Sabtu, 27 Februari 2016

Sinopsis Madame Antoine Episode 11 Part 1

Hye Rim dengan semangat mengebu-ngebu mengatakan akan memberinya rasa obat sendiri. Ji Ho bertanya apa maksudnya, Hye Rim menegaskan kalau dirinya itu sebagai pengawas dari tahan kedua dan subjek tes adalah Choi Soo Hyun, jadi ia yang akan melakukan eksperimen pada Choi Soo Hyun.
Ji Ho dengan wajah ketakutan bertanya bagaiaman cara Hye Rim melakukanya. Hye Rim memberitahu akan melakukan sama seperti yang dilakukan Soo Hyun padanya dengan penuh dendam, yaitu dimulai dengan melakukan tes FMRI. 

Suara Soo Hyun yang serak-serak basah terdengar dari ponsel, Yoo Rim mencoba untuk tidur berteriak pada kakaknya, karena suara yang sangat mengganggu dan harus mendengarnya setiap malam, berpikir kakaknya itu ingin menderita lagi di tangan Soo Hyun. Hye Rim menyuruh adiknya diam karena semua ini adalah rencananya. Yoo Rim bertanya rencana apa.
Di atas tempat tidurnya, Soo Hyun dengan mata terpejam menyanyikan lagu untuk Hye Rim, sambil menguap bertanya apakah Hye Rim sudah bahagia sekarang. Hye Rim dengan senyuman bahagia mengungkapkan suara Soo Hyun yang sangat bagus dan meminta satu lagi lagi. Yoo Rim mengeluh kakaknya tetap meminta satu lagi. Soo Hyun dengan mata terpejam tak percaya Hye Rim tetap ingin meminta menyanyikan lagi.
Hye Rim merasa benar-benar sangat bahagia senang mendengar Soo Hyun menyanyi. Soo Hyun melihat jam sudah pukul 3 pagi dan mengajaknya untuk tidur, Hye Rim langsung marah karena sebelumnya Soo Hyun sudah menyanyi lebih lama, menurutnya rasa cinta Soo Hyun sudah mulai berkurang. Soo Hyun pikir tak seperti itu, Hye Rim akhirnya memutuskan untuk tidur saja lalu menutup telpnya 

Hye Rim mengirimkan pesan  [ Soo Hyun, kau mau makan makan siang bersama hari ini?]  lalu menghitung mundur dari sepuluh sampai enam, pesan masuk ke dalam ponsel Soo Hyun. Baru saja ingin membalasnya, telp Hye Rim masuk lebih dulu, Soo Hyun tersenyum menerima telp Hye Rim.
“Kau sudah melihat pesanku, kan? Lalu mengapa tidak kau tidak membalasnya?” ucap Hye Rim dengan nada marah, Soo Hyun mengatakan baru saja akan membalasnya.
Ini sudah sepuluh detik dan Itu terlalu lama. Aku merasa kira cintamu untukku telah berkurang.” Kata Hye Rim ketus lalu menutup telpnya, Soo Hyun binggung dengan sikap Hye Rim tiba-tiba marah-marah. 

Hye Rim masuk ke dalam ruangan Soo Hyun menanyakan kue yang baru dipanggangnya tadi. Soo Hyun dengan bangga memperlihatkan piring yang sudah kosong, kalau rasanya sangat enak. Hye Rim menunjuk sisa remah dipiring dan mengomel kalau Soo Hyun itu tak memakanya berarti cintanya itu sudah kurang padanya.
Tapi aku makan semua. Apakah aku harus menjilat mangkuk atau sesuatu hal yang lainya? Kau pikir Aku ini anjing?” jerit Soo Hyun kesal
Mengapa kau marah padaku?”kata Hye Rim
Aku tidak marah, aku hanya terperangah! Mengapa kau bertindak seperti ini padaku akhir-akhir ini? Kau sudah sering marah padaku tentang hal yang sebenar-benarnya sepele ...” kata Soo Hyun
Apa maksudmu, sepele? Ini Hal-hal yang sangat penting! Jika Kau benar-benar menyukaiku, Aku akan sudah dinyanyikan untukmu sepanjang malam dan bahkan sampai kua harus berangkat kerja! Kau pasti sudah menjawab semua pesan yang aku kirimkan segera dan  kau tidak akan meninggalkan remah-remah sisa kue pada piring...” kata Hye Rim
“Sejujur, dengan karakterku, Aku sudah melakukan lebih dari cukup untuk menunjukkan perasaanku padamu” tegas Soo Hyun

Tidak, itu jauh di bawah apa yang akuharapkan darimu! Cinta kita sedang sekarat dan Seperti, benar-benar mengerut.” Kata Hye Rim sinis
Soo Hyun menanyakan apa yang dinginkan Hye Rim sekarang, karena tak mungkin bisa membuka hati dalam tubuhnya dan menunjukan perasaanya. Hye Rim mengatakan ingin Soo Hyun menunjukanya, Soo Hyun bertanya apa yang harus ditunjukan. Hye Rim mengatakan ingin Soo Hyun memperlihatkan otaknya, karena selama ini selalu mengatakn bahwa perasaan seseorang itu bukan didalam hati tapi diotak.
Soo Hyun bertanya cara memperlihatkan otaknya, apakah ia harus membuka otaknya dan memperlihatnya. Hye Rim mengingatkan ada sesuatu yang berguna yaitu  tes fMRI, Soo Hyun menegaskan tes itu bukan sesuatu yang dapat digunakan untuk alasan pribadi. Hye Rim merasa Soo Hyun itu takut kalau mendapatkan persentase rendah dan juga takut pada kenyataanya bahwa Soo Hyun tidak menyukainya akan terbongkar. Soo Hyun mencoba menyakinkan kalau tidak seperti itu.
Hye Rim merasa sudah tahu semuanya kalau cinta mereka sudah mati dan benar-benar sudah membeku seperti es. Soo Hyun langsung memanggil Hye Rim ketika akan pergi, Hye Rim membalikan badanya, So Hyun bertanya apakah ini satu-satunya cara membuatnya agar percaya. Hye Rim menegaskan hanya itu saja, mereka harus melakukan scan fMRI dan ia ingin mengkonfirmasi bagaimana perasaan Soo Hyun sebenarnya.


Soo Hyun masuk tabung untuk melakukan FMRI, Seung Chan tiba-tiba datang bertanya apakah sudah mulai. Ji Ho binggung Seung Chan datang juga, Seung Chan mengatakan ini  menyenangkan dan menurutnya itu sebuah kesempata untuk melihat apa yang terjadi pada pikiran kakaknya nya yang tidak biasa. Hye Rim bertanya apa yang harus mereka lakukan, apakah mereka langsung memperlihatkan fotonya sekarang.
Ji Ho memberitahu mereka sudah mulai menempatkan foto dalam komputer dan yang pertama kelauar adalah foto selebriti. Seung Chan tahu foto yang pertama Anne Hathaway, hasilnya 42 persen, wajah Hye Rim langsung cemberut. Foto kedua hanya terlihat bagian pundak, hasilnya 62%.
Foto wainta ketiga terlihat bagian samping yang terbuka dan terlihat bentuk payudara, Mata Soo Hyun sedikit berkedip dan hasilnya. Seung Chan dan Ji Ho menjerit karena hasilnya 85 persen. Seung Chan yakin apabila mereka menampilkan lebih lama lagi maka grafiknya lebih tinggi. Hye Rim makin cemberut dengan mata sinis melihat Soo Hyun.

Yoo Rim juga dimasukan ke dalam jejeran foto, hasilnya hanya 20%, dan foto Prof Bae juga dipasang, melihat Foto gurunya membuat Soo Hyun bergumam Ini foto Prof Bae Mengapa dia menempatkan ini di sini? dan tatapanya mengarah bawah memikirkan tentang nasib Prof Bae.
“Ngomong-omong, aku bertanya-tanya Apa dia baik-baik saja dengan kankernya. Dokter itu mengatakan bahwa kankernya berkembang cukup sedikit. Gumam Soo Hyun tanpa sadar foto sudah berubah jadi foto Hye Rim
Bukankah Sebaiknya dia menerima operasi?  Jika kita kehilangan waktu kritis untuknya maka akan terjadi......” gumam Soo Hyun tersadar kalau foto sebelumnya itu Hye Rim dan tak sempat melihatnya karena sudah berubah dengan foto lain. Hye Rim melotot melihat hasilnya hanya 11% dimonitor, Seung Chan dan Ji Ho melirik dengan wajah ketakutan. Hye Rim langsung melotot penuh amarah. 


Soo Hyun keluar dari ruangan menanyakan keberadaan Hye Rim, Seung Chan dengan wajah mengejek memberitahu kalau Hye Rim benar-benar marah dan pergi begitu saja dan meragukan kakaknya itu benar-benar menyukai Hye Rim dengan tulis.
Akhirnya Soo Hyun keluar dari ruangan FMRI, berlari dilorong, Hye Rim berdiri didepan lift. Soo Hyun langsung berteriak meminta Hye Rim tak salah paham, karena sebelumnya pikiranya sedikit terganggu jadi tidak melihat fotonya dengan benar. Hye Rim melirik sinis, lalu berubah menjadi tersenyum mengatakan kalau itu yang dipikirkanya, karena tak masuk akal rasa kasih sayangnya itu hanya sebesar 11 persen.
Soo Hyun menyakinkankan kalau melakukan dengan benar maka hasilnya akan, Hye Rim mengingatkan perkataan Soo Hyun sebelumnya, kalau tidak mungkin untuk memanipulasi hasil fMRIs. Soo Hyun terlihat kebinggungan dan berusaha menyakinkan kalau sebelumnya memang sebelumnya pikiranya merasa terganggu.

Hye Rim pikir Soo Hyun tidak perlu membuat alasan,  menurutnya tak mungkin Soo Hyun memikirkan setiap hari dan tak pedudli seberapa banyak Soo Hyun menyukainya dan berkomentar cukup bersyukur mendapatkan nilai 11 persen.
Hye Rim.... Aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku mulai rileks karena  melihat wajah Yoo Rim dan kemudian foto Dr. Bae muncul, dan kemudian....” kata Soo Hyun berusaha menjelaskan tapi ditepuk oleh Hye Rim  seperti memukul.
Tidak apa-apa! Aku hanya sedikit cemburu Rachel McAdams, dan semua! Mungkin aku harus mulai berpakaian sedikit skimpier juga.” Kata Hye Rim dengan senyuman walaupun hatinya dongkol, lalu pamit pergi saat masuk kedalam lift dengan menyindir mengucapkan terimakasih nilanya itu 11 %
Soo Hyun tak bisa menahanya, Hye Rim dengan penuh amarah merasa semua sudah menjadi kenyatan kalau cinta mereka benar-benar sudah mati sambil mengumpat Soo Hyun si brengsek. 


Hye Rim menemui adiknya yang sedang mengedit, bertanya apakah ia memiliki teman yang cantik, seperti sosok wanita yang sempurna. Yoo Rim bertanya alasan kakaknya bertanya seperti itu. Hye Rim menegaskan ingin membuat Soo Hyun sedikit tergoda, karena ia ingin membayar semua yang dilakukan Soo Hyun padanya.
Yoo Rim setuju, menurutnya mereka butuh dua wanita, Hye Rim merasa tidak bisa melakukan sebanyak itu karena  tidak memiliki uang untuk membayarnya tapi hanya ingin membuat Soo Hyun tergoda lalu dicampakan begitu saja ketika sudah jatuh cinta, karna menurutnya sangat terlalu dengan hasil FMRinya hanya 11 persen.
Akhirnya Yoo Rim melihat ponselnya untuk mencari wanita yang mulus dan cantik, lalu menunjukan satu foto. Hye Rim melihat tidak begitu cantik karena Soo Hyun itu sangat peduli dengan penampilan. Yoo Rim mencari foto wanita yang lain, Hye Rim melihat wanita tidak memiliki kulit yang putih. Yoo Rim kesal kakaknya itu terlalu banyak memilih dan mencari foto yang lainya.

Hye Rim melihat foto yang ketiga, Yoo Rim memberitahu temanya itu model dan pernah main film walaupun hanya sekali, ditambah sangat tertarik dengan psikologi. Hye Rim melihat teman Yoo Rim terlalu cantik dan takut kalau nanti Soo Hyun benar-benar jatuh cinta pada wanita itu. Yoo Rim kesal dengan keinginan kakaknya, sebenarnya ingin membuat Soo Hyun jatuh cinta pada wanita itu atau tidak.
Aku ingin dia hanya mencintaiku dan tidak jatuh cinta orang lain bahkan jika seorang gadis secantik Rachel McAdams membuatnya tergoda” akui Hye Rim
“Kau mengatakan itu, jadi mengapa kau ingin menggunakan seorang gadis cantik?” kata Yoo Rim
Apa yang harus aku lakukan jika ia benar-benar jatuh cinta pada wanita itu?” ucap Hye Rim khawatir, Yoo Rim merasa kakaknya itu hanya ingin seseorang seperti Rachel McAdams untuk mengoda Soo Hyun. 


Soo Hyun datang ke sebuah gedung, menyapa seorang teman yang akan menikah dan sudah lama tak bertemu. Pria berjas itu senang melihat Soo Hyun datang padahal berpikir tidak akan datang karena tahu pasti sangat sibuk. Teman yang lain merasa Soo Hyun pasti akan datang karena mereka adalah teman SMA.
Lalu memberitahu teman yang menikah itu sekarang adalah Direktur dari  di Youngjin Group. Soo Hyun tak percaya menurutnya temanya itu sudah naik pangkat dengan cepat. Teman yang lain merasa tak pernah berpikir saat SMA tapi ternyata temanya itu bisa berakhir dengan nasib yang baik sekarang, bahkan sangat pandai dalam bermain sepak bola, berkomentar dua temanya yang satu seorang Ph.D dari Harvard dan juga direktur sekarang dan meminta agar memberikan koneksi juga.
Si teman yang akan menikah merasa belum memiliki kekuatan seperti itu, pembawa acara dari dalam memberitahu Upacara akan segera dimulai, jadi meminta para tamu untuk segera duduk. Calon pengantin pun pamit lebih dulu dan akan bertemu denganya nanti. Teman Soo Hyun mengaku sangat iri melihat temannya itu. 

Calon pengantin pria sudah berjalan ke atas panggung, Pembawa acara  mengatakan akan memulai upacara. Seorang pria  berjas dan kacamata hitam masuk ke dalam ruangan, si calon pengantin melihat pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya, setelah itu menembak dengan tangan.
Si Pria langsung jatuh dan berteriak seperti baru terkena tembakan, semua yang ada didalam ruangan langsung berlari ke atas panggung. Pria itu melihat orang berkacamata hitam tertawa mengejeknya lalu keluar ruangan. Soo Hyun melihat temanya yang bernama Tae Hwa mengerutkan dahi, tanpa ada alasan tiba-tiba merasa seperti tertembak

Seorang wanita menyapa Hye Rim yang sudah menunggu di cafe. Hye Rim melotot panik melihat si wanita yang ternyata benar-benar cantik. Wanita itu  bertanya apakah memang benar, kalau wanita yang didepanya kakak Yoo Rim. Hye Rim dengan wajah gugup membenarkan dan mengucapkan terimakasih karena sudah mau datang menemuinya. Wanita itu pun merasa Hye Rim bisa berbicara dengan nyaman karena lebih tua.
Ya. Itu harus menyenangkan,  karena kau begitu muda.” Komentar Hye Rim dalam hati.
Aku sudah mendengar dari Yoo Rim, tapi tidak tahu semua rincian. Tepatnya Apa yang harus aku lakukan ?” tanya teman Yoo Rim
Oh ... kau  harus mendekati seorang pria secara alami dan membuatnya  jatuh cinta padamu” jelas Hye Rim
Oh.. Itu Dr. Choi Soo Hyun, kan? Itu sangat bagus, Aku penggemarnya” kata Teman Hye Rim bersemangat
Dia bahkan penggemar? Haruskah saya beralih saja, meskipun agak terlambat dalam permainan? gumam Hye Rim agak khawatir 
Jika memang itu dia, aku mungkin hanya membuat dia jatuh benar-benar hati padaku dari kepala sampai kaki, Dia tidak berkencan siapa pun sekarang, kan?” ucap teman Yoo Rim.
Hye Rim mengatakan Soo Hyun tak memiliki pacar.  Teman Yoo Rim pun mengerti dan akan mencobanya. Hye Rim mengungkapkan kalau Teman adiknya sangat sempurna untuk eksperimentnya. 

Soo Hyun mewawancarai temanya bertanya Apakah hal seperti kemarin sering terjadi. Temanya mengangguk, kalau sebelumnya sesekali terjadi tapi sekarang jauh lebih sering. Soo Hyun menanyakan gejalanya. Temanya menceritakan mendapatkan sesak nafas dan dadanya terasa tak nyaman, membuatnya sulit untuk bernapas dan jantungya berdetak sangat cepat.
“Melihat dari gejala, tampaknya seperti gangguan panik. Apakah kau sudah pergi ke dokter?” tanya Soo Hyun, temanya mengaku sudah beberapa kali.
“Kau tidak bisa hanya melihat dengan ringan saja, Memiliki gangguan kepanikan berarti bahwa kau memiliki aktivitas otak yang tidak teratur. Misalnya, alarm keamanan hanya menyala jika pencuri datang dan akan mati ketika kucing lewat. Itua adalah jenis gangguan kepanikan, kau harus mendapatkan obat dan juga terapi” jelas Soo Hyun
Aku tahu... Tapi pil hanya bisa efektif sementara saja. “ ucap Teman Soo Hyun

Soo Hyun pikir temanya itu mengalami sesuatu yang membuatnya stress dalam kehidupanya, Temanya menceritakan banyak hal yang harus dilakukan dengan perusahaan, dikarenakan dirinya menjadi direktur diusia muda, dan semakin tinggi levelnya membuatnya menerima banyak tekanan.
“Orang yang membantuku dipromosikan terus mengatakan bahwa ia percaya padaku  tapi aku merasa sesak napas setiap kali dia melakukan itu. Aku tetap memiliki kekhawatiran bahwa aku tidak akan dapat untuk memenuhi harapan mereka” cerita Teman Soo Hyun
“Aku yakin gejalamu itu akan sedikit berkurang jika kau mengurangi pekerjaan dikantantir, apakah kau tidak ingin bermain sepak bola lagi? Kau itu cukup baik di olahraga itu.” saran Soo Hyun
Teman Soo Hyun mengaku sangat sibuk lalu merasa sesak napas lagi sambil menepuk-nepuk dadanya, lalu meminta segelas air. Soo Hyun pun keluar ruangan untuk mengambil air minum, setelah Soo Hyun pergi, temanya berjalan kearah meja kerja mengambil gambar dari berkas diatas meja dan juga piagam yang didapat Soo Hyun di pajang dalam raknya. 


Ji Ho keluar dari lift masuk kedalam ruangan yang sedang sibuk, dengan memberanikan diri menanyakan keberadaan Yoo Rim. Lalu ia pergi ke lobby melihat Yoo Rim sedang bersama pria yang ingin diwawancarainya. Ia langsung menghampirinya, Yoo Rim kaget melihat Ji Ho datang ke tempat kerjanya.
“Nunna... ingin direkam lagi olehmu” kata Ji Ho, Yoo Rim langsung menarik Ji Ho untuk menjauh dari narasumbernya.
“Apa kau tidak bisa lihat, aku sudah merekam orang lain?” kata Yoo Rim sinis
“Aku akan tertarik padamu dari sekarang, walaupun itu sedikit terlambat. Jadi rekam aku lagi saja !” ucap Ji Ho dengan senyuman
Yoo Rim langsung menolak karena tidak tertarik dengan Ji Ho lagi, jadi meminta untuk segera menjauh saat masih bersikap baik. Ji Ho tak bisa menyela karena Yoo Rim sudah kembali pada narasumbernya dengan merapihkan mic dibagian dada, wajahnya terlihat sedih. 

Di depan gedung, Ji Ho masih menunggu. Yoo Rim keluar dengan membawa tripod dan kameranya. Ji Ho langsung mengejarnya, mengajak untuk nonton film bersama. Yoo Rim tak mengubrisnya berjalan ke pinggir jalan untuk memberhentikan taksi.
Ji Ho mengajak Yoo Rim untuk pergi ke perpus bersama karena disana ada buku fisika baru keluar yang menyenangkan. Yoo Rim berteriak memanggil taksi dan langsung masuk. Ji Ho terus berbicara mengajak untuk pergi ke tempata arcade. Taksi Yoo Rim pun melaju tanpa menghiraukan Ji Ho yang mengedor jendelanya. Ji Ho terlihat sedih ditinggalkan begitu saja. 

Yoo Rim baru pulang kerumah, melihat Ji Ho yang sedang latihan Hapkido diluar dengan cuaca dingin, kali ini tidak memanggil nama “Go Hye Rim” tiap membuat tinjuan kedepan. Yoo Rim akhirnya mendekat, senyum Ji Ho terlihat membanggakan kemampuan Hapkidonya jauh lebih baik, jadi bisa melawan sendiri apabila diganggu anak SMA.
“Jadi mari kita pergi ke tempat di mana kau memukulinya terakhir kali, dan juga...” ucap Ji Ho yang langsung disela oleh Yoo Rim
“Aku akan jujur ​​denganmu!!! Kau benar-benar menyebalkan sekarang. Pada Kenyataan kau tidak menunjukkan rasa peduli pada yang lainya, seperti ketika kau merekam sebelumnya atau sekarang, dengan tingkah lakumu seperti ini. Kau bertingkah seperti tidak bersalah dan berkata apapun yang kau inginkan... Aku muak dengan semua itu sekarang.” Tegas Yoo Rim
Aku tidak seperti itu sekarang. Aku bilang sebelumnya mulai tertarik padamu.” Akui Ji Ho
Kau tidak tertarik, tapi kau Hanya kesepian. Kau membuat kehebohan karena orang yang dulu kau mainkan sudah pergi dan kau tidak bisa mengambilnya kembali.” Kata Yoo Rim
Ji Ho tertunduk sedih karena terlihat seperti itu dimata Yoo Rim, lalu bertanya apakah ia tak bisa melakukan itu dengan wajah polosnya. Yoo Rim dengan wajah kesal menegaskan Ji Ho bisa melakukan itu pada mainan, karena dirinya itu adah manusia, mahluk hidup yang bisa bernafas.
“Dan Kau... Sudah melewati batas... Jadi aku tak akan bisa memaafkanmu lagi.” Tegas Yoo Rim dan menyuruh pergi dengan mengancam akan memanggil polisi apabila tak mau pergi. Ji Ho mengejar Yoo Rim untuk berbicara.
“Selain itu,  aku bertemu orang sekeren Subject A dari eksperimenmu,dan Kau tidak bisa membandingkan Jadi berhenti mengganggu dan enyahlah dari hadapanku” kata Yoo Rim ketus
Ji Ho terus mengejar Yoo Rim yang naik ke lantai dua, menanyakan siapa orangnya dan tak ingin Yoo Rim melakukan itu padanya, menurutnya kalau memang itu subject A maka jarak umurnya jauh lebih tua dan menahan tangan Yoo Rim untuk tak pergi. Dengan wajah melas berjanji  tidak akan bersikap buruk mulai dari sekarang dan akan menjadi orang baik. Yoo Rim menghempaskan tangan Ji Ho memilih untuk naik ke lantai tiga. 


Hye Rim sudah ada diruang kontrol, melihat teman Yoo Rim mulai bertemu dengan Soo Hyun. Ji Soo menceritakan alasan memutuskan pada psikologi. Soo Hyun tak percaya ternyata Ji Soo memilih psikologi karena penasaran dengan cinta, menurutnya tak pernah bertemu dengan orang seperti itu dan merasa mereka memiliki kesamaan dengan hal itu.
Mendengar percakapan keduanya, Hye Rim terlihat tak suka karena Soo Hyun sudah menyambut mereka berdua itu “kita” dan seperti sudah sangat dekat, dengan wajah dongkol rasanya ingin mencekik leher pacarnya.
Jika kau ingin dapat gelar doktor di psikologi, maka perjalananmu masih panjang. Jadi apa pendapatmu soal cinta sekarang?” tanya Soo Hyun
Ji Soo berpikir senjenak, mengingat kata-kata Hye Rim sebelumnya “Choi Soo Hyun pikir cinta itu hanya trik hormon, atau kegilaan sementara.Dan Ji Soo mengatakan cinta itu hanya sebuah trik hormon dan bisa juga kegilaan sementara lalu bertanya balik pendapat Soo Hyun, Mata Soo Hyun melotot kaget mendengar jawaban Ji Soo.
Itu pendapatku soal cinta juga!” kata Soo Hyun, Ji Soo makin bersemangat menganggap mereka itu seperti saling  berkaitan satu sama lain.

“Sepertinya seperti itu, Sudah lama aku tak bertemu wanita yang mudah diajak bicara denganku.” Kata Soo Hyun juga terlihat tertarik dengan Ji Soo, Hye Rim ada diruang kontrol mulai mengumpat kesal.
Dokter... Boleh aku minta nomormu?” tanya Ji Soo mulai memberikan sinyal ketertarikanya. Soo Hyun terlihat tak nyaman bertanya untuk apa meminta nomor telpnya.
Aku ingin mendapatkan petunjuk untuk thesisku.” Kata Ji Soo, Soo Hyun mengaku sedikit sulit untuk memberikanya. Hye Rim berteriak gembira karena Soo Hyun menolaknya.
Ji Soo tak hilang akal, meminta untuk memberikan emailnya dan melihat hasil tesis yang ditulisnya. Hye Rim menjerit supaya Soo Hyun tak memberikanya. Soo Hyun berpikir sejenak dan akhirnya menuliskan disecarik kertas untuk mengirimkan ke alamat email itu. Hye Rim kembali mengumpat Soo Hyun yang mau memberikan alamat emailnya. 

Soo Hyun turun ke lantai satu memanggil Hye Rim yang sedang mencuci piring untuk meminta secangkir kopi, Hye Rim langsung menyuruh Soo Young si pelayan untuk membuatkan kopi untuk Soo Hyun, Soo Hyun sempat terdiam karena Hye Rim bersikap dingin lagi. Hye Rim akhirnya memutuskan untuk menuangkan sendiri untuk Soo Hyun sambil melepaskan sarung tanganya.
Bagaimana jika diganti kacang kedelai dibanding kopi? Ini Lumayan rasanya” ucap Hye Rim sinis
Apa kau masih marah tentang nilai 11 persen?” tanya Soo Hyun, Hye Rim menyangkalnya dan mengaku merasa lebih senang sekarang dengan wajah sinis, Soo Hyun makin binggung.
Kenapa kau sangat playboy?” tuduh Hye Rim, Soo Hyun makin tak mengerti tiba-tiba Hye Rim berbicara seperti itu.
Baiklah. Anne Hathaway, 42 persen, Charlize Theron dapat 68 persen, Rachel McAdams dapat 85 persen. Semua bisa Lebih dimengerti. Tapi kenapa....” ucap Hye Rim yang langsung disela oleh Soo Hyun.

“Coba Lihat? Kenyataanya kau mengingat tingkatan itu berarti....” kata Soo Hyun kembali beradu mulut.
Aku bilang, berhenti membuatku marah! Aku sudah tidak marah!” teriak Hye Rim dengan mata melotot
Beberapa pelanggan yang ada didalam cafe sampai melirik kearah mereka karena teriakan Hye Rim, Soo Hyun terlihat binggung. Hye Rim mulai berbisik merasa Soo Hyun itu terus mempengaruhinya dan berpikir selalu ingin membuatnya marah. Soo Hyun pikir Hye Rim sangat marah. Hye Rim menegaskan Soo Hyun tidak memahami soal wanita, menurutnya karena 11% yang membuat terprovokasi dan membuatnya marah.
Soo Hyun mengangguk mengerti dan akan membuat janji untuk melakuan fMRI sekali lagi dan kembali ke lantai dua. Hye Rim berteriak agar Soo Hyun tak mengangunya karena tak ada yang ingin melihat perasaannya sekarang, dan mengancam akan membuat keributan jika mendekat. Setelah Soo Hyun pergi, ada rasa penyesalan harus melakukan tes FMRI yang membuatnya uring-uringan sendiri. 

Soo Hyun datang menemui Tuan Kim, ketika Tuan Kim masuk dengan senang hati menjabat tangan Soo Hyun yang sudah lama tak bertemu, sambil bertanya alasannya datang ke kantornya, karena kejadian seperti ini sangat jarang sekali terjadi. Soo Hyun mengaku seharusnya datang lebih awal lagi, Tuan Kim pun mengajak Soo Hyun untuk duduk.
Sebelum duduk, Tuan Kim merapihkan rambut, jaketnya, kursi lalu mengibaskan jaketnya agar bisa duduk dengan nyaman. Soo Hyun melihat Tuan Kim terlihat kesulitan hanya untuk duduk saja, sambil bertanya Apa ada alasannya melakukan semuanya 3 kali. Tuan Kim mengaku semua yang dilakukannya membuatnya lebih tenang.
Orang Korea ada tiga suka kata, kan? Bahkan ada yang menggabungkan ide itu.” Kata Tuan Kim
Sejak kapan kau lakukan ini?” tanya Soo Hyun melihat keanehan, Tuan Kim tertawa mengatakan dirinya itu tidak gila dan baik-baik saja, karena semuanya itu hanya sebuah kebiasaan saja.

“Lalu... Ada apa kau datang ke kantorku?” tanya Tuan Kim mengalihkan pembicaraan.
Aku akan menghentikan eksperimenku.” Kata Soo Hyun
Tuan Kim kaget menanyakan alasan Soo Hyun tiba-tiba mengatakan hal itu, lalu berpikir Soo Hyun itu mendapatkan tawaran dari perusahaan lain. Soo Hyun mengatakan tak ada, Tuan Kim makin penasaran apa alasan Soo Hyun tiba-tiba ingin menghentikan eksperimentnya.
Soo Hyun menjelaskan ada masalah pada subjectnya, terjadi difase pertama jadi mungkin akan terjadi difase kedua. Tuan Kim tetap meminta agar Soo Hyun membuat keadaan jadi lebih solid lagi dan mengingatkan kalau perusahaanya berpikir panjang dan lama untuk melakukan investasi,  jadi meminta Soo Hyun untuk melakukan sekali lagi. Soo Hyun mengaku ini sebuah keputusan yang sulit jadi akan menghubungi tuan Kim lagi, lalu keluar ruangan. Tuan Kim memanggilnya tapi Soo Hyun tetap meningalkan ruangan. 


Hye Rim menerima telp dari Tuan Kim, yang meminta untuk bertemu dengan putrinya. Ia tak percaya Tuan Kim bisa mengizinkanya bertemu dengan Putrinya. Tuan Kim seperti meminta Hye Rim untuk datang kerumahnya, Hye Rim meminta maaf karena tak bisa meninggalkan cafe, lalu menyarankan agar putri tuan Kim datang ke cafenya saja. 

Soo Hyun baru saja membuka jaketnya, Hye Rim duduk dikursi memberitahu namanya Kim Yun Woo, Soo Hyun duduk dikursi kerjanya bertanya alasan dirinya harus bertemu dengan Yun Woo. Hye Rim memberitahu Yun Woo itu adalah anak dari Tuan Kim. Soo Hyun tak peduli Yun Woo itu anak Presdir sekalipun, tapi ingin tahu alasan dirinya harus bertemu dengan orang itu, karena bukan tuan Kim yang meminta dirinya untuk bertemu dengan sang anak.
Ini karena ada perasaanku yang buruk, tapi Aku tidak pikir dia orang yang pantas ditemui.” Kata Hye Rim
Bilang kau tidak ingin menemuinya dan antar dia pulang” ucap Soo Hyun santai

Aku sudah bilang untuk membantunya! Memang Bukan berarti aku berjanji padanya, tapi Ini karena aku ingin membantu Ketua Kim. Dia sudah banyak membantuku.” Jelas Hye Rim.
Soo Hyun tetap ingin tahu alasan dirinya harus melakukan itu, Hye Rim kembali membahas tentang hasil FMRI-nya yang hanya 11%. Soo Hyun terdiam, Hye Rim meminta Soo Hyun memutuskan ingin menemuinya atau menolaknya. Soo Hyun akhirnya mengangkat satu jarinya kalau kali ini hanya satu kali saja. Senyum Hye Rim pun terlihat diwajahnya. 


Yun Woo terlihat binggung, lalu bertanya siapa yang menjadi peramal. Hye Rim memberitahu kalau ia adalah peramal dan Soo Hyun adalah seorang psikolog. Yun Woo mengatakan datang ke cafe untuk bertemu dengan peramal. Soo Hyun langsung bertanya apakah ada yang ingin ditanyakan. Yun Woo pikir alasan apa yang membuat harus memberitahu Soo Hyun. Soo Hyun mengaku karena rasa penasaranya.
Aku yakin kau datang bukan karena ayahmu yang minta. Jadi aku yakin ada yang membuatmu penasaran.” Kata Soo Hyun
“Itu Bukan berarti kau penasaran soalku kan? Kau ingin tahu kenapa aku kabur.” Ucap Yun Woo, Soo Hyun kaget mendengar Yun Woo yang kabur. Yun Woo tahu ayahnya itu pasti tak menceritakanya.
Saat aku keluar rumah, dan aku tidak pernah pulang, Aku lupa segalanya” cerita Yun Woo, Soo Hyun makin penasaran Yun Woo yang lupa dan tak ingin gejala sebelumnya.
Aku rasa ayahku tidak bilang apa-apa soal itu dan Aku yakin dia malu, Ayahku orang yang takut dengan opini publik.” Komentar Yun Woo mengejek, Hye Rim ingin menenangkan Yun Woo tapi Yun Woo lebih dulu menyelanya.

Dan kau... Kau tidak pikir kalau aku tahu bahwa kau adalah orang yang dimanfaatkan oleh ayahku? Ini sama saja dengan kau ‘kan? Kau dengar semuanya dari ayah, dan....” ucap Yun Woo sinis pada Hye Rim dan Soo Hyun
Aku bukan orang yang bekerja dibawah perintah orang lain.” Tegas Soo Hyun
Bila kau ingin menolongku, bilang pada ayahku kalau aku ingin menikah.” Kata Yun Woo, Soo Hyun bertanya kenapa Yun Woo ingin menikah.
Karena ayahku melarang itu dan Aku harus keluar dari rumah, jadi Hanya itu caranya  aku bisa sedikit bernafas. Kau bilang kau penasihat psikolog ‘kan? Ajari ayahku lalu baru kau ajari aku. Cari tahu kenapa ia membunuh ibuku, kakak laki-lakiku dan saudara perempuannya sendiri.” Kata Yun Woo blak-blakan membuka semua misteri. Hye Rim  melonggo dan Soo Hyun terdiam. 


Hye Rim merasa dengan kata  membunuh mereka itu hanya seperti perumpamaan yang dikatakan Yun Woo. Soo Hyun juga tak tahu mungkin saja benar Tuan Kim membunuh keluarganya. Hye Rim merasa tak masuk akal karena melihat Tuan Kim yang baik terhadapnya.
Aku tidak bilang begitu. Dia mungkin hanya bosan saja dan membunuh secara psikis.” Jelas Soo Hyun
Bagaimana menurutmu kondisi Yun Woo sekarang?” tanya Hye Rim khawatir
Dari yang aku lihat saat aku bicara dengannya... melihat kenyataan keluarganya meninggal membuatnya trauma Dan mungkin dia juga terkena disosiatif fugue “ Ucap Soo Hyun, Hye Rim tak mengerti apa maksudnya.

Itu terjadi saat kau sangat stress, Kau melupakan masa lalu dan kabur. Mereka tidak bisa mengingat apa yang mereka lakukan dan dalam yang kasus lebih parah, mereka berakhir dengan kehidupan yang berbeda, dan pekerjaan yang beda.” Jelas Soo Hyun, Hye Rim bertanya apakah Yun Woo harus mendapatkaan perawatan.
“Aku tahu tentang itu, Sebenarnya, dia sempat bertanya soal itu sebelumnya padaku, dilihat dari hal itu aku pikir dia tahu soal kondisi Yun Woo Tapi dia tidak memberinya perawatan.” Kata Soo Hyun
Hye Rim pikir Soo Hyun bisa melangkah maju lebih dulu, Soo Hyun menegaskan ia bukan orang yang memberikan nasehat jika tak diminta, dan pasti Hye Rim sudah tahu tentang hal itu. Hye Rim meminta maaf karena terlalu cemas mengetahui hal itu. Soo Hyun pikir kalau memang Hye Rim mau membantu lebih baik dekati Tuan Kim, supaya bisa memberikan Yun Woo perawatan dan hanya itu saja yang bisa mereka lakukan. 

Teman Soo Hyun sibuk didepan komputernya, sang istri berteriak memanggilnya untuk tidur karena sudah waktunya. Si pria menyuruh sang istri tidur lebih dulu karena sedang ada banyak perkerjaan, dilaya monitor gambar setifikat milik Soo Hyun dari Stanford Univesity diubah namanya menjadi Kang Tae Hwa 

Soo Hyun menelp di ruanganya, terdengar suara kalau nomor ponselnya tak terjangkau, ditanganya ada kartu nama Kang Tae Hwa - Youngjin Group. Akhirnya ia menelp kantor Young Jin menanyakan apakah ia bisa berbicara dengan Kang Tae Hwa. Seorang wanita bertanya pegawai dibagian mana, Soo Hyun bertanya apakah wanita itu sekretaris Direktur di Youngjin Group. Wanita itu membenarkan tapi tak memiliki nama direktur Kang Tae Hwa. Soo Hyun binggung ternyata temanya itu bukan seorang direktur.
Akhirnya Soo Hyun bertemu dengan teman SMA yang bertemu di pernikahan Tae Hwa, sang teman meminta Soo Hyun tetap tertunduk saat mendengarnya, lalu menceritakan baru mengetahui beberapa hari lalu, kalau pria itu adalah pegawai negeri tingkat 7. Soo Hyun terlihat tak begitu kaget, dan bertanya alasan Tae Hwa harus berbohong.
“Dia adalah Pegawai Negeri Sipil Tingkat 7! Badan Intelijen Nasional.” Kata temanya, Soo Hyun tak yakin dan menganggap itu hanya becandaan saja.
“Dia tidak seperti agent mata-mata seperti 007 , tapi dia bilang ada dua tipe nya itu disebut "Black Agents." dan dia "White Agent."” Jelas temanya, Soo Hyun bertanya apa yang dilakukan oleh agent itu.
Seseorang yang membuka sedikit identitas atau sebaliknya. Aku rasa perusahaan itu dilindungi. Dia bilang selama ini bekerja dengan nama yang berbeda setiap dia melaksanakan perintah.” Cerita temanya.
Soo Hyun seperti masih tak percaya menurutnya itu aneh, kalau temanya bisa berkerja seperti itu. 

Dua pria tua berdasi sedang duduk diruangan, terdengar bunyi ketukan pintu. Seketaris membuka pintu dan mempersilahkan Tae Hwa masuk ke dalam ruangan. Si pria tua meminta maaf karena sudah meminta Tae Hwa datang padahal jadwalnya sangat sibuk, lalu memperkenalkanya pada temanya.
Pria yang berkaca matapun menyapa dengan menanyakan namanya. Tae Hwa menjabat tangan dan mengaku sebagia Choi Soo Hyun. Lalu ketiganya duduk dan si pria tua itu mengaku sangat tertarik dengan dunia psikologi sambil memujinya sangat hebat. 

Di depan kasir, Hye Rim berbisik menelp Ji Soo bertanya apakah Soo Hyun menelp dan mengajaknya bertemu. Ji Soo dengan wajah sedih mengatakan selama ini Soo Hyun hanya berbicara tentang psikologi bahkan menolak untuk bertemu ditempat lain selain diklinik.  Hye Rim terlihat bahagia, tapi berpura-pura kecewa lalu meminta Ji Soo untuk datang ke depan cafenya.
Keduanya sudah ada didepan cafe, Hye Rim meminta Ji Soo untuk mengirimkan pesan pada Soo Hyun kalau ia sengaja mampir dan memintanya untuk keluar. Ji Soo mulai mengetik pesannya, Hye Rim bergumam “Kalau kau berani keluar karena pesan ini, maka Aku akan membunuhmu!dengan penuh dendam
Ji Soo terlihat ragu untuk mengirimkannya, tapi Hye Rim menyakinkan supaya Ji Soo segera mengirimkanya. Soo Hyun sedang ada dikantornya membaca pesan Ji Soo, Dokter, ini Ji Soo, aku ada di depan kantor. Bisakah aku bertemu denganmu sebentar?”  Soo Hyun membalas pesan Ji Soo Aku sedikit sibuk. Hye Rim menyuruh Ji Soo untuk mengirimkan pesan yang lebih agersif lagi.  Soo Hyun membaca pesan Ji Soo kembali “ Aku menempuh waktu satu jam untuk datang ke sini, aku mohon Hanya sebentar.
bersambung ke part 2 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar