Sabtu, 03 Juni 2017

Sinopsis The Best Hit Episode 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Seorang pria dengan badan kekar dan juga sedikit goresan dibagian badanya dan berbicara dengan bahasa mandarin.
“Aku telah memikirkan hal terhebat dalam hidupku, selama 23 tahun. Semua yang kukira akan berjalan lancar ternyata tidak seperti yang kuharapkan. Aku masih tidak yakin akan kemana... dan apa yang harus kulakukan. Dunia penuh dengan percobaan, dan aku akan menghadapinya sendiri.”
Si pria melihat bayangan dirinya dan seperti ada orang dengan topeng yang menganggunya, tapi ketika memberikan pukulan hanya bayangan dan orang-orang bertopeng disekelilingnya terlihat makin banyak.
“Apakah aku akan mendapatkan hal terhebat itu? Di waktu krusial seperti ini, apa aku bisa mengepalkan tanganku?”
Tiba-tiba seseorang datang dengan pakaian bruce lee dan menendang pria bertopeng.
“Yoo Hyun Jae bisa meninju orang itu.”


 [1993, Seoul]
Berita ekonomi membahas tentang saham Industri mengalami kekurangan tenaga kerja. Ekspor minimum dan maksimum telah dan Ini adalah era perkembangan dan harapan.
 -Siapa aku?- membahas tentang Yoo Hyun Jae dimasa lalu
“Pemuda penuh dengan kepercayaan diri. Masa lalu adalah masa lalu, sesuatu yang akan berhenti. Hal yang indah ada dimasa depan.”
Film, lagu dan iklan di tahun 1993 kembali diputar, Di masa itu adalah masa Yoon Hyun Jae dari J2. Dengan kaset laserdisc dan sebagainya dijual. Berita memberitahu  J2 muncul dan mendominasi industri musik, dimulai J2 sebagai pendatang baru, dengan Lagu mereka menanjak 46 nomor. Lalu Yoo Hyun Jae menulis lagu itu sendirii, melakukan koreografinya, dan mendesain kostumnya sendiri. Di 

Di Acara musik, pembaca acara senior merasa heran mengapa orang-orang terkena dengan sindrom J2. Pengamat musik berkomentar  Generasi tua sepertinya sulit mengerti keadaan ini. Dilihat dari musiknya, tipe J2 seperti tipe musik masa depan.
Para fans pun berkomentar J2 sangat keren. J2 pun berhasil menjadi juara pada acara musik dibaning Seo Taiji and Boys. Seorang artis cantik menyanyikan lagu dengan gaya manisnya, berita pun mulai menyebar bahwa Yoo Hyun Jae dari J2 dikabarkan tengah berkencan.
Berita “Ini skandal keempatnya tahun ini. Kali ini, dia dirumorkan dengan Hong Bong Hee, sang peri.” Lalu berita lain muncul “ Yoo Hyun Jae mengumumkan bahwa J2 akan bubar dan membuat para fans terkejut. Agensinya, World Entertainment, belum mengonfirmasi mengenai masalah itu.”

Lee Kwang Tae dan Lee Soon Tae keluar dari gedung, wartawan langsung mengerubingi meminta konfirmasi. Tuan Lee tak ingin berkomentar memilih untuk segera menghindar.
“Penyanyi terkenal Yoon Hyun Jae menghilang. Dia tengah berada di studio untuk menyelesaikan album barunya. Tempat Ini, Anda akan bisa melihat jejak kesuksesannya.” Ucap reporter yang melaporkan dari studio tempat Hyun Jae menghilang.
“Kami telah menemukan keberadaan Yoon Hyun Jae. Kemarin, setelah sebulan menghilang, mobilnya ditemukan di dekat danau Paju. Polisi sedang menyelidiki kemungkinan korban tenggelam. Kepolisian melakukan pencarian secara menyeluruh di area danau.”
Akhirnya banyak karangan bunga yang ditaruh di pinggir danau, lama kelamaan foto dsb terbengkalai begitu saja. Seorang wanita datang melihat foto Hyun Jae terlihat masih sedih.
“Seperti itu, Yoon Hyun Jae menghilang bersama dengan tahun era 90-an.”

 [2017, Seoul]
Seorang fotographer mempersiapkan kamera memuji pelangganya yang  semua tampan dan cantik maka fotonya pasti akan bagus juga. Tuan Lee yakin kalau fotonya harus bagus lalu merasa silau dengan lampu yang diberikan oleh sang fotographer merasa kalau Terlalu terang.
“Pencahayaannya akan membuat fotonya terlihat lebih baik lagi.” Kata sang fotographer lalu meminta maaf dan akan mengarahkan pada tempat yang lain.
“Kenapa kau memutarnya?” kata Tuan Lee. Si fotographer bingung karena sebelumnya Tuan Lee bilang terlalu terang. Tuan Lee sekarang merasa tak masalah akhirnya lampu pun menyorot ke arah wajahnya, lalu menanyakan keberadan Kwang Jae. 

Seorang pria Lee Kwang Jae sedang sibuk berbicara di telp, memohon bantuan dengan berjanji tidak menunggak. Seperti si pemilik ingin melelangnya. Kwang Jae menegaskan kalau akan membayarnya walaupun harus merampok bank. Si penelp seperti tak percaa
“Kubilang aku akan merampok bank untuk bayar utang. Kenapa?” ucap Kwang Jae.
Hong Bo Hee keluar studio memanggil Kwang Jae yang tak masuk juga, Kwang Jae  mengangguk. Lalu kembali bicara di telp dengan mengajak minum dan sangat merindukannya juga. 

Kwang Jae akhirnya datang meminta maaf karena harus menjawab panggilan penting. Fotographer pun akan mengambil gambarnya, lalu meminta agar mendekat sedikit pada anak mantunya, yaitu Bo Hee. Tuan Lee mengatakan kalau Bong Hee bukan anak mantu.
“Kalau begitu sedikit mendekat ke putri anda” kata Fotographer. Tuan Lee mengaku Bo Hee bukan puterinya.
“Kalau begitu, Nyonya mendekatlah ke suami Anda...” kata Fotographer mengarahkan Bo Hee pada Kwang Jae. Mereka pun mengelak kalau bukan suami isteri.
“Pangeran kecil, bisakah kau sedikit mendekat ke Ayahmu?” ucap Fotographer pada anak kecil yang duduk didepan.
Anak menyangkalnya. Si fotographer binggung merasa Tuan Lee adalah ayahnya. Si anak menegaskan kalau ia bukan seorang pangeran tapi seorang putri. Si fotographer pun meminta maaf karena terlihat seperti pria lalu akhirnya meminta agar bisa lebih mendekat pada ayahnya yaitu Kwang Jae
Si anak mengaku Kwang Jae bukan ayahnya. Akhirnya Ji Hoon mengaku kalau Kwang Jae sebagai ayahnya. Si fotographer binggung, Kwang Jae menyakinkan kalau Ji Hoon memang anaknya. Tuan Lee mulai kesal merasa Fotographer seperti ingin melakukan sensus, dan meminta agar segera mengambil foto saja. Foto seperti keluarga pun diambil. 

Semua turun di depan sebuah gedung, Ji Hoon turun dari mobil lama milik ayahnya. Kwang Jae memanggil anaknya agar masuk saja karena akan mengantarnya. Ji Hoon menolak karena  bisa naik bus. Kwang Jae menyuruh anaknya agar segera masuk saja. Akhirnya Ji Hoon pun naik mobil butut milik ayahnya.
Di bagian pintu terlihat tulisan “Penggemar Korean Wave Dunia” dibagian belakang “World Entertainment”  lalu gambar dua wanita yang besar disisi mobil lainya bertuliskan Helter-Skelter dan juga Sang Peri. Kwang Jae membahas pada anaknya kalau Belajar pasti sulit, Ji Hoon pikir tak juga.


“Syukurlah... Aku tak mengerti kenapa aku tidak pandai belajar.” ucap Kwang Jae
“Presdir bilang Anda adalah siswa pandai.” Komentar salah satu wanita ke bagian depan. Kwang Jae menegaskan kalau lebih pandai dari wanita itu
“Kita ada janji jam 2 dan bisa terlambat.” Kata salah satu anggota lainya.  Kwang Jae yakin kalau Tidak akan seperti itu dan menyuruh mereka duduk saja.
Dalam mobil butut ternyata ada dua orang artis yang duduk dibelakang, Kwang Jae pikir kalau mereka harus Belok kiri, Ji Hoon merasa Sudah terlambat jadi lebih baik berputar karena tak bisa pindah jalur.
Kwang  Jae merasa Belum terlambat dengan kemampuan menyetirnya mulai melakukan drift sampai semua makanan dan sandal melayang karena berguncang, Ji Hoon pun menempelkan wajah ke jendela dengan cara ayahnya menyetir mobil. 

Seorang dosen berkata didepan kelas "Kita menderita karena kita muda." Ia bercerita saat muda sambil menyanyikan lirik ~Kau akan menjadi dewasa melewati kesulitanmu~ menurutnya “No pain, no gain.” Bahwa Tanpa rasa sakit, takkan mendapatkan apapun.
“Apa kalian Mengerti? Menjadi pemuda memang sulit. Jika kalian ingin mencoba, maka kalian harus merasakan kesulitan. Banyak diantara kalian hanya duduk saja dan tak tahu bagaimana rasa sakit itu. Kalian harusnya malu.” Ucap dosen dan salah satu anak murid bernama Choi Woo Seung.
“Aku sudah mengajar di Noryangjin selama 9 tahun. Tapi Aku sangat tersentuh.” Ucap Dosen dan menunjuk pada Woo Seung menanyakan namanya.
“Lee Ji Hoon.” Ucap Woo Seung. Dosen melihat Ji Hoon  berpikir kalau perkataan sangat menginspirasi sampai menangis haru. Woo Seung mengaku bukan seperti  itu.
“Kau bilang Tidak? Lalu kenapa kau menangis?” tanya dosen binggung.
“Kantung air mataku bocor jadi Aku menangis setiap saat dan ini adalah penyakit.” Akui Woo Seung menghapus air matanya. 

Ji Hoon memanggil Woo Seung dengan panggilan Lee Ji Hoon palsu. Woo Seung pun membahas dengan panggilan Lee Ji Hoon asli lalu menanyakan alasan Ji Hoon datang. Ji Hoon memberikan sekaleng kopi untuk Woo Seung lalu berjalan bersama melalui lorong. 
“Kenapa kau disini?” tanya Woo Seung kembali. Ji Hoon mengejek Woo Seung itu senang bertemu dengannya.
“Kau bilang Senang? Aku adalah Ji Hoon. Dengan Muncul tiba-tiba disini, maka tidak diperbolehkan. Datanglah saat makan siang, aku akan mentraktirmu.” Ucap Woo Seung berjalan menuruni tangga.
“Jangan begitu. Kau meminjam namaku agar bisa ikut les.” Ucap Ji Hoon
“Hei, tapi itu tidak gratis. Aku membayarmu.” Balas Woo Seung. Ji Hoon mengejek kalau membayarnya tak banyak.
“Salah siapa aku hidup begini? Apa aku perlu melapor pada Ayahmu kalau kau ikut kelas menari?” ucap Woo Seung lalu kakinya tersandung dan hampir jatuh dari tangga.
Ji Hoon langsung memegang tangan Woo Seung sebelum jatuh,  memarahinya untuk bisa berHati-hati. Woo Seung bisa kembali bisa berdiri tegak dan merasa senang karena kopinya tak tumpah.  Ji Hoon heran melihat Woo Seung seperti tak peduli.


Ji Hoon pun bertanya apakah temanya itu bisa lolos kali ini. Woo Seung yakin kalau pasti lolos kalau sampai gagal lagi, maka harus loncat dari sebuah tempat. Ji Hoon menyuruh temanya agar Jangan bicara sembarangan.
“Begitulah kehidupanku. Melihat bagaimana aku selalu gagal, aku mulai mempertanyakan takdirku.” Kata Woo Seung
“Ujian kali ini...” kata Ji Hoon lalu melihat temanya yang menangis. Woo Seung langsung menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Dokter mengatakan dimataku ada penyakit, jadi Kantung air mataku bocor. Aku harus dioperasi, tapi tak ada waktu.” Cerita Woo Seung.

Ji Hoon akhirnya pamit, Woo Seung mengaku ingin mengantar tapi tidak bisa. Ji Hoon mengaku kalu takkan mau juga diantar oleh Woo Seung, lalu menanyakan kabar pacarnya. Woo Seung mengaku pacarnya baik-baik saja dan segera pamit pergi lebih dulu. 
Ji Hoon terdiam mengeluarkan ponsel ingin mengirimkan pesan “Ayo makan siang lain kali.” Woo Seung baru saja menaiki tangga membaca pesan dari Ji Hoon “Hubungi kami jika kau butuh uang.” Ia tak menyangka Ji Hoon bisa tahu kalau sedang membutuhkan uang, lalu melihat pesanya pada pacaranya “Apakah Kau sudah makan?” tapi belum juga dibalas dan berpikir kalau sedang sibuk. 

Ji Hoon berjalan melewati gedung World Entertainment berusaha memalingkan wajah dan pergi menjauh dan  berbelok pada sebuah gang kecil.
“Ayahku bekerja serabutan dan tidak diupah bulanan. Jadi, dia merasa pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang diupahperbulan. Namun, mimpiku bukanlah sesuatu yang akan diupah perbulan. Aku seorang trainee, yang akan segera debut.” Gumam Ji Hoon dengan mengubah penampilanya mengunakan jaket dan masker. 

Di depan Gedung Star Entertaiment yang cukup besar, beberapa fans remaja menunggu dibagian depan artis mereka. Ji Hoon berjalan dibagian belakang, ada tiga orang remaja yang sudah menunggu dan menghadang jalanya.
“ Hei! Aku bolos sekolah dan datang jauh-jauh kesini dari Busan untuk menemui Oppa. Aku fans berat Oppa.” Ucap Si remaja dan meminta agar memperlihatkan wajahnya.
“Aku bukan MJ.” Kata Ji Hoon. Tiga orang yang sudah tergila-gila pun menganggumi suara yang bagus.
“Tidak usah takut, dan tunjukkan muka Oppa.” Kata si anak mencoba untuk membuka masker, setelah melihat wajah Ji Hoon heran karena tak mengenalnya.
“Dia bukan MJ Oppa.” Kata si remaja. Ji Hoon kesal karena sudah mengatakan sebelumnya lalu berjalan pergi.
“Apa dia pikir dia selebriti? Kenapa dia pake masker juga?” ejek si remaja. 


Ji Hoon buru-buru masuk ruangan, Seorang teman MC Driil menyapa memberitahu kalau tidak terlambat. Ji Hoon bertanya apakah sudah melakukan untuknya. MC Drill dengan sedikit bahasa inggrisnya merasa kaalu seharusnya lihat aktingny dengan wajah wajah lemas
"Ji Hoon tidak sakit. Dia ke rumah sakit..." ucap MC Dril memperagakanya
“Hentikan. Aku bisa betul-betul sakit nanti.” Kata Ji Hoon
“Lalu kenapa kau tak mengatakan saja pada mereka? Ayahmu manajer disini. Mereka akan mengerti.” Kata MC Drill
“Sudah kubilang. Aku memberitahunya mengenai label yang ingin merekrutku dan mereka menghilang.” Kata Ji Hoon
“Benar. Saat dia marah, dia bisa meledak-ledak.” Ucap MC Drill 

Kwang Jae berbicara di telp sambil membawa kotak mengomel kalau semua  Tidak masuk akal, padahal mengosongkan jadwal mereka untuk acara itu dan  tak boleh membatalkannya. Jadi akan datang hari Rabu jam 2 siang, setelah menutup telp langsung mengumpat kesal
“Ada apa? Acaranya dibatalkan?” tanya Bo Hee membawa banyak buku
“Ini acara tahunan. Tidak mungkin dibatalkan. Mereka pasti mencari orang lain, dan mendapatkan yang lebih murah dari Helter-Skelter.” Kata Kwang Jae
“Tapi, mereka tetap mengatakan acaranya dibatalkan. Lalu Kau akan bagaimana?” tanya Bo Hee.
“Tidak dibatalkan.” Kata Kwang Jae lalu melihat Bo Hee yang membawa banyak menyuruh agar meletakan saja. Bo Hee merasa bisa mengangkatnya.
“Cukup. Aku tidak meminta bantuanmu untuk hal seperti ini.” Kata Kwang Jae
Bo Hee mengetahui kalau pihak bank menghubungi temanya, dan bertanya Apa itu serius. Kwang Jae mengaku Bukan masalah. Bo Hee bertanya apakah  itu masalah pinjaman untuk gedung lalu berkomentar kalau Jika hal itu tak terjadi pada Hyun Jae maka.
Kwang Jae kesal Bo Hee membawa nama Hyun Jae karena  20 tahun sudah berlalu jadi lebih baik lupakan saja. Bo Hee pikir hanya mengatakannya saja lalu meminta Kwang Jae agar memasang paku karena ingin menggantung foto keluarga. Kwang Jae masang paku, lalu seperti melihat wajah Hyun Jae dengan kesal langsung memukulnya padahal sudah bertahun-tahun lalu.

Woo Seung sedang berlajar di dalam kelas, terdengar suara bunyi ponsel semua orang yang berada dalam ruangan mengeluh kesal karena membuatnya terganggu. Wan Seung pun ikut kesal lalu tersadar kalau itu bunyi alarm ponselnya dan langsung meminta maaf dan bergegas keluar karena sudah terlambat.
Woo Seung segera berlari dengan mulut yang memakan kimbap sebagai makan malam dan juga note ditanganya. Tanganya sempat tersenggol membuat kimbapnya terlempar, Woo Seung bisa melompat dengan mulutnya bisa menangkap kimbap sebelum jatuh ke tanah. 

Woo Seung sampai di tempat karaoke, dengan memberikan hormat pada bosnya meminta maaf karena datang terlambat, tanpa sadar ada nori yang nempel dibawah hidungnya.  Si bibi sudah tahu Woo Sung selalu terlambat, jadi Bersihkan ruangan 4 terlebih dahulu. Woo Seung mengangguk mengerti.
“Hei... Apa itu kumis? Apa itu dibawah hidungmu?” ejek si bibi. Woo Seung sadar dengan memegang wajahnya masih ada sisa nori. 

Gedung World Entertainment
MC Drill tertidur dengan suara dengkuran yang keras di kamar Ji Hoon. Kwang Jae masuk kamar anaknya dengan membawa keranjang pakaian kotor, membangukan anaknya karena sudah terlambat. Ji Hoon membuka matanya memberitahu kalau sudah bangun.
“Omong-omong, sejak kapan kau mendengkur?” ucap Kwang Jae. Ji Hoon binggung lalu teringat temanya yang menginap dan mengaku kalau memang kadang-kadang dan melihat lemari pakaian akan terbuka.
Ji Hoon panik langsung memeluk ayahnya dari belakang dan segera menutup jendela. Kwang Jae heran melihat Ji Hoon memeluknya. Ji Hoon meminta Maaf karena mendengkur. Kwang Jae tak mempermasalahkanya menyuruh anaknya segera turun. Ji Hoon berjanji akan segera turun. 

Setelah Kwang Jae pergi, Ji Hoon membuka lemari dan Mc Dril jatu keluar dari lemar, dengan nada kesal meminta temannya kalau sedang dirumahnya. MC Drill mengaku kalau mimpi buruk, yaitu jatuh dari sebuah tempat. Ji Hoon menegaskan kalau  bukan mimpi tapi memang baru saja jatuh.
“Daebak. Aku semakin takut. Bagaimana kalau aku gagal debut kali ini?” ucap MC Drill panik
“Kau bilang gagal debut itu tidak apa-apa.” Kata Ji Hoon, MC Drill memeluk temanya berharap agar Ji Hoon jangan sampai gagal.
Ji Hoon mengeluh dengan temanya agar melepaskan pelukanya, tapi MC Drill malah seperti orang utan bergantung padanya. Ia menegaskan kalau takkan gagal kali ini dan akan debut tidak peduli apapun lalu berjalan pergi kekamar mandi dengan teman yang mengantung pada tubuhnya. 

Sebuah kotak dengan lebal “Pegang dengan baik” temanya memanggil Woo Seung menanyakan apakah belum bangun. Woo Seung tertidur di dalam kardus dengan note yang menempel. Temanya mengeluh Woo Seung yang selalu tidur dalam kardus.
“Mungkin aku sudah terbiasa sekarang jadi Rasanya tidak nyaman lagi.” Ucap Woo Seung.
“Aku sudah membayar tagihan bulan ini jadi Kirimkan aku sisa tagihannya nanti.” Kata temanya mengunakan seragam yang rapih
“Kenapa? Kita bisa membayarnya bersama. Aku tidak enak karena tidak membayar cukup uang sewanya.” Kata Woo Seung sedang mengosok gigi.
“Tidak apa... Aku tahu kau tidak punya banyak uang.” Ucap teman satu kamar. Woo Seung pun mengucapkan terimakasih.
Temanya pikir tak masalah karena mereka itu bersahabat, lalu membuka kulkas dan bertanya apakah Woo Seung makan semua rotinya. Woo Seung binggung lalu mengatakan kalau merasa lapar tadi malam. Temanya mengeluh karena seharusnya Woo Seung tahu kalau selalu sarapan.
Woo Seung berkata akan membuatkan nasi goreng. Temanya menolak sudah terlambat tapi akhirnya meminta untuk telur goreng saja. Woo Seung binggung, Temanya lalu berpikir kalau Woo Seung yang akan mencuci sprei dan Kamar mandi juga, bahkan bersihkan saja rumah.  Woo Seung pun menyetujui akan membersihkan semua. 


Ji Hoon akan berangkat, Kwang Jae memanggil anaknya agar bisa minum jus pir yang  baik untuk rhinitis. Ji Hoon pikir ayahnya itu tak perlu repot-repot. Kwang Jae tahu kalau Belajar membutuhkan banyak energi dan tak bisa belajar dengan baik karena kurang tidur. Ji Hoon menghabiskan minum dari ayahnya.
“Ayah tahu ini sulit, tapi bertahanlah. Tidak ada yang lebih baik daripada menjadi PNS saat ini. Kau diupah perbulan. Lalu kau akan dapat pensiunan saat pensiun nanti. Dan mereka akan memberikanmu bonus liburan.” Pesan Kwang Jae. Bo Hee keluar dari gedung menyuruh Ji Hoon pergi karena akan terlambat nanti. Ji Hoon pun segera pergi.
“Lihat dia, dia semakin mirip denganku.” Ucap Kwang Jae bangga. Bo Hee mengejek kalau itu tak mirip sama sekali.
“Yah, dia punya sesuatu yang mirip denganku.” Ungkap Kwang Jae. 

Ji Hoon berjalan pergi ke tempat les tapi berbelok ke arah gang dan kembali mengeluarkan jaketnya dengan gagah, tapi malah menjatuhkan semua barang-barang mulai dari mainan anak-anak bahkan celana dalam. Akhirnya Ji Hoon pun harus mengambil semua barang yang berantakan sebelum mengunakan jaketnya.
Semua fans masih menunggu MJ di depan Star Punch, Ji Hoon kembali melewati pintu belakang, 3 orang fans kembali berpikir kalau itu MJ. Ji Hoon langsung membuka masker kalau bukan MJ. Si fans kesal mengejk Ji Hoon sebagai “Oppa palsu.” Dan selalu dibuat bingung, lalu menunggu kapan MJ akan datang. 

“Apa Jika seseorang mengenakan jaket dan masker, dia otomatis jadi MJ?” ucap Ji Hoon kesal, MC Drill tiba-tiba datang dengan membawa tongsis dan ponselnya.
“Hei, Oppa palsu... what's up, semuanya? Apa Kalian bisa melihatku? Ini temanku yang suka berpenampilan seperti artis padahal dia belum debut.” Ucap MC Drill menyapa semua pengemar dengan mengenalkan Ji Hoon memberikan salam.
“Semuanya, jangan ribut. Dia menjadi trainee secara diam-diam disini.” Kata MC Drill. Ji Hoon binggung apa yang sedang dilakukan temanya.
“Aku melakukan live streaming di internet. Aku mempersiapkan diriku untuk tampil di variety shows nanti. Ucapkan salam untuk para penggemarku.” Kata MC Drill.
Ji Hoon mengeluh dengan tingkah temanya, akhirnya menyapa dilayar dengan memperkenalkan namanya lalu bertanya  Berapa banyak yang menontonnya. MC Drill melihat dilayar dan memberitahu tak ada yang melihat. Ji Hoon hanya bisa menoyor kepala temanya dan berjalan pergi. 


Ji Hoon dan trainee lainya berlatih nari, pelatihnya memberikan teguran beberapa kali pada Ji Hoon terlihat sudah banyak keringat yang keluar karena sering berlatih. Sampai akhirnya pelatihnya memberikan istirahat selama 10 menit, semua seperti langsung jatuh terlentang karena kelelahan.
“Hei.. Apa Kalian lihat keringat ini? Jika kita mengumpulkannya, Mak Korea takkan kekurangan air lagi. Kau buat hidupmu jadi susah saja. Kenapa kalian menari untuk hari ini? Musik adalah satu-satunya 'narkoba'. yang diperbolehkan di negara kita.” Ucap MC Drill kembali membuat siaran live
Dua orang anak kecil masuk ruangan menyapa semua trainee,  Ji Hoon bertanya apakah mereka anak baru,padhal terlihat seperti anak SD. MC Dril membenarkan kalau keduanya memang anak SD Yang baju hijau, kelas 5 dan Yang baju merah, kelas 6. Ji Hoon pikir keduanya masih terlalu muda.
Keduanya mulai berlatih menari berdua, Ji Hoon dan MC Drill hanya bisa melonggo melihat dua anak SD yang lebih bagus menari dengan power dan patahan yang bagus. 

Bo Hee menikmati secangkir kopi dengan roti seperti sedang membayankan sesuatu. Kwang Jae keluar dari gedung agency sambil mengeluh melihat pakaian apakah itu baju atau rok. Dua anggota sudah berdanda mengauk kalau pakain itu bisa menjadikan atasan atau rok.
“Bo Hee, aku akan ke Yangpyeong bersama mereka. Aku akan terlambat pulang, jadi jangan tunggu aku.” Ucap Kwang Jae. Bo Hee seperti masih melamun dengan kopinya.
“Bo Hee, aku pamit.” Kata Kwang Jae akhirnya mendekat, Bo Hee tersadar dan mengucapkan Selamat jalan.
“Apa yang ada dipikiranmu?” tanya Kwang Jae terlihatk khawatir.
Bo Hee mengatakan kalau sedang memikirkan comeback,  karena Terakhir kali, waktu comeback itu tapi tak melakukan apapun. Kwang Tae sedikit terkejut mendengarnya. Dua anggotanya tahu Bo Hee yang  tampil di "Live Info Show." Yaitu acara pagi untuk pergi menangkap ikan teri itu menurutnya itu comeback yang hebat.

“Eonnie juga ada di acara khusus untuk penggalangan dana.” Kata si rambut hitam. Si rambut orange bisa mengingatnya  berkat Bo Hee maak Kwang Hee mengeluarkan 500.000 won untuk membantu orang yang membutuhkan.
“Kita disana sebagai penari latar. yang hanya mengenakan gaun pendek saat musim dingin dan berdiri selama 4 jam.” Ucap si rambut orange. Kwang Jae tak ingin memberikan anaknya banyak omong langsung menyumpal roti.
“Jadi, apa kau memikirkan sesuatu?” tanya Kwang Jae. Bo Hee membahas  acara yang mempertemukan Soo Ji Eonnie dan Gook Jin Oppa.
“Sepertinya, acara itu banyak mengundang artis-artis lama, dan tampil di acara itu bisa membuat popularitasku menanjak lagi.” Ucap Bo Hee bersemangat.
Bo Hee menebak itu acara "Burnt Youth". Si rambut orange mengejek kalau Bo Hee itu tak tahu kalau acara itu benar-benar populer jadi takkan bisa tampil disana. Si rambut panjang mengajak temanya agar menunggu di mobil saja.
Bo Hee tetap yakin akan bagus jika tampil di acara itu adan akan membuat waktu comebacknya semakin menakjubkan. Kwang Jae pun berusaha menyakinkan kalau Akan sempurna dan akan cari tahu dulu lalu pamit pergi. 


Ji Hoon merasa kesal karena tak pernah membayangkan akan latihan bersama anak SD, lalu merasa sudah lama tak melihat Soo Jin Hyung. MC Drill dengan gaya rap meminta Ji Hoon tentang Soo Jin.
~Ini cerita sedih dari Soo Jin, Daripada melakukan debut. Dia pergi wajib militer Daripada jadi penyanyi, Dia menjadi tentara dan akan bekerja di pangkalan militer, bukannya di ruang latihan. Daripada mengucapkan "Say Ho" maka Dia akan meneriakkan nomornya. ~
“Apa  Dia pergi wajib militer?!! Padahal Dia tak mengatakan apa-apa.” Ucap Ji Hoon kaget setelah mendengar lagu rap temanya.
“Dia pergi wajib militer setelah 5 tahun jadi trainee. Jika kau jadi dia,apa  kau akan pamitan?” tanya MC Drill. Tiba-tiba Soo Jin datang dari belakang memeluk keduanya. Ji Hoon dan MC Drill kaget melihat orang yang sedang dibicarakan datang. 


Ketiganya duduk di atap dengan meminum jus, Soo Jin melihat cuacanya sangat bagus lalu membuka topinya aklau Rambut plontosnya itu cocok untuk cuaca seperti sekarang. Lalu membahas Ji Hoon yang selalu bilang mereka sudah tua dan kuno.
“Bagaimana rasanya jadi yang tertua?” tanya Soo Jin. Ji Hoon pikir Rasanya sama saja.
“Kira-kira kemana semua waktu berlalu?” kata Soo Jin merasa seperti suda membuang-buang waktu.
“Apa Hyung akan kembali setelah wajib militer?” tanya Ji Hoon. Soo Jin mengaku kalau sudah dikeluarkan.  Ji Hoon kaget mendenagrnya.
“Saat aku selesai wajib militer, umurku semakin tua. Omong-omong, kenapa kau mau jadi artis?” tanya Soo Jin. Ji Hoon pikir memang karena ingin.
“Kau, 'kan, mahasiswa Seoul National University dan bisa melakukan hal lain. Jika kau merasa disini bukan tempatmu,  maka menyerah saja. Jika kau hanya duduk seharian, maka kau akan jadi sepertiku.” Pesan Soo Jin

“Selama ini aku melihatmu sebagai anak yang baik, yaitu Kau terlihat sangat baik. Industri seperti ini butuhseseorang yang terlihat 'gila'. Setelah kupikir-pikir, aku jadi trainee sejak umur 18 dan melakukan yang terbaik selama 5 tahun.” Jelas Soo Jin.
“Namun, aku sadar kerja keras bukanlah intinya. Maksudku, semuanya melakukan yang terbaik, bukan? Bakatlah yang diperhitungkan. Kau akan menyesal karena sudah menyerah, namun itu belum cukup untuk sukses. Rasanya seperti 'keracunan'.”kata Soo Jin
Ji Hoon hanya diam mendengar nasehat Soo Jin. Soo Jin melihat MC Drill malah memutar musik orchestra. MC Drill mengaku kalau sedang  memainkan musik latar. Soo Jin memberikan hukuman dengan melakukan scoot jump dengan berteriak “Sunbaeku seperti langit.” Lalu mengeluh agar jangan pernah datang lagi. 


Kwang Jae mengikuti Sutradara Park untuk meminta bantuan satu kali saja. Sutradara Park mengaku ingin membantu dan menekan mesin kopi. Kwang Jae memberikan minuman, Sutradara Park  mengaku tak boleh menerima hal seperti itu. Kwang Jae pikir hanya mereka berdua jadi  Tidak ada pula yang melihatnya.
“Aku tak tahu apa maksudmu dengan 'hanya kita berdua',tetap saja aku tak bisa mempekerjakan artis yang sudah tak terkenal sepertinya.” Ucap Sutradar Park
“Aku bukan hanya meminta tolong. Dia Hong Bo Hee, sang peri.” Kata Kwang Jae membanggakan.
“Dia Sang Peri puluhan tahun lalu dan sudah jadi nenek-nenek sekarang.” Ejek Sutradara Park. Kwang Jae merengek pada temanya.
“Hyung, kau tidak boleh begini... Mari pikirkan... Saat puteramu Beom Sik lahir, kau tak bisa menemuinya karena ada acara live.” Ucap Kwang Jae. Sutradara Park meminta Kwang Jae menghentikanya karena kejadian sudah lama.

“Aku membawa isterimu ke rumah sakit saat tengah malam, dan dia menarik rambutku saat menunggu waktu kelahiran. Coba kau Lihatlah, rambutku tidak tumbuh lagi sejak saat itu. Dan saat Yoo Na lahir, isterimu ingin makan rasberi saat musim dingin. Bagaimana bisa... kita menemukan rasberi saat musim dingin? Aku mencari ke seluruh pelosok negara. untuk mencari rasberi.” Kata Kwang Jae mengebu-gebu.
Sutradara Park kembali meminta Kwang Jae menghentikanya. Kwang Jae pikir itu alasan agar meminta bantunya. Sutradara mengaku ingin membantu, tapi Hong Bo Hee tidak bisa jadi bintang tamunya. Kwang Jae menanyakan alasanya.  Sutradara mengeluh Kwang Jae yang tidak tahu, karena Semua orang membenci Bo Hee. Kwang Jae pikir tak seperti itu.
“Semua orang membicarakannya saat dia terlibat skandal dengan Hyun Jae. Dan Kau tahu itu, bahwa Popularitas akan hilang namun kebencian akan terus ada. Jadi Lupakan itu. Jika kau mau dia di acaraku, maka kau harus menemukan Hyun Jae yang hilang 20 tahun lalu, mak aku akan membuatkan acara khusus untuk mereka.” Tegas Sutradara Park lalu bergegas pergi mengangkat telp dari agensi lainya. 


Kwang Jae kesal karena seharusnya temanya itu  memikirkan apa yang sudah dilakukan untuknya dan mengumpat kalau sekarang terlihat seperti ikan teri. Terdengar suara bertanya Siapa yang terlihat seperti ikan teri. Kwang Jae terkejut lalu menyapa seniornya yang sudah lama tak bertemu lalu bertanya apakah ingin Syuting. Sang artis mengaku sebagai  penyiar radio dan sudah melakukannya selama 20 tahun. Kwang Jae mengingatnya ternyata rekannya masih melakukannya.
“Tunggu, jika kau penyiar radio, kau pasti banyak mengundang bintang tamu. Hwa Jung, bisakah kau membantuku?” ucap Kwang Jae sumringah. 

Bo Hee menerima telp dari Kwang Jae memberitahu tentang Siaran radio. Kwang Jae pikir kalau Orang-orang akan tertarik jika pelan-pelan masuk ke industri hiburan lagi. Bo Hee pikir ini saat comebacknya jadi kuncinya adalah wajah dibanding suaranya.
“Tentu saja, wajahmu adalah kuncinya. Apa Kau ingat Yoon Jeong Han PD? Dia dulu asisten produser termuda. Sekarang dia jadi Kepala Departemen Radio. Dia mau kau membantunya.” Ucap Kwang Jae meminta Bo Hee agar bisa membantunya. Bo Hee seperti masih berpikir-pikir. 

Woo Seung mencoba belajar dengan serius tapi suara orang yang menyanyi membuatnya tak konsentrasi lalu membuat ingin menutupi kupingnya, salah seorang wanita datang dengan wajah panik memberitahu Terjadi perkelahian dan harus menelepon polisi. Woo Seung kesal karena baru saja akan memulai belajar.
Dua orang pria saling mencengkram dalam ruangan karaoke,  tiba-tiba dengar suara dari mic menyuruh keduanya berhenti berkelahi. Keduanya melihat Woo Seung yang berbicara didepan pintu. Woo seung heran melihat keduanya yang bertengkar padahal datang untuk bersenang-senang.
“Aku sedang menyanyi, tapi dia menerobos masuk.” Ucap si pria. Pria lainya mengaku kaalu Itu lagu favoritnya selama 18 tahun, jadi seperti pencurian, perjudian. Si pria marah dianggap Pencurian dan ingin memukul.
“Hentikan. Saat Ahjussi memukulnya, Ahjussi melanggar UU KUHP Pasal 257. "Melukai orang lain akan dipidana dengan kurungan penjara 7 tahun dan denda 10 juta won." Jika Ahjussi adalah orang yang kaya raya dan punya banyak waktu luang, silahkan pukul dia.” Ucap Woo Seung membuat pria melepaskan cengkramnya.
“Kau selalu menganggapku sebagai lelucon.” Ungkap si pria kesal. Pria lain tak terima ingin membalikan meja. Woo Seung kembali menyuruh menghentikanya.
“Ahjussi boleh menghancurkan itu. Menurut UU KUHP 366, Ahjussi bisa dipidana dengan kurungan penjara selama 3 tahun dan denda 7 juta won. Dan tentu saja, kalian akan membayarnya secara terpisah. Kalian pasti tidak bisa melakukannya.”kata Woo Seung. Si paman pun akhirnya melepaskan tanganya. 


Si wanita tak percaya melihat Woo Seung yang bisa merelai dengan pasal-pasal dalam hukum dan berpikir kalau mahasiswi hukum atau pasti sedang belajar untuk persiapan ujian hukum. Woo Seung mengaku sebagai  mahasiswa CPNS. Si wanita binggung.
“Mahasiswa yang sedang menempuh ujian masuk PNS.” Ucap Ji Hoon. Woo Seung kaget melihat Ji Hoon yang datang.
“Kapan kau selesai? Ayo pergi makan bersama.” Ajak Ji Hoon. 

Keduanya pergi ke warung tenda. Woo Seung merasa  tak pernah berpikir akan makan udon disini bersama Ji Hoon. Ji Hoon menyuruh Woo Seung makan saja dari banyak bicara, lalu ingin membahas sesuatu tapi ragu.
“Apa kau memikirkan hal yang sama?” tanya Ji Hoon. Woo Seung binggung Memikirkan apa itu.
“Apa aku tak menarik? Apa  Sama sekali tidak menarik? Bahkan satu persenpun?” kata Ji Hoon. Woo Seung memikirkanya lalu bertanya-tanya harus rasional Atau emosional
“Otak kiriku yang jahat dan otak kananku yang baik sedang berkelahi. Sekarang Sudah kupikirkan... Kau tidak menarik. Sorry.” Ucap Woo Seung dengan nada mengejek.
“Jangan bercanda. Aku serius.” Kata Ji Hoon. Woo seung mengaku kalau memang Ji Hoon itu tak begitu menarik.
Ji Hoon heran kenapa dirinya tak menarik. Woo Seung pikir  Tidak ada alasannya dan Ji Hoon tidak menarik sama sekali hanya itu saja. Ji Hoon kesal dengan mengejek Woo Seung juga tak menarik  bahkan tidak sebaik wanita lain, lalu tubuhnya itu. Woo Seung langsung memberikan pukulan.


Si bibi datang menyuruh keduanya berhenti berkelahi dan makan udon mereka saja. Keduanya saling menatap seperti siap untuk bertarung dan memulai makan udon bersama. Ji Hoon terlihat bersemangat makan udon dengan cepat, Woo Seung terlihat santai makan udon. Ji Hoon sudah makan banyak tapi mulutnya tak kuat menahan panas dan mengambil acar.
Mulutnya tiba-tiba melonggo melihat Woo Seung sudah habis meneguk kuah dimangkuk udon. Woo Seung dengan banga kaalu ia sebagai pemenang dan mengupcakan terimakasih atas traktiranya. Ji Hoon kesal karena tahu kalau udonnya sangat panas.
“Hidupku lebih 'panas' dari udon ini, jadi Udon ini bukan apa-apa.” Ucap Woo Seung lalu melhat ponselnya yang berdering dengan nama ‘Si Perusak Mood’
“Seseorang meneleponmu. Apa Kau tak mengangkatnya?” ucap Ji Hoon
“Jika aku mengangkatnya, aku bisa hancur... Mood-ku.” Kata Woo Seung, akhirnya mau tak mau sedikit menjauh untuk mengangkat temanya.
Woo Seung pun bertanya apakah ada yang terjadi. Ibunya menangis curhat apda anaknya kalau baru saja putus dengannya. Woo Seung yang mendengarnya memuji keputusan ibunya.
Bersambung ke episode 2

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted
                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar