Rabu, 26 Oktober 2016

Sinopsis Scarlet Heart Ryeo Episode 17 Part 2

PS : All images credit and content copyright : SBS

Wang So kembali duduk di singasananya, Ji Mong memberitahu ada rumor yang terdengar  kala Mereka percaya bahwa Kyung Chun Won Keun yang harusnya menjadi raja bahkan Menteri Luar Negeri Park Young Gyu mengira Wang So berbohong tentang permintaan terakhir mendiang raja.
Bunuh saja dia.” Ucap Wang So marah, Ji Mong kaget Wang So seperti bengis seperti dulu.
Hukum siapapun yang sekiranya merencanakan pengkhianatan. Bahkan Pengikut-pengikut mendiang raja. Tangkap semua dayang dan tentara yang berada di Cheondeokjeon. Siapa saja yang meragukan titah penerus takhta..., jangan biarkan mereka lolos. Tak satu orang pun akan terluput.” Tegas Wang So, Ji Mong terlihat shock dengan sikap Wang So seperti tak ingin kedudukanya digeser. 

Mentri Park menemui Woo Hee mengetahui kalau  Raja bertekad untuk menangkapnya. Woo Hee pikir itu salah Mentri Park sendiri  yang memulai rumor bahwa titah mendiang raja itu hanyalah bohong belaka. Mentri Park pun mengancam kalau Woo Hee juga akan aman dengan hal ini.
Kalau begitu aku sebaiknya mengungkapkan yang sebenarnya...bahwa kau memata-matai Pangeran ke-4 dan Baek Ah. Apa Kau pikir cuma aku saja yang akan mati sendiri? Dasar bodoh.” Ucap Mentri Park mengancam, saat membalikan badanya. Woo Hee langsung menusuknya dengan pisau kecil yang disembunyikan dalam gantunganya. Mentri Park pun mati seketika. 

Woo Hee terdiam seperti merasa bersalah menatap gantungan, Baek Ah datang mengambil gantungan dan merasa Sudah lama tak melihat gantungan itu tapi terlihat tambah usang jadi Woo Hee  harus ganti benangnya. Woo Hee langsung mengambilnya karena tidak mau benda itu digantikan barang lain.
Katamu benda itu dari pemberian orang tuamu, 'kan?” ucap Baek Ah, Woo Hee mengangguk.
Sepertinya aku harus melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh orang tuamu.” Kata Baek Ah, Woo Hee bertanya apa itu.
Sebelum kita menikah... Kupikir kita harus membuatmu terdaftar sebagai anak angkat dari keluarga baik-baik.” Jelas Baek Ah
Apa karena aku berasal dari Hubaekje, benarkan?” ucap Woo Hee sedih

Nenekku masih ingat sekali insiden yang terjadi di Gyunhwan. Keluarganya dibunuh di depannya. Dia selalu tak mau berurusan dengan rakyat asal Hubaekje. Tapi itu terjadi sebelum kita lahir. Lagipula tak apa hubungannya Gyunhwan denganmu. Tetap saja, aku ingin menghindari masalah yang mungkin bisa saja terjadi. Aku akan ziarah ke makam orang tuamu dan minta maaf pada mereka.” Jelas Baek Ah tentang rencananya.
Woo Hee terdiam teringat kembali kata-kata Mentri Park “Jika hubunganmu dengan dia terungkap..., maka Pangeran Baek Ah juga takkan aman.” Baek Ah bertanya apakah tak masalah untuk Woo Hee. Woo Hee yang sempat terdiam berkata kalau  Raja Pendiri Goryeo  membunuh orangtuanya dan rajanya membunuh keluarga Baek Ah, dengan nada khawatir berpikir kalau mereka memiliki masalah kalau memang bersama.
Woo Hee... Ini bukan salahku..., dan itu juga bukan salahmu. Pikirkan saja kita berdua. Kecuali kalau kau tak menyukaiku lagi..., apapun yang terjadi, kita takkan pernah berpisah. Aku tidak akan mengizinkannya.” Tegas Baek Ah. Woo Hee hanya diam saja. 


Ayah Sun Duk, Soo Kyung menemui Wang So mengatakan ingin beristirahat sekarang dan pulang ke kampung halamannya Wang So kaget karena menurutnya sekarang lebih membutuhkan Soo Kyung  dan tidak mengerti kenapa bersikeras pergi dari istana.
Kalau boleh jujur​​... Kondisi kesehatanku memburuk dan aku muak dengan keluarga kerajaan. Setiap kali aku berkeliling di sekitar Istana... putriku... aku selalu dapat penglihatan tentang putriku dan mendengar suaranya. Aku berusaha berpura-pura kalau bukan itu yang terjadi. Aku tidak bisa menghilangkan penglihatan dimana kau mengayunkan pedangmu, Yang Mulia. Itu sangat Berat bagiku.” Jelas Soo Kyung
Jangan pergi....” kata Wang So memohon
Yang Mulia. Demi bangsa dan rakyat bangsa ini... jadilah seorang raja yang baik dan bijaksana. Kau harus seperti itu.” pesan Soo Kyung lalu pergi meninggalkan istana. 

Hae Soo datang ke tempat raja melihat Wang So duduk sendirian lalu mendekatinya. Wang So memberitahu  Park Soo Kyung telah pergi karena sakit dan muak dengan Istana ini Dan sekarang Soo Kyung seperti takut padanya. Hae Soo hanya diam saja.
Kau juga ingin tahu nama siapa yang ditulis dalam titah mendiang raja. Benar'kan? Kau bertanya-tanya apa aku mencuri tahta ini atau tidak.” Ucap Wang So
Aku tidak berpikiran seperti itu sama sekali. Malah aku tidak mau tahu soal itu.” kata Hae Soo
Tak ada nama siapapun... Tak ada nama seseorang yang tertulis disitu.” Ucap Wang So yang melihat sendiri kalau tak ada tulisan apapun di surat wasiat.

Itulah alasan... Aku merobeknya, karena meninggalkan titah seperti itu akan menyebabkan kekacauan. Bagaimanapun juga, aku sudah mengambil alih Istana.” Tegas Wang So. Hae Soo merasa yang dilakukan Wang So itu sudah benar.
Park Soo Kyung meninggalkanku..., dan Baek Ah menganggapku hanya sebagai rajanya, bukan lagi kakaknya. Bagi Choi Ji Mong,  aku hanyalah penebus kematian kakak tertuaku. Lalu Jung menganggapku sebagai pembuhuh kakak-kakaknya. Ibuku sekalipun... menganggapku pencuri.” Kata Wang So
Hae Soo hanya terdiam dengan wajah sedih, Wang So pikir perkataan Hae Soo benar kalau Takhta membuatnya takut dan kesepian. Hae Soo memegang tangan Wang So mengatakan kalau selalu ada disisinya dan  tidak akan meninggalkannya, lalu duduk disebelah raja dan menyandarkan kepalanya. Wang So menatap Hae Soo seperti masih ada rasa keraguan. 


Hae Soo dibantu oleh Chae Ryung pindah ke istana, lalu merasa takjub melihat Istana Cheondeokjeon. Lalu ia mengatakan kalau memiliki sebuah permintaan. Hae Soo menatap mantan pelayanya dulu. Chae Ryung menceritakan karena adanya penobatan raja baru,  maka mereka boleh membebastugaskan beberapa dayang.
Aku juga termasuk yang akan dibebastugaskan dan disuruh meninggalkan Damiwon.” Cerita Chae Ryung
Berarti mulai sekarang kita bakal jarang bertemu. Lalu mau kemana tujuanmu?” tanya Hae Soo kaget.
Agasshi, bisakah kau membantuku agar tetap tinggal dan hidup di istana? Tolong bujuklah Raja.” Ungkap Chae Ryung, Hae Soo sempat terdiam lalu mengangguk. 

Wang Won sudah menunggu didepan lorong, saat Chae Ryung keluar menanyakan hasilnya. Chae Ryung mengatakan kalau Hae Soo  akan membujuk Raja. Wang Won senang mendengarnya karena Chae Ryung harus tetap tinggal di Damiwon karena bisa jadi kesempatan mereka sekarang.
Tak bisakah aku tinggal bersamamu, Yang Mulia? Aku tidak tahu kapan aku bisa keluar dari Istana lagi.” Ucap Chae Ryun memohon
Chae Ryung, masih banyak yang bisa kau lakukan untuk membantuku di sini. Saat waktunya telah tiba, maka aku akan mengeluarkanmu dari sini.” kata Wang Won menyakinkan. 

Wang So sebagai Raja Goryeo ke-4, Gwangjong duduk di atas singasana bertanya  Apa mengajukan otonomi  Artinya Chungju bukan lagi bagian dari Goryeo. Wang Jung merasa kalau mencurigai cara Wang Soo bisa naik tahta jadi mana mungkin mereka bisa melayani sebagai raja.
Loyalitas hanya bisa didapat dari kepercayaan.” Tegas Wang Jung
Aku juga dibesarkan sebagai cucunya Tuan Yu Geung Dal. Meski begitu, apa seluruh keluarga itu berniat menentang aku, saat aku jadi raja?” tanya Wang So menyindir
Kau harus mempertimbangkan  pendapat keluarga lain ketika raja bahkan tidak dapat dukungan dari keluarganya sendiri.” Balas Wang Jung membela diri
Apa kau sekarang ini mau... memutuskan tali hubungan kita, Wang Jung?” ucap Wang So
Jika memang keinginan mendiang raja  di saat terakhirnya sudah lebih jelas maka kita  akan segera tahu.” Tegas Wang Jung lalu pamit pergi. 


Ji Mong merasa  mereka harus berbuat sesuatu pada pada keluarga Chungju Yu atau situasinya berada dalam bahaya dan juga harus menunjukkan pada mereka apa pesan terakhir mendiang raja atau bersekutu dengan keluarga yang sama kuatnya dengan mereka.
Ternyata sampai akhir pun..., aku ini bukan anaknya.” Ucap Wang So tak menyangka keadaanya seperti ini. 

Hae Soo dan Woo Hee sedang membuat makanan dalam bentuk hiasan, Hae Soo melihat Woo Hee yang melamun sampai akhirnya menyadarkan. Woo Hee tersadar lalu berkomentar kalau merasa yakin Raja akan menyukai ini. Hae Soo bertanya apakah hadiah yang diberikan ini terlalu sederhana dibandingkan ia dapat kamar baru darinya.
“Hae Soo..., jika aku berbuat salah  pada orang lain demi kebahagiaanku..., maka aku akan dapat  balasan dari perbuatanku, 'kan? Pasti perbuatanku takkan bisa dimaafkan.” Kata Woo Hee.
“Yah.. benar... Kau tidak seharusnya menyakiti seseorang demi menyelamatkan hidupmu sendiri. Tapi... Kupikir kita berdua juga tak perlu memikirkan hal yang membuat kita sedih. Banyak hal yang sudah kita alami. Bekas luka di pergelangan tangan kita. Kita hanya ingin secercah kebahagiaan... yang bahkan nyaris tak menyamarkan luka kita ini. Sepertinya kita bisa dimaafkan... meskipun jika kelakuan kita sedikit egois. Aku akan percaya hal itu.” kata Hae Soo 

Hae Soo berjalan di lorong lalu melihat Wang Wook seperti sudah menunggunya, akhirnya Hae Soo menyuruh pelayan agar membawa semua barang-barangnya dalam kamar. Wang Soo berkomentar kalau Hae Soo akhirnya memilih Wang So.
Kau bilang aku serakah karena menginginkan takhta dan cinta. Tapi sekarang kau adalah kekasih Raja. Mana bisa aku terima kenyataan itu?” “ucap Wang Wook dingin
Setidaknya dia jujur ​​padaku Dia bilang dia tidak ingin kehilangan tahta maupun aku. Dia mengakui itu semuanya untukku, bahkan keserakahannya. Aku tidak punya pilihan selain mencoba memahaminya.” Tegas Hae Soo

Aku selalu penasaran. Kenapa kau selalu bersikeras aku tidak bisa menjadi raja? Di matamu... apa aku tidak cukup untuk menjadi raja?”kata Wang Wook, Hae Soo menegaskan bukan itu maksudnya. Wang Wook bertanya apa alasanya.
Mereka bilang bintang raja selalu bersinar di samping Pangeran Wang So. Raja Taejo tahu tentang itu juga. Ini bukan salahmu. Hukum alam dan takdirlah yang berkata begitu.” Jelas Hae Soo
Wang Wook tak percaya  dengan Bintang raja yang menurutnya bintang yang tak seberapa itu, bahkan Hukum alam dan takdir. Hae Soo hanya terdiam. 

Wang Wook duduk dalam ruang bacanya, lalu menatap gelang pemberian pada Hae Soo, sebelumnya ia memasangkan gelang agar menutupi luka Hae Soo dan memintanya agar berjanji tidak akan melepasnya lalu memberikan kecupan di keningnya.
Sebelumnya mereka pun pernah berjalan di atas tumpukan salju dan Hae Soo sengaja menginjak jejak kakinya dan akhirnya hampir terjatuh karena sengaja membuat langkahnya yang lebar. Wang Wook membantu dengan memegang tangan Hae Soo agar tak terjatuh
Wang Wook teringat dengan kata-kata Hae Soo Ini bukan salahmu.  Hukum alam dan takdirlah yang berkata begitu.” Lalu akhirnya dengan wajah marah menghancurkan gelang yang diberikan pada Hae Soo dengan palu. 

Yeon Hwa datang menemui kakaknya, Wang Wook berkata kalau Yeon Hae akan menjadi ratu. Yeon Hwa kaget bertanya apakah kakaknya memang benar ingin membantunya.  Wang Wook mengatakan Tidak ada orang yang bisa memiliki segalanya dan itu lebih adil. Yeon Hwa seperti masih tak percaya dengan keputusan kakaknya. 

Wang So menulis  [AKu menunggu di tepi danau, namun, awan mulai mendung] dan Hae Soo mengambil lembaran yang sudah ditulis oleh kekasihnya. Wang So mengeluh kenapa Hae Soo  menyuruhnya menulis sebanyak ini. Hae Soo mengaku sengaja karena  punya maksud tertentu.
Kau bilang  akan memberikanku sesuatu karena mempersiapkan kamarmu. Tapi yang kauberikan padaku cuma nasi herbal.” Keluh Wang So
Buktinya kau makan itu semua tanpa meninggalkan satu butir. Padahal aku juga ingin memberikannya pada Baek Ah dan Ahli Perbintangan Choi Ji Mong.” Ejek Hae Soo
Kau tak boleh memikirkan orang lain selain diriku. Kau milikku.” Tegas Wang So tersenyum
Hae Soo melihat wajah Wang So yang tak seperti biasanya bertanya apakah ada yang terjadi sesuatu pada hari ini. Wang So mengatakan tak ada dan balik bertanya kenapa Hae Soo berpikir seperti itu.  Hae Soo melihat Wang Soo banyak tersenyum hari ini dan hanya khawatir.

Jangan coba-coba sok tahu tentangku. Jika kau terus melakukannya saat kita saja belum menikah, maka aku akan melarikan diri darimu.” Ejek Wang So
Itu karena aku menghabiskan sepanjang hari menunggu untuk kau, Yang Mulia. Apa boleh aku tak bekerja siang hari di Damiwon? Meskipun aku memang tidak melayani orang sendirian, ada banyak hal lain juga yang harus kukerjakan.” Ucap Hae Soo
“ Dan Juga, Soal Chae Ryung... Katanya dia akan dibebastugaskan sebagai dayang dari Damiwon. Tak bisakah kau mengizinkan dia tetap tinggal di Damiwon? Dia tak tahu harus pergi kemana kalau dia meninggalkan Istana.” Kata Hae Soo memberanikan diri meminta pada Raja.
Wang So mengingat nama Chae Ryung dan mengatakan tak tahu akan hal itu, Hae So mengaku butuh Chae Ryung supaya tidak kesepian dan merengek memohonnya. Akhirnya Wang So pun menyetujui permintaan kekasihnya Tapi menurutnya Hae Soo tak akan kesepian lagi nantinya.
Kita harus punya anak dan membesarkan mereka.” Kata Wang So, Hae Soo binggung Wang So tiba-tiba membahas tentang anak.

Besok Tabib Kerajaan akan menemuimu. Kau harus menjaga kondisi tubuhmu supaya bisa punya anak.” Jelas Wang So
Kita bahkan belum menikah. Tapi kau sudah menyuruhku merawat kesehatanku dan bicara tentang anak.” Ucap Hae Soo gugup
“Kau bilang Pernikahan? Kita bisa menikah. Jadi Kapan kita harus menikah? Terserah kau maunya kapan waktunya” kata Wang So.
Hae Soo langsung menolak tak mau menikah, Wang So kaget Hae Soo tak mau menikah. Hae Soo pikir Wang So harus melamarnya dulu karena sebelumnya pernah bilang akan mengatakanya di menara pengharapan. Wang So terdiam, Hae Soo merasa Wang So berpikir dirinya itu bodoh karena  tak mengetahui kalau akan melamarnya ditempat itu.
Wang Soo tak tahu kapan waktunya mereka  bisa pergi ke sana karena tak bisa meninggalkan Istana dengan mudah mulai sekarang. Hae Soo mengerti dengan wajah sedikit kecewa. Wang Soo berpikir haruskan ia merencanakan lamaran yang bagus agar menyenangkan hatimu jika mau menikah dengan Hae Soo, lalu berkomentar Ternyata berurusan dengan Hae Soo jauh lebih sulit daripada berurusan dengan politik

Tabib Kerajaan memeriksa denyut nada Hae Soo terlihat seperti merasa gelisah. Hae Soo meminta apapun itu hasilnya tabib bisa jujur denganya dan aka menyampaikan sendiri pada raja.  Tabin melihat kalau lutut Hae Soo sekarang sangat lemah.
Saat kau dipenjara dan disiksa, ternyata lututmu tidak diobati dengan benar Dan menyebakan penyakit kronis. Kau mungkin tidak sanggup berjalan suatu hari nanti.” Ucap Tabib, Hae Soo tahu.
Aku akan berhati-hati mulai sekarang.” Kata Hae Soo, Tabib mengatakan kalau ada yang lebih parah lagi dari keadaanya sekarang.
Jantungmu. Saat kau kerja berlebihan atau terkejut, apa dadamu terasa sesak? Apa kau pernah kehabisan napas hingga kau pingsan?” kata Tabib, Hae Soo mengaku memang pernah seperti itu.
Kau memendam frustrasimu. Penyakit jantungmu membuat tubuhmu lemah. Kondisimu ini, aku tidak bisa menjamin sampai berapa lama kau akan bertahan hidup.” Jelas tabib
Hae Soo sempat kaget bertanya apakah tabib  tak bisa menjamin akan hal itu dan umurnya tak panjang. Tabib hanya diam saja, akhirnya Hae Soo pikir ia akan baik-baik saja agar membuat tabib merasa tak terbebani. 

Hae Soo berdoa dengan menumpu dua batu dibawah pohon Tolong beritahu aku berapa lama lagi waktu yang kupunya? Aku akan merawat kesehatanku mulai sekarang Aku baru berusia dua puluhan. 10 tahun lagi bagiku, itu tidak adil. Aku ingin hidup lebih lama. Bersamanya... Aku ingin menghabiskan waktu bersamanya sedikit lebih lama.
Wang Jung tiba-tiba datang bertanya apa yang sedang di doakan Hae Soo, apakah ia mendoakan So agar dia lama memimpin kerajaan ini. Hae Soo mengatakan kalau ia sedang berdoa  agar Pangeran ke-14 yang jantan dan baik hati menjadi temanku lagi.
Katamu, kau tidak akan memihak siapa pun. Tapi, kau berpihak pada saudara keempatku. Aku merasa dikhianati.”ucap Wang Jung kesal
Kau salah jika marah terhadapnya. Apa kau sudah lupa perbuatan mendiang raja... yang membunuh kakak tertuamu dan Pangeran ke-10? Wajar saja kalau Wang So menjadi raja.” Ucap Hae Soo menyadarkan
Ya, kau mungkin benar. Tapi, aku masih percaya bahwa semua kesialan ini bermula saat So Hyungnim datang ke Songak. Perebutan takhta memang selalu ada di Songak. Tapi setelah So Hyungnim ikut terlibat, semuanya jadi lebih rumit dan brutal. Memang benar dia itu mencuri tahta. Aku khawatir semua orang akan berada dalam bahaya. Apa kau pikir kalau kau bisa menjadi ratu?” ucap Wang Jung
Hae Soo binggung dirinya akan menjadi ratu, tapi tak tahu akan hal itu.  karena tak pernah memikirkan hal itu. Wang Jung memberitahu kalau Seorang ratu harus memanfaatkan koneksi keluarganya dan keluarga lain untuk mendukung raja jadi Karena itulah Raja Taejo punya banyak istri dan dengan begitu Hae So hanya akan menjadi salah satu dari selir raja lalu bertanya apakah Hae Soo ingin hidup seperti itu.
Lalu bagaimana dengan impianmu yang naik unta di gurun dan berlayar di lautan? Bukannya itu impianmu? Beritahu aku jika kau muak hidup di Istana. Jika kau memang ingin pergi maka aku punya jalan keluar.” Tegas Wang Jung
Aku akan mengingat perkataanmu ini.” ucap Hae Soo sempat terdiam 

Wang So sudah ada didalam ruangan, lalu kasim memberitahu  Pangeran ke-8 ingin menemuinya. Wang So pun mengucapkan selamat datang pada Wang Wook, Wang Wook mengatakan kalau datang mewakili kaum pemuka. Wang So binggung kenapa Wang Wook mewakili mereka.
Pertama... Panglima Tinggi yang memimpin 300.000 prajurit harus ditunjuk berdasarkan pemilihan suara. Kedua... Tentu saja, pajak atas lahan pertanian harus ditangani oleh mereka juga. Adapun hutang pajak kepada keluarga kerajaa jika kau setuju membiarkan mereka menangani apa yang tersisa dari uang pajak itu maka kau tidak akan lagi menempati ruangan ini sendirian. “ ucap Wang Wook
Jadi, aku harus menyerahkan pasukan militer dan uangku... Kau ingin memotong kedua sayap raja. Jika kau pikir ancamanmu ini akan berhasil... maka kau keliru.” Tegas Wang So
Jika kau ingin mempertahankan sayapmu... maukah kau menyerahkan hatimu? Keluarga Hwangbo dari Hwangju ingin mengajukan pernikahan denganmu, Yang Mulia.” Ucap Wang Wook to the point semua yang ada diruangan terlihat kaget. 

Yeon Hwa melihat kamar yang ditempati Hae Soo dengan sinis berkomentar kalau itu kamar yang cukup indah dan sudah mendekorasinya dengan bagus. Hae Soo meminta Yeon Hwa mengatakan yang ingin dibicarakan saja. Karena akan menoleransinya untuk hari ini saja.
Aku datang bukan untuk cari masalah denganmu. Aku datang untuk memperjelas apa yang kita berdua inginkan.” Kata Yeon Hwa
Aku tidak menyadari bahwa kau merasa kita saling berutang. Aku tidak ingin apapun darimu, Tuan Putri.” Tegas Hae Soo

Kau bisa terus tinggal di sini jika itu maumu. Maksudku aku akan menerimamu sebagai kekasih Raja. Tapi kau tidak akan pernah menjadi selir kerajaan. Aku takkan ikut campur siapa yang melayani Raja siang dan malam.” Ucap Yeon Hwa. Hae Soo tidak paham maksud perkataannya.
Apa yang kuinginkan adalah kehormatan dan pengakuan. Dan Juga, aku ingin putraku kelak menjadi raja. Aku akan menikah dengan Raja. Aku akan menjadi istri raja dan akan menjadi ratu.” Ucap Yeon Hwa, Hae Soo kaget mendengarnya. 


Wang Wook memberikan penawaran kalau Wang Soo menikah dengan Yeon Hwa  maka semua kaum keluarga akan berpihak pada raja, dengan meyakinkan kalau  Dukungan Keluarga Hwangbo akan menjadi kekuatannya. Wang So memperingatkan adiknya agar jangan mencoba untuk mempengaruhinya.
Aku boleh saja duduk di atas takhta. Tapi masih ada watak anjing serigala dalam diriku.” Ucap Wang So dengan mata serigalanya.
Kau sedang duduk di atas kursi yang sulit didapatkan apalagi dipertahankan. Dari tempatmu duduk itu sekarang, kau bisa melihat dengan jelas bahwa keluarga penguasa bagaikan pedang bermata dua. Jika kau ingin mempertahankan kursi itu maka kau butuh mereka ada di pihakmu.” Jelas Wang Wook
Aku sudah berjanji akan menikahi orang lain.” Ucap Wang So

Wang Wook bertanya apakah maksudnya itu Hae Soo, lalu memberitahu kalau Hae Soo   tidak bisa menjadi seorang ratu. Wang So menegaskan kalau memang ingin menikahnya maka akan tetap akan menikahinya. Wang Wook mengejek kakaknya itu sudah lupa kalau  Hae Soo, pernah berusaha menolak menikah dengan mendiang Raja Taejo dan melukai tangannya sendiri.
Seorang wanita yang memiliki bekas luka tidak bisa menikah dengan raja.” Tegas Wang Wook, Wang So hanya terdiam karena rencananya bisa gagal hanya dengan sedikit luka ditangan Hae Soo. 
bersambung ke episode 18 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar