PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 02 Oktober 2018

Sinopsis 100 Days My Prince Episode 7 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Anak buah Moo Yeon keluar rumah, melihat Moo Yeon melamun dan menyuruh agar harus tidur sebentar. Moo Yeon mengaku kalau perasaanya bermasalah dan ingin menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin.
“Kenapa kau menjadi sukarelawan untuk pekerjaan yang kejam seperti itu? Bagaimana orang-orang seperti kita membunuh Putra Mahkota?” kata Anak buah Moo Yeol
“Aku sudah bernegosiasi... Sesudah ini, kita tidak perlu membunuh lebih banyak orang. Bukan hanya aku, tapi kau juga. Kita tidak bisa membunuh orang sampai hari kita mati. Terutama, aku punya seseorang yang menungguku.” Tegas Moo Yeol
“Sudahkah kau menemukan keberadaannya?” tanya Moo Yeol melihat anak buahnya yang datang.
“Ya, Desa Songjoo.” Kata anak buahnya. 

Won Deuk melihat Hong Shim masih tertidur diam-diam keluar rumah. Hakim Jo panik melihat Tuan Park yang datang pagi-pagi. Tuan park mengaku kalau sudah memikirkannya sepanjang malam, jadi tidak tahan lagi.
“Aku harus menangkap Won Deuk dan membunuhnya di tikar jerami.” Kata Tuan Park
“Baiklah, Tuan. Biarkan aku pergi berdandan dulu.” Ucap Hakim Jo akan masuk.
Tapi saat itu tiba-tiba sebuah panah menancap di tiang, Hakim Jo mengumpat Bajingan macam apa yang melakukan perbuatan memalukan ini. Tuan Park melihat isinya kalau Ini sungguh waktu yang tepat, karena Tidak masalah siapa yang mengirim ini jadi menyuruh Hakim Park agar pergi tangkap Won Deuk segera, karena punya ide.


Won Deuk berjalan kembali ke rumah dan sadar kalau melihat pohon sakuranya jatuh, lalu kebinguan tak menemukan buku yang disembunyikan. Saat berjalan keluar rumah beberapa pengawal mengejarnya. Won Deuk kebingungan karena dari kiri dan kanan prajurit mengejarnya dan akhirnya mengambil jalan lurus.
“Meok Goo... Kau Lari menuju bar dan mencari seorang sarjana miskin dengan hidung tajam dan mata ramah.” Ucap Won Deuk melihat Meok Goo
“Aku sibuk. Nyonya sudah memberiku tugas untuk dijalankan.” Kata Meok Goo. Won Deuk akan membayar 2 Puns
“Lalu Apa yang harus aku lakukan sesudah menemukannya?” tanya Meok Goo
“Katakan padanya untuk datang ke biro hakim. Ini penting.” Ucap Won Deuk. Meok Go meminta agar Won Deuk membayarnya. Won Deuk pun bergegas menghindari kejaran prajurit. 
 Meok Goo memberitahu kalau Sarjana yang miskin dengan hidung yang tajam dan mata yang ramah datang ke kantor hakim. Hong Shim terlihat binggung, Meok Goo memberitahu kalau itu pesan Won Deuk dan akan mendapatkan dua puns.
“Apa Dia tidak memberitahumu alasannya?” tanya Hong Shim binggung
“Tidak ada waktu untuk itu. Petugas Patroli mengejarnya untuk menangkapnya. Dia sibuk melarikan diri.” Kata Meok Goo. 

Seorang pria membacakan surat didepan istana “Kutukan atau media untuk membunuh seseorang adalah trik yang jahat. Itulah dosa berat yang pantas dihukum mati.”
“Ratu harus menjadi teladan dari rakyatnya, tapi sebaliknya, dia sudah membicarakan hantu dan fenomena misterius serta membahayakan Putra Mahkota dan Putri Mahkota. Kami sangat khawatir itu mungkin akan turun menurun. Dan Juga, kematian Putra Mahkota yang malang harus relevan dengan masalah ini.” Kata si pria
“Yang Mulia, tolong lepaskan Ratu dan Pangeran Seowon dan tegak disiplin negara ini. Mohon beri kami jawaban kerajaanmu untuk permohonan kami.” Ucap Si pria dan semua membungkuk agar Raja memberikan jawaban. 
Tuan Kim duduk melihat dengan wajah bahagia, Semua meminta agar menyingkirkan Ratu dan Pangeran Seowon dan meminta jawaban Raja untuk banding kami.
“Beritahu pengadilan segera.” Kata Raja pada kasim setelah mendengar semua pemintaan rakyatnya. 

Won Deuk akhirnya dibawa ke kantor hakim  dan ingin tahu alasan mereka menangkapnya. Hakim Jo mengatakan Sebuah panah ditembak dengan surat peringatan pagi ini. Ia tahu kalau Won Deuk membencinya dengan surat peringatan ini.
“Aku melakukan urusan negara di bawah perintah Raja, jadi menghinaku berarti menghina Raja. Itu tidak berbeda dari pengkhianatan tingkat tinggi.” Kata Hakim Jo
“Apa Kau memiliki bukti bahwa aku menembak panah?” tanya Won dek.
“Ini. Puisi yang ditulis di sini adalah salah satu yang kau kicaukan saat pesta ulang tahun Tuan Park.” Kata Hakim Joo
“Itu tidak bisa menjadi bukti. Siapa pun di tempat itu bisa mendengar puisi itu.” Balas Wo Deok merasa tak bersalah dengan nada angkuh.
“Aku sangat terganggu dengan caramu berbicara. Apa Kau pikir seorang bangsawan? Kau tidak tahu tempatmu... Aku akan memberimu pelajaran.” Kata Hakim Jo menyuruh agar Segera mengikuat Won Deok. 


Saat itu Hong Shim datang menahan Won Deuk sebelum diikat pada meja hukuman bertanya apa yang dilakukan pada suaminya. Hakim mengatakan kalau sedang melakukan beberapa urusan resmi dan bukan tempat untuk Hong Shim.
“Berhenti. Suamiku Won Deuk terlalu bodoh untuk melakukan apa pun dan kau sudah tahu itu. Kau diberitahu bahwa semua orang bergosip tentang betapa tidak bergunanya dia Apa kesalahannya sampai dia harus dipukuli?” ucap Hong Shim menyakinkan dan Won Deuk terlihat sinsi.
“Kau pikir, aku akan jatuh pada kebohonganmu lagi? Aku melihat dia membaca puisi dan mendengar bahwa dia seorang petarung yang terampil.” Kata Tuan Park
“Apa kau mengirim preman itu? Yang memukulku.” Kata Won Deuk. Semua langsung berbisik tak pecaya kalau Tuan Park yang mempekerjakan preman.
“Jangan hanya berdiri disana. Ikat dia!” teriak Hakim Jo marah, Hong Shim mencoba menahanya.
“Astaga, malangnya diriku.. Aku akhirnya menikah diusia 28 dan mereka menghancurkan rumahku lalu sekarang mereka memukuli suamiku. Bagaimana aku hidup jika dia patah kaki?” rengek Hong Shim sambil menangis.
Saat itu Tuan Park malah mengancam Hong Shim dengan pedangnya, Won Deuk terlihat marah. Tuan Park menyuruh agar melepaskan Won Deuk dengan pedang di leher Hong Shim. 

Raja melihat setiap petisi sama karena Mereka semua ingin Ratu dan Pangeran Seowon digulingkan dan memikirkan yang harus dilakukannya.  Kasim memberitahu kalau Pangeran Seowon datang. Raja pun mempersilahkan anaknya masuk.
“Aku mohon maaf atas perhatiannya. Aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu. Aku datang untuk menanyakanmu sebuah pertanyaan. Sekarang, menurutmu siapa yang memerintah negara ini?” ucap Paengran Seowon.
“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Raja marah melihat anaknya.
“Interogasi dimulai dan jimat itu disebutkan kurang dari sehari yang lalu. Interogasi dilakukan secara rahasia. Bagaimana semua orang tahu tepat waktu untuk mengajukan ratusan petisi?” kata Pangeran Seowoon.
“Bahkan Itu belum semuanya.. Kerusuhan para sarjana Seonggyungwan, pos-pos aneh di pasar. Satu-satunya penjelasan adalah bahwa seseorang merencanakan segalanya.” Kata Pangeran Seowoon.
“Apa itu seseorang Wakil Perdana Menteri?” tanya Raja. Pangeran Seowoon membenarkan.
“Dia ingin duduk di atasmu dan memerintah negara ini.” Kata Pangeran Seo Woon. Raja marah menyuruh anaknya berhenti bicara.
“Apa yang kau tahui sampai mengatakan hal seperti itu?” ucap Raja marah
“Mantan istrimu Shin... Ibu Putra Mahkota yang kau lindungi.” Kata Pangeran Seowon.
Raja tak percaya kalau Pangeran Seowon berani mengatakan hal itu. Pangeran Seowon bertanya apakah Raja  bertekad kehilangan ibu dan anaknya juga. Raja terdiam mendengarkanya. 


Tuan Park menyuruh Won Deuk agar menembak panahnya, kalau mampu maka itu artinya Won Deuk adalah orang yang memberi tahu mereka tentang serangan itu. Won Deuk pikir Itu adalah logika yang salah dan tidak bisa diterima.
“Aku sudah berlatih memanah selama bertahun-tahun. Jika anak panah membersihkan dinding dan berakhir di sana, maka itu tidak ditembak dari dekat. Itu pasti ditembak dari setidaknya 400 m jauhnya.” Jelas Tuan Park
“Aku kembali ke daerah ini enam tahun lalu. Aku belum pernah melihat orang di daerah ini menembak seperti itu. Satu-satunya tersangka adalah kau yang kuanggap sangat mencurigakan.” Kata Tuan Park curiga.
“Aku tidak dapat menembakkan panah.” Tegas Won Deuk. Hong Shim juga mengatakan kalau Won Deuk tidak bisa menggunakan kapak atau sabit.
“Dia bahkan tidak bisa membawa air kendi. Bagaimana dia bisa memanah?” kata Hong Shim.
“Tutup mulutmu!” teriak Tuan Park marah. Won Deuk pikir kalau Tuan Park yang tidak tahu kehilangan ingatannya.
“Aku tidak memiliki ingatan untuk menembakkan panah. Bagaimana aku bisa tahu caranya?” ucap Won Deuk.
“Kau lebih baik mencobanya. Jika tidak, maka dia akan mati.” Kata Tuan Park mengancam dengan pedangnya. Goo Dul dkk panik melihat Hong Shim diancam.
“Jika kau menembak pusat target, yang membuktikan kau menembak catatannya, kau harus membayarnya dengan hidupmu. Jika kau tidak dapat menembak target, itu artinya kau menyembunyikan keahlianmu untuk menutupinya,istrimu harus membayar dengan nyawanya. Apa Dia harus mati?” kata Tuan Park mengancam. Semua berkomentar kalau ini tak adik dan Hong Shim yang tak boleh mati.
“Apa ini caramu mengancam orang-orang?” kata Won Deuk menyindir.
“Ambil busurnya! Aku sudah tidak sabar dan tidak suka menunggu.” Perintah Tuan Park 

Je Yoon keluar dari rumah dengan pakaian biasa, tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan langsung membekap mulutnya.
“Tidak. Jangan lakukan itu, Won Deuk. Kau harus mengulur waktu.” Kata Hong Shim panik melihat Won Deuk.
Won Deuk menarik panahnya, tapi tanganya yang terluka mengeluarkan darah. Tuan Park agar tembak panahnya, karena Hidup Hong Shim ada di tangannya. Won Deuk menarik panahnya, lalu mengarahkan pada Tuan Park, semua langsung berterik panik.
Tuan Park ketakutan, Won Deuk tiba-tiba teringat saat itu hampir terkena panah dan tanganya yang lemas malah melepaskan panah dan Tuan Park bisa menghindar tapi panah menancap di dinding batu.
“Pegang dia. Aku akan memenggalnya sendiri.” Teriak Hakim Joo.
“Buat jalan untuk Inspektur Kerajaan!” ucap pengawal dan akhirnya semua terlihat ketakutan dan berusaha kabur. Hakim Jo ingin kabur.
“Akulah Inspektur Kerajaan Raja Heo Man Shik... Jo Boo Young... Berlututlah.” Ucap Tuan Heo yang sebelumnya datang ke acara ulang tahun Tuan Park.
“Kenapa harus aku? Aku tidak melakukan kesalahan apapun.” Kata Hakim Joo.
Tuan Heo langsung melemparkan buku ditanganya, kalau itu Daftar korupsi yang diilakukan selama tiga tahun. Hakim Joo langsung berlutut memohon maaf, Tuan Heo memerintahkan agar mengikat semua orang yang terlibat.


Won Deuk dan Hong Shim berhasil menyelamatkan diri, Won Deuk memastikan kalau Hong Shim baik-baik saja. Hong Shim pikir mana mungkin baik-baik saja, karena Won Deuk hampir terkena serangan jantung. Won Deuk langsung memeluknya.
“Itu kesalahanku... Aku membidik pedang yang ada di tenggorokanmu.” Kata Won Deuk
“Kau bilang kau tidak tahu panahan, kenapa membuat rencana seperti itu?” tanya Hong Shim
“Sesudah aku mengambilnya, .aku punya perasaan bahwa itu mungkin.” Kata Won Deuk.
“Jika lenganmu tidak terluka, maka kau akan memegang pedang juga” ucap Hong Shim.
“Itu bukan alasan kehilangan peganganku. Tapi Ingatanku datang” kata Won Deuk. Hong Shim ingin tahu apa itu.
“Itu mungkin ilusi... Aku seharusnya tidak bilang apa-apa.” Ucap Won Deuk.
“Tanganmu. Kita tidak bisa membiarkannya seperti ini. Ayo temui tabib.” Kata Hong Shim.
“Tidak, aku harus bertemu seseorang dulu.” Ucap Won Deuk. 


Mentri memberikan kalau itu adalah poster dari pasar dan Biro Distrik Ibukota mengambilnya kapanpun seseorang naik. Tuan Kim bisa mengerti,  dan sudah memberitahu bahwa kepala gubernur tidak terlalu teliti. Mereka mengaku akan mengingatkannya.
“Pengadilan menipu kita tentang penundaan pertemuan dengan raja ditunda. Pangeran Seowon diizinkan bertemu dengan Yang Mulia.” Ucap Mentri melaporkan
“Mungkinkah dia sudah mempengaruhi pikiran lemah Baginda Raja?” komentar Mentri lainya.
“Bagaimana dengan banding gabungan?” tanya Tuan Kim, Mentri mengaku takut itu tidak dapat terjadi hari ini.
“Kepala dari Kantor Konselor Khusus kehilangan putranya dalam suatu peristiwa yang tidak menguntungkan. “ jelas Mentri
“Kenapa harus hari ini? Kau Pergi, temui Yang Mulia dan Aku harus mampir dulu ke kamar Putri Mahkota.” Ucap Tuan Kim, Mentri mengerti. 


Tuan Kim memberitahu So Hye kalau Ada laporan tentang kematian seseorang yaitu Kepala dari kantor putra Konselor Khusus. So Hye mengaku Paviliun terbakar dan keluar dari istana atas perintah Tuan Kim ketika menyaksikan kebakaran itu sendiri.
“Baguslah... Sekarang, tidak ada yang menghalangi jalanmu.” Kata Tuan Kim
“Aku akan mampir ke Jungungjeon untuk menyambut Ratu. Aku berharap yang terbaik di pertemuan kabinet.” Ucap So Hye dengan senyuman liciknya. Tuan Kim pun juga menganguk. 

Hakim Jo panik dibawa keluar dari rumahnya,meminta agar diselamatkan.  Teman Hong Shim tak percaya Bulu dan biji-bijian yang diperintahkan adalah korupsi Hakim Jo.  Goo Dul baru tahu kalau Tuan Joo menyajikannya sebagai suap untuk naik ke istana raja. Kkeut Nyeo merasa kesal karena  sudah bekerja bertahun-tahun tanpa hasil.
“Mungkinkah dia tidak menangkap Tuan Park saat ini?” kata teman Hong Shim. Semua setuju.
“Dia tidak bisa lolos dari ini karena hakim ditangkap. Bagaimanapun, aku tidak bisa lebih lega!” kata Kkeut Nyeo.
“Gubernur Jo tidak ada lagi di sini, kita harus berpesta.” Kata Goo Dul, semua terlihat bersenang-senang. 

“Kenapa Tuan Park yang lain tidak diikutsertakan juga? Bukankah seharusnya dia dibawa masuk?” sindir Kkeut Nyeon melihat Tuan Park sedih melihat Hakim Jo pergi.
“Apa yang baru saja kau katakan? Apa kau bilang bahwa aku sama buruknya dengan Gubernur Jo? Apa Kau tahu betapa aku menderita di bawahnya? Jika bukan karenaku, kau akan dipukuli lagi. Siapa yang menghentikan itu terjadi? Aku! Kau pikir aku sudah lebih baik? Aku tidak pernah memiliki kekuatan apa pun dengan Gubernur Jo... Jika saja kau tahu...” ucap Tuan Park menangis.
Semua orang seperti tak peduli, menurutnya Tuan Park melakukan banyak hal yang tampaknya sebaliknya menyuruh agar berhenti menengia dan  berpesta dengan mereka. Tuan Park penuh semangat untuk berpesta, karena Ada sebotol alkohol yang aku curi dari Gubernur Jo.

Won Deuk bertemu dengan Tuan Heo bertanya apakah Apa ia orang yang mengirim catatan itu dengan panah. Tuan Heo membenarkan dengan bangga. Won Deuk berkomentar melakukan pekerjaan yang buruk untuk Inspektur Kerajaan. Tuan Heo terlihat binggung.
“Karena catatan itu, aku dan istriku hampir mati.” Kata Won Deuk
“Aku tidak tahu akan menjadi seperti itu... Maaf. Tapi, apa kau tahu bahwa aku adalah Inspektur Kerajaan?” ucap Tuan Heo
“Bagaimana aku tidak tahu? Kau membuatnya terlihat jelas.” Kata Won deuk. Tuan Heo tak percaya kalau membuatnya tampak jelas.
“Baru-baru ini, kau datang ke bar.” Ucap Won Deuk

Flash Back
Won Deuk datang ke bar melihat Tuan Heo sedang makan ingin tahu  Apa istrinya datang kesini. Tuan Heo pikir tak mungkin tahu  yang mana istri Won Deuk itu sambil terus makan. Won Deuk mengatakan kalau Tuan Heo menemuinya di pesta baru-baru ini.
“Jika kau tidak mengotori kakimu, maka tidak akan ada yang terjadi Aku dan istriku tidak harus membela diri.” Kata Won Deuk.
“Ya, dia ada di sini, tapi aku tidak tahu ke mana dia pergi. Bisakah aku bertanya sesuatu? Kau membacakan puisi di pesta. Di mana kau mempelajarinya?” ucap Tuan Heo.
“Aku tidak tahu di mana mempelajarinya. Aku hanya mengatakan apa yang terlintas dalam pikiranku.”ucap Won Deuk lalu keluar kedai.
“Itu adalah puisi yang kutulis selama ujian negara. Apa sudah menyebar ke seluruh negeri?”kata Tuan Heo binggung. 


Tuan Heo tak percaya kalau Won Deuk mengetahui tentang Inspektur Kerajaan hanya dengan itu. Won Deuk mengaku berharap memberika buku besar dan kesal karena melihatnya pergi.  Won Duk ingin tahu Bagaimana dengan buku besarnya.  Tuan Heo mengatakan kalau Istri Won Deuk memberikannya padanya pagi ini.

Rapat di kerajaan, Mentri dikubu Tuan Kim mengatakan tidak ada yang pernah bersekongkol melawan Putra Mahkota dan Putri dalam sejarah mereka. Ia pikir kalau Ini mengguncang fondasi dari keyakinan dan menurunkan disiplin Keluarga Kerajaan.
“Menyerahkan Ratu dan Pangeran Seowon dan menunjukkan orang-orang yang mengendalikan bangsa ini. Jimat saja tidak bisa menjadi alasan dari deposisi kerajaan. Di jalanan, rumor tentang bagaimana Ratu memerintahkan pembunuhan Putra Mahkota.” Kata Menteri
“Dibutakan dari kebenaran karena beberapa rumor tak berdasar bukan kualitas yang harus dimiliki politisi. Jimat itu bukan satu-satunya upaya yang dilakukan Ratu pada kehidupan Putra Mahkota.”ucap mentri
“Aku setuju bahwa jimat layak dihukum, tapi tidak ada bukti yang membuktikan dia memerintahkan pembunuhan itu sendiri. Aku akan memerintahkan Kepala Penyidik dan Pangeran Seowon mencari bukti di Gunung Chunwoo.” Kata Raja
“Memberikan tugas itu untuk Kepala Penyidik dan Yang Mulia seperti meminta serigala untuk memelihara domba.” Kata Mentri kubu Tuan Kim.
“Beraninya kau mengatakan itu pada Yang Mulia!” tegas Mentri pada kubu Ratu.
“Yang Mulia, Biro Hakim dapat menyelesaikan ini sebagai gantinya. Aku mendorongmu untuk berubah pikiran.” Kata Mentri
“Beraninya kau! Apa maksudmu, kau menentang perintahku?” ucap Raja marah 

So Hye datang menemui ibu mertuanya, minta maaf karena tidak sering datang akhir-akhir ini. Ratu Park mengaku Hari ini, tiba-tiba penasaran melakukannya. So Hye mengaku belum bisa tidur nyenyak sepanjang bulan ini.
“Memikirkan itu, kukira itu berkat hadiahmu. Untuk membalas kebaikanmu, aku juga menyiapkan hadiah kecil. Apa masalahnya? Apa Kau takut itu adalah jimat?”.” Kata So Hye memberikan sesuatu pada Ratu Park.
“Ini akan berguna sekali di luar gerbang istana. Apa Kau menyukainya?” tanya So Hye melihat tusuk kondenya. Ratu Park terlihat binggung.
“Kau tampaknya berada dalam suasana hati yang buruk, aku akan undur diri.” Ucap  So Hye lalu tiba-tiba merasakan mual dan mengaku kalau hamil.
“Sudah lama aku mengetahui tentang hal itu,tapi aku tidak bisa membiarkan orang lain tahu karena insiden yang tidak menguntungkan. Jimat yang kau taruh di kediamanku pasti tidak efektif.” Komentar So Hye 


“Aku memerintahkanmu untuk menyelidiki kembali pada kasus pembunuhan Putra Mahkota. Sampai pelakunya jelas terungkap, maka aku tidak akan memutuskan apa pun.” Tegas Raja
“Yang Mulia... Jika kau kehilangan dukungan rakyat, kau akan kehilangan negara. Jangan menutup mata atas jeritan orang-orang di luar istana, atau kau akan kehilangan dukungan mereka.” Kata Mentri
“Dukungan dari orang-orang mengikuti cahaya. Kita harus mengungkapkan kebenaran dan menggerakkan hati orang-orang dengan itu.” Ucap Tuan Jung. Raja menyetujuinya.
“Yang Mulia... Aku menjadi penanggung jawab proses persidangan supaya aku bisa menghukum orang-orang jahat yang membahayakan Putra Mahkota. Aku mengeksekusi sidang tanpa pilih kasih. Aku baru saja menemukan bukti. Jadi, bagaimana bisa kau tidak percaya padaku?” ucap Tuan Kim
“Bukan karena aku tidak bisa mempercayaimu. Aku peduli dengan posisi putra mahkota. Jika aku memecat Pangeran Seowon, satu-satunya pewarisku yang hidup, bagaimana negara ini nantinya?” kata Raja.
“Apa itu semua urusanmu?” balas Tuan Kim mempengaruhi raja.
“Apa Kau tidak khawatir tentang masa depan negara ini?” tanya Raja
“Jika itu yang menjadi kekhawatiranmu, kau tidak perlu khawatir. Tolong maafkan aku karena melangkahi batasku, tapi kau sudah memiliki keturunan lain.” Kata Tuan Kim.
“Wakil Perdana Menteri Kim... Apa maksudmu?” tanya Raja binggung.
“Putri Mahkota sedang hamil... Dia mengandung anak Putra Mahkota... Yang Mulia... Selamat.” Kata Tuan Kim, semua langsung berlutut memberikan selamat, Raja terlihat binggung. 



Won Deuk terdiam, bertanya-tanya Bagaimana Hong Shim tahu bahwa Inspektur kerajaan. Ia mengingat kembali saat hari pertama menikah berkomentar Tidak ada gunanya untuk menikah dan dengan santai melepas pakaianku untuk tidur jadi jangan salah paham.
“Jangan sakit ataupun terluka... Tubuhmu bukan milikmu.” Kata Hong Shim
“Jangan memetik bunga mulai sekarang. Di mana pun mereka bermekaran, bunga paling indah untuk tetap di tempat mereka mekar. Menyiksa orang miskin bukan sesuatu yang dilakukan pria” Kata Hong Shim punya hati yang baik.
“Kalau dipikir-pikir, dia menggunakan dialek dan bahasa standar... Dan...” gumam Won Deuk mengingat kembali. Saat Ia menulis, Hong Shim membaca buku.
“Dia tahu cara membaca,tapi dia tidak memikirkan menghasilkan uang dengan itu... Kenapa?” gumam Won Deuk penasaran. 


Moo Yeol memberitahu ada sekitar 500 rumah tangga di Desa Songjoo jadi membagi tuga kalau ia akan mencari pasar, dan temanya harus melihat ke rumah-rumah.
“Jangan gunakan komposit. Pensiunan pejabat mungkin mengenali wajah Putra Mahkota... Cepatlah...” perintah Moo Yeol.
Goo Dul melihat Won Deuk mengeluh kalau apa yang akan terjadi jika inspektur kerajaan tidak muncul karena Sepertinya mereka akan terbunuh hari ini. Won Deuk mengaku punya pertanyaan. Goo Dul mengeluh punya banyak pertanyaan.
“Apa yang membuatmu penasaran kali ini? Katakan.” Kata Goo Dul.
“Apa kau tahu bagaimana Hong Shim berpisah dengan saudara laki-laki?” tanya Won Deuk
“Hong Shim tidak punya saudara laki-laki. Dia adalah anak tunggal.” Ata Goo Dul
“Tapi, kudengar dia berpisah dengan saudara laki-laki.” Kata Won Deuk yakin
“Mungkin dia seperti teman laki-lakinya yang lebih tua. Aku juga teman laki-lakinya yang lebih tua. Pernahkah kau mendengar seseorang dengan wajah tampanadalah saudara laki-laki?.” Ucap Goo Dul bangga. 


“Dia mungkin memiliki saudara laki-laki.” Kata Kkeut Nyeo. Goo Dul kaget mendengarnya.
“Maksudku, keluarga kandungnya.” Ucap Kkeut Nyeo. Goo Dul tak percaya kalau Hong Shim diadopsi.
“Ayahnya membawanya setelah putrinya meninggal.” Jelas Kkuet Nyoe
“Kenapa kau tidak memberitahuku cerita yang penting sampai sekarang?” ucap Goo Dul marah. Kkeut Nyeo mengaku itu karena Goo Dultidak bertanya.
“Jika kau melihat Hong Shim, katakan padanya untuk datang ke ladang.” Kata Won Deuk.
“Ladang? Apa yang akan kau lakukan di sana?” tanya Goo Dul.Kkeut Nyeo mengeluh kalau suaminya tak perlu ikut campur dengan senyum malu-malu. Goo Dul kaget ternyata Won Deuk sudah pergi. Kkeut Nyeo mengaku  iri pada Hong Shim.

Hong Shim duduk sendirian mengingat saat Won Deuk berkelahi seperti memang memilki keahlian yang tak seperti biasanya.  Ia lalu melihat ayahnya berjalan sendirian dan terlihat terkejut, lalu bertanya kenapa ayahnya terkejut. Ayah Hong Shim menyangkal kalau ia hanya cegukan.
“Tugasmu kosong hari ini, kemana saja kau sejak kemarin? Apa yang salah dengan tangan itu?” tanya Hong Shim
“Aku meninggalkan sesuatu di belakang gundukan suar.” Akui Ayah Hong Shim.
“Rumah berantakan,dan putrimu kembali sesudah diculik. Won Deuk juga terluka. Dalam semua keributan ini, Apa kau pergi untuk mencari sesuatu yang tertinggal?” kata Hong Shim marah
“Begitulah cara kerjanya di gundukan suar. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi. Apa Kau tahu kenapa aku kembali dengan selamat sesudah diculik oleh para penjahat?” ucap Hong Shim.
“Itu karena kau pandai berkelahi.” Kata Tuan Hong Shim yakin
“Tidak, itu berkat Won Deuk... Dia datang menyelamatkanku... Dia mengalahkan preman bersenjata itu hanya dengan tongkat. Itu tidak terlihat biasa.” Ucap Hong Shim curiga.
“Mungkin dia mendapat pelatihan keras selama dinas militernya. Ketika kau pergi, ia ditangkap ke kantor hakim... Dia ditahan di sana. Jika dia tidak punya pengalaman, maka dia tidak akan ahli melakukannya.” Komentar Ayah Hong Shim menutupi kebenaran.
“Siapa dia?” tanya Hong Shim. Tuan Yeon menegaskan kalau Won Deuk adalah Won Deuk.
“Darimana dia berasal?” tanya Hong Shim, Tuan Yeon mengatakan Dari Desa Zelkova melewati Desa Pohon Kastanya. Hong Shim mengajak pergi, “Aku memanggilnya Won Deuk karena dia Won Deuk. Aku tidak akan memanggil Chun Deuk, Won Deuk, atau memanggil Man Deuk, Won Deuk.” Jelas Tuan Yeon ingin menyakinkan.
“Katakan padaku yang sebenarnya. Siapa Won Deuk sebenarnya? Ayah.” Kata Hong Shim mendesak. Tuan Yeon pun hanya bisa minta maaf.




Won Deuk pergi kepasar melihat sesuatu yang dijual. Pedagang ebrtanya apakah sedang mencari sesuatu. Won Deuk mengatakan mau sepasang sepatu terbuat dari sutra biru dengan bunga sakura. Penjua memperlihatkan Sepatu dengan bunga sakura satu-satunya.
“Itu bukan bunga sakura, tapi bunga plum... Kedua jenis memiliki lima kelopak. Tapi Kelopak bunga plum berbentuk bundar. Bunga sakura memiliki celah di ujung kelopaknya” kata Won Deuk lancar.
“Apa itu benar? Aku tidak tahu perbedaan seperti itu.” Kata pedagang binggung
“Tak ada pilihan lain. Aku akan memilih pasangan itu.” Ucap Won Deuk. Si pedagang pun akan membantunya. 

Won Deuk berjalan pergi tanpa disadari berpapasan dengan Moo Yeol. Sementara Moo Yeol mengetahui Won Deuk sebagai putra mahkota. Won Deuk sudah ada di ladang bunga terlihat bahagia dengan sepatu ditanganya. Hong Shim datang melihat Won Deuk yang tersenyum padanya.
Moo Yeol melepaskan busur panahnya, dan baru disadari kalau ada adiknya yang datan. Hong Shim melihat didepanya kalau ada busur panah yang mengarah dari belakang Won Deuk.
Bersambung ke episode 8

Cek My Wattpad... Kang Daniel 

Cek My You Tube Channel "Review Drama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

4 komentar:

  1. Semangat kkak,, 😍😍😍
    Makasih ya udh bkin sinopsisnya

    BalasHapus
  2. selalu ditunggu sinopsisnya.....

    BalasHapus
  3. Semangat terus unnie....fightingπŸ’•πŸ‘

    BalasHapus
  4. Makasih buat sinopsisny.. semangat semnagat ☺

    BalasHapus