Kamis, 08 Juni 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 17

PS : All images credit and content copyright : SBS
Ji Wook membaca pesan Bong Hee “Aku sedang di jalan ke Taman Hanmoo untuk bertemu Ko Chan Ho.” Lalu bergegas panik mengemudikan mobilnya, mengingat kembali dengan kejadian sebelumnya saat sang ayah yang terjebak dalam api lalu ibunya memeluk erat untuk menenangkanya saat tidur.
“Seorang penyair pernah berkata : "Pada umumnya, kau dapat memprediksi dimana permulaannya. Tapi kita tidak dapat memprediksi akhir dari itu."  Dalam kasusku, itu adalah kebalikannya.”
“Dalam waktu singkat, aku harus mengalami akhir beberapa kali. Dan aku, yang ragu-ragu untuk memulai dan yang takut akan akhir dari itu.., momen saat aku sadar akan perasaanku kepadamu...”
Ji Wook menatap Bong Hee yang berteduh saat hujan turun dengan deras, seperti perasaan menyukai rekan kerjanya itu mulai muncul.  Lalu ia yang mendapatkan ungkapan perasaan Bong Hee memilih untuk menolaknya dan meminta agar Jangan menyukainya.
“Aku lari darimu. Seperti pengecut.”
Saat Ji Wook terbangun dari tidurnya meminta agar Bong Hee bisa menemaninya selama 5 menit saja.
“Dan aku gagal... karena... Aku memulai perasaan tanpa menyadarinya.< Aku terlambat menyadarinya. Aku bertanya-tanya kapan dan dengan apa insiden ini dimulai.”
Ji Wook mengingat saat pertama kali menjadi pengacara dengan saling menatap karena Bong Hee tak bisa melihatnya dengan jelas. Ia meminta Bong Hee untuk berkerja denganya dan langsung jatuh di pelukkan Bong Hee. Setelah itu Ji Wook yang menahan kepala Bong Hee agar tak terjatuh saat menemaninya tidur di sofa.
“Aku terlambat menyadarinya sehingga aku tak tahu dimana titik permulaannya.  Hanya satu hal... yang aku tahu sekarang...”
Ji Wook sampai di depan parkiran taman, melihat Bong Hee yang berjongkok didepan mobil, seperti bisa bernafas lega melihat Bong Hee yang tak sendirian pergi. 

Ji Wook menarik tangan Bong Hee sebelum masuk kamar dan langsung meminta maaf. Bong Hee seperti tak yakin kalau Ji Wook itu  bersungguh-sungguh dan ingin melihat dari mata dengan mendekatkan wajahnya. Ia lalu merasa kalau Ji Wook bicara yang sebenarnya.
Lalu Ji Wook tiba-tiba menarik Bong Hee dan langsung memeluknya, Bong Hee sempat terkejut dan Ji Wook langsung mencium Bong Hee melampiaskan perasaan suka.
“Aku tak dapat berpikir di sini. Aku hanya tahu hubunganku denganmu yang tak dapat kuhentikan untuk semakin menjauh, telah dimulai.”

Setelah berciuman keduanya saling menatap, Ji Wook memulai pembicaran dengan suasana terasa canggung,  tapi saat itu Bong Hee yang masih shock memilih untuk bergegas masuk ke dalam kamar seperti merasa melakukan kesalahan. Ji Wook pun seperti serba salah karena melakukan tiba-tiba, Bong Hee berada di kamar dengan wajah kebingungan dengan keadaanya sekarang. 

Chan Ho mengemudikan mobilnya dan melihat sebuah pisau yang dipegang oleh Hyun Joo dari kaca spion. Suasana terasa tegang, sampai akhirnya Chan Ho sengaja mengijak rem secara mendadak dan langsung keluar dari mobi. Hyun Joo menahanya sampai akhirnya keduanya berkelahi diatas jembatan.
“Sudah kubilang padamu untuk membayar kesalahanmu. Apa Kau pikir aku bercanda?” ucap Hyun Joo menarik Chan Ho agar tak kabur.
“Aku tak dapat melakukan ini lagi! Ini membuatku gila.” Teriak Chan Ho berusaha untuk melawan Hyun Joo. Sampai akhirnya melihat ke bagian bawah jembatan dan melompat.
Hyun Joo panik melihat Chan Ho melompat ke sungai, lalu berusaha untuk tenang kalau Sekarang Empat orang telah menghilang dan tiga orang akan menghilang.

Bong Hee masih gelisah dalam kamar dan kaget melihat Ji Wook sudah ada didepanya Ji Wook pun kaget lalu mengaku baru saja mau mengetuk pintu kamarnya. Bong Hee mengejek kalau itu Kebetulan yang hebat dan ia juga baru saja mau menemuinya. Ji Wook sedikit gugup mendengarnya.
“Kalau begitu, haruskah kita bicara sebentar?” ucap Ji Wook. Bong Hee pun setuju dan keduanya mulai minum bir bersama. Ji Wook merasakan jadi lebih menyegarkan dan enak. Bong Hee pun menyetujuinya. 

“Bong Hee, apa... Yang terjadi tadi...” ucap Ji Wook mulai pembicaran dan disela oleh Bong Hee lebih dulu.
“Aku cukup yakin itu bukan pertama kalinya. Jangan berbiacar sesuatu. yang sangat tak berarti seperti ini.” Ucap Bong Hee.
Ji Wook merasa bukan itu maksudnya, menurutnya tak bisa biarkan ini begitu saja. Bong Hee mengaku kalau sudah mencoba yang terbaik untuk tidak menyukai Ji Wook seperti yang diminta, lalu mengaku kalau  Sebenarnya, sudah tidak menyukai Ji Wook lagi.
“Aku tak ingin terombang-ambing karena kecelakaan kecil seperti ini Dan aku tak berencana untuk terombang-ambing juga. Jika tidak melakukanya, maka aku harus melewati waktu sulit ke depannya.” Ungkap Bong Hee yang membuat Ji Wook sedikit sedih.
“Aku sangat senang sekarang. Aku bekerja di perusahaan dimana aku bisa makan dan tidur. Rasanya seperti mimpi bisa bekerja di tempat yang bagus. Aku merasa begitu beruntung. Aku menyukai rekan kerjaku juga.” Kata Bong Hee
“Aku menyesal mendorongmu pergi.” Gumam Ji Wook.
“Aku sebenarnya berterima kasih karena menolakku. Aku bersungguh-sungguh.” Kata Bong Hee dengan sangat menyakinkan.
"Aku ingin memutar balik waktu." Itu yang aku rencanakan untuk kukatakan.” Gumam Ji Wook
“Aku senang dengan hubungan kita sekarang. Aku ingin ini bisa bertahan lama.” Kata Bong Hee lalu pamit pergi ke dalam kamar.
Ji Wook hanya bisa terdiam karena dengan sikapnya yang sebelumnya membuat Bong Hee berubah. Bong Hee menyakinkan diri kalau sudah bersikap baik sekarang. Ji Wook dan Bong Hee terlihat gelisah memikirkan hubungan mereka. 


Chan Ho akhirnya bisa keluar dari sungai dengan tubuh gemetar, sementara Tuan Byun mendorong gerobak kardus bekas yang ditarik pemulung menaiki tanjakan, saat sampai atas pun ia membiarkan si pemulung menariknya sendiri. Setelah itu melihat mobilnya yang terpakir dan mengeluh Tuan Han memarkirkan mobil di tempat itu.
Saat itu ia masuk mobil ingin menelp sopir penganti, si pemulung menghentikan gerobaknya ingin ngambil barang bekas, tapi karena jalanan menurun membuat gerobaknya berjalan sendiri. Tuan Byun melihat salah seorang wanita yang ingin tertabrak, akhirnya ia menginjak gas untuk menghentikan laju gerobak dengan menabrak mobilnya. 


Tuan Byun berbicara dengan polisi dengan gaya rendah hati mengatakan hanya melakukan tugas sebagai masyarakat di korea dan  mendengar jurnalis bahkan menulis cerita tentang hal semacam ini, tapi  menurutnya itu tak perlu. Polisi menanyakan nama Tuan Byun.
“Aku Ketua Byun dan Partner... Yah, aku dulu ketua (CEO). Sekarang, aku bekerja di Byun and... Ahh.. Tidak, Yang benar No and Ji... Yah... Pokoknya, aku pengacara. Namaku Byun Young Hee.” Ucap Tuan Byun binggung.
“Pak, aku harus memeriksa kadar alkohol Anda.” Kata Polisi ingin mengeluarkan alat pendeteksi alkohol
“Aku hanya minum dua gelas bir dan tidak masalah meniup ini.” Ucap Tuan Byun meniupnya terdengar suara kalau kadarnya lebih dari aturan. Ia pun merasa kalau alat itu rusak, Polisi merasa kalau Tuan Byun menyetir dengan mabuk dan meminta agar ikut bersamanya ke kantor. 

Ji Wook masih duduk dengan wajah galau, tanpa sadar ketua Byun yang menelpnya. Akhirnya Ia memilih untuk berolahraga menghilangkan rasa gelisahnya.
Sementara Bong Hee duduk di kamarnya mengingat kembali saat Ji Wook menciumanya, lalu mencoba menyadarkan diri kalau sudah memutuskan untuk melupakan yang sudah terjadi jadi Jangan dipikirkan. Tapi pikiran kembali mengingatnya dan kembali memohon agar bisa menghentikan itu.
Ketika keluar dari kamar, Bong Hee kaget melihat Ji Wook yang masuk rumah setelah berolahraga. Ji Wook hanya menatapnya, lalu dengan santai menaiki tangga masuk ke dalam kamarnya. Bong Hee seperti masih terasa canggung untuk bertemu. 

Bong Hee baru saja mengambil minum dan Ji Wook sudah ada didepanya, ketika ingin pergi Ji Wook seperti sengaja menghalanginya. Ji Wook pikir Karena Bong Hee yang lebih banyak bicara kemarin jadi ia ingin yang akan bicara sekarang. Bong Hee pun bertanya masalah apa.
“Pertama-tama.., aku ingin minta maaf. Aku memakan waktu lama untuk menyadari perasaanku padamu.., dan aku juga takut. Ini akan terdengar seperti sebuah alasan.., tapi aku takut akan tidak cukup baik bagimu.” Ucap Ji Wook
Bong Hee hanya terdiam memegang gelasnya, Ji Wook bertanya apakah Bong Hee sudah selesai minum. Bong Hee mengangguk. Ji Wook langsung mengambil gelas dari tangan Bong Hee dan meminumnya, seperti tak ada masalah kalau itu bekas Bong Hee.
“Karena aku memakan waktu lama.., maka kau kelihatan sudah menyerah akan perasaanmu padaku. Yahh.. Baiklah. Aku sungguh menghargai itu. Yang ingin aku katakan, Aku tak ingin memintamu untuk merubah pikiran atau menyukaiku lagi “ ucap Ji Wook menyakinkan kalau bukan seperti maksudnya.
“Tapi Karena aku menghargai keputusanmu.., maka kau harus menghargaiku juga. Jadi dengan kata lain.., biarkan aku menyukaimu. Hanya aku yang akan menyukaimu. Aku takkan membuatmu stres. Aku takkan ikut campur dengan kehidupanmu yang damai.” Jelas Ji Wook dan Bong Hee hanya diam saja.
Ji Wook pikir Masalah bisa tetap seperti sekarang Lalu, pada suatu hari jika Bong Hee bisa terbuka untuknya lagi, bisa mengubah pikirannya dan melihatnya maka akan menunggu. Ia pun tak memaksa hanya meminta Bong Hee bisa pelan-pelan saja. Bong Hee tetap diam saja dengan menatap Ji Wook seperti shock.
“Oh, kelihatannya kau lupa bernafas lagi... Sekarang Bernafaslah.” Ucap Ji Wook. Bong Hee yang shock pun mulai kembali bernafas seperti ungkapan perasaan Ji Wook membuatnya terkejut.
“Aku tinggalkan cangkirnya di sini.” Ucap Ji Wook dan bergegas pergi, saat Bong Hee sudah tak ada di keluar dari persembunyian merasa dirinya yang harus bernafas setelah mengeluarkan perasaanya pada Bong Hee. 


[Episode 17- Keutamaan Eun Bong Hee]
Dalan ruang rapat, Ji Wook dan Bong Hee hanya diam saja seperti masih ada rasa canggung. Tuan Bang pun memulai dengan bertanya Apa yang harus dilakukan dengan pezina yang menuntut tunjangan. Eun Hyuk pikir  Itu hanya kasus kecil.
“Sebenarnya, aku berpikir kalau lebih baik Pengacara Eun yang ambil kasus ini.” Kata  Tuan Bang, lalu melihat Ji Wook dan Bong Hee hanya diam saja, tanpa berkomentar.
“Haruskah kita rapat tanpa keduanya?” ungkap Tuan Bang. Eun Hyuk merasa ingin tahu apa yang terjadi dalam hitungan hari dan berpikir kalau Tuan Bang ingin menggalinya
Tuan Byun berbicara kalau yang terjadi adalah... Eun Hyuk mengatakan kalau kalau bukan Tuan Byun yang dimaksud dan juga tidak ingin tahu. Tuan Byun dengan bangga kalau dirinya menjadi pahlawan. Yaitu  menyelamatkan nyawa seseorang. Semua kaget mendengarnya.
“Tapi...” ucap Tuan Byun menginat saat mengecek kadar alkohol dengan meniupnya diatas rata-rata. Dan polisi menduga Tuan Byun yang menyetir saat mabuk dan langsung dibawa ke kantor polisi.
“Polisi menjengkelkan itu... Kurasa ini sangat tidak adil. Aku memulangkan supirku lebih awal karena ada sesuatu yang terjadi di rumahnya. Saat aku mau memanggil layanan supir pengganti.., maka kecelakaan terjadi, dan aku menghentikannya.” Cerita Tuan Byun
“Apa Anda punya black box di mobil?” tanya Tuan Bang. Tuan Byun mengatakan kalau itu mati dan Supirnya pasti sudah mematikannya. Semua seperti tak yakin mendengarnya. Tuan Byun berusaha menyakinkan.  
“Apa ada rekaman telepon saat kau memanggil supir pengganti?” tanya Eun Hyuk. Tuan Byun mengingat kalau ituterjadi saat aku memangilnya Jadi tidak ada rekaman.
“Kau tahu menyetir sambil minum dapat menyebabkan kematian, kan?” kata Bong Hee dengan nada menyindir. 


Tuan Byun kesal mendengarnya, Bong Hee juga berpikir itu percobaan pembunuhan. Tuan Byun pikir kalau Bong HEe tidak punya hak untuk memanggilnya seperti itu. Ji Wook pun bertanya Kenapa Tuan Byun yang duduk di bangku supir. Tuan Byun beralasan  Karena kepanasan dan hanya ingin menyalakan AC mobil.
“Apa Kau membiarkan mesin menyala juga? Wah, kau harus bayar denda jika melakukannya lebih dari lima menit.” Kata Eun Hyuk
“Kalian semua tahu, kan? Dia bilang kalau kita bisa memanggilnya sebagai putramu jika dia mabuk.” Kata Tuan Bang.
“Aku tidak ingin putra sepertinya.” Bisik Bong Hee. Tuan Byun makin geram mendengarnya.
“Aku akan mengajukan banding administratif dan sidang.” Tegas Tuan Byun
Ji Wook meminta Tuan Byun agar menerima saja hukumannya, bong HEe pikir karena Lisensinya akan dibatalkan dan harus membayar denda jadi kenapa harus sidang. Eun Hyuk pikir  hukuman untuk mengemudi saat mabuk begitu ringan. Ji Wook merasa Orang dengan status sosial yang penting harus jadi subjek hukuman yang lebih berat, bahkan Sebagai contoh.
“Kalian tidak tahu terima kasih... Kalian semua pengkhianat...” kata Tuan Byun kesal tak ada yang membelanya.
“Baiklah. Seperti biasa, inilah isyarat kita untuk menyelesaikan rapat.” Ucap Ji Wook. Tuan Byun marah bertanya apakah tak ada yan mau menolongnya, Ji Wook pun mengatakan kalau Rapatnya selesai dan saat akan keluar bertemu mata dengan Bong Hee. Bong Hee mencoba tetap tenang keluar dari ruang rapat. 


Ji Wook dan Tuan Bang berbicara di balkon atas melihat Bong Hee yang duduk sendirian diatas. Tuan Bang binggung karena Ji Wook yang meminta agar mencari tahu apa yang Jung Hyun Soo lakukan semalam. Ji Wook mengaku klau terus memikirkan kalau ini aneh.
Flash Back
Ji Wook dan Bong Hee datang ke tempat pertemuan dimana Chan Ho yang menunggunya. Tapi saat itu Pesan dari Chan Ho masuk “Sesuatu yang penting telah muncul. Kita harus menjadwal ulang.” Dan Ji Wook merasa aneh karena karena SMS dikirim tepat pada saat itu lalu mencoba menelp Chan Ho tapi ponselnya tak aktif. 

“Ponselnya dimatikan tepat setelahnya. Dan yang paling penting dan udara di sana aneh.” Ucap Ji Wook. Tuan Bang binggung apa maksudnya udara.
“Ya, aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Itu hanya perasaan yang kudapat. Firasatku, kau tahu itu ‘kan.” Kata Ji Wook
“Investigasi harus berdasarkan keilmiahan.” Kata Tuan Bang, Ji Wook membenarkan ucapan Tuan Bang.
“Karena itulah aku memintamu untuk menelusuri apakah ada bukti.” Pinta Ji Wook. Tuan Bang mengartikan kalau Ji Wook itu  mencurigai Jung Hyun Soo,
“Apapun alasannya.., dia berbohong. Dia bohong padaku Dan dia membuat jadi Bong Hee bodoh meskipun dia memercayainya.” Ucap Ji Wook 
Tuan Bang mengerti kalau  Semuanya soal Pengacara Eun, Ji Wook berharap perasaan yang didapat ini bukan apa-apa dan sudah mengkhawatirkan yang bukan apa-apa. Ia juga berharap Jung Hyun Soo adalah orang baik yang salah dituduh, Seperti yang dipercayai Bong Hee. Saat itu Eun Hyuk datang menyapa Bong Hee duduk ditaman.
“Kepala Bang, lihatlah mereka berdua. Apa mereka benar-benar punya banyak hal untuk dibicarakan? Kenapa mereka selalu bersama? Mereka selalu di situ. Mereka selalu tertawa dan berbincang bersama.” Keluh Ji Wook kesal melihatnya. 

Eun Hyuk mengaku sengaja datang  untuk sesi koseling hari ini. Bong He balik bertanya apaah Eun Hyuk itu bukan datang karena penasaran. Eun Hyuk mengaku itu 50:50. Bong Hee mengaku kalau ia benar-benar tertangkap basah. Eun Hyuk bertanya apakah itu maksudnya Oleh Ji Wook.
“Ya.. Ini sangat menyakitkan.., dan juga membuatku bahagia pada waktu yang sama. Tapi Ini juga membuatku marah. Aku tidak benar-benar mengikutinya dan Cinta itu tentang waktu.”cerita Bong Hee. Eun Hyuk  mengatakan sangat tahu itu.
“Pemilihan waktuku sudah bagus dengan masalah terpenting, tapi tidak dengan itu.” Jelas Eun Hyuk
“Apa yang diinginkan dia untuk aku lakukan sekarang? Aku mengatakan takkan terombang-ambing.” Kata Bong Hee yakin.
Saat itu Ji Wook keluar dari rumah dengan berkomentar cuaca hari yang bagus, Bong Hee gugup mendengar Ji Wook ada didekatnya. Ji Wook memberitahu akan ketemu Ko Chan Ho karena tidak bisa menemuinya kemarin. Bong Hee bertanya kenapa Ji Wook berbicara padanya.
“Kupikir kau mungkin akan tertarik.” Ucap Ji Wook lalu melihat Bong Hee yan tak tertarik dan pergi lebih dulu.
“Apa Kau tidak tertarik?” tanya Eun Hyuk. Bon Hee mengaku sangat tertarik. Eun Hyuk pun menyuruh Bon Hee agar segera mengikutinya dengan memberikan semangat. Bong Hee pun menyakinkan dirinya. 


Keduanya naik mobil bersama dan terlihat canggung, Sementara Bong Hee mengingat saat Ji Wook menciumnya lalu berkata “Biarkan aku menyukaimu. Hanya aku yang akan menyukaimu, Aku akan menunggu. Kau bisa pelan-pelan saja.”
“Astaga, berhenti. Berhenti memikirkan itu.” Ucap Bong Hee kesal sendiri dengan pikirnya. Ji Wook binggung mendengar Bong Hee yang  bicara tak jelas. Bong Hee hanya diam saja dengan tatapan sinsi.
“Kenapa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?” kata Ji Wook binggung.Bong Hee terlihat kesal sendiri dengan sikapnya.  

Keduanya akhirnya turun dari mobil, Bong Hee langsung bertanya dengan blak-blakan apakah Ji Wook itu menyukai dan meminta maaf karena terlambat menyadarinya. Ji Wook dengan gugup mengakuinya.
“Tunggulah semaumu. Aku takkan mengubah pikiranku. Aku takkan mengubah karena ini tidak adil. Aku melewati waktu yang sulit. Apa Sekarang kau menyukaiku?!! Ini terlalu terlambat. Kau terlalu terlambat menyadarinya.” Ucap Bong Hee. Ji Wook hanya bisa mengatakan kata maaf.
“Akan kupastikan penderitaanmu sama denganku.” Tegas Bong Hee. Ji Wook pun setuju.
“Jangan jawab aku... Aku sangat membencimu. Aku lebih membencimu karena kau melakukan apa yang kukatakan.” Kata Bong Hee. Ji Wook pun binggung apa yang harus dilakukan.
“Pokoknya.., kau sungguh akan menungguku kali ini. Akan lebih dari tujuh menit kali ini. Kau mungkin akan tua dan mati karena menungguku.” Tegas Bong Hee.

Ji Wook pun mengerti, Bong Hee menegaskan kalau sedang tidak bercanda. Ji Wook berkata kalau sudah mengetahuinya, lalu mengingatkan kalau mulai sekarang, ubah perilakunya karena sekarang adalah pekerjaan, jadi ia yang  berkuasa dengan memegang dagu Bong Hee lalu pergi. Bong Hee kesal  Ji Wook yang memegangnya. 


Ji Wook menemui bagian tim forensik, keduanya kaget mengetahui Chan Ho yang mengambil cuti. Ketua forensik memberitahu kalau Chan Ho bilang  ada sesuatu yang penting. Ji Wook terdiam lalu mengingat sebelumnya kalau meminta agar Chan Ho meminta agar menelpnya.
Flash Back
“Aku akan membantumu jika ada yang perlu kulakukan untukmu.” Ucap Ji Wook. Chan Ho melihat kartu nama Ji Wook dan langsung bergegas pergi seperti ingin memberitahu semua yang disembunyiknya.  Ia pergi menemui atasanya, kalau akan menggunakan hari liburnya yang tidak dipakai sekarang.
“Apa dia memprediksi akan ada saatnya dia harus menghabiskan masa liburannya?” ucap Bong Hee berjalan keluar dari kantor polisi, Ji Wook juga beprikir seperti itu. 

Keduanya keluar dari rumah dan Bong Hee sudah bisa menduga Chan Hoo  tidak ada di rumah menurutnya sangat susah untuk masuk ke rumahnya secara rahasia dan perlu ekskavator untuk membuat lubang masuk. Ji Wook pikir kalau Bong Hee bisa melakukan segalanya. Seorang bibi datang melihat keduanya didepan gedung.
“Apa Kalian ke sini mau mencari rumah?” tanya Si bibi pada keduanya yang terlihat bingung.
“ Ini bangunanku. Kalian terlihat seperti pengantin baru. Apa Kalian ke sini mau beli rumah untuk pernikahan?” ucap bibi. Keduanya pun langsung membenarkanya.

Si  Bibi membawa masuk Ji Wook dan Bong Hee pada sebuah kamar memberitahu kalau Pria yang tinggal di kamar itu memberinya izin untuk melihat rumahnya bahkan ketika tidak ada rumah, jadi menyuruh keduanya agar bisa melihat-lihat.
“Kapan unit ini mulai dijual?” tanya Ji Wook. Si bibi mengingat kalau  dijual pada tanggal 10 atau 20 Mei.
“Itu sebelum pembunuhan Koki Yang.” Bisik Bong Hee. Si bibi langsung bertanya siapa yang dimaksud. Keduanya pun mencoba tak membahasnya.
“Boleh kita melihat-lihat ini secara pribadi? Hanya kami berdua?” tanya Ji Wook. Si bibi menatap heran. Seperti melihat keduanya ingin melakukan sesuatu.
“Kami perlu mendiskusikan masalah pribadi. Karena kami pengantin baru, jadi harus membicarakan tempat tidur dan peralatan lain.” Jelas Bong Hee.
“Kalian terlihat intim layaknya pengantin baru lainnya. Baiklah. Aku akan meninggalkan kalian berdua Jadi Lihat-lihatlah secara pribadi.” Ungkap Si bibi. Ji Wook pun memeluk Bong Hee agar bisa menyakinkan mereka pasangan suami istri. 

Setelah si bibi pergi, Bong Hee langsung menjauh dari Ji Wook dan mencari sesuatu sambil bertanya-tanya kemana perginya Chan Ho sekarang. Ji Wook juga tak tahu dengan terus mencari ada sesuatu yang penting.
“Apa mungkin dia kabur atau melakukan sesuatu? Apa dia pergi untuk mengurus sesuatu? Kalau dugaanku tadi tidak ada yang benar, apa dia sedang liburan?” ucap Bong Hee sambil melhat bagian atas meja.
“Ini masuk akal. Atau... dia mungkin sudah menghilang.” Ungkap Ji Wook. Bong Hee sedikit terkejut mendengarnya. Ji Wook pun memilih untuk tak membahasnya.  Bong Hee melihat bagian buku dan menemukan sebuah foto dan memanggil Ji Wook agar melihatnya. Ji Wook melihat foto chan Ho dengan dua temanya.
Bersambung ke episode 18

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

4 komentar: