pindah ke unit di atas kamar Dong Man. Hye Ran pikir kenapa tak boleh, karena Ae Ra saja  boleh tinggal di seberang kamarnya,
“Tapi aku membaca di internet bahwa kau menerima uang cerai berjumlah besar. Jadi, kenapa pindah ke tempat yang murah seperti ini?” tanya Ae Ra.
“Aku ingin menemui Dong Man tiap hari seperti kau.” Akui Hye Ran.
“Kami berpacaran... Kami memutuskan untuk meresmikannya.” Ucap Dong Man ingin menyadarkan Hye Ran agar tak mendekat.

“Aku tahu dan Itu demi kebaikan. Akhirnya, kau menghilangkan teman wanita yang memuakkan itu. Aku akan mengisi peran itu sekarang yaitu akan menjadi temanmu. Tahukah kau betapa mengganggunya itu? Aku mau kau mengalaminya langsung.” Ucap Hye Ran seperti ingin membalas dendam.
“Aku pacarnya dan juga temannya.” Tegas Ae Ra.
Hye Ran pikir tak mungkin,  menurutnya ketika mereka putus maka Ae Ra bukan apa-apa bagi Dong Man jadi tidak bisa menjadi temannya lagi. Dong Man merasa Hye Ran tak tahu apapun.  Hye Ran menyuruh Dong Man Lakukan atau tidak sama sekali menurutnya Tidak ada jalan kembali dan Dong Man tidak menyadarinya. 


Ae Ra berbaring dengan gelisah lalu duduk diatas tempat tidurnya merasa kalau  Itu bodoh dan bertanya Apa maksudnya "lakukan atau tidak sama sekali" Saat itu terdengar ketukan pintu dari depan rumah. Ae Ra menatap wajahanya lebih dulu di cermin lalu keluar dari rumah.
“Ganti bajumu. Ayo kita pergi. Aku harus ditimbang jadi Temani aku. Setelah itu, kita bisa berkencan atau semacamnya.” Ucap Dong Man. Ae Ra hanya diam saja menatap Dong Man terlihat malu-malu.
“Kenapa diam saja dan kau mendadak malu-malu?” kata Dong Man. Ae Ra mengelak kalau tidak malu-malu.
“Kau tidak seksi atau terlihat polos. Kalau kau tidak mau bicara, entah kenapa aku mau berpacaran denganmu. Tugasmu adalah menjadi lucu dan.. Tentu saja, soal bersikap manis, kau di atas rata-rata..” kata Dong Man. Ae Ra mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup dengan kencang. 


Direktur Choi memberitahu Kimchi Chung tidak mau membuat acara kedua. Joo Man pikir semua habis di acara pertama jadi meminta agar Direktur Choi agar membicarakanya. Direktur Choi pikir membiarkan tentang apa.
“Pemiliknya berubah pikiran. Mana mungkin dia mau menguntungkan orang yang menolak putrinya? Apakah kau tahu bahwa Ye Jin cuti?” ucap Direktur Choi. Joo Man hanya bisa diam saja. 

Ae Ra pun bertanya kenapa Dong Man terus berbicara didepan rumah bukan dalam saja menurutnya seperti kurir saja. Dong Man terlihat gugup mengaku tidak boleh masuk. Ae Ra binggung kenapa tak boleh. Dong Man pikir karena mereka masih muda, kuat, impulsif, dan tidak dewasa,
“Karena hal-hal tidak pantas terjadi dalam sekejap.” Kata Dong Man. Ae Ra mengeluh Dong Man itu sangat konservatif. Dong Man seperti tak mendengar lalu menegaskan tetap akan menunggu didepan rumah serta segera ganti baju.
“Sebenarnya, kurasa aku butuh waktu satu setengah jam.” Kata Ae Ra. Dong Man menjerit mendengarnya.
“Kenapa? Aoa Kamu perlu memakai lulur? Kau bisa ganti baju dengan cepat.” Keluh Dong Man
“Ini kencan pertama kita! Kenapa kau begitu bodoh tentang wanita?” keluh Ae Ra kesal lalu masuk ke dalam kamar. Dong Man heran melihat tingkah Ae Ra yang berbeda. 


[Episode 11- Wanita Feminin]
Ae Ra keluar dari rumah dengan mini dressnya, lalu bertanya apakah terlihat cantik. Dong Man sempat melonggo melihatnya,  lalu mneyuruh Ae Ra segera cepat ganti baju. Ae Ra binggung berpikir kalau terlihat aneh. Dong Man mengatakan kaki Ae Ra.  Ae Ra panik berpikir kakinya terlihat besar.
“Kenapa kakimu begitu bagus? Kakimu seperti kaki wanita.” Akui Dong Man yang terkesima dengan kecantikan Ae Ra.
“Apa dahulu kau sungguh menganggapku seorang pria?” keluh Ae Ra tak percaya
“Aku mungkin akan menendang pria yang melihat kakimu, jadi, pakailah celana panjang.” Perintah Dong Man. Ae Ra tak terima Dong Man yang berani mengaturnya.
“Dahulu kau bawakan tas sekolahku. Jangan suruh-suruh aku.” Tegas Ae Ra. Dong Man merasa tidak peduli soal itu dan menyuruh Ae Ra aga  cepat ganti celana panjang. Ae Ra mengumpat kesal dan masuk ke dalam rumah. Dong Man benar-benar tak percaya kaki Ae Ra bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas.


Joo Man dan Sul Hee makan siang bersama, tapi Joo Man sibuk menonton pertandingan baseball dengan ponselnya.  Sul Hee yang sedari tadi cemberut bertanya apakah Joo Man akan terus menonton bisbol. Joo Man seperti binggung dan menatap Sul Hee.
“Pacarmu duduk di hadapanmu. Apa kau sungguh hanya ingin menonton Choo Shin Soo?”kata Sul Hee kesal.
“Apa maksudmu bilang begitu?” ucap Joo Man binggung. Sul Hee pikir mereka harus bicara dan apakah mereka hanya akan makan saja.
“Bagaimana kita bisa terus saling menatap setelah enam tahun? Seiring waktu, itu menjadi nyaman dan membosankan.” Ucap Joo Man

“Apa Sekarang kita membosankan?” balas Sul Hee. Joo Man meminta agar Sul Hee Jangan bertengkar soal arti kata karena ia juga lelah.
Sul Hee tak tahu kalau Joo Man lelah dan ingin tahu karena apa, padahal selama ini Joo Man tidak mau berkencan atau bahkan bicara kepadanya, bahkan jarang menciumnya lagi serta tidak melakukannya. Joo Man panik takut banyak orang yang mendengarnya.
“Kau tidak lakukan apa pun denganku, jadi, kenapa lelah?” tanya Sul Hee heran. Joo Man mengaku memang lelah.
“Aku lelah menjadi orang jahat setiap kali bersamamu. Kau tidak pernah lelah. Kau baik, murah hati, dan penuh cinta. Jadi, selalu aku yang salah. “ kata Joo Man. 
Sul Hee keluar dari restoran, Joo Man mengejarnya meminta agar jangan seperti itu lagi. Sul Hee makin tak percaya Joo Man mengatakan “Lagi” seperti sudah berulang-ulang, lalu bertanya apakah selama ini  menuntut banyak dari pacarnya itu.
“Aku tidak mau apa pun darimu. Aku hanya... Aku hanya ingin kita seperti dahulu. Apakah sulit untuk tidak berubah?” ucap Sul Hee.
“Mana mungkin seseorang tetap sama selama enam tahun?” kata Joo Man. Sul Hee pikir dirinya belum berubah.
“Kau masih membuat jantungku berdebar. Aku merasa kasihan padamu dan makin menyukaimu Dan aku hanya ingin melakukan segalanya bersamamu.” Akui Sul Hee. Joo Man menghela nafas dan meminta maaf.
“Kau menghela napas lagi, Aku selalu merengek dan kau selalu menghela napas. Apa ini hanya tahap kebosanan Atau kita akan putus? Belakangan ini aku merasa lebih kesepian saat bersamamu.” Kata Sul Hee. Joo Man tak bisa berkata-kata. 



Dong Man mendekap tangan Ae Ra dengan keras, lalu Ae Ra seperti merasa tanganya berkeringat dan ingin melepaskan sejenak. Dong Man yang malu-malu tak ingin lama-lama melepaskan tangan Ae Ra, meminta agar bisa mengenggamnya lagi. Ae Ra menaruh tangan diatas tangan Dong Man saat memintanya.
“Omong-omong, apa kau akan beri tahu yang lain?” tanya Ae Ra. Dong Man pikir  Joo Man akan menggodanya habis-habisan.
“Kita rahasiakan saja. Sul Hee juga akan berkomentar. Dia selalu mengatakan hal-hal seperti, "Jangan bertengkar lalu berpacaran. Kamu bisa menikah, tapi jangan berpacaran."” Cerita Sul Hee. Dong Man tersenyum mendengarnya.
“Apa kau baru saja melamarku? Apa Kau berharap itu lamaran?” ucap Dong Man malu-malu. Ae Ra hanya diam saja karena bukan seperti itu maksudnya. 

Dong Man mulai berlatih dengan pelatih Hwang, Ae Ra melihat dari belakang ring. Pelatih Hwang ingin tahu apa yang akan dilakukan Dong Man ketika mencekiknya. Dong Man mengatakan akan Membebaskan diri tapi seperti tak bisa melakukanya dan meminta agar segera melepaskanya.
“Dasar Bodoh. Kubilang jangan menyerah. Kenapa kau menyerah?” ucap pelatih Hwang. Dong Man mengaku itu Karena sakit. Pelatih Hwang mengeluh Dong Man yang begitu jujur.
“Tidak ada yang kebal pada rasa sakit. Orang lain tidak menyerah bahkan saat tulang mereka patah. Kenapa kau selalu...” ucap Pelatih Hwang mengeluh dan langsung disela oleh Ae Ra.

“Mereka yang bodoh. Kenapa tidak menyerah saat kesakitan? Kalau kau kesakitan, menyerahlah secepatnya. Beraninya kau memelintir lengannya? Ada apa denganmu?” ucap Ae Ra membela Dong Man.
Pelatih Hwang tak percaya Dong Man itu harus  mengajak Ae Ra. Dong Man mengaku  tidak bisa berlatih dengan Pelatih Hwang dan ingin tahu kapan  Doo Ho datang. Pelatih Hwang dengan berteriak kalau Dong Man bisa berlatih tanpa Doo Ho. Ae Ra langsung memarahi Pelatih Hwang yang berteriak pada Dong Man. Dong Man pun merengek tanganya yang sakit.
“Kim Tak Su berengsek... Aku muak!” teriak Pelatih Hwang marah. 

Di tempat konferensi sebelum pertandingan, Dong Man bertemu dengan Doo Ho dan Byung Joo berdiri disamping Tae Hee dan juga pelatih Choi. Tak Su duduk di bangku penonton. Si MC meminta mereka agar berpose dengan saling berhadapan pada lawan. Pelatih Hwang hanya bisa melirik sinis pada Tae Hee yang mengambil semua anak buahnya. 

Dong Man bertemu Doo Ho di toilet,  bertanya Apa yang terjadi sekarang. Doo Ho pikir Atlet selalu berganti tim dengan Kontrak yang lebih baik, masa depan yang lebih cerah. Makanya harus pergi ke tempat yang bisa membuatanya berkembang.
“Apa kau Sudah beri tahu pelatih kita?” tanya Dong Man
“Tigers ada di level yang berbeda. Mereka punya sistem yang rapi...” ucap Doo Ho
“Apa Kau sudah beri tahu pelatih kita?” tanya Dong Man. Doo Ho kembali meberitahu kalau bagian humasnya.

Pelatih Hwang melihat Tak Su yang akan pergi dan langsung mendekat berbisik kalau “Anjing yang takut menyalak dengan keras” jadi Teruskan permainan kotornya, karena hanya akan membuat Dong Man makin bertekad.
“Kurasa kau yang lebih cerewet.” Ejek Tak Su tak mau kalah.
“Tak Su... Publik lebih tahu... Bahwa yang busuk tidak pernah bagus.” Ucap Pelatih Hwang.
“Mari jangan saling memprovokasi, mengerti?” ucap Tak Su mencoba menahan amarah karena banyak wartawan.
“Jangan membuatnya terlalu mudah. Jika kau makin buruk, makin tidak seru menghancurkanmu.”tegas Pelatih Hwang tak mau kalah begitu saja.
Pelatih Choi mendekati Pelatih Hwang meminta maaf. Pelatih Hwang lalu memberitahu kalau Doo Ho memiliki Anak berusia 3 tahun dan berusia 26 tahun. Pelatih Choi kaget mendengarnya.
“Dia masih anak-anak dan Seseorang yang mencari nafkah. Jangan manfaatkan dia, latih dia dengan baik.” Pesan Pelatih Hwang. Pelatih Choi mengangguk mengerti.




Doo Ho dengan mata berkaca-kaca mengaku kalau semua ini  Sungguh memalukan menurutnya ia tidak akan bergabung jika hanya sendiri, tapi anaknya yang  mengidap dermatitis atopik dan menggaruk sampai berdarah bahkan harus pindah rumah, tapi tidak mampu. Dong Man menatapnya, Doo Ho mengaku kalau tidak mengeluh.
“Petarung tidak boleh menangis, Pelatihmu akan memukulmu” kata Dong Man
“Aku tahu mereka berusaha mengganggumu dan memaksa pelatih menutup sasananya. Jagalah pelatih” pesan Doo Ho.
“Beraninya kalian saling bicara!” ucap Pelatih Hwang ketus melihat keduanya berbicara. Doo Ho hanya bisa tertunduk.
“Doo Ho... Datanglah makan sundae kapan pun kau mau.” Ucap Pelatih Hwang. Doo Ho hanya bisa menangis. 


Pelatih Hwang membuka pintu merasa keduanya  bisa makan lebih dahulu. Ada restoran terkenal di sini yang diliput di televisi dan ingin mentraktinya makan daging setelah penimbangan jadi bisa pergi lebih dahulu. Tiba-tiba Ae ra bertanya apakah Pelatih Hwang itu mendendam padahal seorang petarung. Pelatih Hwan tak mengerti maksudnya.
“Itu nada bicara orang yang mendendam.” Kata Ae Ra. Pelatih Hwang tak ingin membahasnya menyuruh Merkea bisa pergi makan malam tanpa dirinya.
“Kami berpacaran.” Ucap Dong Man. Pelatih Hwang melonggo dan bertanya kenapa dan untuk apa mereka berpacaran. Ae Ra kesal mendengar pertanyaan Pelatih Hwang.
“Jadi, izinkan kami menghabiskan waktu bersama. Ini kencan pertama kami.” Ucap Don Man. Pelatih Hwang tetap melonggo.
“Adakah yang tidak bisa kau katakan kepadaku? Kau pikir aku menghamilinya, kan?” kata Dong Man.
Pelatih Hwang mengaku bukan seperti itu, lalu berpikir Dong Man banyak berhutang pada Ae Ra. Ae Ra sudah menduga kalau mereka  tidak bisa akur. Pelatih Hwang benar-benar tak percaya keduanya berpacar dan langsung meninggalkan keduanya.
Dong Man melihat hanya berdua saja langsung memeluk Ae Ra dari belakang. Ae Ra heran karena Dong Man  terus memeluknya seperti anak anjing. Dong Man mengaku kalau sangat lapar.


Ae Ra memasak nasi goreng dengan bentuk dan memberikan tanda cinta. Dong Man tak percaya kalau Sebelum masakan Ae Ra lebih mirip makanan anjing menurutnya kalau ini bukan cuma peningkatan tapi sebuah pengalaman baru. Ae Ra menyuruh Dong Man tak banyak komentar dan makan saja. 

Flash Back
Ae Ra menendang bokong Dong Man yang tidur memberitahu kalau makan sudah siap. Dong Man melihat masakan Ae Ra diatas wajah dengan telur yang ancur lalu berpikir itu seperti makanan anjing. Ae Ra menyuruh Dong Man makan saja yang diberikan.
Akhirnya keduanya selesai makan, Ae Ra duduk dibawah sambil makan snack. Dong Man heran melihat Ae Ra yang berbaring dibawah padahal diatas ranjang masih ada banyak tempat. Ae Ra memperingatkan Dong Man Jangan coba macam-macam.
“Apa Kau pikir aku seberani itu?” ucap Dong Man panik. Ae Ra pun bertanya kenapa Dong Man ingin berbaring
“Aku tidak pernah bilang "berbaringlah". Kau bisa duduk. Duduklah.” Kata Dong Man merasa tak biasa melihat Ae Ra berbaring.

“Bukankah duduk akan mengarah kepada berbaring? Itulah yang kusebut "macam-macam"” tegas Ae r.
“Itu juga tidak akan berhasil padamu. Kau seperti Fedor versi wanita. Jika kau benar-benar menyerangku, maka aku bisa cedera parah. Kita baru mulai berpacaran kemarin. Apa aku mau macam-macam denganmu hari ini? Apa Kau pikir aku hidung belang? Aku bahkan tidak memikirkannya.” Ucap Akui Dong Man.
Ae Ra tak percaya Dong Man sungguh tidak bisa berpikir, menurutnya mereka memang baru pacaran sehari, tapi sudah berteman selama bertahun-tahun bahkan mereka Sudah 20 tahun menjadi teman yang lugu. Dong Man terlihat binggung.
Ae Ra pikir Apa itu manusiawi dan haruskan mereka sekaku itu, bahkan Dong Man terus menyamakan dengan seseorang seperti Fedor dan itu membuatnya kesal menurutnya Mungkin hubungan mereka membutuhkan sebuah titik balik dan sudah sangat lama menunda untuk berciuman setelah 23 tahun.
“Bukankah kita harus menebus awal yang tertunda ini?” kata Ae Ra duduk diatas ranjang dan sedikit mendekat.
“Kau sungguh progresif.” Ungkap Dong Man gugup. Ae Ra pikir harus terus bicara. Dong Man mengelengkan kepala lalu mulai mendekat ingin mencium Ae Ra.

Tiba-tiba Joo Man masuk kamar dengan tatapan lugunya, dan langsung berbaring diatas tempat tidur bertanya apakah masih ada sisa minuman keras. Ae Ra mengeluh pada Dong Man kalau sudah menyuruh mengganti kode sandi karena rumahnya bukan pusat masyarakat.
“Hei, apa kalian mau makan udang dan arak Tiongkok?” tanya Joo Man tanpa rasa bersalah. 
“Dasar berengsek. Aku ingin menampar wajahmu.” Ungkap Dong Man kesal. Joo Man melihat keduanya seperti tak mengerti. 

Keempatnya jalan bersama, Dong Man bertanya apakah  Joo Man yakin bisa bolos kerja hari ini. Joo Man mengaku bisa bolos kerja demi pertandingan debut sahabatnya. Sul Hee pikir sudah membesarkannya sejak enam tahun jadi harus datang.
“Perlukah kita membeli obat penenang di perjalanan?” pikir Ae Ra.
“Aku tidak bisa bertanding jika memakai obat.” Ucap Dong Man. Ae Ra mengatakan itu bukan untuk Dong Man tapi untuk dirinya.
Mereka bertemu dengan si pemilik villa. Bibi Ganako melihat keempatnya, dan bertanya apakah  mereka mau ke suatu tempat. Dong Man mengaku ada kegiatan. Bibi Ganako memanggil Kamar 102. Dong Man pikir Tentang uang sewa.
Bibi Ganako mengatakan bukan itu lalu mengucapkan “Semoga berhasil.” Lalu bergegas pergi. Dong Man tak percaya mendengarnya, Joo Man pikir si bibi mengumpatnya. 

"Gelanggang Dongchun"
Pelatih Hwang memberikan nasehat agar segera menjegal mereka dan langsung serang. Joo Man yang memberikan pijatan dibelakang juga memberikan nasehat kalau Dong Man tidak boleh jatuh dan Teknik lantaiya  tidak begitu bagus. Pelatih Hwan meminta Dong Man agar mencoba rubuhkan lawannya sejak awal dengan tendangan.
“Para petarung taekwondo memiliki teknik lantai yang payah.” Kata Joo Man ikut memberikan nasehat.
“Tendanganmu... Hei, sedang apa kau di sini?” kata Pelatih Hwang.
“Dahulu aku manajernya. Bisa berikan aku kaus juga, Sasana Hwang Jang Ho?” kata Joo Man
Pelatih Hwang tak pul meminta agar Joo Man mengingat tendangan dan menghajar lawanya. Dong Man mengangguk mengerti.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Posting Komentar