Rabu, 22 Maret 2017

Sinopsis Tomorrow With You.Episode 13 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Yong Jin bertemu dengan Presdir Choi di pinggir sungai dengan memberikan dokumen,  Presdir Choi mengaku tidak perlu membacanya jadi akan percaya. Yong Jin mengaku  akan merobek kontrak sebelumnya dan menunjuk kontrak kerja. Si pria melihat Yong Jin yang mengubah detail kontraknya dan tidak akan pernah melupakan jasanya. Yong Jin memperlihatkan sebotol anggur dalam suasana dingin. Si Presdir sudah mulai mabuk.
“Tugas saya adalah menunduk dan berlutut pada uang. Sejujurnya, itu yang saya lakukan. Saya seharusnya berhenti sekarang dantidak bisa melakukannya lagi.”ungkap Yong Jin
“Presdir... Akan memakan cukup waktu untuk mengungkap soal rekening palsu, juga perjanjian kita. Saya hanya perlu mengambil kontrak  Anda. Anda tahu saya menyukai kau, 'kan? Maafkan saya. Tapi, Anda harus lenyap, Presdir. Dengan begitu, hubungan kita ini akan aman sementara waktu Saya harus membereskan semua ini diam-diam dan pergi sekarang.”ungkap Yong Jin  Presdir Choi yang sedang mabuk binggung
“Aku sudah membunuh seseorang dan Tidak bisa berhenti lagi sekarang. Saya tidak punya pilihan.” Kata Yong Jin dengan sengaja mendorong Presdir Choi ke dalam sungai dan membiarknya tengelam dalam air dingin. 

So Joon menyuruh Ma Rin bangun dan meredakan mabuknya, karena  harus menyuapi istrinya lalu berangkat kerja. Ma Rin bangun langsung membuka mulutnya, So Joon heran yang dilakukan Ma Rin membuka mulut dengan bau alkohol.
“Kau bilang akan menyuapiku.” Ucap Ma Rin, So Joon mengelak karena Ma Rin itu bukan anak-anak
“Maafkan aku... Aku akan coba berhenti minum.” Ucap Ma Rin, So Joon melihat Ma Rin yang manis jadi tidak bisa membencinya dan menyuruh  Ma Rin segera bangun. 

Ma Rin memakan sup pereda mabuk yang membuatnya kembali sadar, dan memuji So Joon sebagai Suami Terbaik. So Joon mengaku tidak suka, meski minum dengan Ki Doong jadi meminta agar Ma Rin benar-benar berhenti minum. Ma Rin melihat itu So Joon itu cemburu.
“Aku menentukan batas. Tidak ada alkohol lagi dalam hidupmu.” Kata Soo Joon, Ma Rin mengatakan Kemarin itu yang terakhir.
“Bukan masalah besar. Kau berhenti naik subway,  aku berhenti minum.” Ucap Ma Rin
“Apa Kau sungguh senang aku berhenti naik subway?” tanya So Joon, Ma Rin mengangguk sangat senang.

Flash Back
Ma Rin yang mabuk mengaku ingin beberapa Barang baru dari masa depan. seperti Ki Doong. Ia merasa iri karena Ki Doong itu memiliki Benda-benda masa depan...
Ma Rin mengaku kalau kemarin malam mabuk dan bicara mengingau. So Joon meminta Ma Rin mengatakan saja kalau menginginkannya karena masih bisa pergi selagi bisa Ma Rin tetap menolaknya.
“Setelah kupikirkan,  aku memang tidak pernah membelikan apa pun untukmu.” Ungkap So Joon
“Kau bilang Benda-benda masa depan? Barang Satu itu saja sudah bikin aku pusing.” Kata Ma Rin menunjuk ke arah vacum cleaner dan meminta agar tak membelikanya.
“Tapi, semalam kau sampai menangis.” Kata So Joo mengejek. 


Direktur Wang mengaku kalau Ada perubahan dari rencana sebelumnya dan tidak akan membangun bisnis komplek terminal jadi lebih baik membeli tanah di sekitar komplek terminalnya. Direktur lain pikir Rencana itu berlebihan karean Lebih baik kita berinvestasi di gedung komersil distrik Sungwoo saja.
“Berapa banyak dana yang kalian butuhkan? Berapa keuntungannya?” tanya So Joon duduk ditengah-tengah rapat.
“Dananya sekitar 20 milyar won, dan hasilnya kira-kira 50 milyar won. Sungwoo membutuhkan dana 20 milyar won, bisa kembali sampai 60 milyar won.” Kata Direktur
“ Proyek Direktur Wang adalah kepemilikan tanah di kota itu. Berbeda dimensi dengan target properti komersial. Kurasa, perusahaan kita punya kemampuan dalam bidang tersebut.” Komentar  Ki Doong, Direktur Wang meminta agar Ki Doong bisa mendukungnya.
“Kita sudah membicarakan ini sejak lama dan sudah rapat berkali-kali, tapi hasilnya tidak jelas. Presdir, tolong buat keputusan hari ini. Saya akan memercayai firasat Anda dalam hal ini.” Kata Direktur Wang penuh semangat

So Joon pikir tak mungkin bisa bekerja mengandalkan firasat karena itu  proyek dengan banyak dana jadi harus bekerja sangat keras. Ia mengerti ada kelebihan proyek itu berkat kepemilikan tanah Tapi hasilnya 10 milyar lebih rendah dari proyek Sungwoo jadi Direktur Wang harus memangkas dana pembayaran atau konstruksinya setelah itu mentandatangani.

Ki Doong memuji So Joon itu tidak terlalu buruk dan pasti belajar dengan keras lalu ingin melihat lembaran kertas yang tadi corat coret, lalu mengumpat kesal ternyata temanya menggambar anak babi. So Joon mengaku kalau sudah kebiasaan dan merasa tidak nyaman kalau tidak menggambar. So Joon mengaku kalau itu gambar bunga. 

Ma Rin menelp bertanya apakah rapat pentingnya itu lancar, karena takut mengacaukannya gara-gara dirinya.  So Joon mengaku kalau ia mengacaukannya. Ma Rin panik berpikir karena dirinya yang mengacaukanya dan meminta maaf.
“Situasinya lebih serius dari perkiraanku. 10 milyar jadi taruhannya. Kurasa, aku harus pergi ke dunia lain  dan memeriksa beberapa tanah. Aku akan pergi lalu kembali dalam waktu seminggu. Setelah itu, bahkan meski kau suruh,  aku tidak akan pergi.” Kata So Jooon
“Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Tapi Bukankah semestinya kau memegang janjimu?”ucap Ma Rin
“Kau sangat mabuk kemarin.” Balas So Joon, Ma Rin tak berkata lagi mengizinkan So Joon untuk pergi.
“Apa kau kau kubelikan sesuatu dari sana? Ini Hanya semingg dan Kesempatan langka” kata So Joon
“Cukup jangan temui wanita itu dan Pergi bekerja saja! Jangan mencari tahu hal-hal aneh. Jangan telat.” Tegas Ma Rin memperbolehkan So Joon pergi dengan kesal kalau Alkohol memang musuhnya. 


Ki Doong pikir sudah bisa mengetahuinya kalau sudah mempertaruhkan kalau So Joon pasti akan pergi lagi. So Joon memuji Ki Doong yang sudah membuat keputusan tepat menurutnya, Ki Dong pikir  karena sudah cukup lama,  jadi lebih baik untuk cari info...
“Apa Kau pikir aku ke dunia lain untuk bekerja? Siapa yang menyuruh, kau membuat bayiku menangis dan menginginkan semua benda-benda itu?” ucap So Joon, Ki Doong berpikir kalau “bayi” yang dimaksud adalah Ma Rin, So Joon membenarkan.
“Bukankah Ma Rin setahun lebih tua dari kita?” kata Ki Doong, So Joon tak peduli menurutnya Ma Rin untuk lucu seperti bayi.
“Kau membuatnya menangis! Padahal aku berniat tetap di dunia ini! Kau bikin masalah saja buat aku!” ucap So Joon menyalahkan Ki Doong, Ki Doong hanya bisa mengumpat. So Joon pun tersenyum bisa pergi ke masa depan. 


Sementara Ma Rin pikir dirinya gila karena membiarkan suaminya dalam bahaya. Beberapa saat kemudian, So Joon sudah kembali dengan banyak barang untuk istrinya, bahkan Ramyeon Ohri. Ia juga membelikan kamera terbaru dan menjadi objek untuk Ma Rin.  Lalu Ma Rin hanya bisa melonggo melihat koran masa depan berjudul [Ryu Sun Gwang, Presiden Terpilih Ke-19]
Ma Rin pun menunggu So Joon pulang dengan kereta menurutnya Rasanya seperti mimpi tapi heran karena hanya bisa menjelajah sampai dua tahun ke depan. So Joon mengaku tak tahu kalau tidak bisa kalau terlalu jauh.

Manager memberikan tiket pada Se Young yaitu dua tiket film, hadiah dari sponsor. Se Young  melihat judul filmnya "Cinta Kedua." Ki Doong menelp  mengajak untuk nonton film setelah pulang kerja, Se Young langsung menolak. Ki Doong mengeluh Se Young tanpa berpikir lebih dulu. Se Young mengaku kalau sudah memikirkan dan tak ingin menonton lalu menutup telpnya.
Rekan kerjanya lalu mengajak Se Young pergi bersama mereka saja. Se Young mengaku kalau penasaran akan sesuatu dan Ini soal temannya.
“Bagaimana pemikiran seorang pria pada gadis yang memiliki cinta sepihak pada sahabatnya? Apa mungkin dia bisa menyukai gadis itu?” ucap Se Young, temanya itu pikir itu tergantung dari individunya, Se Young ingin melihat dari rekan kerjanya saja.
“Apa cinta sepihak itu berlangsung lama? Apa Perasaan gadis itu sangat dalam?” tanya Si pria, Se Young mengangguk.
“Apa Mereka pernah kencan?” tanya si pria, Se Young mengelengkan kepala dan meminta pendapatnya.
“Kalau aku rasanya agak aneh. Meski mengencani gadis itu, sedari awal aku pasti yakin akan berpisah. “ kata si pria, Se Young pikir Hal itu akan terus membuat terganggu lalu mengembalikan dua tiket karena tak ingin mengunakanya. 

Soo Joon sibuk didepan laptop dan melihat Ma Rin yang mengunakan cream dari masa depan, lalu memberikan tiket menonnton Kim Yu Na di Christmas Eve, tahun depan dan mengajak ibunya. Ma Rin heran kemana So Joon akan pergi.  So Joon pikir mungkin sibuk. Ma Rin makin heran karena So Joon itu sibuk. So Joon menekan kalau perkataanya tadi “mungkin”
Soo Joon bertanya apakah ada makanan, Ma Rin ingin memanaskan mandu, So Joon memberitahu kalau  Ada pangsit yang akan sangat populer musim dingin nanti dan lupa membelikannya. Ma Rin  pikir Pangsit dimana-mana ya sama saja. So Joon mengatakan kaalu Besok akan jadi hari terakhir naik subway jadi pergi hari ini saja lalu bergegas pergi.
“Aku jadi gugup karena dia jadi sangat baik padaku.” Ungkap Ma Rin dan langsung tersenyum bahagia melihat nama Kim Yuna. 

So Joon terlihat bahagai mengantri membeli mandu dua porsi, Ma Rin keluar dari rumah melihat ada sekotak makanan dan juga USB didalamnya, So Joon sengaja memberikan makanan pada Ma Rin tanpa menampakan dirinya. Didalam rumah, Ki Doong dan Se Young sedang membahas  penampilan legendaris yaitu Kim Yuna .
“Ayo makan sesuatu yang lezat. Aku akan mentraktirmu. Kau bahkan mengajak kami menonton pertunjukan Kim Yuna.” Kata Se Young melihat Ma Rin yang baru datang
“Kurasa, aku makan ini saja. Sepertinya, tadi So Joon mampir.” Kata Ma Rin dengan wajah sedih
“Tidak bisakah kita menghampiri dan bertemu dia? So Joon di masa lalu tetaplah So Joon.” Pikir Se Young
Ma Rin menyuruh mereka pergi kencan saja karena sekarang Christmas Eve.

Ma Rin masa depan duduk sendirian, sementara Ma Rin di jaman sekarang menonton pertandingan robot dan manusia bersama So Joon, walaupun So Joon sudah tahu bahwa pemenangnya manusia. Ma Rin memuji suaminya yang bisa menonton sejarah bahkan sebelum peristiwanya terjadi.
“Kau tidak boleh mengatakannya pada siapa pun dan bisa dapat masalah.” Pesan So Joon, Ma Rin pun mulai makan pangsit yang dibeli So Joon. 
 Ma Rin masa depan sambil makan pangsit memasukan USB dan melihat video yang dikirimkan So Joon padanya.
“Halo, Song Ma Rin di masa depan, bagaimana kabarmu? Jika kau menonton ini sekarang, berarti aku tidak berada di sisimu. Aku akan mencoba. Aku tahu mungkin tidak bisa mengubah masa depan kita. Ini agak berlebihan, Tapi, aku ingin meninggalkan pesan padamu seperti ini. Aku memikirkannya secara mendalam.”
“Aku ingin ada di sana untukmu,  yang saat ini di sisiku. Jadi, aku ingin mencoba yang terbaik hari demi hari sekarang. Aku akan melakukan segalanya yang kubisa untuk dia. Tapi kau...cukup...tunggu sampai bisa melupakanku. Sampai saat itu tiba...cukup lupakanlah aku. Dengan menikahi aku... maka kau menjadikanku sempurna. Terima kasih... Aku mencintaimu.... Aku mencintaimu lagi... Aku mencintaimu..... “
Ma Rin hanya bisa menangis melihat sosok So Joon dimasa lalu yang tak bisa ditemuinya. 

Ma Rin dimasa sekarang mengucapakan Terima kasih karena So Joon orang pertama yang memperlakukannya dengan sangat baik tapi menurutnya tidak perlu sebaik itu karena seperti orang yang akan pergi jadi tidak perlu berusaha keras menyenangkannya. So Joon mengangguk mengerti.
“Tapi... bisa tidak kau memberiku nomor lotere yang jitu? Akademi piano So Ri tidak menghasilkan uang” kata Ma Rin merengek, So Joon menegaskan kalau itu tak bisa.
“Ucap Aturanku adalah tidak terlibat dalam kehidupan orang lain. Kecuali kau.” Tegas So Joon, Ma Rin pun mengerti lalu berbaring dipangkuan So Joon sambil menonton berita.
“Belakangan ini, acara beritanya menghibur. Tepatnya bukan menghibur, sih, tapi terasa aneh. Karena aku sudah tahu banyak soal masa depan.  Saat mereka melakukannya, terasa sedikit menggelikan.” Ungkap Ma Rin.  So Joon jg marasa seperti itu.
“Dunia jadi terasa mudah dan segala sesuatu tidak penting.Ini Menggelikan sekali.” Kata So Joon
Ma Ri panik melihat berita kecelakaan di jalanan dan meminta agar So Joon bisa berhati-hati saat mengemudi. So Joon tiba-tiba menangis karena keduanya sebelumnya ditakdirnya meninggal dalam kecelaan. Ma Rin binggung melihat So Joon yang menangis.
“Mereka pasti juga memiliki orang-orang tercinta. Orang yang ditinggalkan juga pasti kesulitan. Tapi kenapa kau sampai menangis?” ucap Ma Rin heran lalu memeluk suaminya seperti memiliki hati yang lembut. 

Sek Hwang akhirnya diberikan tugas pada Ki Doong meminta agar disampaikan pada So Joon ucapan terimakasih. Ki Dong memuji Direktur Wang aalh orang yang sangat baik. Sek Hwangg menyakinkan akan bekerja keras untuk Meyrits dan Direktur Wang. Ki Doong akhirnya keluar
“Kau tahu aku tidak pernah akur dengan Kim Young Jin, 'kan? Namun, aku membuka hati padamu karena Presdir yang menyuruh. Kau harus tahu itu! Aku juga mengakui loyalitasmu. Aku tidak seperti Young Jin, jadi jangan khawatir. Tapi, Young Jin benar-benar tamat.” Ucap Direktur Wang, Sek Hwang bertanya apakah terjadi sesuatu. 

Ki Doong masuk ruangan ingin tahu kedaaan Yong Jin karena sebelumnya So Joon sudah memperingatkan bahwa proyek Jangho tidak akan berhasil. So Joon bertanya apakah tim Tim audit internal tidak menemukan apa-apa lagi. Ki Doong juga tak mengerti kalau memang tak ditemukan  atau Yong Jin yang terlalu pintar menyembunyikannya.
“Apa Kau tahu bangunan yang jadi proyeknya? Periksa orang-orang yang menyewa gedung-gedung itu. Kenapa tidak memeriksa pengelola manajemen gedungnya? Mungkin, mereka mendengar soal penjualan gedung atau semacamnya.” Kata So Joon
“Apa Kau sungguh berpikir dia akan menjual salah satu gedung?” kata Ki Doong, So Joon berharap kalau itu tak akan terjadi. 

So Ri berjalan bersama dengan Ma Rin berpikir kalau Gun Sook berlebihan dan akan kembali menyebut 'Young Jin'-ku. Keduanya sudah ada dirumah temanya, Gun Sook mengatakan akan bercerai dengan menceritakan Yong Jin yang teriak kencang di ruang kerjanya membuatnya ketakutan, sampai mengunci kamarnya bahkan Setiap malam keluyuran menurutnya suaminya itu beneran psiko, sakit mental!
“Apa Kau yakin dia tidak selingkuh?” tanya So Ri, Gun Sook juga tak tahu “Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu yang aneh.” Ucap  Gun Sook, Ma Rin mengaku kalau juga sempat merasa semacam pada suaminya itu karena  masih pengantin baru, jadi mungkin masih sensitif saja. Gun Sook pikir bukan seperti itu.

“Dia benar-benar merendahkan aku saat kami bertatap muka. Apa Kau tahu benda dari tempat kerjamu, Happiness itu? Saat kubilang aku membuang pena itu, lalu dia mengamuk. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu dariku.” Cerita Gun Sook
“Apa Kau pernah memeriksa black box di mobilnya? Dari pengalaman kakak-kakakku, itu cara paling mudah.” Kata So Ri, Gun Sook sudah memeriksanya tapi suaminya sudah menghapus semuanya.
“Bukankah aneh? Kenapa dia harus menghapusnya? Apa kau sudah memeriksa navigasinya?” kata So Ri karena bisa tahu kemana saja. Gun Sook tahu suaminya tidak bawa mobil hari ini. 


Ma Rin dan So Rin berjaga-jaga didepan mobil, Gun Sook melihat dibagian navigasi melihat tujuanya banyak jadi meminta pulpen untuk menuliskanya. Ma Rin akhirnya duduk disamping temanya untuk mengambil gambarnya saja.
“Hwakyung-dong, Sangjin-dong... Kelihatan seperti alamat konstruksi Happiness.” Ucap Ma Rin mengetahui kalau itu alamatnya. 
Mereka pun keluar dan Ma Rin ingin mengirimkan foto pada temanya, Gun Sook pun bertanya Ada apa dengan Happiness, lalu terdiam mengingat saat berlari sebuah mobil putih lewat dengan plat nomor mobil yang sama. 


Yong Jin bertemu dengan seseorang yang mengatakan kalau belum ada yang terkonfirmasi tapi meminta agar menjelaskan, apakah Gedung utamanya akan dibangun di tempat lain dan ingin tahu alasanya. Si pria mengaku tidak tahu alasannya.
“Pastinya, untuk Jangho...tidak ada pembicaraan lebih jauh untuk menjadi lokasi potensial. Faktanya, justru area samping Jangho. Beritanya di sekitar situ.” Kata si pria.
“Jadi, Apa Jangho tidak akan berhasil?” ucap Yong Jin
“Aku tidak bisa mengatakan lebih jauh karena itu rahasia.” Kata si pria
Yong Jin marah karena sudah banyak uang yang dikeluarkan dan hanya mengatakan Rahasia lalu mengumpat marah. 

Akhirnya Yong Jin keluar sambil menelp dan dituduh sebagai penipuan. Dan menegaskan kalau ia juga ikut berinvestasi di dalamnya dan tak mungkin ikut kalau memang penipuan.
“Dan Juga, baru saja saya bertemu Direktur dari Grup LE. Dia meyakinkan Jangho akan berhasil. Anda mendengar rumor tidak berdasar. Jangan seperti itu, kau tidak perlu gugup. Percaya pada saya.” Ucap Yong Jin dengan nada tinggi

Yong Jin mengingat-ingat perkataan So Joon dengan menunjuk  di area samping Jangho. Lalu ia dengan yakin kalau Hampir bisa pastikan Grup LE akan membangun kantor pusatnya di sana.
So Joon mengatakan 'Hampir bisa', bukan 'sudah pasti' dan yakin alau Yong Jin pasti berterima kasih padanya serta semua investornya. Yong Jin pun bertanya-tanya siapa sebenarnya So Joon itu. 


Ma Rin berjalan bersama So Ri terlihat masih memikirknya. So Ri berpikir Yong  Jin yang selingkuh dengan karyawan Happiness, Ma Rin pikir Yong Jin ke lokasi konstruksi dua kali dan pasti punya proyek konstruksi yang tidak diketahui orang lain.
“Tampangnya tidak kelihatan itu masalah bisnis.” Kata So Ri, Ma Rin pun bertanya-tanya alasan lainya tiba-tiba berhenti menyruh So Ri pergi lebih dulu saja. 

So Joon meminta Ki Doong memberitahu permintaan karena setelah hari ini tak akan naik subway lagi serta esok akan menjalani kehidupan baru, Ki Doong meminta Posisi pertama lotere, Posisi kedua, serta Lowongan kerja. So Joon pun pamit pergi.
Yong Jin diam-diam mengikuti So Joon dari depan gedung sampai berada distasiun subway. So Joon seperti biasanya naik kereta menuju Seoul, saat itu  Yong Jin mendekat menyapa So Joon yang sudah lama tak ditemuinya, So Joon kaget melihat Yong Jin yang datang.

Ma Rin pergi ke rumah Gun Sook mengatakan  Ada tempat yang bisa merestorasi rekaman black box dan meminta mempercayainya kalau  suatu tempat jadi meminta agar black box itu diserahkan padanya. Saat itu lampu di kereta mulai menyapa So Joon terlihat panik.
Bersambung ke episode 14

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar