Jumat, 02 Juni 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 15

PS : All images credit and content copyright : SBS
Ji Wook yakin "Jika ada satu kebohongan, semuanya juga kebohongan." Melihat Hyun Soo berjalan didepanya sambil gumam siapa sebenarnya  Jung Hyun Soo. Hyun Soo melihat Ji Wook berada didepanya pun menyapanya, Ji Wook yang menatap dingin langsung berubah tersenyum.
“Mau kemana kau?” tanya Ji Wook ramah. Hyun Soo pikir Ji Wook sudah pergi lebih dulu.
“Aku kembali lagi. Kau harus minum denganku.” Kata Ji Wook. Hyun Soo merasa sudah minum banyak. Ji Wook merayu untuk minum satu gelas saja, Hyun Soo pun tak bisa menolak. 

Sesampai di restoran semua terlihat sudah tertidur karena mabuk, Ji Wook yang melihat temanya meminta maaf atas tingkah rekan kerjanya.  I Ji Wook pun menanyakan tentang keluar Hyun Soo. Hyun Soo engaku  tidak punya keluarga.
“Mereka pergi karena suatu alasan. Bagaimana denganmu, Pengacara Noh?” kata Hyun Soo
“Hmm... Aku akan mengatakan yang mirip begitu juga. Tidak apa-apa, kan?” ucap Ji Wook. Hyun Soo pikir tak masalah dan mereka pun kembali minum.
“Oh iya, apa kau punya pacar?” tanya Ji Wook. Hyun Soo menjawab tidak punya pacar dan berpikir kalau ingin mengenalkan wanita untuknya. Ji Wook mengelengkan kepela.
“Wanita yang kukenal... hanya dia, Pengacara Eun Bong Hee jadi aku tidak bisa mengenalkan yang lainnya. Normalnya, saat orang ingin menjadi dekat.., mereka bertanya pertanyaan pribadi, jadi aku hanya...” cerita Ji Wook dan di sela oleh  pertanyaan Hyun Soo.
Hyun Soo bertanya apakah Ji Wook punya pacar. Ji Wook merasa kalau itu pertanyaan balasan, Hyun Soo pun mengikuti kalimat Ji Woo “Karena kau mengatakan hal itu saat orang ingin menjadi dekat. Tiba-tiba Tuan Byun terbangun dari mabuknya.
“Kalian berdua bermain "permainan kejujuran".” Kata Tuan Byun. Bong Hee ikut terbangun ingin ikut main juga, karena sangat suka permainan kejujuran.
“Bukankah kita memainkannya tadi? Aku juga suka permainan kejujuran. Aku cinta Noh Ji Wook.” Kata Eun Hyuk yang masih mabuk.
“Aku sungguh minta maaf. Mereka semua gila. Kau akan merasa lebih baik jika menganggap mereka orang gila.” Ucap Ji Wook merasa tak enak melihat para pengacara yang mabuk.
“Aku sungguh suka atmosfer seperti ini. Ini asyik” kata Hyun Soo. Ji Wook merasa kalau asyik juga membuat marah. Lalu mereka pun terus melanjutkan minum.


[Episode 15- Kebenaran yang Tidak Benar]
Bong Hee tertidur pulas dan terbangun meminta minum, seseorang masuk kamar membawakan segelas air. Bong Hee akhirnya tertidur kembali dengan wajah tak karuan, lalu kembali meminta air minum. Seseorang masuk membawakan segelas air, Bong Hee duduk dengan mata minus seperti melihat bayangan Ji Wook yang membawanya.
“Ini mimpi ‘kan?” gumam Bong Hee merasa tak percaya Ji Wook yang membawakan minuman Lalu kaget ternyata Tuan Bang
“Kudengar ini bagus untuk mabuk.” Kata Tuan Bang lalu keluar dengan wajah lesu.
“Tuan Bang... Kau tahu aku suka kau, kan? Kau harus tahu aku suka kau!” teriak Bong Hee merasa tak enak hati pada tuan Bang.
Bong Hee panik memikirkan lalu menyakinkan pada dirinya kalau akan menyingkirkan perasaanya itu. Lalu mencoba agar bisa sadar. 

Tuan Bang menceritakan kalau  hanya mengambilkan air dan obat karena diminta oleh Ji Wook tapi heran melihat Bong Hee yang  terkejut, kecewa, dan hampir menangis begitu. Ji Wook seperti tak percaya dan menegaskan  akan mengomeli Bong Hee untuknya.
“Akan lebih beruntung jika bukan kau nanti yang diomeli. Siapa maksudmu yang mau kau omeli? Dan Juga, kau sudah salah paham. Aku sedang komplain soal Pengacara Eun.., tapi komplain soal kau, yang sedang duduk di hadapanku.” Ucap Tuan Bang. Ji Wook binggung.
“Maksudku, Pengacara Noh, Pegacara Eun, apa yang kalian berdua lakukan?” keluh Tuan Bang, lalu mengingat kalau Ji Wook meminta sesuatu untuk dilakukan.
“Oh, soal Jung Hyun Soo...Bisa kau periksa latar belakangnya?” ucap Ji Wook
Tuan Bang binggung apakah itu Hyun Soo sebagai klien mereka.  Ji Wook membenarkan dan meminta agar melakukan Diam-diam. Tuan Bang binggung kenapa harus diam-diam.  Ji Wook pikir hanya untuk memastikan dan itu memang penyakitnya. Tuan Bang pikir Ji Wook  sudah menyembuhkan penyakit pikiran sebagai jaksa.
“Jika aku bisa menyembuhkannya, tidak akan sakit lagi, kan?” kata Ji Wook, Tuan Bang mengejek Ji Wook yang bicara lancar sekali.
“Anggap saja itu pertanyaan sederhana.” Ucap Ji Wook. Tuan Bang mengangguk mengerti lalu berjalan pergi. Ji Wook kembali memanggilnya.
“Aku sangat berterima kasih.” Ucap Ji Wook. Tuan Bang bertanya mengenai apa. Ji Wook pikir Semuanya saja.
“Kau menyerah menjadi PNS dan masuk ke firma seperti ini. Akan kupastikan kau dibayar cukup.” Ucap Ji Wook
“Menjalankan firma hukum sendiri pasti membuatmu tertantang.” Komentar Tuan Bang. Ji Wook yakin Tuan Bang tahu kalau  Ketua Byun itu kaya,
“Aku sangat senang. Kau tidak tahu rasanya mengikutimu dan bekerja di tempat bagus dengan orang baik.” Kata Tuan Bang tersenyum sumringah.
Flash Back
Eun Hyuk bertanya Hal yang paling sesali yang telah dilakukan. Tuan Bang mengaku yaitu  Mengundurkan diri, lalu datang ke firma hukum Ji Wook dan bertemu mereka semua.


Tuan Bang mengingat kejadian kemari seperti bersyukur karena Ji Wook tak ada ditempat, Ji Wook menatap Tuan Bang menyuruhnya agar segera pergi. Tuan Bang pikir Ji Wook  sedang tidak terburu-buru soal Jung Hyun Soo, Karena punya banyak pekerjaan sebagai satu-satunya kepala di kantor. Ji Wook pun menyerahkan semua tugasnya pada Tuan Bang.
“Aku akan mencari tahu secepatnya.” Ucap Tuan Bang saat berbalik dikagetkan dengan Bong Hee sudah ada didepanya.
“Ada apa dengan Jung Hyun Soo? Apa yang harus kau cari tahu?” tanya Bong Hee penasaran. Tuan Bang tak ingin menjawab menyuruh Bong Hee  Lebih baik tanya Pengacara Noh saja.
 “Ada apa dengan Jung Hyun Soo?” tanya Bong Hee. Ji Wook terlihat gugup menjawabnya lalu mengingat kembali kejadian semalam. 

Flash Back
Ji Wook memapah Bong Hee sampai kerumah. Bong Hee yang mambuk mulai berbicara pada Ji Wook kalau  sungguh gembira dan berterima kasih. Ia merasa Saat melihat Jung Hyun Soo rasanya seperti melihat diri sendiri.
“Aku ditangkap sebagi pembunuh dulu...lalu dibebaskan, kau tahu itu ‘kan. Rasanya aku melihat diriku sendiri pada saat itu. Terima kasih atas pengalaman itu, aku bisa mendapatkan kebebasannya. Kurasa ini sangat keren. Aku juga merasa benar-benar dihargai. Aku sangat senang.” Ucap Bong Hee. 

Bong Hee yang melihat Ji Wook melamun kembali bertanya  Apa yang harus dicari tahu. Ji Wook menjawab kalau Bong Hee tidak perlu tahu sekarang. Bong Hee tak mengerti kenapa ia tidak perlu tahu sekarang. Ji Wook pikir kalau mengatakan pada Bong Hee maka akan jadi sesuatu yang harus diketahui.
“Jung Hyun Soo klien-ku juga, jadi kenapa hanya aku yang tidak tahu?” ucap Bong Hee kesal
“Karena aku bilang kepadamu supaya jangan tahu dan karena aku tidak mau bilang, jadi suka-suka aku. Puas?!” ucap Ji Wook. Bong Hee menjawab tidak Ji Wook pun tak peduli dengan sikap acuh.
“Bagaimana...dengan mabukmu? Apa Kau baik-baik saja sekarang?” tanya Ji Wook. Bong Hee pun membalas kalau tak akan memberitahukanya.
“Bagaimana bisa kau tidak menghormati mentormu?” sindir Ji Wook
“Murid mentor itu menyerupai mentornya. Aku seperti ini karena aku belajar darimu.” Ucap Bong Hee
“Itu tidak benar. Kau memang selalu seperti ini.” Balas Ji Wook
Bong Hee menyangkalnya, Ji Wook menegaskan memang seperti itu. Bong Hee pun sedikit mengumpat. Ji Wook yang mendengarnya makin kesal, Bong Hee pun tersenyum, Ji Wook ikut tersenyum karena mereka seperti dulu yang selalu saling adu mulut. Tiba-tiba suasana berubah jadi canggung, dan Bong Hee pun buru-buru keluar dari ruangan. 


Tuan Bang membacakan  Semua pernyataan ini dari klien Pengacara Ji. “Kalian berdua di sini harus melindungi secara gratis atau jadi pelindung publik. Untuk beberapa saat ke depan, aku akan memakai koneksi yang kubangun...”. Tuan Byun yang meminum obat anti mabuk memanggil keduanya.
“Apa Perutmu baik-baik saja? Yang terakhir kita makan, sosis atau apalah itu... Itu membunuhku.” Ucap Tuan Byun merasa ingin muntah. Bong Hee pun jadi ikut merasakan mual.
“Kita harus berhenti minum.” Kata Tuan Byun. Bong Hee dan Tuan Byun menyetujuinya.
“Jika aku minum lagi.., kau bisa panggil aku puteranya.” Ucap Tuan Byun menunjuk pada Bong Hee.
“Kau akan segera punya putera, Pengacara Eun.” Ejek Tuan Bang, Bong Hee berbisik kalau  tidak mau anak seperti Tuan Byun
“Kenapa? Apa salahnya aku? Aku ganteng dan kaya, sedangkan kau bodoh.” Kata Tuan Byun yang bisa mendengarnya.
Bong Hee kembali berbisik kalau hanya ingin uangnya. Tuan Bang pun mengajak agar mereka bisa membagi dua.  Ji Wook yang mendengar ketiganya kembali mengaku agar mereka bisa mengadakan rapat yang layak setidaknya sekali saja dan  Hanya itu keinginannya saat itu. 
Eun Hyuk kembali ke kantor dengan membawa sekotak kue, melihat suasana ruangan bertanya apakah mereka  membuat marah Ji Wook lagi. Tuan Bang mengalihkan dengan bertanya apakah sidangnya lancar. Eun Hyuk pun dengan bangga sebagai pengacara yang handal tentu lancar.
“Oh Ya... Kosongkan jadwal kalian malam ini. Aku akan traktir kalian semua. Aku mendapat sebotol anggur sebagai hadiah dan juga sampanye. Aku akan menyediakan semua yang kalian inginkan. Semuanya bisa, kan?” ucap Eun Hyuk.
Semua hanya bisa saling melirik tanpa bicara. Tuan Byun tak banyak bicara memilih untuk segera pergi ke kamar mandi saja.  Ji Wook pun menyudahi rapat yang tak pernah serius dilakukan. Semuanya pun ikut keluar dengan Eun Hyuk yang terlihat binggung. 


Nyonya Yang datang ke ruang interogasi. Yoo Jung menyapa Nyonya Jang dan pengacaranya menanyakan keadaanya dan harus tahu alasanya datang ke ruang interogasi kejaksaan. Nyonya Yang mengaku sudah tahu.
“Karena dugaan penghancuran bukti dan sumpah palsu.” Ucap Nyonya Yang
“Aku tidak yakin apakah kau sadar kalau itu tindak kriminal yang cukup serius. Kalau begitu, haruskah kita mulai?” kata Yoo Jung dengan wajah serius. 

Ji Wook dan Bong Hee berjalan dilorong dan melihat Nyonya Yang bersama Yoo Jung keluar dari ruang interogasi. Ji Wook akhirnya berjalan mendekati Nyonya Yang dengan tatapan curiga.
“Aku tak bisa membantu tapi rasanya, ada sesuatu yang aneh. Kenapa Anda menyembunyikan...bingkai lukisannya? Pasti Ada sesuatu di situ, kan?” ucap Ji Wook terus menatap Nyonya Yang. Nyonya Yang hanya diam saja.
“Kurasa pasti ada... Anda bisa beritahu aku sebanyak itu, kan?” kata Ji Wook. Nyonya Yang tak peduli dan langsung pergi meninggalkanya, begitu juga Yoo Jung. 

Flash Back
Nyonya Yang menjerit histeris melihat adiknya yang sudah tergeletak dilantai dan langsung berusaha membersikan tulisan yang ada di foto adiknya dengan ayat dalam alkitab"Namun jika seorang pria bertemu seorang wanita...berjanji untuk menikah dan memperkosanya..,hanya pria yang melakukannya yang harus mati."
Hyun Soo berjalan di taman dengan earphone di telinganya, lalu melihat sosok wanita yang berjalan dengan mengunakan earphone wajahnya terlihat bahagia, tapi itu ternyata hanya bayangan saja. 

Flash back
Bong Hee yang mabuk merasa Semakin memikirkannya maka semakin tidak tahu alasanya, Kenapa pelaku melakukan hal buruk seperti itu kepada Hee Jun dan dirinya. Hyun Soo menatap Bong Hee yang mabuk disampingnya.
“Itu karena...kau menyaksikan yang seharusnya tidak kau saksikan. Dan sayangnya, kau ada di sana. Tapi, kau tidak bisa mengenaliku saat kau berjumpa denganku.” Gumam Hyun Soo
Hyun Soo sedang membawa plastik hitam diatap gedung melihat Bong Hee yang membuka jendela seperti melihatnya, setelah itu ia berusaha masuk ke rumah Bong Hee tapi malah menusuk Hee Jung. Bong Hee yang baru pulang membeli bir tanpa sadar berpapasan dengan Hyun Soo yang mengemudikan sepeda.
“Aku akan terus mengawasimu. Jika kau takkan pernah tahu siapa aku.., maka aku akan selalu diingat sebagi orang baik bagimu.”
Hyun Soo juga sengaja menaruh sepatu diatas meja dan bisa menghilangkan jejak saat Bong Hee mengejarnya. Hyun Soo juga mengikuti Bong Hee kemanapun, dan sekarang ia menatap Bong Hee yang sedang tertidur mabuk dengan Ji Wook yang mengajak minum bersama. 


Hyun Soo menelp Bong Hee memberitahu sedang berjalan-jalan di taman sendiri. Lalu Saat sedang bebasnya berjalan-jalan di taman tiba-tiba merasa bersalah, dan juga bersyukur pada Bong Hee maka dari itu ingin menelpnya. Bong Hee yang berada di kantor kejaksaan merasa Hyun Sook  Tidak perlu berpikir begitu.
“Terima kasih, akhirnya aku merasa menjadi pengacara yang sebenarnya.” Ucap Bong Hee lalu dikagetkan dengan Ji Wook yang sudah menguping pembicaraanya.
“Apa ini Jung Hyun Soo?” bisik Ji Wook. Bong Hee mengangguk dan kembali berbicara kalau mereka harus bertemu lain kali. Ji Wook terus menguping berdiri disamping Bong Hee.
Di depan lorong, Yoo Jung melihat keduanya merasakan sesuatu yang menusuk dihatinya. Bong Hee terus saja berusaha bicara ditelp dengan Ji Wook terus mengikutinya. Ji Hae melihat seniornya yang berkaca-kaca menatap Ji Wook dan Bong Hee.
“Sunbae, kenapa kau menangis di lorong? Ah.. maksudku Kenapa kau meneteskan air mata di lorong?” ucap Ji Hae
“Suatu hari, aku akan mengajarkanmu cara mengatakan hal dengan baik, Ji Hye.” Kata Yoo Jung sinis lalu bergegas masuk.
“Dasar... Dia terlihat keren saat aku tidak terlalu mengenalnya. Sekarang setelah aku kenal, dia cukup mengecewakan. Aku mulai kehilangan rasa hormat kepadanya.” Komentar Ji Hae kesal 


Bong Hee akhirnya menutup telp dan langsung mengomel dengan tingkah Ji Wook yang terus menguping. Ji Wook mengaku hanya penasaran dan alasan Hyun Soo menelepon. Bong Hee mengatakan kalau Hyun Soo hanya telepon untuk berterima kasih dan ingin bertemu karena dia sangat berterima kasih.
“Aku juga punya hak untuk mendengar dan menuai rasa terima kasihnya. Aku sungguh melakukan yang terbaik saat sidang. Jadi, ayo bertemu dia bersama.” Ucap Ji Wook
“Aku akan bilang Jung Hyun Soo untuk secara pribadi meneleponmu. Aku akan bilang kepadanya untuk berterima kasih kepadamu.” Kata Bong Hee.
“Jadi, kau akan bertemu dengannya sendirian?” kata Ji Wook. Bong Hee heran Memang tidak boleh bertemu. Ji Wook mengatakan tak boleh. Bong Hee ingin tahu alasanya.
“Kita harus melindunginya bersama.” Ucap Ji Wook. Saat itu Ji Hae melihat keduanya seperti menyimpan dendam yang mendalam, dengan sengaja mendorong Bong Hee dan jatuh dipelukan Ji Wook.
“Aigoo, maafkan aku.” Kata Ji Hae dengan wajah tanpa rasa bersalah dan mengejek lalu pergi.
Bong Hee sempat kesal lalu keduanya terlihat gugup karena harus kembali berdekatan dan Bong Hee buru-buru menjauh dari pelukan Ji Wook. Ji Wook pun kembali membahas kalau mereka harusmenemuinya bersama. Bong Hee tak mengubrisnya dan langsung bergegas pergi. 


Keduanya berada di depan lift, saat pintu terbuka Jaksa Jang sudah ada didalam. Bong Hee seperti merasakan kembali kenangan buruk saat dicekik oleh Jaksa Jang dan Ji Wook melihat Bong Hee memegang lehernya ketika bertemu dengan Jaksa Jang. Keduanya hanya diam saja.
“Kenapa kau takut naik lift?” ucap Jaksa Jang, Akhirnya Ji Wook masuk lift lebih dulu kemudian Bong Hee mengikutinya. Suasana tegang terasa dalam lift, ketiga pintu terbuka Bong Hee menarik tangan Ji Wook untuk keluar, tapi Ji Wook melepaskan dan sengaja menutup pintu lift. 

“Jangan....sentuh dia...” ucap Ji Wook dengan nada memperingati. Jaksa Jang kaget Ji Wook tiba-tiba mengatakan itu.
“Aku paham dan yakin Anda perlu seseorang untuk dibenci. Anda mungkin perlu seseorang untuk disalahkan. Tapi Anda tidak seharusnya melewati batas. Jika Anda mencoba untuk melukainya lagi... Aku bukan orang rendahan seperti Anda..,.jadi aku akan memakai hukum untuk menghukum Anda. Tapi terkadang.., .aku cenderung jadi sedikit berani.” Ucap Ji Wook dengan nada penuh ancaman.
Jaksa Jang merasa Ji Wook kembali mengancamnya lagi. Ji Wook membenarkan kalau sedanbg mengancamnya jadi meminta Jaksa Jang agar mendengarkan baik-baik, Jika melukai Bong Hee lagi mak akan melakukan hal yang sama terhadapnya. Dan ia memintaa agar jangan sentuh Bong Hee. Pintu lift pun terbuka, Ji Wook keluar dari lift.
“Omong-omong.., Anda harus memakai lift untuk eksekutif di masa depan. Kau itu hanya akan membuat pegawai di sini tidak nyaman.” Ucap Ji Wook. Jaksa Jang tak banyak komentar hanya menatap dingin saat pintu lift ditutup. 


Ji Wook keluar dari kantor kejaksaan dan melihat Bong Hee masih menunggu didepan, lalu mendekatinya berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi. Bong Hee langsung memperingatkan Ji Wook agar Jangan ikut campur dengan urusannya lagi.
“Bagaimana bisa itu hanya urusanmu? Itu urusanku juga.” Kata Ji Wook
“Itu urusanku.., tapi jadi urusanmu juga karena kau memutuskan untuk terlibat. Jadi jangan lakukan itu lagi.” Tegas Bong Hee. Ji Wook merasa Bong Hee itu salah paham.
“Tidak, aku tidak salah paham.” Kata Bong Hee.
“Tidak seperti itu, Bahkan jika kita tidak saling mengenal..., maka aku akan terus ikut campur dan menyelesaikan masalah ini.” Tegas Ji Wook
“Kau sudah merugi dengan melakukan itu. Kau kehilangan pekerjaan sebagai jaksa dan keluar dari firma hukum. Apa lagi yang ingin kau lewati? Apa Kau menikmati penderitaan?” kata Bong Hee tak ingin membuat Ji Wook menderita lagi.
Ji Wook pikir benar juga, Tapi menurutnya  terlepas dari apa yang terjadi, kalau ini adalah pilihan yang dibuat sendiri dan Tak ada yang merupakan kesalahan Bong Hee. Bong Hee pikir Ji Wook  mungkin benar, kalau Ini mungkin saja hubungan bernasib buruk. Ji Wook berusaha menjelaskan tapi Bong Hee lebih dulu menyela.
“Ini adalah peringatan. Aku sangat marah. Seperti menghormati dan mendengarkan apa yang kau katakan kepadaku.., jadi aku meminta kau menghormati dan menuruti keinginanku juga.” Tegas Bong Hee lalu berjalan pergi. Ji Wook pun tak bisa berkata-kata hanya diam saja.
Bong Hee berlari lalu menangis di bawah pohon karena  tak bisa berhenti punya perasaan kepada Ji Wook bahkan menurutnya terlalu sulit bahkan tidak benar-benar cocok untuk melakukan hal ini. Ji Wook berjalan dan melihat Bong Hee yang menangis sendirian dan membiarkanya. 

Eun Hyuk menaruh sebuah kue diatas meja merasa sangat lama mereka  tidak pulang tepat waktu dan mengingatkan kalau akan menraktir makan malam semuanya. Tuan Bang menolaknya dengan alasan Semuanya masih mabuk, dan itu buang-buang uang saja. Eun Hyuk binggung.
“Semuanya merasa kurang baik.” Kata Tuan Bang melirik pada Ji Wook dan juga Bong Hee. Eun Hyuk pun mengerti melihat keduanya seperti ada perang dingin.
“Aigoo...kalian makan seluruh roti tanpa bertanya padaku dulu.” Ucap mengeluarkan kotak kue hanya tinggal sedikit, wajahnya pun mencoba untuk terlihat bahagia. 

Eun Hyuk pergi ke tepi danau sendirian, mengelar alas dan juga tenda, lalu mengeluarkan kue dan juga sisa cake, memberikan lilin dan menyalakanya, setelah itu mengucapkan “Selamat ulang tahun.., Eun Hyuk.” Dan makan cake sendiri. Seseorang datang mendekat, Eun Hyuk mengangkat kepalanya kaget melihat Yoo Jung yang datang.
“Selamat ulang tahun... Kita bertiga dulu sering datang ke sini. Jadi, aku kebetulan berhenti di sini. Saat aku lewat, maka aku kebetulan melihatmu.” Ucap Yoo Jung lalu pamit pergi. Eun Hyuk pun hanya diam saja tanpa mencegahnya, tapi akhirnya Yoo Jung kembali datang.
“Lupakan itu. Jadi Apa aku boleh duduk di sini? Kakiku sakit.” Kata Yoo Jung. Eun Hyuk langsung menolaknya. Tapi Yoo Jung tetap duduk disamping Eun Hyuk, Eun Hyuk kembali melarang Yoo Jung untuk duduk. 

Ji Wook duduk di meja kerja gelisah ingin mengirimkan pesan selamat ulang tahun untuk Eun Hyuk tapi kembali hapus karena sudah lama jadi musuhnya dan akhirnya mondar mandi dalam ruangan. Ia akhirnya berjalan dengan meantap ponselnya, tak sengaja bertabrakan dengan Bong Hee yang sedang mengambil berkas.
Keduanya terlihat gugup karena sebelumnya bertengkar, Ji Wook panik melihat ponselnya yang sudah terkirim “Sel” lalu mengumpat kesal. Bong Hee kaget mendengarnya, Ji Wook berusaha menjelaskan kalau umpatan itu bukan untuknya. Bong Hee pikir tidak peduli meski itu ditujukan untuknya. Ji Wook kembali kebinggungan dengan nasibnya. 

Eun Hyuk melihat pesan yang masuk dan tersenyum melihat pesan Ji Wook walaupun hanya tulisan “Sel” tapi seperti tahu kalau temanya itu ingin mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Yoo Jung mulai berbicara kalau ada yang dikatakan pada Ji Wook
“Aku bilang kepadanya kalau aku pergi karena cintanya tidak cukup.” Ucap Yoo Jung. Eun Hyuk kaget mendengarnya.
“Aku tahu... Aku menyesali apa yang kukatakan” kata Yoo Jung. Eun Hyuk pikir  Tak ada gunanya menyesali itu.
“Kau pernah mengatakannya, “Kau tidak boleh menarik perkataanmu.” Ucap Eun Hyuk. Yoo Jung pikir Eun Hyuk benar kalau semua adalah kesalahanya.
“Tapi kuharap kalian tidak akan terlalu membenciku. Apa Kau segitunya membenciku?” kata Yoo Jung. Eun Hyuk mengaku membenci Yoo Jung,

Flash Back
Tuan Bang bertanya siapa yang paling dibenci di dunia ini, Apa ada diantara mereka. Eun Hyuk mengatakan kalau sungguh benci seseorang, tapi meskipun membencinya Orang itu tidak bisa membuat dirinya tak menyukainya ataupun membenci.
“Aku tidak menyukaimu.”ungkap Eun Hyuk pada Yoo Jung. Yoo Jung pun mengumpat marah dengan memberikan sebuah kotak hadiah dan mengucapkan Selamat ulang tahun lalu pergi. Eun Hyuk hanya bisa terdiam melihat hadiah yang diberikan Yoo Jung padanya. 


Chan Soo seperti menunggu Hyun Soo disuatu tempat. Hyun Soo datang dengan nada sombongnya bertanya apa yang dilakukan dan apakah sesuatu terjadi. Chan Soo hanya tertunduk diam seperti sangat ketakutan. Hyun Soo mulai memarahi Chan Soo.
“Kau hampir saja buat kesalahan. Kenapa ada jejak kakiku... dan bahkan ada kancing baju yang tidak kutinggalkan?” ucap Hyun Soo. Chan Soo mengaku tak tahu.
“Kurasa aku pasti bingung dan membuat kesalahan.” Kata Chan Soo ketakutan.
“Kau bilang Kesalahan?!! Aku paham. Tiap orang bisa membuat kesalahan. Itu... Sekali saja... Mereka hanya bisa membuat satu kesalahan...Tapi... Apa itu?” kata Hyun Soo benar-benar marah dengan menekan bagian leher Chan Soo. Chan Soo mengaku kalau itu bukan masalah yang besar. Tapi Hyun Soo seperti sangat marah.
Bersambung ke episode 16
FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


Tidak ada komentar:

Posting Komentar