PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 03 Oktober 2018

Sinopsis 100 Days My Prince Episode 8 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Raja tak percaya kalau Tuan Kim yang  menuntut kursi kerajaan darinya. Tuan Kim menyuruh Raja agar memberikan cap dengan segel kerajaan di atasnya. Raja makin tak habis pikird dengan cara Tuan Kim yang inginmemberikan cap dengan segel kerajaan di selembar kertas kosong.
“Apa rencanamu?” tanya Raja curiga
“Aku akan memutuskan apa yang sangat kuinginkan atau kapan itu akan terjadi.” Tegas Tuan Kim. Raja makin marah mendengarnya.
“Jangan khawatir... Aku tidak akan menginginkan tahta. Jika aku sudah mendambakan tempat itu, maka aku akan mengambilnya 10 tahun lalu.” Ucap Tuan Kim. 


Ma Chil menyuruh mereka semua Jangan bergerak dan tidak menyentuh tubuhnya sampai patroli dan petugas pemeriksa tiba. Ia menegaskan seberapa besar kejahatan merusak tempat pembunuhan.
“Won Deuk, aku harus membawamu ke Biro Hakim.”kata Ma Chil
“Akulah yang membunuh Ma Chil.. Aku mendorongnya. Ambillah aku sebagai gantinya.” Kata Tuan Park 
“Tidak, tidak. Akulah yang mendorongnya. Aku mendorongnya ketika dia meraih pergelangan tanganku.” Kata Hong Shim
“Diam... Ini adalah kasus pembunuhan... Kita tidak bisa membiarkannya mempengaruhinya. Jadi Gu Dol, bawakan aku tali jerami.” Ucap Tuan Park
Goo Dul pun mengambil tali, Tuan Park pun mengikat tangan Won Deuk dengan tali seperti tahanan. Hong Shim membela kalau Won Deuk tidak membunuh dengan sengaja dan itu hanya kesalahan, bahkaan ada saksi.
“Benar, bukan karena dia membunuh Ma Chil dengan sengaja. Di atas segalanya, Ma Chil bersalah sejak awal.” Kata Tuan Park membela
“Intinya, ini adalah kasus pembunuhan. Jadi Dia harus membayar kejahatannya.” Jelas Tuan Park lalu mengajak Won Deuk pergi. Won deuk yang masih shock tak melawan. 

Tuan Park berkomentar Won Deuk  tampak sangat terampil menggunakan tinjunya sambil mengeluh karena harus memukulnya. Won Dek yakin itu pasti bukan karena serangannya tapi tidak memukul Ma Chil  cukup kuat untuk membunuhnya.
“Aku menghindari titik vital dengan sengaja. Itu mungkin karena kerusakan otak yang disebabkan oleh jatuh. Ini sudah dilakukan oleh kesalahan, jadi aku mungkin tidak akan dijatuhi hukuman mati. Bukankah begitu?.” Kata Won Deuk
“Sungguh pembicara yang fasih. Siapa kau sebenarnya?” komentar Tuan Park
“Aku? Won Deuk.” Ucap Won Deuk yang belum tahu dirinya. 

Bibi Mi bertanya kemana mereka akan pergi, dengan mengikat tangan Won Deuk. Tuan Park mengaku Ini bukan apa-apa dan Hanya kasus pembunuhan. Jadi membawanya ke Biro Hakim. Bibi Mi tahu kalau Won Deuk  akan menyebabkan masalah suatu hari nanti.
“Makanlah camilan sebelum pergi. Aku membuat beberapa mie untuk yang memperbaiki rumahnya.” Ucap Bibi Mi. Tuan Park langsung sumringah mendengar Mie.
“Aku membuatkannya untuk kalian, tak usah ikut jika tidak mau.”ucap Bibi Mi
“Tentu saja mau. Kita harus makan mie sebelum kita pergi.” Ucap Tuan Park penuh semangat.
“Apa Maksudmu, akan makan mie sekarang? Pada saat ini?” kata Won Deuk binggung
“Apa Kau tidak mau? Tapi aku ingin makan mie.” Ucap Tuan Park, Bibi Mi pun mengajak mereka untuk makan mie.


Tuan Yeon menangis seperti akan kecil,mengasihani Won Deuk yang malang dan merasa bersalah karena sudah menghancurkan hidupnya. Ia merasa kalau semua salahnya. Hong Shim pikir  harus pergi dan memberitahunya.
“Ada hal-hal yang tidak kukatakan padanya.” Ucap Hong Shim tapi saat itu tanganya ditarik dan Ma Chil yang sedari tadi terdiam ditanah memberikan senyumanya. Hong Shim kaget. 

Tuan Park membawa kembali Won Deuk meminta agar cepat berjalan karena sangat lapar. Saat sampai rumah semua langsung menyanyikan lagi Selamat ulang tahun, Won Deuk binggung tapi Hong Shim dan Tuan Park duduk dengan wajah lesu.
“Won Deuk.. Semoga kau sehat selalu... Pancake daging... Ucap Ma Chil, Tuan Park mengaku  kalau sengaja membeli daging sapi.
“Situasi macam apa ini?” tanya Won Deuk binggung dan marah
“Hari ini adalah hari ulang tahunmu.” Kata Tuan Park. Won Deuk binggung kalau hari ini Ulang tahunnya.
“Apa Maksudmu, kalian merencanakan ini untuk memberinya pesta kejutan?” kata Tuan Park tak percaya.
“Apa seseorang akan mati dengan mudah? Dia aktor hebat yang terlihat sungguhan.” Komentar Teman Hong Shim. 
“Ini akan menjadi ulang tahun yang tidak akan pernah kau lupakan.” Komentar Kkeut Nyeo.
“Aku mengerti karena dia menderita kehilangan ingatan, tapi kenapa kalian berdua tidak ingat hari ulang tahunnya?” komentar Tuan Park
“Ayo kita makan mie. Aku kelaparan di sini... Mi Geum, sajikan mie.” Ungkap Goo Dul.
Akhirnya mereka mulai makan, Hong Shim akhirnya terlihat kesal dengan Lelucon semacam itu. Tuan Park pikir itu menyenangkan. Hong Shim tak percaya kalau tadi menyenangkan, padahal  sangat menakutinya. I mengaku tadi berpikir kalau Ma chil benar-benar mati.
“Kupikir Won Deuk dalam masalah beneran. Bagaimana bisa kau berpura-pura mati? Bagaimana bisa kau tertawa saat ini?” komentar Hong Shim tak bisa menahan tangisnya lalu berjalan pergi.
“Seharusnya aku yang kesal di sini... Won Deuk, aku benar-benar merasakan kemarahanmu ketika kau memukulku... Badanku sakit semua.” Kata Ma Chil
 “Maukah kau melepaskanku dulu?” ucap Won Deuk. Tuan Park pun melepaskan talinya dan mengajak makan dulu. 

Won Deuk  akhirnya berjalan masuk ke dapur melihat Hong Shim menangis. Ia tahu Hong Shim sangat kesal dan berpikir kalau takut menjanda jika sesuatu terjadi padanya. Hong Shim kesal karena  Won Deuk ingin bercanda sekarang.
“Apa Kau marah padaku? Ini hari ulang tahunku. Aku akan bersamamu selamanya. Jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian Karena aku suamimu. Jadi Ayo, makan mie.” Ucap Won Deuk mengajak Hong Shim mengelurkan tanganya. 

Ratu masih bersimpuh di depan kediaman raja  kalau tidak boleh melengserkan Pangeran Seowon dan anaknya juga ikut berlutut. Saat itu Tuan Kim datang mengatakan kalau Raja sudah mengeluarkan dekrit kerajaan. Ratu Park menatap sinis melihat Tuan Kim yang datang.
“Perintahnya adalah kau tidak boleh menyinggung deposisi lagi. Berhentilah memprotes, jadi kembalilah ke kamarmu.” Kata Tuan Kim. Ratu Park seperti tak bisa berkata-kata. 

Semua mulai minum-minum,  Tuan Park mengaku Karena orang-orang itu mengubah Biro Hakim ke luar, jadi kebetulan melihat catatan Won Deuk. Ia pun tidak bisa mempercayai matany ketika membaca Won Deuk  lahir di tahun monyet, berarti 35 tahun.
“Itu berarti dia seusia Ma Chil... Apa itu masuk akal?” ucap Tuan Park. Hong Shim dan ayahnya saling menatap takut ketahuan.
“Kenapa itu tidak masuk akal?” kata Ma Chil. Teman Hong Shim membandingkan wajah Won Deuk dan juga Ma Chil.
“Bagaimana bisa kau seusia itu?” ucap Teman Hong Shim tak percaya
“Aku juga tidak percaya... Aku tidak percaya lahir di tahun monyet.” Kata Won Deuk.
“Benarkan? Apa Kau merasa aneh juga? Wajah Ma Chil mirip boneka santet dan Won Deuk, kau... Semuanya sangat aneh.” Kata Tuan Park
“Itu karena Won Deuk awet muda” ucap Tuan Yeon membela
“Apa yang kau makan untuk mendapatkan kulit halus seperti itu? Aku juga penasaran.” kata Bibi Mi mencoba mendekat.
“Oho, Aku merasa tidak nyaman!” ucap Won Deuk kembali dengan gayanya. Tuan Park mengeluh dengan sikap Won Deuk.
“Sikap apa itu... Kau akan mendapat masalah satu hari karena caramu berbicara. Tuan Park tidak suka caramu bicara dan itulah sebabnya dia mengganggumu.” Komentar Tuan Park melihat sikap Won Deuk.
“Dia benar, jadi Ubah caramu berbicara... Kau tidak boleh membuat jengkel hakim yang baru juga... Sekarang Ikuti perkataanku... "Wow, Hong Shim. kau sangat cantik." Aku tidak berbicara untuk diriku sendiri.” Kata Goo Dul yang sempat membuat Kkeut Nyeo cemburu.
“Wow... Aku tidak bisa mengatakannya... Kedengarannya sembrono dan tidak nyaman.” Kata Won Deuk. Hong Shim pun meminta agar membiarkan karena Won Deuk tidak mau mengatakannya.
“Wow... Kau Hong Shim-ku, cantik sekali.” ucap Won Deuk berusaha dengan keras. Semua langsung memuji kalau itu Lumayan bagus.
“Ayo kita melangkah lebih jauh..."Hei.. Kesini. Biarkan aku memelukmu. oke?" kata Goo Dul
“Hei... Kesini. Biarkan aku memelukmu.” Kata Won Deuk mencoba merayu. Hong Shim tersenyum mendengarnya. Semua berkomentar itu juga lumayan bagus.
“Terima kasih pada Won Deuk, berkatnya kita berpesta dan bersenang-senang. Hei.. jangan sisakan makanan Minumlah semuanya. Jangan sisakan setetespun.” Ucap Tuan Park penuh semangat. 


Tuan Park sudah mabuk dibawa pulang sambil berteriak meminta agar hujan,  Hong Shim akan masuk tapi temanya memanggil. Kkeut Nyeo tahu kalau Hong Shim yang belum tidur dengan Won Deuk. Hong Shim mengelak kalau mereka sudah tidur bersama.
“Itu bohong... Kita sudah berteman selama bertahun-tahun. Apa Kau menyembunyikan sesuatu dariku?” kata Kkeut Nyeo. Hong Shim mengaku kalau bukan seperti itu.
“Lalu apa masalahnya? Kenapa kau membuat pria muda sempurna tidur sendiri?” kata Kkeut Nyeo binggung.
“Dia kehilangan ingatannya...Jadi Dia tidak mengenaliku, Rasanya seperti orang asing.” Ungkap Hong Shim.
“Mau dia orang asing atau orang baru, kau menyukainya, kan?”goda Kkeut Nyeo, Hong Shim seperti tak menyadarinya.
“Madu turun seperti cinta dari matamu ketika kalian saling memandang. Madu tidak jatuh dari mata. Mereka berasal dari sarang.... Kau tahu apa maksudku jadi Ulurkan tanganmu.” Kata Kkeut Nyeo, Hong Shim terlihat binggung.
“Baunya sangat enak,. itu bisa memabukkan pria. Kamarmu sudah jadi, nikmati malam yang indah.”kata Kkeut Nyeo memberikan sebuah botol lalu bergegas pergi. Hong Shim memanggilnya tapi Kkeut Nyeo sudah pergi lebih jauh. 



Saat itu Hong Shim melihat kakaknya yang berdiri tak jauh darinya. Keduanya pun berbicara di tempat lain, Hong Shim mengaku seelalu penasaran.Di mana kakaknya tinggal dan bagaimana hidupnya. Moo Yeol berjanji Suatu hari akan memberitahu semuanya tentang hal itu.
“Bagaimanapun, aku senangmu terlihat ceria hari ini. Hidup sebagai seorang petani pasti tidak mudah bagimu.” Kata Moo Yeol
“Aku sudah menjadi seorang petani lebih dariku seorang ningrat. Jadi Aku sudah menyesuaikan. Lalu Sudahkah kau menyelesaikan misi yang kau ikuti?” tanya Hong Shim tak curiga
“Tidak masalah sekarang... Itu sebabnya aku ingin pergi bersamamu malam ini..” Kata Moo Yeol
Saat itu Won Deuk masuk ke dalam kamarnya, wajahnya tersenyum melihat alas tidurnya yang rapih. Moo Yeol mengatakan  akan menunggu sementara adiknya mengemas persiapannya. Hong Shim seperti sedih dengan ajakan kakaknya. 

“Kau tidak tampak bahagia. Apa Kau tidak ingin pergi denganku?” tanya Moo Yeol
“Aku sudah menunggu sepanjang hidupku untuk bersamamu lagi. Namun... Namun tidak malam ini.” Kata Hong Shim.
“Apa karena pria yang kau nikahi? Pria yang kau nikahi... Yah, dia tidak tepat untukmu.” Ucap Moo Yeol
“Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku membuat kesalahan, sehingga harus memilah terlebih dahulu. “ jelas Hong Shim
“Kita akan pergi jauh ke sebuah pulau atau ke perbatasan.” Kata Moo Yeol
“Aku sudah tinggal di sini selama lebih dari 10 tahun dan aku berteman baik dengan orang-orang desa. Jadi Bisakah kau memberiku beberapa hari?” tanya Hong Shim.
Moo Yeol mengerti, kalau Hong Shim tidak boleh lebih dari 10 hari. Akhirnya Hong Shim memeluk kakaknya dengan erat minta maaf karena membuatnya menunggu. Moo Yeol pikir  Ini tidak seberapa dibandingkan dengan seberapa banyak membuat adiknya menunggu lalu masuk ke dalam. 
Setelah Hong Shim pergi, Moo Yeol kaget melihat anak buahnya sudah ada dibelakangnya. Anak buahnya mengaku sengaj tetap di belakang karena khawatir. Moo Yeol pun seperti tak mempermasalahkanya. Anak buahnya memberitahu kalau Wakil Perdana Menteri sedang menunggunya. 


Hong Shim terdiam menatap kamar Won Deuk dan saat itu Won Deuk keluar kamar yang membuat Hong Shim kaget. Won Deuk menyuruh Hong Shim masuk kamar. Keduanya duduk berhadapan, Hong Shim bertanya ada apa. Won Deuk mengeluh Hong Shim malah menanyakan hal itu.
“Akulah yang seharusnya menanyakan itu. Hari ini adalah hari ulang tahunku, tapi kau belum memberiku hadiah.” Ucap Won Deuk
“Maaf, aku tidak membelikanmu apapun. Semuanya berantaka karena rumah dirobohkan dan kau ditangkap.” Kata Hong Shim
“Apa kau baru saja memanggil suamimu dengan santai? Dan Juga, aku lahir di tahun monyet yang membuatku jauh lebih tua darimu. Jadi Kau harus menyapaku dengan benar.” Kata Won Deuk
“Lalu aku harus memanggilmu apa?” tanya Hong Shim. Won Deuk mengatakan ingin  memanggilnya “Suamiku tersayang.” Hong Shim terlihat berusaha mengatakan
“Mungkin lain kali. Terlalu norak untuk dikatakan sekarang.” Kata Hong Shim
“Kau harus memanggilku itu karena tidak memberiku hadiah... Sekarang!” ucap Won Deuk.
Hong Shim perlahan memanggil “Suamiku tersayang” dengan perlahan. Won Deuk tak mengaku tidak bisa mendengarnya. Akhirnya Hong Shim dengan lantang memanggil “Suamiku tersayang” agar puas. Won Deuk tersenyum bahagia mendengarnya.
Hong Shim melihat wajah Won Deuk berpikir kenapa lagi. Won Deuk merasakan harum, Hong Shim mengaku kalau Kkeut Nyeo memberiku parfum dan mengaku tidak tahu alasan temanya memberikan.
“Kamarnya bagus dan nyaman, selamat malam.” Ucap Hong Shim akan bergegas pergi. Won Deuk langsung menutup pintunya kembali
“Aku sudah memberitahumu kemarin kau tidak akan lagi tinggal di kamar ayahmu. Kita sudah menikah, tidur bersama itu wajar... Hari ini, aku tidak akan membiarkanmu.” Kata Won Deuk sudah siap mencium Hong Shim, tapi Hong Shim memalingkan wajah ketakutan.
“Apa kau tidak ingat apa yang kau katakan? Pada malam pernikahan kita, ketika aku mencoba menanggalkan pakaianmu kau melarangku untuk menyentuhmu karena ingatanmu belum pulih.” Kata Hong Shim
“Ingatanku sudah pulih.” Akui Won Deuk. Hong Shim tahu Won Deuk berbohong karena Telinganya memerah.
“Tidak mungkin. Telingaku merah secara alami.” Kata Won Deuk menutupi telinganya.
“Jika kau ingin tidur denganku, dapatkan ingatanmu kembali. Jadi Ingat siapa kau dan apa yang biasa kau lakukan.” Ucap Hong Shim
“Yang bisa aku ingat nanti...” kata Won Deuk dan Hong Shim tak ingin mendengar langsung keluar dari kamar.
“Jika aku benar-benar Hong Shim dan kau benar-benar Won Deuk, Bagaimana ini bisa terjadi?” ucap Hong Shim duduk melihat sepatu yang dibelikan Won Deuk.

Won Deuk duduk sendirian, Goo Dul datang ingin tahu hasil akhirnya. Won Deuk menatap ke arah pohon dengan burung lalu berkata “Bahkan burung-burung di rating menikmati kebersamaannya. Betapa kesepiannya diriku meskipun itu berarti.”
“Apa itu omong kosong? Dilihat dari wajahmu, kau gagal... Kenapa? Apa masalahnya?” tanya Goo Dul
“Aku terjebak dalam perangkapku sendiri. Aku bilang kepadanya untuk jangan pernah menyentuhku sampai ingatanku pulih.” Jelas Won Deuk
“Tidak ada yang serius... Kau hanya perlu memulihkan ingatanmu.” Jelas Goo Dul
“Tidak peduli betapa aku berusaha, aku tidak bisa mengingat apa pun.” Ungkap Won Deuk. Goo Dul mengaku tahu caranya.


“Yang Mulia... Menurut laporan gubernur dari Hwanghae, mereka tidak bisa menanam karena kekeringan. Mereka tidak bisa memanen gandum karena layu. Dengan demikian, semakin banyak orang yang kelaparan sampai mati. Aku rasa tepat untuk memberi bantuan kepada orang-orang dengan mengirimkan biji-bijian.” Jelas Mentri.
“Kirim mereka 100 potong beras dan jelai.” Ucap Raja, Mentri  mengucapkan Terima kasih atas kemurahan hati raja yang tak terbatas.
“Aku mendengar Gubernur Jo Boo Young dari Desa Songjoo diberhentikan karena perilakunya yang buruk.” Kata Raja.
“Ya Yang Mulia... Seorang pria bernama Na Won Deuk memberi buku besar hakim Inspektur Kerajaan Heo Man Shik yang membantunya mengungkapkan perilaku yang buruk.” Ucap Mentri.
“Na Won Deuk? Dia sudah melakukan pekerjaan yang terpuji. Aku akan memberinya 4 gulungan sutera sehingga kontribusinya diakui.” Kata Raja memberikan imbalan.
“Lalu Siapa yang harus aku tunjuk sebagai hakim baru di Desa Songjoo?” tanya Raja
“Bagaimana dengan perwira ketujuh, Yoon Je Sung?” saran Tuan Jung Raja mengaku sudah mendengar bahwa dia cerdas dan jujur.
“Yang Mulia... Aku punya rekomendasi.. Itu adalah Juru Sita Jung Je Yoon.” Kata Tuan Kim
“Wakil Perdana Menteri Kim, dia putra seorang selir.” Kata Tuan Jung marah
“Aku sadar akan hal itu.. Aku merekomendasikan putramu dengan maksud menunjuk orang yang berbakat.” Kata Tuan Kim
“Dia tidak cukup mampu untuk memegang posisi seperti itu.” Ungkap Tuan Jung
“Itu benar... Putri Mahkota berada dalam keadaan di mana dia harus meninggalkan istana untuk mendapatkan kembali kesehatannya. Saat dia membersihkan energi jahat dari jimat sang Ratu, Aku akan membuatnya tinggal di kediaman pribadi keluarga kami.” Kata Tuan Kim.
“Kami sedang mendiskusikan siapa yang akan ditunjuk sebagai hakim baru di Songjoo.” Kata Tuan Jung.
“Yang Mulia... Siapa yang harus kita tunjuk sebagai hakim baru di Songjoo?” tanya Tuan Kim. Raja pun menyuruh Tuan Kim melakukan yang di inginkan. 


Soo Ji datang melihat Je Yoon mengeluh kalau mengaturnya sendiri buku-buku. Je Yoon mengatakan kalau ini pekerjaannya. Soo Ji pikir kalau Je Yoonbelum mendengar berita itu, kalau Je Yoon sudah ditunjuk sebagai hakim.
“Ayahku merekomendasikanmu.” Ucap Soo Ji bangga. Je Yoon kaget diangkat sebagia hakim.
“Hakim di Desa Songjoo... Ini tempat bagus yang terletak di tanah yang luas.” Kata Soo Ji.
“Apa Wakil Perdana Menteri Kim merekomendasikanku?” tanya Je Yoon. Soo Ji membenarkan.
“Sepertinya aku bilang kepadanya banyak hal baik tentangmu tanpa disadari. Jadi janjimu secara teknis adalah berkatku.  Bagaimana kalau kau mentraktirku minum di Aeryeonjeong? Aku luang malam ini.” Ucap Soo Ji. Je Yoon memilih untuk pergi wajahnya terlihat sangat marah.
“Je Yoon, aku akan merajuk jika kau pergi seperti ini.” Teriak Soo Ji, Je Yoon seperti tak peduli. 

Tuan Kim berjalan dengan tandunya, Je Yoon mendekat karena ingin sesuatu kepada Wakil Perdana Menteri Kim. Tuan Kim pun berhenti tanpa turun dari tandu. Je Yoon tak percaya kalau harus pergi ke Desa Songjoo dan meminta agar bisa percaya padanya.
“Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku di sana. Jika kau membuktikan diri bahwa kau adalah orangku di sana, lalu aku akan membawamu kembali ke Hanyang.” Kata Tuan Kim
“Aku bersyukur atas promosi yang mengejutkan ini, tapi aku ingin melayanimu dari dekat.” Ucap Je Yoon. 
“Bagaimana kalau kau menjadi salah satu pria tanduku?” sindir Tuan Kim. Je Yoon hanya bisa terdiam. Akhirnya Tuan Kim menyuruh agar kembali berjalan. 

Moo Yeol datang menemui Tuan Park diruangan memberikan sebuah kotak, lalu meminta maaf karena lama. Tuan Park melihat isi kotak, Moo Yeol menceritakan Won Deuk hilang ingatan di suatu rumah, tidak mudah menemukannya.
“Jika aku memindahkan tubuhnya,akan sulit untuk memasuki ibukota.” Ucap Moo Yeol
“Bagaimana kau akan membuktikan bahwa itu adalah tangan Putra Mahkota?” tanya Tuan Park melihat tangan yang dibawa Moo Yeol
“Aku menguburkan tubuh di sebuah lembah di Gunung Chunwoo. Ayo kita turun bersama jika kau ingin memeriksanya.” Kata Moo Yeol
Tuan Park menolak menutup kembali kotaknya, mengaku kalau sekarang, semua kekhawatirannya hilang. Moo Yeol menagih janji meminta izin untuk pergi sekarang. 

Won Deuk berjalan dipasar. Goo Gul memberitahu kalau inilah awal dari hubungan asmara. Moo Yeol terihat bingung yang dimaksud Hubungan asmara. Goo Dul menjelaskan Semua orang tidak bisa tidak jatuh cinta jika mereka berjalan di jalan ini, tapi Ini adalah kursus kencan untuk pasangan.
“Kalian berdua harus berjalan di jalan ini juga... Jalan ini dimulai dari pasar. Kau harus membeli sesuatu untuknya di sini dan memenangkan hatinya.” Ucap Goo Dul
“Sepertinya aku tahu.” Kata Won Deuk meliha ke arah sisi penjual. 

“Aku membelikanmu dasi ikat rambut sebagai hadiah. Aku ingat dengan jelas wajahmu yang tersenyum dengan hadiah itu.”ungkap Won Deuk. Hong Shim menganguk mengerti.
“Aku senang menerima ikat rambut.” Kata Hong Shim mengikuti yang diingat Won Deuk.
“Sesudah berjalan melewati pasar, kita naik ayunan. Saat itu Hari Libur Dano dengan sinar matahari yang cerah. Aku dapat dengan jelas mengingatmu mengendarai ayunan ini.” Kata Won Deuk. Hong Shim menganguk mengerti.
“Aku naik ayunan di Hari Libur Dano...” kata Won Duk yang mengingat ucapan Goo Dul “Setiap wanita mengendarai Dano Holiday kecuali wanita tua yang tidak sehat.”
“Rambut dan rokmu berhembus. Itu cantik.” Ungkap Won Deuk. Hon Shim ingin tahu Tahun berapa itu
“Mungkin, sebelum aku pergi melayani militer.” Kata Won Deuk.
“Yah, aku menggantungkan ayunan ini dua bulan yang lalu.” Ucap Hong Shim bisa tahu kalau itu bohong.
“Bukan ayunan ini. Tapi Yang satunya... Bagaimanapun, sayangnya hujan hari itu. Kita pergi ke sumber air untuk berlindung dari hujan Dan kita menghabiskan malam bersama.” Kata Won Deuk.
Hong Shim mengerti, Won Deuk bangga kalau Hari itu begitu rupanya dan itu artinya Sekarang ingatannya sudah pulih. Hong Shim pikir kalau Sepertinya kurang banyak. Won deuk tak percaya kalau itu  tidak cukup membuktikan ingatannya kembali.
“Aku akan mendapatkan kembali ingatan lebih banyak pada akhirnya. Kita tidak boleh berharap terlalu banyak dari upaya pertama.” Kata Won Deuk.
“Bagaimanapun, kau bilang bahwa kau itu Won Deuk karena kau sudah menemukan ingatanmu denganku, begitukah?” unkap Hong Shim.
“Tentu saja.” Kata Won Deuk. Hong Shim pun merasa sudah tak masalah lagi.
Won Deuk pun mengajak pulang, Hong Shim hanya diam saja. Won deuk heran melihat Hong Shim hanya berdiri di sana. Hong Shim memberitahu kalau Seseorang mengajukan permintaan ke Agen Solusi sebelumnya jadi meminta agar melakukan kunjungan singkat ke desa di seberang sungai.
“Apa aku harus pergi ke sana hari ini? Tidak bisakah aku kesana esok hari?” ucap Won Deuk
“Mereka menawarkan sejumlah besar uang. Kau mungkin bisa kembali hari ini jika kau cepat. Aku akan mempersiapkan makan malam yang lezat.” Kata Hong Shim
“Aku akan segera kembali. Kemana aku harus pergi? Siapa yang harus kucari?” tanya Won Deuk penuh semangat

Moo Yeol sudah membawa barang-barang, lalu melihat banyak bangswan di depan rumah Tuan Kim dengan berharap harus dipromosikan saat ini. Tuan Park ikut mengantri dengan membawakan bahan makanan, mengatakan Kekuasaan Wakil Perdana Menteri Kim mungkin melambung ke langit sekarang Putri Mahkota sedang hamil juga.
“Itu sebabnya kita harus memenangkan hatinya.” Kata Mentri yang lain.
Moo Yeol mendengarnya hanya bisa terdiam lalu keluar dari rumah dan tak sengaja melihat tandu dengan pelayan. Si pelayan meminta agar berhenti sebentar. Soo Hye bertanya Apa masalahnya. 

Moo Yeol bertemu dengan Soo Hye di tempat lain. Soo Hye ingin tahu kemana Moo Yeol akan pergi. Moo Yeol belum memilih tempat apa pun. Soo Hye mengaku berharap ada taman di depan rumah dan Bunga-bunga akan mekar di seluruh taman di musim semi.
“Jika aku bisa tinggal di rumah kecil di tempat seperti itu,maka aku akan sangat bahagia. Aku iri padamu.” Ungkap So Hye. Moo Yeol hanya dima saja.
“Kau boleh pergi... Aku minta maaf... Kau melakukannya dengan baik. Ini untuk layananmu pada tugas besar.” Ucap So Hye.
“Selamat atas kehamilanmu.” Kata Moo Yeol memilih untuk pergi, saat itu sebuah panah menusuk dibagian dadanya.

Won Deuk berjalan sendirinya lalu memanggil seorang pria memastikan Apa ini Desa Pohon Kastanya. Si pria membenarkan dan melihat Won Deuk memang berasal dari jauh. Won Deuk mengaku Dari desa yang lebih rendah menyeberangi sungai.
“Aku harus mengunjungi perempuan tua yang jahat dan mengambil induk ayam. Apa Kau tahu di mana dia tinggal?” ucap Won Deuk
“Kau datang ketempat yang benar. Dia tinggal di sana.” Kata Sipria menunjuk. Saat itu seorang wanita tua memanggil Won Deuk dengan melambaikan tangan. 

Hong Shim sibuk memasak di dapur. Ayah Hong Shim merasakan  baunya sangat enak dan ingin tahu apa yang dimasak.  Hong Shim pikir tidak memasak apapun di hari ulang tahun Won Deuk.
“Apa maksudmu? Apa Kau akan tinggal bersamanya tanpa memberi tahu?” tanya Tuan Yeon
“Aku punya waktu sampai saudaraku menjemputku.” Kata Hong Shim
“Aku akan pergi ke rumah Goo Dul dan membuat beberapa tali jerami sepanjang malam... Aku ingin tahu apa yang sedang dilakukan Gu Dol sekarang.” Kata Tuan Yeon mengoda Hong Shim. 

Hong Shim sudah selesai masakan dan menaruh diatas meja, lalu meliaht Won Deuk sudah pulang dan bertanya apakah sudah menyelesaikan semuanya. Won Deuk hanya diam berjalan dengan tatapan kosong. Hong Shim pikir Perjalanan suaminta pasti melelahkan jadi mengajaknya untuk makan malam.
“Kenapa kau mengirimku ke sana?” ucap Won Deuk seperti shock
“Ada sesuatu yang harus kau ketahui.” Kata Hong Shim santai
“Seperti kenyataan, aku bukanlah Won Deuk?” tanya Won Deuk. Hong Shim membenarkan.
“Kau bukanlah Won Deuk.” Kata Hong Shim. Won Deuk terlihat kaget
Bersambung ke episode 9


Cek My Wattpad... Kang Daniel 


Cek My You Tube Channel "Review Drama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

1 komentar: