Minggu, 04 Juni 2017

Sinopsis The Best Hit Episode 3

PS : All images credit and content copyright : KBS
Hyun Jae turun dari mobil dengan hujan yang turun dengan deras dan langsung berganti pakaian dalam kamarnya lalu mendengar pesan yang masuk ke dalam pagernya.
“Hei, kenapa kau tidak mengangkat teleponmu setelah menyebabkan kekacauan besar begini?” teriak Kwang Jae. Hyun Jae sengaja bicara ditelp kalau mungkin Kwang Jae juga tak akan mengangkat kalau jadi dirinya.
“Dengar baik-baik. Semuanya semakin berantakan. Apa kau di studio? Kau harus segera lari. Kau tidak boleh ada disana.” Ucap Kwang tae
“Aku tidak mau pergi.” Ucap Hyun Jae lalu menutup ponselnya.
Akhirnya ia keluar rumah dan tiba-tiba hujan berhenti dengan awan yang terlihat aneh, dengan papan yang jatuh ke arahnya tak sengaja meluncur dan keluar di gedung. 

Di mobil
 Woo Seung berteriak kesal pada MC Drill agar Jangan berisik. MC Drill merasa tak ada yang dilakukanya dan kembali membahas kalau Yoon Ki dan sahabat Woo Seung berpacaran. Ji Hoon akhirnya menyuruh MC Drill agar tak perlu membahasnya lagi.
“Aku sangat terkejut. Hei, mereka sudah berpacaran lebih dari 6 bulan. Wah! Bagaimana kau bisa tak tahu?” ucap MC Drill sengaja memanasinya. Woo Seung tetap diam saja.
“Aku juga tak suka begini. Kau benar-benar tidak tahu pacar dan sahabatmu begitu...” kata MC Drill, Woo Seung tak bisa menahan amarah memukul MC Drill agar mengentikan ucapannya.
Ji Hoon mencoba untuk merelai keduanya, lalu memberitahu Woo Seung melihat didepan. Woo Seung langsung menginjak rem dan semua panik karena didepan mereka tadi itu orang. MC Drill merasa Woo Seung itu menabraknya. Woo Seung mengaku tak menabraknya.


Akhirnya ketiganya turun dari mobil,  Woo Seung berusaha menyadarkan Hyun Jae yang tergeletak di jalan. Hyun Jae seperti setengah sadar ingin mengatakan sesuatu. Ji Hoon memberitahu Woo Seung itu menginjak tangannya.
Woo Seung langsung menarik kakinya, saat itu Hyun Jae terlihat tak sadarkan diri. MC Drill panik menyuruh mereka agar memanggil ambulance karena berpikir korbanya itu sudah mati. 

Ketiganya membawa Hyun Jae ke rumah sakit, Dokter hanya mengatakan kalau Hyun Jae tertidur. Ketiganya kaget, Dokter memeriksa kalau Tidak ada luka apapun dan hanya tertidur saja. Woo Seung tak habis pikir kalau  tadi Hyun Jae ditabrak mobil jadi tak mungkin tidur.
“Sepertinya dia sangat lelah. Dia kelihatan tidur dengan lelap.” Kata Dokter. Saat itu perawat datang memberitahu ada pasein gawat mengalami  pendarahan otak. Dokter pun segera pergi dengan meminta memeriksa alat vitalnya.
“Dokter, bagaimana dengan dia?” tanya Woo Seung binggung. Dokter menyuruh agar membiarkan Hyun Jae istirahat dan akan memeriksanya lagi saat sudah terbangun.

Woo Seung merasa tak yakin kalau Hyun Jae itu hanya tertidur, MC Drill takut kalau Hyun Jae itu tidur selamanya, Ji Hoon meminta agar temanya itu Jangan bicara sembarangan dan Hyun Jae hanya tidur. Woo Seung memikirkan biaya rumah sakit.
“Aku menelepon pihak asuransi dan mengajukan klaim.” Kata Ji Hoon.
“Biaya asuransimu akan sangat tinggi. Semua ini salahnya.” Kata MC Drill menunjuk pada Woo Seung.
“Tapi, aku yakin tak menabraknya dan pasti tahu jika menabraknya.” Ucap Woo Seung. MC Drill menyuruh Woo Seung tanggung jawab sendiri.
“Kau seharusnya tidak membuat keributan saat aku sedang menyetir.” Kata Woo Seung kembali ingin berkelahi.
Ji Hoon menyuruh keduanya berhenti bertengkar, mengajak mereka pulang dan menunggu di rumah karena Rumah sakit akan menghubungi jika terjadi sesuatu selain itu Tak ada yang bisa dilakukan disini.


Ketiga masuk kamar, Ji Hoon membereskan pakaian kotor meminta maaf karena meninggalkan rumah terburu-buru tadi pagi. MC Drill pikir Woo Seung bisa melihat sendiri,  Tak ada tempat untuknya di ruangan sempit ini jadi Jangan tinggal lama-lama. Woo Seung dengan ketus kalau tak akan mau lama-lama tinggal kamar temanya.
“Aku akan pergi saat aku dapat rumah lagi, jangan khawatir.” Ucap Woo Seung, Mc Drill pikir itu bagus Ji Hoon langsung membungkam mulut temanya kalau hanya bercanda menyuuh Woo Seung tinggal saja di kamarnya.
“Apa aku tidur disini?” kata Woo Seung menunjuk di lantai. Ji Hoon melarangnay dan berpikir akan mengunakan kamarnya saja. Woo Seung pikir tak bermaksud begitu.
“Kita bahkan tidur bersama. Bagaimana rasanya jika wanita dan pria tinggal bersama?” kata MC Drill kembali menyindir.
Woo Seung melirik sini, MC Drill bertanya apakah Woo Seung merasa takk nyaman. Woo Seung mengaku tak tahan dengan wajah MC Drill tapi  akan menahannya. MC Drill merasa kalau mendapatkan sinyal dan membuka pintu kamar mandi. Ji Hoon langsung menguncinya.
“Selama aku tinggal disini, maka aku akan membayar uang sewanya.” Kata Woo Seung memasukan selembar uang pada tempat pensil. Ji Hoon sedikit gugup mengangguk setuju.
“Aku akan pergi dan akan hidup sesuka hatiku. Anggap saja rumah sendiri karena kau membayar sewa juga.” Kata Ji Hoon


Woo Seung melihat ada tangga dan bertanya apakah ada di lantai atas. Mereka berada diruangan atap yang mirip dengan banyak barang dalam kardus. Woo Seung pikir bisa tinggal disini jika membersihkannya sedikit. Ji Hoo memberitahu Tempat ini bekas gudang, jadi mungkin  Woo seung akan merasa tak nyaman.
“Langit-langitnya juga begitu rendah.” Kata Ji Hoon dengan kepala yang selalu menunduk.
“Aku selalu tinggal di tempat kecil, bahkan juga pernah hidup dibawah kardus.” Ucap Woo Seung yang terbiasa hidup susah. Ji Hoon pun mengajak untuk mulai membereskan saja.
Tapi Ji Hoon yang terlalu tinggi membenturkan kepalanya, Woo Seung panik menanyakan keadaanya. Ji Hoon akhirnya balik bertanya tentang keadaan Woo Seung. Woo Seung binggung apa maksudnya. Ji Hoon mengatakan tentang semuanya.
“Aku baik-baik saja. Aku dikhianati oleh sahabatku sendiri, dicampakkan oleh pacarku sendiri. Lalu Aku dibawa ke kantor polisi dan menabrak seseorang, namun... Aku harus belajar sekarang. Ujiannya sebentar lagi.” Kata Woo Seung
“Oh, kau butuh baju ganti?” tanya Ji Hoon. Woo Seung mengaku akan berterima kasih jika mau memberikannya. Ji Hoon pun keluar emilih baju ganti.
“Kardus, atau tempat ini... Aku bahkan tak bisa berdiri tegap di hidupku.” Kata Woo Seung membereskan beberapa barang. 
MC Drill tidur dengan nyenyak dilantai, sementara Ji Hoon seperti tak bisa tidur dengan menatap kearah lantai atas ada Woo Seung yang tinggal dikamarnya. Sementara Woo Seung juga tak bisa tidur memaiankan lampu yang biasa dipakain dikepalanya. 

Pagi hari
Ji Hoon terlihat kesal karena jam tanganya yang tak bisa menyala, jam tangan yang sama dengan milik Hyun Jae. Akhirnya ia menaruh diatas meja. Woo Seung baru keluar dari kamar mandi mengeluh MC Drill yang tak pakai baju padahla yang baru selesai mandi itu dirinya. 
“Dia selalu berolahraga tiap pagi.” Ucap Ji Hoon agar Woo Seung memakluminya.
“Kau boleh pindah jika merasa kurang nyaman.” Kata MC Drill. Woo Seung menegaskan bukan tak nyaman tapi hanya merasa kurang senang.
“Yah... Begitulah cara membuat orang lain tak nyaman.” Ucap MC Drill sengaja memperlihatkan ototnya. Woo Seung malah makin merasa MC Drill itu menjengkelkan.
“Hee.. Kenapa kalian berdua selalu bertengkar? Apa kalian tak bosan?” kelh Ji Hoon merelai keduanya. 

Tiba-tiba MC Drill merasakan sesuatu dan langsung masuk ke dalam lemari, Woo Seung binggung. Ji Hoon langsung mendorong Woo Seung agar segera bersembunyi masuk ke dalam kamar mandi. Mal Sook masuk memanggil Ji Hoon agar turun untuk sarapan.
“Apa aku harus memanggil Oppa tiap pagi? Rasanya aku bisa cepat tua kalau begini terus.” Keluh Mal Sook yang terlihat bertingkah seperti orang dewasa.
“Kau tetaplah anak SD bahkan jika kau jadi tua. Aku akan mandi dan turun.” Ucap Ji Hoon menyuruh Mal Sook untuk turun lebih dulu.
Mal Sook mengendus dengan hidungnya dan berpikir kalau ada orang lain di kamarnya. Ji Hoon panik menyangkalnya, Mal Sook tetap merasa yakin ada orang lain. Ji Hoon pun menyakinan kalau tak ada. Mal Sook akhirnya keluar dari kamar. 

Woo Seung keluar dari kamar bisa bernafas lega tak percaya MC Drill bisa tahu Mal Sook akan datang. MC Drill mengaku kalau selalu bersembunyi selama 3 tahun. Woo Seung merasa kalau Badannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
“Jam berapa kau pergi les? Kita harus ke rumah sakit.” Ucap Ji Hoon

“Aku akan menyusulmu nanti, karena harus mengambil barangku di rumah orang itu.” Kata Woo Seung sedikit kesal
“Omong-omong, dia... akan baik-baik saja, kan?” kata Woo Seung merasa khawatir dan keduanya seperti memikirkan sesuatu. 


Dokter memberikan alat kejut jantung beberapa kali, jiwa Hyun Jae seperti melayang kembali ke tahun 93.
Flash Back
Kwang Jae kaget mengetahui Hyun Jae yang  pindah label. Hyun Jae hanya diam saja dengan gaya sombongnya. Kwang Jae tahu mereka akan bangkrut tanpa Hyun Jae. Seorang wanita mengaku sudah membuatnya mendapatkan perjanjian dengan J2.
“Bagaimana kau bisa bekerja bersama mereka tanpa penandatanganan kontrak? Apa mereka bekerja seperti itu?” kata si wanita

Pengumpuman pemenang Ingayo Top 10 minggu ini,urutan pertama jatuh kepada... J2 dan mendapatkan Golden Cup-nya. Hyun Jae menerima banyak bunga sebagai hadiah dari teman-temanya.
Kwang Jae bahagai melihat piala yang diraih artisnya. Hyun Jae pun memberitahu J2 akan bubar mulai hari ini dan Hari ini hari terakhir J2.
Dokter kembali memberikan alat kejut  350 Joules, Hyun Jae terbangun tapi pasien disampingnya yang menerima kejut jantung, tapi ia terbangun dengan botol dipunggungnya. Lalu Ia duduk melihat sekeliling dan tersadar kalau sudah ada di rumah sakit , mengingat sebelumnya tak sadarkan diri.
Di sambil ruangan terlihat bayangan dua perawat membahas kalau  pertama kalinya artis masuk rumah sakit dan sangat tampan. Hyun Jae dengan bangga kalau memang cukup menawan. Perawat merasa kalau artis itu tak ganteng di televisi tapi lebih tampan kalau dilihat langsung.
Hyun Jae makin bangga mendengarnya, Mereka lalu membahas wartawan yang sudah diluar menurutnya kenapa kecelakaan bisa seheboh ini. Hyun Jae panik memikrkan Wartawa dan merasa kalau harus diam-diam pergi, lalu kebingungan memikirkan cara menghubungi Kwang Jae, lalu melihat peban diatas meja. 

Dua perawat mengintip dari balik tirai, MJ merasa risih langsung menutupnya lalu meminta managernya agar diberikan  ruangan VIP Managernya bertanya bagaimana MJ bisa kecelakaan. MJ kesal karena managernya malah bertanya "bagaimana"
“Disana bukan seperti tempat kecelakaan terjadi. Jalanannya juga besar. Kurasa kau sengaja kecelakaan untuk menghindari sebuah acara.” Ucap Managernya. MJ merasa managernya sedng membuat lelucon.
“Kau tahu jantungku ini lemah. Untuk apa aku pergi ke acara penerbitan Anggota Kongres? Kau tahu aku paling benci dengan buku.” Kata MJ akhirnya kesal.
Managernya memberitahu kalau Tuan Park  agak sedikit marah karen tahu atasanya bukan orang baik. MJ tak mau banyak bicara meminta agar managernya mencarikan ruangan VIP. Managernya memberitahu Tuan Park yang ingin tetap datang kecuali kakinya patah. MJ kesal sendiri memilih untuk tidur kembali. 

Hyun Jae sudah mengunakan perban diwajahnya agar tak terlihat dan melihat ada banyak wartawan lalu memikirkan rencananya. Akhirnya ia mengikuti perawat yang membawa alat medis, tapi berbeda arah. Ia pun berusaha sembunyi dibalik pintu sampai akhirnya melihat nenek dengan kursi roda.
Ia bersembunyi dibaliknya, saat itu cucunya datang memanggil mengajaknya pergi, perban yang dipakaian Hyun Jae malah tertarik dan terlepas dari wajahnya. Hyun Jae panik langsung berlari sampai ke dalam pintu dan memegangnya. Wartawan yang melihat tingkah Hyun Jae malah heran.

Hyun Jae panik ada banyak orang disamping pintu, salah satu orang pria mengetuknya meminta agar memindahkan tanganya. Hyun Jae yang menutupi wajahnya meminta agar tidak mengambil gambar. Pria itu kembali meminta Hyun Jae melepaskan tangannya.
Hyun Jae akhirnya melepaskan dan berpikir kalau sudah puas bisa melihat wajahnya. Si pria kesal kalau Hyun Jae harus melepaskan tangannya dari kacanya. Hyun Jae mengangkat tanganya dan melihat kalau pintu itu otomatis jadi tak boleh disentuh oleh tangan.
Hyun Jae keluar dari rumah sakit binggung ternyata wartawan datang bukan untuk meliputnya, lalu berpikir itu pasti Lee Kyung Kyu Ahjussi. Seperti acara ”Hidden camera!” yang sedang hits. 

Saat itu Hyun Jae ketakutan melihat drone yang tiba-tiba melayang didepanya, Seorang anak pun meminta maaf dan membawa drone pergi. Hyun Jae melihat sekeliling. Tuan Jang berdiri disamping Hyun Jae berkomentar Dunia benar-benar berubah.
“Gunung dan lahan bisa berubah dalam 10 tahun, tapi sekarang 20 tahun sudah berlalu... 20 tahun... Sadarlah jika kau ingin kembali.” Ucap Tuan Jang. Hyun Jae binggung bertanya siapa orang itu
“Ya, ayo bertemu sebelum kau pergi. Aku tak tahu kapan kau kembali saat aku pergi.” Kata Tuan Jang yang berbicara dengan hands free. Hyun Jae makin melonggo melihat kendaraan roda dua yang dipakai oleh Tuan Jang.
Hyun Jae menatap layar besar didepanya, terlihat iklan  “Greatest Music Concert” dengan banyak artis pada 30 Juni 2017 di Monster Hall dengan Tuan Park sebagai ketua Agency. Hyun Jae tak percaya kalau ini tahun 2017. 


Ji Hoon mengemudikan mobilnya, MC Drill binggung karena harusnya  belok kiri. Ji Hoon mengatakan aklau harus ke sebuah tempat sebelum ke rumah sakit. MC Drill bertanya kemana akan pergi, lalu menebaknya. Ji Hoon tahu Woo Seung itu membawa banyak barang jadi tak mungkin bisa membawanya semua.
“Bro, stop. Kenapa kita harus membantu wanita itu?” keluh MC Drill.
“Siapa yang menyuruhmu ikut membantu? Tunggu saja dibawah.” Kata Ji Hoon. MC Drill mengeluh kalau tak mau melakukanya dan tiba-tiba kursinya terdorong kebelakang. Ji Hoon merasa kalau harus memperbaiki kursi itu.

Woo Seung membereskan barang-barangnya dalam kardus, ponselnya berdering dari “Si Perusak Mood” dengan wajah kesal menanyakan pada ibunya apa lagi sekarang menelpnya.  Ibunya mengingat anaknya yang  menelepon kemarin lalu bertanya  Apa terjadi sesuatu. Woo Seung yang kesal mengaku tak terjadi apa-apa.
“Ibu bermimpi dan perasaanku tak enak. Kau tahu mimpi Ibu seperti ramalan masa depan, 'kan?” ucap Ibu Woo Seung
“Aku sibuk. Kalau Ibu hanya mau bicara hal tidak penting, matikan saja.” Kata Woo Seung kesal
“Kau muncul di mimpi Ibu. Ada lalat atau lebah yang bertebangan kesana kemari. Serangga itu terus ada dimulutmu, bukan hanya sekali, tapi sampai tiga kali. Hati-hati dengan mulutmu.” Kata Ibu Woo Seung 

Woo Seung langsung menutup telp merasa kalau itu  mimpi tak masuk akal dan entah kenapa tiba-tiba bertingkah seperti seorang Ibu, saat itu terdengar bunyi suara bel rumahnya lalu kaget melihat Ji Hoon yang datang. Ji Hoon masuk ke kamar, Woo Seung pikir untuk apa Ji Hoon datang.
“Kau bilang kau akan mengemas barangmu. Aku akan membantu. Tapi Kenapa barangmu sedikit sekali?” kata Ji Hoon melihat hanya ada beberapa kardus.
“Aku selalu hidup dengan orang lain sejak kecil. Memiliki banyak barang bisa membuatku sedih. Apa yang kau tahu saat kau hidup sangat enak?” ucap Woo Seung. Ji Hoon mengeluh hidup enak seperti apa.
“Aku bisa mengemas buku-buku ini, 'kan?” kata Ji Hoon membantu. Woo Seung pun menunjuk kardusnya.
Tiba-tiba suasana terasa canggung dengan dua orang saling menatap, Woo Seung mengalirkan air matanya, lalu menjelaskan agar Ji Hoon tak salah paham. Ia terus menangis karena kantung air matanya bocor jadi bisa dianggap saja sedang menguap. Ji Hoon pikir tak mengatakan hal itu.
“Aku sudah lama berhenti menangis mengenai masalah itu. Pikirkanlah dengan baik. Ada orang yang harus kulupakan Dan sekarang, aku harus melupakan dua orang sekaligus. Hebat, kan?” ucap Woo Seung. Ji Hoon pun memuji Woo Seung keren
“Aku memang keren karena aku Choi Woo Seung.” Kata Woo Seung bangga memasukan beberapa makanan instant ke dalam kardus. Ji Hoon binggung untuk apa Woo Seung membawanya. 


“Kita membeli semua ini bersama, jadi Setengahnya milikku.” Ucap Woo Seung lalu melihat barang-barang yang membeli bersama agar dibagi dua dan melihat celemek
“Tak usah dibawa. Biarkan dia menyimpannya.” Kata Ji Hoon. Woo Seung tak terima karena temanya itu mendapatkan si brengsek mantan pacarnya.
“Aku takkan pergi tanpa semua barangku.” Kata Woo Seung, lalu melihat boneka beruang karena hadiah jadi membaginya, dan mengambil bagian kepala boneka.
Ji Hoon hanya bisa melonggo, Woo Seung melihat barang-barang milik bersama kalau memenangkan laptop itu di perlombaan makan ayam. Ji Hoon bingggung Bagaimana membagi laptop jadi dua. Woo Seung tanpa ragu membagi bagian layar dan keyboard. Ji Hoon menghela nafas karena Woo Seung malah merusaknya.


Hyun Jae pergi ke toilet binggung karena tak ada keran untuk mencuci tangan, seorang pria datang mengeluarkan air dengan menaruh dibawah keran, Hyun Jae melonggo melihat air yang keluar dengan sendirinya. Ia merasa tak percaya tahun 2017 semua terlihat otomatis.

Hyun Jae pergi ke bagian informasi menanyakan telepon umumnya. Si pria yang sudah tua mengingat  telepon umumnya ada di suatu tempat. Hyun Jae pun ingin tahu tempatnya. Si bapak yakin Pasti ada disuatu tempat. Hyun Jae bertanya dimana tempatnya. Si bapak akhirnya menyuruh Hyun Jae pergi di belakang pintu itu.

Hyun Jae berjalan sambil mengeluh sulit sekali mencari telepon umum. Dua wanita melihat gaya pakaian Hyun Jae langsung berkomentar kalau terlihat sangat kuno. Hyun Jae yan mendengarnya merasa menusuk di hatinya.
“Dimana dia membeli pakaiannya? Dia benar-benar fashion terror. Apa dia dari desa?” ucap salah satu wanita.
“Hei, orang dari pedesaan pun tidak berpakaian seperti itu. Dia benar-benar merusak pemandangan.” Komentar wanita lainya.
Hyun Jae seperti merasakan tubuhnya berat terkena komentar pedas dari orang-orang. Keduanya heran melihat Hyun Jae bergerak-gerak sendiria. Hyun Jae kesal dianggap orang kuno padahal dirinya itu Yoo Hyun Jae. 

Defconn melihat video di ponsel dan memujinya, Hyun Jae mendekat menanyakan keberadaan telepon umum. Defconn binggung lalu berpikir kalau itu karena baterainya sepertinya habis dan menyuruh agar mengunakan ponselnya saja.
“Hah? Bukan begitu. Aku butuh telepon umum.” Kata Hyun Jae. Deffcon pun menyuruh Hyun Jae mengunakan ponselnya saja.
“Tidak, aku butuh telepon.” Kata Hyun Jae. Defcon pun membiarkan Hyun Jae agar mengunakan handphonenya saja. 

Hyun Jae terdiam mengingat saat ditahun 93 menonton kartun dengan handphone yang itu tangan yang diberi antena untuk menelp.  Akhirnya ia duduk meminta agar bisa menelepon sekali. Defcon merasa kalau itu ponsel artis tapi membiarkan Hyun Jae mengunakanya. Hyun Jae memakai tangan Deffcon untuk menelp.
“Bagaimana caranya memencet nomornya?” tanya Hyun Jae binggung. Deffcon melonggo binggung dengan tingkah Hyun Jae, akhirnya memilih pergi karena managernya sudah datang dengan berteriak kalau baru saja bertemu dengan orang aneh.

Bo Hee melamun di toko roti mengingat jawaban saat acara radio yang memalukan. Kwang Jae datang menenangkan Bo He kalau itu hanya kesalahan dan semua orang pasti banyak membuat kesalahan, Bo Hee seperti merasa tak yakin.
“Baik. Aku yang salah. Aku tidak mengerti dengan Hwa Jung Noona. Kenapa dia memberikan pertanyaan sesulit itu? Aku jadi semakin marah karena memikirkannya.” Ucap Kwang Tae.
“Semua itu karena aku bodoh.” Kata Bo Hee. Kwang Tae mengeluh si Bodoh itu memang salah seperti mengejek Bo Hee dengan jawabanya.
Tiga orang gruppis datang datang memanggil Bo Hee dan mengetahu kalau itu adalah wanita toko roti itu. Kwang Jae memarahi ketiga yang berbicara pada orang yang lebih tua. Ketiganya memuji Bong Hee yang keren saat rekaman radio itu. Keduanya binggung.
“Radio yang bisa Anda lihat. Dia viral di sosial media.” Ucap Salah satunya memperlihatkan ponsel ditanganya.
Keduanya melihat saat Bo Hee sedang siaran dan videonya diedit dengan mengejeknya bodoh. Kwang Jae kesal menyuruh mereka segera menghapusnya. Bo Hee merasa makin malu. Si remaja memberitahu kalau Penontonnya sudah banyak.


Mc Drill heran karena mereka sudah sampai di rumah sakit, Ji Hoon memberitahu kalau Choi Woo Seung. MC Drill kesal melihat Woo Seung yang bisa tidur dengan keadaanya sekarang. Ji Hoon pikir lebih baik membiarkan saja karena Woo Seung belum tidur sejak semalam.
“Apa Kau pikir aku juga tidur semalam?” kata MC Drill kesal
“Ya, kau tidur dengan sangat nyenyak bahkan mendengkur juga.” Ejek Ji Hoon dan mengajak segera masuk rumah sakit. MC Drill pergi lebih dulu. Ji Hoon pun memberikan selimut pada Woo Seung yang tertidur. 

Ji Hoon kaget mendengar kalau Hyun Jae sudah pergi,  Perawat memberitahu Hyun Jae sudah tak ada dari pagi jadi menurutnya sudah keluar. Ji Hoon pun bertanya apakah Hyun Jae meninggalkan nomor ponselnya. Perawat mengatakan tak ada.
“Dia takkan muncul tiba-tiba dan meminta uang, kan? Aneh sekali dia pergi tanpa mengatakan apapun.” Ucap MC Drill
“Aih, ini tidak benar... dimana dia?” kata Ji Hoon khawatir. 

Hyun Jae menemukan telp umum berusaha untuk menelp dengan pagernya, tapi telp yang dituju salah. Akhirnya ia mencoba menelp rumah dengan buku telpnya, tapi tetap tak menyambung. Ia mencari telp kantor, tetap saja salah menekan nomornya.
Ia menatap sebuah poster festival  yang diadakaan di Monster Hall - 30 Juni 2017, Pukul 6 Sore, Star Punch. Lalu jatuh duduk lemas dalam ruangan telp umum, Ia seperti tak percaya kalau memang  benar-benar melompati waktu dan memikirkan acaranya. Hyun Jae mengingat saat menuruni tangga dengan papan seperti pindah dimensi, seperti mesin waktu.
“Yoo Hyun Jae, sadarlah. Sekalipun macan membawamu, jika kau masih punya akal sehat dan kau bisa melaluinya.”ucap Hyun Jae menyakinkan dirinya.
“Apa maksudmu kau bisa melaluinya? Ini Tidak bisa” kata Hyun Jae frustasi menutup matanya.
Flash Back
Kwang Jae berteriak memanggil Hyun Jae menyuruhnya mandi dan pergi, Hyun Jae terlihat masih mengantuk. Kwang Jae akhirnya memapahnya agar segera mandi sambil mengeluh kalau tak bisa melakukan tanpa dirinya.
“Ya, Lee Kwang Jae. Aku harus menemukannya. Tapi Aku harus kemana untuk sampai ke kantor?” ucap Hyun Jae binggung melihat jalan yang tak dikenalnya. 

MJ duduk diruangan Ketua Park sambil memainkan ponselnya. Ketua Park menanyakan alasan MJ yang tak pernah menjawab telpnya padahal  terus menatap ponselmu begitu. MJ Menyangkalnya. Tuan Park menjelaskna kalau mereka  sudah berjanji untuk membawa MJ ke acara itu tapi tak datang, menurutnya artisnya itu tak tahu arti acara itu.
“Aku mengalami kecelakaan.” Ucap MJ membela diri.
“ Tapi kakimu tidak patah. Kau harus datang jika sudah berjanji.” Ucap Tuan Park. MJ menegaskan kalau Tuan Park yang berjanji bukan dirinya.
“Apa kau sedang mengalami puber? Apa yang harus kau lakukan adalah minta maaf.” Kata Tuan Park. MJ pun akhirnya tertunduk meminta maaf.
“Aku bisa pergi sekarang, 'kan?” kata MJ ingin pergi. Tuan Park melarang menyuruh MJ duduk kembali dan
“Kau pernah naik roler coaster, 'kan? Untuk sampai ke titik ini, sulit mendapatkannya, namun untuk jatuh, semuanya terjadi dalam sekejap. Aku memberitahumu sebagai seorang Sunbae. Untuk sampai ke titik ini, bagiku tidak terlalu sulit. Yang harus kau lakukan adalah minta maaf, tapi kau terus membuatku marah.” Tegas Tuan Park menasehati dengan kesal menaikan kembali kursinya yang selalu turun sendiri.
MJ pun kembali meminta maaf dan bertanya apakah bisa pergi  sekarang. Tuan Park berteriak marah lalu menyakin kalau MJ tidak sedang melakukan sesuatu dan menegasakan kalau mereka keluarga jadi Tidak boleh ada rahasia. Saat itu seorang wanita masuk dengan nada tinggi. 


“Oppa, kenapa kau tidak mengangkat panggilanku?” teriak Si wainta. Tuan Park mengaku Bukan tak mau mengangkatnya. MJ mendengarnya mengejek Tuan Park yang dipanggil Oppa.
“Yang harus kulakukan adalah minta maaf...” ucap si wanita lalu sadar kalau ada MJ dan menayapnya. MJ pun menyapa dengan ramah. Tuan Park memberitahu kalau harus bicara dengan MJ.
Nyonya Park kesal kalau bukan hanya Tuan Park yang sibuk tapi dirinya juga sibuk, MJ Pun ingin pamit pergi. Nyonya Park membahas  masalah World Villa dan apa yang dilakuan  dengan semua uang itu tanpa sepengetahuannya. Tuan Park pikir akan akan menjelaskannya nanti. Nyonya Park berteriak kesal.
“Berapa kali kukatakan tidak boleh ada rahasia diantara kita?” ucap Nyonya Park kesal
“CEO Park, Anda tidak boleh menyimpan rahasia. Kita ini keluarga.” Ejek MJ lalu keluar dari ruangan. Tuan Park hanya bisa mengumpat kesal. 


Hyun Jae menutupi wajahnya ketika ada remaja yang lewat tapi tak ada yang mempedulikanya, merasa kalau tak perlu melakuanya. Lalu tersadar dengan mobil didepan rumah sakit dengan stiker J2, tapi meurutnya itu tak mungkin miliknya.
“Tapi, ini benar-benar mirip. Bagian ini penyok saat aku coba memarkirkannya.” Kata Hyun Jae dibagian belakang, tapi merasa itu tak mungkin.
“Tapi Apa ini mobilku??” kata Hyun Jae akhirnya mencoba memasukan kunci dan pintunya terbuka. Ia pun binggung sendiri kenapa mobil itu ada rumah sakit dan akhirnya membawanya pergi. 

Tuan Lee makan bersama Mal Sook di meja makan, Kwang Jae datang, Tuan Lee menanyakan Bo Hee yang tak sarapan. Kwang Jae mengatakan Bo He yang tak mau makan. Tuan Lee heran padahal Bo Hee itu sangat suka mie tapi malah tak mau makan. Mal Sook pun meminta izin agar bisa makan mie milik Bo Hee. Kwang Jae pun mempersilahkanya.
“Kau membawanya jadi bintang tamu di siaran radio itu dan jadi seperti ini. Kudengar dia ingin ikut program Burning Youth atau Flaming Youth itu.” Ucap Tuan Lee menyalahkan anaknya.
“PD acara itu. Dia menyuruhku menemukan Hyun Jae supaya Bo Hee bisa tampil di acaranya.”kata Kwang Jae. Tuan Lee pikir PD Park itu gila.
“Kakek, jika ini sisa Kakek, boleh aku makan juga?” ucap Mal Sook seperti sangat suka mie. Tuan Lee mengataka kalau masi ingin memakanya.
“Itu TV KBC, 'kan? Yoon PD-nim kepala bidangnya, kan? Dia dan aku sudah seperti saudara. Aku akan menghubunginya.” Kata Tuan Lee.
“Yoon PD-nim sudah lama meninggal dunia.” Ucap Kwang Jae. Tuan Lee kaget kalau sudah meninggal lalu mengeluh kalau tidak bilang temanya sudah meninggal. 

Di depan rumah sakit, Ji Hoon melonggo melihat mobil yang sudah tak ada di depan rumah sakit. Woo Seung berteriak marah pada Choi Woo Seung yang membawa mobil. Sementara Hyun Jae yang mengemudikan mobilnya tak percaya melihat Seoul di tahun 2017 dan ingin pindah jalur tapi membuat mobil belakang memberikan klakson.
“Ada apa? Apa Kita belum sampai di rumah sakit?” ucap Woo Seung akhirnya terbangun dari tidurnya, Keduanya sama-sama kaget melihat ada orang didalam mobil.
Woo Seung memukul dengan bindet, Hyun Jae tak bisa mengendalikan kemudinya dan sempat berpindah arah. Woo Seung menyuruh Hyun Jae berhenti, Hyun Jae bisa menarik bindet tak memukulnya bertanya siapa Woo Seung ada dimobilnya. Woo Seung mengeluarkan sikat WC menyuruh Hyun Jae berhenti.
“Kita bisa kecelakaan nanti. Aku tidak tahu siapa kau, kumohon tenanglah.” Ucap Hyun Jae menahan sikat agar tak kena mulutnya. Woo Seung mengeluarkan pengorengan sebagai peringatan terakhir.
“Jangan gunakan itu. Kau tidak boleh menggunakannya.” Ucap Hyun Jae. Woo Seung berteriak memberitahu kalau ada lampu merah, Hyun Jae menginjak rem mendadak, tubuh Woo Seung melayang dan akhirnya mendarat tepat di bibir Hyun Jae. Keduanya berciuman pertama kali tanpa sengaja.
Bersambung ke episode 4

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


Tidak ada komentar:

Posting Komentar