Selasa, 27 Juni 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 10 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Ae Ra terbangun dari tidurnya lalu kaget melihat Dong Man tertidur disampingnya tanpa pakaian baju dan melihat tubuhnya dibawah selimut, setelah itu memukul kepala Dong Man. Dong Man mengeluh kesakitan dan natap binggung melihat Ae Ra yang bersembunyi dibalik selimut.
“Hei, Apa kau pikir ini kamarmu? Kenapa kau tidak pakai baju? Kau mengejutkanku.” Ucap Ae Ra

“Apa Kau tidak ingat Atau pura-pura tidak ingat?” ejek Dong Man juga ikut marah. Ae Ra tak ingin membahasnya lagi memarahi Dong Man yang tidur di kamarnya.
“Kau sedang menginginkanya dan yang mau minum alkohol. Kau bilang akan segera pergi setelah menunggu pelatih. Apa Kau sungguh tidak ingat?” kata Ae Ra
“Aku ingat jelas napas beratmu.” Ucap Dong Man. Ae Ra dengan nada tinggi menyuruh Dong Man diam. 


Flash Back
Ae Ra menatap Dong Man yang sedang tertidur, lalu berbicara sendiri “Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau harus setampan ini? Kau membuatku gemetar.” Setelah itu membalikan badanya dan saat itu Dong Man membuka matanya mendengar yang dikatakan Ae Ra.
Beberapa saat kemudian, Ae Ra sudah tidur nyenyak. Dong Man tak percaya Ae Ra bisa tidur dengan nyenyak sambil mengejek kalau temanya itu seperti hewan tanpa rasa takut. 
Saat itu Ae Ra memeluk Dong Man seperti bantal guling, Dong Man tegang tiba-tiba Ae Ra memeluknya lalu berani menatapnya. Ae Ra makin memeluk Dong Man lebih erat. Dong Man benar-benar tak percaya Ae Ra itu terlalu berani dan akhirnya memberikan kecupan pada kening Ae Ra.
Keduanya tertidur pulas, Ae Ra berbaring di lengan Dong Man. Seperti udara mulai panas, Dong Man pun mulai membuka kaosnya karena kepanasan. 

Dong Man menyalahkan Ae Ra yang mengembuskan napas panas ke wajahnya. Ae Ra merasa Dong Man itu bermimpi atau melantur. Dong Man menyakinkan kalau Ae Ra yang melakukan dengan mendekati dan menyentuh wajahnya.  Ae Ra mengelak kalau tidak menyentuh Dong Man.
“Aku bersumpah kau bernapas di depan wajahku.” Tegas Dong Man. Ae Ra tak ingin membahasnya lagi.
“Tidak, kita tidak akan diam begitu saja” kata Dong Man. Ae Ra pun ingin tahu alasan Dong Man yang membuka baju.
“Entahlah. Apa aku membukanya selama tertidur? Tapi Apa kau yang melakukannya?” kata Dong Man menuduh.
Ae Ra mengumpat Dong Man sudah gila, telp di kamar berbunyi. Ae Ra pikir Dong Manmeminta panggilan pagi. Dong Man mengeluh kalau ini bukan hotel. Ae Ra makin mengejek Dong Man itu ternyata pernah menginap di banyak hotel.  Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Ae Ra bertanya-tanya siapa yang datang. Dong Man pikir mungkin pelatih lalu turun dari tempat tidur.
Ae Ra duduk ditempat tidurnya, Dong Man meminta maaf karena ketiduran berjalan ke depan pintu, lalu matanya melotot kaget melihat yang datang, Ae Ra juga ikut kaget melihat ayahnya yang datang ke kamarnya.
“Dalam hidup, pemilihan waktu selalu buruk.” Gumam Ae Ra 
[Satu jam sebelum pintu dibuka]
PD pergi dengan mobilnya keluar dari tol  "Seoc- heongun" lalu berbicara ditelp kalau akan pergi setelah sketsanya selesai. Hye Ran juga mengemudikan mobilnya dengan gelisah karena Dong Man tak mengangkat telpnya.
Tuan Choi dengan mobilnya dan makanan untuk anaknya, terlihat bahagia akan menemui Ae Ra. Wajahnya penuh semangat. Lalu Hye Ran turun dari mobilnya. 


[30 menit sebelum pintu dibuka]
Tuan Choi turun dari mobil di pinggir pantai, karena Ae Ra tak menjawab telpnya, lalu melihat ada panggung dan berpikir Ae Ra sudah ada ditempat acara.
Di depan panggung, Pelatih Hwang mengeluh kalau anak buahnya  bukan dari Kuil Shaolin. Si PD kesal Pelatih Hwang terus mengeluh dan menyuru agar memakai saja. Pelatih Hwang menegaskan kalau  Ada papan khusus untuk hal seperti itu.
Tuan Choi mendekat mengatakan bersama seorang kru. PD mengatakan siapa yang dikenalnya. Tuan Choi mengatakan kalau itu Mcnya, yaitu putrinya Choi Ae Ra. Pelatih Hwang juga tahu kalau Tuan Choi adalah ayah Ae Ra. 

[15 menit sebelum pintu dibuka]
Hye Ran berada dalam mobil binggung karena banyak sekali,  dan ingin tahu keberadaan Dong Man dan melihat nama Motel didepanya "Motel Astaga! Kami Melakukannya!"
Pelatih Hwang berjalan bersama Tuan Choi memuji kalau membesarkan putrinya dengan baik dan tangguh. Tuan Choi binggung. Pelatih Hwang merasa Ae Ra wanita tapi sekuat batu karang bahkan tidak akan kalah dari Ronda Rousey.
“Untuk apa Ae Ra melawannya?” tanya Tuan Choi binggung
“Aku lebih takut pada Ae Ra daripada wanita lain di dunia ini. Sejak masa kebodohan mikrofonnya...” kata Pelatih Hwang dan Tuan Choi binggung kebodohan apa maksudnya.
Pelatih Hwang tak bisa membahasnya, lalu mengajak Tuan Choi masuk ke penginapana. Tuan Choi melihat nama motelnya mengeluh namanya  "Astaga! Kami Melakukannya!". Si bibi diam-diam bersembunyi dibalik pintu mendengar keduanya.
“Kami tinggal di motel yang sama. Jadi, aku yakin dia memesankan kamar untuk Ae Ra di sini.” Kata Pelatih Choi. Tuan Choi binggung siapa yang dimaksud. Pelatih Choi pikir Tuan Choi tak tahu.
“Dong Man. Ko Dong Man.” Kata Pelatih Hwang, Tuan Choi kaget mengetahui nama Dong Man. Pelatih Hwang mengajak Tuan Choi segera naik ke lantai atas. 
Si pemilik motel binggung melihat Bibi  malah masuk ke ruang receptionist. Akhirnya si pemilik mencoba menelp berpikir Apakah Ada sesuatu di kamar itu, seperti Perselingkuhan, karena keduanya jelas penghuni kamar 408 dan 410 dan melihat gambar CCTV yang diambilnya.
“Apa anak-anak ini kabur dari rumah?” tanya si pemiliki pada bibi. Bibi malah bertanya kode area
“Kodenya 041, memang Kenapa?” kata Si pemilik lalu melihat layar ponsel Si bibi memberitahu nomor awal 112 tidak perlu pakai kode area.


[10 menit sebelum pintu dibuka]
Si PD TV bertemu dengan PD festival sambil memberikan sebotol minum berpikir kalau memang bisa dapat foto acara MMA dan beberapa sketsa, itu akan mempublikasikan festival jadi saling menguntungkan. Dan PD Festival merasa petarung MMA itu cukup terkenal. PD TV membenarkan.
“Pantas saja... Dia menonjol, dulu si penendang itu kelihatannya tidak pantas ikut acara.” Kata PD festival. PD TV pikir Dong Man memang hebat tapi seperti tak yakin.
“Dan yang paling penting, dengan tampilannya, dia akan segera populer.” Kata PD Festival.
“Kita bukan mencari bintang tapi mau menjual kisah mereka.” Jelas PD TV. 

[1 menit sebelum pintu dibuka]
Pelatih Hwang mengetuk pintu tapi tak ada sahutan dan berpikir Ae Ra  sudah pergi. Tuan Choi juga binggung kenapa Ae Ra tidak menjawab ponselnya. Pelatih Hwan pikir kalau akan menemui Dong Man dulu lalu mengingat kamar Dong Man. Saat itu Doo Ho baru saja keluar kamar.
“Hei, Doo Ho... Apa Dong Man masih tidur?” tanya Pelatih Hwang. Doo Ho binggung karena  tidak tahu.
“Kenapa tidak tahu? Apa Dia tidak tidur bersamamu di kamarmu?” tanya Pelatih Hwang
“Tidak. Kukira dia tidur di kamarmu.” Pikir Doo Ho. Pelatih Hwang pun bertanya-tanya dimana Dong Man, lalu berpikir kalau ada di kamar Ae Ra. 

Tuan Choi bisa membaca tatapan Pelatih Hwang dan langsung mengedor pintu kamar dengan keras. Pelatih Hwang menenangkan kalau mungki keliru dengan motelnya dan yakin kalau pasti bukan di kamar Ae Ra.
Saat itu Dong Man akhirnya membuka pintu dan kaget melihat Ayah Ae Ra yang datang, Tuan Choi terlihat sangat marah, keduanya berusaha menenangkan Tuan Choi agar tak salah paham. Dong Man meminta izin harus mematahkan beberapa papan dulu.
“Benar. Kita telat. Kau harus pergi sekarang.” Kata Pelatih Hwang untuk menyelamatkan Dong Man.
“Dong Man, masuk... Lalu Tutup pintunya” kata Tuan Choi seperti ingin menghajarnya.
“Pak, dia harus berhati-hati dengan cederanya sekarang.” Tegas pelatih Hwang.
Tuan Choi sudah membuka bajunya terlihat tatto bertuliskan "1 Juli 1989, Choi Ae Ra" dan kembali menyuruh Dong Man segera masuk.  Dong Man menyuruh Pelatih Hwang pergi saja lalu menutup pintu.  


PD festival sibuk untuk memberikan perintah pada anak buahnya, lalu membahas pada kameramen agar membiarkan Ae Ra melakukan bagian satu dan dua menurutnya Choi Ae Ra hebat kemarin dan akan jadi bintang serta akan sukses. Saat itu Hye Ran duduk dibangku penonton seperti menunggu penampilan Dong Man.

Si bibi akhirnya naik ke lantai atas ingin menguping, disampingnya Pelatih Hwang juga ingin tahu yang terjadi didalam. Lalu terdengar suara benturan. Si bibi pikir harus memanggil polisi, dan berpikir jika 102 mati.

Tuan Choi menjatuhkan sebuah gantungan baju yang sudah rusak, Dong Man sudah duduk mengatakan kalau Bukan O, tapi X dan Bukan segitiga, tapi X. Tuan Choi makin marah mendengarnya.
“Kenapa Paman melakukan ini padaku? Dia memukulku saat aku tidur, dan Paman muncul di balik pintu.” Kata Dong Man kesal
“Jadi, kenapa kau tidur di sini?” ucap Ae ra. Tuan Choi makin menumpat Dong Man itu pria Brengsek tidak berguna. Dong Man tak terima di umpat seperti itu.
“Kenapa kau tidur di sini? Apa yang kau incar?” tanya Tuan Choi dengan nada tinggi.
“Sekalipun kami terdampar di pulau tidak berpenghuni, aku menganggapnya kamerad... Tidak maksudku...  Aku akan menganggapnya penduduk pribumi atau seekor kera, dan tidak melihatnya. Aku Sungguh.” Ungkap Dong Man.
Ae Ra menatap sinis, Dong Man pikir sudah salah bicara. Tuan Choi maki kesal karena kenapa harus Ae Ra yang disebut kera. Dong Man hanya bisa menatap gantungan baju seperti siap untuk memukulnya. 

Pelatih Hwang makan bersama si bibi ingin tahu yang dilakukan sampai datang, Si bibi  menegaskan Tidur sekamar itu dilarang. Pelatih Hwan binggung lalu ingin tahu alasan si bibi bicara begitu santai padanya.
“Aku lebih tua daripada kau.” Ucap si bibi. Pelatih Hwang pun mengangguk mengerti.
“Bukankah kita pernah bertemu di suatu tempat?” kata Pelatih Hwang, Si bibi mengaku tak pernah lalu meminta Pelatih Hwang yang melayani mengambil makanan untuknya. 

Sul Hee heran ibunya yang mengajak makan steak. Ibu Sul Hee  mengatakan Jokbal bisa dikukus atau dipanggang jadi Semua daging sama saja. Ayah Sul Hee memberitahu kalau ibu Sul Hee akan berhenti menjual jokbal untuk membuka restoran. Ibu Sul Hee memberikan daging pada Joo Man dan menyuruh agar makan lebih banyak.
“Aku harus traktir kalian di restoran bagus suatu hari nanti.” Kata Joo Man. Ibu Sul Hee langsung bertanya kapan itu  Suatu hari nanti.
“Keluarga kita harus...” kata Ibu Sul Hee tapi memutuskan untuk tak membahasnya. Joo Man terlihat binggung dengan tingkah Ibu mertuanya.
“Tidak perlu buru-buru menikah. Tinggal bersama mertua... Kalian akan menikah ketika sudah waktunya.” Ucap Ibu Sul Hee. Sul Hee terdiam melihat ibunya seperti ingin membalas perbuataan keluar Joo Man padanya.
Ibu Sul Hee merasa melupakan sesuatu, lalu bertanya-tanya apakah  boleh mengatakannya. Sul Hee dan yang lainya menunggu. Ibu Sul Hee membahas  Kyu Shik dari Jochiwon dan Sul Hee pasti tahu yaitu Putra tunggal orang gunung itu. Sul Hee seperti tak mengingatnya.
“Sekarang ada jalan yang bagus melintasi gunung itu. Kyu Shik menghasilkan sekitar satu juta dolar...Ahh.. Tidak, kudengar 1,5 juta dolar.” Kata Ibu Sul Hee membanggkan. Sul Hee seperti tak peduli lalu ingin tahu kelanjutanya.
“Ibu menemui bibinya. Dia tanya apa kau masih lajang Lalu Ibu bilang "ya" dan dia bilang Kyu Shik menunggumu dewasa selama ini. Ibu rasa itu sangat lucu.” Cerita Ibu Sul Hee
“Itu bukan cerita lucu untuk diceritakan saat makan.” Kata Sul Hee. Saat itu ponsel Joo Man berdering, Joo Man membiarkan karena Ye Jin yang menelp. 


Sul Hee dan Ibunya duduk bersama, Ia langsung mengeluh dengan sikap ibunya karna tahu  Kyu Shik terlalu tua, bahkan sudah ikut wajib militer saat ia masuk TK dan Mungkin sekarang usianya 50-an. Ia bertanya apakah ibunya memang mau menikahkan padanya.
“Kita tidak pernah tahu sampai kau benar-benar menikah.” Kata Ibu Sul Hee
“Ibu membuat Joo Man merasa tidak enak.” Ungkap Sul Hee. Ibu Sul Hee menegaskan Joo Man itu bukan bosnya jadi Jangan terlalu pedulikannya.
“Hiduplah dari ini.” Kata Ibu Sul Hee memberikan panci. Sul Hee heran kenapa ibunya malah memberikan itu dan berpikir kalau tempat sampah
Ibu Sul Hee mengumpat pada anakanya lalu menyuruh agar membukanya saja. Ae Ra melihat isinya sebuah emas, mulutnya langsung melonggo. Ibu Sul Hee menceritakan mereka tidak punya uang tunai, karena sudah menghabiskan semuanya agar kakak Sul Hee bisa kuliah dan emas itu memang milik Sul Hee.

“Dari mana Ibu dapat ini?” tanya Sul Hee berkaca-kaca.
“Ibu ambil dari lemari ibu ayahmu sebelum dia meninggal. Ini dipakai untuk pernikahanmu. Jadi Ambillah.” Kata Ibu Sul He.
“Kenapa Ibu memberikannya sekarang? “ tanya Ae Ra
“Memiliki benda seperti ini memberimu keberanian. Jadi Berhentilah malu-malu, Kau harus tegas. Jika Joo Man membuatmu sedih, putuskan saja dia.” Tegas Ibu Sul Hee ga ingin membuat anak direndahkan. 

Joo Man berada di luar dengan nama  toko  "Jokbal Sul Hee" bersama ayah mertuanya. Ayah Sul Hee memberitahu kalau anaknya itu  punya tiga kakak laki-laki. Joo Man mengaku sudah mengetahuinya.
“Beberapa pasangan punya beberapa putri karena mereka mencari putra. Aku malah dapat tiga putra karena mencari seorang putri. Di hari kelahirannya, aku berteriak dan berlari mengelilingi klinik itu.” Cerita Ayah Sul Hee
“Ya. Ayah berteriak, "Tidak ada!" Aku menurunkan nama kakak-kakaknya dan memasang namanya di depan toko. Sul Hee-ku sangat penting bagi Ayah. Dia belum jadi milikmu.” Tegas Ayah Sul Hee. Joo Man membenarkan.
“Keluargamu akan menganggap bahwa kau rugi, tapi kupikir putriku terlalu baik untukmu.”ungkap Ayah Sul Hee. Joo Man pikir memang seperti itu karena Sul Hee itu jauh lebih baik daripada dirinya.
“Jaga dia dengan baik Atau kubunuh kau.Jangan mempermainkannya karena dia lugu Jangan berikan nomormu ke orang yang harus kau abaikan.” Pesan Ayah Dong Man 

Ae Ra mengajak Ayahnya dan duduk dibangku penonton pada acara festival. Lalu Ae R memberitahu kalau akan muncul dari belakang panggung dan naik. Tuan Choi tahu kalau Pemandu acaranya harus tampil di tengah dan paling depan.
“Aku akan menghancurkan beberapa benda di atas panggung, Paman tidak boleh beri tahu ayahku tentang hal yang kulakukan. Jika Paman melakukannya, akan kuadukan bahwa Paman memukulku dengan hanger kawat.”ancam Dong Man
“Dasar pemeras” keluh Tuan Choi. Dong Man meminta Tuan Choi agar tak memberitahu ayahnya.
Tuan Choi ingin mengambil gambar tapi malah cameranya mengambil wajahnya, Ae Ra turun dari panggung ingin memperbaiki. Dong Man ingin bersikap baik untuk mengambil gambar. Tuan Choi mengeluh kenapa Dong Man harus mengambil gambar anaknya. Saat itu PD TV memanggil Dong Man. Dong Ma kaget melihat Si PD yang tiba-tiba datang.
“Bukankah kau Ae Ra?” kata Si PD. Ae Ra melonggo kaget melihat Si PD datang jauh-jauh dari Seoul. 
Doo Ho dikagetkan dengan Tae Hee yang tiba-tiba datang menemuinya, Tae Hee mengaku juga terkejut. Keduanya akhirnya bertemu di pinggir pantai, Doo Ho tak percaya Byung Joo sekarang bersama Tigers lalu bertanya apakah pelatih Hwang tahu. 


“Bijaksanalah seperti dia, saat kau tanda tangani kontrak.” Kata Tae Hee membujuk.
“Terima kasih atas tawaranmu, tapi...” kata Doo Hoo. Tae Hee menyela kalau agar Do Ho bisa memikirkan sebelum menjawabnya.
“Aku kurang layak untuk diinginkan oleh Tigers. Jika kalian merekrutku, maka Dong Man akan seorang diri. Apa yang kau inginkan?” ucap Doo Ho
“Kenapa kau peduli dengan niat kami? Bukankah kau mau pindah ke rumah tanpa jamur? Pikirkan peranmu sebagai ayah. Anakmu alergi dan terus menggaruk sampai dia berdarah. Kau tidak boleh hidup berdasarkan keberanian kekanak-kanakan, kesetiaan, dan yang menurutmu keren, 'kan?” ucap Tae Hee membujuk Doo Ho. 

PD TV sudah memasang tripod untuk kameranya, Tuan Choi melihat gambar dan berusaha lebih maju agar bisa mengambil gambar dengan jelas. PD TV hanya bisa tertawa meminta Tuan Choi agar tak menghalangi kamera.
Tuan Choi melirik sinis pada Dong Man lalu berdiri disampinganya. PD membahas Ae Ra yang menjadi MC saat Dong Man mematahkan papan. Dong Man membenarkan lalu mengeluh pada PD TV yang seharusnya menelp lebih dulu. Ae Ra menatap sinis pada keduanya.
“Ae Ra.. Pasti kau tidak tahu... Sekarang aku produser di KBC.. Itu jaringan nasional. Aku pernah menggarap acara seperti "1 Versus 20", "Happy Monday", dan "How Are You?" Jika kau mau jadi penyiar, kau bisa beri tahu aku. Aku bisa meminta teman produserku untuk menghubungimu...” ucap Si PD
“Jangan coba-coba menyebut namaku pada siapa pun.” Tegas Ae Ra tak ingi menerima bantuan. 


Tuan Choi sedang diajarkan mengambil gambar oleh PD TV, sementara Dong Man dan Ae Ra duduk dibawah tenda melihatnya. Dong Man pikir Ae Ra pasti terkejut karena tidak melihatnya dalam lima tahun. Ae Ra mengaku tidak pernah ingin menemui Si PD lagi.
“Kenapa kau menghubunginya padahal aku di sini?” keluh Ae Ra. Dong Man mengaku tidak menghubunginya.
“Kenapa kau menyetujui acara ini?” keluh Ae Ra. Dong Man mengatakan tidak pernah setuju.
“Apa Kau menghubunginya lebih dulu?” tanya Ae Ra. Dong Man mengaku si PD yang menghubunginya lebih dulu karena ingin mau menjodohkannya.
Ae Ra tak percaya Jang Kyung Koo melakukanya, lalu bertanya apakah Dong Man pergi ke kencan buta itu. Dong Man binggung menjawabnya. Ae Ra sudah tahu kalau Don Man pasti menghadiri kencan itu dan menemui seseorang dengan mengejak Dong Man itu sungguh mudah ditebak.
“Hei, sebaiknya kau sadar... Sekali Jang Kyung Koo,.. selamanya Jang Kyung Koo.” Tegas Ae Ra menatap Kyung Koo yang terlihat licik dengan mengambil hati ayahnya. 



Sul Hee bertemu dengan teman-temanya, lalu ditanya  Mau makan Ayam Seoul atau Ayam Amerika. Sul Hee menjawab ingin makan Ayam Seoul. Mereka pun mulai mengobrol dan memberikan selamat atas promosinya, pada Tuan Park.
“Bagus sekali, kau akan menikah, serta mendapatkan promosi.” Ungkap salah satu temanya.
“Aku sibuk menyiapkan berbagai hal dan berterima kasih pada orang-orang.” Ucap Tuan Park, teman lain pun menanyakan  persiapan pernikahannya.
“Semua tentang uang. Foto, gaun, tata rias... Kami dianggap mesin ATM.” Kata si wanita. Temanya bertanya apakah mereka akan tinggal di Gimpo.Tuan Park mengangguk,  karena Orang tua akan meminjamkan sedikit uang dan akan mengajukan kredit di bank.
Lalu mereka bertanya pada Sul Hee apakah mereka masih berpacaran diam-diam. Sul Hee mengaku Tidak lagi karena Semua orang sudah tahu tentang mereka sekarang dan juga akan segera menikah Setelah Joo Man dipromosikan. Joo Man merasa Sul Hee tidak perlu bilang begitu. Mereka pun bersulang dengan memberikan selamat pada Tuan Park yang mendapatkan promosi dan akan menikah. 


Joo Man dan Sul Hee berjalan sambil makan es krim bersama. Sul Hee sempat mengeluh karena  harga es krim sekarang sudah 80 sen menurutnya Ekonomi untuk rakyat biasa sudah gagal, lalu membahas Chan Ho seharusnya tidak melakukan itu. Dong Man binggung maksudnya.
“Dia pernah berpacaran dengan seseorang selama empat tahun.Aku dekat dengan wanita itu. Tapi Dia akan menikahi wanita yang dipacarinya selama empat bulan.” Cerita Sul Hee. Joo Man dengan sinis merasa tak ada yang salah.
“Hari ini kau begitu rewel. Apa karena Chan Ho akan dipromosikan dan kau tidak?” kata Sul Hee heran. Joo Man tak percaya Sul Hee mengangapnya serendah itu.
“Aku tidak mau bibi Ye Jin mempromosikanmu jadi manajer.” Kata Sul Hee kesal. Joo Man heran berpikir itu dari bibinya menurutnya bisa saja mendapatkannya dengan kinerjanya.
Sul Hee merengek meminta Joo Man agar tak marah,  mengaku kalau tidak keberatan Joo Man menjadi asisten manajer selamanya. Joo Man menegaskan kalau dirinya yang keberatan menurutanya tak ada yan mau menjadi asisten manajer seumur hidup, menurutnya jika lebih baik maka  bisa membuatnya jauh lebih bahagia.
“Aku sudah bahagia, Coba kau lihat... Kita bahagia makan es krim bersama. Aku mau menikmati hal-hal kecil bersamamu seperti sekarang dan mencintai satu...” kata Sul Hee langsung disela Joo Man
“Kau bilang Hal-hal kecil? Kenapa kebahagiaan harus dari hal-hal kecil? Jika kita terus seperti ini, kapan kita akan membeli apartemen, membeli mobil, menikah, naik jabatan, dan punya anak?” kata Joo Man dengan nada tinggi. 

Sul Hee agar kaget mendengar perkataan Pacaranya. Joo Man meminta maaf karena dirinya tidak bersyukur atas hal-hal kecil itu lagi, karena ingin bertemu temanku dan menyombongkan diri lalu seAndainya  punya sesuatu untuk dibanggakan.
“Joo Man ... Kenapa aku merasa kau berubah?” ucap Sul Hee tak percaya
“Manusia tidak selalu sama sepanjang waktu. Kau tidak bisa hidup seakan bermain rumah-rumahan.” Tegas Joo Man 


Ae Ra berdiri di pinggir pantai merasa tak PD karena pakaian yang digunakan sama seperti kemarin. Dong Man melihat Ae Ra itu cantik, Ae Ra mengeluh melihat ada jerawat yang besar. Dong Man sedikit gugup dan meminta agar Ae Ra agar bersikap normal hari ini, agar Jangan mencolok, Jangan menari.
“Omong-omong, benarkah Kau akan merasa begitu jika pergi ke pulau terpencil denganku?” kata Ae Ra. Dong Man binggung apa maksudnya.
“Apa aku sama dengan penduduk pribumi atau kera? Kenapa kau begitu menghormatiku? “ keluh Ae Ra dan keduanya kembali gugup. Dong Man memegang tangan Ae Ra.
“Ae Ra.. Alkohol menyelamatkanmu kemarin.” Kata Dong Man. Ae Ra binggung Dong Man sengaja mendekatkan wajahnya bertanya apakah Ae Ra ingin pergi ke pulau terpencil denganya.
“Kau tahu... Kita benar-benar hanya teman, 'kan? apakah kita sudah menjalin hubungan” kata Ae Ra  menyakinkan.
Dong Man dengan mencubit pipi Ae Ra menyuruh agar menghentikan omong kosongnya, lalu menyuruh berlatih saja dan akan menontonya. Ae Ra kesal melepaskan tangan Dong Man dan memegang pipinya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


Tidak ada komentar:

Posting Komentar