Senin, 01 Februari 2016

Sinopsis Madame Antoine Episode 4 Part 1

Soo Hyun akan memulai yang sesungguhnya, Ji Ho memilih foto dalam komputer. Seung Chan melihat fotonya saat memakai pakaian baseball, terlihat warna merah memudar, Soo Hyun tersenyum sinis melihatnya. Seung Chan pikir yang penting warnanya masih terlihat merah, Ji Ho memberitahu Tingkat kemerahannya adalah 43 persen. Soo Hyun menyuruh selanjutnya.
Ji Ho akan memulai dengan foto dirinya sendiri, Hye Rim tersenyum melihat foto Ji Ho yang ditampilkan. Seung Chan ingin tahu berapa persen warna merah milik Ji Ho, terlihat 18% menurutnya warnanya semakin memudar jadi pasti kurang dari itu. Ji Ho langsung memutuskan untuk menganti foto Soo Hyun saja. Soo Hyun tersenyum dengan wajah sombongnya, dengan sangat yakin bisa menang.

Seung Chan melihat foto Soo Hyun pasti terlihat sangat percaya diri bisa menang, Hye Rim nampak kaget melihat foto Soo Hyun. Warna di merah semakin mudar, Seung Chan tertawa melihatnya, karena tak terlihat warna merah sama sekali. Ji Ho menahan tawanya, bibir Soo Hyun bergerak-gerak menahan amarah. Ji Ho memberitahu tingkah warna merahnya hanya 6%, Seung Chan mengejeknya kalau Hye Rim ternyata lebih menyukainya.
Ji Ho pun memberitahu kalau Soo Hyun ada di peringkat bawah, Seung Chan makin mengodanya dengan kata – kata Soo Hyun kalau yang kurang dari 5% akan keluar dari penelitian, menurutnya kakaknya itu nyaris tidak berhasil. Bibir Soo Hyun tersenyum bergerak menahan amarah, dua pria didepannya terus saja tertawa melihat hasilnya. Seung Chan mengejek menurutnya untuk apa memberikan “permen”, Soo Hyun hanya bisa memuji kerja keras mereka berdua lalu keluar ruangan.
Dan juga, dari yang kulihat... wanita itu sedikit bodoh.” Komentar Soo Hyun melirik sinis, Seung Chan dan Ji Ho tak bisa lagi menahan tawanya. 


Hye Rim baru saja melepaskan earphonenya, Soo Hyun dengan nada tinggi bertanya apakah ia pernah melakukan kesalahan padanya, Hye Rim mengelengkan kepala.
Atau apa aku pernah membuatmu marah?” ucap Soo Hyun dengan mata melotot, Hye Rim juga merasa Soo Hyun tak pernah melakukanya.
Lalu, kenapa kau melakukan ini padaku?” jerit Soo Hyun tak terima, Hye Rim terlihat binggung melihat Soo Hyun tiba-tiba marah padanya. Soo Hyun memperlihatkan wajah cemberutnya lalu keluar ruangan.

Hye Rim teringat sebelum melakukan tes, Soo Hyun dengan sengaja mengikat talinya dengan dagu yang menyentuh pundaknya. Dalam hatinya bertanya-tanya, peneliatan apa sebenaranya yang dilakukan Soo Hyun padanya dan mengingat ucapan Soo Hyun “Tentang hubungan antara tipe ideal seseorang dengan sistem kekebalan mereka.”
Flash Back
Saat berbaring di dalam tabung, Hye Rim terus bergumam dalam hati. “Apa dia benar-benar mencoba mengetahui tipe idealku?” Lalu melihat foto Seung Chan dan berganti wajah Ji Ho lalu Soo Hyun
Gawat kalau dia sampai mengetahui perasaanku yang sebenarnya.. Apa yang akan terjadi kalau perasaanku terlihat? Kalau aku yang terlihat lebih menyukainya, maka aku akan kalah.” Jerit Hye Rim dalam  hati.
Ketika melihat foto Soo Hyun sempat melotot kaget, akhirnya ia menutup matanya dan memilih untuk menyanyi agar tak terbaca perasaan yang sebenarnya. 


Soo Hyun melihat hasil tes mulai dari Ji Ho 18%, Seung Chan 48% dan ia hanya memiliki tingkat kemerahan 6%, nyaris gagal. Seung Chan datang membawakan kopi untuk kakaknya, Soo Hyun mengomel karena adiknya memasukan gula kedalam kopinya.
Kau yang memohon padaku untuk dipekerjakan tapi, kau bahkan tidak bisa membuat kopi atau teh dengan baik? Cepat buat lagi.” Perintah Soo Hyun ketus
Katakanlah, ada sebuah titik pemancingan di sini. Kita tidak akan bisa mendapatkan ikan di sini, tidak peduli musim apa itu Dan kemudian, seekor ikan akhirnya tertangkap, tapi ternyata ikan itu benar-benar mesum. Dia berbohong dan bilang talinya terlepas sebelum pemeriksaan, lalu memeluknya. Menurutmu, bagaimana perasaan para pelanggan? Mereka semua akan pergi! Tempat pemancingan itu akan bangkrut. Apa yang akan kita lakukan sekarang?” ejek Seung Chan menganggap gelas kopi kolam pemancingan.
Aku tidak pernah melakukan hal mesum.” Tegas Soo Hyun dengan mata mendelik
Itu yang kau pikirkan. Dan Kau bilang tes selanjutnya sebulan lagi, kan? Berusaha keraslah mulai saat ini. Sebelum aku benar-benar mencuri hatinya.” Ejek Seung Chan lalu membawa kembali gelas kopinya, Soo Hyun terlihat menahan amarahnya 


Jari Soo Hyun diketuk-ketukan diatas meja, seperti otaknya berpikir untuk membuat Hye Rim jatuh hati padanya lalu mencoba melihat lagi file rahasia berjudul  [Proyek Madame Antoine Rancangan Studi Pendahuluan] lalu melihat profile dari tipe A untuk mengoda Hye Rim.
Tanganya memegang mulutnya membaca dengan wajah serius [Pertengahan 30-an; kepribadiannya mempunyai poin paling rendah di antara subjek pria yang lain. Namun, dia mempunyai pendapatan per tahun lebih dari 100 juta won. Seorang profesional yang kaya dan juga dihormati.] Lalu dia memikirkan dirinya itu adalah orang kaya dan juga dihormati. 

Hye Rim baru saja menuruni tangga dan melihat dilantai dua tak ada orang, perlahan berjalan ke ruangan bagian receptionist dan melihat komputer Seung Chan untuk mencari folder yang membuatnya penasaran. Tapi nama file “burung bubut” sudah tak ada desktop.
Tiba-tiba ia dikagetkan dengan getaran ponselnya, Soo Hyun mengirimkan sebuah peta dan pesannya “Hari ini kau punya waktu, kan? Datanglah ke sini jam 4 sore.
Seorang pegawai menyambut Hye Rim baru masuk ke dalam toko, lalu bertanya apakah ia sudah memesan sesuatu. Hye Rim mengaku tak tahu karena hanya disuruh datang oleh seseorang, Soo Hyun sudah menunggunya berdiri menyambut Hye Rim dan menyuruhnya untuk memilih yang disukainya.  Hye Rim binggung dan menanyakan alasanya, Soo Hyun mengatakan karena ingin membelikannya jadi meminta untuk memilih barang yang dinginkan. 

Hye Rim berjalan melihat bagian tas mahal berjejer didepanya, sambil bertanya-tanya dalam hati Berapa harga semua ini? lalu menjerit binggug dalam hati Bagaimana ini? Aku ingin semuanya! Setelah itu ingin menenggok ingin melihat wajah Soo Hyun yang terlihat sombong karena bisa membelikan barang-barang mewah.
Kalau aku asal memilih, dia pasti akan menertawakanku. Aku tidak boleh terlihat murahan... Apa tidak usah memilih saja? Tapi... mereka terlihat sangat cantik!! Haruskah aku menutup mata  dan memilih salah satu?gumam Hye Rim binggung
Jangan terlalu banyak berpikir dan cepatlah pilih. Aku tidak akan menganggapmu sebagai wanita materialistis. ” Kata Soo Hyun dengan nada mengejek
“Hei... Choi Soo Hyun, ada apa denganmu? Kau tiba-tiba memanggilku dan berkata akan membelikanku tas kemudian membahas tentang materialisme... Kenapa kau seperti itu?” jerit Hye Rim tak terima, Soo Hyun mendengarnya terlihat agar panik karena dibelakang ada pegawai yang bisa mendengarnya, akhirnya meminta agar pegawai itu pergi. 

Go Hye Rim, apa kau menyukaiku?” ucap Soo Hyun akhirnya berjalan mendekat, Hye Rim heran tiba-tiba Soo Hyun mengutarakan pertanyaan itu.
Kau terus saja mengubah topik pembicaraan. Jangan kau pikir aku senang melakukan hal seperti ini. Aku paling benci dengan wanita yang suka jual mahal.” Tegas Soo Hyun, Hye Rim tiba-tiba menatapnya.
Ada sesuatu yang terjadi padamu...kan? Pasti ada alasan kenapa kau harus mendapatkan hatiku Atau, ada sesuatu yang tidak bisa kau selesaikan. Jadi kau mencoba menyelesaikannya dengan terburu-buru dan dengan barang-barang bermerek tapi kau tidak ingin merendahkan harga dirimu. Jadi kau menyebutku kekanak-kanakan untuk membuatku merasa buruk.” Kata Hye Rim, Soo Hyun tertunduk karena terbaca dari sikapya.
“Sebenarnya, Ada apa? Jika kau memohon dengan baik, mungkin aku akan memberimu kesempatan.” Ucap Hye Rim penasaran, Soo Hyun mengangkat tanganya.
“Tolong Bawakan aku tas yang paling mahal di sini.” Pinta Soo Hyun

Keduanya membayar di kasir, Hye Rim berteriak kesal saat Soo Hyun membayar dengan kartu kreditnya. Soo Hyun memutuskan akan mengembalikan tas itu jadi meminta dikembalikan uangnya, kasir memberitahu Soo Hyun akan dikenakan biaya dari kartu kreditnya. Soo Hyun bertanya berapa banyak, Kasir memberitahu jumlahnya  Sebesar 3.567.400 won.
Tolong sumbangkan uang tersebut ke yayasan kesejahteraan anak-anak di dekat sini,Atas nama Go Hye Rim.” Perintah Soo Hyun pada kasir
“Sekarang Aku membelikanmu tas, dan kau juga melakukan hal yang baik. Kau puas, kan?” kata Soo Hyun melihat Hye Rim masih melonggo disampingnya.

Tapi tidak ada tas di tanganku, Belikan aku tas dibagian sana.” Ucap Hye Rim menunjuk tas ada di bagian pojok, Soo Hyun mengangguk setuju.
Hye Rim memilih 3 tas dan juga satu gaun yang ada dipatung, Soo Hyun merasa semua barang itu berlebihan tapi melihat wajah Hye Rim seperti ada gambaran kalau ia sebelumnya hanya mendapatkan nilai 6%, dengan senyuman dipaksa memperbolehkan Hye Rim mengambil semuanya. 


Hye Rim duduk dibelakang dengan wajah bahagia mengucapkan terimakasih karena Soo Hyun membelikan semua barang untuknya, Soo Hyun pikir Hye Rim seharusnya meminta untuk membelikan tokonya saja sekalian karena melihat Hye Rim  tidak akan puas hanya dengan beberapa tas. Hye Rim pikir benar juga seharusnya meminta untuk membelikan toko itu.
Kalau begitu, haruskah kali ini kita pergi ke toko di sebelah sana?” kata Hye Rim menunjuk ke depan
Oh, mereka juga punya barang bagus di sebelah sana. Ada Bank didepan saja” ajak Soo Hyun mengejek
Apa sekarang kita sedang syuting "Mission Impossible"?” kata Hye Rim mengodanya.
Apa sekarang persentaseku naik?” tanya Soo Hyun, Hye Rim terlihat binggung.
Saat kita melakukan tes untuk tipe idealmu waktu itu, aku mendapat enam... puluh dua persen. Sekarang sudah sedikit naik, kan?” kata Soo Hyun berbohong dengan hasilnya.
Hye Rim heran mengapa persentasi itu sangat penting, karena pikir Soo Hyun hanya ingin mengetahui tipe idealnya. Soo Hyun mengaku harga dirinya terluka walaupun meraka sering sekali bertengkar. Hye Rim melirik merasa ada  yang mencurigakan dan pasti lebih daripada yang dikatakanya.
Kau harus menyelamatkan harga diriku. Dengan membuat persentasenya menjadi 100 persen.” Tegas Soo Hyun
Bagaimana ya... Kau membelikanku empat tas dan satu gaun jadi mungkin aku akan menambah satu persen untuk masing-masingnya.” Kata Hye Rim kembali mengodanya, Soo Hyun membanting stir dan memberhentikan mobilnya.
Jangan ditambahkan..... Sekalian saja kau kurangi.” Teriak Soo Hyun kesal dengan mata melotot
Kau marah ya? Baiklah.... Kau sudah bekerja keras, jadi Aku akan menambahkan 10 persen.” Ucap Hye Rim dengan senyuman. 


Soo Hyun mengeluarkan tas belanja dari mobilnya, ingin memberikan pada Hye Rim. Tapi Hye Rim malah menolak karena tak menginginkannya, Soo Hyun yang tadinya sangat kesal heran tiba-tiba Hye Rim menolak semua barang yang sudah dibeli dengan uangnya.
Alasanku melakukan itu karena penasaran kenapa kau mau mengeluarkan banyak uang seperti itu. Tapi... aku sudah tahu alasannya. Jadi...” kata Hye Rim terdiam sejenak
Jadi, bagaimana dengan semua tas ini?” tanya Soo Hyun menahan amarahnya.
Kau bisa menyumbangkannya. Kali ini atas namamu Dan... jika kau memang ingin menambah persentasemu ajarkan aku tentang psikologi.” Kata Hye Rim, Soo Hyun melonggo mendengarkan permintaan Hye Rim
Aku seorang konsultan di sebuah pusat konseling tapi aku bahkan tidak tahu dasar-dasar psikologi. Apa mungkin, bayaranmu sangat mahal?” ucap Hye Rim.
Soo Hyun mengangguk tapi kalau memang Hye Rim ingin  cepat belajarm maka akan memberikan beasiswa. Hye Rim mengucapakan terimakasih pada Soo Hyun yang mengajaknya berbelanja hari ini Walaupun pada akhirnya hanya melihat-lihat saja. Soo Hyun hanya bisa melihat barang belajaan yang harus dikembalikan. 


Pagi hari, Hye Rim baru keluar dari rumahnya untuk membuang sampah melihat tas belanja yang tergantun di gagang pintunya. Note dari Soo Hyun tertempel Paling tidak, terimalah gaunnya. Hye Rim hanya bisa tersenyum seperti tak percaya Soo Hyun memberikan hadiah itu padanya. 

Ji Ho turun ke lantai dua dengan membawa sekotak coklat, bertanya pada pelayan keberadaan Hye Rim sekarang. Pelayan memberitahu Hye Rim belum turun dari lantai tiga. Ji Ho pergi ke lantai tiga melihat pintu rumah terbuka, ketika masuk wajahnya tegang karena melihat Hye Rim sedang menganti pakaiannya.
Ia melangkah mundur tak ingin melihat Hye Rim, tapi akhirnya memberanikan diri melihat lebih jelas dari kaki Hye Rim sangat mulus dan langsing sedang mencoba gaun, mulutnya langsung melonggo langsung terpana dengan tubuh Hye Rim yang sexy, bahkan saat mengangkat rambutnyan terlihat bagian lehernya. 

Ji Ho duduk lemas didepan cafe dengan melempar coklatnya, Ju Ni baru saja datang melihat Ji Ho duduk sendirian menghampirinya untuk mengodanya.
Walau hanya seminggu kita tidak bertemu, tapi rasanya lama sekali. Benar, kan?” ucap Ju Ni dengan gaya imutnya,
Kau datang untuk  sesi konsultasi, kan? Silakan pergi ke pusat konseling.” Kata Ji Ho terlihat masih shock melihat Hye Rim berganti baju
Ju Ni melihat ada coklat dibangku dan bertanya apakah boleh memakannya, Ji Ho menyuruh makan saja. Ju Ni pikir tak seru hanya memakanya jadi meminta Ji Ho untuk menyuapinya dan mulutnya sudah terbuka lebar. Ji Ho pikir lebih baik tak usah dimakan lalu pergi meninggalkanya, Ju Ni mendengus kesal karena dicampakan. 

Seung Chan menyapa Ju Ni yang baru datang dan memberitahu Soo Hyun sudah menunggu dalam ruanganya, Ju Ni membuka jaketnya lalu mengibaskan rambutnya dengan sedikit menunduk memberitahu kancing baju belakangnya lepas dan meminta Seung Chan untuk mengaitkanya kembali.
Terlihat mata Seung Chan tergoda dengan bagian pundak Ju Ni nampak putih mulus, dan ingin mengaitkanya tapi matanya langsung terpejam memberitahu letak kamar mandi jadi Ju Ni bisa mengancingkan bajunya ditempat itu. Ju Ni kembali menjerit kesal tak bisa membuat Seung Chan tergoda padanya.

Hye Rim baru saja turun dari lantai tiga melihat Ju Ni dengan managernya dan pengawalnya. Ju Ni mengejek rambut Hye Rim masih utuh padahal sebelumnya sudah dijambak olehnya, Hye Rim melirik sinis melihat Ju Ni sangat berlebihan padanya.
Apa kau tidak perlu memakai krim penumbuh atau semacamnya?” ejek Ju Ni
Pergi berkonsultasi sajalah.” Ucap Hye Rim sinis, Ju Ni dengan mendengus kesal masuk ke dalam ruangan Soo Hyun
Astaga... bagaimana kalau aku yang justru perlu konsultasi gara-gara dia?” keluh Hye Rim 


Ju Ni menopang wajahnya dengan wajah cemberut mengadu pria yang ada dalam klinik  sama sekali tidak menyenangkan, lalu kembali mengibaskan rambutanya kebelakang agar Soo Hyun tertarik padanya. Hye Rim melihat tingkah Hye Rim dibalik dinding.
Lagi-lagi begitu... Sekeras apapun mencoba, tetap saja aku tidak bisa menerima perilakunya.” Ucap Hye Rim kesal
Soo Hyun melihat Ju Ni mengalami banyak kecelakaan tahun kemari, yaitu satu kali di bulan Juni, dua kali pada Oktober, dan satu kali lagi pada November.

Kalau kau sesibuk aku, hal-hal seperti itu pasti terjadi. Apa kau pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?” ucap Ju Ni dengan bergaya seksi mengubah car duduknya, Hye Rim benar-benar heran melihat sikap Ju Ni.
Saat kecelakaan di bulan November, penata gayamu terluka dan bahkan manajer-mu sampai meninggal. Apa itu tidak menjadi bagimu?” tanya Soo yun
Yah... itu tidak terlalu buruk.. Berkat itu, aku bisa beristirahat dan bahkan berlibur ke luar negeri.” Cerita Ju Ni, Hye Rim mendengarnya semakin heran karena ada yang meninggal tapi Ju Ni malah pergi berlibur. Seung Chan masuk meminta Hye Rim keluar membuatkan kopi, Hye Rim pun keluar dari ruang rahasia. 


Ju Ni mulai melancarkan serangnya, dengan mengatakan  kalau  ia jatuh cinta pada Soo Hyun. Soo Hyun dengan mengerutkan dahi menanyakan kenapa bisa seperti itu. Ju Ni mengaku Soo Hyun terus saja muncul di pikirannya, sambil memuji Soo Hyun yang keren, pintar dan juga lembut.
Itu benar, tapi aku takut tidak bisa menerima perasaanmu.” Tegas Soo Hyun, Ju Ni menanyakan alasan ditolak.
Bagaimana rasanya ditolak olehku?” tanya Soo Hyun
Aku merasa ingin mati dan Aku akan mati!” kata Ju Ni dengan mencekik lehernyanya sendiri untuk mencari perhatian.

Silakan saja, kalau kau mau. Aku punya pensil yang tajam dan Juga ada gelas kaca, bahkan pisau saku.” Ucap Soo Hyun santai. Ju Ni heran dengan sikap Soo Hyun yan membiarkanya.
Kau tidak mencintaiku. Dan kalaupun benar itu karena kau sedang diobati. Ini bukan...” jelas Soo Hyun yang disela oleh Ju Ni
Ini semua karena Go Hye Rim. Semua orang di sini hanya menyukainya! Kau juga diam-diam menyukainya, kan?” jerit Ju Ni tak terima
Bagiku, dia hanyalah seseorang. Seseorang yang menjalani hidupnya tanpa terlalu banyak memikirkan diri sendiri.” Kata Soo Hyun
Jadi kau bilang, aku bukan orang?” Jerit Ju Ni tak terima
Soo Hyun menjelaskan Ju Ni itu terlalu memikirkan bagaimana orang lain melihatnya. Ju Ni menegaskan dirinya seorang artis jadi harus... Soo Hyun menyela dengan bertanya bagaimana jika Ju Ni bukan seorang artis dan bertanya Apa pandangan orang lain kepadanya tetap sangat penting. Ju Ni pikir tak seperti lalu mengakui  hanya ingin semua orang mencintainya. Soo Hyun menanyakan alasanya.
Bukankah sudah jelas? Setiap orang itu....” kata Ju Ni dipotong oleh Soo Hyun
Itu tidak mungkin....Jika ada orang yang menyukaimu, maka ada juga yang tidak. Berusaha membuat semua orang menyukaimu, bukan hanya sia-sia tapi juga akan membuatmu lebih terluka.” Jelas Soo Hyun

Lalu, kenapa orang-orang membenciku? Aku berusaha keras untuk dicintai oleh semua orang..” kata Ju Ni dengan mata berkaca-kaca
Dan kenapa itu sangat penting untukmu? Kenapa kau membiarkan orang lain yang menentukan nilai dirimu yang sesungguhnya?” tanya Soo Hyun
Ju Ni melirik kearah atas seperti ingin mencari alasanya dan terlihat kebinggunan. Soo Hyun bisa menebak karena  Ju Ni adalah orang yang buruk. Ju Ni menatap Soo Hyun bertanya apakah dokternya itu melihat seperti itu juga. Soo Hyun menjelaskan bisa melihat Ju Ni menilai dirinya seperti itu. Ju Ni mmbenarkan ucapan Soo Hyun.
Kenapa aku sangat buruk seperti ini? Aku tidak punya rasa percaya diri... dan selalu takut kalau orang lain mengetahuinya. Semuanya sangat mengerikan, Dokter.” Cerita Ju Ni menahan tangisnya, Soo Hyun bisa melihat Ju Ni apa adanya bukan berlebihan seperti diawal pertemuan.

Prof Bae mengucap syukur dengan hasil yang didapat dengan pasien Ju Ni, karena Soo Hyun bisa membuat Ju Ni  menyadari kalau mempunyai self-esteem yang rendah. Soo Hyun merasa Ju Ni masih terlihat sangat binggung dan belum sepenuhnya tertanam di diri pasienya.
Jika mempertimbangkan hidupnya hingga saat ini, itu sangatlah alami. Aku dengar ayahnya yang membesarkannya? Apa tidak ada masalah dengan cara mendidiknya?” tanya Prof Bae duduk dikursinya.
Kelihatannya, dia dibesarkan dengan kurang konsisten. Jadi, Ju Ni memperoleh nilai dirinya melalui kriteria yang senantiasa berubah-ubah. Bagaimana dengan gangguan distimik lainnya? Apa Kau sudah memeriksanya?” kata Soo Hyun

“Aku Sudah melakukanya,  Sepertinya tidak ada yang terlalu serius. Aku memang melihat beberapa tanda dari gangguan depresi tapi aku belum melihat gejala dari gangguan somatoform ataupun gangguan disosiatif.” Jelas Prof Bae
Aku masih belum bisa mengetahui alasan kenapa John Denver bisa menjadi pemicu baginya Atau alasan kenapa dia tidak menyukai bulan November.” Kata Soo Hyun
Benar... dan aku yakin pasti ada sesuatu di balik itu.” Ucap Prof Bae lalu merasakan sesuatu yang tak dienak ditenggorokanya.
Soo Hyun melihat Prof Bae berpikir gurunya itu sedang tak sehat, Prof Bae mengatakan baik-baik saja sambil memegang lehernya dan meminum tehnya.


Hye Rim masuk ke toko pohon natal bertanya seberapa besar pohon yang akan dibelinya dengan wajah bahagia. Seung Chan menunjuk pohon natal yang sangat tinggi dan besar, Hye Rim tertawa menurutnya jika membeli sebesar itu bisa menembus atap cafenya, lalu menunjuk pohon natal setinggi pundaknya.
Seung Chan setuju dan juga bertanya dengan dekorasi dari pohon natalnya. Hye Rim ingin melihat tema dari pohon natal, lalu menyadari Seung Chan mulai mengunakan bahasa informal padanya. Seung Chan beralasan karena mereka sudah akrab dan mengingatkan mereka juga harus membeli kado ulang tahun untuk Yoo Rim. Hye Rim merasa hanya perlu memberikan uang karena adiknya lebih menyukai hadiah itu, lalu menunjuk hiasan pohon bertema sinterclass.

Keduanya mendorong trolly bersama-sama, Seung Chan berlari ketika pintu lift akan tertutup lalu mengajak Hye Rim segera masuk. Didalam lift, Seung Chan mengingat mereka memarkir mobil dilantai dua, lalu meminta Hye Rim menekan tombol lift.  Hye Rim menekannya lalu tersadar kalau tadi Seung Chan memanggil Go Hye Rim bukan “nunna” seperti biasanya.
Bocah ini... kau memanggil yang lebih tua dengan panggilan seperti itu?” kata Hye Rim kesal
Bukankah kau juga wanita? Aku memakai bahasa informal pada semua wanita. Kalau kau tidak menyukainya, aku akan menggantinya lagi. Apa yang harus kulakukan? Apa kau ingin aku menggunakan bahasa yang sopan lagi? ” Ucap Seung Chan,
Hye Rim pikir terserah saja, akhirnya Seung Chan memanggil nama bukan dengan panggilan “nunna”. Hye Rim tiba-tiba merasakan hawa yang sangat panas dalam lift sambil mengipas-ngipas wajahnya. Seung Chan tersenyum lalu mengucapkan terimakasih karena sudah memberikan nilai 43 % dengan begitu dirinya jadi yang pertama. Hye Rim binggung tapi bisa menembak maksudnya itu adalah penelitian tentang tipe pria ideal.
“Jadi Kau ada di urutan pertama, dengan 43 persen, Lalu, bagaimana dengan Soo Hyun?” ucap Hye Rim
“Dia memperoleh Enam persen dan berada di Posisi terakhir.” Kata Seung Chan
Hye Rim ingat dengan kata-kata Soo Hyun dimobil “Tes untuk tipe idealmu waktu itu, aku mendapat enam... puluh dua persen. Sekarang sudah sedikit naik, kan?” lalu tertawa bahagia. Seung Chan menanyakan kenapa, tapi Hye Rim mengatakan bukan apa-apa sambil menahan tawanya. 


Seung Chan membantu Hye Rim membawa pohon natal kedalam cafe, Soo Hyun turun  melihat keduanya baru saja datang setelah berbelanja, Hye Rim melihat Soo Hyun tak bisa menahan tawanya. Soo Hyun mendekat bertanya kenapa Hye Rim tiba-tiba tertawa.
Tidak apa-apa... kau ingin makan, kan? Ada sebuah restoran, Mereka menjual yuk (enam) gejang seharga 6.000 won di blok keenam apartemen di depan... Cobalah.” Kata Hye Rim dengan nada mengejek, Soo Hyun binggung medengarnya.
Seung Chan mengajak Hye Rim untuk pergi makan bersama saja, Soo Hyun kaget mendengar adiknya memanggil nama pada Hye Rim bukan “nunna”, Hye Rim mengalihkan pembicaraan kalau dicafenya sedang sibuk jadi menyuruh mereka makan diluar saja, lalu mendorong keduanya untuk pergi. 

Hye Rim pergi ke lantai dua membawa vacum cleaner, pertama – tama memastikan tak ada orang lalu masuk keruangan Soo Hyun dengan membawa vacum cleaner. Sementara Seung Chan baru selesai makan berjalan kekasir sambil menelp berbicara tentang Pelatih bisbol di SD, menurutnya itu dari jangkauan jadi tidak mau melakukannya dan mengucapkan terimakasih atas tawaranya.
Apa sekarang kau memutuskan untuk memakai bahasa informal dengan Go Hye Rim?” ucap Soo Hyun sinis membayar tagihan makan mereka.
Iya.. kita ‘kan juga sudah sangat dekat. Kau tahu apa artinya bagi untuk wanita yang lebih tua dengan membiarkan pria yang lebih muda memanggilnya dengan nama saja, kan?” kata Seung Chan yakin sudah mendapatkan hati Hye Rim.
Sepertinya kau menggunakan ototmu.” Sindir Soo Hyun
hanya itu yang kau bisa lakukan. Lalu, apa yang kau lakukan dengan otakmu yang hebat itu?” ejek Seung Chan
Walaupun ku beri tahu, kau juga tidak akan mengerti apa rencanaku. Karena, massa otakmu sudah diambil alih semuanya oleh ototmu. Dan Bagaimanapun juga, Go Hye Rim adalah subjek penelitian. Setidaknya, jaga kelakuanmu.” Tegas Soo Hyun memperingatinya. 

Hye Rim mulai memeriksa laci meja Soo Hyun, di laci nomor dua pun tak menemukan apapun. Ia mengingat kembali dengan perintah Tuan Kim “Cobalah cari tahu lebih banyak tentang penelitiannya saat ini. Jika kau melakukannya, aku akan memberikan uangnya padamu sekaligus.
Flash Back
Hye Rim merasa tak bisa  menerima uang sebanyak itu lagipula menurutnya Soo Hyun pasti menyembunyikan data-datanya dengan sangat baik. Tuan Kim menyakinkan kalau perkerjaan itu tak terlalu sulit dan mengingatkan Hye Rim itu perlu uang  untuk membayar uang sekolah putrinya. Hye Rim pun terdiam mendengar karena memang butuh uang.
Penelitian itu bernilai 5 miliar won jadi, walaupun aku memberikan insentif sebesar 1 persen padamu maka itu berjumlah 50 juta won.” Kata Tuan Kim memberitahu jumlahnya. 

Hye Rim binggung tak menemukan apapun dalam laci, lalu melihat komputer Soo Hyun mencoba mencarinya dengan file berjudul penelitian kalau tidak “test” dan mencoba mengeja “experiment” dalam  bahasa inggris, lalu ia menemukan judul file bertuliskan “study” dan merasa itu memang yang dicarinya.
Soo Hyun dan Seung Chan kembali ke klinik, ketika ingin masuk ruangan Soo Hyun binggung tak bisa membukanya dan berpikir ada yang masuk kedalam. Hye Rim ada didalam mulai panik mencoba melihat file dengan judul burung puyuh, sama seperti dengan judul file Burung bubut. Soo Hyun dari luar mencoba membuka pintunya.
Hye Rim bergumam dalam hati, berpikir video yang disimpan itu video porno, tapi teringat folder namanya itu “study”akhirnya ia mengeluarkan USBnya dan tak sengaja menyengol tong sampah dengan CPU. Soo Hyun dan Seung Chan kaget mendengarnya, Soo Hyun mengetuk pintu berteriak  menanyakan siapa yang ada didalam. Hye Rim cepat memasangkan USBnya.
Seung Chan akan mengambilkan kunci duplikat untuk membukanya, Hye Rim dengan cepat ingin mengcopy video sebesar 173Mb, Soo Hyun berteriak menyuruh orang itu keluar dan mengancam akan memanggil pihak keamanan. Seung Chan datang membawa kunci tapi binggung memilih kunci ruangan, Soo Hyun menelp perusahaan sekuriti, melaporkan Ada penyusup di kantornya. Hye Rim mengigit jarinya karena filenya belum tercopy dengan sempurna, Soo Hyun meminta adiknya segera membuka pintunya. Seung Chan mencoba terus sampai akhirnya menemukan kunci yang cocok dan bisa membuka pintu. 

Soo Hyun denga mata melotot ingin tahu siapa yang ada didalam, Hye Rim terlihat sedang mengunakan vacum cleaner dan mendengarkan musik mengunakan earphone. Seung Chan dan Soo Hyun saling menatap binggung, lalu Soo Hyun mendekati Hye Rim dengan mencolek pundaknya. Hye Rim melepaskan earphonenya berpura-pura tak tahu apa yang terjadi.
Apa yang kau lakukan di sini? Sampai mengunci pintunya segala.” Ucap Soo Hyun curiga
“Jadi Pintunya terkunci? Bagaimana bisa? Kau harus memperbaikinya. Terakhir kali aku bersih-bersih, juga seperti itu. Sekarang Aku juga harus membersihkan di sekitar lorong, kan?” kata Hye Rim ingin keluar ruangan, Soo Hyun menahanya dengan menatap Hye Rim  penuh curiga

Apa yang kaulihat? Berkali-kali dilihat pun, kecantikanku tidak akan berubah.” Ejek Hye Rim
Apa kau benar-benar hanya membersihkan ruanganku ?” kata Soo Hyun curiga. Hye Rim malah menantang bagaimana kalau ia melakukan hal yan lain.
Apa yang dia bayangkan? Apa kalian menyembunyikan sesuatu yang penting di sini? Kalau kau tidak percaya, kau boleh menggeledahku. Tapi jika kau tidak menemukan apa-apa, aku akan melaporkanmu ke polisi.” Kata Hye Rim mengangkat tanganya sambi mengancam. Soo Hyun akhirnya melepaskan Hye Rim dan membiarkan keluar.
Aku rasa kita harus meningkatkan keamanan di sini menjadi A plus. Sekarang Berikan juga semua berkas yang kau punya Dan singkirkan semua dokumen.” Perintah Soo Hyun pada adiknya. 

Hye Rim memasang Usb dalam komputernya, lalu mengecek video yang sudah didapatkannya. Kyung Joo duduk diatas pohon dengan bergantung pita lalu berteriak “Sayang! Aku mencintaimu!
Ya ampun... senangnya.... tapi sebenarnya penelitian apa yang sedang dia kerjakan?” ucap Hye Rim penasaran sambil menonton video yan didapatkan dari komputer Soo Hyun. 

Seung Chan turun ke lantai satu dan mengagetkan Hye Rim yang sedang mencuci piring dengan panggilan informalnya. Hye Rim benar-benar kaget lalu mengaku  belum terbiasa mendengar panggilan itu. Seung Chan dengan sengaja memangilnya nama Hye Rim berkali-kali. Hye Rim tertawa menyurh Seung Chan untuk berhenti.
Jadi apa yang kau lakukan di ruangan kakakku kemarin?” kata Seung Chan bersandar di counter dapur.
Kau sudah melihatnya ‘kan Aku hanya bersih-bersih.” Ucap Hye Rim, Seung Chan seperti tak percaya
Lalu, apa yang aku lakukan disana ? Kaupikir aku menari-nari sendirian di sana? Apa kau ingin melihat debu-debu yang berhasil ku kumpulkan?” kata Hye Rim berusaha menyakinkan.
Bukan begitu maksudku,  Oh iya. Aku mendapat tawaran untuk menjadi pelatih bisbol di SD.” Cerita Seung Chan

Hye Rim dengan gembira merasa itu tawaran yang bagus dan bertanya kapan akan memulainya. Seung Chan mengatakan Belum ada keputusannya, karea akan melakukan wawancara dulu. Hye Rim yakin Seung Chan pasti akan langsung lolos wawancara itu jadi tak perlu khawatir. Seung Chan menaku tak berniat mengambilnya, Hye Rim heran Seung Chan menolak peluang didepan mata.
Aku adalah Pemain Pendatang Baru Terbaik tahun kemarin. Apa masuk akal kalau aku menjadi pelatih di SD?” kata Seung Chan merasa tak pantas
Memangnya kenapa? Kau membesarkan masa depan bisbol Korea!” kata Hye Rim, Seung Chan merasa yang diajarkanya itu masih sangat kecil.
Kau bilang ingin menjadi pemimpin di bisbol. Kalau begitu, kau harus mengambil langkah kecil dulu dan Kau tidak bisa langsung melompat ke puncak.” Ucap Hye Rim
Tapi itu bukan aku dan Dan tidak ada yang bisa kulakukan.” Tegas Seung Chan pada prinsipnya.
Walaupun begitu, itu langkah pertama. Apa kau pikir mereka akan meminta seseorang yang tak pernah melakukan push-up selama setahun untuk menjadi pelatih bisbol profesional? Apa kau mengharapkan keajaiban dari langit?” omel Hye Rim meyakinkan
Seung Chan merasa mengajar pada anak tingkat SD lalu tersadar kenapa Hye Rim tiba-tiba jadi marah padanya. Hye Rim menjelaskan bukannya marah, tapi ini semua karena Seun Chan terlalu meremehkannya.


Soo Hyun menuruni tangga melempar buku diarynya diatas mangkuk coklat lalu mendengar adiknya yang terteriak didapur, kalau Hye Rim sendiri yang mengatakan untuk mengikuti kata hatinya. Hye Rim dengan nada tinggi menegaskan bukan berarti Seung Chan bisa hidup dengan malas-malasan seperti ini.
Jika kesempatan datang, ambillah! Itu yang namanya hidup!” tegas Hye Rim
Apa kau sedang mencoba menjadi kakak perempuan untukku?” kata Seung Chan
“Benar... Mulai sekarang panggil aku "Noona" Dan jangan menggunakan bahasa informal.” Tegas Hye Rim dengan mata melotot, Seung Chan setuju dengan wajah kesal keluar dari dapur.
Soo Hyun langsung bersembunyi setelah mendengar adu mulut, Hye Rim berteriak kesal karen sudah terlalu membebaskannya. Soo Hyun terlihat bahagai melihat Hye Rim akhirnya menganggap Seung Chan seperti adik  laki-lakinya. Hye Ri menengok seperti merasa ada orang yang lewat, Soo Hyun langsung bersembunyi lalu dengan cepat mengambil buku diarynya dan kembali kelantai dua. 

Hye Rim baru selesai melayani pelanggan melihat buku diary di meja kasir, dengan gambar buku, Soo Hyun menuliskan pesanya Kau bilang ingin belajar tentang psikologi, bukan? Datanglah ke Perpustakaan Joong Ang jam 1 siang.

bersambung ke part 2 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

1 komentar:

  1. Postingan Korean Drama Addicted selalu web version ya.bisa g̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ kalo diuba mobile version.

    BalasHapus