Senin, 22 Februari 2016

Sinopsis Madame Antoine Episode 10 Part 1

Hye Rim melihat amplop yang berisi blue print project Madame Antoine, dengan Male Subject C: Won Ji Ho, lalu Male Subject B: Choi Seung Chan dan Male Subject A: Choi Soo Hyun, sementara Main Subject: Go Hye Rim, wajahnya sangat marah karena ternyata Soo Hyun masih melakukan eksperiment padanya.
Pesan dari Soo Hyun masuk Aku rasa kau sangat sibuk, Aku sudah ada cafe menunggumu” mata Hye Rim sinis karena Soo Hyun kembali mempermainkanya. 

Hye Rim masuk ke cafe, melihat Soo Hyun berdiri menyapanya langsung menendangnya dan memukulnya sambil mengumpat kalau Soo Hyun bukan manusia.
Semua yang keluar dari mulutmu adalah kebohongan, kau brengsek! Berapa banyak kau menipuku, Dasar sialan!!!” teriak Hye Rim membabi buta sampai hidung Soo Hyun berdarah.
Soo Hyun melambaikan tangan melihat Hye Rim masuk ke dalam cafe, Hye Rim yang tadinya berwajah sinis memberikan senyuman manisnya, lalu menghampirinya. Soo Hyun bertanya apakah terjadi sesuatua karena wajah Hye Rim terlihat tak senang.
Siapa, aku? Apa maksudmu? Aku merasa sangat baik!” kata Hye Rim dengan senyuman sumringah, Soo Hyun melotot binggung dan berusaha ikut tersenyum.
Um... Aku tiba-tiba mendapat banyak rombongan di cafe. Pelanggan terlalu banyak tapi hanya ada satu pegawai, aku pikir harus pergi membantunya.” Kata Hye Rim akan pergi
Soo Hyun ikut berdiri akan mengantarnya, Hye Rim menolak karena Hanya 5 menit kalau jalan kak dan juga harus mampir ke supermarket nanti, jadi lebih baik pergi sendiri. Soo Hyun khawatir karena diluar dingin. Hye Rim merasa tak masalah karena jaraknya yang tak jauh bisa lari. Soo Hyun menahan Hye Rim sebelum pergi dengan memberikan permen kapas.
Hye Rim menatapnya karena Soo Hyun mau membelikanya, Soo Hyun sengaja membelikanya, teringat sebelumnya ingin memakannya. Hye Rim pun mengambilnya dan langsung pergi keluar cafe. Soo Hyun pun tersenyum karena Hye Rim menerima hadiahnya. 


Hye Rim keluar dari cafe dengan wajah sinis, mengirimkan pesan pada Seung Chan dan Ji Ho bersamaan Won Ji Ho. Choi Seung Chan. Temui aku di cafe 5 menit lagi! dan langsung membuang permen kapas ke tong sampah.
Di rumah, Hye Rim dengan mengebu-gebu mencari baju perangnya didalam lemari, Yoo Rim datang dengan nafas terengah-engah memberitahu kalau r pria yang dikencani tidak sungguh-sungguh. Hye Rim mengatakan sudah tahu,Yoo Rim merasa kakaknya itu belum tahu, menarik baju dari tangan Hye Rim untuk mendengarnya.
Choi Soo Hyun, Choi Seung Chan, dan Won Ji Ho, sengaja  mendekatimu  dan berpura-pura  menyukai dirimu...” Kata Yoo Rim, Hye Rim mengatakan sudah mengetahuinya.
“Coba Bersihkan telingamu dan dengarlan aku! Pria itu, Choi Soo Hyun, yang kau kencani sekarang hanya pura-pura...” ucap Yoo Rim memegang lengan kakaknya, Hye Rim mengumpat kalau ia sudah tahu dan menyuruh adiknya keluar daripada membuatnya makin kesal.

Mengapa kau berteriak pada orang yang khawatir padamu? Aku berlari ke sini hanya untuk memberitahumu....” teriak Yoo Rim kesal
“Kau Berlari ke sini? Yah, benar. Aku pikir kau senang sekarang. Kau sangat senang karena Ji Ho yang kau sukai, hanya pura-pura menyukaiku..” kata Hye Rim sinis
Apa yang kau bicarakan? Bagaimana bisa aku senang, tidak peduli seberapa banyak aku menyukai Ji Ho...” teriak Yoo Rim yang langsung disela oleh kakaknya.
Kau selalu iri padaku! Kau mengatakan omong kosong seperti ibu dan ayah yang hanya mencintaiku dan betapa pria hanya tertarik padaku! Kau begitu senang karena perasaan Ji Ho padaku hanya pura-pura? Kau bahkan tidak memikirkan berapa banyak kakakmu telah dibohongi. Dan kau sangat senang karena bisa memiliki Ji Ho, jadi...” Teriak Hye Rim dengan nada tinggi,

Yoo Rim sempat melonggo dan kembali berteriak tentang kakaknya yang membahas tentang omong kosong, lalu memberitau baru pulang dari menyiram bir ke  wajah Won Ji Ho, Hye Rim merasa kalau adiknya itu hanya berpura-pura, karena adiknya seharusnya bertingkah sedikit kesal. Yoo Rim kesal karena kakanya itu lebih parah dibanding yang dipikirkan.
Baiklah, aku pikir paham sekarang. Kau sedang dihukum. Wanita sialan sepertimu pantas menerima sesuatu seperti ini!” teriak Yoo Rim
Apa yang kau katakan? Kau pikir sopan berbicara seperti itu padaku?” ucap Hye Rim dengan nada tinggi
Kau dulu sangat senang karena para pria suka padamu... Tapi kau malah berakhir sangat menyedihkan. Cukup hidup seperti apapun yang kau pikirkan!” teriak Yoo Rim lalu pergi meninggalkan rumah. Hye Rim berteriak memanggil adiknya, karena sudah membuatnya sangat kesal. Yoo Rim dengan cepat meninggalkan rumah. 

Telp Hye Rim berdering, Pegawai cafe menelp memberitahu dua orang yan berkerja di klinik lantai dua datang, Hye Rim memastikan yang datang itu Won Ji Ho dan Choi Seung Chan, pegawai cafe membenarkan, Hye Rim memerintahkan untuk menutup cafe segera dan juga mengunci pintunya jadi dua brengsek itu tidak bisa kabur.
Pegawai pun menutup cafe dan mengunci semua pintu keluar sesuai yang diperintahkan Hye Rim dan keluar dari pintu depan. Seung Chan dan Ji Ho saling berhadapan terlihat binggung karena cafe ditutup dengan pintu semua dikunci.
Hye Rim turun ke lantai satu, dengan wajah sinis memberitahu sudah tahu semuanya sekarang. Ji Ho bertanya apa yang dimaksud, Hye Rim sengaja memangil Ji Ho dengan panggilan sayang untuk menebaknya, Seung Chan pikir Hye Rim sudah membuka brangkas. Hye Rim berteriak menurutnya Seung Chan tak ada hak untuk mengatakan itu, lalu mengambil kain pel menyuruh keduanya untuk berlutut.
Ji Ho pun berlutut, Seung Chan langsung meminta maaf tapi Hye Rim makin marah karena Seung Chan berani bicara informal padanya. Seung Chan menghela nafas mengaku memang awalnya kakaknya itu yang menyuruh untuk mendekatinya tapi ia mengaku mulai menyukainya  seiring berjalannya waktu.

Aku tidak ingin dengar hal itu, Aku ingin tahu semua detailnya. Won Ji Ho... Kau jenius jadi kau pasti mengingatnya, kan? Cepat Jelaskan.” Perintah Hye Rim
Pada 30 Agustus 2014, Dr. Choi menyelesaikan blueprint eksperimen. Dan 1 April 2015, eksperimen pendahuluan pada Lee Kyung Joo dimulai...” kata Ji Ho, Hye Rim menyuruh Ji Ho melewatkan hal yang sudah diketahuinya.
Pada 10 Desember 2015, sudah dikonfirmasi pendahuluan percobaan kedua akan dimulai. Lalu tanggl 16 Desember, Male Subject C Won Ji Ho bergabung, tanggal 23 Desember, Seung Chan bergabung sebagai Male Subject B.” Ucap Ji Ho, Seung Chan menyela kalau bukan bergabung tapi dipaksa oleh kakaknya.
Tapi kau yang memutuskan untuk ikut, Kau bilang kau butuh uang.” Kata Ji Ho, Seung Chan membela diri kalau itu tak benar dan  tidak ingin melakukannya, Hye Rim seperti tak peduli meminta Ji Ho memberitahu selanjutnya.
“Tanggal 26 Desember, Dr. Choi bergabung sebagai Male Subject A. Itu hari dimana kita memulai eksperimen. Pada tanggal 17 Desember, kita menjalankan fMRI pada Subjek Utama Go Hye Rim sebagai bagian dari penilaian pertengahan eksperimen, Tujuanya Untuk melihat siapa diantara ketiga pria yang paling disukai.” Jelas Ji Ho dengan detail

Apa maksudnya evaluasi pertengahan eksperimen?” tanya Hye Rim binggung
“Pada Dasarnya, semua ini apa yang Seung Chan dan aku laporkan ke Dr. Choi. Detailnya seperti berapa banyak kita bertemu denganmu, dan melakukan apa serta dimana, dan...” jelas Ji Ho yang langsung mendapatkan teriakan dari Hye Rim
Hye Rim merasa mereka bertiga sudah memainkan hidupnya, Ji Ho mengaku mereka tidak benar2 "memainkan" itu. Hye Rim melotot karena masih mengingat sebelumnya mengakui perasaanya, kalau menyukainya dan tidak memberitahu tentang eksperimen sebelumnya. Ji Ho mengaku sangat ingin, tapi eksperimen  kali ini yang sangat penting bagi Dr. Choi, menurutnya ini dalam posisi tak enak.
Akhirnya Hye Rim bertanya pada alasan Seung Chan melakukan ini padanya, Seung Chan meminta maaf tidak memberitahunya lebih dulu. Karena takut nanti Hye Rim membencinya, Hye Rim menegaskan kalau semua terjadi sekarang kalau ia sangat membencinya dan juga dengan Ji Ho, keduanya hanya bisa tertunduk. Hye Rim memberikan satu kesempatan terakhir.

Apa yang terjadi sekarang adalah rahasia buat Choi Soo Hyun. Saat kau beritahu  mengenai hal ini padanya, maka kalian berdua akan mati Yang kedua... Kalian berdua akan melakukan apapun itu perintahku,  Kapanpun aku menghubungi, tinggalkan semuanya dan kerjakan apa yang aku minta. Mengerti?” tegas Hye Rim, Ji Ho mengerti.
Hye Rim bertanya kenapa Seung Chan tak menjawabnya, Seung Chan bertanya sikap yang diberikan Hye Rim pada kakaknya, Hye Rim mengatakan akan membuat Soo Hyun mengakui semuanya. Seung Chan menanyakan caranya, Hye Rim mengatakan akan melakukan sendiri, sesuatu masuk akal.
Ponselnya berdering, nama Soo Hyun terlihat dilayar. Wajahnya langsung berubah tersenyum dengan nada mesra. Soo Hyun masuk ke dalam rumah bertanya apakah Hye Rim sudah sampai rumah. Hye Rim mengaku sudah sampai rumah dengan selamat, lalu merasa bahagia Soo Hyun menelpnya karena mengkhawatirkanya.
Seung Chan dan Ji Ho saling berpandangan karena Hye Rim bisa berakting manis didepan Soo Hyun. Hye Rim pun menutup telp Soo Hyun dengan senyuman tapi setelah itu mengumpat. Seung Chan tak percaya Hye Rim yang lembut bisa berkata kasar. Ji Ho yang masih berlutut terlihat makin ketakutan. 

Hye Rim duduk dibangku belakang mobil, berpikir bisa pergi sendiri menemui Tuan Kim jadi tidak perlu menjemputnya. Sekertaris memberitahu Tuan Kim yang sangat menghormati Hye Rim  karena menyelamatkan hidupnya ketika terkena stroke. Hye Rim merasa  semua orang bisa masuk ke ambulance bersamanya.
Dia ingin keberuntungannya diberitahu, kan?” kata Hye Rim, Sekertaris membenarkan.
Hye Rim teringat terakhir kali Tuan Kim meminta untuk meramal tentang anaknya, Tuan Kim mengaku anaknya tidak terlihat baik. Dan Hye Rim mengingat saat melihat seorang wanita yang terlihat pucat menaiki tangga.

Tapi... Aku terus melihat wanita yang ada di villa Ketua, Dalam mimpiku belakangan ini.” ucap Hye Rim, Sekertaris bertanya wanita yang seperti  apa.
Dia terlihat sangat lemah dan dibantu naik ke atas oleh pelayan” kata Hye Rim, Seketaris bertanya apakah yang dimaksud  anak kedua dari Tuan Kim. Hye Rim bergumam dalam hati kalau memang benar itu adalah anak dari Tuan Kim.
“Pada kenyataanya ia terkejut pasti ada sesuatu mengenai anak perempuanya” gumam Hye Rim yakin.
Ya. Tapi aku terus melihat aura gelap di sekitarnya Jadi sedikit membuatku cemas.” Kata Hye Rim,
Seketaris mengaku sudah menyiapkan persembahan untuk ritual arwah karena itu. Hye Rim kembali bergumam dengan melakukan persembahan ritual arwah, menduga ada yang meninggal, lalu teringat selama ini tidak pernah melihat istri tuan Kim.
Hye Rim pun menyetujuinya supapa bisa  memastikan mengirimkan doa pada arwah dengan benar. Seketaris mengangguk, lalu memberitahu mereka melakukan sebanyak 3 kali, Hye Rim kembali bergumam kalau tiga kali berarti ada 3 orang. 


Tuan Kim masuk ke dalam ruangan meminta maaf datang terlambat karena rapat lebih lama dan menyuruh Hye Rim kembali duduk. Hye Rim dengan senyuman manis bertanya apakah putri Tuan Kim sehat, Tuan Kim mengaku  tidak dan anaknya tetap seperti biasanya, berada dirumah setiap hari.
‘”Kapanpun aku memikirkan dia, kepalaku sakit.” Ungkap Tuan Kim
Tentu saja . Kau banyak kehilangan, dengan orang yang meninggal di sekitarmu, Jadi bagaimana bisa semuanya baik-baik saja?” kata Hye Rim
Apa? Bagaimana kau tahu tentang keluargaku?” ucap Tuan Kim kaget, Hye Rim bergumam Tuan Kim yang menyebut kalau itu tentang keluarganya.
Apa itu bagian dari kemampuanmu? Apa Marie Antoinette memberitahumu?” tanya Tuan Kim penasaran
Hye Rim mengaku hanya sedikit saja,  lalu bertanya apa ada yang bisa dibantu olehanya,karena ia selalu menerima bantuan dari Tuan Kim dan belum bisa membalasnya, lalu bertanya apakah boleh untuk bertemu sekali saja dengan anaknya. Tuan Kim menepuk kursinya dengan tanganya, Hye Rim melihat gerak gerik Tuan Kim apabila sedang ragu.

Hye Rim masuk ke cafe langsung cemberut melihat orang yang duduk dimeja kasir, lalu bertanya pada Ji Ho tentang Choi Soo Hyun semalam. Ji Ho dengan wajah ketakutan memberitahu Soo Hyun tidur nyenyak. Hye Rim bertanya bagaimana dengan hari ini.
Ji Ho menceritakan Soo Hyun yang  bangun jam 7 pagi lalu Mencuci wajahnya dan menyikat gigi, setela itu membaca sekilas 9 halaman koran sambil minum kopi, Hye Rim menegaskan bukan itu yang ingin diketahuinya tapi perasaan Soo Hyun sekarang.
“Apa Dia tidak terlihat menderita atau sesuatu karena hati nuraninya?” tanya Hye Rim, Ji Ho mengaku tak begitu tahu karena melihat Soo Hyun memiliki mood yang baik.
Bagaimana jadwal Choi Soo Hyun hari ini?” tanya Hye Rim dengan helaan nafas.
Dia punya jadwal konsultasi jam 1 siang Dan wawancara dengan BBC.” Kata Ji Ho,
Hye Rim terlihat kaget Soo Hyun bisa mendapatkan wawancara dengan BBC lalu bertanya mengenai apa.  Ji Ho pikir itu kelanjutan dari yang dilakukan 3 bulan lalu, Hye Rim ingin tahu mereka ingin mewawancarai sepert apa. Ji Ho menceritakan acara itu  mewawancarai semua psikolog di dunia dan Soo Hyun berbicara tentang ekseperimen Madame Antoine dan sekarang tim BBC ingin menindak lanjutinya.  

Disebuah panggung, Soo Hyun melakukan wawancara, Si pembawa acara menanyakan “Bagaimana jalannya eksperimen awal kedua?” Soo Hyun mengatakan Masih dalam proses dan menceritakan  Tahap satu sudah berakhir, tapi mereka  masih harus melakukan tahap dua.
“Kau bilang tadi, Tahap kedua dari eksperimen?” ucap Si pria bule binggung.
“Dengan kata lain, aku mencoba untuk mengetahui seberapa kuat perasaan cinta wanita yang diperoleh dari tahap satu.” Jelas Soo Hyun
“Bisakah kau menjelaskan lebih lanjut tentang tahap kedua eksperimen?” tanya si pria bule
Terdengar ketukan sepatu masuk ke dalam ruangan, Soo Hyun melihat Hye Rim datang dan memberikan senyuman padanya. Soo Hyun terlihat gugup dan memberikan senyuman walaupun terpaksa, lalu kembali menjawab pertanyaan kalau itu masih rahasia karena takut nanti bukan seperti itu hasilnya.
“Aku mengerti. Lalu bagaimana jalannya tahap pertama?” tanya Si pria bule
“Kami mengakhirinya dengan mengkonfirmasi hasil melalui scan fMRI.” Jelas Soo Hyun, Hye Rim menatap sinis kearah Soo Hyun yang sedang diwawancara, Pria bule bertanya siapa yang dipilih oleh Subjek wanita.

“Dia memilih pria yang berusia di pertengahan tiga puluh tahun.” Jelas Soo Hyun terlihat gugup
Hye Rim terus menatap sinis, Si pria bule mengerti type  pria tua pemarah dan memiliki uang serta kekuasaan. Soo Hyun membenarkan, Si pria bule mengartikan kalau begitu hipotesisnya sudah terbukti benar dan meminta untuk menjelaskan lagi tentang  hipotesisnya itu. Soo Hyun makin gugup karena ada Hye Rim yang menjadi objek penelitianya, tapi berusaha untuk tetap profesional.
“Wanita lajang di usia tiga puluhan lebih mudah untuk jatuh cinta dengan pria yang lebih tua dengan keadaan finansial dan pekerjaan yang aman serta berhasil dalam hidupnya daripada pria yang lebih muda. Oleh karena itu, tidak ada hal seperti "Cinta sejati" bagi perempuan.” Tegas Soo Hyun, Hye Rim meremas ujung tasnya dan mencoba tetap tersenyum pada paacarnya, Si pria bule pun mengakhiri wawancaranya dengan mengucapkan terimakasih dengan saling berjabat tangan. 


Soo Hyun mendatangi Hye Rim yang duduk dibangku penonton, bertanya bagaiamana bisa tahu ia sedang ada wawancara. Hye Rim mengaku ingin menemuinya dan pergi ke lantai dua tapi tak ada disana, dan Ji Ho yang memberitahu sedang ada ditempat itu. Lalu Melihat para bule diatas panggung Hye Rim memuji Soo Hyun cukup menakjubkan, karena bisa Diwawancarai oleh BBC.
“Sebenarnya itu bukan apa-apa. Apa kau mengerti apa yang sedang dibicarakan?” tanya Soo Hyun gugup karena wawancara itu mengunakan bahasa inggris dalam pertanyanya.
“Inti dari itu ‘kan dan Ternyata kau berbicara dalam bahasa Korea. Itu tentang eksperimen, kan?”kata Hye Rim, Soo Hyun mengangguk dan tak bisa menatap Hye Rim
“Kukira tahap kedua dari eksperimen berakhir dengan baik.” Kata Hye Rim memancing, Soo Hyun pikir kira-kira seperti itulah.
“Apa kau membiarkan subjek tahu bahwa itu semua hanya eksperimen?” tanya Hye Rim kembali memancing, Soo Hyun mengaku belum dengan wajah tertunduk  
“Aku merasa kasihan sekali pada wanita itu! Aku yakin kalau dia bahkan tidak tahu bahwa dia sudah ditipu. Apa yang terjadi kalau wanita itu tahu kalau semuanya hanya eksperimen? Dia akan mengacaukan semuanya dan menolak untuk berpartisipasi lebih lanjut.” Cerita Hye Rim sengaja menyindir

“Tapi... kenapa kau sangat tertarik membahas tentang  eksperimen ini? Aku menyingkirkan eksperimen yang aku lakukan kepadamu.” tanya Soo Hyun heran
“Aku tahu, tapi orang yang aku suka sudah menempatkan hidupnya dalam resiko untuk eksperimennya. Bagaimana mungkin aku tidak tertarik?” kata Hye Rim memberikan alasan
“Meskipun begitu... aku lebih suka kalau kau tidak membahas tentang  eksperimen itu mulai sekarang. Lagipula ini adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu.” Ucap Soo Hyun gugup.
Hye Rim menatap dengan menjerit dalam hati “Kau bilang "Tidak ada hubungannya denganku?"  Bagaimana mungkin aku bisa tidak tertarik kalau aku subjek utamanya?” Lalu ia ingin mengajukan pertanyaan,
“Apa yang terjadi dengan pria yang dipilih oleh subjek utama dalam eksperimen ini? Apa Tidak ada yang terjadi antara dia dan subjek utama?” tanya Hye Rim ingin menguji, Soo Hyun terdiam sejenak sebelum menjawabnya.
“Dia... akhirnya benar-benar memiliki perasaan kepada subjek utama.” Akui Soo Hyun tanpa mau menatap Hye Rim.
“Bagaimana mungkin sesuatu seperti itu terjadi? Padahal Dia hanya berpura-pura menyukainya.” Kata Hye Rim
“Kukira banyak hal yang terjadi. Memang, awalnya pria itu hanya memasukan subjek utama dalam eksperimennya untuk membuatnya sengsara.” Cerita Soo Hyun, Hye Rim sempat terkejut dan kembali bertanya Apa yang wanita itu lakukan pada pria itu
“Aku pikir pada awalnya mereka berdua tidak rukun dan Mereka tidak sepaham dalam banyak hal. Tapi... ketika eksperimen berlangsung, dia menjadi lebih dekat dengan wanita itu dan melihat sisi yang berbeda dari wanita itu. Sisi seorang wanita yang mencoba untuk tetap kuat meskipun dia sebenarnya cukup rapuh dalam hatinya. Dia mencoba mengatasi semua kekurangannya sendiri sebaik-baiknya yang dia bisa. Mencoba yang terbaik untuk bertahan hidup, terlepas dari apa yang dunia lempar kepadanya. Akhirnya, Subjek Pria A benar-benar mulai mencintainya.” Cerita Soo Hyun yang menceritakan sendiri tentang dirinya.
“Apa pria itu akan memberitahu wanita itu kalau semua ini adalah eksperimen?” tanya Hye Rim kembali memancing
“Dia ingin mengatakan kepada wanita itu, tapi kupikir pria itu belum menemukan waktu yang tepat.” Kata Soo Hyun,

Hye Rim meminta Soo Hyun menyampaikan pesan untuk segera mengatakan pada wanita itu, karena yakin wanita itu bisa memaafkanya apabila si pria mau berkata jujur. Soo Hyun mengerti dan memberitahu kalau mungkin pria itu terlihat khawatir untuk mengatakan hal itu pada si subjek wanita. Hye Rim meminta Soo Hyun melakukan sekarang juga. Soo Hyun kaget tiba-tiba Hye Rim meminta melakukanya.  
“Kalau aku adalah subjek tes dan kamu Subjek Pria A, apa yang akan kau katakan?” kata Hye Rim, Soo Hyun makin gugup berusaha menutupi kebohongan, merasa tak mungkin melakukannya. Hye Rim meminta Soo Hyun melakukan saja. Soo Hyun akhirnya berlutut di depan Hye Rim,
“Aku minta maaf, Hye Rim. Pada awalnya, aku tidak terlalu menyukaimu, jadi aku memasukanmu dalam eksperimen untuk membuatmu marah. Tapi sekarang perasaanku kepadamu adalah yang sebenarnya.” Akui Soo Hyun, Hye Rim menatap merasa itu memang dari dalam hati pacarnya.  
“Aku minta maaf karena berpura-pura menyukaimu. Tapi, kupikir... mungkin aku sudah tertarik kepadamu sejak awal. Dan karena itulah aku berpikir tentang memasukanmu dalam eksperimen sejak awal.” Cerita Soo Hyun dengan wajah tertunduk
“Hye Rim.... Bisakah kau memaafkanku?” ucap Soo Hyun menatap Hye Rim

Hye Rim bertanya kalau ini semua yang akan dikatakan Soo Hyun pada wanita itu, Soo Hyun mengangguk lalu berdiri. Hye Rim ikut berdiri dari bangkunya, meminta agar Soo Hyun mengatakan pada pria itu untuk mengakui segala sesuatun pada wanita itu secepatnya, karena  menurutnya Semakin cepat, semakin baik dan mengatakan akan keluar lebih dulu dan menunggunya. Soo Hyun sempat terdiam dan duduk lemas karena merasa bersalah dengan Hye Rim. 

Hye Rim  naik kelantai dua, Seung Chan langsung menyapa Hye Rim yang baru pulang lalu mengajaknya untuk makan diluar. Hye Rim sinis merasa tak ada alasan untuk makan bersama Seung Chan sekarang.
Seung Chan merasa sangat bersalah jadi akan membuatkan sesuatu yang lezat untuk makan malam. Hye Rim pun setuju untuk membuat makan malam selama seminggu lalu berjalan ke dapur. 

Seung Chan membuatkan ramyun, menanyakan apa yang dikatakan kakaknya, Hye Rim menceritakan Soo Hyun melakukan sesuatu yang lebih tak disangka olehnya. Seung Chan pikir Hye Rim itu harus mengatakan semuanya saja pada sang kakak.
“Aku ingin mendengar dia mengatakan secara jujur padaku” kata Hye Rim penuh keyakinan
“Apa Kau masih percaya kepadanya?” keluh Seung Chan sambil memberikan mangkuk yang berisi mie, Hye Rim mulai memakanya bertanya-tanya apa yang dimasukan Seung Chan ke dalam mie karena rasanya sangat enak, seperti berusaha mengalihkan pembicaran .
“Dia tidak akan pernah mengatakannya dengan kedua bibirnya sendiri. Karena Dia orang yang benar-benar menakutkan, kau tahu itu. Apa kau tahu kenapa aku mulai bermain baseball? Ketika aku masih kecil , kakakku...” cerita Seung Chan sambil menerawang. 

Flash Back
Soo Hyun memainkan bola kasti, menyuruh Seung Chan yang masih kecil agar memukul dengan baik, dengan sinis mengatakan sengaja membiarkan adiknya bermain karena buruk sekali dalam beberapa hal. Seung Chan terlihat masih sangat kecil bahkan tak pemukul baseball lebih tinggi darinya meminta sang kakak untuk melemparkan bola padanya, karena pasti akan melakukan Home Run.
Dengan sekuat tenaga Soo Hyun melempar bola dan sengaja mengenai kepala adiknya, Seung Chan melepaskan tongkat baseballnya dan menjerit kesakitan, teman-teman Soo Hyun langsung mengerubungi Seung Chan menanyakan keadaanya. Seung Chan melirik sang kakak yang menatap dingin dan hanya diam saja. 

“Kadang-kadang aku masih melihatnya dengan sifat yang seperti itu.  Dan itu membuatku bertanya-tanya kenapa dia sangat membenciku.” Ucap Seung Chan binggung
“Apa kau sudah mencoba berbicara dengan kakakmu tentang hal itu?” tanya Hye Rim
“Tidak. Dia bahkan tidak memperlakukanku sebagai seseorang yang seharusnya diperlakukan sebagai adiknya yang lebih muda” cerita Seung Chan
Hye Rim teringat cerita Soo Hyun yang merasa ada perasaan licik yang didapatkan ketika mereka bertiga maka, adik dan ibunya akan bekerjasama melawanya. Akhirnya Hye Rim memberanikan diri bertanya seperti apa ibu Seung Chan, Apa ibu bersikap baik kepada Soo Hyun. Seung Chan menyakin bahwa ibunya sangat baik dan merasa Hye Rim seperti meragukan ibunya.
“Kau pikir Karena dia memihak kepadaku sepanjang waktu atau semacamnya? Dia tidak melakukan itu sama sekali. Dia merawat kakakku jauh lebih baik daripada dia merawatku.” Tegas Seung Chan
“Ya. Aku berpikir tidak memiliki hak untuk mengatakan apapun tentang hal itu.” Kata Hye Rim mencoba untuk menenangkan Seung Chan yang terlihat emosi
“Bagaimanapun, dia benar-benar seseorang yang dengki dan dingin. Jadi jangan memiliki harapan yang tinggi kepadanya. Kalau dia harus memilih antara kau atau eksperimen maka dia pasti akan memilih pilihan kedua.” Ucap Seung Chan, Hye Rim merasa  akan mengurusnya lalu kembali makan mie. 

Seung Chan baru pulang, melihat sang kakak yang sedang menuang kopi. Soo Hyun melihat adiknya baru pulang langsung bertanya apakah Seung Chan mengatakan sesuatu pada Hye Rim, dengan mata curiga. Seung Chan berpura-pura menanyakan alasan Soo Hyun bisa mengatakan hal itu
“Hye Rim bertingkah agak aneh akhir-akhir ini. Apa kau memberinya petunjuk apapun tentang eksperimen?” tanya Soo Hyun
Haruskah aku membodohinya?  Ahh... Tidak... meskipun demikian, dia kakakku.” Gumam Seung Chan masih baik terhadap kakaknya.
“Aku sudah  memperingatkanmu, untuk Cepat dan akui pada Go Hye Rim tentang eksperimen lalu minta maaf kepadanya Itulah satu-satunya cara yang bisa membuatmu bertahan.” Tegas Seung Chan, Soo Hyun tertawa mendengarnya.
“Kau pikir kau ada pada tingkat dimana bisa memberiku peringatan? Kenapa tidak mencoba menimbang, melihat bagaimana keadaanmu sekarang ini? Apa kau tidak malu memohon kepadaku, pada usiamu sekarang?” ejek Soo Hyun dan berjalan ke dalam kamarnya.
“Dan Juga... Hye Rim memilihku. Jadi kau jangan berani mengganggunya lagi.” Tegas Soo Hyun masuk ke kamarnya, Seung Chan merasa dirinya sudah bodoh harus mengkhawatirkan sang kakak. 

Prof Bae melihat Pekerjaan orangtua Soo Bam tidak ditulis dan bertanya apa yang dilakukan keduanya. Soo Hyun tahu Tuan Park seorang penyanyi trot di klub malam dan istrinya seorang ibu rumah tangga, tapi perntan menjadi seorang ratu kontes kecantikan dan keduanya hanya lulus dari SMA.
“Kalau begitu... Aku yakin orang tuanya benar-benar mencintai So Dam. Lagipula dia benar-benar baik dalam belajar.” Pikir Ji Ho
“Tidak seperti itu, ibuku mencintaiku karena menurutnya aku mirip dia. Aku banyak bermain-main ketika aku masih muda, begitu juga ibuku.” Cerita Hye Rim, Soo Hyun menahan tawa mendengarnya.
“Yah, kita tidak bisa mengatakan dengan pasti kalau memang itu yang terjadi. Banyak orang tua yang tidak terlalu baik dalam belajar, sangat senang saat anak-anak mereka pandai.” Komentar Prof Bae,

“Tapi Kenapa dia suka menarik-narik rambutnya?” tanya Hye Rim binggung
“Ada banyak alasan yang mungkin bisa menjadi penyebabnya. Bisa jadi dia benar-benar stres atau gelisah.” Kata Prof Bae yang dilanjutkan oleh Soo Hyun
“Ada banyak gejala, tapi kita belum memberikan diagnosis. Kupikir kita harus menemuinya sekali lagi.” Kata Soo Hyun, Prof Bae setuju jadi meminta mereka bertemu lagi dan membahasnya kembali, setelah itu pergi keruangan. 
Soo Hyun berdiri mengajak Hye Rim untuk pergi mengunjungi Soo Dam, Hye Rim merasa sudah terlalu banyak mengulur-ulur waktu beberapa hari terakhir ini, jadi menolak untuk ikut dan menyarankan untuk mengajak Ji Ho saja. Soo Hyun binggung melihat sikap Hye Rim berubah ketika diajak jalan bersama.

Ji Ho mendekati Soo Hyun ingin memberitahu sesuatu, Hye Rim langsung melonggo dari balik dinding, meminta untuk bicara sebentar. Ji Ho terlihat ketakutan, Soo Hyun makin heran melihat suasana yang terlihat tak seperti biasanya.
Beberapa saat kemudian Ji Ho  mencari-cari Hye Rim dilorong, tangan langsung ditarik dan disandarkan pada dinding, tangan Hye Rim mencekik untuk mengacamnya matanya melotot, menanyakan Apa yang coba beritahu Ji Ho pada Soo Hyun. Ji Ho dengan leher terkecik mencoba  mengatakan tentang Hye Rim yang sibuk
“Jangan berani-berani mengoceh tentang hal itu, kau tahu apa yang akan terjadi, kan? Aku akan menguburmu hidup-hidup tanpa ada yang tahu tentang hal itu.” Ancam Hye Rim lalu melepaskan tanganya, Ji Ho mengerti lalu terbatuk-batuk setelah dicekik. 

Soo Hyun menelp Ibu Soo Dam karena ingin menemui anaknya hari ini, Nyonya Park dengan wajah sedih menceritakan  So Dam adalah di rumah sakit sekarang. Soo Hyun kaget menanyakan kenapa Soo Dam  bisa ada dirumah sakit. Beberapa saat kemudian Soo Hyun dan Ji Ho sudah ada dirumah sakit melihat So Dam sedang ditangani oleh dokter diruang IGD.
“Tadi malam, dia sedang tidur tetapi ada suara yang keluar dari hidungnya. Setelah aku memeriksanya, kami melihat kalau hidungnya penuh kacang dan hidungnya  membengkak, sehingga kacangnya tumbuh sebesar lubang hidungnya.” Cerita Nyonya Park sedih melihat banyak kacang yang dikeluarkan dari hidung anaknha.
“Apa Dia memasukannya di hidungnya sendiri?” tanya Soo Hyun yang merasa kasihan melihat Soo Dam menangis
“Tentu saja... siapa lagi yang bisa melakukan itu? Ya Ampun... bagaimana mungkin dia menyebabkan masalah setiap hari?”keluh Nyonya Park
“Tapi tetap saja, itu cukup luar biasa. Aku yakin itu sangat menyakitkan, tapi dia bertahan dengan baik. Kau memang Anak yang baik. Bertahanlah sedikit lebih lama lagi, oke?” kata Dokter memuji So Dam  

Flash Back
Soo Hyun menyapa Soo Dam dengan canggung, lalu mengelus rambutnya dengan memujinya sangat cantik. Soo Dam menatap Soo Hyun, bertanya apakah ia memang benar-benar cantik, Soo Hyun mengangguk untuk menyakinkan. Soo Dam bertanya, seberapa cantiknya dirinya. Soo Hyun mengatakan Soo Dam itu sangat... sangat... cantik. Soo Dam langsung tersenyum merangkul kaki Soo Hyun.
Hye Rim keluar dari kamar mandi bertanya apa yang sedang dilakukan Soo Dam sekarang. Soo Dam mengaku sangat menyukai Soo Hyun jadi ingin menikah denganya. 

Nyonya Park pun selesai dari IGD, dan meminta Ji Ho serta Soo Hyun menjaga Soo Dam karena ingin mengurus pembayaran. Soo Hyun pun meminta Ji Ho untuk menyiapkan mobil untuknya. Dengan wajah bersahabat, Soo Hyun berjongkok bertanya kenapa Soo Dam memasukan kacang ke dalam hidungnya.
“Aku penasaran untuk melihat berapa banyak yang bisa masuk ke dalam hidungku” ucap Soo Dam tanpa mau menatap Soo Hyun,
“Kenapa kau ingin tahu tentang itu?” tanya Soo Hyun, Soo Dam mengaku hanya ingin memasukan yang banyak ke dalam hidungnya. Soo Hyun tetap ingin tahu kenapa Soo Dam melakukan itu.
“Kalau banyak kacang yang bisa masuk ke dalam hidungmu, itu bagus. Nanti menjadi penuh.” Cerita Soo Dam, Soo Hyun kembali bertanya kenapa Soo Dam menyukai itu.
“Kalau hidungku menjadi lebih besar, maka ibu dan ayahku akan berpikir kalau itu aneh.” Akui Soo Dam, Soo Hyun bertanya kenapa Soo Dam ingin orang tuanya berpikir seperti itu.
“Karena mereka akan mengatakan "itu aneh" dan memperhatikanku.” Akui Soo Dam, Soo Hyun terdiam dengan mata terkejut mendengar jawaban Soo Dam. 

Flash Back
Ibu Tiri Soo Hyun kaget melihat lembaran nilai ditangannya, Soo Hyun menceritakan mendapatkan nilai seratus di semua mata pelajaran. Ibu Tiri Soo Hyun pun memuji Soo Hyun yang sudah berkerja keras, Soo Hyun pun tersenyum lebar.
Ketika menuruni tangga, ibu tirinya menanyakan apa yang sedang dilakukan Soo Hyun. Soo Hyun sibuk mencuci piring, ibu tirinya merasa tak enak hati karena itu adalah pekerjaanya. Soo Hyun pikir harus harus mencucinya setelah makan.
Soo Hyun pun mengepel lantai walaupun tanganya terasa pegal, ketika keluar kamar untuk memberitahu ibunya sudah menyelesaikan tugasnya. Tapi sang ibu sedang asik membacakan dongeng untuk Seung Chan. Wajah Soo Hyun langsung cemberut karena ibunya seperti lebih memperdulikan adiknya. 

Soo Hyun menatap Soo Dam seperti merasakan yang dirasakannya untuk mencari perhatian agar orang tuanya bisa memberikan kasih sayang lebih padanya, tapi yang diterima malah omelan bahkan ungkapan kekesalan orang tua. Akhirnya ia memeluk Soo Dam dengan wajah sedih mengingat kenangan masa kecil yang tidak mengenakan untuknya. 

Yoo Rim membanting Ji Ho, sambil mengumpat karena Ji Ho berani melakukan eksperiment itu pada kakaknya. Ji Ho berusaha berdiri merasa sudah meminta maaf ketika berada cafe, Yoo Rim menarik tangan Ji Ho dan memelintirnya, menurutnya semua ini bukan sesuatu hal yan diselesaikan dengan permintaan maaf.
“Bagaimana kau bisa melakukan itu dan menyebut dirimu seorang manusia? Jawab aku!” teriak Yoo Rim
“Tidak, bukan itu... Aku hanya melakukan apa yang diminta...” kata Ji Ho dan Yoo Rim kembali membantingnya dan langsung memintingnya.
“Jadi kau mengatakan kalau kau mendekati kakakku  karena eksperimen?” tanya Yoo Rim dengan posisi Ji Ho ada dibawahnya.
“Ya, tapi aku jadi benar-benar menyukainya sebelum aku menyadarinya...” akui Ji Ho dengan merintih kesakitan.
Yoo Rim pun menyuruh Ji Ho melakukan eksperimen juga padanya, untuk mendekati dan jatuh cinta padanya. Ji Ho menanyakan kenapa harus melakukan itu, Yoo Rim mengaku karena ia menyukai Ji Ho. Dengan blak-blakan Ji Ho menolaknya, Yoo Rim menanyakan alasanya, Ji Ho mengaku tak tertarik pada Yoo Rim. Akhirnya Yoo Rim melepaskan pitingnya dan memilih untuk pergi.
Yoo Rim duduk dihalte bus menahan tangisnya, mengingat Ji Ho yang tak tertarik padanya, padahal selama ini melakukan begitu banyak  hal untuk Ji Ho. 

Hye Rim baru pulang, melihat pakaian yang berceceran dilantai dan langsung mengumpat pada adiknya yang tertidur dengan menutup semua tubuhnya. Dengan mengunakan kaki, Hye Rim membangunkan adiknya, mengomel karena adiknya mencuci pakaian dua kali seminggu, bukan ia yang harus mencuci pakaian adiknya, karena ia bukan ibunya bahkan seorang pembantu.
“Tidak bisakah kau lihat kalau aku sedang dalam suasana hati yang buruk sekarang? Kalau seseorang membuat sprei mereka berantakan, bukankah normal untuk menanyakan. apa mereka baik-baik saja?” teriak Yoo Rim kesal
“Kau pikir aku ingin menanyakan omong kosong seperti itu? Aku baru saja menjadi subjek eksperimen. Kau pikir aku dalam suasana hati yang baik sekarang?” teriak Hye Rim tak terima
“Apa itu kesalahan aku? Itu kesalahanmu sendiri.” Tegas Yoo Rim, Hye Rim merasa adiknya itu baru saja bertengkar dengan Ji Ho
“Ya, aku memang baru saja bertengkar! Lalu kenapa!” teriak Yoo Rim makin tinggi suaranya.
“Kenapa kau selalu melampiaskan kemarahanmu kepadaku saat kalian berdua bertengkar? Kalau begitu kamu harus berperilaku lebih feminin. Siapa yang akan menyukaimu, berpakaian seperti itu?” ucap Hye Rim dengan nada mengejek

“Kau pikir pantas untuk mengatakan itu kepadaku sekarang? Aku baru saja ditolak oleh Ji Ho hari ini!” ucap Yoo Rim
Hye Rim terdiam dan ingin membalikan kata-kata yang diucapan adiknya, apakah itu semua kesalahanya, menurutnya Yoo Rim itu  menyadarinya, tapi ia sendiri tidak melawannya sedikitpun dan Ji Ho mengatakan kalau ia menyukainya dengan sendirinya. Yoo Rim berteriak kalau memang semua itu salahnya dan merasa kakaknya akan puas mendengarnya.
“Pada kenyataanya bahwa Ibu dan Ayah hanya menyukaimu adalah salahku dan kau mencuri Joo Sung dariku ketika kita masih remaja adalah salahku...” jerit Yoo Rim, Hye Rim binggung kenapa adiknya mengangap mencuri Joo Sung.
“Siapa orang yang berusaha keras untuk menjodohkan kami? Itu Kau!” kata Hye Rim dengan mata melotot
“Itu satu-satunya cara aku bisa menemuinya! Karena itulah satu-satunya cara dia benar-benar tahu aku ada didekatnya. Dia membelikanku makanan dan memperlakukanku dengan baik karena aku adikmu, dasar bodoh! Itu semua juga salahku. Kenyataan bahwa aku lahir sebagai adik dari seseorang secantik kau adalah salahku dan berpakaian seperti laki-laki agar terlihat sedikit berbeda darimu adalah salahku lalu belajar Hap Ki Do untuk melampiaskan rasa frustrasiku adalah salahku juga! Kau puas?” jerit Yoo Rim melampiskan semua amarah yang dipendamnya, lalu menangis dibalik selimut.
Hye Rim terdiam karena adiknya ternyata selama ini menyimpan amarahnya, lalu mengoyangkan tubuh adiknya dengan merayu untuk mencuci pakaianya. Yoo Rim berteriak menyuruh pergi saja dan kembali menangis. 
bersambung ke part 2 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar