Selasa, 06 September 2016

Sinopsis Scarlet Heart Ryeo Episode 4 Part 2

PS : All images credit and content copyright : SBS

Hae Soo berbaring dikamar sambil menangis terdengar suara Wang Wook dari depan pintu memanggilnya. Hae Soo menghapus air mata dan berpura-pura tidur. Wang Wook mengatakan kalau memang Hae Soo belum tidur maka ia datang membawakan obat. Hae Soo melihat bayangan Wang Wook berdiri didepan pintu meminta agar Jangan lupa mengoleskannya
“Dan Juga...  kuharap kau bisa melupakan  apa yang terjadi tadi.” Kata Wang Wook lalu berjalan pergi meninggalkan kamar.
Hae Soo berkaca-kaca mendengarnya lalu bergegas turun dari tempat tidur dan berlari keluar dari kamar, tapi saat dijembatan sudah melihat sosok Wang Wook. Dengan wajah sedih kembali ke kamar, betapa kagetnya ia melihat Wang Wook berdiri di sisi kamar lainya. Wang Wook menatap Hae Soo yang keluar kamar setelah ia pergi lalu mendekat memberikan obatnya.

Maafkan aku. Aku malu melihatmu jadi Aku pura-pura tidur.” Kata Hae Soo tertunduk.
Aku tahu.... Kau masih sakit, 'kan?” kata Wang Wook
“ Ini Bukan karena aku dicambuk. Aku lebih kesal karena aku diperlakukan seperti itu. Tempat ini... ...apa selalu seperti ini? Apa ini tempat yang tidak menghormatimu kecuali kau anak orang berada? Disini orang bisa diikat  seperti binatang lalu memukul mereka. Goryeo... ...apa seperti ini hidup disini?” ucap Hae Soo sambil menangis. Wang Wook memegang pundak Hae Soo yang menangis agar menenangkanya..
Maaf aku tidak bisa menghentikannya.... Namun, aku janji. Takkan ada orang lagi yang bisa memperlakukanmu seperti itu. Percayalah padaku.” Kata Wang Wook
Aku seperti ini lagi.... Pikirkanlah Nyonya Hae.  Jika kau membiarkan dia mendekatimu, maka kau menyakiti perasaan Nyonya Hae. Gumam Hae Soo merasakan berdebar lalu buru-buru melepaskan tanga Wang Wook dan kembali ke kamarnya. Wang Wook terdiam melihat sikap Hae Soo seperti menghindarinya. 


Hae Soo sedang mondar mandir di tepi sungai sambil menunduk, saat membalikan badan langsung bertabrakan dengan Wang So yang sudah berdiri didepanya. Akhirnya Hae Soo berpura-pura merasakan kesakitan,  Wang So berkomentar Hae Soo yang menabraknya. Hae Soo pun akhirnya menegakan  kepala dengan melirik sinis. 
“Kau bilang kemarin "Dia milikku"? Kenapa kau bilang begitu dan membuat semua orang jadi salah paham?” kata Hae Soo marah
“Apa Kau tidak tahu caranya berterima kasih? Aku yang menyelamatkanmu. Sebelum kau bicara soal itu, maka kau harusnya berterima kasih padaku.” Ucap Wang So
Kau selalu bertingkah seolah-olah ingin membunuhku. Aku ingin tahu kenapa kau jadi berubah.... tapi aku ucapkan Terima kasih.” Kata Hae Soo
Kenapa kau bisa  memiliki aksesoris rambut itu? Darimana kau mendapatkannya?” tanya Wang So
Kau menjatuhkannya di pemandian istana. Ini semua karena aku merahasiakan mengenai saat aku melihat wajahmu... Jadi, aku tidak akan berkata kalau aku melihat wajahmu. Aku menepati janjiku.” Ucap Hae Soo
Wang So bertanya apakah Hae So tak takut padanya karena selalu menjawab pertanyaan, Hae Soo melihat Wang So sepertinya bukan orang yang gampang dipengaruhi jadi tidak takut lagi lalu menegaskan  jangan pernah bilang lagi kalau " dia Milikmu". Wang So bertanya kenapa ia tak boleh melakuanya.
Aku ini manusia, bukan barang atau binatang. Mana bisa kau bilang aku ini milikmu atau orang lain?” kata Hae Soo
“Lalu.... Haruskah aku memanggilmu " kau wanitaku"?” kata Wang Soo sengaja mendekatkan wajahnya pada Hae Soo  
Itu juga tidak boleh dan Janganlah kita seperti ini lagi dan Jangan khawatirkan aku.” Ucap Hae Soo lalu buru-buru pamit. Wang So bisa tersenyum melihat tingkah Hae Soo. 


Wang Jung kembali berkelahi dipasar dengan bangga, memperlihatkan tak ada orang yang bisa mengalahkan ilmu bela dirinya. Saat itu tiba-tiba ada beberapa orang mengusir orang-orang yang berkerumun, salah satu pria terlihat sebagai pemimpin kelompok. Si pria dengan satu tanganya melihat Wang Jung si Pangeran ke-14. Wang Jung panik karena ada yang mengenali sosoknya.
Hae Soo baru saja keluar dari toko obat bersama dengan Chae Ryung, lalu Chae Ryung melihat pangeran ke 14 dibawa secara paksa oleh beberapa.  Hae Soo ikut melihatnya kalau memang itu Wang Jung. Chae Ryung ingin berteriak melawanya, tapi Hae Soo menutup mulut pelayannya dan menyuruh Chae Ryung harus panggil bantuan. Chae Ryung binggung bertanya apa yang akan Hae Soo lakukan. Hae Soo mengatakan mereka berdua tidak cukup menghentikan pria itu jadi harus mengikutinya dan Chae Ryung pergi mencari bantuan.


Wang So sedang lewat dengan kudanya melihat Hae Soo berlari dengan cepat, seperti tak peduli. Hae Soo sampai dihutan bambu melihat Wang Jung sudah di pegang tanganya dengan tiga pria dan dipaksa untuk berlutut. Seorang pria dengan hanya memiliki satu tangan mendekati Wang Jung.
Kau tidak tahu kalian ini berurusan dengan siapa sekarang. Apa Kalian tidak peduli dengan nyawa kalian?” teriak Wang Jung berusaha lepaskan tanganya.
Pangeran Jung, kaulah yang membuat tanganku seperti ini. Kau sudah kelewatan.” Ucap si pria menunjuk tanganya.
Aku belum pernah melakukan hal seperti itu.” Teriak Wang Jung
“ Memang Betul.... Kau hanya kalah padaku dan Ibumu-lah yang berbuat ini padaku.” Kata si pria memperlihatkan tangan kananya yang tak ada.

Hae Soo panik melihat kanan dan kiri karena bantuan juga belum datang.  Wang Jung mengatakan kalau tidak tahu apa-apa soal itu. Si pria pikir karena itu lah Wang Jung harus mengetahuinya. Seorang pria sudah membawakan kampak, Hae Soo makin panik, si Pria dengan sengaja memperlihatkan kapak yang akan membuat tangan Wang Jung hilang seperti miliknya.
Wang Jung berteriak dan berusaha untuk melepaskan diri dan meminta tolong apabila ada orang yang mendengarnya. Hae Soo binggung mencari pertolongan, si pria sudah mengambil ancang-ancang ingin membuat tangan Wang Jung putus. Tiba-tiba terdengar teriakan Hae Soo dengan membawa kayu yang panjang dan memukulnya agar mereka mundur. Semua mundur dan Wang Jung mendapatkan kesempatan bisa melepaskan tanganya.
Aku akan mengeluarkan usus kalian dan akan kubuat kalian jadi sup.” Teriak Hae Soo mengancam, Wang Jung melonggo melihat Hae Soo berani melawan pria hanya mengunakan kayu.
“Heii... Lihat apa kalian? Kalau kalian mendekat, kalian akan mati! Kalian mati jika kalian mendekat! Jangan lihat aku! Jauh-jauhlah dari kami, dasar bajingan! ” teriak Hae Soo memutar-mutarkan kayu yang dipegangnya. 

Ratu Hwang Bo minum teh dengan anaknya, mengetahui Menantnya semakin hari melihatnya maka kondisinya semakin parah sakitnya. Yeon Hwa memberitahu Nyonya Hae telah menyarankan untuk bercerai dengan Wang Wook menurutnya mereka harusnya bersyukur. Wang Wook melirik adiknya yang selalu bicara sinis, Ratu Hwang Bo terlihat kaget dan menanyaka kebenaranan pada Wang Wook.
Aku takkan pernah berpaling dari istriku. Aku ingin Ibu pura-pura tak mendengar hal itu.” Ucap Wang Wook
Kakak... kau perlu mempertimbangkan soal menikah lagi demi masa depanmu.” Ucap Yeon Hwa, Wang Wook langsung membanting gelasnya dimeja.
Apa kau menyarankanku menikah untuk alasan politik..., ...seperti saudara ketiga kita? Aku akan kehilangan dukungan Raja.” Tegas Wang Wook
Ada banyak cara untuk  menghindari kecurigaan.” Ucap Yeon Hwa licik

Ratu Hwang Bo berteriak memanggil Yeon Hwa,  mengingatkan Karena keluarga Hae-lah  maka bisa memijakkan kaki di Songak lagi jadi menurutnya mereka tidak boleh lupa membalas kebaikan itu dan memberitahu Nyonya Hae itu sakit. Yeon Hwa tak setuju dengan ucapan ibunya.
Terdengar teriakan Chae Ryung memanggil Pangeran Wook, Yeon Hwa ingin marah dan Ratu Hwangbo sinis melihat Chae Ryung masuk ke dalam ruangan. Chae Ryung memberikan hormat lalu memberitahu kalau terjadi sesuatu pada Hae Soo jadi harus pergi sekarang. Wang Wook langsung berdiri dan wajahnya terlihat kaget.


Hae Soo dan Wang Jung beradu punggung melawan para pria didepan mereka. Kayu yang dipegang Hae Soo bisa jatuh begitu saja ketika dipukul oleh pria didepanya, mereka pun dikepung. Hae Soo dalam keadaan terdesak masih menanyakan Wang Jung apakah baik-baik saja. Wang Jung meminta maaf pada Hae Soo karena harus terlibat seperti ini. Hae Soo panik merasa kalau untuk saat ini mereka lebih baik kabur saja.
Wang Jung kaget Hae Soo memilih untuk kabur, mengatakan kalau mereka tak bisa melakukan itu.  Hae Soo menahan Wang Jung sebelum melawanya, saat itu Wang Jung langsung melindungi Hae Soo dari pukulan kayu. Beberapa kali Wang Jung kena pukul dan tangan Hae Soo sempat akan di pegang oleh dua pria lainya tapi bisa melawanya. Lalu Wang Jung memeluk Hae Soo untuk melindunginya agar tak kena pukulan kayu, saat itu juga punggungnya kena pukulan.
Jangan khawatir.  Aku janji akan menyelamatkanmu.” Kata Wang Jung,  Hae Soo binggung sebenarnya sekarang siapa yang menyelamatkan siapa. 

Terdengar teriakan “Berhenti!” Wang Wook datang dengan menunggangi kudanya, Hae Soo tersenyum begitu juga Wang Jung karena kakaknya datang menyelamatkanya. Wang Jung bisa menghindari kapak dengan ilmu bela diri dan mendorong orang-orang yang berusaha menyerangnya. Hanya dengan tatapanya, seorang pria tak berani menghajarnya dengan kapak.
Wang Wook mendekati adik dan juga Hae Soo, menanyakan apakah terluka. Wang Jung mengatakan bisa menahanya dan bertanya pada Hae Soo, Hae Soo dengan senyuman mengangguk kepalanya kalau ia baik-baik saja. Si pemimpin berteriak menyuruh anak buahanya untuk menangkap mereka. Wang Wook mendorong keduanya ke sisi luar agar bisa melawan orang-orang tersebut.
Hae Soo dan Wang Jung hanya melihat Wang Wook membanting, menendang untuk melawan, dan sempat kena pukul juga tendang juga. Tapi  Wang Wook bisa berdiri kembali melawan semua pria yang membawa senjata tajam. Sampai akhirnya bisa melemparkan kapak ke pohon bambu dan membuat semua pria berjatuhan. Si pemimpin bingung melihat semua anak buahnya sudah berjatuhan.
“Kau Terlalu percaya diri adalah musuh terbesarmu. Apa kau tidak tahu pepatah itu?” sindir si pemimpin, Wang Wook melihat semua orang yang di lawanya kembali bangun dan datang pria lain mengepungnya.

Hae Soo memeluk erat Wang Jung karena ketakutan, Terdengar suara seseorang membenarkan ucapan si pria. Wang So datang dengan kudanya ke dalam hutan, semua berbisik melihat “Anjing Serigala” datang. Hae Soo melihat Wang So akhirnya mau menyelamatkan mereka. Semua pria berbisik haruskan mereka lari sekarang.
“ Apa Kalian tidak lari meski sudah melihatku? Apa kalian semua berani? Atau... ...apa kalian semua ingin mati?” ucap Wang So mengeluarka pedang diatas kudanya.
Semua langsung terbirit-birit lari meninggalkan hutan, si pemimpin yang tadinnya ingin melawan dengan wajah cemberut meninggalkan hutan menjatuhkan kapaknya. Wang So turun dari kudanya melihat Hae Soo sedikit tersenyum lalu bertanya pada adiknya apakah ada yang terluka, Wang Jung mengatakan tak ada yang luka.

Wang Wook mengatakan adiknya itu harus bersyukur karena Hae Soo datang lebi dulu. Wang Jung tersenyum pada Wang Wook membungkuk untuk mengucapkan terimakasih dan berjanji  takkan melupakan apa yang dilakukan Wang Wook padanya,
Kau sudah juga menyelamatkan tanganku,  jadi akan kuingat kebaikanmu. Hidupmu juga akan kuanggap seperti hidupku sendiri. Meski aku harus mati, maka aku akan menyelamatkan hidupmu.” Kata Wang Jung pada Hae Soo.
Aigoo, aigoo.... Oh, pangeran bungsu kita ini. Kau sudah sangat handal dan kuat dan akan menjadi pria yang hebat nanti.” Ucap Hae Soo memuji sambil memeluk dan menepuk pundaknya.

Wang Jung kaget mendapatkan pelukan dari wanita, Wang Jung dan juga Wang Soo tak percaya melihat Hae Soo yang memeluk adik mereka. Hae Soo sadar zamanya sekarang tak boleh asal memeluk pangeran dan langsung membungkuk meminta maaf. Wang Wook memalingkan wajahnya,
Hae Soo mengaku kalau Wang Jung mengingatkan pada adik bungsunya.  Wang Jung merasa tak masalah dan menganggap Hae Soo sebagai kakaknya.  Wang So mengerutkan dahi mendengarnya, Wang Jung mengatakan meminta Hae Soo untuk menjaga dan memperhatikan maka ia akan jadi pria seperti apa nanti. Hae Soo setuju lalu memberikan semangat dengan berkata “fighting!” Wang Jung binggung mendengarnya mencoba mengikutinya.Wang Soo heran melihat kedekatan adiknya dengan Hae Soo. 

Wang Wook berjalan dengan cepat saat menyeberangi sungai,  Hae Soo memanggilnya aga meminta menunggunya. Tapi Wang Wook seperti marah melihat kedekatan dengan Wang Jung tak peduli terus berjalan pergi.  Hae Soo meminta agar Wang Wook itu berjalan pelan-pelan, lalu bertanya apakah kakak iparnya itu marah. Wang Jung tetap berjalan, Hae Soo binggung kenapa siapa Wang Wook seperti itu.
Akhirnya Hae Soo sengaja berpura-pura merasakan sakit dibagian kakinya dan tidak bisa berjalan, bahkan sudah berlari menjauhi  orang-orang itu tadi jadi tidak sadar kalau kakinya terluka, Wang Wook berhenti melangkah. Hae Soo sengaja mengeraskan suaranya ingin melihat seberapa parah luka dikakinya mungkin saja tidak bisa berjalan lagi. Tiba-tiba  Wang Wook sudah ada didekatnya dan menariknya.
Kupikir aku tadi telah kehilanganmu.” Ucap Wang Wook, Hae Soo kaget melihat jarak wajah mereka sangat dekat.
Aku... pikir...  aku takkan bisa lagi melihatmu. Aku takut...” akui Wang Wook dengan mata berkaca-kaca. Hae Soo ingin melepaskan tangan Wang Wook tapi Wang Wook tetap memegang erat bahu Hae Woo lalu wajahnya mendekat ingin mencium Hae Soo.
Terdengar teriakan Chae Ryung dan pengawal memanggil Hae Soo dan juga Pangeran Wook. Saat itu juga Hae Soo bisa memalingkan wajahnya dan Wang Wook melepaskanya tanganya. Akhirnya Chae Ryung melihat Hae Soo dan Wang Wook ada di atas jembatan sungai, berlari mendekati Hae Soo  menanyakan keadaannya serta Pangeran ke-14. Hae Soo mengatakan kalau dia baik-baik saja.
Nyonya Hae datang dengan beberapa pelayan dan pengawal memanggi adik sepupunya. Hae Soo meminta maaf karena sudah membuatnya khawatir. Nyonya Hae melirik suaminya, seperti mengetahui sesuatu, Wang Wook hanya diam saja terlihat menahan amarahnya.
Kami sudah mengutus orang mencarimu. Karena kami pikir Kau dan pangeran menghilang, jadi kami khawatir.” Ucap Nyonya Hae
Ibu sangat khawatir jadi Pergilah ke istana besok...” kata Yeon Hwa ternyata ikut juga, Wang Wook tak mengubrisnya memilik untuk pergi dengan hati yang kalut. Hae Soo khawatir melihat Wang Wook yang pergi. 


Punggung Wang Jung terlihat banyak sekali luka lebam bekas pukulan, lalu berusaha menahanya dengan memakain bajunya kembali. Wang Soo bertanya apakah adiknya itu bahkan menyamarkan diri dan pergi keluar, sengaja datang ke ruangan ini kalau sampai nanti ibu mereka tahu. Wang Jung sinis  mengucapkan Terima kasih atas perhatian dari kakaknya.
Kau pasti sudah biasa keluar seperti itu jika kau kenal orang-orang itu.” Komentar Wang So
Aku tadi hanya kena sial saja.” Kata Wang Jung,
“Kau bilang tadi kena sial? Karena kau, seorang pria kehilangan tangannya dan keluarganya hancur. Jadi kau bilang itu hanya Sial? Bagaimana kau bisa mengatasi hal itu?” kata Wang So menatap adiknya.
Kubilang aku tidak tahu! Aku tidak melakukannya.” Teriak Wang Jung melawan kakaknya.
Jika kau tidak tahu, apa kau tidak memegang tanggung jawab? Kau itu pangeran. Apa Kau tidak tahu semakin tinggi posisimu semakin tinggi tanggung jawab yang harus kau emban?” kata Wang So mendekati adiknya.
Lucu sekali ini...  Sejak kapan posisimu itu tinggi? Ah... Apa kau seperti ini karena Ibu memperlakukanmu dengan kejam Atau kau merendahkan adikmu ini karena aku tukang pamer? Ternyata. Apa yang dikatakan  Yo Hyungnim benar. Sungguh memalukan aku telah lahir dari rahim yang sama denganmu.” Ucap Wang Jung penuh amarah.
Wang So langsung menamparnya, saat itu Ratu Yo datang melihat anak kesayangan di tampar langsung mendorong Wang So berteriak mara menyuruhnya untuk minggir. Wang Jung kaget melihat kakaknya yang harus menyeruduk vas bunga, Ratu Yoo memperingatkan Pangeran ke empat agar tak mendekati anak bungsunya.
“Wang Jung, kau akan berada dalam bahaya.” Kata Ratu Yoo
Ibu, tadi Hyungnim menyelamatkanku. Aku akan kehilangan tanganku jika bukan karena dia.” Kata Wang Jung membela kakaknya dengan wajah kebinggungan.
Jangan tertipu olehnya. Dia membawa kesialan terhadap orang di sekelilingnya. Aku pernah mengalaminya jadi Kau tidak boleh menderita juga. Jangan mendekatinya.” Ucap Ratu Yoo, Wang So sudah bisa berdiri dengan tegak menatap ibunya.
Ibu, tetap saja Hyungnim yang menyelamatkanku.” Ucap Wang Jung masih membela
Aku ingin kau mengatakannya... Katakan kau takkan muncul di hadapan Jung. Cepat!” teriak Ratu Yoo
Jika itu yang kau inginkan, maka itu yang akan kulakukan.”  Ucap Wang So keluar dari kamar sambil berteriak menyindir pada adiknya “Sampai kapan kau akan hidup dilindungi olehnya?
Ratu Yoo melihat keadaan anak bungsunya dengan wajah panik bertanya darimana luka itu,Wang Jung terdiam karena merasa bersalah padahal kakaknya sudah menyelamatkanya tapi ibunya malah meminta tak boleh mendekatinya. Ratu Yoo mengaku hatinya sakit apabila melihat Wang Jung terluka dan meminta pelayan agar segera memanggil tabib. 

Wang Wook keluar dari rumah dengan menungangi kudanya, lalu sampai didekat hutan bersandar di batang pohon besar seperti memikirkan keadaaanya yang menaruh hati pada Hae Soo tapi tak bisa diungkapkanya. Hae Soo berbaring ditempat tidur seperti memikirkan kalau harus menahan perasaanya pada Wang Wook karena suami dari kakak sepupunya, lalu memegang leganganya seperti masih merasakan tangan Wang Wook yang memegangnya.
Wang So pergi ke tempat tumpukan batu, menaruh batu dengan membuat satu tumpukan batu. Teringat kembali saat ibunya mendorong menyuruhnya agar tak mendekati Wang Jung, karena nanti anak bungsunya pasti  berada dalam bahaya. Wang So menahan rasa sedihnya karena dianggap ibunya berbahaya dan membawa sial. 

Istana
Raja bertanya pada putra mahkota apakah  ingin Pangeran ke-4 tinggal di Songak dan Apa ini cara membalas kebaikannya karena adiknya sudah  menyelamatkannya. Wang Moo mengatakan ingin wang Soo ada disisi sebagai salah satu orang kepercayaanya.
Yang Mulia.... Aku melihat bintang Pangeran ke-4 menaik di atas langit Songak. Ini pasti alasannya. Bintang Pangeran ke-4 bergabung dengan Bintang Biduk Pangeran Mahkota...” ucap Ji Mong berusaha menghasut raja agar lebih yakin.
Ibumu berusaha membunuh Putra Mahkota dan Keinginan kakakmu adalah menjadi Putra Mahkota.” Kata Raja Wang, Ji Mong pun hanya bisa diam.
Aku tidak pernah  bergabung dengan mereka.” Ucap Wang So
Lalu, apa yang akan kau lakukan terhadap alasan kenapa kau diadopsi? Kau dikirim ke sana untuk menghibur Selir Kang yang kehilangan anaknya.” Kata Raja Wang
Tidak sehari pun... ...aku dianggap anak disana. Aku hanyalah seorang sandera. Bukankah Yang Mulia harusnya lebih tahu?” ucap Wang So, Ji Mong dan Wang Mo terlihat tegang.
Apa yang akan kau korbankan demi Putra Mahkota? Apa kau akan menjadi Chungju Yoo atau Shinju Kang?” tanya Raja
Aku akan hidup dan tunduk setia padamu, Yang Mulia dan pada Putra Mahkota. Aku takkan menjadi anak atau saudara, tetapi orang yang tunduk setia.” Ucap Wang So berlutu depan Raja tak mau lagi bergabung dengan ibunya dan juga saudaranya.
Ji Mong.... Bukankah kau tadi bilang bintang Pangeran ke-4 naik di atas langit Songak?” tanya Raja
Bintangmu dan bintang Putra Mahkota sangat selaras. Jika Pangeran ke-4 tetap tinggal di Songak, artinya ada tanda keberuntungan besar di Goryeo.” Jelas Ji Mong
Beritahukanlah berita ini pada Keluarga Kang di Shinju dan juga seluruh Songak. Mulai hari ini dan seterusnya, Pangeran ke-4, Wang So, akan tinggal di Songak.” Kata Raja, Wang Mo tersenyum mendengarnya.
Wang So bisa tersenyum mengucapkan terimakasih atas kebaikan raja dengan memberikan sujudnya.  Wang Mo juga menundukan kepala pada Raja mengucapkan terimakasih. Ji Mong terlihat senang bisa membuat Wang So kembali ke istana. 


Wang Wook terlihat tak nafsu makan hanya mengaduk-aduk mangkuk supnya lalu menaruh sendoknya, Nyonya Hae bertanya apakah suaminya sedang tidak nafsu makan. Wang Wook dengan dingin meminta istrinya tak perlu mengkhawatirkanya dan menyuruh Nyonya Hae itu harus makan. Nyonya Hae terdiam, Wang Wook melihat mata istrinya seperti bingung, lalu mengaku istrinya yang jarang makan jadi khawatir.
Hae Soo memberitahu dari depan pintu kalau datang, lalu kaget melihat Wang Wook ada didalam kamar juga. Keduanya saling menatap, Nyonya Hae menyuruh segera masuk karena sengaja memanggil untuk  makan bersama kami. Hae Soo menolak karena bisa makan di kamarnya saja.
Kau sudah seharian duduk di kamarmu dan tidak makan. Alangkah lebih baik jika kita makan bersama.” Kata Nyonya Hae lalu menyuruh adik sepupunya untuk duduk. Hae Soo menurut duduk diantara Wang Wook dan juga Nyonya Hae. 

Aku tahu kau ingin menyelamatkan Pangeran ke-14, tapi berbahaya pergi sendiri. Kau tidak tahu apa yang bisa saja terjadi jika pangeran kita tidak datang.” Kata Nyonya Hae, Hae Soo tertunduk mengerti
Terima kasih telah menyelamatkanku.” Ucap Hae Soo pada Wang Wook
Aku hanya melakukan tugasku.” Kata Wang Wook dingin mencoba untuk kembali makan. Hae Soo melirik Wang Wook yang hanya diam.
Kau bisa kena masalah kalau keluar eerus seperti itu. Kau tidak tertarik dalam urusan rumah tangga dan keluarga ini. Bagaimana kalau menjahit atau... merajut kapas?”saran Nyonya Hae
Hae Soo mengatakan mencoba mencari sendiri apa yang digemarinya, Wang Wook tiba-tiba berdiri akan keluar dari ruangan lebih dulu karena harus membaca buku. Hae Soo hanya tertunduk diam lalu melihat kepergiaan Wang Wook dengan wajah sedih. 


Hae Soo melihat Wang So ada di tumpukan batu lalu berlari panik berpikir si pengeran ke empat akan menghancurkannya lagi.  Wang Soo mengatakan tidak menghancurkannya tapi sedang membangunnya lagi. Hae Soo tak percaya karena Wang So tak melakukan sesuatu yang brutal seperti sebelumnya.
Apa harapanmu?” tanya Hae Soo mengikuti Wang So duduk di dekat pilar
“Apa Kau sekarang mau tahu harapan orang? Aku akan meninggalkan rumah ini sekarang dan akan tinggal di istana jadi takkan sering lagi  bertemu denganmu.” Kata Wang So
Oh, berarti aku tidak perlu lagi mengantar makanan untukmu... Baguslah.” Komentar Hae Soo acuh, Wang Soo pikir Hae Soo juga jarang melakukannya.
Semoga kau hidup  dengan damai di istana. Jangan mengancam membunuh  orang sepanjang waktu. Jangan memandang orang seperti yang kau lakukan saat mereka tidak mendengarmu. Jangan langsung  menghunus pedang begitu saja. Oh ya.... Jangan menghancurkan sesuatu yang sudah dibuat oleh orang dengan kerja keras.... emmm.. kira-kira apalagi yah?” ucap Hae Soo ingin meninggalkan pesanya. Wang So dengan sinis mengatakan sudah cukup.

Santaplah makananmu dengan benar, Tidurlah yang nyenyak juga. Kalau bisa, jangan sampai bermimpi buruk.” Ucap Hae Soo memberikan perhatianya pada Pangeran ke empat. Wang So menatap Hae Soo terdiam seperti baru merasakan pertama kalinya ada yang memberikan perhatian.
Hae Soo melirik bingung kenapa Wang So menatapnya seperti itu,  Wang So terlihat gugup lalu sedikit tersenyum karena baru mengingat kalau Hae  Soo itu tak takut padanya dan binggung Kenapa Hae Soo bisa tidak takut padanya.  Hae Soo mengaku paling takut pada dirinya sendiri bukan pada Wang Soo, dengan memanggilnya sopan “ Yang Mulia.
Meskipun hal itu perasaanku, aku tidak tahu kemana arah perasaanku. Meskipun aku sudah mencoba  mengubah arah... tetap saja tidak berhasil..” ucap Hae Soo, Wang Soo menatap dalam pada wanita yang berdiri disampingnya.
Mereka takkan khawatir tentang hal-hal seperti ini. Tapi karena aku ada di Goryeo, banyak bintang di sini.” kata Hae Soo menatap lagi dizaman Goryeo
Apa maksudmu ada banyak bintang di Goryeo? Apa kau tidak percaya bahwa hanya bisa melihat bintang di Goryeo? Ji Mong bakalan pingsan kalau dia tahu.” Komentar Wang So
Hae Soo melihat tiba-tiba turun salju didepanya, Wang So melihatnya dan bisa tersenyum. Hae Soo pun bahagia melihat salju turun, Wang So kembali menatap Hae Soo yang mengangumi salju dengan membiarkan tanganya menyentu salju. Hae Soo sempat melirik pada Wang So dan keduanya terlihat gugup buru-buru memalingkan wajahnya.
Wang Wook melihat dari jendela kalau salju turun di Goryeo, lalu menatap lurus kedepan seperti sudah memutuskan tujuanya. Wang Wook dan Hae Soo masih menikmati turunnya salju di rumah kediaman Pangeran ke delapan, diam-diam Wang Wook terus menatap Hae Soo yang membiarkan tanganya menyentuh salju yang berjatuhan. 
bersambung ke episode 5


FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar