Jumat, 17 Maret 2017

Sinopsis Radiant Office Episode 2 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC
Semua peserta interview terlihat gelisah menunggu nama mereka dipanggil termasuk Ho Won dan Kang Ho. Salah satu pegawai memanggil 3 nama, untuk masuk ruangan. Tiba-tiba seorang pria mengeluarkan pistol dari saku celana dan menembak peserta yang akan masuk. Semua panik mencoba untuk berlindung.
Kang Ho karena shock akhirnya pingsan, Ho Won melihatnya mencoba untuk menyadarkanya. Salah seorang wanita juga mengeluarkan pistol, mereka semua bertarung dengan nilai TOEIC 900 yang dimiliki. Ho Won mencoba mencari perlindungan seperti didepanya terjadi pertempuran untuk mendapatkan pekerjaan dengan pistol. Ia menatap ke arah pintu dan berusaha untuk masuk ruangan. 

Akhirnya Ho Won berhasil masuk ruangan dikagetkan dengan orang yang mewawancarinya adalah Won Jin, orang yang sama sebelumnya. Ia mencoba agar bisa bersabar dan yakinkalau Dalam film lamaran ke-101 selalu sukses jadi Inilah kesempatan yang diberikan dunia padanya.
“Cuma nilaimu saja yang bagus.” Komentar Won Jin, Ho Won mengumpat karena sebelumnya Won Jin juga berkomentar sinis yang hanya mementingkan nilai.
“Setidaknya saya senang dapat nilai yang bagus.” Ucap Ho Won, lalu tersadar kalau dirinya seperti berani bicaa. Won Jin menatapnya dan berpikir Won Jin itu masih mengenalinya.
“Jang Kang Ho, kualifikasi-mu cukup bagus. Kau sekolah di luar negeri dua kali. Kenapa kau melamar ke perusahaan kami?” ucap Won Jin, Kang Ho terlihat gugup berbicara dengan terbata-bata

“Mulai dari... furniture..., ...Hauline mempelopori... budaya perumahan baru untuk... abad ke-21. Saya ingin Hauline menjadi... ...tempat saya mempertaruhkan hidup saya.” Kata Kang Ho,
“Apa Kau sungguh-sungguh ingin mempertaruhkan hidupmu di perusahaan kami?” ucap Won Jin, Kang Ho mengangguk membenarkan.
“Apa kalian semua merasakan hal yang sama? Kalau kau, Eun Ho Won ?” ucap Won Jin, Ho Won seperti sedang melamun
“Aku bertanya apa kau juga ingin mempertaruhkan hidupmu.” Ucap Won Jin mengulangi pertanyaan, Ho Won pun mengangguk.

“Kau bersedia untuk mempertaruhkan hidupmu pada perusahaan..., tapi sepertinya kau tidak siap.” Sindir Won Jin. Ho Won bergumam dalam hati kalau komentar Won Jin pasti seperti itu.
“Maaf. Saya selama ini... ...kerja paruh waktu...” ucap Ho Won dengan nada lemah dan langsung disela oleh Won Jin.
“Jika ada niat, semuanya menjadi mungkin. Apa kau tahu orang seperti apa yang kami cari?” kata Won Jin
“ Orang yang inovatif dan inisiatif. Anda mencari seorang ahli  dalam bidangnya.” Jawab Ho Won, Won Jin berkomentar Ho Won sudah mengetahuinya.
“Kau bilang akan mendedikasikan  hidupmu untuk bekerja...,tapi ternyata kau belum pernah magang di mana pun. Ikut pelatihan pun, kau tak pernah. Bukankah itu artinya...kau tidak cukup berusaha?” komentar Won Jin
“Saya harus melunasi  biaya kuliah dan sewa kos. Sulit buat mencari nafkah.Saya di sini karena putus asa buat mencari nafkah. Kenapa saya ingin mendedikasikan diri? Berhenti menanyai kami pertanyaan konyol.” Ucap Won Jin tak bisa menahan amarah
“Kenapa saya melamar disini? Bukannya kalian sudah tahu? Saya melamar buat cari nafkah. Lantas Ahjussi sekalian bagaimana? Apa hidup kalian bergantung  pada pekerjaan ini?” ucap Ho Won berdiri sambil bertolak pinggang tak bisa menahan amarah.
Bayangan dirinya berteriak menyuruh Ho Won sadar, Akhirnya Ho Won sadar dan binggung tiba-tiba sudah berdiri. Kang Ho menyuruh Ho Wons segera duduk. Won Jin langsung menyuruh Ho Won segera keluar saja.Tapi Ho Won tetap diam.

“Jadi Melalui berbagai pekerjaan paruh waktu..., kau belajar  kompetitif dalam penjualan. Kau juga mengembangkan  jiwa kepemimpinanmu. Bukankah kelebihanmu itu... menahan amarah?”ucap Won Jin menyindir, Ho Won yakin Won Jin itu ingat dengan dirinya.
“Saya... Sampai sekarang, saya sudah banyak bekerja paruh waktu di 32 tempat yang berbeda. Kerja paruh yang paling  cepat cuma dua hari Yang paling lama enam bulan. Saya bekerja paruh waktu tanpa mendapatkan  asuransi atau fasilitas lainnya. Sementara itu, impian saya bekerja di  perusahaan seperti Hauline. Saya ditolak 100 kali..., tapi saya tidak menyerah. Saya ingin menjadi orang atasan atau yang punya kuasa.” Ucap Ho Won 
Ho Won mengingat saat berkerja di restoran, pemilik restoran berani mengeluarkan pelangan karena punya kuasa. Lalu ketika berkerja didepan mall menyapa semua pelanggaan, Atasanya yang lebih tinggi lagi memarahi managernya yang usianya lebih tua. Bahkan membungkukan badannya, karena jabatan lebih rendah.
“ Selama saya bekerja paruh waktu..., inilah yang kupelajari. Orang yang berkuasa atau atasan adalah orang yang kuat. Orang bawahan yang selalu berjuang.” Ucap Ho Won 



Ho Won akhirnya hanya bisa menangis dalam kamar mandi merasa hidupnya sekarang sudah hancur dengan kesempatanya yang terakhir kalinya. Ji Na akan masuk lift dikagetkan dengan melihat sosok Ki Taek baru keluar dari lift, lalu melihat tanda pengenal sebagai kandidat pelamar. Akhirnya Ji Na menarik Ki Taek ke tempat yang sepi.
“Apa Kau sudah gila? Kenapa kau melamar ke perusahaan ini?” ucap Ji Na marah
“Aku sebelumnya sudah melamar kesini.” Kata Ki Taek, Ji Na dengan kesal yakin kalau itu karena akan bisa bekerja dengannya.
“Kau tidak menyukaiku  karena aku tidak punya pekerjaan.” Kata Ki Taek
“Beraninya kau melamar!! Kualifikasi mu saja tidak cukup bagus buat bekerja disini. Selain itu, kau juga  tidak muda lagi.” Ucap Ji Na meremehkan
“Kau tidak perlu khawatir. Lagipula, aku pasti  bakal gagal wawancara.” Kata Ki Taek pasrah
“Dengar baik-baik... Jangan sampai kau bilang pacarmu bekerja di kantor ini saat wawancara nanti. Sejujur, aku berharap kau  keluar dari sini. Lagipula kau takkan diterima.” Kata Ji Na memperingatinya.
“Jika nanti ada apa-apa denganku..., maka kau mungkin saja menyesal.” Balas Ki taek
Ji Na merasa Ki Taek seperti mengancamknya dan masih kesal karena mantan pacarnya itu melamar di perusahaan dan berpikir kalau ini hanya untuk balas dendam. Ki Taek pun bertanya apakah Ji Na semarah itu hanya karena di wawancara di kantornya. Ji Na menegaskan dirinya menyesal  dan menyuruhnya agar pergi saja.
“Jika aku pergi...,apa kau mau mempertimbangkannya lagi?” kata Ki Taek
“Baiklah...Jika kau masih menyukaiku..., maka pergilah.” Ucap Ji Na, Ki Taek hanya bisa diam 


Ho Won keluar bersama dengan Kang Ho dengan wajah sedih, lalu dikagetkan dengan melihat Ki Taek juga baru keluar. Ketiganya akhirnay duduk di lobby bersama.
“Eun Ho Won, Jang Kang Ho, Do Ki Taek. Takdir kita bertiga ini memang aneh” ungkap Ki Taek
“Ini Memang aneh. Apa wawancaramu berjalan lancar?” tanya Kang Ho, Ki Taek mengaku lancar
“Aku tampan dan kepribadianku juga bagus. Jika mereka tidak menerimaku,  maka mereka yang rugi.Bukankah begitu?” kata Ki Taek bangga lalu menanyakan hal yang sama pada Ho Won.
“Dia mungkin tidak bisa berpikir jernih. Dia bertemu pewawancara yang sama dari Dongki Food lagi.” Cerita Kang Ho, Ki Taek mengetahi si ketua tim itu.

“Kuharap aku bisa  melihat wajah sombongnya itu.” Komentar Ki Taek, Kang Ho heran karena Ki Taek tidak bertemu dengannya karena Woo Jin duduk di ujung sebelah kanan.
Ki Taek membenarkan dengan wajah gugup mengetahui Won Jin pria di sebelah kanan. Ho Won dengan tertunduk sedih mengajak mereka pergi saja. Won Jin heran melihat Ho Won yang sedih menurutnya lebih baik balas dendam saja pada Won Jin.
Kang Ho pikir Ho Won itu tak berdaya. Ki Taek pikir merka gores saja mobilnya.Kang Ho bertanya apakah tahu yang mana mobilnya. Ki Taek mengelengkan kepalanya. Saat itu terdengar kurir makanan mengantar pesanan ke lantai empat. Ho Won pun mengajak pergi mengajak mereka pergi karena punya ide bagus.

Ketiganya keluar bersama-sama, Saat itu Dokter Seo Hyun baru turun dari taksi melihat ketiganya dan mengenal tiga orang yang kabur dari rumah sakit, lalu menelp seoran General manager.
Ho Won menelp dari telp umum agar memesam makanan dan ingin segera diantar, lalu menyuruh Kang Ho maju. Kang Ho terlihta takut kalau orang itu tidak bayar menurunya semua restoran itu akan merugi.
“Aku sudah pernah bekerja di semua restoran itu. Mereka tidak menggaji karyawan mereka.” Kata Ho Won
“Ahh... Benarkah? Kalau begitu, pesan yang banyak.” Perintah Ki Taek 
Kurir Pizza datang dan menanyakan General Manager Seo Woo Jin. Ji Na dan pegawai lainya binggung memberitahu kalau Woo Jin sedang tak ada diruangan.  Kurir meminta bayaran Harganya 98 ribu won. Yong Jae pikir  akan membayarnya.
“Berapa banyak yang dia pesan?” tanya Yong Jae, kurir lain pun datang  atas nama Woo Jin.
“Aku Seo Woo Jin.” Ucap Woo Jin masuk ke dalam ruangan dan binggung melihat banyak pesanan.
Yong Jae memuji Woo Jin baik sekali tapi kenapa harus pesan  banyak sekali. Terdengar suara yang memanggil Lee Yong Jae.  Semua langsung menyuruh mereka menyembunyikan semua makanan.
“Hei.. Semuanya, hentikan aktivitas kalian.” Ucap Tuan Park yang bisa melihat semua untuk menyembunyikan semua makanan.
“Sudah kuperingatkan, jangan pesan makanan di kantor. Nanti ruangan jadi mengeluarkan bau tak sedap” komentar Tuan Park Sang Man.

Yong Jae memberitahu kalau Woo Jin yang memesannya. Woo Jin binggun karean tidak pesan apapun. Ji Na tahu dari kurir kalau Woo Jin yang memesan jadi Yong Jae yang akan membayarnya. Dua kurir lain pun datang akhirnya Tuan Park menyuruh mereka menaruhnya saja di meja.
Woo Jin bingung karena tak memesan apapun, Tuan Park sengaja membuka plastik makan daging babi goreng, lalu kembali kerungan. Kurir pun meminta semua tagihan makanan pada Woo Jin, mulai dari harga 75 ribu won, 68 ribu won, 56 ribu won dan juga 98 ribu. Woo Jin heran siapa yang memesan makanan atas nama dirinya. 
Tuan Park membawa semua makanan ke atas meja pada Direktur Han Jung Tae karena Woo Jin yang mentraktir semua orang di kantor jadi harus mencobanya. Direktur Han mengeluh karena tak menyukai makanan seperti itu. Tuan Park pikir Woo Jin hanya tidak tahu saja.
“Kau harusnya mengajak kami ke restoran. Kenapa kau pesan ini semua?” komentar Direktur Han sinis, Woo Jin pun hanya bisa diam, sementara Tuan Park kalau semua makanan ini seperti prasmanan dan rasanya enak.

“Lain kali, jangan pesan ayam goreng. Direktur Han punya darah tinggi.” Kata Tuan Park lalu memakan pizza dan ketiga duduk bersama disofa. 

“Kau pasti sudah  dengar kabar itu. Kami akan memindahkan  Manajer Jo ke tim penjualan.” Ucap Direktur Han
“ Tapi tim pemasaran akan dibanjiri  dengan peluncuran produk baru. Bagaimana bisa Anda memindahkan salah satu anggotaku ke tim penjualan?” keluh Woo Jin
“General Manager Seo, ucapanmu itu aneh juga. Jadi, apa menurutmu timku bermalas-malasan saat timmu sedang bekerja?” kata Manager Park dari tim penjualan.
“Kau tahu sendiri situasinya. Perusahaan kita peringkat terbawah  di penjualan merek. Penjualan adalah hal yang paling penting. Tidak ada yang lebih cocok  di posisi itu dibandingkan Manajer Jo. Jadi Tolong mengertilah.” Kata Direktur Han
Woo Jin merasa kalau Manager Park itu tega padanya karena seharusnya memberitahu labih dulu. Manager Park pikir Woo Jin akan mendengarkanya walaupun sudah berkonsultasi sebelumnya, lalu menegaskan bahwa Tim penjualan menghasilkan uang dan tim pemasaran, hanya menghabiskan uang.
“Apa menghabiskan uang lebih penting  daripada menghasilkan uang?” akta Manager Park menyindir
“Lalu, darimana dukungan yang kalian butuhkan buat menghasilkan uang? Memangnya bisa mencapai tujuan  tanpa bantuan?” kata Woo Jin membela diri
“Ya, bantu saja kami. Siapa yang  menyuruh kalian tak membantu kami? Karena itulah, kami juga memenuhi syarat darimu  saat kau dipekerjakan kesini. Kami menjadikanmu pewawancara sehingga  dapat memilih siapa saja yang jadi timmu.” Ucap Manager Park
Direktur Han menyudahi adu mulut keduanya lalu meminta agar Wo Jin membentu tim dengan mengingatkan Prioritas mereka adalah memenuhi kuota  penjualan pada setengah tahun ini dan juga akan memasukkan karyawan baru Administrasi pad tim Woo Jin.

Woo Jin mengeluh dengan adanya tim yang baru lalu memberitahu kalau tidak bisa hanya bekerja  dengan satu asisten manajer berpengalaman. Direktur Han piki kalau nanti ada penggabungan  dua tim jadi mereka  perlu memastikan Woo Jin tidak kelebihan pegawai. Woo Jin makin kaget kalau akan ada menggabungkan dua tim.
Akhirnya Woo Jin masuk ruangan dengan wajah kesal dan melihat masih banyak makanan yang tak dipesan olehnya lalu bertanya-tanya Siapa yang memesanya, saat membuka botol soda karena terlalu banyak terkocok membuat botol soda luber, Ia pun hanya bisa mengumpat kesal. 


Sementara Ho Won membakar semua CV sambil mengucapkan selamat tinggal pada masa mudanya dan merasa kalau sudah cukup. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah dan membuka kulkas, lalu melihat kotak kimchinya yang dimakan oleh pemilik kost dan menegurnya.
“Pindah saja kalau kau tak mau membagi makananmu.” Sindir Lee Hyo Ri. Ho Won pun duduk agar mereka makan bersama dan harus saling membantu.
“Mana uang sewanya?” tanya si wanita, Ho Won meyuruh temanya agar makan kimchi semaunya saja.
“Hyo Ri. Kau...baru-baru ini, beli ponsel baru, 'kan? Kalau begitu... ponsel lamamu Apa boleh untukku? Ponselku hilang. Jika kau tidak menggunakannya...” ucap Ho Won dan Hyo Ri langsung menyebut angka  100 ribu won. 

Ho Won pun mengaktifkan kembali ponsel dengan kartunya di counter,  sang pegawai menawarkan ponsel dengan model baru saja. Ho Won pikir akan pakai ponsel itu sementara waktu dan nanti membeli model terbaru
Saat itu ponsel Ho Won langsung berdering, Tim HRD Hauline memberitahu kalau Ho Won akan di Kontrak tiga bulan. Ho Won binggung kenapa dirinya bisa diterima di perusahaan itu. 

“General Manager dari tim penjualan  membuat permintaan khusus.Sepertinya dia terkesan dengan berkas lamaranmu. Pertimbangkanlah dulu, barulah  kabari kami tentang keputusanmu.”
Ho Won menatap gedung tinggi disampingnya saat sedang menyapu halaman depan minimarket, ketika membereskan makanan pada rak seperti tak percaya kalau Manager bagian penjualan memilihnya dan berkomentar  orang itu pasti luar biasa dan kontrak tiga bulan. Teringat kembali ucapan dokter sebelumnya“Apa dia bisa bertahan hidup sampai enam bulan?”
“Ini sudah seperti spekulasi saja dan tidak mungkin aku sakit parah. Aku sangat sehat.” Ucap Ho Won yakin dan berlari-lari maju mundur.
Saat itu seorang pria masuk dengan masker mencoba mencuri makanan, Ho Won yang melihatnya melempar sandal ingin menahanya, saat itu Woo Jin masuk tapi bisa menghindar dan dibelakangnya Manager Toko baru masuk akhirnya terkena sandal yang dilemparkan Ho Won. Ho Won pun langsung bergegas kabur.
“Hei. Kau pasti sengaja melempar sandal ke aku, 'kan” teria Manager toko, Ho Won langsun bersembunyi dengan wajah panik karena Woo Jin mengetahui tempat kerjanya.
“Apa Kau tak mau keluar dan melayani pelanggan ini?”kata Manager sudah berdiri di kasir. Woo Jin berkomentar  Pekerja paruh waktunya itu aneh sekali.
“Hei, Eun Ho Won!” teriak Manager minimarket, Ho Won kesal karena namanya itu yang dipanggil
“Apa Nama pekerja paruhmu Eun Ho Won?” ucap Won Jin yang mengenali namanya itu, Manager membenarka.
“Dia bersembunyi setelah  melempar sandal ke kau. Bukankah seharusnya kau memecatnya?” komentar Woo Jin, Ho Won mengumpat kesal pada Woo Jin 


Manager kembali memarahi Ho Won yang tak menjaga kasir jadi ada pencuri yang masuk, Ho Won mengaku kalau tadi sudah mengisi rak jus. Manager tak percaya kalau Ho Won pergi sebentar karena tidak melihatnya. Ia pikir kalau Ho Won itu tidak pernah becus bekerja.
“Astaga. Emosi aku... Haruskah aku bekerja di Hauline saja?” gumam Ho Won mencoba menahan emosinya.
“Apa Dia mencuri berapa banyak?” tanya Manager. Ho Won juga tak tahu dan sebelumnya ingin memergokinya...
“Lalu kenapa kau bersembunyi seperti itu? Lebih baik mengundurkan diri saja kalau caramu bekerja seperti ini. Walaupun kau pergi, banyak orang yang mengantri demi mendapatkan pekerjaan di sini!” kata si manager
Ho Won yang mendengarnya bergumam kalau paling benci dengar kata itu. Lalu mulai berkata kalau manager itu beruntung,  karena tadi melihat si maling itu. Tapi manager merasa kalau Ho Won selalu berkerja seperti itu. Ho Won bergumam kalau si Manager itu punya maksud tersembunyi.
“Aku tidak bisa bayar  upahmu penuh hari ini. Ini salahmu sendiri, jadi aku  harus memotong upahmu hari ini Kau itu tak bisa dapat pekerjaan sungguhan karena kau itu tak bisa fokus.” Ucap si manager, Ho Won sudah menduga hasilnya akan seperti ini.
 “Bos... Antrian orang yang ingin bekerja di sini adalah alasan kenapa mini  market ini masih beroperasi. Tanpa pekerja paruh waktu..., perekonomian negara ini akan hancur. Ha? Kami juga bisa terkena  lumpuhnya otak, serangan jantung! Sirkulasi darah yang tak lancar! Pekerja paruh waktu juga karyawanmu.  Mereka bukan mangsamu.” Tegas Ho Won, si manager binggung melihat tingkah Ho Won yang berani melawan
“Kau mencoba segala usaha  untukmengurangi gajiku. Janganlah seperti itu lagi Atau aku akan melaporkanmu! Dan Satu hal lagi, Aku sudah dapat pekerjaan.” Tegas Ho Won melepaskan jaketnya lalu pergi. 


Ho Won pergi kantor dan menanyakan ruangan kerja tim HRD, pegawai menunjuk arah ke bagian depan. Ho Won berjalan dan dikagetkan dengan melihat Kang Ho sudah duduk menunggu, Setelah itu Ki Taek datang melonggo kaget karena ketiganya kembali bertemu. Ketiga duduk dengan menatap ID Card sebagai pegawai kontrok
“Daebak. Kenapa ini bisa terjadi dengan kita bertiga?” kata Ho Won binggung
“Aku pernah bekerja paruh waktu di  gudang distribusi perusahaan mebel. Mungkin karena itu alasannya dan Di CV-ku, aku menulis itu.” Kata Ki Taek, Kang Ho ingin bicara tapi Ho Won lebih dulu menyela
“Kualifikasimu sangat bagus. Menurutku mereka mungkin akan menyesal jika tidak mempekerjakanmu. Tapi aku, apa bagusnya? Kenapa mereka memilihku?” kata Ho Won binggung
“Aku yakin ada alasannya. Hidup ini penuh dengan kebetulan. Karena kita sudah beberapa kali bertemu, mungkin kita memang ditakdirkan untuk bertemu.” Komentar Ki Taek
Saat itu Ji Na datang dan kaget melihat Ki Taek lalu melihat lembaran CV dipaling belakang, wajahnya langsung kesal karena mengetahui mantan pacarnya itu diterima. Ki Taek hanya bisa tertunduk diam melihat Ji Na yang menatap sinis padanya. 

Seo Hyun menuangkan minuman untuk Manager Park Song Man, Manager  Park mengaku sedang berkerja jadi tidak bisa minum banyak. Seo Hyun pikir kalau ini tak banyak dan meminta bantuanya. Manager Park pikir kalau seharusnya ia yang mengatakan seperti itu. Seo Hyun pikir harusnya ia menghormati Manager Park karena tidak tahu apa-apa  soal manajemen bisnis.
“Aku juga tahu kalau Ketua punya anak seorang dokter.” Kata Manager Park
“Aku sebenarnya tidak tertarik  dalam menjalankan perusahaan...,tapi aku harus mengetahui  dasar-dasarnya. Aku ingin berbicara dengan seseorang yang akan memberitahuku bagaimana  keadaan di perusahaan. Sulit menemukan orang seperti itu.” Ucap Seo Hyun
“Ah... Aku juga kaget saat kau menghubungiku.” Kata Manager Park
“Aku yakin para eksekutif dan ayahku memiliki ide-ide yang sama. Sama seperti Anda yang sudah lama bekerja di perusahaan kami. Aku menghubungi Anda karena banyak orang bilang kau orang yang inisiatif.” Ucap Seo Hyun yang terlihat polos.
Manage Park pikir kalau memang bisa pasti membantunya lalu bergumam dalam hati kalau Seo Hyun diam-diam membantunya. Seo Hyun pikir tidak tahu kapan minta bantuan, tapi meminta tolong agar bisa membantu ketika membutuhkannya. Manager Park lalu bergantian menuangkan minuman.
“Dia memilih orang yang tepat rupanya. Orang ini cukup sopan juga.” Gumam Manager Park
“Selain itu Juga...,kau memintaku untuk  melakukan sesuatu sebelumnya. Aku sudah menanganinya. Tapi..., apa hubunganmu  dengan orang-orang itu?” tanya Manager Park
“Aku juga tak tahu, tapi Aku merasa simpati pada mereka...” ungkap Seo Hyun.


Woo Jin duduk dimeja kerjanya menerima surat untuk manager pemasaran selembar surat bertuliskan "Aku ingin melaporkan korupsi yang dilakukan oleh General Manager Park Sang Man dari Tim Penjualan." Setelah itu berjalan melihat keluar jendela.
Lalu menelp Suk Kyung bertanya pada Yong Jae Apakah  sudah bereskan masalah keluhan pelanggan, tak melihat Manager Park. Ia mencari dari perusahaan dan profile kalau Manager Park Diterima pada saat penyelenggaraan pembukaan lowongan kerja ke-10.  Woo Jin menelp bagian HRD untuk mengirimkan daftar. nama orang yang diterima pada  saat pembukaan lowongan kerja ke-10. 

Ji Na membawa ketiganya memperkenalkan sebagai pekerja kontrak yang baru. Yong Jae menyapanya dengan berkometar kalau pemuda pengangguran cukup serius sekarang dan menurutnya itu memang benar, karena melihat wajah mereka yang  tidak semangat sekali.
Saat itu Manager Park datang setelah makan siang dan bertanya siapa mereka bertiga. Yong Jae mengatakan kalau ketiganya karyawan baru sementara. Manager Park sempat terdiam lalu mengingat kalau itu adalah permintaan dari Seo Hyun dan mulai menyambut dengan memperkenalkan diri.
“Aku General Manager Park Sang Man di Tim Penjualan.  Aku tidak bisa hadir di wawancara akhir karena sibuk. Jadi Karena itulah. orang berbakat seperti  kalian belum bisa diterima di posisi permanen. Aku juga merasa tak enak dengan kalian. Tapi apa boleh buat.  Memang begitulah cara kerja perusahaan.. Mereka juga mencari orang yang  berbeda bagi perusahaan. Itulah yang membuat adanya bias sosial dan kesalahpahaman.” Jelas Manager Park
“Aku memahami rasa frustrasi kalian.  dan kekecewaan terhadap  proses perekrutan yang ambigu.Tapi, untungnya...,aku menemukan bakat tersembunyi dan keinginan besar kalian. Aku senang rasanya...kita bisa bekerja bersama-sama  seperti ini.” Kata Manager Park mengajak agar bersalaman lalu menanyakan nama satu persatu.
Ho Won, Ki Taek dan Kang Ho pun menyebutkan nama masing-masing,  Manager Park memberitahu kalau sudah mengaturnya kalau Dua dari mereka akan bergabung dengan tim penjualan dan salah satu dari mereka bergabung dengan Tim Pemasaran dan sudah bicara dengan Tim HRD. Ia memilih Kang Ho dan Ki Taek masuk timnya dan Ho Won masuk ke Tim Pemasaran.


Saat itu Woo Jin datang mengatakan kalau tak menginginkanya, Ho Won hanya bisa mengumpat kesal harus bertemu lagi, Woo Jin menyuruh Ho Woon di Tim Penjualan saja karena Pemasaran itu bukan tentang kesabaran saja, ia melihat kalau Ho Won tidak akan bisa bersabar  karena ingin menjadi orang yang berkuasa/ atasan dan tidak cukup bertanggung jawab.
“Apa maksdumu Orang yang berkuasa? Kesabaran?... Pokoknya, General Manajer Seo...karyawan laki-laki lebih cocok di Tim Penjualan.” Kata Manager Park menolak
“Itu tindak diskriminatif  jenis kelamin. Bahaya. Kau sendiri yang  membuat pernyataan yang berbahaya.” Ucap Woo Jin, Manager Park berusaha bicara pada Ho Won kalau bukan seperti itu maksudnya.
“Aku bilang begitu...karena aku ingin bekerja  dalam lingkungan yang nyaman.” Ucap Manager Park
“Manager.. Aku ingin bekerja di Tim Penjualan. Sepertinya aku bisa jadi karyawan penjualan yang bagus.” Kata Ho Won, Manager Park terlihat binggung.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar