Jumat, 16 Juni 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 22

PS : All images credit and content copyright : SBS

Tuan Byun melihat keduanya yang duduk didepanya, Mereka ingin membahas Agenda hari ini adalah strategi pertahanan untuk kasus dan permintaan terkait. Tuan Byun lansung menyela dengan bertanya apakah keduanya itu saling memperhatikan.
“Apa kalian berdua memperhatikan satu sama lain?” ucap Tuan Byun. Bong Hee mengelak.
“Apa Kalian tahu? Aku mau kalian melihat satu sama lain.” Kata Tuan Byun. Tuan Bang berbisik kalau Ketua Byun pasti sudah menyukai Bong Hee menurutnya ini sangat tak terduga.
“Dengan begitu aku bisa mencegah mereka pacaran! Aku perlu tanggal ketemuan kencan mereka supaya aku bisa melarangnya. Aku takkan menerima mereka sampai aku mati. Aku akan mengguyurkan segelas air dan uang untuk kalian!” kata Tuan Byun menolaknya.
“Kalau begitu aku akan menghindari gelasnya dan menerima uangnya.” Ungkap Bong Hee.
“Jadi Apa kau akan pacaran dengannya bagaimanapun juga?” kata Tuan Byun. Bong Hee mengulang kalau Tuan Byun yang menyuruhnya kencan.
“Itu ejekan.” Kata Tuan Byun kesal. Ji Wook heran Tuan Byun itu seperti tak ada hubungannya dengannya. Tuan Byun heran Ji Wook memikirkan tidak ada hubungannya dengannya.
“Kau dilarang ikut rapat mulai sekarang Karenamu, rapat kami tidak pernah lancar.” Keluh Ji Wook. Bong Hee setuju karena Rapat hari ini hancur juga. Tuan Byun langsung merasakan kepalanya langsung sakit. 


Ji Wook terbangun dari tidurnya, lalu teringat dengan ucapan Bong Hee sebelumnya “Aku akan memberimu jawaban untuk pengakuan cintamu.Aku akan memilih hari untuk pergi ke suatu tempat dan kita dapat melakukannya dengan lebih bagus.”
Lalu ia mandi dan mencari pakaian yang cocok untuk kencan. Bong Hee pun juga melakukan yang salam dengan memilih baju dan make up. Keduanya sama-sama bersiap untuk kencan. 

Bong Hee berjalan sendirian tak sengaja bertemu dengan Hyun Soo, Hyun Soo mengatakan kalau sedang berkerja mengirim beberapa paket. Saat itu sebuah motor berjalan hampir menabrak Bong Hee, Hyun Soo menyelamatkan Bong Hee sebelum tertabrak dan membuat semua berkasnya jatuh.
“Maafkan aku.. Aku akan mengambilnya.” Ucap Bong Hee mencoba mengambil beberapa berkas. Hyun Soo juga membereskan berkasnya.
Bong Hee mendengar nada lagu yang selama ini menduga sebagai pelakunya dari earphone yang dipakai Hyun Soo. Hyun Soo segera mengambil ponselnya, Bong Hee mencoba untuk tetap santai tapi wajahnya terlihat sedikit panik. 

Bong Hee berjalan sendirian, teringat saat bertemu dengan presdir yang memasang spanduk.
Flash Back
Bong Hee meminta Presdir Jangan tekan dirinya sendiri tapi meminta agar mengingatnya. Apakah Pria yang melapor tidak kelihatan sepertinya, dengan memperlihatkan foto Hyun Soo. Si pria mengaku kalau  tidak yakin.
“Kalau begitu... bagaimana dengan pria ini?” tanya Bong Hee memperlihatakn wajah Chan Soo.
“Tunggu! Kurasa memang dia.. Dia kelihatan familiar.” Kata Si paman. Bong Hee seperti tak yakin tapi si Paman menyakinnya. 

“Bos.., aku tidak akan mengunjungimu maupun menyebabkan kerugian bagimu. Katakan saja apakah ini benar. Pria yang membuat laporan... adalah pria yang ada bersamaku saat itu, kan? Yang kau bilang itu bukan fotonya.” Ucap Bong Hee akhirnya menelp si paman kembali tapi Si paman memilih untuk menutupnya. Si paman terdiam seperti menyembunyikan sesuatu. 

Flash Back
Hyun Soo mendatangi si paman yang mengetahui tiga anak, yang semua cantik.  Ia menegaskan kalau seperti Ini adalah teknik pemerasan umum, tapi bekerja setiap saat. Si paman terlihat ketakutan.
“Apa aku takut? Apa Kau takut padaku?” kata Hyun Soo. Si paman hanya diam saja.
“Aku akan beritahu padamu yang melapor. Lihatlah dengan benar.” Kata Hyun Soo dengan memperlihatkan foto Chan Soo.
Si paman merasa kesal sendiri dan mencoba untuk tak mengingatnya. 

Bong Hee menyakinkan kalau pasti bukan seperti dugaanya, menurutnya ini  tidak membuktikan kalau Jung Hyun Soo adalah pembunuh sebenarnya. Menurutnya Mendengarkan lagu yang sama tidak membuktikan kalau Hyun Soo pembunuhnya, serta hanya sekadar kebetulan.
“Tidak mungkin... ini kebetulan.” Kata Bong Hee menyakin dirinya.
“Pengacara Eun... Bernafas dan pikirkanlah dengan baik. Bong Hee, kau punya otak jadi Pakai otakmu... Ini dugaanku.” Ungkap Bong Hee mengingat saat pertama kali Hyun Soo mengatakan padanya.
Di dalam penjara Hyun Soo mengatakan “kupikir kau mungkin adalah satu-satunya harapanku.” Bong Hee yakin kalau Hyun Soo itu mendekatinya untuk mendapatkan simpatinya lalu memeriksa apakah  mengenalinya atau tidak , teringat kembali saat berusaha mengingat nada suara ketika mabuk.
“Jika ini semua benar...” ungkap Bong Hee gugup mengingat kembali saat Ji Wook membela Hyun Soo yang membuatnya bebas.
“Karena bukti yang palsu..pria yang tidak bersalah ditangkap sebagai pembunuh. Siapa yang menjunjung tinggi hak orang seperti itu?” ucap Ji Wook yakin dalam pengadilan.
“Itu aku...yang menyebabkan pembunuh terlibat dan membuat Pengacara Noh... melindungi pembunuh.” Ungkap Bong Hee merasa bersalah.
Diam-diam Hyun Soo melihat dari belakang, lalu bergumam kalau Bong Hee tidak seharusnya mengenalinya, karena kalau memang saling kenal maka  harus menyingkirkannya. 


Ji Wook menunggu di cafe dengan membawa sebuket bunga, Saat itu Yoo Jung dan Ji Hae masuk cafe ingin memesan minuman. Yoo Jung lalu melihat Ji Wook yang duduk sendirian. Ji Hae menahanya agar Jangan menyapanya.
“Dia bahkan tidak menyukaimu.” Ucap Ji Hae menahanya.
“Tapi itu tidak berarti aku tidak boleh menyapanya. Aku sudah terlanjur malu.” Kata Yoo Jung mendekatinya.
Yoo Jung bertanya apakah Ji Wook punya urusan di Pengadilan. Ji Wook berdiri mengaku kalau sedang ada janji. Yoo Jung ingin duduk, Ji Wook langsung melarangnya. Yoo Jung binggung karena tidak berencana melakukan apapun.
“Aku hanya mau bicara denganmu soal pekerjaan.” Ucap Yoo Jung.

“Ya. Aku sangat minta maaf, tapi aku ada janji penting...” kata Ji Wook lalu melihat Bong Hee didepan mereka melihatnya. 
“Maafkan aku... Aku harus memakai Jaksa Cha sebagai alasan.” Gumam Bong Hee lalu berjalan pergi karena merasa bersalah dengan Ji Wook. Ji Wook akhirnya mengejar Bong Hee dengan membawa bunga.
Yoo Jung sedih melihat Ji Wook kembali mengejar Bong Hee, Ji Hae pun mendekat dengan mengajak seniornya pergi dengan memastikan baik-biak saja. 


Ji Wook mengejar Bong Hee, bertanya Kenapa pergi begitu saja dan memastikan kalau tidak salah paham, Bong Hee mengaku tidak tapi dengan terus melihat keduanya bersama dan rasanya tidak sebagus itu. Ji Wook pun berjanji akan berhati-hati mulai sekarang.
“Tidak perlu. Kau tidak perlu berhati-hati. Aku merubah pikiranku. Aku takkan memberikan jawabannya hari ini. Aku akan terus mengulur waktu.” Ucap Bong Hee. Ji Wook pun merasa tak masalah.

“Aku tidak apa-apa dengan itu. Tapi wajahmu tidak terlihat baik.” Ungkap Ji Wook. Bong Hee mengelak kalau Ji Wook harus mengkhawatirkan diri sendiri.
“Bong Hee, maksudku.., aku ingin kau memberitahuku apa yang terjadi padamu.” Kata Ji Wook
“Aku hanya mendadak merasa tertekan untuk menerima perasaanmu kepadaku. Aku mulai merasa tidak nyaman. Hanya itu. Kau bilang. akan menghormati keputusanku. Jadi Tolong hormati...perasaanku dan keputusanku.” Tegas Bong Hee lalu berjalan pergi. Ji Wook seperti serba salah

Bong Hee duduk sendirian, Eun Hyuk datang mendekat. Bong Hee menatap Eun Hyuk meminta maaf, kaena sungguh ingin bicara dengan seseorang tapi satu-satunya orang yang dipikirkan adalah Eun Hyuk. Eun Hyuk pikir itu bagus karena Bong Hee menelpnya.
“Aku sungguh takut sekarang... Inilah perasaanku... saat Hee Jun meninggal dan saat aku dituduh jadi pembunuh. Aku merasa telah melakukan kesalahan.., tapi aku tidak tahu kesalahannya apa itu. Begitulah perasaanku.” Ungkap Bong Hee.
“Tapi sekarang..,aku lebih takut daripada saat Hee Jun meninggal. Saat itu, aku hanya harus mengurus situasi sendiri. Tapi sekarang, aku punya orang berharga di sekelilingku. Aku punya Pengacara Noh. Semakin orang itu kucintai.., semakin aku takut, Pengacara Ji.” Kata Bong Hee.
“Kau sedang bicara soal Jung Hyun Soo, kan? Kau sudah tahu aku ini cerdas.” Kata Eun Hyuk terlihat menyakinkan. Bong Hee benar-benar terlihat ketakutan. 

Tuan Bang melihat dari internet bahwa Gambar seekor burung murai atau macan dapat membantu mereka mengusir nasib buruk Bahkan Katanya memukul gong juga membuat lebih baik.., tapi mereka tidak bisa melakukannya sekarang.
Dia bilang dua orang dari kita akan mati. Salah satu dari mereka adalah aku. Benar, kan? Itu pasti aku, kan?” ucap Tuan Byun merasa kalau ia yang paling tua.
“Apa Kau tahu kalau kau sudah mengatakannya beberapa hari lalu?” keluh Tuan Bang
“Entah itu usia atau yang lainnya.., itu pasti aku.” Ucap Tuan Byun
“Ada perintah saat kelahiran.., tapi bukan kasus kematiannya. Aku tidak boleh hanya duduk di sini.” Kata Tuan Bang panik. Tuan Byun bertanya mau kemana. Tuan Bang mengatakan mau beli gong, lalu binggung melihat Ji Wook duduk melamun a. 

Keduanya akhirnya duduk di ruang rapat, Tuan Bang bertanya apakah Ada sesuatu yang mengganggunya Ji Wook mengaku kalau pertanyaan "Apa alasannya?" yang sedang kupikirkan. Tuan Bang binggung alasan apa yan dimaksud.
“dia bukan tipe orang seperti itu saat salah paham.” Kata Ji Wook. Tuan Bang makin penasaran Bong Hee kenapa.
“Aku bertanya-tanya apa yang terjadi.” Ungkap Ji Wook penasaran. 

Bong Hee mencari-cari payung dalam mobil karena turun hujan deras, tapi  tak menemukanya. Akhirnya ia memilih untuk keluar dari mobil untuk lari, tapi seorang datang membawakan payung untuknya. Ji Wook datang membawakan payung untuk Bong Hee.
“Kau takkan menolak kebaikanku... hanya karena kau memutuskan untuk menolakku, kan?” ucap Ji Wook lalu mengajak segera pergi. 

Keduanya pun berjalan masuk ke dalam rumah, Ji Wook mulai membahas pendapat Bong Hee dengan menghabiskan waktu bersama untuk saling jujur, menurutnya Jika ada sesuatu yang tak bisa mereka beritahu katakan saja itu hari ini.
“Jika kau mau menolak.., aku yang akan katakan duluan.” Ucap Ji Wook. Bong Hee langsung menolaknya.
“Aku tidak mau melakukan apapun sekarang. Aku ada banyak pikiran. Bicarakan saja saat otakku sudah jernih.” Kata Bong Hee.
“Baiklah. Aku akan memberimu waktu. Sampai saat itu.., haruskah aku memperlakukanmu seperti rekan kerja? Itu akan lebih nyaman, kan?” kata Ji Wook. Bong Hee menganguk setuju. 


Bong Hee menulis dalam buku agendanya “Melodinya, Pemilik jasa pasang banner, Orang mesum yang menyaksikan pembunuhan.” Lalu mengaris bawahi “Pemilik jasa pasang spanduk” dan menyakinkan kalau bertemu dengan paman itu lebih dulu.
Bong Hee bergegas keluar terlihat benar-benar kaget dan terlihat ketakutan melihat Hyun Soo sudah ada didepan rumah. Hyun Soo makin mengejek melihat Bong Hee terlihat  sangat terkejut. Bong Hee mencoba untuk tenang mengaku itu karena tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Aku takkan terkejut jika aku tahu itu kau.” Kata Bong Hee menyakinkan. Hyun Soo terlihat mencoba untuk percaya.
“Omong-omong, ada apa ke sini?” tanya Bong Hee. Hyun Soo pikir itu sudah pasti kalau baru saja mengirim barang di sekitar lingkungan itu dan  berharap bisa bertemu dengan Bong Hee hari ini.
“Aku senang bisa bertemu seperti ini. Hari ini pasti hari keberuntunganku, benarkan?” kata Hyun Soo. Bong Hee merasa tersanjung mendengarnya.
Hyun Soo tiba-tiba seperti ingin melakukan sesuatu,  Eun Hyun datang memanggil dan melihat Hyun Soo berpikir sedang memanggil jasa kurir, menurutnya karena mereka sudah jadi dekat jadi sering saling bertemu. Hyun Soo mencoba untuk tersenyum. 
“Mau kemana kau malam-malam begini? Jangan kerja malam-malam. Lakukan saja pagi besok.” Kata Eun Hyuk mengajak Bong Hee untuk masuk. Lalu mengajak Hyun Soo masuk. Hyun Soo langsung menolaknya.
“Datanglah kapan saja, Karena klien kami sudah seperti keluarga.” Ucap Eun Hyuk ramah dan mengajak Bong Hee masuk. 


Bong Hee bertanya-tanya apakah Hyun Soo  datang untuk mencari tahu yang sedang dipikirkan. Eun Hyuk pikir itu Mungkin, lalu bertanya apakah Bong Hee tidak akan. memberitahu Ji Wook. Bong Hee pikir memang harus memberitahunya.
“Tapi aku tidak bisa... Aku tak bisa memaksa diri untulk memberitahunya kalau kita sudah membebaskan seorang pembunuh.” Ungkap Bong Hee.
Ji Wook keluar dari rumah dan melihat Bong Hee bersama Eun Hyuk,  lalu dengan santai menyuruh mereka Lanjutkan perbincangan keduanya. Sementara di luar gerbang, Hyun Soo ingin tahu Apa yang terjadi dengan tatapan dinginya. 


Ji Wook duduk sebagai pengacara dari Tuan So dalam ruang sidang, Tuan So seperti sibuk dengan ponselnya mengirimkan pesan “Kita akan segera bertemu.” Ji Wook memperingatkan Tuan So aka bisa mengikuti pengadilan.
Ji Hae duduk sebagai Jaksa,  ingin menuduh terdakwa karena tindak penyerangan dengan kelalaian yang menyebabkan luka, menurut Pasal 266..,dengan kerusakan properti, menurut Pasal 366 dan karena obstruksi bisnis menurut Pasal 314 Hukum Pidana. Jaksa Pun bertanya pada Pengacara apakah menerima tuduhannya.
“Terdakwa menerima sebagian tuduhan. Sedangkan untuk kelalaian menyebabkan luka, terdakwa dan korban sudah beres. Dan kerusakan properti terjadi karena pertarungan fisik.., jadi kami tidak bisa mengaku bersalah.” Ucap Ji Wook
“Apa semuanya sudah terselesaikan kecuali tindak penyerangan?” tanya Hakim
“Ya, Yang Mulia. Kami juga berusaha menyelesaikan itu. Namun, kita tidak bisa menahan pihak yang dirugikan saat ini jadi kami sulit membuat kemajuan. Kami akan berusaha menyelesaikan jika Anda memberikan sedikit waktu.” Jelas Ji Wook 

Bong Hee dan Tuan Bang mencari sesuatu dari balik gedung lalu berpikir untuk menanyakan sesuatu. Keduanya pun memperlihatkan foto seorang pria yang tinggal di rumah itu dan bertanya pada pejalan kaki apakah pernah lihat sebelumnya. Beberapa orang mengaku tak pernah melihat sebelumnya
Bong Hee melaporkan Seperti dugaan, si pria tidak ada di rumah juga. Bahkan tidak punya pekerjaan maupun keluarga jadi mereka menghentikan pencarian tapi bisa mencoba... lalu tiba-tiba terdengar teriakan Tuan Bang untuk mendekat dan melihat berita. 

“Berita selanjutnya. Penyerangan acak yang lain terjadi. Seorang pria berumur 30-an yang menyerang orang di kafe beberapa hari yang lalu mengunjungi kafe yang sama dan mencoba untuk menyerang seorang pekerja paruh waktu menggunakan senjata.”
“Dia mengklaim bahwa pekerja paruh waktu itu memandang rendah dirinya dan dia pergi ke kafe untuk mendapatkannya kembali. Polisi telah menangkap basah penyerang, Tn. Kim. Mereka akan menginvestigasi untuk melihat apakah ada dia ada hubungannya dengan kasus lain.”
Tuan Bang ingat kalau Itu adalah kafe dimana So Jung Ha berkelahi Bong Hee mengartikan bahwa Klaim So Jung Ha-ssi kalau dia menghentikan pria yang akan mengacungkan pisau itu memang benar. Ji Wook pun pikir itu bisa saja dengan wajah tak percaya  
“Itu juga berarti kemungkinan dua orang dari kita yang mati seperti yang diprediksinya...” kata Tuan Bang. Ji Wook meminta Tuan Bang Jangan bicara tidak masuk akal.

Bandara
Terlihat seorang pria keluar dari pintu kedatangan, lalu menarik kopernya seperti baru saja selesai berlibur. Hyun Soo dengan topinya diam-diam mengikutinya dari belakang, seperti mengincar satu pria yang foto dengan Chan Soo.
Ji Wook keluar dari ruangan pengadilan. Tuan So mengucapkan Terima kasih atas segalanya dan sungguh menghargainya. Ji Wook memberitahu mungkin akan dihukum denda lalu membahas Tuan So yangterus meng-SMS seseorang saat sedang sidang dan ingin tahu Siapa yang sedang ditunggu.

“Pacarku, yang sudah lama tidak bertemu, dia baru kembali.” Cerita Tuan So
“Oh, aku juga penasaran... Kau bilang bisa meramal masa depan. Apa itu benar Atau itu hanya sebuah tipuan menggunakan kemungkinan dan kebetulan?” kata Ji Wook seperti masih belum yakin.
“Itu benar... Aku punya firasat. Itu hanya terjadi sesekali.” Ucap Tuan So.
“Kau bilang dua orang di firmaku akan meninggal. Apa itu benar juga?” tanya Ji Wook. Tuan So menyakinkan kalau yang dikatakan itu benar.
“Kurasa kau tidak percaya juga.” Ucap Tuan So. Ji Wook mengaku kalau memang tidak percaya. Tuan So menyakin kalau yang dikatakan serius. Ji Wook memilih untuk pergi saja. 

Keduanya berjalan sampai didepan lampu merah dan berpisah, Ji Wook memilih untuk berjalan sementara Tuan So menyeberang jalan sambi melihat ponselnya tanpa sadar sebuah mobil datang dan langsung menabraknya.
Ji Wook mendengar bunyi suara dibelakangnya lalu teringat kembali perkataan Tuan So kalau akan ada dua orang yang meninggal.
“Aku tidak tahu... kalau aku akan jadi salah satu dari mereka.” Gumam Ji Wook  Lalu kaget melihat Tuan So yang sudah terkapar di jalan dengan darah yang mengalir dan mendekat  dengan sedikit berteriak untuk menyadarkan Tuan So. 

Tuan So dibawa masuk ke lorong rumah sakit dengan penyanggah leher, Ji Wook panik melihat klienya yang baru ditemuinya sekarang sudah luka parah. Tuan So sudah ada diruang IGD dan Ji Wook menelp seseorang untuk menanyakan keberadaanya.
“Dia menjadi keras kepala dan bersikeras tidak akan melakukan... operasi sampai Anda sampai ke sini. Anda harus sampai ke sini secepatnya. Aku mencoba membujuknya, tapi itu tidak bekerja... maafkan aku. Tolong coba sampai ke sini secepatnya.” Ucap Ji Wook seperti meminta agar orang terpenting untuk Tuan So datang. 

Akhirnya Ji Wook mendekat memohon agar Tuan So jangan bersikera dan  harus segera dioperasi. Tuan So mengatakan kalau sudah diberitahu bahwa sepertinya tidak akan keluar hidup-hidup, dengan begitu hanya  ingin melihat orang yang sangat dirindukan.
“Omong-omong, aku bukan penipu, kan?” ucap Tuan So seperti ingin menyakinkan lalu seperti melihat kembali Ji Wook menangis dan meminta agar mendekat.
“Pengacara Noh... Jangan menangis... Semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Tuan So. Ji Wook bingung kenapa Tuan So tiba-tiba mengatakan hal itu. 

Seorang wanita datang memanggil Tuan So seperti pacarnya yang selama ini dirindukanya.  Tuan So menatap sebentar, pacarnya memberitahu kalau sudah datang jadi harus melihatnya. Tapi Tuan So seperti sudah tak kuat dan hanya menutup matanya.  Ji Wook terdiam melihat klienya yang meninggal.
“Kami semua telah kehilangan seseorang. Beberapa orang kehilangan anggota keluarga, Beberapa orang kehilangan teman. Beberapa orang kehilangan orang yang dicintainya. Entah itu orang yang baik maupun jahat.., tak ada orang yang tidak kehilangan seseorang dalam hidupnya.” Gumam Ji Wook dengan mengingat orang-orang yang kehilangan, bahkan Hyun Soo yang kehilangan wanita yang disayanginya. 

Bong Hee berjalan sendirian menerima telp dari Ji Wook,  menanyakan keberadan sekarang.  Ji Wook meminta agar Bong Hee tetap disana dan bergegas pergi, lalu mencari ditaman tempat Bong Hee menunggunya. Setelah menemukan Bong Hee, Ji Wook bergumam dalam hati.
“Karena itulah, hidup ini kejam. Jika itu benar.., selama kekejaman ini, jangka waktu terbatas dengan cara tertentu.. dalam waktu hidup yang sangat singkat ini.., satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah...”
Ji Wook langsung memeluk Bong Hee memohon menyukainya kembali sekarang. Ia meminta maaf karena tidak bisa menepati janjinya untuk akan menunggunya.
“Bong Hee...Tolong sukai aku kembali, sekarang.” Ucap Ji Wook tak ingin kehilangan kesempatanya. 

Epilog
Tuan Bang yang panik akhirnya menempelkan kertas jimat dibawa meja, pada semua meja dan masuk ke dalam ruang rapat agar membantu mereka bisa menghasilkan uang, lalu menyimpan selembar untuk dirinya dengan menyakinkan bisa menghasilkan uang.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar