Selasa, 23 Februari 2016

Sinopsis Cheese In The Trap Episode 13 Part 1

In Ho memainkan pianonya dengan irama cepat tanpa ada rasa, seperti mengambarkan amarahnya. Prof Shim masuk kedalam dengan mengumpat kalau In Ho itu sedang mabuk sambil melihat wajah anak muridnya yang babak belur. In Ho menyembuyikan wajahnya, Prof Shim mengatakan tentang tangan In Ho. Dengan gugup In Ho mengatakan tanganya baik-baik saja. Prof Shim mengangkat tangan In Ho, mengejek ada seorang pianis yang suka  kelayapan dan berkelahi, sambil memukul memperingatkan kalau nanti tangan In Ho bisa cedera lagi.
In Ho berteriak sakit dan memberitahu tanganya baik-baik saja dan tidak terluka sambil mengerak-gerakan jarinya. Prof Shim menasehati In Ho kalau nanti tanganya cedera lagi, maka apa yang akan dilakukanya. In Ho pun mengucapkan permintaan maafnya. Prof Shim merasa In Ho tak perlu meminta maaf karena semua ini menurutnya adalah masa depanya, dan In Ho tak boleh ceroboh seperti sekarang, sambil mengejek anak murinya itu menyedihkan.
Apa kau menganggapku orang yang menyedihkan juga?” kata In Ho sedih
Apa ada orang yang menganggapmu menyedihkan? Wow, orang itu pintar sekali menilai orang, yah” ejek Prof Shim .
“Baiklah.... Aku akan memperbaiki hidupku sekarang, dengan ikut kompetisi dan memenangkannya. Aku akan memenangkan hadiahnya dan menyebut namamu di sana.” Kata In Ho penuh semangat.
Aku senang mendengar semangatmu itu. Apa kau sudah memilih musikmu?” tanya Prof Shim, In Ho memilih Piano Chopin Sonata no. 3.
Chopin terlalu susah. Masih banyak musik yang mudah lainnya. Kau hanya punya waktu 1 bulan. “ kata Prof Shim
Kau ini, sebagai pria aku harus melakukan yang sulit seperti ini.” kata In Ho, Prof Shim mengumpat In Ho memang  sombong sekali dan meminta untuk meyakinkanya. Keduanya tersenyum dan memulai latihan. 

Hong Sul bersandar di dinding sambil bergumam dengan wajah binggung Sunbae pasti sangat pusing sekarang, Apa aku berhenti mengajar Baek Ini Ho saja ? Tapi, akulah yang duluan menawarkan diri. Pasti dia akan menganggapku jahat nanti.
In Ho melihat Hong Sul hanya berdiri didepan gedung, bertanya apa yang sedang dilakukanya. Hong Sul kaget mengaku  baru saja mau masuk, lalu menanyakan keadaan In Ho masih penuh luka lebam. In Ho malah bertanya balik pendapat Hong Sul tentang wajahnya. Hong Sul bertanya apakah In Ho sudah mengobati lukanya.
Kau harusnya marah karena aku memukul pacarmu, kenapa malah mengkhawatirkanku?” keluh In Ho kesal lalu masuk ke dalam perpus lebih dulu
Di perpustakaan, In Ho menanyakan tentang pelajaran matematika, Hong Sul pun berusaha menjelaskan kalau namanya itu  "x" adalah akar kuadrat dari "a". In Ho berusaha mengerti kalau itu namanya adalah akar kuadrat.

Hong Sul melihat ponselnya, pesan dari Yoo Jung masuk membuatnya tersenyum karena menanyakan apakah ia sudah makan. Ia pun membalas kalau sudah makan dan bertanya balik, lalu kembali menjelaskan soal yang sedang dikerjaan In Ho pada buku latihanya.
Ponsel Hong Sul kembali bergetar, In Ho melirik Hong Sul yang sibuk membaca pesannya. Hong Sul kembali tersenyum membaca pesan dari Yoo Jung, Aku sedang di jalan setalah makan siang di luar.” Hong Sul membalas Bagaimana dengan wajahmu? Rekan kerjamu pasti terkejut.
In Ho berusaha kembali mengerjakan latihanya, tapi getaran ponsel Hong Sul membuatnya kembali melirik . Hong Sul membaca pesan Yoo Jung Semua karyawan wanita menjadi heboh. Aku kan populer di sini. Lalu Kau sedang apa? Ia terlihat binggung membalasnya karena sedang bersama In Ho, Akhirnya menyuruh In Ho untuk tetap mengerjakan tugasnya dan keluar dari perpustakaan. In Ho terlihat tak bersemangat ketika melihat Hong Sul yang keluar meninggalkanya. 


Hong Sul berbicara di telp, menceritakan sedang membantu Baek In Ho belajar di perpustakaan, karena sudah berjanji, lalu bertanya apakah Yoo Jung tak masalah dengan hal itu. Yoo Jung mengatakan tak suka sama sekali. In Ho keluar dari perpus melihat Hong Sul sedang berbicara di telp mengucapkan permintaan maafnya.
“Lalu Aku harus bagaimana lagi?” ucap Hong Sul binggung
Tak apa, kau kan sudah berjanji. Jika kau tak menepatinya, kau pasti akan khawatir lagi. Jadi Kau bisa tetap membantunya.” Kata Yoo Jung tersenyum seperti mengoda pacarnya.
Tapi, aku hanya mengajarnya saja, tidak lebih dari itu” ucap Hong Sul, In Ho yang mendengarnya memilih untuk pergi meninggalkan perpus.

Oh ya, aku penasaran tentang sesuatu hal. Berapa banyak karyawan wanita yang bekerja di perusahaan itu? Pasti banyak, 'kan?” kata Hong Sul terdengar cemburu, Yoo Jung mengodanya dengan melihat kebanyakan pria dan mengatakan jumlahnya ada 58.000 orang. 

Hong Sul kembali ke perpus dan melihat In Ho sudah ada ditempat duduk semula, secarik kertas bertuliskan “Aku pulang duluan.” Sambil duduk dikursinya merasa In Ho seharusnya memberitahunya tadi.
In Ho berjalan keluar kampus dengan wajah melas, lalu berteriak kalau ia harus latihan untuk pertandingan dan memilih jalan yang lainya. 

Bo Ra membahas Oh Young Gon sudah tak datang membuatnya jadi semangat ke kampus. Hong Sul juga tak melihatnya seharian. Eun Taek pikir Young Gon kembali mengambil cuti dan itu membuat akan lama lulus dari kampus.
Kenapa mereka serius sekali? Ujian akhir kan masih lama? Bikin emosi saja.”keluh Bo Ra sambil membuka tutup gelas kopinya.
Oh, ujian kelulusan, ya? Mereka memang harus dapat nilai bagus agar bisa wisuda. Hong, kau tak ikut ujian juga? Walaupun masih junior, kau tetap bisa ikut dengan senior. ” kata Eun Taek melihat banyak senior yang sedang belajar serius.
Aku juga mau, Tapi, apa aku punya waktu untuk belajar? Kudengar, ujian kelulusan di jurusan kita yang tersulit.” Ucap Hong Sul khawatir
“Hei.... nilaimu bahkan akan lebih tinggi dari Sang Chul dan Do Hyun nanti.” Kata Bo Ra, Hong Sul pun mengajak Bo Ra ikut juga bersamanya, Bo Ra dengan senyuman manis menolaknya.

Eun Taek diam-diam mengambil gambar Bo Ra yang sedang berbicara dengan Hong Sul. Bo Ra tahu selama ini selalu setuju dengan Hong Sul, tapi untuk yang satu ini tak bisa, karena ingin membuka sebuah bisnis, ditambah lagi mereka sebentar lagi akan ada magang.
Hong Sul pikir memang Bo Ra tak perlu ikut dan merasa temannya itu memang sangat beruntung. Bo Ra ingin mengambil ponsel Eun Taek yang sedari tadi menatap ponselnya sambil tersenyum-senyum sendirian, Eun Taek menegur Bo Ra yang ingin mengambil ponselnya.
Bo Ra merasa Eun Taek juga sering mengambil ponsel miliknya. Eun Taek memperingatkan Bo Ra untuk tak melakukan lagi, karena harus melindungi privasinya. Bo Ra mengumpat Eun Taek itu hanya pesuruh yang tak perlu privasi, Eun Taek membawa semua barang-barangnya dan pamit pergi. 


Bo Ra merasa sikap Eun Taek akhir-akhir ini sangat aneh, Hong Sul bertanya aneh seperti apa. Bo Ra menceritakan Eun Taek yang selalu meninggalkanya, tak membalas pesannya bahkan tak menelp seperti biasanya dan bertanya-tanya ada apa dengan Eun Taek.
Hong Sul menduga Eun Taek itu sudah punya pacar, Bo Ra merasa itu tak mungkin dan Hong Sul itu sudah tahu seperti apa Eun Taek itu. Hong Sul rasa itu mungkin karena Eun Taek terlihat tampan, tinggi dan seorang pria sejati jadi pasti banyak wanita yang mengejarnya. Bo Ra menyuruh Hong Sul pacaran saja dengan Eun Taek, Hong Sul mengumpat Bo Ra sudah gila karena ia sudah memiliki pacar. 


 Hong Sul berjalan ke stasiun bawah tanah, melihat In Ho sedang duduk bersandar dikursi padahal seharusnya pergi berlatih. In Ho melihat kearah kereta datang, tak sengaja melihat Hong Sul yang menatapnya. Hong Sul pun mendekati In Ho, dan In Ho pun sempat memalingkan wajahnya dan terlihat canggung saat melambaikan tangan pada Hong Sul.
Keduanya saling berdiam diri didepan  pintu kereta, Hong Sul akhirnya menanyakan alasan In Ho yang meninggalkanya di perpustakaan, menurutnya jika bukunya dibakar lalu memakanya akan percuma saja hasilnya, bahkan masih suka membolos. In Ho pikir Hong Sul tak perlu mengkhawatirkan pelajarannya karena bisa melakukannya sendiri.
Apa dia menolaknya karena dia tak enak padaku? Sikapnya jadi aneh sekarang. Tapi, kenapa? Apa mungkin... gumam Hong Sul menatap In Ho
Apa karena aku?” tanya Hong Sul, In Ho berpura-pura tak mengerti dengan ucapan Hong Sul
Aku sedang tak punya waktu karena sibuk latihan untuk kompetisi.” Cerita In ho
“Jadi Kau mau ikut kompetisi? Kapan? Kontes seperti apa?” tanya Hong Sul bersemangat. In Ho mengatakan kalau itu hanya kompetisi skala kecil saja.
Memangnya itu penting? Kenapa kau tak memberitahuku?” kata Hong Sul semakin bersemangat.
In Ho melirik melihat Hong Sul yang terlihat sangat bersemangat, Hong Sul bertanya kenapa In Ho menatapnya. In Ho mengatakan bukan apa-apa, Suara terasa canggung, Hong Sul pun hanya bisa cemberut karena sikap In Ho yang dingin padanya. 

In Ho berbaring di kamarnya, dalam otaknya seperti merasakan Hong Sul yang memanggilnya “Oppa” lalu memegang kepalanya agar bisa tidur sambil memejamkan matanya. Tapi suara Hong Sul semakin bergema ditelinganya untuk memanggilnya “Oppa” Akhirnya ia memiringkan badannya, rengekan suara Hong Sul yang memanggil “In Ho Oppa” semakin terdengar.
Ia pun memiringkan badanya kesebelah kanan, ingatan bermain piano dengan Hong Sul kembali muncul, senyumannya terlihat sangat lebar. Akhirnya ia bangun dan mengumpat dirinya itu sudah gila, lalu mencoba menyadarkan dirinya dengan push up. 

In Ha keluar dari kamar memarahi adiknya yang tak bisa tidur saja kalau tidak maka kulitnya akan tambah rusak. In Ho terus saja push up tak peduli dengan terikan kakaknya. In Ho pikir adiknya itu sudah gila setelah berkelahi dengan Yoo Jung, makanya sekarang berolahraga di malam hari supaya bisa berkelahi kembali untuk menang.
Siapa bilang aku kalah?” teriak In Ho yang masih push up
Kau memang kalah dalam hal fisik dan finansial juga, bahkan kalah tentang cinta. Hei.... Pecundang, orang yang kesepian dan juga bermuka jelek. Apa Hong Sul tahu bahwa kau menyukainya? Mungkin dia masih bias terus bertemu denganmu. Tapi, saat dia tahu, maka tamat sudah dirimu itu.” Ejek In Ha, In Ho duduk menyuruh kakaknya diam dan tidur saja.
Kau bahkan tak menyangkalnya lagi sekarang. Oh, kau sudah jatuh cinta? Apa kau mau kakakmu ini membantumu?” kata In Ha menawarkan bantuan, In Ho langsung melembar bantal agar kakaknya tidur saja daripada ngoceh terus.
In Ha bisa menghindar dengan menutup pintu kamarnya, lalu membuka kembali merasa adiknya itu pasti membutuhkan bantuannya dan mengejek wajahnya yang banyak memar. In Ho mengumpat kakaknya sudah gila dan memperingatkan kembali agar tak keluar dari kamarnya lagi. In Ha tak kalah berteriak agar adiknya itu diam, tak membuat kegaduhan. Akhirnya In Ho berjanji tak akan membuat kegaduhan dengan kembali pusa up, tapi In Ha malah mengejeknya dengan berteriak menghitung pusa up yang dilakukan adiknya. In Ho pun mengejar adiknya yang tak akan mau masuk kamar. 

Hong Sul berbicara di ponsel dengan senyuman sumringah akan segera datang, In Ho tiba-tiba datang menyindir Hong Sul yang terlihat bahagia sekali dan melihat pasti akan pergi berkencan. Hong Sul bertanya kenapa In Ha ada disekitarnya. In Ha menegaskan bahwa itu lingkunganya juga jadi Hong Sul tak bisa marah.
Kau selalu saja mencurigaiku, dan kau pasti membenciku, benarkan? Aku sangat tak suka dengan tatapanmu itu. Dan aku baru sadar sekarang, kau ini orangnya pemarah juga,  Ahh.... Karena itulah Jung menyukaimu.” Ejek In Ha
“Karena kebetulan kita bertemu, aku akan memberitahumu sesuatu. Aku tak suka caramu memberitahuku tentang Yoo Jung  Dan jangan berbohong lagi bahwa kau ini pacarnya. Akan jadi masalah jika mereka percaya padamu.” Tegas Hong Sul dengan mata melotot

“Ternyata Kau berani juga, ya? Hei.... Sepertinya kau salah paham. Bahkan jika kau bisa dekat dengan mereka berdua, sampai kapan kau bisa bertahan? Kau pasti merasa sudah jadi Cinderella sekarang ini. Bahkan Kau merasa seperti pemain drama yang diperebutkan 2 pria.” Sindir In Ha dengan membuka kacamatanya.
Tapi, tunggu. Memangnya sudah berapa lama kau mengenalnya? Aku sudah 15 tahun bersama mereka. Sudah banyak pasang surut yang kami lalui, kau bahkan tak pernah melaluinya. Jadi, tak usah sombong.” Kata In Ha memperingati sambil memegang syal Hong Sul.
Ya, aku tahu. Mereka bertiga memiliki masa lalu yang tak kutahu  Dan aku tak punya ruang di sana. Tapi, aku lah yang berada di sisi Yoo Jung Sunbae sekarang. Gumam Hong Sul
Sebuah hubungan yang lama belum tentu bahagia. Kau memang teman lamanya, tapi apa benar hubungan kalian baik? Sepertinya tidak.” Balas Hong Sul menyindir

Kau mau mati, ya? Kau pikir kau siapa? Apa kau tahu sudah berapa wanita sombong yang pernah kutampar?” kata In Ha dengan mata melotot
Hong Sul merasa tak perlu menjawabnya, Mungkin hubungan mereka bertiga  baik saat kalian masih kecil dan apakah In Ha tahu arti sebuah pukulan dalam usia dewasa seperti ini, lalu menantang In Ha untuk memukulnya saja. In Ha pun tak takut akan memukul Hong Sul, tanganya terhenti karena melihat hidung Hong Sul sudah mimisan sebelum dipukul.
Dengan wajah panik In Ha meminta Hong Sul tak memberitahu Yoo Jung, karena belum memukulnya, dan mengejek hidung Hong Sul itu aneh lalu buru-buru pergi. Hong Sul pun menyadari kalau hidungnya mimisan.


Yoo Jung masuk ke dalam cafe, melihat Hong Sul terus menatap kaca. Hong Sul langsung menutup wajahnya dan tertunduk malu. Yoo Jung melihat Hong Sul yang mimisan, lalu tersenyum. Hong Sul heran Yoo Jung malah tersenyum, padahal seharusnya khawatir melihat pacarnya yang mimisan.
Aku khawatir, Tapi, lucu saja. Lihatlah wajahmu yang disumpal dengan kapas” kata Yoo Jung dengan senyuman.
Tidak lucu, kau nya yang lebih lucu. Coba lihat di cermin.” Balas Hong Sul menunjuk bekas memar yang masih memerah.
Memarnya sudah hampir hilang” kata Yoo Jung menutupi wajahnya dengan syal. Hong Sul pun melihat memang memarnya hampir hilang, lalu keduanya tertawa bersama.
Aku bisa berhenti untuk mengajar Baek In Ho. Dia akan ikut kompetisi bulan  ini jadi  dia akan sibuk latihan.” Cerita Hong Sul, Yoo Jung pikir itu bagus lalu bertanya apa lagi yang aka diceritakannya.
Aku berjanji untuk jujur. Gumam Hong Sul tak ingin menyimpan masalahnya sendiri.
Aku bertemu kakak Baek In Ho tadi. Kami tinggal di kompleks yang sama, jadi pasti akan bertemu. Dia selalu saja memberitahuku tentangmu dan sangat galak. Sejujur, aku tak begitu menyukainya.” Cerita Hong Sul,
“Ahh. Begitu, yah.... Maaf, aku akan menyuruhnya berhenti mengganggumu dan memberitahunya nanti.” Kata Yoo Jung sambil menurunkan syalnya, Hong Sul pun mengangguk mengerti
Aku merasa senang sekarang. Kau berjanji akan jujur padaku, dan kau sungguh menceritakan semuanya.” Ungkap Yoo Jung dengan senyuman bahagia
Kita memang berjanji untuk saling jujur. Tapi, aku merasa sedang mengadukan orang lain saja.” Kata Hong Sul yang tak biasa menceritakan masalahnya.
Yoo Jung pikir tak ada yang salah karena memang lebih suka pacarnya mengadukan hal yang terjadi disekelilingnya dan bertanya apakah masih ada lagi yang ingin diceritakanya. Hong Sul mengatakan sudah tak ada lagi, Yoo Jung merasa ingin mendengar cerita yang lainya. Hong Sul memilih untuk memesan makanan saja. Yoo Jung mengodanya, Hong Sul ingin menceritakan yang lainya. 


Keduanya berjalan bersama, Hong Sul tahu Yoo Jung sudah magang dan bertanya apakah ia mau ikut ujian kelulusan juga. Yoo Jun menceritakan sudah mengikutinya tahun lalu. Hong Sul baru tahu Yoo Jung sudah melakukanya dan memberitahu baru saja ingin mengikutinya.
Jika aku lebih cepat selesai, maka akan lebih memudahkanku juga Tapi, entah aku punya waktu atau tidak untuk belajar.” kata Hong Sul,
Apa kau mau meminjam kisi-kisi dan catatatnku?” tanya Yoo Jung menawarkanya.
Sunbae, kau punya kisi-kisi ujiannya?” ucap Hong Sul tak percaya
Aku juga punya catatan untuk ujian akhir.” Kata Yoo Jung
Hong Sul tak percaya Yoo Jung masih punya juga ujian akhir, dengan memegang lengan pacarnya merasa sangat beruntung. Yoo Jung melihat Hong Sul terlihat sangat senang sekali. Hong Sul mengaku sangat senang karena bisa memiliki catatan dari pacarnya.

Yoo Jung merasa kalau Hong Sul suka karena bisa mendapatkan kisi-kisi ujian, Hong Sul menyangkalnya sambil menyandarkan dikepalanya. Yoo Jung pikir tak jadi memberikanya saja, dengan melirik sinis mengatakan tak mau memberikanya. Hong Sul melepaskan peganganya merasa Yoo Jung itu marah padanya dan mengejek ada pria yang cepat sekali marah. Yoo Jung merasa tak pernah seperti itu.
Hong Sul mengingatkan Yoo Jung sering seperti itu, selalu marah apapun yang terjadi, dan teringat kembali "penderitaannya" saat-saat itu. Yoo Jung pikir bukan hanya Hong Sul yang menderita karena menurutnya Hong Sul Yang selalu saja membesar-besarkan masalah, gampang sekali emosi dan selalu membuatnya menunggu.
Sunbae, kau telah berubah. Kau sekarang sudah banyak bicara. Aku tak akan menderita lagi, Aku ingin selalu bertengkar manja seperti ini denganmu. Kita harus lebih sering melakukannya.” Kata Hong Sul dengan senyuman merangkul lengan  Yoo Jung kembali
Aku tak akan meminjamkannya padamu.” Ucap Yoo Jung sinis
Kumohon! Apa yang harus kulakukan agar kau mau meminjamkannya?” rengek Hong Sul sambil menyadarkan kepalanya pada lengan Yoo Jung.
Tergantung dari sikapmu.” Kata Yoo Jung dengan senyuman bahagia memeluk pacarnya. 

In Ho keluar restoran membuang sampah, Ponselnya berbunyi dari nomor yang tak dikenal. Suara berbisik memangilnya, In Ho tahu itu suara  Sang Keun, teman lamanya lalu bertanya untuk apa menelpnya. Sang Keun memberitahu In Ho berada dalam bahaya, karena Boss datang ke Seoul.
Kenapa dia di Seoul sekarang?” tanya In Ho
Kau ingat dengan Bos besar yang kau selamatkan dulu?” kata Sang Keun, In Ho mengingat-ingat
Bos besar itu sedang mencarimu, jadi Bos sedang gila sekarang. Dia memanggil dan memukulinya. Sekarang dia ada di Seoul, mencarimu In Ho, aku takut. Sekarang Bos sudah datang, kau harus sembunyi. ” Cerita Sang Keun berbisik ketakutan dan langsung menutup telpnya.
In Ho berteriak memanggil Sang Keun, lalu membungkuk memikirkan apa yang harus dilakukanya sekarang. Lalu menepuk tanganya agar bisa tenang dan menduga Bosnya itu pasti akan pergi ke tempat les yang dulu tapi tak mungkin tahu alamatnya sekarang. Dengan sangat yakin keduanya tak akan tahu jadi dirinya tak perlu takut, lalu kembali masuk kedalam restoran. 

In Ho terdiam melihat Hong Sul yang berjalan memegang perutnya yang terasa sakit, Hong Sul melihat In Ho ada didepanya mencoba mendekat tapi In Ho malah berjalan mundur.
Apa kau latihan hari ini?” tanya Hong Sul, In Ho mengangguk dengan berjalan mundur.
Hei!!!... Apa kau marah padaku?” tanya Hong Sul, In Ho menyangkal sambil berjalan menengok kebelakang.
Lalu, kenapa sikapmu aneh belakangan ini? Apa yang terjadi?” kata Hong Sul

In Ho pura-pura tak mengerti dan memilih untuk kabur, langkahnya terhenti melihat Sang Keun dan Bosnya bertanya pada mahasiswa yang lewat dan ditanganya ada lembaran brosur saat menjadi model di tempat les bahasa inggris.
Dengan cepat In Ho menarik Hong Sul pergi, Hong Sul binggung kenapa In Ho menariknya, In Ho langsung menutup mulut Hong Sul agar tak bicara dan bersembunyi dibalik dinding. Hong Sul meminta In Ho melepaskan tanganya, tapi tangan In Ho terus membekap mulut Hong Sul agar tak bicara.
In Ho mengintip melihat Sang Keun yang berbicara dengan bosnya kalau dikampus itu tak ada yang mengenal In Ho.Bosnya yakin ada banyak mahasiswa dikampus jadi pasti ada yang mengenalnya. Setelah keduanya pergi, In Ho melepaskan tanganya meminta maaf karena membuat Hong Sul tak bisa bernafas. Hong Sul terlihat terus memegang perutnya, In Ho panik melihat Hong Sul terlihat kesakitan, bahkan berkeringat sangat banyak dan memintanya untuk tetap sadar. 


In Ho berlari mengendong Hong Sul untuk pergi kerumah sakit, Hong Sul seperti sudah tak sadarkan diri. Sesampai di IGD, lansung meminta tolong dokter untuk membantunya. Dokter pun meminta In Ho membaringkan di atas tempat tidur, In Ho menceritakan sudah menutup mulutnya, Dokter bertanya apakah mencekiknya.
Beberapa saat kemudian, In Ho melihat wajah Hong Sul yang pucat masih tidur, Tanganya sudah di infus. Pelahan In Ho ingin memegang tangan Hong Sul yang dicintainya, tapi suara Hong Jun yang memanggilnya. 

Ayah dan ibu Hong Sul datang serta adiknya, dengan wajah panik. Hong Jun menanyakan keadaan kakaknya, In Ho mengatakan sudah baikan. Ibu Hong Sul bertanya apa yang terjadi pada anaknya. In Ho mengatakan dari dokter, kalau Hong Sul pingsan akibat stress dan sakit di bagian perutnya sudah menghilang jadi tak perlu khawatir dan harus beristirahat selama 2 hari maka akan menjadi baikan.
Ayah Hong Sul pun mengucap syukur, lalu  mengeluh Kebiasaan buruk dari ibunya menurun pada Hong Sul, karena tahun lalu pernah terjadi juga. Ibu Hong Sul mengaku jantungnya sampai copot mendengar kabar anaknya. Hong Jun melihat wajah In Ho yang pucat dan menebak itu karena mengkhawatirkan kakaknya. In Ho menyuruh Hong Jung diam saja.
Ibu Hong Sul yakin In Ho pasti terkejut juga, lalu mengucap syukur karena sudah menemani anaknya dan berterimakasih. In Ho merasa tak masalah, dengan senyumanya. Hong Sul terbangun dari tidurnya dan terkejut melihat seluruh anggota keluarganya datang ke rumah sakit. Ibu Hong Sul memarahi anaknya yang sakit tapi tak mau pergi kerumah sakit.

Ayah Hong Sul binggung anaknya bisa mengalami stress sampai pingsan, dan menyuruh untuk istirahat dan melupakan semuanya. Hong Sul mengangguk mengerti, Hong Jun pikir harus menelp Yoo Jung. Hong Sul mengatakan akan menelpnya nanti, karena sekarang masih jam kerja. Tuan Hong pikir itu tak penting karena sekarang Hong Sul sedang ada dirumah sakit dan menyuruh Yoo Jung segera datang.
Ibu Hong Sul merasa anaknya bisa melakukan sendiri jadi mereka tak perlu ikut campur dan membuat Hong Sul semakin stress. In Ho yang mendengarnya memilih untuk keluar dari rumah sakit. Dengan wajah lesu, mengedumel karena Sang Keun dan Bosnya bisa tahu tentang kampusnya, lalu berpikir kalau nanti mereka berdua bisa tahu tempat kerjanya sekarang.
“Jika Bulu Anjing terluka karena aku, kau mungkin akan mati juga.”gumam In Ho memikirkannya. 


In Ho langsung mendapatkan tendangan didadanya, lalu mengumpat kesal karena tak memberitahu sebelum ingin memukulnya. Bos menegaskan kalau bersikap seperti itu karena tingkah In Ho, sambil menepuk kepala In Ho mengakui dulu adalah anak buah yang paling difavoritkan, tapi sekarang malah mengkhianati dan mencuri uangnya.
Kaulah yang seharusnya pintar menyimpan uangmu itu.” Kata In Ho mendongkan kepalanya. Bosnya langsung menendang kakinya.
Kau sudah kurang ajar ? Sudahlah.... Kau bisa kembali padaku. Aku akan melupakan semua pinjamanmu itu.” Ucap Si Bos menarik rambut In Ho
“Uang 5 juta won itu ‘kan? Aku akan membayarnya.” Kata In Ho melepaskan tangan Bosnya
“Kau bilang  5 juta won? Kau pasti tak pintar menghitung. Ingat bunganya, semunya 10 juta won. Aku memberimu diskon karena kita sudah berteman lama, mengerti?” kata si bos
In Ho pikir bosnya itu bercanda, Bosnya itu pun menantang In Ho pergi ke Busan karena Bos besar sedang menunggunya, menurutnya jika mereka bisa bersatu maka mereka bisa mengambil alih daerah itu, Karena 5 atau 10 juta, tak akan mampu membayarnya. In Ho menegaskan bukanlah gangster dan sangat yakin pasti akan membayarnya.
Si Bos pun memberikan waktu 1 minggu dan akan menunggunya, jika tidak maka harus ikut dengannya, tapi melihat In Ho suka sekali menetap di Seoul karena menyukai seorang wanita di sini. In Ho melirik sinis, Si Bos pun mengungkapkan kalau sangat menyukainya lalu mengancam untuk tidak macam-macam karena bisa menghancurkan semua orang yang ada di dekat In Ho dan mengingatkan 10 juta won dalam satu minggu, setelah itu mengajak Sang Keun pulang sambil menendang dada In Ho. Sang Keun dengan wajah ketakutan pamit pulang pada In Ho. 


Hong Sul sudah berganti pakaian rumah sakit, dengan menghela nafas  merasa terlalu memaksakan diri dan mungkin juga karena kelelahan. Lalu mengirimkan pesan pada Yoo Jung.
Sunbae, aku sedang di rumah sakit karena sakit maag,  Aku akan dirawat selama sehari
Yoo Jung langsung menelp Hong Sul, dengan wajah panik menanyakan keadaanya. Hong Sul tersenyum karan Yoo Jung menelpnya. Yoo Jung menanyakan apakah keluarganya dirumah sakit, Hong Sul mengatakan hanya sendirian. Yoo Jung akan keluar kantor mengatakan akan segera datang ke rumah sakit.
Seniornya menahan Yoo Jung memberitahu akan ada rapat satu jam lagi, dan meminta untuk menyiapkan materinya. Yoo Jung heran karena tiba-tiba ada rapat. Seniornya memberitahu atasan mereka ingin memeriksa  semua bahan pemasaran bulan ini karena sepertinya ada yang salah, dan memberitahu Direktur akan ikut rapat jadi meminta Yoo Jung memeriksa semuanya, Yoo Jung pun tak bisa menolaknya dengan statusnya sebagai anak magang. 

Aku tiba-tiba saja harus rapat,  mungkin akan terlambat. Aku akan ke sana secepat mungkin. Maaf…” tulis Yoo Jung
Tidak apa-apa. Tak usah buru-buru.” Balas Hong Sul
Hong Sul menekan nama In Ho dalam ponselnya, seperti ingin menghubunginya karena belum mengucapkan terimakasih. Lalu merasakan ada In Ho menyembunyikan sesuatu, tapi menurutnya tak perlu memikirkan saja dan memilih untuk berbaring.
Ya, aku harus menghindarinya demi Sunbae. ini adalah keputusan yang benar. Tapi, dia yang selalu membantuku dalam masa-masa sulit. Apa aku harus menghindarinya demi Sunbae? gumam Hong Sul 

In Ho pulang kerumah dan melihat buku-bukunya sudah berantakan, lalu mencari di lembaran buku pianonya ada sebuah amplop tapi uangnya sudah hilang. Dengan wajah kesal pasti diambil oleh kakaknya, ia pun mengambil buku tabunganya hanya ada 500ribu Won saja.
Bagaimana ini? Apa aku harus pindah dan mencari uang? Lalu bagaimana dengan Baek In Ha?” kata In Ho dalam keadaan terdesak masih memikirkan kakaknya yang mengambil uangnya.
Pesan dari Hong Sul masuk Terima kasih untuk hari ini. Tapi, apa semuanya baik-baik saja? In Ho ingin membalas dengan menuliskan  “Untuk apa kau bertanya?” tapi diurungkan niatnya. 

Yoo Jung memegang erat tangan Hong Sul yang tertidur pulas, Hong Sul membuka matanya melihat Yoo Jung sudah ada didepanya dan berusaha untuk duduk. Yoo Jung menanyakan apakah Hong Sul sudah baikan. Hong Sul mengangguk kalau keadaanya sudah baikan.
Benarkah? Aku sangat khawatir padamu dan hampir pingsan tadi.” Kata Yoo Jung bersikap berlebihan
Kenapa kau terdengar seperti Eun Taek?” ejek Hong Sul dengan senyumanya.
Aku sudah tenang melihatmu sudah bisa tersenyum. Tapi Aku serius sangat khawatir tadinya dan hampir bolos rapat tadi.” Cerita Yoo Jung
Kau bisa dipecat jika bolos rapat.” Goda Hong Sul, Yoo Jung mengatakan tak mungkin dipecat dari kantor ayahnya. Hong Sul tak bisa membalasnya.
Yoo Jung bertanya dimana keluarganya, Hong Sul menceritakan sudah menyuruh ibunya pulang karena mungkin bisa kurang tidur dan harus membuka restoran esok. Yoo Jung tahu dari Hong Jun kalau In Ho yang membawa Hong Sul kerumah sakit.
Hong Sul terlihat sedikit gugup, menceritakan tak sengaja bertemu ketika dikampus, ketika perutnya terasa sakit. Yoo Jung merasa bersyukur karena In Ho sudah membantu pacarnya, tapi tetap merasa kesal karena seperti tak berguna ketika Hong Sul kesusahan maka tak ada disampingnya. Hong Sul bisa mengerti karena Yoo Jung sedang berkerja.
Keduanya sama-sama tersenyum, Yoo Jung meminta Hong Sul bergeser sedikit. Hong Sul merasa tempat tidurnya sudah sempit, Yoo Jung tetap menyuruh Hong Sul bergeser. Dengan malu-malu Hong Sul bergeser. Yoo Jung pun naik keatas tempat tidur dan membiarkan Hong Sul berbaring diatas lengannya.
Hong Sul meminta Yoo Jung berhati-hati dengan infusnya, Yoo Jung membaringkan tubuhnya dengan memegang tangan Hong Sul yang di infus. Ia tahu pacarnya itu merasa tertekan karena ulah Son Min Soo dan Oh Young Gon serta Baek In Ha.
Maafkan aku.... Aku tak akan membuat menderita lagi. Mulai sekarang... Aku akan selalu berada di sisimu.” Kata Yoo Jung berjanji, Hong Sul menatap Yoo Jung tak percaya, Yoo Jung mengangguk untuk menyakinkan. Hong Sul pun tersenyum dengan tidur dipelukan Yoo Jung. 


In Ho menunggu didepan rumah sakit dengan memegang bungkus obat. Hong Sul keluar sambil menghela nafas karena harus segera pergi ke kampus. In Ho menatap Hong Sul yang sedang merasa bahagia merasakan  cuaca sedang bagus. Hong Sul melihat In Ho yang sudah menunggunya, In Ho pun mendekat memberikan bungkus obatnya.
Ayahmu memintaku untuk memberikannya padamu. Kau pasti mau langsung ke kampus.” Kata In Ho yang mengingatkan untuk minum penghilang sakit maagnya, setelah itu pergi begitu saja.
Kau tak mau ke kampus juga?” tanya Hong Sul
Aku harus pergi ke suatu tempat.” Kata In Ho dan kembali berjalan pergi.
Apa Dia jauh-jauh ke sini hanya untuk memberiku ini?” ucap Hong Sul bertanya-tanya lalu berteriak mengucapkan terimakasih pada In Ho. Tapi In Ho terus berjalan tanpa menoleh.
Dia bahkan tak mengucapkan selamat tinggal. Dia itu kenapa sebenarnya?” kata Hong Sul kebinggungan.
bersambung ke part 2  

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar