Rabu, 21 Juni 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 9 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Ae Ra masuk arena dengan mengunakan topi dan duduk dibangku belakang yang masih kosong. Lalu melihat Dong Man akan masuk ke ring membuka baju, sambil mengumpat kesal melihat temanya yang membuka baju juga.
Seorang wanita didepanya mengagumi Dong Man dengan merekam mengunakan ponselnya merasa kalau  pendatang baru. Ae Ra melihat kalau si wanita hanya merekam dengan memperbesar gambarnya lalu menegurnya.
“Aku bisa memperbesar atau merekamnya sesukaku. Memang kau siapa?” ujar Si wanita kesal
“Kenapa kau memperbesar gambarnya padahal dia akan dihajar?” keluh Ae Ra kesal.
Saat itu di atas ring, wasit sedang memperkenalkan para petarung dalam Pertandingan debut. Saat itu Hye Ran masuk dan di ikuti wartawan. Ae Ra yang melihatnya kembali mengumpat. Nama Dong Man pun mulai disebut, Ae Ra mulai panik melihat Dong Man yang terus di pukul tanpa henti dan ketakutan kalau sampai dihajar lagi, memilih untuk menunduk dan memejamkan matanya tak ingin melihat Dong Man dihabisi oleh lawanya. 

Dong Man setelah bertanding menuruni ring dan berjalan melewati Hye Ran lalu berjongkok didepan Ae Ra, lalu mengejek apa yang dilakukanya dan memberitahu kalau sudah menang. Ae Ra sambil menangis berasa Dong Man itu tak perlu melakukan ini karena tidak sanggup menontonnya.
“Aku dalam masalah... Kau.. tampak cantik, bahkan saat menangis.” Komentar Dong Man lalu berdiri mengulurkan tanganya. Ae Ra gugup lalu memilih untuk mengulurkan telunjuknya.
“Lihat dirimu, kau sangat mirip wanita sekarang.” Ejek Dong Man lalu mengajak Ae Ra pergi keluar dari ruangan pertandingan. 




Keduanya berjalan dilorong, Dong Man tiba-tiba berhenti lalu bertanya Kenapa memegang tangannya seperti itu. Ae Ra binggung, Dong Man lalu bertanya apakah merasa merinding atau membuatnya gugup. Ae Ra kesal Dong Man terus bertanya.
“Kurasa bukan hanya kau. Aku pun terus merasa aneh.” Komentar Dong Man. Ae Ra binggung.
“Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Entah kenapa aku merasa kau terlihat makin cantik. Sebelumnya aku hanya memikirkan untuk memitingmu dan saling mengganggu.” Akui Dong Man
“Hei... Bisa-bisanya kau bilang begitu.” Keluh Ae Ra mencoba untuk tak gugup.
“Saat aku memegang tanganmu, rasanya menyenangkan. Saat kau melihatku...” ungkap Dong Man. Ae Ra ingin tahu alasan melihatnya.
“Kadang aku ingin menciummu.” Akui Dong Man blak-blakan. Ae Ra makin kesal dengan Dong Man yang sejujur ini dan Seharusnya  merahasiakan itu.
Dong Man penasaran berpikir kalau Ae Ra memiliki perasaannya sama dan juga memikirkannya. Ae Ra meminta Dong Man agar Jangan katakan semua yang dipikirkan. Saat itu Pelatih Hwang dengan mata berkaca-kaca memegang tangan Dong Man seperti kekasihnya. 

Sul Hee baru saja turun dari bus memanggil Joo Man “Sayang” ingin membahas Dong Man tapi dikagetkan dengan Yee Jin sudah ada dihalte bus. Yee Jin binggung mendengar Ae Ra yang memanggil "Sayang". Joo Man binggung bertanya kenapa Yee Jin ada di halte bus.
“Aku yakin mendengarmu mengatakan "sayang". Benar, 'kan?” ucap Yee Jin. Sul Hee binggung menjelaskanya.
“Dia memanggilnya "sayang". Aku yakin mendengarnya mengatakan itu.” Ucap Yee Jin tiba-tiba langsung berbaring di kursi seperti baru saja mabuk. Keduanya pun binggung. 

Sul Hee akhirnya memangku kepala Yee Jin dan sengaja memegang bagian hidung yang mancung, lalu mengetahui kalau itu hasil operasi plastik, dan mengejak seperti Burung unta karena bulu matanya begitu lentik dan ingin tahu apakah itu memang asli.
“Aku tidak bisa berkata-kata. Apa ini bulu matamu?” ucap Ae Ra mencoba memegangnya. Tiba-tiba Yee Jin duduk seperti kembali sadar.
“Lalu kenapa dia membuat fotokopi itu untukku? Kenapa dia memperbaiki mesin fotokopi itu?” keluh Yee Jin kesal
“Apa Pak Kim melakukan hal-hal itu untukmu?” kata Sul Hee.
“Siapa yang peduli jika dia mirip Park Bo Gum? Aku sungguh... Aku sungguh menyukainya.. Aku sungguh menyukainya, itulah alasannya.” Akui Yee Jin lalu kembali berbaring.
Sul Hee hanya bisa memandang binggung, lalu melihat Joo Man yang membawa pereda mabuk sambil berlari. Joo Man kebinggungan melihat Yee Jin yang tak sadarkan diri. Sul Hee cemburu melihat Joo Man seperti  peduli.
“Dia tetap rekan kerjaku, Dia mabuk dan pingsan di halte bus. Kita tidak bisa meninggalkannya.” Jelas Joo Man
“Lalu bagaimana? Apa Kau akan membiarkannya tidur di rumahmu?” ucap Sul Hee sinis. Saat itu ponsel Yee Jin berdering, terlihat nama "Ibu"
Seorang wanita yang masih cantik pun membawa Yee Jin masuk dalam mobil, lalu berbicara pada keduanya merasa sangat senang, anaknya yang memiliki rekan-rekan yang baik. Keduanya pun hanya bisa tersenyum.
“Pasti kalian tinggal di daerah yang sama.” Kata Ibu Yee Jin. Joo Man mengaku mereka makan malam perusahaan di sekitar sini.
“Kau Kim Joo Man, 'kan?” ucap Ibu Yee Jin. Joo Man kaget ibu Yee Jin mengetahuinya.
“Aku sangat ingin menemuimu lagi kapan-kapan.” Kata Ibu Yee Jin lalu pamit pergi. 


Ae Ra dan Dong Man turun dari mobil dengan Pelatih Hwang yang ikut turun. Dong Man mengeluh dengan Pelatih Hwang yang masih menangis sambil mengerakan dagunya.  Ae Ra melihat keduanya berpikir harus menghabiskan waktu bersama-sama lalu beranjak pergi. Dong Man kesal dengan perkataan Ae Ra.
“Kau.... Lagi-lagi... Apa kau akan menangis setiap kali aku menang?” keluh Dong Man melihat pelatihnya.
“Kau terbang untuk kali pertama dalam sepuluh tahun. Aku mengikutimu selama sepuluh tahun hanya demi melihat itu lagi. Bersikap baiklah padaku. Beri aku kehidupan yang mewah. ” Kata Pelatih Hwang dengan air matanya.
“Pulanglah. Naiklah ke trukmu lalu pergi.” Ucap Dong Man tak ingin melihat pelatih Hwang terus terharu.
“Hei, izinkan aku memelukmu sekali saja. Apa Kau tidak pernah lihat Park Ji Sung memeluk Hiddink?” kata Pelatih Hwang
Dong Man kesal dengan pemintaan pelatih Hwang, tapi pelatih Hwang tetap ingin mencobanya. Dong Man pikir Orang bisa salah paham jika melihat mereka tapi akhirnya memilih memeluk pelatihnya.
“Pindahkan mobilmu.” Kata si bibi tiba-tiba datang. Dong Man langsung melepaskan pelukanya menyapa si pemilik.
“Dengar, aku tidak menghakimi. Tapi pindahkan mobil itu, lalu kalian bisa melanjutkannya.” Ucap si bibi. Dong Man kesal dengan perkataan melanjutkan apa.
“Siapa itu? Sepertinya.. Aku pernah melihatnya.” Komentar Pelatih Hwang. 


Sul Hee memberikan sosis, merasa temanya Sekarang seorang bintang jadi makan daging saja. Joo Man memanggil Tuan Bintang, Ae Ra mengeluh keduanya memanggil bintang tapi memberikan telur goreng.
“Teman-- teman... Apa Kalian menonton?” ungkap Dong Man tersenyum bahagia melihat temanya yang melayaninya lalu memakan suapan lauk dari teman-temanya.


Tak Su berlatih ototnya dengan semangatanya. Tae Hee datang bertanya pada Pelatih Hwang karena Tak Su berolahraga sepagi ini.  Pelatih Hwang memberikan ponselnya dan berita Dong Man "Pendatang Baru Super, Ko Dong Man, Membuat Lawannya KO dalam 19 Detik" "Kim Tak Su Dibuat Terpukau oleh Tendangan Pendatang Baru Ini"
“Pasti itu membuatnya kesal Pantas dia berusaha menjauhkan pendatang baru itu.” Ungkap Tae Hee karena Tak Su seperti tak ingin kalah dari Dong Man. 

Ibu Dong Man memanggil Dong Hee untuk sarapan dan Keluar kamar. Dong Hee melihat foto kakaknya berjudul "Sundae Atlet Nasional” Sementara salah seorang PD melihat berita Dong Man “Berterima Kasih pada Penggemar" dengan wajah Ae Ra yang diblur. 

Ae Ra yang melihat beritanya mengeluh karena jadi penggemar. Sul Hee pikir mereka adalah penggemar sejati Dong Man dan sudah menjadi pemandu sorak untuk Dong Man sejak SD.
“Kenapa mereka mengaburkan wajahku? Memangnya aku kriminal?” keluh Ae Ra tak terima
“Apa Kau berlatih pelafalan? Besok Cheongju’kan?” kata Sul Hee. Ae Ra mengatakan kali ini KBC Cheongju dan yakin akan bisa menghabisi  di wawancara ini.
“Sul Hee... Aku akan menyerahkan uang sewa bulan ini di akhir pekan depan.” Kata Ae Ra. Sul Hee pikir tak perlu karena sudah dibayar. Ae Ra merasa tak enak Sul Hee yang membayar sendiri.
“Jika kelak aku berhenti bekerja, Kau bisa membayar di bulan itu. Setelah itu, kita impas. Aku akan menggunakan "bantuan teman" pada saat itu.” Jelas Sul Hee lalu menyuruh Ae Ra berlatih. 


Si bibi sedang mengecat lalu melihat Ae Ra keluar dari rumah dan duduk ditangga lalu sengaja bersembunyi untuk mendengarkanya. Ae Ra mengeluarkan ponselnya lalu menelp seseorang. Sang ayah mengeluh anaknya yang menelepon pagi sekali.
“Apa tidak boleh putri Ayah menelepon pagi-pagi? Kenapa Ayah seperti itu?” keluh Ae ra
“Bagaimana keadaanmu? Apa kau bekerja? Apa kau makan teratur? Bagaimana dengan uang sewamu?” kata Ayah Ae Ra.
“Apa Ayah pikir aku tidak mampu membayar uang sewa?” keluh Ae Ra.
“Jangan bodoh. Ayah akan mengirimkan uang.” Ucap Ayah Ae Ra. Ae Ra mengancam kalau tak boleh melakukanya dan membuatnya kesal saja.
“Bagaimana kau bisa bayar uang sewa setelah berhenti bekerja?” kata Ayah Ae Ra khawatir.
“Aku yang berhenti bekerja, kenapa Ayah yang harus bayar? Aku yang berhenti, jadi, aku akan mengurus diriku sendiri. Pakailah uang Ayah untuk Ayah sendiri. Putri Ayah yang sudah dewasa bahkan tidak bisa mengirimkan uang. Kenapa Ayah terus mengirimiku uang? Aku merasa sangat payah setiap kali menerima uang Ayah. Jangan coba-coba mengirimkannya. Padahal penjualan tokonya tidak begitu laris.” Ungkap Ae Ra marah.
Si bibi terus mendengarkan ucapan Ae Ra seperti ingin kembali membantu. 


Dong Man melihat nama acara "Masa Muda, Jalanku". Lalu PD menceritakan sebuah program tentang para pendatang baru super di berbagai bidang. Dong Man mengartikan akan menjadi pendatang baru super di bidang MMA. Si PD membenarkan karena tahu seperti apa rasanya tinjunya. Dong Man mengerti maksudnya.
“Jangan merasa bersalah... Kita bisa mentertawakannya sekarang.” Kata Si PD
“Entahlah kalau soal tertawa. Setelah apa yang terjadi saat itu, aku tidak pernah menduga kau akan menghubungiku seperti ini. Apalagi soal ini dan kencan buta itu.” Kata Dong Man
“Ayolah, itu sudah lama. Kita bisa minum-minum dan membiarkan masa lalu berlalu. Kau begitu sensitif. Dan Selagi sedang membahasnya, bagaimana kalau kita atur saja? Lalu Apa kegiatan Ae Ra belakangan ini?” ucap PD seperti ingin mencari celah menanyakan tentang Ae Ra
“Jangan tanya tentang dia.” Kata Dong Man lalu menerima pesan di ponselnya "Uang pertandingannya telah disetor dan dipotong pajak"

Dong Man sudah ada di depan mesin ATM, lalu tanganya bergetar melihat lembaran uang yang keluar dari tabunganya, lalu memciumnya dengan bangga. Ia lalu membawa semua uang dan berjalan sambil menelp ibunya, Ibunya pun sedang bersama tetangganya memanggil Dong Man sebagai “ anak Ibu yang hebat itu.”
“Anak Ibu mengirimkan uang. Aku mengirimkan uang belanja.” Kata Dong Man. Ibunya pikir anaknya itu butuh uang belanja.
“Tidak, aku mengirimkan uang.” Kata Dong Man, Ibunya binggung kenapa anaknya mengirimkan uang belanja.
“Bu, aku menghasilkan uang dari kegiatan yang kusuka. Ini sungguh bermakna. Jadi, aku memutuskan untuk mengirimi Ibu.” Ungkap Dong Man bangga.

Ibunya berpikir Dong Man itu dalam masalah. Dong Man meminta ibunya  Percayalah pada anaknya. Tetangga ibunya yang mendengar berpikirDong Man bermasalah lagi. Ibu Dong Man tak ingin dianggap anaknya selalu membuat masalah lagi.
“Tidak, putra sulungku... Dia bilang  mengirimiku uang.... Uang belanjaku. Dia sangat cemas aku bekerja terlalu keras. Sepertinya hanya itu yang dia pikirkan. Dia tidak ingin ibunya menderita. Dia selalu bilang akan membuatku pensiun dengan nyaman.” Ungkap Ibu Dong Man bangga seperti ingin menyindir suaminya.
“Panggilan teleponnya singkat sekali. Apa Dia mengatakan semua itu?” ucap temanya tak percaya
“Kau tahu bicaranya cepat.” Kata Ibu Dong Man.Ayah Dong Man bertanya-tanya Dari mana uang itu. Sementara Dong Hee hanya dikamar mendengarnyakan pembicaraan orang tuanya.
Dong Man membeli sepasang sepatu dan meminta agar dikirim langsung, Si pegawai pun meminta Dong Man menuliskan alamatnya lebih dulu. Dong Man menuliskan nama "Wonmi-dong, Bucheon.. Vila Kangmi Unit 101, Ko Dong Hee"


Sul Hee masuk ke bagian tangga darurat, Joo Man sudah menunggu langsung membentangkan tangan seperti ingin dipeluk. Sul Hee seperti enggan melakukanya. Joo Man mengatakan harus memberikan presentasi untuk acara besok dan tidak bisa dipromosikan jika tidak mengisi daya baterainya.
Akhirnya Sul Hee memberikan pelukan agar Joo Man bisa makin tambah semangat,  Joo Man pun meminta Sul Hee agar memberikan Pengisian baterai yang cepat. Sul Hee pun memberikan kecupan di bibir Joo Man, mereka pun berciuman.
Saat itu Yee Jin mendengar sesuatu di lantai bawah dan ingin tahu siapa orangnya, perlahan menuruni tangga tapi dompetnya terjatuh. Joo Man dan Sul Hee mendengarnya langsung bergegas pergi. Yee Jin berhasil menuruni tangga binggung karena tak melihat siapaun padahal tahu mendengar orang seperti yang berciuman. 

Joo Man keluar pintu dan tepat bertemu dengan  Direktur Choi sedang minum kopir. Direktur Choi binggung kenapa Joo Man keluar dari tangga darurat. Joo Man dengan gugup mengaku ingin mengambil kopi. Direktur Choi binggung Joo Man turun berjalan kaki.
“Apa Kau turun dari lantai 10 untuk mengambil kopi?” kata Direktur Choi tak yakin.
“Aku berusaha menurunkan berat badanku.” Akui Joo Man. Direktur Choi merasa Joo Man memang cukup tertarik pada mode.
“Coba Lihat, ada sesuatu di bibirnya. Apa tadi kau di sana untuk makan sesuatu?” kata Direktur Choi curiga. Joo Man melipat bibirnya sambil menyangkalnya dan memilih untuk pergi. 

Dong Man makan di truk membahas kalau Pelatih Hwang berkata MMA adalah prioritas dan sundae yang kedua tapi kenapa masih berjualan pada jam makan siang, padahal tidak punya keluarga untuk dinafkahi. Pelatih Hwang mengatakan kalau Ibu-ibu yang tinggal di lingkungan itu menunggunya datang di jam makan siang.
“Tentu, bisa saja akulah yang mereka tunggu.” Kata Dong Man bangga. Pelatih Hwang pikir benar juga.
“Kenapa kau tidak mencalonkan diri menjadi presiden saja?” ejek Dong Man. Pelatih Hwang menyuruh Dong Man untuk bersiap ke Daecheon besok.
Dong Man binggung berpikir Untuk makan kerang. Pelatih Hwang mengeluh Dong Man masih berpikir punya waktu untuk makan kerang dan memberitahu kalau mereka akan menghasilkan uang, yaitu ada Festival Kerang Daecheon.
“Kau akan mendemonstrasikan cara menghancurkan sesuatu.” Jelas Pelatih Hwang . Dong Man mengeluh kalau harus tampil di depan umum.
“Kau bisa berlatih sambil menghasilkan uang. Kau tidak bisa apa-apa dengan 900 dolar per bulan. Kau mau membelikan ibumu rumah, membelikan ayahmu mobil baru, dan menafkahi adikmu. Kau pun harus segera menikah.” Jelas Pelatih Hwang.
Dong Man bertanya berapa harga sundae yang dimakan,  Pelatih Hwang mengejek kalau Dong Man itu pernah membayarnya. Dong Man menegaksan akan membayar semua yang pernah dimakan. Seorang bibi datang menyapa Pelatih Hwang yang berpikir tidak akan datang.
Pelatih Hwang tiba-tiba berubah jadi imut, menyapa pelangganya kalau Jang Ho harus datang karena sangat merindukannya. Si bibi pun mengaku kalau juga sangat merindukanya, keduanya saling merindukan . Joo Man melihat keduanya seperti orang konyol dan diam-diam menaruh uang pada baskom untuk memberikan pada pelatihnya. 

Mereka berempat berkumpul di atap, Sul Hee memegang sebuah boneka merasa boneka itu hadiah yang memalukan padahal Tidak lama lagi usianya 30 tahun. Dong Man tahu Sul Hee yang suka boneka sejak berusia enam tahun. Ae Ra memberitahu kalau Boneka ini bahkan tidak bisa didaur ulang.
“Dan Juga tidak akan cukup dimasukkan ke kantong sampah. Boneka ini harus dicabik-cabik lebih dulu.” Jelas Ae Ra
“Joo Man, bersiap dan masuklah.” Kata Dong Man. Joo Man binggung.  Dong Man memberitahu meninggalkan sesuatu di kotak barangnya.
Joo Man kaget melihat Dong Man membelikannya baju zirah, dan merasa sampai ingin menangis. Sul Hee pun bertanya apakah Dong Man tidak membelikan apa pun untuk Ae Ra. Dong Man memperlihatkan tempat tidur ayun yang pasti nyaman untuk Ae Ra. Ae Ra mengeluh kalau itu untuk mereka gunakan bersama.
“Kenapa aku tidak dapat apa-apa?” keluh Ae Ra.
“Kau tidak suka boneka ataupun permainan. Aku tidak bisa membelikanmu apa pun.” Ucap Dong Man
“Aku tidak memintamu membeli apa pun! Tapi Berikan aku sesuatu.” Keluh Ae Ra. 


Mereka berempat menuruni tangga, Dong Man memberikan kode pada Ae Ra agar ikut denganya. Joo Man berjalan lebh dulu mengajak merkea  minum lagi dengan anggur murbei atau kaki ayam. Dong Man tiba-tiba kalau  sangat mengantuk dan merasa sakit dibagian kepalanya.
“Bagus. Alkohol akan mengusir semua rasa sakit itu.” Kata Joo Man, Sul Hee melihat Dong Man seperti ingin melakukan hanya berdua dengan Ae Ra.
“Lupakan saja, kami juga lelah. Mari kita pulang.” Ajak Sul Hee. Joo Man pun memeluk Sul Hee untuk masuk rumah.  Dong Man terus berpura-pura kalau merasakan sakit. Setelah keduanya pergi, Dong Man menarik Ae Ra untuk pergi menuruni tangga. 

Sul Hee melihat dari depan jendela, menanyakan pendapat Joo Man pakah keduanya akan melewati batas. Joo Man yakin Pria ituakan sukses suatu hari nanti karena tahu Dong Man temanya dan tahu sangat hebat.
“Kenapa kau berkomentar seperti itu? Apa Karena dia membelikanmu baju zirah itu? Aku sudah menyuruhmu berhenti bermain.” Keluh Sul Hee. Joo Man merasa tak ingin berkomentar memilih untuk mandi saja. 

Ae Ra yang dibawa pergi menjauh bertanya apakah punya sesuatu untuknya. Dong Man hanya diam, Ae Ra yakin Dong Man membelikan sesuatu, Dong Man mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Ae Ra mengeluh Dong Man yang mengambilnya dari badanya. Dong Man memberikan sebuah kotak dan meminta agar membukanya.
“Kenapa warnanya kuning sekali?”kata Ae Ra melonggo tak percaya melihat cincin.
“Itu Emas murni.” Kata Dong Man. Ae Ra mengeluh Siapa yang memberikancincin emas zaman sekarang.
“Emas murni adalah investasi. Emas murni bisa dijual saat kau tidak punya uang.” Kata Dong Man. Ae Ra mengeluh berpikir mereka di negara miskin
“Kau berperan besar dalam membuatku kembali ke dunia olahraga. Melihatmu dengan mikrofon membuatku ingin mencoba lagi. Kau bahkandatang menyemangatiku.” Jelas Dong Man
“Apa Karena itukah kau membelikanku sebuah cincin emas?” keluh Ae Ra
“Emas adalah sebuah investasi, juga dana darurat. Itu bisa membayar uang sewa.” Kata Dong Man. Ae Ra mengumpat Dong Man benar-benar orang desa.
“Emas murni adalah yang terbaik. Pencuri selalu mengambil emas. Kita kehilangan semua cincin emas yang kita sembunyikan.” Kata Dong Man
Ae Ra merasa tidak bisa memakainya di tempat umum dan juga tidak bisa langsung menjualnya. Dong Man memberitahu Harga emas cukup tinggi belakangan ini, lalu sengaja membalikan badan untuk menahan senyuman bahagianya. Ae Ra pun ingin tahu alasan Dong Man harus memberinya cincin emas yang membuatnya merinding, lalu ingin memakainya tapi ragu. 



“Apa aku tidak terlihat terlalu sederhana untuk wawancara?” kata Ae Ra yang melihat rambutnya.
“Aku sudah menata rambutmu sejak usiamu enam tahun. Kau harus terlihat dua kali lebih rapi dibandingkan dengan orang lain. Satu kesalahan bisa membuatmu menjadi seorang gadis desa.” Jelas Sul Hee sibuk menata rambut temanya.
Ae Ra heran bertanya apakah Dong Man lari pagi lagi. Joo Man yang mencuci piring mengatakan kalau Dong Man itu bersikap seperti atlet profesional padahal sudah mengikutinya sejak kecil. Ae Ra pikir Dong Man lupa hari ada wawancara. Saat itu Dong Man datang.
“Hei.... Ahli bela diri kita datang.” Ejek Joo Man melihat Dong Man yang datang.
“Makanlah permen ini.” Ucap Dong Man memberikan bungkus permen. Ae Ra tak percaya Dong Man hanya pergi membeli permen.
“Siapa yang menjual permen sepagi ini?” kata Sul Hee tak percaya. Dong Man mengaku tak sengaja sedang berjalan dan melihat beberapa.
“Apa kau memungutnya?” tanya Sul Hee. Dong Man membenarkan kalau Orang suka menjatuhkan barang. Sul Hee pikir ini permen sisa. Ae Ra tersenyum memakanya. 

Keempatnya berjalan keluar rumah. Ae Ra memberitahu kalau akan ke KBC Cheongju. Dong Man ingin bicara. Ae Ra sudah tahu Dong Man akan bertanding. Joo Man mengatakan akan mendapatkan kontrak kimchi itu. Sul Hee mengatakan akan menjaga Joo Man dan istri di kantor.
“Mari kita berusaha keras...” kata Dong Man langsung disela Ae Ra Untuk membuat masalah.
“Kenapa kau mau membuat masalah? Apa kau penindas?” keluh Dong Man
“Kita tidak perlu menderita. Kita harus menimbulkan masalah.” Kata Ae Ra.
Sul Hee pun Setuju. Joo Man pun mengajak pergi. Ae Ra memperinatakn Joo Man kalau tidak boleh memberi pengaruh yang buruk pada Sul Hee. Si Bibi melihat keempatnya memberikan julukan Kimchi, istri di kantor, KBC, dan petarung, menurutnya itu Kacau sekali.
[Episode 9 - Masa Muda Akan Bermakna Jika Kita Membuat Masalah]

Dong Man dan rekan kerjanya berlatih, lalu akhirnya Dong Man meminta ampun seperti tak kuat melawan. Rekan kerjanya binggung, Dong Man mengaku Telinganya sakit lalu temanya melihat telinga Dong Man yang sangat merah.
“Akhirnya waktumu tiba.” Ungkap temanya mengejek
“Telingaku terlalu sering bergesekan dengan lantai. Aku bahkan tidak bisa tidur karena kesakitan.” Cerita Dong Man
“Tunggu saja, tidak akan sakit setelah menjadi seperti ini.” Kata rekannya. Dong Man ingin tahu Butuh berapa lama.
“Entah kapan telingaku jadi seperti ini.” Kata rekan kerjanya. Dong Man pikir itu keren karena seperti medali.
“Medali apa? Putriku menangis dan bilang, "Telinga Ayah seperti telinga monster."” Keluh rekan kerjanya.
Pelatih Hwang memanggil agar mereka pergi, karena harus ke Daecheon. Dong Man memberitahu Byung Joo belum datang. Pelatih Hwang mengatakan anak didiknya itu akan datang pekan depan karen sedang flu. Rekan kerjanya pikir Byung Joo masih sangat malu.  Pelatih Hwang mengajak mereka Anggap saja sakit.

Ae Ra masuk dengan name tag sebagai pelamar lalu melihat iklan bertuliskan "Penderitaan adalah berkah bagi kaum muda". Sementara Diruangan Hye Ran bertemu dengan temanya, Temanya merasa sudah lama tak bertemu lalu membahas Perceraian Hye Ran beberapa bulan lalu, tapi baru datang sekarang. Hye Ran mengaku sibuk dan menanyakan keadaan temanya. Temnya pikir kabarnya selalu sama.
“Melihat semua ini mengingatkanku pada masa lalu.” Ucap Hye Ran. Rekan kerjanya bertanya apakah Hye Ran mau masuk.
“Tunjukkan wajahmu agar mereka tidak bisa mengejek kita.” Kata Rekan kerjanya. Hye Ran pikir  Tidak perlu. Lalu melihat "Formulir Pendaftaran" dan melihat nama Ae Ra. 

Ae Ra kembal menjadi operator untuk TV Shopping, dengan pelanggan yang meminta kimchi lobak. Joo Man masuk ke studio meminta mengeluarkan kimchi lobak, karena Suaranya yang renyah menarik perhatian orang.
“Itu terlihat lezat di mataku, jadi, apa kata para penonton?” jelas Joo Man
“Fokuskan kamera pada pembawa acaranya, keluarkan lobak itu.” Kata PD lalu melihat salah satu anak yang terus menggaruk berpikir kalau alergi daging. Joo Man menyuruh mengeluarkan saja.
“Tapi jika hanya pak tua, wanita, dan anak itu yang tersisa, kelihatannya akan sangat menyedihkan. Alih-alih memakai kakek nenek dengan cucu mereka, kita pakai kakek nenek dan suami istri saja.” Kata PD pada Joo Man dan Yee Jin.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted
                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar