Senin, 01 Februari 2016

Sinopsis Madame Antoine Episode 4 Part 2

Hye Rim masuk ke perpustakaan dengan rak buku yang tinggi dan juga besar, ketukan sepatu heelsnya terdengar ketika berjalan mencari Soo Hyun yang sudah menunggunya. Ia menemukan Soo Hyun yang sedang berdiri didepan sebuah rak dengan kemeja dan celana bahan serta dasi yang sedikit longgar, dilengannya ada jas yang sengaja di lepas.
 “Ya ampun. Ini adalah sosok pria yang bekerja.” Gumam Hye Rim benar-benar terpana, Soo Hyun merasakan Hye Rim yang memandanginya dari jauh lalu mengubah gaya berdirinya agar lebih menarik
Kemeja putih yang menyilaukan, dengan lengan yang tergulung. Dan dasi yang sedikit longgar.” Gumam Soo Hyun lalu berpura-pura mencari Hye Rim dan memberikan senyuman tipis dengan melambaikan tangan ketika melihat Hye Rim ada didepannya. Hye Rim pun berjalan mendekat sebelumnya sempat menyapa dengan tundukan kepala.

Sebagai seorang "ahjumma", tubuhmu bagus juga.” Komentar Soo Hyun dengan nada mengejek
Kau juga. Sebagai seorang "ahjussi", kau cukup berotot.” Balas Hye Rim tak mau kalah
Hye Rim bertanya apakah Soo Hyun akan mengajarinya psikologi atau tidak, Soo Hyun pikir akan melihatnya apakag Hye Rim bias mengikuti pelajarannya atau tidak, lalu melihat tak ada tempat duduk kosong jadi mengajaknya untuk duduk dilantai saja. Hye Rim tak percaya Soo Hyun bisa duduk dilantai dengan pakaian seperti itu.
Soo Hyun mengatakan ia bahkan bisa berguling-guling di lantai lalu duduk dilantai lebih dulu dengan mengeluarka sapu tanganya untuk alas Hye Rim duduk, setelah Hye Rim duduk dengan perhatian memberikan jasnya agar bisa menutupi bagian kaki Hye Rim. Hye Rim berkomentar Soo Hyun menjadi sangat sopan hari ini. Soo Hyun mengakui karena ingin menaikkan persentasenya. Hye Rim tersenyum mengejek, kalau Soo Hyun harus menarikan persentasenya sangat banyak sekali. Soo Hyun memilih tak membalas ungkapan Hye Rim dan memulai pelajaran

Menurutmu, apa yang mereka ajarkan di Pengantar Psikologi?” tanya Soo Hyun, Hye Rim menjawab Perasaan manusia
Neuron. Itu adalah sel otak. Kau mempelajari tentang aktivitas otak. Dalam psikologi, semua yang ada di dalam hati manusia sebenarnya tidak terjadi di hati. Itu terjadi di dalam otak. Dengan kata lain, aktivitas otak yang menentukan hati seseorang.” Jelas Soo Hyun
Oh... jadi karena itu, ada banyak hal yang berhubungan dengan biologi di buku ini. Aku tidak tahu itu, dan langsung melewatinya.” Kata Hye Rim sambil membalikan lembaran dengan gambar otak
Begitu juga halnya dengan tipe idealmu.” Ucap Soo Hyun lalu meminta Hye Rim mengulurkan tanganya. Hye Rim menatap Soo Hyun lalu mengulurkan tangan dan membiarkan Soo Hyun memegang tanganya.
Di saat peristiwa seperti ini tertanam di dalam otak kita, ribuan neuron akan bekerja. Lalu, hormon seperti norepinephrine akan diproduksi. Kemudian , detak jantungmu akan meningkat dan napasmu menjadi tidak beraturan Dan pupilmu juga melebar. Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari satu detik. Begitulah untukku.” Jelas Soo Hyun dengan saling menatap. Hye Rim binggung dengan penjelasanya,
Maksudku, ketika pertama kali aku melihatmu. Hormon apa yang saat ini diproduksi oleh tubuhmu?” tanya Soo Hyun, Hye Rim ingin melepaskan tanganya tapi Soo Hyun menahanya. 
Hormon canggung dan malu.” Jawab Hye Rim menarik tanganya dari genggaman Soo Hyun.
Soo Hyun bertanya apakah Hye Rim masih ingat saat mengatakan kalau ia menyukainya. Hye Rim dengan wajah gugup menganggukan kepala, Soo Hyun merasa sekarang saatnya Hye Rim memberikan jawabanya, keduanya saling menatap begitu lama. Hye Rim merasa belum.... Soo Hyun langsung menyela mengatakan kalau ia akan  mendengar jawabannya lain kali lalu cepat-cepat keluar dari perpustakaan, seperti sudah tahu penyataan cintanya akan ditolak.


Hye Rim duduk diatas tempat tidurnya merasa kesal karena sudah mengatakan hal itu pada Soo Hyun, padahal seharusnya mengatakan “yes” saja lalu memukul mulutnya sendiri karena merasa bodoh.
Kemudian ia mengingat saat Soo Hyun mengungkapkan perasaanya direstoran, dan wajah Soo Hyun yang ketus menyuruhnya untuk mengepel lantai dan terakhir kali ketika mengingatkan tentang pernyataan rasa sukanya di perpustakaan.
Tidak... aku tidak melihat ketulusan. Aku rasa itu semua hanya omong kosong.” Ucap Hye Rim yang bisa melihat dari mimik wajah Soo Hyun. 

Soo Hyun mondar-mandir dalam ruangan sambil mengumpat dan berpikir apa yang akan dilakukanya sekarang. Ji Ho melihat wajah Soo Hyun merasa gurunya itu sudah gagal lagi dalam melakukan pendekatan pada Hye Rim. Soo Hyun menegaskan bukan gagal karena semuanya belum berakhir.
Tapi... kenapa kau terlihat begitu senang?” tanya Soo Hyun melihat Ji Ho tersenyum sumringah. Ji Ho memilih untuk pamit pergi saja.
Mau ke mana kau? Kau bilang akan merapikan bahan-bahan penelitian.” Kata Soo Hyun, Ji Ho mengatakan kalau ada kesempatan datang maka akan  mengambilnya lalu segera pamit pergi. Soo Hyun hanya bisa berteriak memanggil asistenya. 

Hye Rim sedang membuat kopi binggung melihat Ji Ho tiba-tiba datang menemuinya. Ji Ho langsung bertanya apakah Hye Rim menyukai pria yang pintar. Hye Rim pikir tentu saja menyukai dibandingkan pria bodoh lalu menanyakan alasan Ji Ho bertanya seperti itu.
Ji Ho memberitahu IQ nya 210 lalu memperlihatkan pemain rubik dengan cepat bisa menyamakan semua sisinya. Hye Rim seperti anak kecil mengodanya dengan menepuk pantatnya dan berkomentar Ji Ho memang anak yang pintar. Ji Ho hanya bisa diam karena caranya tak berhasil, lalu meminta izin untuk mengambil fotonya.

Hye Rim memperbolehkanya, Ji Ho pun mengambil foto Hye Rim dengan gaya berbeda mulai berkomentar gayanya sangat keren sampai akhirnya memuju Hye Rim memang cantik.
Tapi, Noona... kapan kau akan mengganti bajumu ini?” tanya Ji Ho, Hye Rim binggung berpikir ada sesuatu di bajunya.
Bukan begitu... Karena kau terlihat sangat seksi...” kata Ji Ho keceplosan
Apa yang kau bilang? Anak kecil ini... Keluar sekarang” ucap Hye Rim mengusir Ji  Ho dengan melempar kotak tissue. 

Akhirnya Ji Ho pindah keruangan sisi lain cafe, sambil melihat foto Hye Rim merasa kalau memiliki videonya pasti lebih enak. Akhirnya ia mencari dalam tabnya dengan keyword “Drone” sebuah pesawat terbang tanpa awak. Yoo Rim masuk melihat Ji Ho dan berpikir stylenya kali ini tak aneh lalu duduk didekat Ji Ho. 
Hai! Bagaimana penampilanku? Aku terlihat beda, kan?”tanya Yoo Rim sudah mengubah cat rambutnya.
Wajahmu terlihat semakin bundar.” Komentar Ji Ho, Yoo Rim cemberut meminta Ji Ho berkomentar yang lain
Kau bertambah gemuk.” Kata Ji Ho, Yoo Rim hanya bisa menghela nafas dan mengajaknya untuk memulai wawancara saja sambil mengeluarkan kamera.
Ji Ho masuk sibuk melihat tabnya, Yoo Rim bertanya untuk apa Ji Ho mencari drone. Ji Ho mengatakan ingin memiliki yang bagus dan juga kuat, jadi bisa meletakkan kamera video yang bagus di dalamnya. Yoo Rim mengerti karena sekarang banyak pria seusia Ji Ho sedang tergila-gila pada benda itu tapi harganya mahal sekali. Ji Ho tahu dengan wajah sedih, Yoo Rim melihatnya sambil mempersiapkan wawancaranya. 

Dokter melihat dari rekam medis dari layar komputer, memberitahu Kankernya sudah menyebar ke kelenjar getah bening jadi perlu dioperasi. Prof Bae menatap dokte lalu tertawa seperti baru saja mendengar cerita lucu. Dokter terlihat binggung, Prof Bae pun meminta maaf atas sikapnya.
Rasanya seperti mendengar tentang kondisi orang lain, dan bukannya aku dan ini Rasanya sangat aneh.” Kata Prof Bae terlihat masih menahan tawanya. Dokter terlihat khawatir dan berpindah tempat duduk didepan temanya.
Dalam psikologi, ini disebut sebagai mekanisme pertahanan diri. Ini adalah reaksi tubuh ketika menghadapi situasi yang sulit dihadapi dalam usaha untuk melindungi diri sendiri. Aku tidak percaya akan mengalaminya sendiri. Ini Lucu sekali.” Ungkap Prof Bae
Dokter meminta Prof Bae dioperasi kalau tidak maka akan meninggal, Prof Bae berharap temanya tak memperlihatkan wajah kasihan padanya, karena  menurutnya keadaan seperti ini bukanlah hal yang serius dan hanya beprikir dirinya itu akan meninggal sedikit lebih dulu dari orang lain. Dokter mencoba membujuknya, Prof Bae tetap memutuskan tidak akan melakukan operasi.
Aku sudah memikirkannya sejak lama. Daripada berputus asa karena umurku yang tidak panjang lagi... aku akan melakukan semua yang tidak bisa kulakukan sebelumnya, dan meninggal dengan bahagia.” Jelas Prof Bae lalu keluar dari ruangan. Dokter mencoba menahanya, Prof Bae menegaskan dirinya itu masih waras dan tidak gila.
Sebelum keluar ruangan, dengan wajah bahagia mengajak temanya itu pergi ke klub, agar bisa seperti anak muda yang menari dengan bahagia. Dokter menatap sedih Prof Bae yang tersenyum menutupi penyakit yang dideritanya. 

Prof Bae duduk diruang tunggu rumah sakit lalu menangis, mengeluarkan semua kesedihan yang ditahan. Terdengar suara anak kecil yang tertawa, Prof Bae melihat seorang anak kecil yang tertawa duduk dikursi roda dengan tangan terinfus, ibunya mendorongnya dengan wajah tersenyum pula.
Ia seperti mulai menyadari tak boleh menangis dan kalah dari anak kecil yang sudah terkena penyakit. Teringat kembali ucapan Seung Chan saat memboncengnya di motor Wah, Anda sangat cantik! Anda seperti gadis penjual korek api di cerita itu! membuat dirinya tersenyum bahagia mendengarnya. 


Prof Bae menulis dalam bukunya di point ke sepuluh “Melihat aurora dari dalam igloo di Alaska. Lalu membalik lembaran sebelumnya, di point enam tertulis Pergi ke Las Vegas dan mempertaruhkan 10 juta won. Dihalaman paling depat tertulis judul “Bucket List” dan di nomor paling atas Menjadi dekat dengan Seung Chan

Lalu mengubahnya dengan kalimat Menjadi sangat sangat dekat dengan Seung Chan dengan senyuman bahagia melihat point ke dua Backpacking ke Machu Picchu di Peru lalu yang ketiga Mencoba semua macam bir di dunia dan mabuk sesukaku. Ke empat Belajar memainkan sonata milik Mozart yang paling mudah

Seung Chan baru saja selesai berkerja lalu akan pergi ke dapur, Hye Rim baru saja turun dari lantai tiga, dan sama-sama melihat. Hye Rim lebih dulu memberikan senyuman, Seung Chan membalasnya walaupun terlihat dingin setelah pertengkaran keduanya di dapur cafe. Hye Rim menatap sedih Seung Chan karena sikap yang berbeda.
Yoo Rim melihat kakaknya dilantai dua, dengan nafas terengah-engah bertanya apakah sudah mulai. Hye Rim binggung, Yoo Rim memberitahu tentang Pertandingan bisbol dan orang – orang sedang heboh lalu mengajaknya ke lantai tiga. 

Yoo Rim melihat tayangan pertandingan baseball akan mulai dan membuatnya sangat tegang, Hye Rim menonton TV tapi pikiran melayang pada ucapan Seung Chan di dapur yang membuat mereka bertengkar. “Oh iya, aku mendapat tawaran menjadi pelatih bisbol di SD. Belum ada keputusannya, tapi aku akan melakukan wawancara dulu.Cerita Seung Chan saat itu.

Hye Rim memilih keluar rumah dengan membawa ponselnya, Yoo Rim duduk di sofa sambil memainkan buah jeruk seperti bola base ball. Ponselnya berdering, melihat nama Hye Rim membuatnya menghela nafas sebelum mengangkatnya. Hye Rim bertanya apakah Seung Chan sedang menonton pertandingan baseball di TV. Seung Chan membenarkan.
Kau mendukung siapa?” tanya Hye Rim, Seung Chan pikir sudah pasti Tim Korea.
Aku mendukungmu dan berharap kau akan menang.” Kata Hye Rim membuat Seung Chan terdiam mendengarnya.
Baik. Aku akan melakukan wawancara dan pasti akan memenangkannya.” Ucap Seung Chan dengan senyuman sumringah, Hye Rim juga tersenyum bahagia mendengarnya. 

Soo Hyun baru keluar dari ruanganya, tiba-tiba Seung Chan berteriak memanggilnya dan langsung memeluknya, mengungkapkan seperti merasa dunia ini sangat indah. Soo Hyun kaget menerima pelukan dari adiknya, Seung Chan memberitahu Hye Rim mendukunya. Soo Hyun melepaskan pelukan adiknya bertanya apa sebenarnya maksud ucapanya.
Seung Chan mengatakan tidak bisa memberitahu karena rahasia, mengumpamakan kalau dunia ini hanya milik dirinya dan juga Hye Rim, lalu menepuk pundak kakaknya dan pergi dengan senyuman bahagia. Soo Hyun melirik sinis mendengar adiknya sudah mengunakan kata “kita” untuk dirinya dan juga Hye Rim, berpikir untuk mengeluarkan saja dari penelitianya. 

Hye Rim akan mengepel lantai, Ju Ni dengan pegawalnya masuk ke dalam cafe. Hye Rim pikir Ju Ni memiliki janji konsultasi jam 11 dan kenapa datang pagi sekali. Ju Ni berjalan mendekat dengan wajah dengki, merasa bukan urusanya. Hye Rim melotot marah karena Ju Ni bersikap tak sopan padanya. Ju Ni malah makin kesal mendengar Hye Rim memanggilnya “Hei”
Apa kau baru saja mengatakan "hei" padaku? Coba Lihat! Dia berkata tidak sopan padaku! Sepertinya perutmu terlalu besar hingga terlihat ke mana-mana.” Jerit Ju Ni mencari pembelaan
Yang benar adalah "hatimu terlalu besar" (sangat berani). Dasar bodoh!” kata Hye Rim dengan mata melotot
Kau berbicara seperti itu padaku, dan sekarang memanggilku bodoh Wah... Aku yakin setelah ini kau akan mengumpatku.” Ucap Ju Ni dengan nada tinggi.

Seung Chan menuruni tangga memanggil Hye Rim untuk makan dan naik kelantai dua, lalu dikagetkan dengan Ju Ni sudah datang pagi-pagi sekali ke klinik. Ju Ni mendengar Seung Chan akan makan Brunch langsung berlari mendekatinya karena menginginkan makannya itu. Tanganya langsung bergelendot dilengan Seung Chan.  Seung Chan berusaha melepaskannya mengatakan kalau itu hanya untuk staf diklinik saja. Ju Ni merengek agar diajak makan bersama, Hye Rim hanya bisa melonggo melihat Ju Ni benar-benar berlebihan. 


Ju Ni mencium aroma sosis, srambell eggs, dan roti panggang dengan bahagia mulai memakannya. Soo Hyun melirik sinis pada adiknya dan berbicara dalam hati Siapa yang menyuruhmu untuk mengajaknya juga?”. Seung Chan membalasnya dengan tatapan matanya dan menjawab dalam hati Dia merengek dan tidak mau melepaskanku, jadi aku harus bagaimana?Ju Ni makan sosis dengan gaya cantik untuk membuat para lelaki terpesona.
Hye Rim ingin mengambil mentega, Seung Chan dengan sigap memberikanya. Hye Rim dengan senyuman mengucapkan terimakasih, Soo Hyun sinis melihat tingkah adiknya mencari perhatian. Ju Ni melihat dua laki-laki didepannya, berubah jadi menjadi ganas cara makan sosisnya.

Soo Hyun melihat cara makan Ju Ni, berusaha mengalihkan kenapa Ju Ni datang pagi-pagi apakah memiliki masalah. Ju Ni dengan gaya genit mengatakan tidak ada tapi datang karena benar-benar memikirkan apa yang Soo Hyun katakan. Hye Rim melirik melihat gaya Ju Ni mencoba mengoda Soo Hyun.
Seung Chan melihat kue diatas meja, lalu bertanya apakah Ji Ho yang membawanya. Ji Ho membenarkan karena Hye Rim menyukainya lalu mengedipkan kedua wanitanya. Hye Rim binggung melihat mata Ji Ho berkedip dua-duanya.
Ji Ho mengatakan memberikan kedipan, dan kembali memejamkan matanya. Hye Rim pikir Ji Ho itu tak bisa mengedipkan satu matanya saja, Ji Ho mengakuinya lalu menutup satu matanya agar telihat bisa memberikan kedipan. Hye Rim menyuruh Ji Ho tak perlu melakukanya saja. Ju Ni menatap sinis melihat keduanya nampak dekat.
Seung Chan memberikan  perhatian dengan menuangkan air minum, Hye Ri memuji Seung Chan yang memilih bentuk gelas dengan corak yang bagus. Ju Ni tiba-tiba ingin muntah lalu tak sadarkan diri dilantai, semua mulai panik melihat Ju Ni tiba-tiba tak sadarkan diri. Soo Hyun menyuruh Ji Ho menelp ambulans.


Soo Hyun berusaha menyadarkan Ju Ni saat dibawa ke dalam rumah sakit, meminta untuk membuka mata apabila mendengarnya. Ju Ni membuka matanya, tapi kembali histeris ketika melihat Hye Rim ada didepanya, menyuruh untuk pergi dan jangan ada didepanya. Soo Hyun meminta Hye Rim menjauh, Hye Rim pun tak bisa mengantar Ju Ni pada sampai ruang rawat.
Di VIP Room, Soo Hyun keluar ruangan. Hye Rim menanyakan keadaan Ju Ni dengan wajah khawatir. Soo Hyun menceritakan Ju Ni berpura-pura pingsan agar bisa mendapat perhatian. Hye Rim sadar itu semua karan dirinya jadi ingin masuk kedalam dan bicara.
Soo Hyun menahanya, merasa itu bukan ide yang baik lalu menceritakan Saat ini  Ju Ni  sangat cemburu padanya jadi tidak akan mendengarnya dan tak peduli dengan apapun. Hye Rim menatap sedih melihat ke dalam hanya terlihat Ji Ho, Seung Chan dan managernya menunggu didalam. 

Ju Ni terbangun dari tidurnya, baru menyadari sedang ada dirumah sakit, lalu melihat Ji Ho tertidur didepanya. Ia bangun dari tempat tidurnya melihat Soo Hyun sedang berbicara di luar ruangan, perlahan ia mengambil ponsel Ji Ho ada diatas meja  dan mencari nomor  Hye Rim lalu menaruh kembali ponsel Ji Ho.
Dengan senyuman licik, Ju  Ni mengetik pesan dari ponselnya. Hye Rim sedang memberikan pesanan pada waiter, ketika akan kembali ke dapur ponselnya berbunyi, nomor dari yang berbeda dari Soo Hyun.
Ini Choi Soo Hyun. Aku meninggalkan catatan konsultasi Ju Ni di ruanganku. Bisakah kau bawakan ke tempat parkir rumah sakit untukku?

Soo Hyun dan Ji Ho sudah ada didepan lift, manager Ji Ho mengucapkan terima kasih atas pertolongan keduanya. Ketika masuk ke dalam lift, Soo Hyun memastikan apakah Ju Ni sekarang sedang tidur, Manager Ju Ni membenarkan dan akan membatalkan jadwalnya untuk besok jadi membiarkannya istirahat satu hari. Soo Hyun mengangguk mengerti, Ji Ho pun menekan tombol untuk turun.
Ju Ni mengintip dari pintu, melihat Managernya sedang berbicara dengan PD di telp membahas tentang jadwal Ju Ni esok. Ju Ni perlahan mengendap-ngendap dengan membawa kunci mobil dan melewati tangga darurat. 

Hye Rim sampai di parkiran mencari-cari Soo Hyun dengan berteriak memanggilnya. Mobil Sport kuning memberika lampu jatuh ketika Hye Rim lewat didepanya, Hye Rim merasakan silau ketika akan menelp Soo Hyun, Ju Ni keluar dari mobil, Hye Rim kaget melihat Ju Ni ada diparkiran menemuinya.
Kau datang secepat kilat karena Dokter memanggilmu.” Sindir Ju Ni, Hye  Rim menanyakan keadaan Ju Ni sekarang.
Kenapa kau harus peduli? Kau menyukai apa pun yang tidak memakai rok, kan? Kau sangat senang karena para pria sangat baik padamu, kan?” ucap Ju Ni, Hye Rim menjelaskan kalau Ju Ni salah paham dengan kalimat sopan. 
“Kau Memakai bahasa sopan, hah? Sejak kapan kau memakai bahasa yang sopan padaku? Dalam hati, kau pasti meremehkan aku! “ teriak Ju Ni dengan mendorong Hye Rim
Aku tidak pernah melakukannya. Aku sangat senang kalau kau cepat sembuh…” tegas Hye Rim
Ju Ni marah karena Hye Rim menganggapnya sakit dan juga gila. Hye Rim ingin menjelaskan, tapi Ju Ni terus menyerangkan karena Hye Rim begitu suka merayu para pria dan senang karena orang-orang memperlakukan seperti hantu. Hye Rim berteriak menyuruh Ju Ni tenang karena bukan itu  maksudnya. Ju Ni sekarang kesal mendengar Hye Rim mengunakan bahasa tak sopan padanya lalu memberikan tamparannya.
Hye Rim kaget menerima tamparan dari wanita yang jauh lebih muda darinya, dengan lirikan sinis. Ju Ni malah menantang Hye Rim yang  berani menatapnya seperti itu. Hye Rim masih tak percaya Ju Ni baru saja menamparknya, Ju Ni membenarkan kalau ia menamparnya dan merasa tak bersalah sama sekali, lalu berpikir Hye Rim akan membalaskanya dan menyodarkan pipinya untuk ditampar, dengan berteriak histeris. Hye Rim tanpa banya kata-kata langsung menamparnya. Ju Ni kaget menerima tamparan dari Hye Rim dengan memegang pipinya.
Kenapa kaget? Apa Kau kira aku tidak akan bisa melakukannya? Baiklah, aku bukan konsultanmu atau dokter. Jadi, ayo kita lakukan. Siapa yang mendekati para pria terlebih dulu? Itu adalah Kau. Siapa yang mengatakan omong kosong dan berpura-pura? Itu Kau!” tegas Hye Rim dengan mata melotot, mendorong tubuh Ju Ni seperti yang dilakukan pertama kali.

Kapan aku pernah melakukannya? Mana buktinya?” kata Ju Ni tak merasa melakukanya.
Meminta bukti seperti ini menunjukkan betapa kekanak-kanakannya kau. Ada banyak saksi mata, jadi bukti apa yang ku maksud? Apa kau sangat menginginkan perhatian orang-orang seperti itu? Apa kau harus bertindak sejauh itu, sampai berpura-pura muntah atau pingsan?” teriak Hye Rim kembali mendorong Ju Ni, akhirnya Ju Ni berteriak histeris melihat perlakuan Hye Rim padanya.
Yang benar saja! !! Kau yang pertama bersikap tidak hormat. Beraninya kau, pada orang yang setidaknya lebih tua 10 tahun darimu? Berlutut sekarang.dan minta maaf.” Teriak Hye Rim  memerintahkanya. Ju Ni kembali menjerit histeris karena Hye Rim menganggapnya orang gila
Kau tidak gila. Tapi, kau tergila-gila dengan perhatian dari orang lain. Baiklah, katakan saja begitu dan kau memerlukan semua perhatian karena kepribadianmu yang buruk. Tapi kenapa kau bersikap seperti itu kepada orang-orang?” kata Hye Rim
“Itu Tidak hanya padaku. Tapi, kudengar kau pergi berlibur setelah manajer-mu meninggal! Kenapa tidak menjadi manusia dulu, sebelum menjadi artis? Kau sebut dirimu manusia, ketika kau memilih berlibur daripada memberi hormat pada seseorang yang sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun denganmu?” teriak Hye Rim dengan mata melotot
Apa yang kau tahu? Aku tanya, apa yang kau tahu?” jerit Ju Ni seperti orang gila

Aku tahu semuanya kecuali yang tidak kau ketahui. Wajar bagi seseorang untuk menangis, bahkan untuk anjing peliharaanmu tapi itu bahkan bukan anjing, itu manajer yang bersamamu selama bertahun-tahun. Tapi kau mengabaikannya, dan...” kata Hye Rim dan terhenti dengan pengakuan Ju Ni.
Ju Ni mengaku sangat menyukai Managernya, tapi karena dirinya adala seorang bintang jadi pria itu itu tak bisa menyukainya dan membuat harga dirinya terluka, jadi ia selalu menggoda dan mengganggunya setiap saat tapi managernya itu tidak pernah menunjukkan kalau menyukainya. Hye Rim terdiam mendengar pengakuan Ju Ni
Dia sangat sabar, tidak peduli apa yang kulakukan Dan dia menyukai lagu lama yang konyol dari orang seperti John Denver jadi harga diriku semakin terluka, jadi aku lebih sering mengganggunya, tapi......” cerita Ju Ni lalu berjongkok sambil menangis 
Si bodoh itu... meninggal pada kecelakaan hari itu! Dia meninggal bahkan sebelum aku sempat mengatakan perasaanku padanya” ucap Ju Ni dengan menangis histeris. Hye Rim benar-benar Shock mendengar cerita Ju Ni. 

Flash Back
Polisi datang ke TKP, melihat mobil sudah dalam keadaan terbalik, ambulance dan pemadam pun sudah ada ditempat. Ju Ni menangis histeris melihat Managernya yang sudah bersiba darah dibagian kepalanya, Petugas mencoba mengeluarkan dari mobil.
Ju Ni terus memanggil managernya berusaha untuk meraih tanganya, tapi tangan Manager terlihat sangat lemah dan tak bisa meraihnya. Ju Ni ditarik untuk menjauh, saat itu juga Managernya tak sadarkan diri ketika dibawa ambulance. Ju Ni terus menjerit histeris melihat managernya dibaa ambulance.
Dari dalam mobil terdengar suara lagu yang mengalun, tape dalam mobil memutar sebuah lagu John Denver - Annie's Song dengan album tergeletak bersama dengan pecahan kaca. 

Ju Ni dengan wajah pucat menceritakan mengalami kecelakaan di bulan November, sejak saat itu ketika bulan November datang  seluruh tubuhnya terasa sakit dan jika mendengar Annie's Song milik John Denver, langsung hilang kesadaran.
Bukan masalah besar jika manajer-ku meninggal.. dia pria yang sangat kaku, dan sama sekali tidak cocok denganku.” Cerita Ju Ni, Soo Hyun mendekat memberikan sapu tangan karena Ju Ni mulai menangis.
Lagipula, aku yang lebih kejam padanya, bahkan mencium pria lain. Aku tidak ingin mengakui kalau aku menyukainya. Aku masih belum bisa percaya. Fakta bahwa dia sudah tidak ada lagi di dunia ini...” cerita Ju Ni akhirnya menangis mengeluarkan rasa sedih yang selama ini ditahan olehnya. Soo Hyun menepuk pundak Ju Ni, merasakan apa yang dirasakan pasiennya.

Hye Rim melihat dari balik dinding, matanya ikut menangis merasakan yang dirasakan Ju Ni mencintai seseorang tapi tak bisa diungkapkan dan orang itu akhirnya pergi untuk selamanya tanpa tahu perasaan yang sebenaranya.
Do Kyung. Walaupun begitu, aku iri pada Ju Ni yang bisa menyukai seseorang dengan sangat dalam seperti itu. Gumam Hye Rim seperti sedang berbicara dengan anaknya. 

Soo Hyun menjelaskan "More exposure effect" adalah semakin sering kita melihat sesuatu atau seseorang maka semakin besar kemungkinan untuk menyukainya. Hye Rim duduk disamping Soo Hyun menatapnya dalam-dalam.
Apa kau pikir Ibu juga bisa? Bisakah aku meletakkan semuanya dan menyukai seseorang?” gumam Hye Rim bertanya pada anaknya, tentang pria yang duduk disampingnya.
Soo Hyun merasakan Hye Rim terus menatapnya, memberitahu kejadian itu sangat familiar, maka bisa efektif, lalu menyentuh tangan Hye Rim dengan jari telunjuknya agar segera menulis dalam catatanya. Hye Rim tersadar, Soo Hyun kembali memperlihatkan wajah sombongnya karena bisa mengoda Hye Rim sekarang.
Hye Rim tersadar dan mengucapkan terimakasih sudah mengajarinya lalu menawarkan untuk membuatkan kopi dan buru-buru berdiri dari bangkuknya. Soo Hyun menolak karena sudah terlalu banyak minum kopi, terdengar suara dari laptop Hye Rim, ia melihat ada pesan email masuk, Hye Rim pikir hanya spam jadi tak perlu dipikirkan. Soo Hyun memberitahu email dari Do Kyung, Hye Rim kembali duduk melihat laptopnya untuk membaca surat dari anaknya.

Ibu, ini Do Kyung. Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini? Aku baik-baik saja. Ayah dan bibi juga menjagaku dengan baik. Tulis Do Kyung dengan memperlihatkan foto dengan ayah dan ibu tirinya. Hye Rim terlihat sedih, Soo Hyun ikut melihat dari belakang.
Tapi... akhir-akhir ini aku terus memikirkanmu. Apakah kau tidak kesepian, setelah membolehkanku tinggal dengan Ayah? Jangan bilang kalau kau baik-baik saja. Bahkan saat bersamaku, kau menonton film-film melodrama sendirian.
Hye Rim menyadari Soo Hyun sedari tadi ikut membacanya, Soo Hyun berpura-pura melihat Hye Rim dan anaknya sangat mirip tapi berharap Do Kyung tidak punya kepribadian seperti ibunya, lalu meninggalkan ruangan. Hye Rim kembali membaca dengan lirikan sinis melihat Soo Hyun yang pergi.
Oh ya. Ayah bilang dia merasa ada seorang pria yang menemanimu ke bandara. Apa itu benar? Kata Ayah, pria itu sangat keren. Apa hubungan kalian? Aku penasaran orang seperti apa dia. Kalau boleh, kirimkan fotonya padaku.
Do Kyung. Aku juga penasaran. Orang seperti apakah dia. Gumam Hye Rim melirik ke lantai atas 
Soo Hyun sedang membuat catatan dari buku yang dibacanya, Ji Ho mengetuk pintu memberikan sebuket bunga kalau itu untuk Soo Hyun, lalu bertanya apakah sekarang Soo Hyun memiliki pacar. Soo Hyun melihat sebuket bunga mawar dan didalamnya ada amplop, sebuah tiket untuk menonton Happy Musical: Gadis di Toko Rokok. Wajahnya terlihat berpikir, menduga-duga siapa yang mengirimkan tiket itu padanya.

Soo Hyun duduk di dalam tempat pertunjukan dengan disamping, depan  dan belakang berpasangan semua. Lalu mencari-cari siapa sebenarnya yang diam-diam mengajaknya untuk menonton dari pintu masuk. Lampu mulai dipadamkan, Soo Hyun berusaha mengikuti pertunjukan.
Ketukan sepatu terdengar mendekat, Soo Hyun melihat sepatu heels lalu mengangkat wajahnya. Hye Rim memberikan senyuman lalu duduk disampingnya, Soo Hyun sempat kaget dan memberikan senyumannya. Hye Rim menyindir dirinya tidak pernah membuat seseorang menonton pertunjukan musikal sendirian. Soo Hyun pun tersenyum karena Hye Rim tak membalas sikapnya telah membuatnya untuk menonton sendirian.
Hye Rim tak bisa menutupi rasa bahagianya bisa menonton bersama Soo Hyun, di atas panggung memperlihatkan pertujukan gadis yang memasang tanda dilarang merokok pada didepan rumahnya. 

Setelah menonton, Soo Hyun menanyakan alasan Hye Rim tiba-tiba  ingin menonton theater . Hye Rim menceritakan  Sewaktu kuliah, bergabung di klub drama dan Pemeran utamanya tadi adalah juniornya, tapi ketika sekolah dirinya yang lebih sukses dikala itu.
Aku mendapat peran ratu, dan dia menjadi seorang pelayan.” Cerita Hye Rim bangga
Ratu? Maksudmu seperti Marie Antoinette?” tebak Soo Hyun, Hye Rim terkejut Soo Hyun bisa mengetahuinya.
Soo Hyun mengerti Hye Rim hanya berakting seperti waktu SMA, lalu dengan sopan mengajak Ratu untuk makan malam dengan menu prancis dan memberikan pilihan antara choucroute, bouillabaisse, atau flamiche. Hye Rim mengangkat ketiga jarinya, Soo Hyun berpikir Hye Rim ingin makan ketiganya dengan wajah berbinar-binar.

Soo Hyun menatap ceker ayam didepanya dan menegaskan tidak bisa memakannya. Hye Rim membujuk Soo Hyun untuk mencoba satu saja, karena Do Kyung sangat menyukai tempat ini dan meminta untuk mengirimkan foto padanya, lalu menyodorkan ceker ayam agar Soo Hyun mencobanya.
Jika aku memakan ini, aku merasa ada ayam berlarian di dalam tubuhku.” Kata Soo Hyun menunjuk dadanya.
Aku bahkan memakan hati angsa untukmu.” Keluh Hye Rim kesal
Kau memakan itu untukku? Kau tidak tahu betapa mahalnya foie gras?” kata Soo Hyun kesal
Dibandingkan dengan itu, kaki ayam jauh lebih enak. Lagipula Makanan di sini murah dan juga enak, selain itu makannan ini juga mengandung kolagen.” Jelas Hye Rim lalu membiarkan Soo Hyun tak mau makannya karena akan memakan semuanya.
Soo Hyun melihat Hye Rim makan dengan lahap ceker ayam sampai meninggalkan tulangnya, Hye Rim benar-benar menikmati ceker ayam yang benar-benar lunak dimulutnya. Soo Hyun hanya bisa memalingkan wajah heran dengan wanita yang ada didepanya. 

Beberapa saat kemudian, Soo Hyun hanya meminum soda sementara Hye Rim masih asik makan ceker ayam. Soo Hyun menyindir sudah berapa banyak ceker ayam yang dimakanya, Hye Rim memberitahu baru saja memesan dua porsi lagi, jadi sayang kalau tak dimakan habis, lalu merasakan mulutnya terasa pedas.
“Coba Lihat? Ayam-ayam itu membalas dendam padamu. Mereka itu meninggalkan jejak kaki di sekitar mulutmu.” Ejek So Hyun, Hye Rim mengerti kalau ada saus dimulutnya dan mencoba membersihkanya.
Kau hanya membuatnya tambah parah. Jangan seperti itu...” kata Soo Hyun langsung menyentuh bibir Hye Rim untuk membersihkanya, Hye Rim terdiam menerima perhatian Soo Hyun seperti didrama yang sering ditontonya.
26 Desember, pukul 10.30 malam. Akhirnya, reseptor sarafku mulai bekerja. Gumam Soo Hyun
bersambung ke episode 5

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


7 komentar:

  1. Soo hyun sebenarnya membersihkan saos dibibir hye rim itu karna penelitian atau tangan nya memang sudah refleks (yang tandanya soo hyun tulus)..?

    BalasHapus
  2. Uhm.. :-) ;-) sprtx s0o hyun mulai suka nc sma hye rim

    BalasHapus
  3. Lanjut ters mbak tetap semangat

    BalasHapus
  4. Masukkan komentar Anda...kegnya udh mulai suka tu soo hyun

    BalasHapus
  5. Pemeran managerny jyuni yg meninggal itu sapa y?

    BalasHapus