Minggu, 02 Juli 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 12 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Dong Man mencium Ae Ra mengaku sangat menyukai Ae Ra. Ae Ra mengumpat kalau ia yang lebih menyukai Dong Man sejak dulu. Dong Man memberikan perumpamaan, Jika ini tentang semua atau tidak sama sekali, kita ambil "semua" saja.” Ae Ra binggung maksudnya.
“Apa malam ini kau mau menginap?” kata Dong Man. Ae Ra melonggo binggung. 

Joo Man membantu Ye Jin membawakan kardus ke dalam rumah, tak sengaja malah menjatuhkan dan melukai kakinya. Ye Jin panik ingin tahu keadaanya tapi Joo Man merasa baik-baik saja. Ye Jin panik saat melihat jari jempol Joo Man berdarah.
Saat itu terdengar suara wanita memangil Ye Jin. Ye Jin panik karena mengetahui ibunya yang datang. 

Dong Man dan Ae Ra keluar dari lemari dikagetkan dengan Bibi Ganako dan Nam Il keluar dari rumah, begitu juga sebaliknya. Bibi Ganako binggung bertanya alasan mereka keluar dari sebuah lemari.  Dong Man binggung heran karena Bibi Ganako keluar di malam hari.
“Apa salahnya aku berdiri di depan rumahku? Apa yang kalian perbuat di sana? ucap Bibi Ganako. Nam Il pun ingin tahu Kenapa mereka keluar dari sana.
“Itu "Catatan Bar Namil". Pintu rahasia mereka.” Kata Bibi Ganako. Dong Man kaget karena ternyata bibi Ganako mengetahuinya.
“Aku tidak berkomentar tentang kalian memakainya. Silakan bersenang-senang sesuka kalian. Minumlah sepuasnya selagi lever kalian berfungsi. Bersikaplah lugu, gegabah, dan hidup tanpa berpikir seperti anak-anak. Jangan main seperti orang dewasa.” Ucap Bib Ganako.
“Entah kenapa, aku ingin membantah.” Gumam Ae Ra dan akhirnya mengatakan kalau ingin membantah ucap Bibi Ganako.
“Setelah puas minum, kembali ke kamar masing-masing. Apa kalian Mengerti?” ucap Bibi Ganako tak peduli
“Kami berciuman di atas sana.” Ucap Ae Ra blak-blakan. Dong Man panik Ae Ra memberitahu bibi Ganako. 


Ye Jin panik menarik Joo Man masuk kamarnya karena ibunya berkata akan mengusirnya kalau mengajak pria ke rumah. Joo Man pikir tak perlu bersembunyi karena akan langsung pergi. Ye Jin meminta Joo Man agar menunggu karena ibunya pasti akan segera pergi.
“Aku akan menjelaskan apa yang terjadi.” Kata Joo Man tak peduli.
“Dia  sedaang mengawasiku, jadi Dia akan memukulmu jika melihatmu.” Jelas Ye Jin. Joo Man binggung kenapa harus kena pukul. Ye Jin mendorong Joo Man agar menunggu dalam kamar saja.
Ibu Ye Jin memanggil anaknya agar membuka pintu, Ye Jin berjalan ke depan pintu mencari tempat untuk menyembunyikan sepatu Joo Man lalu membuka pintu. Ibunya pikir Ye Jin sudah tidur. Ye Jin membenarkan dan bertanya Kenapa Ibunya datang semalam ini. Ibu Ye Jin mengaku harus menonton drama dan sudah tayang.
Ye Jin binggung kenapa ibunya akan menonton dirumahnya, Ibu Ye Jin tak peduli menyalakan TV dan mengomel dengan kelanjutan drama yang sudah di duga karena pria itu tidur di tempat lain. Ye Jin pikir sudah larut jadi ibunya harus pergi.

Ae Ra turun dari tangga merasa kalau bibi Ganako itu tidak berhak untuk melakukan ini. Dong Man pun menyetujuinya. Bibi Ganako menyindir Apa para penyewa berhak menyelinap ke atap. Ae Ra mengejek Bibi Ganako yang histeris lagi.
“Hei, aku bisa mendengarmu.”teriak Bibi Ganako kesal
“Kupikir putramu harus membantu kau mencari hobiatau menyarankan panjat tebing.” Ucap Ae Ra. Bibi Ganako seperti tak peduli menyuruh mereka pulang dan berpisah saja.  Ae Ra seperti memberikan kode lalu akan masuk ke dalam rumahnya.
“Kau memberitahunya dirimu akan mandi lalu kembali? Aku sudah membaca pikiranmu.” Ucap Bibi Ganako melihat keduanya.
“Omong-omong, jika seseorang melarang kita, maka kita semakin ingin melakukannya.” Kata Ae Ra menantang.

Bibi Ganako makin kesal apa yang dimaksud “melakukan”. Ae Ra pikir Jika Joseon tidak begitu ketat dan konservatif, maka orang tidak akan menyelinap ke kincir air, menurutnya Bibi Ganako bisa saja menyiramkan bensin ke api di depan rumah. Bibi Ganako menyuruh keduanya masuk saja.
“Anda tahu apa yang dilakukan di kincir air, bukan?” ucap Dong Man sengaja mengejek lalu masuk rumah bersama dengan Ae Ra. Bibi Ganako tak percaya dengan tingkah keduanya.
“Aku bisa melihat kemiripannya... Sekarang aku mengerti alasan Ibu pindah ke sini.” Komentar Nam Il 



Ae Ra membuka lemari pakaiannya dan memilih pakaian dalamnya dengan baik, sementara Dong Man memperbaiki tempat tidurnya memastikan bautnya terpasang dengan benar. Ae Ra pun bersiap dengan pakain yang rapi setelah mandi. Dong Man melatih badanya dengan push up, wajahnya terlihat gelisah saat bel rumah berbunyi.
Akhirnya keduanya duduk di diatas tempat tidur dengan wajah gugup. Ae Ra memberanikan diri sedikit mendekat dan mulai mencium Dong Man dengan gugup. Dong Man berkomentar kalau itu bibir bagian atasnya yang cium. Ae Ra terlihat malu karena tahu kalau gugup.
“Seleramu unik, Pasti kau suka bagian atas bibir.” Goda Dong Man.  Ae Ra mengeluh kalau Dong Man memajukan bibirnya jadi bisa melakukan dengan benar lalu terdengar suara.
“Sepertinya perutmu menginginkan sesuatu.” Komentar Dong Man. Ae Ra mengeluh lagi-lagi perutnya selalu berontak pada keadaan tak tepat.
“Aku bukan anak ceroboh dan bodoh yang berhenti dewasa sebelum puber. Kita berpacaran, dan duduk di ranjang. Aku sama sekali tidak mau bersikap seperti pria sopan kepadamu.” Ucap Dong Man. Ae Ra tak percaya Dong Man  sangat berpikiran kotor
“Ya. Aku mau berpikiran paling kotor. Tapi... Ini bukan pekerjaan rumah.” Balas Dong Man. Ae Ra binggung mendengarnya.
“Meski tanpa titik balik seperti ini, kau bukan Chewbacca bagiku. Kau seorang wanita bagiku. Aku ingin memelukmu sekarang dan sepanjang malam. Aku tidak mau membiarkanmu pulang.” Ungkap Dong Man blak-blakan.
Ae Ra benar-benar tak percaya kalau Dong Man  harus menyimpan pikiran itu. Dong Man menyuruh agar Ae Ra agar perutnya tak berisik. 




Ae Ra duduk diam dengan wajah binggung. Dong Man menarik Ae Ra untuk berbaring disampingnya dengan memeluknya dari belakang. Ae Ra terlihat masih gugup. Dong Man menegaskan kalau tidak bisa tidur hanya dengan memegang tangannya jadi akan memeluknya erat. Ae Ra tetap masih gugup, akhirnya Dong Man membalik tubuh Ae Ra agar bisa saling menatap dan menyruh agar segera tidur.
“Aku merasa seperti mau mati.” Ungkap Ae Ra menatapnya.  Dong Man pikir Perut Ae Ra kembung
“Aku... Aku sesak napas... Jantungku berdetak kencang.” Ungkap Ae Ra. Dong Man tersenyum dan makin memeluknya dengan erat. 

Ye Jin melihat ibunya yang tertidur pulas di sofa lalu diam-diam masuk dress room memanggil Joo Man tapi tak terdengar suara. Ye Jin melihat dari balik gantungan bajunya, Joo Man tertidur dengan duduk dan kaos kakinya dilepas karena kakinya yang berdarah.
Lalu ponsel Joo Man bergetar, Ye Jin melihat nama "Sersan Baek" yang menelp dan mengambil ponselnya. Sul Hee mencoba menelp Joo Man yang tak juga diangkat. 

Dong Man dan Ae Ra terbangun dengan bunyi bel. Ae Ra pikir kalau itu ayah Dong Man yang datang. Dong Man mengeluh kalau orang terus datang setiap kali tidur bersama Ae Ra. Terdengar suara Sul Hee berteriak memanggil Ae Ra apakah ada di rumah Dong Man. Mereka pun panik buru-buru turun dari tempat tidur.
“Dia juga baru datang.”ucap Dong Man membuka pintu membiarkan Sul Hee masuk. Sul Hee pun bertanya apakah Sepuluh menit lalu.  Ae Ra membenarkan.
“Aku memakai ini karena mencuci baju tadi.” Kata Ae Ra terlihat gugup sampai salah menuangkan air putih pada corn flakesnya. Sul Hee hanya menatap sedih, Ae Ra pun bertanya kenapa Sul Hee mencarinya.
“Joo Man... Dia tidak pulang.” Ucap Sul Hee. Ae Ra dan Dong Man kaget mendengarnya. 

Ae Ra sudah berganti pakaian dan siap membawa alat penyedot WC. Dong Man yang melihatnya mengeluh kenapa harus membawa itu dan juga Ae Ra yang mengunakan baju olahraga. Ae Ra dengan wajah kesal bertanya apakah Dong Man Mau pergi juga.
“Lagi pula kau tidak bisa memukul wanita. Apa Kau mau memukul orang dengan ini?” kata Dong Man
“Aku tidak akan memukulinya, jadi, pergilah ke ke tempat latihan. Aku tidak bisa bicara sesukaku jika kau di sana.” Ucap Ae Ra penuh amarah.
“Apa Kau mau mengumpat lagi?” ucap Dong Man. Ae Ra kesal apakah memang tak boelh Dalam situasi ini menurutnya untuk apa ada umpatan.
Saat itu ponsel Dong Man berdering, Pelatih Hwang menelp dan memberitahu kala harus pergi ke suatu tempat hari ini. Tapi Pelatih Hwang memberitahu sesuatu, akhirnya Dong Man berkata akan pergi kesana. Ae Ra bertanya apakah Ada masalah. Dong Man mengaku Tidak ada menyuruh keduanya pergi  tapi Jangan cari masalah dan mengambil alat penyedot WC. 

Ae Ra menarik Sul Hee pergi sambil mengomel karena baru memberitahunya sekarang, bahkan tidak mencegahnya sebelum semua terlambat. Sul Hee mengaku takut. Ae Ra tak menyangka alasan Sul Hee mengatakanya.
“Jika aku mengungkitnya, ini sungguh akan menjadi sebuah masalah. Tapi aku tidak percaya diri untuk memukulnya.” Ungkap Sul Hee.
“Sul Hee. Kau pacarnya, jadi Bukan kau yang harus takut. Kalian berpacaran selama enam tahun.” Ucap Ae Ra heran.
“Enam tahun itulah yang kumiliki, namun kini aku menyadari betapa lemahnya itu. Waktu yang dilaluinya bersamaku pasti menjemukan, tapi menyenangkan bersamanya.” Ungkap Sul Hee tak percaya diri.
“Jika dia meninggalkanmu setelah enam tahun karena gairah singkat semacam itu, maka aku tidak akan mengizinkannya memilikimu.” Tegas Ae Ra lalu mengajak Sul Hee segera pergi. 


Keduanya berdiri didepan apartemen, Ae Ra bertanya apakah Sul Hee tidak tahu nomor rumahnya. Sul Hee mengaku hanya tahu Ye Jin tinggal di apartement itu. Ae Ra tak percaya betapa teganya Joo Man,  Ae Ra menyakin kalau Mungkin Joo Man tak ada dirumah Ye Jin dan salah dugaanya atau ada yang terjadi padanya.
“Kalau begitu, telepon wanita sial itu.” Kata Ae Ra. Ye Jin menolaknya. Ae Ra heran kenapa Sul Hee tak ingin menelp.
“Itu melukai harga diriku.” Akui Sul Hee. 

Tak Su memakain jas rapi bertanya pada Tae Hee apakah ia harus  melakukan ini. Tae Hee mengatakan kalau menonton pertandingan Dong Man dan akan segera menjadi bintang. Tak Su merasa itu hanya Omong kosong.
“Jika kau mencari namanya di internet, pertandingan kalian langsung muncul. Alih-alih menjelaskannya nanti, Jadi lebih baik mengaku sekarang.“ jelas Tae Hee.
“Sekarang Dengar, Saat itu pun aku tidak mengadakan konferensi pers. Kenapa aku harus melakukannya sekarang, setelah 10 tahun kemudian?” kata Tak Su heran.
“Dengan begitu, kau menjadi korban. Sekarang Gunakan media dengan benar, dan kamu bisa mengendalikan dunia.” Jelas Tae Hee yang punya pikiran yang licik. 

Ponsel Joo Man berada di bagian rak sepatu terus bergetar dan itu telp dari Sul Hee sampai akhirnya jatuh mengenai Joo Man yang berbaring dengan selimut menutupi badanya.  Joo Man kaget melihat sekeliling bertanya-tanya keberadannya sekarang. Ye Jin masuk kamar melihat Joo Man yang sudah bangun.
“Ye Jin, kenapa tidak membangunkanku?” keluh Joo Man kesal.
“Aku sudah mencobanya saat Ibu pergi, tapi kau tidak mau bangun.” Kata Ye Jin.
“Harusnya kau menendangku sampai terbangun. Akhirnya aku menginap di sini, tapi malah ketiduran jadi, pasti kau tidur di kamarmu dan tidak ada...” kata Joo Man terlihat gugup berusaha memikirkan tak terjadi.
“Apa Kau tidak ingat semalam? Aku datang membawakanmu selimut, dan kau...” ucap Ye Jin terlihat malu-malu.
Joo Man heran melihat Ye Jin malah tidak menyelesaikan kalimatnya,  Ye Jin mengaku kalau  tiba-tiba memeluknya. Joo Man merasa tak percaya melakukan itu. 

Ae Ra duduk di taman apartment menegaskan Saat Joo Man keluar dari apartement maka matilah dia. Sul Hee masih merasa yakin kalau mereka belum tahu. Ae Ra benar-benar tak percaya Sul Hee masih berpikiran baik padahal Joo Man tidak menjawab ponselnya, jadi sudah pasti.
“Aku hanya ingin pulang.” Kata Sul Hee akan berjalan pergi. Ae Ra menahanya heran melihat sikap temanya.
“Apa yang kau takutkan? Putuskan Joo Man dan lanjutkan hidupmu. Lalu Berusahalah memperbaiki dirimu dan kejar impianmu.”kata Ae ra.
“Apa impianku?” tanya Sul Hee binggung. Ae ra pikir merkea  bisa mulai memikirkannya.
“Kau bisa memasak dan piawai dengan pengeriting rambut.” Kata Ae Ra menyakinkan temanya.
“Aku punya impian... Aku sudah lama punya impian.” Ucap Sul Hee. 

Joo Man yang mendengar pengakuan Ye Jin merasa itu Omong kosong karena tidak minum alkohol dan walaupun minum juga tidak akan melakukannya. Ye Jin bingung melihat Joo Man yang bereaksi berlebihan. Joo Man menegaskan itu karena Ye Jin bohong.
“Kau memegang dan menarik lenganku semalam, lalu kamu memelukku dan... Kau bilang, "Sul Hee, matikan lampu." Lalu kau tertidur sambil mendengkur. Itu sungguh melukai egoku.” Ungkap Ye Jin. Joo Man terlihat serba salah dan melihat di ponselnya ada "42 panggilan tidak terjawab"

Sul Hee menceritakan kalau punya impian dan memilikinya hingga saat ini sejak usia enam tahun. Ae Ra pun mendengarnya. Sul Hee ingin tahu pendapat Ae Ra kenapa Joo Man sangat berarti baginya. Ae Ra seperti tak mengerti. Sul Hee mencoba menjelaskan.
“Dong Man punya taekwondo dan kau punya mikrofonmu. Di saat kalian sukses... Aku diam-diam menjaga agar impianku hidup di dalam hatiku.” Cerita Sul Hee.
“Kenapa kau tidak cerita? Kini kau dapat meraih impian yang masih kau miliki.” Kata Ae Ra.
“Seorang ibu... Impianku adalah menjadi seorang ibu.” Ucap Sul Hee. Ae Ra kaget mendengarnya.
“Aku selalu memerankan ibu saat kita main rumah-rumahan. Aku ingin Menjadi ibu yang baik dan istri yang baik, dan itu adalah impianku. Aku ingin menikahi Joo Man dan hidup seperti itu.” Akui Sul Hee.
Ae Ra tak percaya impian Sul Hee terlihat simpel. Sul Hee balik bertanya apakah itu tidak termasuk impian dan Apa semua orang harus memperbaiki diri mereka, menurutnya mereka sangat pandai dan menjalani hidup yang diinginkan.
“Tidak masalah jika aku hanya fokus pada keluargaku. Itu tidak membuatku lebih rendah daripada kalian. Itu impian yang hebat. Luar biasa.” Kata Sul Hee. Ae Ra pikir kalau Sul Hee untuk mencari orang lain.
“Bagiku, Joo Man bukan sekadar pacar. Dia duniaku...Jadi... Aku hanya ingin pulang.” Ucap Sul Hee seperti tak ingin melihat kenyataan sambil menangis. 


Joo Man keluar dengan mencoba menelp, dan melihat Sul Hee sudah ada di lobby bersama Ae Ra. Sul Hee pun langsung bertanya kenapa Joo Man ada di apartement Ye Jin. Joo Man mengaku kalau tak tahu kenapa  ketiduran.
“Apa Di rumah magang itu? Jadi, kau sungguh tidur di sini?” ucap Sul Hee benar-benar tak percaya
“Sul Hee, tidak ada yang terjadi.” Kata Joo Man menyakinkan. Saat itu Ye Jin datang membawa kaos kaki yang tertinggal.
“Kenapa kau melepaskan kaus kakimu? Kenapa jika kau ketiduran tanpa menyadarinya?” ucap Sul Hee mulai marah. Joo Man mencoba menjelaskan
“Sul Hee... Aku tidak melewati batas.” Ucap Joo Man.
“Memangnya hanya ada satu batas? Apa semua baik-baik saja jika tidak ada yang terjadi?” kata Sul Hee.
“Aku sungguh tidak melakukan apa pun.” Kata Joo Man membela diri. Sul Hee pikir kalau itu sama saja.
“Mau kalian tidur bersama atau tidak, itu sama saja. Kau di sini semalaman, itu menyiksaku perlahan detik demi detik.” Tegas Sul Hee seperti meluapkan semua amarahnya.
Joo Man memohon agar Sul Hee tak mengatakanya. Sul Hee memberanikan diri berkata agar mereka putus. Ae Ra yang mendengarnya hanya bisa bergumam kalau Dunia Sul Hee baru saja runtuh.


Spanduk bertuliskan "Konferensi Pers Kim Tak Su" semua wartawan berkumpul dalam ruangan. Tak Su duduk bersama Pelatih Choi dan Tae Hee.
“Hari ini, di sini dan saat ini, aku akan mengungkapkan kebenaran tentang pertandinganku dengan Ko Dong Man pada tahun 2007 yang dicurangi. Aku ingin menyimpannya, menutupinya, dan melanjutkan hidupku. Uang yang kuberikan sebagai bantuan berubah menjadi suap atau kompensasi. Aku bertanding dengan adil, tapi aku menjadi korban sebuah perburuan keji.” Ucap Tak Su.
Dong Man menonton acara Tak Su di TV “Aku menuntut Ko Dong Man menerima permintaanku untuk bertanding dengan adil. Secepat mungkin...” Pelatih Hwang langsung mematikan TV memperingatkan Dong Man agar  Jangan gegabah dan tahu yang dipikirkan. 

“Aku tidak akan meladeninya.” Kata Dong Man. Pelatih Choi tak percaya Dong Man tak menanggapi permintaan Tak Su.
“Aku tidak akan tertipu permainannya dan Aku tidak akan membiarkan Tak Su menipuku.” Tegas Dong man. Pelatih Hwang memuji Dong Man sudah dewasa.
“Katamu orang bodoh harus mengandalkan teknik. Aku akan giat berlatih dan mengalahkannya di musim depan.” Tegas Dong Man.
“Bisakah kau menunggu? Kau lebih dari tidak sabaran, selain itu Perangaimu buruk. Apa Kini kau sudah dewasa?”kata Pelatih Hwang tak yakin.
“Dia juga menganggap aku anak-anak. Aku akan giat berlatih dan membuktikan padanya. Aku bukan anak macan lagi, tapi Akulah macannya.” Kata Dong Man memasang tali pelindung pada tanganya. 

Ae Ra memandang Sul Hee yang duduk disampingnya, lalu berkata kalau sadar Tidak seharusnya mengatakan ini dalam keadaan sekarang tapi menurutnya tadi sangat keren.  Menurutnya Itu sisi terbaik dari diri Sul Hee  yang dilihat dalam 20 tahun ini.
“Kenapa? Apa Karena aku bilang kami harus putus?” tanya Sul Hee.
“Tidak. Itu saat Kau mau menjadi ibu. Impianmu menjadi ibu itu keren. Tidak ada yang lebih hebat daripada seorang ibu.” Cerita Ae Ra. 

Flash Back
“Sul Hee menata rambutku selama enam tahun SD.”
Sul Hee kecil mengetuk pintu rumah dengan barang bawaanya, Tuan Choi membuka pintu menyapanya padahal Sekolah tidak dimulai pagi sekali tapi malah sudah datang. Sul Hee hanya tersenyum dan terlihat Ae Ra yang tomboi baru saja bangun tidur.
“Sul Hee adalah teman wanita pertamaku. Ayahku tidak bisa mendandaniku dan tidak ada yang mau punya teman tomboi.”
Sul Hee dengan pandai mengikat rambut Ae Ra dengan memilih pita Merah muda. Ae Ra mengeluh kalau tidak suka merah muda. Lalu Sul Hee memilih pita warna biru.
“Saat Sul Hee tahu aku tidak punya ibu, maka dia datang satu jam lebih awal dari yang diperlukan. Bersenjatakan hati yang manis.”
Sul Hee mengatakan kalau Ae Ra yang tidak punya ibu maka akan menata rambutnya. Ae ra tersenyum mendengarnya menurutnya Sul Hee ibarat lautan luas.

Ae Ra dan Dong Man pergi berbelanja, Dong Man yang mendengar cerita Ae Ra mengumpat Joo Man sudah gila dan ingin tahu apakah keduanya memang melakukannya. Ae Ra kesal menurutnya itu tak penting membahasnya.
“Kau Anggap saja ada situasi tidak terhindarkan yang membuatmu menginap di rumah Hye Ran.” Ucap Ae Ra.
“Apa Aku hanya tidur, seperti saat aku di tentara?” tanya Dong Man polos.
“Apa Menurutmu aku harus membiarkanmu atau menamparmu?” tanya Ae Ra. Dong Man malah balik bertanya lagi apakah ia hanya tidur saja.
“Kalau begitu, aku yang tidur di tempat lain.” Kata Dong Man. Ae Ra dengan kesal seperti ingin menamparnya saja atau Akan membenturkan kepala, bahkan bisa Pukul. Dong Man tak bisa membalas memilih untuk mengajak Ae Ra agar segera membayar.
Beberapa orang sedang membahas berita Tak Su, merasa Kim Tak Su pasti sangat stres, si wanita pun setuju karena jadi penggemarnya dan merasa Kasihan. Ae Ra melihat berita lalu menatap Dong Man seperti baru mengetahui berita Tak Su. 



Mereka berjalan pulang, Ae Ra menyakinkan kalau Dong Man tidak akan melakukannya. Dong Man pikir harus melawannya suatu hari nanti. Ae ra menegaksan Suatu hari pun tidak boleh, bahkan tidak suka gagasan itu, serta membenci Tak Su.
“Aku melihat apa yang terjadi di pertandingan terakhirmu dan Aku sungguh tidak menyukai gagasan itu, mengerti?”tegas Ae Ra merasa khawatir.
“Kalau begitu, aku akan menang... Aku tidak akan kalah padanya lagi.” Kata Dong Man
“Dong Man. Apa aku ini orang yang penurut? Tahukah kamu betapa aku menyukaimu? Aku begitu suka padamu sehingga jika seseorang ingin menembakmu tiga kali, maka aku akan bersedia menerima dua tembakan.” Ucap Ae Ra

Dong Man tersenyum mendengarnya dan mengejek kenapa bukan hanya tiga saja.  Ae Ra mengaku kalau dirinya berbohong, tapi sekarang mengaku jujur.
“Aku tidak bisa menanggung semua beban itu untukmu tapi aku akan menerima dua dari tiga tembakan untukmu. Aku akan melindungimu.” Tegas Ae Ra. Dong Man tersenyum mendengarnya.
“Hei... Kenapa kau sehebat itu?” keluh Dong Man
“Aku sangat menyukaimu dan tidak mau kau melakukannya. Bisakah kau tidak melakukannya?” kata Ae Ra.
“Ae Ra... Aku tidak mau kamu harus melindungiku. Aku akan menjadi sangat kuat sehingga tidak ada yang bisa merendahkanmu sebagai kekasihku. Itu yang kuinginkan. Bisakah kau percaya padaku?” jelas Dong Man. Ae Ra menatap tangan Dong Man yang mengenggamnya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar