PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 24 Desember 2019

Sinopsis Diary of a Prosecutor. Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright : JBTC

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 



 Jung Hwan berlari dilorong sambil mengendong seorang nenek, Wajah Jung Woo pun panik mengantar sang nenek.  Si nenek akhirnya dibawa masuk ke dalam ambulance. Semua orang kejaksan panik melihat seorang nenek seperti pingsan.
“Terkadang kita menghadapi  krisis dalam hidup kita. Di antara hidup dan mati, saat masa lalu kita  terlintas di benak kita, inilah yang kami pikirkan. "Apa penyebab krisis ini?”
“Apakah karena orang ini?” ucap Sun Woong mengarah pada Tuan Hong. Ia lalu berpikir itu karena Myung Joo 
“Jika bukan, lalu Apakah ini salahku?" gumam Sun Woong melihat sang nenek yang dibawa masuk ke dalam ambulance. 

Sun Woong masuk ke kedai kopi dan melihat Myung Joo sudah ada didalam. Myung Joo keluar kedai hanya bisa menahan senyuman. Di kantor keduanya berjalan di lorong dan tak ada yang saling menyapa, seolah musuh bebuyutan.
“Misalnya, pertanyaan seperti ini muncul di benakku. "Apakah ini terjadi karena ketegangan antara aku dan Jaksa Cha?"
Flash Back
“Tugas jaksa adalah bergerak cepat saat mengetahui tidak akan menang.” Ucap Myung Joo
“Tidak ada kasus yang pasti kalah. Itu bergantung kepadamu.” Balas Sun Woong
“Tugas jaksa adalah mencari tahu apakah bisa menang. Tidak mengakui dan mengabaikannya dianggap...” ucap Myung Joo dan saat itu Min Ho datang memarahi keduanya. 

“Kenapa kalian berteriak di hadapan semua orang? Apa yang akan kalian lakukan...” ucap Min Ho marah
“Kami berada dalam gencatan senjata sejak pertengkaran kami beberapa hari lalu.”
Akhirnya Sun Woong dan Myung Joo masuk ruangan dengan membanting pintu. Dua orang yang sedang lewat bingung, akhirnya mereka pun  memutuskan agar jangan hiraukan mereka.
**
"Bagian 1, Perang dan Kedamaian Jaksa Lee"
Semua sedang makan siang bersama, Myung Joo tiba-tiba mengusulkan untuk pindah ke ruangannya. Sun Woong terlihat kaget.
“Tapi Cha Myung Joo yang melanggar gencatan senjata dan tiba-tiba menyerangku.”
“Pak Kim Jung Woo. Bagaimana jika dia pindah ke ruanganku?” ucap Myung Joo. Sun Woong bingung kenapa tiba-tiba. 

“Dia akan memiliki pengawas baru, dan aku ingin bekerja dengan jaksa junior yang kompeten. Kami berdua sama-sama untung.” Kata Myung Joo.
“Entahlah. Dia mulai menguasai pekerjaannya. Bukankah dia akan bingung jika pindah ke ruang lain sekarang?” jelas Sun Woong
“Aku akan melatih dan membimbingnya dengan baik agar dia tidak bingung.” Kata Myung Joo menatap Jung Woo. Jung Woo terlihat bahagia merapihakn dasinya.
“Baiklah. Pak Kim, kamu pindah ke kantor Nona Cha. Dia mengerjakan banyak kasus, jadi, aku yakin dia butuh bantuan.” Ucap Min Ho. Sun Woong mengeluh kesal dan Jung Woo pun mengucapkan Terima kasih. 



Yoon Jin keluar dari restoran lebih dulu bertanya apa Jung Woo apakah sangat senang. Jung Woo menganguk. Tuan Hong menarik Sun Woong agar berjalan menjauh. Sun Woong bertanya ada apa. Tuan Hong meminta agar Sun Woong bersikap baik kepada Cha Myung Joo
“Apa Kau pikir aku masalahnya? Kau melihat itu juga. Kalau begitu, bicaralah kepadanya..” Ucap Sun Woong kesal.
“Aku tahu ini bukan salahmu. Tapi begitulah dia. Dia bertindak sejauh ini karena dia sangat angkuh. Aku tidak akan meminta ini kepada orang lain Tidak bisakah kau mencoba untuk lebih pengertian? Dia juniormu.” Kata Tuan Hong mencoba mendamaikan.
“Apa maksudmu? Dia mengatakan sebaliknya.” Keluh Sun Woong. Tuan Hong pikir perlakukan Myung Joo  seperti seniornya.
“Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” keluh Sung Woong. Tuan Hong mengaku Tiap kali mereka tegang, maka ia menjadi sangat tertekan.
Hei, dengar. Menurutmu, kenapa aku mulai minum ini lagi?” kata Tuan Hong memperlihatkan obat cairnya.
“Apa kau Kambuh lagi?” ucap Sun Woong. Tuan Hong menganguk. Sun Woong tak peduli lagi karena itu bukan keputusannya lalu beranjak pergi. Tuan Hong mengejarnya. 


Jung Woo sedang membereskan barang diatas meja, Nyonya Jang menyuruh Jung Woo  Bicaralah dengan Pak Lee sebelum mengemasi barangnya. Jung Woo pikir kalau Sun Woong sudah diberi tahu. Sun Woong masuk ruangan melihat Jung Woo sudah membereskan barangnya.
“Apa yang kamu lakukan? Kukira itu pekan depan.”ucap Sun Woong dengan nada menyindir.
“Nona Cha bilang, aku harus segera pindah jika tidak mengerjakan sesuatu. Pak Cho juga menyetujuinya.” Ucap Jung Woo
“Apa maksudmu? Pekerjaan kita banyak sekali... Astaga, bukan main.” Ucap Sun Woong kesal.
Jung Woo bingung akan menaruh barangnya lagi. Sung Woong yang kesal menyuruh agar pergi saja. Jung Woo pun akhirnya memberesakan barangnya. Sun Woong tahu kalau Jung Woo pasti Berkemas dan pergi saja.
“Sejak kapan kamu peduli? Akan kutangani semuanya, jadi, pergilah.”sindir Sun Woong. Jung Woo pun kebingungan.

Saat itu datang seroang ibu yang mengendong anaknya yang terus memanggil “Ibu...” Sun Woong pun menyuruh duduk, Nyonya Jang pun mencoba membantu menenangkanya.
“Kau tertangkap dengan kendaraan yang kelebihan muatan di jalanan. Di mana suamimu?” tanya Sun Woong
“Dia tidak bisa bolos kerja.” Kata Si wanita mencoba menenangkan anaknya yang terus menangis.
“Astaga, maafkan aku. Tidak ada yang menjaganya.” Kata Si ibu dibantu dengan Nyonya Jang
“Pak Kim, Apa kau belum pindah?” ucap Myung Joo membuka pintu. Jung Woo mengaku baru mau ke sana.
“Pak Kim, sepertinya kau yang mengurus ini.” Kata Sun Woong. Si anak terus saja menangis memanggil ibunya.
“Jangan menangis. Seharusnya kau berhati-hati.” Ucap Sun Woong mencoba menenangkan si anak agar tak terus menangis.
“Apa Kau mengeluarkan denda sebesar 2.000 dolar?” tanya Si wanita. Sun Woong membenarkan karena ini bukan kali pertama.
“Pak... Bisa turunkan jumlahnya sedikit saja? Penghasilan suamiku 2.000 dolar sebulan. Jika membayar sebanyak itu, kami tidak bisa makan sebulan penuh. Pak, kumohon.” Ucap Si ibu mencoba menenangkan anaknya.
“Tolong bantu keluargaku” pinta si ibu dan memohon pada anaknya agar jangan menangis. Nyonya Jang ingin menggendongnya tapi si anak menolal
“Dia terus menangis.” Ucap Myung Joo. Si ibu mengaku anaknya  itu tidak tidur semalam.
“Dia sama sekali tidak mirip denganmu. Siapa namanya? Berapa bulan?” ucap Myung Joo. Si ibu bingung. Sun Woo langsung berteriak marah. Myung Joo pun meminta waktu sebentara. Sun Woong pun meminta izin. 


Keduanya akhirnya masuk ke ruangan lain, Myung Joo mengaku yakin anak itu bukan anaknya. Sun Woong mengeluh Apa maksud ucapanya.  Myung Joo tahu sebagian orang membawa anak orang lain untuk mendapatkan simpati saat menemui jaksa.
“Atas dasar apa kamu mengusulkan itu?” tanya Sun Woong. Myung Joo bertanya apakah Sung Woong tidak melihat dia menangis sangat keras
“Ibu mana yang menyebut anaknya sendiri "Sayang", bukan namanya?” kata Myung Joo. Sun Woong menatap si anak yang masih terus menangis.
“Meskipun pengawasanmu benar, mereka jelas melakukan ini karena sangat putus asa. Ini pelanggaran ringan, jadi, bisa dibiarkan kali ini. Keadaan mereka cukup buruk..” Kata Sun Woong
“Bagaimana kamu bisa yakin? Apa Hanya berdasarkan ucapannya? Mungkin aku ikut campur dalam hal yang tidak seharusnya, tapi aku tidak bisa mengabaikannya.” Ungkap Myung Joo lalu keluar ruangan. Sun Woong hanya bisa menghela nafas panjang. 


Akhirnya Sung Woong mengantar si ibu ke depan lift, Si ibu mengucapkan terimakasih. Sun Woong terlihat senang karena anaknya akhirnya tenang. Saat itu Tuan Kim keluar lift, Sun Woong menyapanya tapi Tuan Kim mengabaikanya dan langsung masuk ke ruangan Myung Joo.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Myung Joo melihat Tuan Kim yang datang. Tuan Kim tersenyum sumringah.
“Terima kasih banyak. Berkat kau, aku bisa melewatinya. Ini Hanya hal kecil yang menunjukkan rasa terima kasihku.” Kata Tuan Kim dan memberikan kantungnya sebagai imbalan
“Astaga, aku tidak bisa menerimanya. Cukup ucapan terima kasih.” Kata Myung Joo.
“Jangan bilang begitu... Terimalah ini. Aku membelikanmu beberapa apel.”ucap Tuan Kim.
“Kami bisa mendapat masalah besar karena menerima hal seperti ini. Bagaimana kalau kita makan apel ini bersama?” kata Jung Hwan. Tuan Kim pun setuju. 
Di ruangan Nyonya Jang menyuruh petugas mengambil komputer, telepon, dan lampu meja juga dan pindahkan ke 309 dan selesaikan dengan cepat. Sun Woong kembali ke ruangan melihatnya dengan tatapan dingin. Nyonya Jang memberitahu kalau Jung Woo meminta ini karena harus segera mulai bekerja.
Sun Woong dimejanya dan menerima pesan di ponselnya “Kepala Cabang mengadakan rapat pukul 16.00. Siapkan berita kasus tidak selesai. Semua orang harus hadir.” 


Tuan Kim melihat untuk Bagian Kriminal Dua, jumlah kasus tidak terpecahkan telah berkurang sedikit. Min Ho membenarkan dengan bangga  Setelah ada Nona Cha dan pegawai baru lainnya di tim, maka keadaan menjadi jauh lebih baik.
“Nona Cha, kuharap kau tidak bekerja terlalu keras.” Kata Tuan Kim. Sun Woong merendahkan diri kalau menikmati pekerjaannya.
“Selain itu, bukankah pejabat pemerintah di Jinyeong dituduh melakukan penipuan saham atau penghindaran pajak?” ucap Tuan Kim
“Benar. Memang ada.” Kata Sun Woong. Tuan Kim pun bertanya Apakah ada laporan mengenai kasus ini.
“Aku akan menyatukannya...” kata Sung Woong dan langsung disela oleh Myung Joo membawa berkasnya.  Tuan Kim pun memuji Myung Joo sudah menyiapkannya. Sun Woong terlihat menatap sinis.
“Jika dia ingin berperang, aku tidak akan menghindarinya. Tapi sekali lagi, akulah yang pertama mengulurkan tanganku sebagai isyarat perdamaian.” 


Di dalam lift, Tuan Hong memberikan kode agar Sun Woong mulai bicara. Sung Woong akhirnya menyusulkan makan malam bersama di Restoran Satu Meja dan ia yang traktir. Tuan Hong pun senang mendengar akan pergi ke  Restoran itu
“Ya, kita sebaiknya pergi bersama.” Kata Tuan Kim. Sun Woong pun mengajak Myung Joo bergabung juga. Saat itu pintu lift terbuka. 
“Hei, Pak Kim. Bergabunglah dengan kami. Pak Lee mentraktir semua orang makan malam.” Kata Tuan Hong penuh semangat. Jung Woo terlihat bingung. 

Akhirnya mereka sampai lantai bawah, Jung Woo mengajak si nenek untuk berjalan lebih dulu. Tuan Hong dkk membahas makanan yang pasti lezat dan berpikir masih ada meja kosong. Myung Joo menahan pintu lift lalu berpikir Sepertinya ada yang harus ditangani.
“Kalian Pergilah tanpa aku.” Kata Myung Joo lalu menyuruh Jung Woo agar masuk lagi. Sun Woong sempat kaget dan akhirnya seolah tak peduli menyuruh mereka pergi saja. 

Di restoran, Sung Woong makan seperti menahan amarahnya. Yoon Jin mengingat yang diucapan Myung Joo "Sepertinya ada yang harus kutangani. Kalian Pergilah tanpa aku." Ia kesal karean Myung Joo berpkir mereka  tidak punya urusan, karena ia juga melakukan banyak persiapan sebelum rapat.
“Astaga, jangan seperti itu.” Ucap Tuan Hong menenanganya. Yoon Jin kesal karena Myung Joo itu tidak lihat betapa sibuknya
“Ini kali kedua aku menawarkan diri untuk mentraktir dan ditolak di sepanjang hidupku.” Kata Sun Woong dengan tatapan sedih
Saat itu kuliah Sung Woong mengatakan “Kubilang aku tidak mau. Kenapa kamu mentraktirku makan?” lalu Terakhir kali mengatakan “Sepertinya ada yang harus kutangani. Pergilah tanpa aku.” Tuan Hong menyadarkan Sun Woong.
“Sudah jelas sekarang... Perang dimulai.”

Sung Woong dkk baru saja kembali dari makan bersama dan melihat ambulance langsung berlari bertanya ada apa. Sun Woong melihat akalu itu adalah wanita tadi yang mereka lihat dalam satu lift
“Tunggu, apa yang terjadi? Ada masalah apa?” ucap Min Ho datang. Tuan Hong melihat kedatangan Min Ho ketakutan langsung jatuh tak sadarkan diri. Yoon Jin bingung mencoba menahanya.
“Kenapa ini terjadi kepada Pak Hong pada saat kekacauan ini? Sebenarnya, ada kisah sedih di balik semua ini.”

"Bagian 2, Kisah Pak Hong"
Flash Back
"Pagi sebelum kejadian"
Tuan Hong masuk ke ruangan karena Min Ho mencarinya. Min Ho pun menyuruh Tuan Hong untuk duduk. Min Ho bertanya Siapa jaksa senior di departemen mereka. Tuan Hong menjawab kalau itu dirinya. Min Ho mengulang pertanyaan lagi. Min Ho menjawab itu dirinya sebagai jaksa senior.
“Bagaimana kau bisa mengatakannya semudah itu? Sebagai jaksa senior, kenapa kau membiarkan kedua jaksa bersikap seperti itu? Mereka berteriak di kantor pada siang bolong.” Kata Min Ho. Tuan Hong hanya diam saja.
“Selain mengabaikan hierarki, mereka juga tidak menunjukkan sopan santun. Apa aku salah? Sebagai jaksa senior, bukankah kau seharusnya mengurus juniormu dengan lebih baik dan lebih dahulu memperingatkanku tentang masalah apa pun.”ucap Min Ho
“Setelah bertahun-tahun di kejaksaan, apakah itu permintaan yang berlebihan? Pada usiaku saat ini, apakah aku harus memastikan semua orang rukun?” kata Min Ho. Tuan Hong menjawab tida.
“Aku melakukan ini bukan demi kebaikanku. Kau tahu betapa aku memedulikanmu, bukan?” ucap Min Ho.
Keduanya tiba-tiba menyanyikan lagu nasional, sampai akhirnya Tuan Hong keluar ruangan.  Akhirnya Tuan Hong mengalami "Kram perut, stadium satu"


Saat makan siang, Sun Woong menceritakan Jung Woo menginterogasi tersangka sendiri hari ini dan akhirnya mulai terdengar seperti jaksa sungguhan bahkan memberi tahu tersangka bahwa dia baru dan ceroboh bahkan menyelesaikan kasus dengan sempurna hari ini.
“Pak Kim, akhirnya kamu mulai berguna?” ucap Yoon Jin. Tuan Hong akhirnya memuji Sun Woong membimbingnya dengan baik.
“Kau menyanjungku. Tidak banyak yang kulakukan.” Kata Sun Woong malu-malu
“Pak Kim, ini saatnya kamu mengatakan, "Aku belajar banyak darimu, Pak Lee." Apa aku salah? Apa Kau mau aku mengajarimu keterampilan sosial?” kata Yoon Jin mengejek.
“Bagaimana jika kamu pindah ke ruanganku?”kata Myung Joo seperti tak mau kalah. Sun Woong kaget mendengarnya.
“Pak Kim Jung Woo. Bagaimana jika dia pindah ke ruanganku?”kata Myung Joo.  Sun Woong pun ingin tahu alasan Myung Joo tiba-tiba mengatakan hal itu.
“Dia akan memiliki pengawas baru, dan aku ingin bekerja dengan jaksa junior yang kompeten. Kami berdua sama-sama untung.” Kata Myung Joo
“Entahlah. Dia mulai menguasai pekerjaannya. Bukankah dia akan bingung jika pindah ke ruang lain sekarang?” kata Sun Woong
“Aku akan melatih dan membimbingnya dengan baik agar dia tidak bingung.” Kata Myung Joo.
Saat itu Min Ho menatap Tuan Hong yang memulai memuji Sun Woong da membuat adu mulut kembali. Tuan Hong akhirnya kembali merasakan asam lambung yang meningkat di level dua. 


Di ruangan
Tuan Hong duduk sambil terus memegang perutnya. Dua orang ibu-didepanya saling adu mulut. Ibu pertama marah karena Putrannya masih memakai gips, bahkan tidak bisa memegang pensil dan ia meminta pertanggung jawabanya kalau sampai nilainya turun.
“Kenapa kamu menyalahkan putraku? Mereka bermain, dan tidak sengaja putramu jatuh. Itu saja.” Ucap Ibu kedua.
“Pak Jaksa, tahanan anak saja tidak cukup. Dia harus dimasukkan ke penjara biasa. Tolong hukum dia seberat mungkin agar dia bisa belajar.” Kata Ibu pertama.
“Apa katamu? Kau serius?” kata Ibu kedua, sampai akhirnya Tuan Hong berdiri meminta mereka berhenti adu mulut.
“Tolong hentikan sekarang... Anak-anak selalu bertengkar.” Ucap Tuan Hong ibu keduanya pun setuju dengan ucapan Tuan Hong
“Meski begitu, tidak baik menyakiti seseorang.” Kata Tuan Hong. Ibu kedua kali ini yang menyetujuinya.
“ Berkelahi bukan masalah besar, tapi mereka tidak boleh menyusahkan orang lain. Apa yang harus kulakukan?” Jelas Tuan Hong kesal. Keduanya melonggo bingung
Dan akhirnya Tuan Hong mengalami  "Kram perut, stadium tiga"  lalu menerima pesan dari Min Ho “Temui aku di lobi.” 


Min Ho berlari ke  luar kantor ketakutan melihat punggung Min Ho yang sudah menunggunya, lalu mendekat dan bertanya apakah Min Ho akan keluar. Min Ho membenarkan kalau  akan ke kantor pusat lalu memberitahu Tuan Hong kalau Kepala Cabang mengadakan rapat pukul 16.00.
“Pastikan untuk menyiapkan berita kasus tidak selesai dan beri tahu semua orang, ya?” ucap Min Ho. Tuan Hong mengerti.
“Jong Hak... Apa Kau melihat mereka berdua memperebutkan Kim Jung Woo tadi?” tanya Min Ho. Tuan Hong menganguk.
“Mereka lancang di depanku. Bekerjalah dengan lebih baik.” Tegas Min Ho. Tuan Hong mengerti.
“Jika sesuatu terjadi selagi aku pergi, siapa yang akan bertanggung jawab?” kata Min Ho
“ Apakah itu tanggung jawabku?.. Yahh Aku kepala jaksa. Tentu saja, itu tanggung jawabku.” Kata Tuan Hong dan akhirnya ia mengalami "Kram perut, stadium empat"

Tuan Hong menuliskan pesan pada grup “Kepala Cabang mengadakan rapat pukul 16.00. Siapkan berita kasus tidak selesai. Semua orang harus hadir.” Sung Woong dan Myung Joo menjawab seperti benar-benar tak mau kalah.
“Cha Myung Ju dan Lee Woong Sun. Kalian berdua memutuskan untuk benar-benar mengabaikanku? Apa Kalian pikir aku teman kalian? Apa Kalian pikir aku tidak penting karena aku baik kepada kalian? Apa Kalian pikir aku tidak penting?Apa Kalian pikir bisa memperlakukanku seperti ini?” keluh Tuan Hong menatap ponselnya dan tiba-tiba langsung berdiri.


“Hei, Lee Sun Woong! Bedebah... Kau dan Cha Myung Ju menjadikan seluruh Departemen Kriminal Dua sangat tidak nyaman. Andai ini di masa lalu, aku pasti sudah menghancurkan kalian berdua! Apa Kalian mengerti?” teriak Tuan Hong tiba-tiba Sun Woong datang membuka pintu.
“Sedang apa kamu? Kukira kau memarahi seseorang.” Kata Sun Woong. Tuan Hong mengelak dengan menunjuk ke arah yang lain.
“Aku datang untuk mengantarmu ke rapat.” Kata Sun Woong. Tuan Hong pun mengajak mereka segera pergi. 

Saat di rapat, Sung Woong terlihat marah karena Myung Joo yang mendapatkan pujian karena sudah menyiapkannya. Tuan Hong makin bingung. Didalam lift pun, Sung Woong mencoba agar mereka dekat dengan makan malam bersama di Restoran Satu Meja dan mentraktir.
“Nona Cha, bergabunglah dengan kami.” Ucap Sun Woong, tapi saat keluar lift Myung Joo tiba-tiba membatalkanya.
“Sepertinya ada yang harus kutangani... Pergilah tanpa aku.” Kata Myung Joo dan langsung menyuruh Jung Woo untuk ikut dengan bersama dengan si nenek.
“Sudah jelas sekarang... Perang dimulai.” ucap Sun Woong marah saat ada direstoran. Tuan Hong pun akhirnya masuk ke Kram perut, stadium lima



Setelah mereka makan kembali ke kantor dan panik melihat seorang nenek yang dibawa masuk ke dalam ambulance. Semua terlihat panik, Tuan Hong melihat Min Ho datang dan teringat dengan yang diucapkannya sebelum pergi.
“Jika sesuatu terjadi selagi aku pergi, siapa yang bertanggung jawab?”
Dan saat itu Tuan Hong merasakan asam lambungnya semakin naik dan sampai ke level maksimal lalu jatuh pingsan. Yoon Jin bingung melihat Tuan Hong yang tak sadarkan diri.
 “Inilah kisah Pak Hong. Tapi sebenarnya, orang yang mengalami perubahan emosi paling dramatis mungkin Pak Kim.”

"Bagian 3, Hari Keberuntungan Pak Kim"
"Pagi sebelum kejadian"
Jung Woo menerima pesan seperti akan melakukan kencan buta lagi  Kalau begitu, sampai jumpa pukul 19.00” wajahnya tersenyum bahagia membaca pesan padahal sebelumnya kecewa dengan teman kuliahnya.
“Adakalanya semua tampak baik-baik saja Bagi Pak Kim, inilah salah satunya.”

Jung Woo pun menyeberang jalan dengan senyuman bahagia karena tak perlu menunggu. Saat di ruangan, Jung Woo memperlihatkan foto si wanita pada Nyonya Jang dengan senyuman malu-malu. Nyonya Jang bertany siapa dia.
“Aku akan bertemu dengannya pukul 19.00. Dia seorang pramugari.” Ucap Jung Woo bahagia.
“Foto ini diedit, kan?” kata Nyonya Jang. Jung Woo mengaku tidak. Diam-diam Mi Ran seperti ingin tahu.
“Begitulah penampilannya apa adanya.” Kata Jung Woo. Sun Woong memanggil Jung Woo.
“Bukankah kamu ada interogasi nanti? Apa Persiapanmu sudah selesai?” tanya Sun Woong seperti menyindir. Jung Woo pun mengangguk mengerti.
“Astaga... Ada apa? Kenapa kalian tersenyum? Coba kulihat.” Ucap Sun Woong tak tahan melihat Jung Woo dan Nyonya Jang saling tersenyum.
Jung Woo akhirnya memperlihatkan ponsenya. Sun Woong pun ingin tahu siapa wanita itu adan melihat fotonya seperti tak percaya kalau Jung Woo akan kencan buta, Nyonya Jang pikr menurutnya wanita itu cantik. Mi Ran mendekat berpura-pura memberikan berkas dengan mata yang melirik. 


Jam setengah 12 siang,  Dua orang ibu-ibu mulai adu mulut. Ibu yang pertama meminta agar menunggu. Sementara Ibu keduanya mengeluh sampai kapan akan menunggu. Jung Woo meminta keduanya agar bisa tenang dan adu mulut.
“Jadi, Bu Kim Ju Eun adalah agen real estat dan Bu Jang Eun Ju adalah penyewa.” Ucap Jung Woo. Keduanya membenarkan.
“Bu Kim menyuruhmu pindah dan akan mengembalikan uang jaminan. Benarkan?” ucap Jung Woo
“Polisi sudah menolak kasus ini tanpa dakwaan. Kenapa jaksa tiba-tiba meneleponku? Aku ada rapat dengan klien pagi ini, tapi harus membatalkannya.” Kata Nyonya Kim sinis 

“Meskipun polisi menolak kasus itu, kita harus memeriksanya dan membuat keputusan akhir. Jadi, kau memercayai Bu Kim dan pindah, Bu Jang?” kata Jung Woo. Nyonya Jang membenarkan.
“Dia bilang setelah kukeluarkan barang-barangku, maka uangnya akan segera ditransfer. Kami saling mengenal. Jadi, aku memercayainya. “ kata Nyonya Jang
“Tapi Bu Kim tidak mengembalikan uang jaminan dan menundanya selama ini, bukan?” ucap Jung Woo
“Kau bilang "Menunda"? Pak, itu terdengar kurang pantas.” Ucap Nyonya Kim marah
“Baik, kutarik kembali ucapanku. Anda tidak mengembalikan uang jaminan.” Kata Jung Woo mencoba untuk lebih sopan
“Aku hendak mengembalikannya, tapi anakku bertengkar di sekolah, dan aku memakai uang itu untuk berdamai. Tentu saja aku akan mengembalikan uang itu.” Cerita Nyonya Kim
“Jadi, kamu tidak berniat mengambil uang itu, tapi keadaan memaksamu menggunakannya, bukan?” kata Jung Woo menyimpulkan
“Benar. Sejak awal, aku tidak berniat menipunya. Jadi, ini bukan kasus penipuan. Eun Ju, haruskah kamu bertindak sejauh ini dan memenjarakanku? Setidaknya aku harus terus bekerja untuk mengembalikan uangmu. Jika aku dipenjara, bagaimana kamu akan menerima uangmu?” kata Nyonya Kim 


“Jual rumahmu... Gara-gara kau, keluargaku tinggal di penginapan selama lebih dari dua pekan!!” ucap Nyonya Jang
“Bu Kim, kembalikan uang jaminannya dan berdamai dengannya.” Kata Jung Woo
“Aku tidak punya uang... Tapi Tentu saja aku ingin membayarnya. Aku hanya meminta waktu. Kenapa kau kasar sekali? Aku sungguh tidak punya uang. Apakah itu dosa?” ucap Nyonya Kim terlihat sombong
“Bu Kim Ju Eun! Kenapa itu bukan dosa? Sebagai agen real estat, Andalah yang paling tahu saat seorang penyewa pindah, dia tidak punya pilihan lain. Kamu memanfaatkan hubungan kalian untuk mengambil uangnya. Jika kau tidak mau berdamai, akan kupastikan kau didakwa.” Teriak Jung Woo marah
“Aku pemula, jadi, aku bisa gegabah! Apa Kamu mengerti?”teriak Jung Woo. Nyonya Kim pun seperti hanya bisa diam.
Nyonya Jang memberikan jempol pada juniornya. Jung Woo pun mengucapkan terimakasih. Sun Woong menatap dengan bangga, Jung Woo berkomentar untuk dirinya  "Aku sangat bersemangat hari ini, jaksa yang tegas dan serius"
Saat makan siang, Myung Joo langsung menawarkan pindah ke ruangannya. Sun Woong tak terima dan ingin tahu alasanya. Myung Joo pikir itu karena Jung Woo akan memiliki pengawas baru jadi ingin bekerja dengan jaksa junior yang kompeten.
Jung Woo langsung terkesima mendengar pujian Myung Joo sebagai “Jaksa junior yang kompeten.”
Akhirnya Jung Woo diminta untuk segera pindah ke ruangan Myung Joo dengan menatap papan nama yang berpikir akan mengubah hidupnya Ia pun menganggap dirinya "Kelas berat, Jaksa muda, Bakat terlihat dengan sendirinya"


Jung Woo masuk ke ruangan duduk disamping Jung Hwan dengan bangga. Jung Hwan pun berbagi apel yang diberikan Tuan Kim. Jung Woo tiba—tiba melihat dipapan jadwal "Wawancara saksi, Pak Kim, pukul 17.00" Myung Joo pun bertanya apa yang dilihat dan apakah ada yang ingin ditanyakan.
“Apa Kita memanggil seseorang sore ini?” tanya Jung Woo. Myung Joo membenarkan dan bertanya balik.
“Memangnya kenapa?” kata Myung Joo. Jung Woo mengaku ini bukan apa-apa.
“Rasanya agak berbeda dari kantor Pak Lee.” Kata Jung Woo. Myung Joo menegaskan kalau pasti berbeda. Jung Woo pun menganguk mengerti. 

Jung Woo terus melihat "Jadwal Bulan Januari" seperti sangat padat dan ingin tahu jam berapa sekarang dan sudah pukul setengah empat kurang. Pesan masuk ke ponselnya "Kepala Cabang mengadakan rapat pukul 16.00 Siapkan berita kasus tidak selesai. Semua orang harus hadir"
“Pak Kim, Apa kau sudah membaca pesan Pak Hong?” tanya Myung Joo. Jung Woo mengaku sudah.
“Pak Lee, tolong siapkan materi kasus yang tidak terpecahkan. Kepala Cabang mengadakan rapat pukul 16.00.” kata Myung Joo. Jung Woo pun menganguk mengerti.
“Tapi menurutmu, rapat tentang apa?” tanya Jung Hwan. Myung Joo pikir  Seorang jaksa dari Kantor Kejaksaan Pusat Seoul tertangkap memanipulasi harga saham.
“Rapatnya mungkin tentang memperketat kedisiplinan di kantor kita. Pak Kim, tolong periksa kasus yang melibatkan donasi saham atau penghindaran pajak para pejabat publik di Jinyeong. Kita mungkin membutuhkannya.” Kata Myung Joo. Jung Woo menganguk mengerti.
“Kurasa rapatnya akan lama. Pak Kim, kamu sebaiknya tetap di sini dan langsung melakukan wawancara saksi pukul 17.00.” kata Myung Joo. Jung Woo kaget kalau itu dirinya.
“Tapi aku belum membaca catatan.” Kata Jung Woo. Myung Joo pikirJung Woo itu cerdas, jadi, akan cepat memahaminya.
Jung Woo kembali terpana mendengar kalau dirinya cerdas dan meminta agar menanganinya. 



Jung Woo pun mengingat kalau "Aku berjanji akan menemui gadis itu pukul 19.00." terlihat sangat gelisah memikirkanya.
“Dibutuhkan sekitar 45 menit untuk pergi dari kantor ke tempat pertemuan mereka.”
Saat itu seorang pria masuk, Jung Woo pun mempersilahkan masuk lalu meminta tolong Jung Hwan mengambilkan berkasnya dan meminta Mi Ra agar membawa catatan apa pun yang mereka miliki sekarang. Jung Woo bekerja dengan cepat sampat akhirnya wawancara selesai.
Jung Woo pun mencoret tulisan tepat jam 6 "Wawancara saksi, Pak Kim, pukul 17.00" lalu bergegas naik taksi yang sudah dipesan. Ia pun sampai tempat kencan buta dan melihat wanita yang sudah terlihat cantik dari belakang.
"Selama aku menyelesaikan wawancara saksi dalam satu jam dan pergi tepat waktu, aku bisa menemuinya."
Jung Woo pun bersemangat sudah memikirkan rencananya nanti. 
“Selama rapat Kepala Cabang berlanjut, tidak ada yang menghalangi Pak Kim.”
Jung Woo gugup melihat jam dan tepat jam lima kurang lima belas menit. Seorang pria datang meminta maaf karena tiba lebih awal. Jung Woo pikir tak masalah dengan senyuman sumringah dan menyelesaikan wawawncara terakhir.  Jung Woo bahagia mengantar si pria sampai ke depan pintu.
“Aku akan meneleponmu jika membutuhkan sesuatu.” Kata Jung Woo. Si bapak pikir bisa menelp kapan saja.
Jung Woo bahagia melihat jam masih pukul enam kurang dan mencoret tulisan di papan "Wawancara saksi, Pak Kim, pukul 17.00" Setelah itu menuliskan note untuk Myung Joo
“Kepada Nona Cha, yang sangat kuhormati, Maaf aku menulis surat ini pada hari pertama, tapi aku punya janji yang sangat penting. Jadi, aku akan pulang lebih dahulu. Aku sudah menyelesaikan wawancara saksi yang kau minta.”
Jung Woo terlihat bahagia dan sudah siap untuk pergi kencan bahkan bertanya pada Mi Ra bagaimana dengan dasinya. Mi Ra hanya diam saja.  Jung Woo pun pamit  pergi lebih dahulu.
“Sampai jumpa besok pagi dengan wajah yang ceria dan tersenyum.” Kata Jung Woo penuh semangat, tapi saat itu seorang nenek berdiri didepan pintu.  Si nenek langsung menangis pada Jung Woo seperti ingin mengadu sesuatu.
Bersambung ke part 2

 Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar