Jumat, 28 Oktober 2016

Sinopsis Shopping King Louie Episode 10 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC

Louis duduk dipantai dengan Bok Sil, memandang dengan senyuman sambil bergumam “Aku tidak mau menyembunyikan perasaanku... padamu.
Bok Sil... Aku sangat menyukaimu. Kapanpun aku memikirkanmu maka hatiku berdebar. Jadi Sebesar apa kau menyukaiku?” tanya Louis, Bok Sil hanya diam dengan senyumanya.
Louie bertanya padaku... seberapa besar rasa sukaku padanya.” Gumam Bok Sil seperti belum bisa menjawabnya. 

[Episode 10: Sinar Bulan yang Menerangi Hatiku]

Louis menceritakan pada Pelayan Kim kalau menyukai Bok Sil. Pelayan Kim menceritakan Louis juga cukup menyukainya saat masih di Prancis. Louis tak percaya menurutnya Pelayan Kim itu bukan tipenya.
“Apa Kau tidak ingat ketika kau dulu selalu mengikutiku?” ejek Pelayan Kim, Louis mengelengkan kepala
Apa aku punya banyak teman?” tanya Louis, Pelayan Kim mengatakan tidak begitu banyak. Louis kaget mendengarnya.
Kenapa aku tidak punya teman? Aku pikir diriku populer.” Kata Louis kecewa
Masalahnya bukan kau tapi Masalahnya adalah caramu dibesarkan. Kau adalah contoh dari anak yang terlalu dilindungi. Dan itu adalah bagaimana sesuatu terjadi seperti sekarang. “
Kalau begitu apa yang paling bisa kulakukan?” tanya Louis pelayan Kim pikir Louis tak perlu bertanya tentang hal itu.

Tentu saja kau hebat dalam hal belanja. Apa Kau tidak ingat julukanmu adalah Raja Belanja, Louie?” kata Pelayan Kim, Louis mengelengkan kepala karena tak mengingatnya Tapi tetangganya memanggil dengan julukan seperti itu. Pelayan Kim mengerti.
Oh, benar. Koboshi....Aku ingat Koboshi...” ucap Louis binggung, pelayan Kim menceritakan kalau Louis sangat menyukainya jadi sudah pasti hal pertama yang diingatnya.
Louis bertanya keberadaan Koboshi sekarang, Pelayan Kim terlihat sedih, bertanya apakah Louis tidak ingat kalau mereka menguburnya di Kastil Bron Berlen empat tahun lalu. Louis seperti baru mengingat kalau anjingnya itu sudah mati dengan wajah sedih. Pelayan Kim menghiburnya  Sebagai seekor anjing, Koboshi memiliki usia yang cukup panjang dan sangat menyayanginya.

Apa kau ingat kotak harta karun? Kau selalu membawanya saat kau masih kecil.” ucap Pelayan Kim karena mengingat Louis menyimpan dalam lantai dan melihatnya dalam kamar Louis
Kotak harta karun? Apa itu sesuatu yang penting?” tanya Louis seperti tak mengingatnya.
Jika kau mengingatnya, akulah orang pertama yang harus kau beritahu. Kau harus berjanji” ucap pelayan Kim, Louis berjanji  Pelayan Kim pun menyuruh Louis harus tidur karena sudah larut. 

Louis tidur di tempat tidurnya, Pelayan Kim dengan menepuk tanganya bisa membuat lampu mati. Louis seperti terpana ingin mencobanya, lampu kembali menyala. Pelayan Kim tersenyum kembali mematikan lampu hanya dengan menepuk tanganya.
“Pelayan Kim.... Bukankah kau bilang kalau mobil yang kukendarai terbakar... dalam kecelakaan itu? Kalau begitu, bukankah itu berarti... ada orang lain yang mati menggantikanku?” kata Louis memikirkanya, Pelayan Kim hanya diam saja. 

Bok Sil  bertanya dimana keberadaan adiknya selama ini, tapi akhirnya tak ingin Detektif Nam menjawabnya karnea ingin tahu dari adiknya langsung dan  akan memberinya pelajaran sambil mengumpat adiknya si Pembuat masalah dan akan memukulnya ratusan kali. Detektif Nam hanya bisa diam saja.
Apa kau tahu kalau dia pernah melewatkan makan? Apa dia sehat? Ah Lagipula aku akan segera bertemu dengannya.” Ucap Bok Sil berbicara sendiri. 

Detektif Nam mengajak Bok Sil ke sebuah tempat seperti bukit. Bok Sil bertanya apakah tempat adiknya masih jauh. Detekif Nam terlihat serius menatap Bok Sil karena akan memberitahumu sesuatu, tapi harus mempersiapkan diri dulu sebelumnya. Bok Sil terlihat binggung.
Bok Nam... Dia sudah meninggal. Dia adalah pria yang meninggal karena kecelakaan yang terjadi pada mobil Louis” kata Detektif Nam,  Bok Sil benar-benar kaget mendengarnya. 

Bok Sil langsung menangis diatas tempat dimakamkan adiknya, sambil menangis memanggil adiknya. Teringat kembali senyuman adiknya yang bahagia menerima jaket yang dibelika lalu makan daging bersama.
Bok Nam-ku... Kau tidak bisa melakukan ini padaku.... Aku sangat ingin menemukanmu. Aku sangat merindukanmu.” Ucap Bok Sil menangis
Bok Nam, aku tidak akan pernah.. memarahimu lagi Aku tidak akan memukulmu lagi. Kembalilah padaku, kumohon!! Aku ingin memasak untukmu. Aku juga akan memanjakanmu. Kenapa kau ada disini sendirian di tanah yang dingin?” tangis Bok Sil mengingat saat kebersaaman adiknya yang merengek meminta ponsel, diatas nisan tertulis nama Kang Ji Sung. 

Hye Joo masuk ke dalam ruangan sambil berteriak panik kalau  adan Berita besar dan meminta agar tak terkejut. Semua terlihat penasaran, tapi Ma Ri terlihat santai. Hye Joo memberitahu kalau Cucu Ny Choi masih hidup. Semua melonggo tak percaya, hanya Ma Ri tak tertarik karena sudah mengetahuinya lebih dulu
Bukankah dia tewas dalam kecelakaan?” ucap Mi Young binggung
Pokoknya, ada kemungkinan dia akan kembali bekerja di perusahaan. Aku benar-benar ingin tahu siapa cucunya itu.” kata Hye Joo penasaran

Mungkin, dia mungkin seseorang yang kau kenal.” Komentar Ma Ri memberikan kode. Semua terkejut.
Apa kita pernah melihatnya? Siapa dia?” tanya Do Jin makin penasaran, Kyung Kook pikir itu pasti bukan Wang Louis,
“Aissh..Dia mengkhayal karena dia pernah dipuji oleh Louie.” Ejek Mi Young, Ma Ri hanya diam saja membiarkan semua penasaran siapa orangnya. 


Louis datang ke tempat Tuan Baek, sementara Tuan Baek terlihat sedikit gelisah bertanya alasan datang ke ruanganya tiba-tiba. Louis mengatakan datang untuk bertanya sesuatu padanya. Tuan Baek pun bertanya apa yang ingin ditanyakan.
Ketika kau melihatku di lobby,  kenapa kau berpura-pura  tidak mengenalku? Kau melihatku saat aku dating membawa bubur. Aku bahkan mengucapkan salam.” Ucap Louis masih mengingat saat bertemu Tuan Baek di lobby untuk Bok Sil bertemu Tuan Baek, tapi Tuan Baek hanya diam saja padahal sempat berbicara juga.

Ji Sung.... Kami kira kau sudah meninggal... Kami bahkan menggelar pemakamanmu. Itulah kenapa aku kira kau hanyalah orang yang mirip denganmu. Tapi tetap saja aku curiga dan Akulah orang yang mencarimu. Kau jadi kaya lagi setelah hidup sebagai orang miskin. Itu semua berkatku, kau mengerti’kan ?” jelas Tuan Baek menyakinkan.
Ya, terima kasih...Tapi... aku tidak hidup sebagai orang miskin.” Kata Louis, Tuan Baek hanya berkomentar lega mendengarnya.


Ma Ri masuk ke dalam ruangan ayahnya, Louis melihatnya dan mengingat perempuan yang menabraknya adalah Ma Ri dan sekarang datang didepanya. Ma Ri berakting dengan mata berkaca-kaca langsung memeluk Louis memanggilnya dengan panggilan Ji Sung, Louis ingin melepaskanya tapi Ma Ri tetap ingin memeluknya.
Apa kau benar-benar Ji Sung? Aku tidak percaya kalau kau masih hidup. Aku menangis saat tahu kalau kau sudah meninggal. Harusnya aku menampung air mataku di dalam botol. Dengan begitu, aku bisa menunjukkan padamu seberapa besar perasaanku padamu.” Ucap Ma Ri yang berbicara sesuatu dengan yang dituliskan.
Apa kau sangat dekat denganku?” tanya Louis binggung tak mengingat sama sekali dengan Ma Ri
Tentu saja... Kalian sudah bersahabat sejak kecil.” kata Tuan Baek
Flash Back
Louis dan Ma Ri bermain bersama, keduanya saling berebutan mainan mengaku itu sebagai miliknya. Ma Ri akhirnya mendorong Louis dengan kasar, Louis pun hanya bisa menangis dan Ma Ri pun meninggalkan begitu saja. 


Tuan Baek menceritakan  keduanya sangat dekat dan berpikir mereka akan menikah. Louis mengernyit dahinya karena tak mengenal sosok Ma Ri sama sekali.
Flash Back
Ma Ri dengan bangga mengatakan Ayahnya adalah direktur perusahaan. Louis tak mau kalah kalau Neneknya adalah pemilik perusahaan. Ma Ri mengejek Louis yang tidak memiliki ibu tapi ia punya ibu dan berlari memanggil ibunya. Louis hanya bisa menangis.
Aku dengar kau kehilangan ingatanmu. Sebenarnya, kita lebih dari seorang teman.” Ungkap Ma Ri, Louis kaget dan tak percaya. Tuan Baek mengamati keduanya agar bisa saling mengingatkan .
Saat aku masih berduka karena kematianmu, aku tiba-tiba melihatmu di jalan. Aku sangat terkejut saat itu. Tapi ketika kau menutup telponku, aku merasa begitu hancur.” Ungkap Ma Ri kembali berbohong.

Louis mengingat saat itu Ma Ri menelp merasa kalau mungkin aneh dan meminta agar bisa bertemu besok.  Tapi Louis mengatakan dengan sinis “Apa Kau sangat ingin melihatku? Kau boleh menyukaiku, tapi aku tidak menyukaimu. Aku sedang tidak dalam suasana hati  yang bagus, jadi jangan menghubungiku lagi. Lalu menutup telpnya. Louis pun membenarkan kalau ia yang menutup telpnya lebih dulu.
Aku langsung memberitahu Ayah tentangmu dan juga mencarimu.” Kata Ma Ri, Louis pun mengucapkan terimakasih
Aku menyukai Bok Sil sekarang, jadi  jangan bertingkah seperti kau mengenalku. Dan juga jangan bilang kalau kita lebih dari sekedar teman.” Tegas Louis tak ingin di pegang oleh Ma Ri
Ma Ri dan Tuan Baek terdiam melihat tanggapan Louis tak ingin dekat, Louis duduk dikursi bertanya apakah memiliki kopi Maxim Gold. Tuan Baek terlihat binggung, tapi akhirnya seperti ketakutan akan mengambilkan untuk Louis. 


Bibi Hwang dan In Sung membawa celana dalam Louis yang memiliki mata berlian dan meminta agar melihatnya. Si pemilik toko perhiasan mengeluh kalau tak mungkin ada yang menjahit  berlian pada pakaian dalam, jadi sudah pasti palsu.
“Coba Lihatlah dulu. Apa kau tahu  pakaian dalam seperti apa ini?” kata Bibi Hwang, In Sung memberitahu kalau Itu milik Gold Group. Bibi Hwang menyuruh anaknya agar menutup mulutnya. Si pemilik pun mau melihatnya lalu terkejut
Ini memang asli.” Kata si pemilik tak percaya, dua ibu dan anak itu terlihat gembira, Bibi Hwang Berapa harga ini semua.
Tapi.... Kenapa ada banyak goresan? Di dalamnya juga ada bulu. Apa ini belum pernah diperiksa?” kata Si pemilik. In Sung mengaku belum pernah dengan malu.
Kalau begitu aku tidak bisa memberimu banyak uang. Aku akan memberimu 1 juta won” ucap Si pemilik. Bibi Hwang dan In Sung tak percaya kalau bisa menjual celana dalam 1 juta Won.

Keduanya akhirnya mencari di bagian saluran pembuangan air, Bibi Hwang bertanya apakah anaknya itu yakin berliannya ada dua buah. In Sung yakin menurutnya  Akan jadi aneh kalau hanya ada satu. Bibi Hwang pun mengajak mereka akan segara mencarinya.
Tiba-tiba Bibi Hwang melihat sesuatu yang mengkilat saat membersihkan pipa saluran, In Sun melihatnya dan keduanya berteriak gembira kalau mereka menemukan batu rubi. In Sung tiba-tiba teringat akan sesuatu dengan batu itu, lalu melihat mahkota yang sering dipakai Louis, dan ternyata itu hanya hiasan di makhota yang lepas. Bibi Hwang akhirnya dengan wajah kecewa menyuruh anaknya agar mencari di mesin cuci.
Bok Sil and kami tidak pernah mengira kalau itu berlian asli.Ahh... itu Sangat disayangkan sekali”keluh bibi Hwang 

Joong Won duduk sendirian di ruangan mengingat saat Detektif Nam memberikan informasi padanya. “Orang yang tewas menggantikan Louie... memang benar Bok Nam.”  Teringat kembali saat mengetahui Bok Sil tinggal dengan Louis bertanya  Berapa lama lagi akan tinggal bersamanya. Bok Sil mengatakan Sampai  menemukan Bok Nam.
Bagaimana kalau kau tidak menemukannya?” kata Joong Won, Bok Sil marah karena Joong Won malah berbicara seperti itu.
Joong Won tersadar dari lamunan menyadarkan kalau tak mungkin melakukan sesuatu lalu keluar ruangan. 

Louis berjalan ke lorong tempat Bok Sil kerja, Joong Won melihat kursi Bok Sil yang kosong lalu melihat Louis yang datang. Louis menyapanya lebih dulu. Joong Won bertanya apa tujuanya datang dengan bahasa formal. Louis kaget karena Joong Won baru saja menggunakan bahasa formal padanya.
Apa kau datang untuk belajar tentang manajemen bisnis?” tanya Joong Won, Louis mendengar Joong Won yang bicara formal menurutnya itu lebih cocok.
Bok Sil ada di dalam, kan?”kata Louis ingin masuk, Joong Won menghalanginya memberitahu Bok Sil sedang dalam perjalanan  bisnis.

Jangan mencarinya. Jangan menghubunginya, oke?!!” kata Joong Won, Louis bertanya kenapa tak boleh menghubunginya.
Louis...  Kau ingat apa yang pernah kukatakan padamu? Aku mengatakan padamu kalau... orang dewasa menyembunyikan  rasa sakit mereka. Kau harus tahu... kapan untuk tidak bertanya tentang bagaimana perasaan orang lain. Itu jugalah yang dilakukan orang dewasa.” Tegas Joong Won, Louis pun hanya diam saja. 


Bok Sil duduk sendirian di dalam rumahnya, lalu mengingat kembali penjelasan dari Detektif Nam tentang adiknya.
Sebelum kecelakaan itu, Bok Nam mengambil mobil dan pakaian Louie. Aku rasa Bok Nam berteman dengan beberapa preman di Seoul. Dia tidak beruntung. Saat mobilnya meledak, dia ada di dalamnya.
Kenapa kau melakukan itu, Bok Nam?”ucap Bok Sil sambil menangis.
Saat itu terdengar pintu diketuk, Bok Sil menghapus air matanya lalu membuka pintu, pelayan Heo dan Nenek Choi masuk. Bok Sil binggung karena tak mengenalinya, pelayan Heo memberitahu kalau Nyonya Choi adalah pemilik dari Gold Group. Bok Sil menyapanya, Nenek Choi meminta maaf karena sudah mengangunya.
Bok Sil menatap wajah Nenek Choi, teringat saat pergi ke busan menanyakan tempat bertanya Apa cucu anda pergi ke suatu tempat? lalu Nyonya Choi menceritakan dengan wajah sedih Aku mengirimnya ke tempat yang jauh, supaya dia bisa hidup dengan panjang, tapi dia...malah pergi terlalu jauh.

Nenek Choi ingat dengan Bok Sil  gadis dari Pulau Dongbaek. Bok Sil juga melonggo kaget bisa bertemu dengan nenek yang sebelumnya pernah ditemuinya. Ketiganya akhirnya duduk dalam ruangan, Nenek Choi mengaku tidak percaya kalau teman yang diceritakan Bok Sil adalah Louie. Bok Sil juga merasa itu kebetulan sekali.
Terima kasih.... Terima kasih karena sudah menjaga Louie.” Kata Nenek Choi dengan mata berkaca-kaca.
Tidak apa-apa. Jika adikku tidak merampok Louie, maka Louie tidak mungkin melewati itu semua. Aku minta maaf...” kata Bok Sil membungku meminta maaf.
Adikmulah yang tewas... Jangan meminta maaf.” Ucap Nyonya Choi
Nenek... Sejujurnya, hatiku terasa sakit. Aku harus meminta maaf duluan... ketika adikku satu-satunya meninggal. Aku merasa sangat terluka. Bok Nam adalah anak yang baik.” Ucap Bok Sil menangis, Nenek Choi langsung memeluknya.
Aku tahu betapa sakitnya... kehilangan keluargamu lebih baik dari siapapun. Untuk saat ini, jangan pikirkan  apapun dan menangislah sepuasmu. Apapun alasannya, tidak ada rasa sakit yang lebih besar daripada kehilangan... keluargamu.” Kata Nenek Choi, Bok Sil pun menumpahkan rasa sedihnya pada Nenek Choi. 

Akhirnya Bok Sil pun sudah terlihat tenang, Nenek Choi mulai berbicara serius, meminta agar Jangan tersinggung dengan apa yang akan dikatakan. Bok Sil menatap nenek Choi dengan mata berkaca-kaca.
Jika kau terus bertemu Louis, itu bisa semakin menyakitkan... untukmu dan Louie. Bagimu, melihat Louie akan  mengingatkanmu pada adikmu dan menghancurkan hatimu. Sementara Bagi Louie, dia akan merasa bersalah dan itu juga akan menghancurkan hatinya. Jadi akan sangat mengerikan bagi dua orang yang saling melukai untuk menghabiskan waktu bersama. Kau mengerti maksudku, kan?” kata Nenek Choi
Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku... merasa sangat bahagia karena Louis. Aku merasa terlalu bahagia tanpa tahu... kalau adikku sudah meninggal.” Ungkap Bok Sil seperti merasa menyesal. 

Nyonya Hong menyap suaminya yang sudah pulang dan mendengar Louis yang mendatangi perusahaan hari ini. Tuan Baek menyuruh istrinya menyiapkan makan karena belum sempat makan, Nyonya Hong mengerti tapi sebelum pergi suaminya berbicara lagi.
Aku akan membiarkan Ma Ri menikah dengan Louie.” Kata Tuan Baek, Nyonya Hong kaget anaknya akan menikah
Ini akan baik untuk mereka berdua...Cepat lakukan selagi Ibu masih hidup.” Perintah Tuan Baek
Nyonya Hong terlihat masih shock, Tuan Baek berubah pikiran memperingatkan istrinya agar jangan melakukan apapun mulai sekarang. Nyonya Hong tak percaya suaminya bisa bersikap seperti itu lagi. 

Rumah Bok Sil sudah terlihat bersih dan tak berpenghuni, pagi sekali Bok Sil sudah ada didepan rumah Bibi Hwang menyelipkan sebuah note didepan pintu Terima kasih untuk semuanya, Ahjumma. Aku akan kembali ke kampung halamanku. Tolong jangan beritahu Louie.
Bok Sil pergi ke ruangan Joong Won lalu menaruh surat pengunduran diri dan juga amplop pink untuk suratnya, “Tuan Cha, aku berterima kasih padamu karena kau adalah orang pertama yang menyadari bakatku. Aku tidak akan melupakannya. Aku minta maaf karena tidak bisa mengucapkan perpisahan secara langsung. Setelah itu Bok Sil melihat meja kerjanya selama ini dan merabanya
Meja pertama yang kumiliki  untuk pertama kalinya dalam hidupku. Selamat tinggal.  Goldline, perusahaan yang mempekerjakanku untuk pertama kalinya dalam hidupku. Selamat tinggal. Gumam Bok Sil lalu masuk ke dalam lift.
Louis masih tertidur pulas dan Bok Sil mengirimkan pesannya.  (Bok Sil: Aku akan pergi.  Jangan mencariku. Jaga diri.)

Bok Sil menaiki bus melewati tempat bersejarah di korea, lalu melihat tangga tempat pertama kali bertemu dengan Louis yang mengira kalau itu adiknya, lalu ia pun mengucapkan selamat tinggal pada semuanya.
Joong Won akhirnya sampai kantor melihat ada surat pengunduran diri lalu membuka surat yang ditinggalkan Bok Sil. Dengan wajah kesal mencoba menelp tapi tak aktif,dan bertanya-tanya kemana Bok Sil itu sekarang. 

Louis duduk dimeja makan dengan ditemani dua pelayan terlihat hanya mengaduk nasinya. Pelayan Kim melihat Louis tidak memiliki selera makan. Louis sedih karena Bok Sil meninggalkan untuk pergi sendirian jadi tidak punya selera makan dan hanya merindukan Bok Sil. Pelayan Kim terlihat kebinggungan.
“Seorang Gelandangan yang Bok Sil rawat... ternyata adalah pewaris Gold Group. Siapapun akan terkejut karena itu. Bok Sil mungkin tidak bisa mengekspresikannya, tapi aku yakin dia merasa terbebani.” Jelas Pelayan Heo, Pelayan Kim setuju, Louis pikir itu benar juga.

Jadi, kau harus memberi waktu pada Bok Sil... untuk memikirkannya dan menerimanya.” Kata Pelayan Heo
Louis tetap sedih memikirkan Bok Sil, pelayan Heo merayu Louis agar bisa makan sedikit saja. Louis pikir Bok Sil juga pasti ingin ia makan, Dua pelayannya membenarkan. Akhirnya Louis pun dengan terpaksa memakanya, Pelayan Kim berbisik mengucapkan terimakasih, Pelayan Heo membalasnya dengan kedipan mata. Pelayan Kim terlihat terkejut melihatnya. 


Nyonya Shin terpesona saat masuk ke rumah Nyonya Hong karena ternyata rumahnya sangat indah dan bertanya apakah ia menikah dengan seorang pewaris perusahaan. Nyonya Hong mengaku Suaminya adalah direktur Gold Group. Nyonya Shin kaget mendengarnya.
Anakku adalah ketua tim dari Goldline.com.” kata Nyonya Shin, Nyonya Hong tak percaya kalau Joong Won adalah anak Nyonya Shin.
Putriku adalah manajer perencanaan di Goldline.com. Dia mendapat MBA di Harvard.” Kata Nyonya Shin tak kalah terkejut

Nyonya Hong teringat saat Ma Ri datang kerumah mengaku beruntung  mendapat pekerjaan di Goldline setelah lulus lalu bertanya apakah namanya Baek Ma Ri. Nyonya Hong makin kaget bertanya apakah Nyonya Hong mengenal putrinya. Keduanya terlihat benar-benar tak menyangka ternyata anak mereka saling mengenal satu sama lain.
Suamiku ingin... Ma Ri menikah dengan Louis. Tapi aku ingin Ma Ri menikah  dengan seseorang yang dia cintai.” Ungkap Nyonya Hong
Maksudmu... putraku, Joong Won?” tanya Nyonya Shin memastikan, Nyonya Hong membenarkan.
Kalau begitu kita bisa menikahkan mereka.” Kata Nyonya Shin bangga.
Nyonya Hong seperti tak yakin, Nyonya Shin bertanya apakah Tn Baek terus merendahkan Nyonya Hong selama ini, dan ingin tahu pendapatnya apa itu alasanya. Nyonya Hong mengingat saat pertemuan terakhir di kantor suaminya
Bagaimana bisa detektif menemukanmu di toko bukumu?” tanya Tuan Baek, Nyonya Hon mengaku tak tahu.
Kenapa kau tidak menanyakan pertanyaan sepenting itu?” teriak Tuan Baek kesal.
Nyonya Hong menceritakan suaminya terus merendahkannya sejak hari itu. Nyonya Shin mengatakan akan memecahkan masalah ini. Nyonya Hong pun bertanya bagaimana caranya, Nyonya Shin akan  bertanya pada detektif itu menurutnya tak ada yang sudah , lalu menyuruh Nyonya Hong  Traktir semua orang di kantornya. Nyonya Hong pun bergegas mencari ponselnya untuk memesan makanan. 

Nyonya Hong dan Nyonya Shin sudah ada di kantor polisi, semua anggota tim terlihat bahagia menerima banyak makana diatas meja. Salah satu teman mengoda Detektif Nam itu punya penggemar wanita dan sangat iri padanya. Detektif Nam merasa tidak memiliki klub penggemar.
Dua wanita yang paruh baya pun melambaikan tangan pada detektif Nam, detektif Nam yang terkejut langsung tersedak, lalu meminum air putih. Keduanya terlihat terpesona dengan cara minum Detektif Nam sepert melihat malaikat yang sangat tampan. 

Detektif Nam akhirnya selesai makan dengan mengucapkan terimakasih lalu bertanya apa tujuan Nyonya Hong sampai datang ke kantor polisi dengan makanan sebanyak itu. Nyonya Hong terlihat binggung seperti masih terpana dengan ketampan Detektif Nam.  Nyonya Hong dari jauh melihatnya langsung mengirimkan pesan Tanya padanya sekarang.
Aku ingin berterima kasih padamu karena sudah menemukan Louie. Itulah kenapa aku mampir kesini. Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau menemukanku dan toko bukuku?” ucap Nyonya Hong
Di dalam buku catatannya, Louie menulis kotak musik dari  Ulang Tahun Ke-30 Pusat Perbelanjaan Gold. Kolegaku memberitahuku... dia ingat pernah melihat kotak music itu di toko bukumu, Jae Sook-ssi.” Jelas Detekif Nam yang memanggil Nyonya Hong dengan namanya.
Nyonya Hong seperti mendengar dengan suara mengema dan terlihat gugup. Detektif Nam malah khawatir menanyakan keadaanya. Nyonya Hong mengaku kalau ia baik-baik saja. Detektif Nam mengatakan  hanya melakukan tugas sebagai polisi dan mengucapkan  Terima kasih untuk makan siangnya, serta Sebagai gantinya, beritahu jika membutuhkan bantuan di toko buku karena akan melakukan yang terbaik untuk membantunya. Nyonya Hong mengangguk mengerti. 

In Sung sedang mengepel lantai, Bibi Hwang hanya duduk sambil melamun, In Sung pun menyuruhnya untuk minggir, bibi Hwang hanya mengeser sedikit bokongnya. In Sung meminta agar ibunya pindah ke sisi lainya karena ingin dipel.
Kenapa Bok Sil kembali ke kampungnya?” kata Bibi Hwang heran
Kenapa dia meminta kita untuk tidak memberitahu Louie?” kata In Sung juga binggung
Ada sesuatu yang aneh. Dia punya masa depan yang cerah, tapi kenapa dia menyerah begitu saja?” keluh Bibi Hwang khawatir.
Apa Bok Sil adalah anakmu? Kau harusnya lebih memperhatikanku daripada dia.” Keluh In Sung kesal
Bok Sil jauh lebih baik darimu.” Tegas Bibi Hwang 

Bok Sil akhirnya sampai ke rumah yang selama ini ditingalinya, dengan menghirup udara pedesaan yang sangat alami, senyumanya terlihat. Lalu ia masuk ke dalam rumah mulai membereskan lantai,menyapu halaman, menjemur bahan makana dan tak lupa membersihkan dapur.
Saat itu ia melihat ada toples yang terbuka, dan bertanya-tanya  Kenapa ini terbuka dan Apakah ada seseorang yang datang, lalu menutupnya kembali. 

Louis mencoba menelp Bok Sil tapi tak juga aktif, matanya menghitam seperti tak tidur semalaman memikirkan Bok Sil.  Ia mengeluh Kenapa Bok Sil tidak mengangkat telponnya dan apakah harus pergi terlalu lama dan berpikir ada sesuatu yang terjadi.
Tuan, kau harus makan dulu. Kau belum makan apapun hari ini.” kata pelayan Kim, Louis mengatakan kalau Makan tidak penting saat ini.
Kau harus tidur kalau begitu. Kau sama sekali tidak tidur akhir pekan kemarin.” Kata pelayan Kim, Louis menegaskan  Tidur tidak penting saat ini dan terus bertanya kenapa Bok Sil tak mengangkat telpnya. 

Akhirnya Louis datang ke rumah Bok Sil dan sangat cepat berlari menaiki tangga, Pelayan Kim yang mengikutinya binggung kenapa Louis bisa sangat cepat, sementara ia baru beberapa langkah sudah kelelahan. Louis masuk ke dalam rumah dan melihat semua kosong, lalu menemukan ponsel yang ditinggalkan Bok Si.
Louis akhirnya menarik In Sung ke atap rumah, merasa tetangganya tahu keberadaan Bok Sil sekarang dan meminta agar memberitahunya segera. In Sung kebinggungan karena Bok Sil menyuruu untuk tidak mengatakannya pada Louis. Louis tetap meminta agar memberitahunya sekarang.

Louis langsung berlari menuruni tangga dan ingin masuk mobil, Pelayan Kim langsung menahanya, melarang tidak boleh menyetir. Louis memberitahu  harus pergi ke Gangwon-do dan mendengar Bok Sil ada disana. Pelayan Kim memohon Louis tak menyetir sendiri,
Tidak mungkin dia meninggalkanku. Aku tahu ada sesuatu yang terjadi.” Ucap Louis yakin
Aku akan membawamu kesana, Kau tidak tahu jalan kesana.” Kata Pelayan Kim, Louis pun pindah ke pintu sampingnya. 
bersambung ke part 2 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar