Jumat, 09 September 2016

Sinopsis Jealousy Incarnate Episode 5 Part 2

Dokter Geum berubah dengan bersikap ramah memanggil “nenek” dibalik tirai lalu mengetukan sepatunnya dilantai. Hwa Shin sempat binggung tapi setelah itu menjawab dengan suara pelan.  Dokter Geum mengatakan akan masuk sekarang dan buru-buru masuk dan menutup kembali agar tak ada celah tirai yang terlihat.
Nenek... Kami sudah mendapatkan hasil pemeriksaan pasca operasinya. Kau ingin membicarakannya sekarang atau nanti saja?” ucap Dokter Geum, Hwa Shin memberikan kode agar sekarang juga.
Nenek, surga memang membantumu, orang-orang biasanya menganggap itu bagian dari otot. Mereka tidak akan menyadarinya sampai pada stadium tiga atau empat. Kau mencurigainya lebih awal dan akhirnya memeriksakan diri. Itu adalah langkah yang sangat besar.” Ucap Dokter Geum dengan suara lantang, Na Ri dan Jung Won sampai bisa mendengarnya.


Kau harus mengucapkan terima kasih sambil membungkuk pada orang yang menyarankanmu memeriksakan diri.” Ucap Dokter Geum, Hwa Shin terdiam karena yang menyarankan memeriksakanya adalah Na Ri.
Tidak ada yang berubah. Kau memilih ekstraksi sebagian,  jadi masih ada efek lanjutan. Kau harus memeriksakan diri secara rutin setiap hari selama enam minggu untuk terapi radiasi. Jadi Kau harus menerima terapi tersebut.” Kata Dokter Geum, Hwa Shin panik karena harus tiap hari selama 6 minggu.

Dokter Geum menyakinkan kalau ditempat ini adalah pelayananya yag terbaik, Hwa Shin terlihat sedih harus melakukannya. Dokter Geum meminta Hwa Shin berjanji akan melakukanya, Hwa Shin mau tak mau melingkarkan jari kelingking dan membuat cap jempol tanda berjanji.
Na Ri terus tersenyum menatap ke arah tirai, Jung Won melihatnya terlihat binggung. Hwa Shin menahan dokter sebelum keluar dengan kode tanganya meminta agar pindah ruangan private.
“Nenek, apa kau akan terus mengubah pikiranmu seperti ini? Sebelumnya kau mengatakan tidak memerlukannya. Bukankah kau sudah membatalkannya?” ucap Dokter Geum, Hwa Shin memohon, Na Ri tersenyum karena Hwa Shin sebelumnya menolak untuk pindah.
Nenek, tidak ada lagi... ruangan private yang tersedia.” Tegas Dokter Geum lalu keluar dari tirai bersama dengan perawat keluar dari ruangan. Jung Won yang berdiri tegak, tertabrak trolly saat perawat akan keluar dari ruangan. Dibalik tirai, Hwa Shin menahan amarahnya. 


Jung Won masih ada didalam ruanganya, Na Ri melambaikan tanganya bertanya apakah Jung Won tidak akan pulang ke rumah. Jung Won ingin pesan dokter harus mengawasinya selama 24 jam
Na Ri pun akhirnya duduk diatas tempat tidur melirik kebelakang tirai, lalu tersadar kalau Jung Won tiba-tiba bicara informal. Hwa Shin yang ada dibalik tirai terlihat tegang. Jung Won hanya tersenyum.
Apakah Hwa Shin juga tahu kalau kau sedang sakit?” tanya Jung Won. Hwa Shin dibalik tirai seperti bisa mengenal suara Jung Won.
Tidak, tentu saja tidak. Dia tidak akan mengetahuinya. Reporter Lee  bahkan tidak tertarik sama sekali padaku.” Ucap Na Ri, Jung Won bersyukur tentang hal itu. Na Ri binggung melihat Jung Won terus tersenyum.

Chi Yeol dan Dae Goo pergi ke stasiun TV ketika akan masuk tak bisa lewat karena tak memiliki kartu. Penjaga mendekati keduanya bertanya  merkea mau kemana. Dae Goo mengatakan ingin menemui Pyo Na Ri, penyiar cuaca slot pukul 7 malam. Penjaga menyuruh agar menghubunginya saja dan meminta datang ke lobby.
Aku tidak bisa menghubunginya.” Ucap Chi Yeol  Penjaga tetap melarang mereka masuk akan mendorongnya keluar.
Tunggu, Pak. Tolong, ijinkan kami masuk. Noona-ku sungguh penyiar cuaca di sini. Namanya Pyo Na Ri, Dia yang terbaik.” Kata Chi Yeol
Sung Sook baru kembali melihat dua anak muda yang mencari Na Ri tapi tak bisa masuk, lalu memanggil penjaga agar membiarkan mereka masuk. Chi Yeol dan Dae Goo sempat terdiam saat pintu terbuka, Sung Sook menyuruh mereka untuk segera masuk. 

Keduanya langsung mengucapkan terimakasih lalu Sung Sook menunjuk ke ruangan Na Ri yang ada di ujung lorong. Keduanya berlari melihat  ke dalam ruangan yang kosong, Dae Goo pikir Na Ri itu sudah pulang karena tak ada dalam ruangan. Chi Yeol kembali berlari mengejar Sung Sook sebelum masuk kembali ke dalam lift.
kau mengenal kakak ku, kan?” ucap Chi Yeol, Sung Sook membenarkan.
Apakah dia akan dipecat?” tanya Chi Yeol khawatir,
Apakah dia seseorang yang dapat dipecat semudah itu? Kukira kau sudah tahu, karena Kau adalah adiknya.” Kata Sung Sook. Chi Yeol bisa tersenyum mendengarnya. 

Sek Cha sudah kembali duduk diluar sambil meminum tonik, sementara Jung Won memasukan semua minum ke dalam kulkas jadi Na Ri tinggal meminumnya saja.  Na Ri pun Terima kasih. Jung Won pikir Tidak perlu berterima kasih padanya, lalu menatap tirai merasa  penasaran apakah Nenek itu sudah tidur. Na Ri pikir sudah tidur. Hwa Shin masih duduk mendengar keduanya berbicara.
“Aku pikir biasanya Nenek-nenek selalu tidur lebih awal.Padahal cukup panas di sini, tapi dia menutup pembatasnya rapat-rapat.” Kata Jung Won heran. Keduanya tertawa bersama.
Omong-omong, soal remote kontrol itul Apa yang membuatmu menyembunyikannya kemudian menendangnya ke arahku?” ucap Na Ri binggung.
Orang-orang akan mengetahuinya kalau aku menyerahkannya langsung ke tanganmu. Lalu mereka mungkin akan mengambilnya darimu, maka aku ingin memastikan kau yang menerimanya. Apa Kau tahu seberapa gugupnya aku tadi?.” Jelas Jung Won, Hwa Shin terus mendengarkan pembicaraan keduanya.
Jika remotenya tidak ada, maka aku rasa tak akan bisa mengatasinya dan pasti melarikan diri.” Cerita Na Ri

Kau melakukan hal yang benar dengan mempertahankan posisimu.” Komentar Jung Won memuji, Na Ri tak percaya mendengarnya.
Stasiun TV mungkin memberimu peringataan atas apa yang kalian berdua lakukan sebelumnya. Kau tidak perlu takut akan hal itu. Begitulah cara pihak yang lemah bertahan. Jika kau melarikan diri, kau tidak akan mendapatkan kesempatan lain.” Ucap Jung Won
Kau berada di studio dan berpikir, "Tidak mungkin dua orang dapat berdiri bersama di sana." Berpikir kau akan melepaskannya demi kebaikan stasiun TV. Maka Kau tidak hanya akan mendapatkan peringatan, tapi Kau akan dilabeli sebagai pecundang. Sebuah peringatan lebih baik dari seorang pecundang.” Jelas Jung Won.
Na Ri tertunduk sedih menurutnya memang benar seperti itu tapi masih tetap khawatir. Jung Won menenangkanya dengan memuji Na Ri  sudah melakukannya dengan baik. Keduanya saling menatap dengan senyuman, Hwa Shin yang mendengarnya mengumpat sinis, tiba-tiba terdengar bunyi suara kentut yang keras.
Ketiganya sama-sama terkejut, Na Ri dan Jung Won langsung menatap ke balik tirai. Hwa Shin tak bisa menahanya kentutnya terus berbunyi dan sangat panjang, keduanya tertawa. Hwa Shin mengangkat pantatnya mengeluarkan kentutnya, Na Ri dan Jung Won merasakan bau tak sedap menusuk hidungnya.
Jung Won mengejek wanita macam apa yang bisa bau kentutnya seperti ini, sambil menutup hidungnya. Na Ri pikir itu bukan wanita tapi pasti pria. Jung Won bingung karena Nenek itu adalah pria. Hwa Shin panik. Na Ri mengatakan kalau hanya bercanda saja kalau Bau kentutnya seperti seorang pria.
Dia pasti kentut berkali-kali selagi tidur. Haruskah aku membuka jendelanya?” kata Jung Won, Na Ri sempat panik tapi Jung Won sudah berjalan membuka jendela agar baunya keluar dari ruangan.
Nenek itu pasti menjalani operasi juga hari ini.” kata Jung Won membuka jendela.

Hwa Shin berdiri menyuruh Na Ri segera membawa keluar, Na Ri mengangkat bahu karena tak bisa, akhirnya mengangguk akan mencobanya. Hwa Shin kembali duduk sebelum Jung Won kembali. Na Ri berpura-pura berbaring untuk tidur. Jung Won bertanya apakah Na Ri sudah mengantuk. Na Ri mengangguk.
Kau tidak bisa tidur karena diriku” ucap Jung Won, Na Ri mengatakan akan tidur saat Jung Won pergi.
Aku akan pergi setelah kau tertidur.” Kata Jung Won, Na Ri menolak karena hanya bisa tidur jika Jung Son sudah pergi. Hwa Shin terlihat kesal dibalik tirai.
Aku hanya bisa pergi setelah melihatmu tertidur.” Ucap Jung Won tak mau kalah.
Sek Cha masuk memberitahu agar mereka segera pergi, Na Ri mengambil kesempatan turun dari tempat tidurnya mendorong Jung Won agar segera keluar dari ruangan. Hwa Shin mengintip dan bisa bernafas lega karena akhirnya Jung Won keluar dari ruangan. 

Di lobby
Na Ri mengucapkan terimakasih  atas segalanya hari ini dan merasa berhutang banyak padanya sambil membungkuk. Jung Won pikir mereka bahkan mencium bau kentut nenek yang tidur disebelahnya, lalu bertanya kenapa Na Ri jadi bicara formal saat ia akan pergi, merasa Na Ri itu terlihat kaku padanya.  Na Ri merasa tidak sengaja melakukannya.
Kupikir kita sudah menjadi lebih dekat sekarang.” Kata Jung Won
Kita jadi lebih dekat,  jadi aku harus mengucapkan sampai jumpa dengan benar.” Ucap Na Ri, Jung Won mengangguk mengerti.
Ah... Aku piki kau jangan datang kembali lagi.. Karena Aku akan segera keluar dari RS. Dan Juga, aku akan mentraktirmu makan sebagai ganti hari ini. Aku tidak akan melupakan bahwa kau menjadi waliku hari ini.” ucap Na Ri berusaha agar Jung Won tak bertemu dengan Hwa Shin. Jung Won mengangguk mengerti dengan senyuman,
Na Ri lalu pamit pergi lebih dulu, Jung Won berjalan mendekatinya dan menahan tiang infusnya. Na Ri kaget melihat Jung Won menahanya, Jung Won memegang kepala Na Ri dan langsung memberikan kecupan dikeningnya. Na Ri kaget tiba-tiba Jung Won memberikan kecupan.  Jung Won mengucapakan Selamat malam dengan lembut
Ini hanya kepedulian seseorang pada pasien,  jangan merasa terbebani. Jangan merasa sakit hati terlalu banyak karena kau sudah melalui sebuah operasi.” Pesan Jung Won. Na Ri gugup mengigit-gigit kukunya.
Sekretaris Cha sudah memeriksanya. Siaran cuaca hari ini mendapatkan rating dua kali lipat. Aku pikir kau akan mendapatkan kesempatan lain. Jangan cemas soal dipecat.” Jelas Jung Won penuh perhatian, Na Ri masih terlihat gugup. Jung Wo menatapnya kembali mengucapkan selamat malam lalu berjalan pergi. 


Sek Cha sudah menunggu didalam mobil sambil mendengakan lagu,  Jung Won keluar dari rumah sakit. Na Ri berlari lalu menghalanginya sebelum masuk ke dalam mobil, dengan wajah gugup Na Ri merasa kalau semua terlalu cepat. Jung Won tahu memang terlalu cepat tapi menurutnya bukan sebuah kata penolakan, Na Ri terlihat binggung.  Hwa Shin duduk di dalam ruangan sendirian, terlihat merenung.
Jadi, kalau begitu kenapa... Kenapa kau buru-buru menghampiriku? Apa kau takut? Apa Kau ketakutan? Apa kau sungguh berpikir aku menghabiskan seharian ini hanya sebagai walimu? Lalu Mendapatkan masalah dengan dokter saat duduk di sampingmu dan tidak bisa makan sama sekali.” Kata Jung Won, Na Ri masih terlihat bingung.
“Astaga... , kau sungguh tidak memahami pria. Apa kau bodoh Atau hanya terlalu buruk dalam hal kencan?” ejek Jung Won
Kau adalah teman Reporter Lee.” Kata Na Ri merasa tak enak.
Kau bilang Hwa Shin sama sekali tidak tertarik padamu. Lalu apa masalahnya?” ucap Jung Won, Na Ri mengangguk membenarkanya.
Di Thailand, Apa kau ingat saat kita berbagi payung? Di Hari itu, Bukan kau yang melompat padaku, tapi Aku... yang menarikmu ke pelukanku.” Akui  Jung Won. Na Ri terdiam mengingat kejadian saat diThailand


Flash Back
Na Ri datang berjalan ditengah-tengah agar keduanya tak kehujanan, lalu Hwa Shin mendorong Na Ri agar memayungi Jung Won saja, lalu keduanya saling dorongan dan payung pun dijatuhkan oleh Na Ri karena kesal. Jung Won mengambilnya akhirnya ketiganya berjalan dibawah payung bersama-sama.
Jung Won bertanya apakah Hwa Shin ingin makan  tom yum. Hwa Shin memberitahu mereka hampir sampai ke restoranya. Na Ri bertanya apakah disana masakannya lezat. Dengan sinis Hwa Shin menjawab rasanya tak enak.
Tiba-tiba terdengar bunyi petir, tangan Jung Won langsung merangkul pinggang Na Ri agar bisa melindunginya. Na Ri pun refleks menyembunyikan wajah ketakutan di bahu Jung Won, lalu keduanya saling menatap. Hwa Shin didepanya berpura-pura acuh dengan memalingkan pandanganya. 

Na Ri seperti tak percaya lalu kembali menatap Jung Won, Jung Won tersenyum didepan Na Ri seperti memberitahu sudah sejak lama memendam perasaanya, bertanya apakah Na Ri tak mengetahuinya. Na Ri mengelengkan kepalanya.
Hwa Shin masih duduk diatas tempat tidurnya, lalu mengeluarkan ponselnya melihat nama Ko Jung Won, Na Ri berjalan masuk ke dalam rumah sakit menengok kembali seperti tak percaya ada pria ternyata yang menyukainya. 

Jung Won akan masuk mobil menerima telpnya lebih dulu. Hwa Shin berdiri di belakang jendela seperti bisa melihat temanya dari atas bertanya apakah temanya itu sedang sibuk. Jung Won mengatakan tidak karena akan pulang ke rumah.
Apa kau menyimpan rahasia dariku?” tanya Hwa Shin sengaja menyinggungnya, Jung Won binggung lalu menjawab tak ada.
Aku ini bisa menyimpan sebuah rahasia darimu, kan?” kata Hwa Shin bangga, Jung Won heran temannya tiba-tiba  meributkan hal tidak berguna seperti itu.
Bagaimana bisa aku hanya melakukan hal yang berguna dalam kehidupan ini? Mari lakukan sesuatu yang tidak berguna.” Kata Hwa Shin
Jung Won  bertanya keadaan Hwa Shin sekarang. Hwa Shin dengan nada bahagia mengatakan kalau ia baik-baik saja lalu menceritakan menemukan investasi bagus di Thailand dan akan melakukannya sendirian, menurutnya Jung Won sudah berlimpah uang, jadi tidak memerlukannya. Jung Won mengerti.

Kau sebaiknya pergi berolahraga sendiri selama beberapa saat. Aku libur dulu, karena Aku agak sibuk mempersiapkan audisiku.” Ucap Hwa Shin
Oke, kapan kau mulai bekerja?” tanya Jung Won, Hwa Shin pikir Masih ada beberapa hari tersisa.
Hwa Shin, Apa kau ingat penyiar cuaca yang kutemui Bangkok?” kata Jung Won, Hwa Shin menyebut nama Pyo Na Ri.
Pyo Na Ri sedang sakit. Aku pergi ke stasiun TV karena urusan pekerjaan, tapi mendapatinya pingsan. Lalu Aku mengantarnya ke Rumah sakit” cerita Jung Won, Hwa Shin seperti merasa bersalah lalu berkomentar kalau itu bagus memuji temanya yang sudah melakukan hal yang baik lalu menyuruhnya segera pulang dan akan menelpnya lagi nanti. 

Sung Sook membawakan acara berita malam sendiri  menyudahi siaranya dengan membungkuk dan mengucapkan selamat malam. Sementara Ja Young sibuk dengan siaran radio duduk sendirian dalam ruang siaran/
Ini adalah siaran Malam Menarik dari penyiar Bang Ja Young. Demikian untuk malam ini. Sampai jumpa lagi... Selamat malam.” Kata Ja Young menyudahi siarannya.
Kim Rak sibuk sendirian di dapurnya mengelap semua counter bekas masak sampai mengkilat lalu mengepel lantai, sepertinya sebagai pemilik ia melakukan sendiri tanpa bantuan dari orang lain. 

Ja Young selesai siaran saat akan naik lift melihat Sung Sook ada didalam lift, wajahnya langsung sinis. Keduanya pun kembali satu lift setelah kejadian sebelumnya. Pintu pun ditutup. Ja Young mencium bau alkohol dan bertanya apakah Sung Sook itu  minum alkohol lalu pergi siaran, padahal kemarin memperingatkan Pyo Na Ri karena itu tapi ternyata sekarang malah melakukanya.
“Lalu Ada apa denganmu? Apa-apaan dengan bau parfum menyengat ini? Siapa yang coba kau rayu dengan akting menyedihkan seperti itu.. Ahjumonni?” sindir Sung Sook
“dasar Kau gila. Kau adalah Pembaca Berita.” Kata Ja Young
Kau kabur dari TV dan lari ke radio di mana tak ada yang dapat melihatmu. Kau menyemprotkan sebotol parfum.” Ejek Sung Sook
Apa? Haruskah aku mengantarkanmu ke kantor polisi dan memenjarakanmu? Mabuk saat siaran lebih buruk dari berkendara dalam keadaan mabuk. Kau hanya mengoceh tidak penting, bukan membawakan berita.” Balas Ja Young
Kenapa, dasar kau! Aku sangat kecewa, sebab itu aku minum-minum.” Tegas Sung Sook ingin mencakarnya, Ja Young pun sudah siap juga dengan tanganya, keduanya melirik camera CCTV yang ada dalam lift dan buru-buru keluar. 


Di layar CCTV, terlihat Sung Sook dan Ja Young saling menarik rambut di ruangan pembaca ramalan cuaca lalu keduanya kembali saling menarik rambut didalam ruangan loker karena satu-satunya tempat yang tak terekam camera CCTV. Dua-dua terlihat terengah-engah setelah saling menjambak rambut.
Aku benci fakta kita masuk ke perusahaan ini bersama.” Ucap Ja Young
Menjadi takdir buruk kita pensiun di usia yang sama juga. Bisakah kau pergi duluan? Apa kau tahu berapa banyak orang yang menertawai kita di belakang? Ini semua kesalahanmu!” teriak Sung Sook menahan tangisnya, Ja Young bertanya kenapa itu menjadi salahnya.
Sejak mengenalmu, hidupku jadi benar-benar tidak terduga. Kau mencuri putriku, Bbal Gang dan Juga suamiku!” jerit Sung Sook lalu menangis.
Hey!!! Kau yang mencampakkan mereka. Siapa yang coba kau salahkan? Salah siapa hidupmu jadi seperti itu? Kau wanita yang rumit. Semua kesalahanmu!.” Ucap Ja Young dengan nada tinggi lalu mengeluarkan shower menyemport Sung Sook dengan air sambil mengumpat.

Sung Sook yang menangis, akhirnya membalas dengan menyiram Ja Young mengatakan memangnya Ja Young itu siapa dan menyuruh untuk mati saja. Ja Young ikut basah kuyup dan buru-buru mematikan keran showernya. Ja Young pikir Jika Sung Sook hidup bahagia dengan keluarganya, maka ia tak akan bertemu dengan suaminya.
Jika kau mengurus Ppal Gang dengan baik, kita akan tetap bisa bertemu dengannya. Kita tak akan dilupakan dan ditolak seperti ini oleh Ppal Gang. Sekalipun kesalahanku hingga akhirnya kita semua hidup terpisah begini, apa kau tidak menyadari bahwa kesalahanmu lebih besar dariku? Apa Kau tidak tahu?!!” ucap Ja Young dengan nada tinggi sambil menangis.
Lebih baik kau mengundurkan diri besok.  Aku merasa malu bekerja di tempat yang sama denganmu. Aku merasa kotor.” Jerit Sung Sook menangis histeris.
Hei, rasanya seperti aku sedang berkaca. Kita seolah menemukan kepribadian satu sama lain dalam diri masing-masing. Orang-orang membicarakan kita di belakang. Aku merasa hampir gila.” Ungkap Ja Young, keduanya akhirnya sama-sama menangis sambil berjongkok diruangan loker, Sung Sook juga  merasa sangat marah, dari CCTV tak terlihat apapun adegan tersebut. 


Perawat yang berjaga malam melihat sekitarnya dan diam-diam makan mie instant. Di kamar akhirnya tirai pun dibuka lebar-lebar dengan Hwa Shin berbaring memunggungi dan Na Ri berbaring dengan cara tertelentang. Tiba-tiba Na Ri mengeluarkan kentutnya, dengan menutup wajahnya karena malu lalu melirik ke arah Hwa Shin seperti sudah tertidur dan memiringkan tubuhnya.
Bagaimana bisa kau kentut di depan seorang pria?” sindir Hwa Shin, Na Ri membalasa memangnya ada pria diruangan ini
Sejak kapan kalian dekat?” tanya Hwa Shin, Na Ri pikir Jung Won itu sahabat Hwa Shin jadi kenapa tidak memberitahunya. Hwa Shin mengatakan sengaja tak mau memberitahunya.  
Dia tidak tampak seperti penggosip.” Komentar Na Ri, Hwa Shin tahu.
Aku mengenalnya lebih baik daripada dirimu. Tetap saja aku tidak mau.” Tegas Hwa Shin, Na Ri pikir keduanya itu  tidak cukup dekat.
Sekalipun dia temanku, Aku tak ingin memberitahunya kalau aku mengidap kanker payudara. Dia akan cemas. Dia sudah memberiku terlalu banyak hal Dan dia akan berbuat lebih jika tahu aku sedang sakit. Lalu hubungan kami akan berubah menjadi belas kasihan. Aku akan menjadi sangat menyedihkan dan Aku tidak suka itu.” Jelas Hwa Shin 

Hwa Shin mengatakan yang lebih penting lagi tentang dadanya, yaitu  Dada seorang pria, Na Ri mengeluh Hwa Shin membahas   dada pria lagi, menurutnya Hwa Shin menganggap Dada seorang wanita pasti tidak ada artinya, saat itu juga kembali terdengar bunyi kentut. Hwa Shin kesal mendengarnya. Na Ri sambil menutup matanya mengaku tidak bisa mengendalikannya lalu meminta maaf.
“Apa Kau bilang tak bisa mengendalikannya? Kau harusnya mengeluarkan satu persatu. Dan Perlahan-lahan... Ini Menjijikkan sekali.” Keluh Hwa Shin, Na Ri hanya diam sambil menutup wajahnya.
Apakah ini karenaku Apa Kau masih menyukaiku? Bagimu, aku masih tetap seorang pria. Yahhh, kau bahkan menciumku duluan. Mana mungkin dalam semalam kau bisa berhenti mencintaiku?” ucap Hwa Shin percaya diri.
Terserah kau saja... Tapi aku, sungguh sudah mengakhiri perasaanku padamu, Reporter Lee. Karena terlalu melelahkan, dan aku pun sudah ditolak...Tolong berhenti.” Tegas Na Ri

Hey, mari kita perjelas. Apa maksudmu kau sudah ditolak? Kau menyukaiku lalu memutuskan sendiri untuk mengakhirinya. Semuanya kau sendiri yang melakukanya. Soal ditolak pun, itu pendapat pribadimu. Kau memiliki cinta sepihak. Ditolak, yeah... baiklah.” Ejek Hwa Shin tetap pada posisi memunggungi Na Ri.
“Aishh.... ! Baiklah. Baiklah. Aku berasumsi dan patah hati sendiri.” Kata Na Ri kesal lalu berbaring memungungi Hwa Shin 
Hwa Shin seperti bisa mengetahuinya memperingatkan agar Na Ri tak  memunggunginya dan kentut atas ijinnya. Na Ri heran dengan keduanya orang yang saling bersahabat tapi cara bicara begitu berbeda. Teringat kembali saat Jung Won bertanya Apa Hwa Shin juga tahu bahwa Na Ri sedang sakit. Na Ri mengatakan tidak mungkin tahu karena Hwa Shin sama sekali tidak tertarik padanya. Jung Won tersenyum merasa bersyukur Lalu di lobby mencium keningnya dan mengucapkan  Selamat malam.
Na Ri senyum-senyum sendiri mengingatnya, Hwa Shin memperingatkan Na Ri untuk tak memunggunginya karena berbahaya. Na Ri terbangun merasa sangat lapar jadi tidak bisa tidur. Hwa Shin juga merasakan hal yang sama. Na Ri membuka kulkas lalu menutupinya kembali dan berusaha kembali tertidur. 


Di lantai terlihat posisi sandal Na Ri yang tertutup sementara sandal Hwa Shin yang terbuka, seperti mengambar perasaan keduanya. Hwa Shin bertanya apakah Na Ri sudah tertidur, Na Ri yang sudah memejamkan matanya hanya terdiam. Hwa Shin kembali bertanya apakah sudah tertidur. Na Ri menjawab kalau ia mulai mengantuk akhirnya kembali bangun karena merasa hampir mati kelaparan. Hwa Shin juga merasakan hal yang sama.
Na Ri membuka kulkas mengambil minuman tonik yang diberikan oleh Jung Won lalu menawarkan pada Hwa Shin. Hwa Shin menolaknya, Na Ri memberitahu kalau temanya itu yang membelikan minuman ini. Hwa Shin seperti dengan nada cemburu mengatakan kalau Jung Won itu membelikan untuk Na Ri bukan untuknya jadi minuman itu bukan miliknya. Na Ri pikir  Tidak perlu begitu lalu menaruh satu bungkus diatas rak.

Aku merasa jauh lebih baik sekarang.” Ucap Na Ri setelah meminum dan kembali berbaring.
Hari ini terasa sangat panjang.” Kata Na Ri, Hwa Shin juga merasa  Ini juga malam terpanjang dalam hidupnya, lalu mendengar suara berisik. Na Ri yang membuat suara saat berusaha menghabiskan seluruh minumanya, lalu memunggungi Hwa Shin untuk kembali tidur.
Jangan memunggungiku.... Tatap aku...” kata Hwa Shin
“Kalau begitu Tatap aku dan berbaringlah juga.” Balas Na Ri melihat Hwa Shin masih tetap memungunginya.

Hwa Shin langsung menolaknya.  Na Ri merasa takut Hwa Shin akan kentut lagi dan berbaring menatap punggung Hwa Shin. Akhirnya Hwa Shin pun merubah posisinya dengan berbaring menatap Na Ri. Na Ri ingin bicara tapi mengurungkan niatnya, Hwa Shin menyuruh untuk mengatakan saja.
Tentang temanmu..” kata Na Ri, Hwa Shin bertanya apakah yang dimaksud  Jung Won. Keduanya saling menatap sambil berbaring.
Apakah dia playboy? Apa dia punya pacar?” tanya Na Ri mulai tertarik pada Jung Won. Hwa Shin hanya menatapnya. Na Ri mengangkat kepalanya bertanya kembali. Hwa Shi menjawab kalau ia tak tahu.
Jangan tanya padaku, Tanya saja padanya langsung.” Ucap Hwa Shin sinis, Na Ri tersenyum sendiri mengatakan ingin tahu tentangnya.
Kau masih sangat menyukaiku. Jangan membebani temanku. Kau berpura-pura begitu ingin tahu soal temanku.” Kata Hwa Shin sambil menutup matanya.
Na Ri seperti masih membayangkanya, lalu tersenyum kembali mengatakan bukan seperti itu dan memungungi Hwa Shin mengucapkan selamat tidur. Hwa Shin memperingatkan Na Ri Jangan berusaha terlalu keras dan Jangan berpura-pura dan memintanya agar Lupakannya perlahan-lahan.
Kau mencintaiku selama tiga tahun. Bagaimana bisa kau... melupakanku semudah itu?”ucap Hwa Shin lalu menatap punggung Na Ri yang berbaring didepanya. Na Ri sudah tertidur nyenyak dengan senyuman mengingatkan kejadianya dengan Jung Won. Posisi sandal seperti memang mengambarkan perasaan Hwa Shin yang sudah terbuka dan Na Ri yang sudah tertutup. 

7 komentar:

  1. Nari sama jung won saja.. ahk fell nya dpt bnget meleleh hati adek

    BalasHapus
  2. Hadeeeeeewh...., baru kali ini terserang cirus second lead syndrome. Jung won terlalu istimewa....!

    BalasHapus
  3. Udah ditunggu2 nie kpn sinopnya ada... lucu ceritanya hahahahaha... makasih ya ka sinopnya seruuuu seruuuu ditunggu yg selanjutnya

    BalasHapus
  4. Love u oppa jung won....
    Aq lebih suka nari m jung won ajaahh...

    BalasHapus
  5. sukkkkkkaaakkkkk...semangat bikin sinopsisnya

    BalasHapus