Kamis, 02 Maret 2017

Sinopsis Missing Nine Episode 13 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC

Tae Ho masuk ke sebuah SPBU melihat Joon Oh membawa sebuah kotak. Sementara Bong Hee yang selesai mengunci Penyidik Oh menerima telp dari Ki Joon memberitahu kalau Tae Ho sedang dalam perjalanan sekarang jadi menyuruhnya cepat pergi. Joon Oh melihat isi kotak ternyata kosong.
Hee Young memberikan ponsel pada anak buah lainya kalau harus memperbaikinya dan harus mencari tahu apa isi dalam ponsel karena Pasti ada alasan kenapa semua orang menginginkan ponsel ini dan harus menyuruh lebih dulu dibanding yang lainya. Penyidik  Oh membawa kardus memberitahu akan menaruhnya di tempat yang di perintahkan.
CEO Jang mendengarkan dari alat sadapnya, Hee Young menyuruh Penyidik Oh pergi lebih duu dan akan menyusul. CEO Jang pun langsung bergerak untuk mengambil ponsel tapi tertahan oleh Jaksa Yoon. 

Bong Hee kaget melihat Tae Ho dan Joon Oh akhirnya sudah bertemu. Tae Ho tak percaya melihat dari mata Joon Oh kalau ternyata  masih hidup dan seharusnya tidak hidup. Joon Oh akhirnya menurukan masker yang dipakainya.
“Aku selama ini merasa tak hidup, Tae Ho. Karena itulah aku merasa bebas sekarang.” Kata Joon Oh lalu bergegas pergi menarik Bong Hee untuk pergi bersamanya.
Saat itu Penyidik Oh baru keluar dari toilet memeriksa bagian bagasinya, lalu melihat Tae Ho yang berdiri tepat didepan kardus yang sudah dibuka dengan isi lembaran kertas saja. 


Joon Oh terdiam seperti merasakan sesuatu dalam dirinya, Bong Hee meliriknya lalu memuji sikap Joon Oh itu bagus karena bisa menahan dirinya. Joon Oh menatap Bong Hee lalu menyuruhnya agar melihat kedepan saja. Bong Hee pun menurut pada sang artis. 

Bong Hee memasukan beberapa barang ke dalam tas, Jaksa Yoon sedang bersama dengan jaksa lainya, menelp Joon Oh bertanya apakah ponselnya ditemukan. Joon Oh mengatakan ponselnya tidak ada daTae Ho juga tidak menemukannya jadi Pasti ponselnya ada pada Hee Young. Penyidik Oh terlihat sedikit kecewa.
“dan Juga... Tae Ho melihatku.” Ungkap Joon Oh, Bong Hee yang mendengarnya terlihat khawatir.
“Dia ternyata tiba lebih cepat dari yang kita duga. Mulai besok, kita pasti sibuk.” Ucap Jaksa Yoon menatap dua anak buahnya yang selalu membantu. 

Tae Ho bertemu dengan CEO Jang di ruanganya. CEO Jang kaget mengetahui Joon Oh masih hidup seperti tak percaya dan meminta agar menceritakan secara jelas. Tae Ho kembali menegaskan bahwa Seo Joon Oh masih hidup.
“Bisa-bisanya kau mengatakan hal itu dengan  tenang-tenang begitu?” Sindir CEO Jang dengan nada tinggi.
“Jangan marah-marah padaku. Selang beberapa jam lalu, kau saja tak mau kalau aku ikut ambil bagian. Aku masih marah.” Tegas Tae Ho

“Kau bilang  Aku tak mau kau ambil bagian? Dengar.... Kau bilang tadi bersama Ji Ah dan Ki Joon. Aku tidak ingin membuatmu dicurigai kalau aku meneleponmu. Buat apa juga aku tak mau kau ikut ambil bagian? Ini Tak ada untungnya bagiku.” Ucap CEO Jang
“Jika aku berencana kau tak ikut ambil bagian... Lalu buat apa aku harus membantumu? Setelah aku menyelamatkanmu dengan mempertaruhkan segalanya..., kita sudah bekerjasama.” Kata CEO Jang menyakinkan.
Tae Ho mengaku kalau dirinya tak mengerti. CEO Jang merasa Tae Ho tidak percaya padanya. Tae Ho pun bertanya dimana ponselnya apakah  sudah menemukannya. CEO Jang mengaku Tidak ada dan harus mencarinya lagi. Tae Ho meminta agar memberitahu kalau sudah menemukanya.
“Aku akan mempercayaimu jika kau langsung memberitahuku ponselnya. Apa Paham? Sementara itu, aku akan mencari Joon Oh. Dan juga Aku butuh orang-orangmu.” Kata Tae Ho, CEO Jang mengerti
“Kita harus membuat Joon Oh ditangkap polisi..., agar kau tak bisa dituntut. Dan ponselnya, akan kita singkirkan. Dengan begitu, kita tidak akan dikendalikan oleh orang lain. Maka kau akan menjadi tak bercela.”ungkap CEO Jang. Tae Ho keluar dari ruangan, CEO Jang dengan tatapan dinginya mencukur habis rambutnya, seperti tanda siap melawan siapapun yang menghalanginya. 


Joon Oh duduk sendirian di luar, Bong Hee datang melihatnya ikut memandang langit seperti Joon Oh berkomentar kalau Langit malam Seoul gelap sekali, Joon Oh ingat saat Di pulau terpencil langit begitu cerah Bong Hee juga melihatPenuh bintang.
“Apa Kau ingat? Setiap kali aku kesusahan di pulau..., maka aku selalu menatap bintang-bintang. Menatap bintang membuatku merasa lebih baik.” Ucap Bong Hee
“Benar...  Di pulau terpencil. berusaha bertahan hidup sangat penting dilakukan. Hanya itu yang kupikirkan. Kalau dipikir-pikir, Bong Hee.. aku merasa lebih tenang di pulau.” Kata Joon Oh,
Ia lalu teringat sesuatu yang harus diberikan sebelum melupakanya dan mengeluarkan dari saku jaketnya. Bong Hee binggung apa yang ada didalam tempat seperti telur. Joon Oh mengaku kalau itu untuk penggunaan darurat.
“Barang ini membuatku memikirkanmu dan Aku membelinya. Ini barang berharga, tapi kauboleh memilikinya.” Kata Joon Oh.
“Kau harus Bilang dulu barang apa itu sebelum aku memutuskan menerimanya atau tidak” kata Bong Hee binggung
“Aku membelikannya karena memikirkanmu. Jadi Terima saja.” Keluh Joon Oh
“Makanya itu, sebelum aku menerimanya...” pikir Bong Hee, Joon Oh tetap memaksa agar Bong Hee menerima saja.
Bong Hee seperti tak enak ingin menerimanya, Joon Oh pikir kalau memang tak mau memilih untuk masuk rumah. Bong Hee menariknya tapi membuat Joon Oh berlutut seperti hendak melamarnya.

“Kenapa kau jadi kasar lagi? Kau bilang tidak akan menyakitiku.” Keluh Joon Oh
“Aku tidak bermaksud menarikmu seperti itu” kata Joon Oh menyuruh agar Bong Hee mengambilnya.
Bong Hee akhirnya menerima seperti menerima lamaran dari Joon Oh. Akhirnya Joon Oh berdiri sambil mengeluh kalau tadi Memalukan sekali lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Bong Hee pun menerima seperti sebuah mutiara yang cantik. 


Bong Hee menelp ibunya bertanya apakah tidurnya nyenyak malam tadi, ibu Bong Hee pikir sudah pasti tenang lalu bertanya balik pada Bong Hee. Bong Hee mengaku tidurnya juga nyenyak, lalu merasa kasihan pada ibunya yang kelelahan karena sering pergi ke Seoul. Ibu Bong Hee pikir tak seperti itu karena yang dilakukan hanya duduk dalam bus saja.
“Bukan itu, aku bilang begitu karena Ibu sudah semakin tua. Aku bakal sering-sering datang kesana untuk menengoki Ibu.” Kata Bong Hee, Ibu Bong Hee berkaca-kaca mendengarnya.
“Tentu. Cuaca cerah sekali belakangan ini..., jadi Ibu cukup disibukkan buat menyelam. Jangan lupa makan, jaga dirimu.” Pesan Ibu Bong Hee, Bong Hee pun meminta ibunya agar Tidur yang cukup.
Setelah menutup telpnya, Joon Oh seperti merasakan sesuatu wajahnya terlihat tegang. Bong Hee pun bertanya ada apa. Beberapa pria masuk ke bagian atap dan langsung mengobrak ngabrik semua barang. Joon Oh melihat anak buah Tae Ho yang datang mencari mereka dan langsung mengunci pintu atap.

Bong Hee mengajak Joon Oh agar cepat pergi walalupun nanti akan rusak didobrak. Keduanya pun pergi meninggalkan rumah yang selama ini mereka tempati.
Sementara Jaksa Yoon dan dua anak buahnya keluar dari gedungKantor Kejaksaan Changwon, beberapa pria dengan pakaian jas rapi seperti sedang berjaga-jaga.
Jaksa Yoon pikir kalau Orang-orang itu untuk memata-matai mereka merasa tak percaya kalau mereka itu terang-terangan memata-matai. Jaksa Yoon pikir Sepertinya mereka ingin tahu keberadaan Seo Joon Oh.Jaksa Yoon makin heran dengan para preman yang  berani memata-matai jaksa. 


Ki Joon berjalan dilorong tiba-tiba seorang ibu datang langsung mencengkramnya terlihat sangat marah. Ibu Ji Ah tak percaya harus anaknya padahal Ki Joon sudah mengenalnya sejak Ji Ah masih SMP. Dan sudah dianggap seperti adiknya. CEO Jang dan Tae Ho baru saja datang melihat Ibu Ji Ah yang sangat marah terlihat bahagia.
“Teganya kau melakukannya pada Ji Ah? Kenapa anakku harus terlibat dalam rumor mengerikan seperti itugara-gara kau?” ucap Ibu Ji Ah marah, Ki Joon menjelaskan bukan seperti itu maksudnya.
“Menjauhlah dari Ji Ah dan Hanya Ji Ah yang kumiliki sekarang.” Ancam ibu Ji Ah lalu melepaskan cengkram pada Ki Joon. 

“Kau harus Dengar, Manajer Jung. Ji Ah menghidupi keluarga kami ... menggantikan mendiang kakaknya. Dia anak berbakti yang hanya peduli dengan pekerjaannya dan aku, ibunya. Padahal kukira hari-hari kesuksesannya akhirnya datang. Aku tidak bisa melihat dia hancur... hanya karena rumor tentang dirimu dan dia.” Kata Ibu Ji Ah, Saat itu Ji Ah mendengar Ki Joon sedang berbicara dengan ibunya.
“Jika Anda peduli dengan Ji Ah, berhenti cari untung memakai namanya. Dia hampir mati di luar sana, tapi masih bekerja keras. Apa Anda tidak merasa kasihan padanya? Kau bilang Anak berbakti, katamu? Pada siapa? Ji Ah bekerja mati-matian..., dan Anda mengambil hasil kerjanya tanpa menyisakan sepeser pun buat dia. Kau bilang Anak berbakti?” ucap Ki Joon.

“Jika Anda sangat khawatir  dengan Ji Ah..., berhenti memanfaatkannya. Biarkan Ji Ah melakukan apa maunya. Kau sudah meminjam uang  yang cukup banyak dari perusahaan Dan Ji Ah harus bekerja sampai 60 tahun untuk mengembalikan semua uang itu.” Tegas Ki Joon
“Memangnya Siapa kau yang menyarankan apa yang harus kulakukan pada keluargaku? Apa kau tahu berapa banyak uang yang  kupakai buat membiayai Ji Ah? Uang yang kupinjam tidak bisa dibandingkan dengan uang pengorbananku.” Kata Ibu Ji Ah
Ji Ah akhirnya mendekat meminta agar ibunya mendekat. Ibu JI Ah pun menghasut anaknya kalau sudah mendengar perkataan Ki Joon padanya, Ji Ah tak ingin membahasnya mengajak ibunya segera pergi saja. Ki Joon seperti makin serba salah, lalu Ponselnya berdering CEO Jang menelpnya. 


Ki Joon pergi menemui CEO Jang dengan Tae Ho sudah berdiri didekatnya. CEO Jang langsung membahasa tentang Joon Oh  yang sudah kembali. Ki Joon berpura-pura kaget dengan memastikan bahwa itu maksudnya Seo Joon Oh sudah mati itu.
“Tak usah pura-pura tak tahu, Aku melihatnya kemarin.” Kata Tae Ho.
“Lagipula, aku tidak menyuruhmu kesini buat memastikan hal itu. Aku yakin, demi menyelamatkan Joon Oh maka kau takkan menyakiti orang lain. Aku tadi melihatmu bertemu ibunya Ji Ah. Padahal dia belum lama ini minta  uang, tapi sekarang dia minta uang lagi. Wanita itu tidak akan berubah sebelum Ji Ah meninggal.” Ungkap CEO Jang, Ki Joon mentap CEO Jang teringat kembali ancanman sebelumnya. 

Flash Back
“Karena itulah, kau dan Ji Ah harus...menegaskan tindakan kalian. CEO Hwang, Apa menurutmu dia sungguh mengalami kecelakaan? Tapi kau Jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu. Ji Ah yang akan kubunuh. Aku penasaran  apa Ji Ah tahu, kenapa kau harus menyiakan impianmu menjadi dokter.” Ucap CEO Jang dengan pistol dikepala Ki Joon untuk mengancamnya.
CEO Jang pikir Ji Ah itu tidak perlu tahu, karena akan mati sebentar lagi. Ia menegaskan pada Ki Joon kalau hanya akan membunuh Ji Ah.
“Kau bilang akan memastikan kau dan Ji Ah tidak akan menghalangiku kalau aku tidak membunuhnya. Jangan lupa itu.” Kata CEO Jang

“Berapa kali aku harus memberitahumu? Kalau aku mengerti. Selain itu, Joon Oh pasti  marah denganku. Walaupun aku memihaknya sekarang..., maka dia juga pasti takkan mau berurusan denganku lagi. Aku sudah jahat padanya.” Ucap Ki Joon menyakinkan
“Kalau dia mau menerimamu lagi...,apa kau ingin memihak padanya?” ucap Tae Ho.
Ki Joon heran Tae Ho bisa menganggapnya seperti itu. CEO Jang ingin meminta bukti kalau Ki Joon memihak mereka berdua. Saat itu Ji Ah akan masuk lift, Ki Joon mengejarnya seperti ingin bicar. Ji Ah seperti tak ingin bicara mengatakan nanti sajakarena ada interview. Ki Joon pun membiarkan Ji Ah pergi.
Saat itu Ponsel Ki Joon berdering dan itu telp dari Joon Oh, wajahnya terlihat kebinggungan karena sebelumnya CEO Jang meminta bukti kala memihak mereka agar Ji Ah bisa selamat. 


Jaksa Yoon dan yang lainya pergi ke bawah sungai Han, Bong Hee memanggil Jaksa Yoon dengan Byung Joo didepan sebuah mobil. Joon Oh pun memberikan kursi mereka pada tiga jaksa sebagai tamu mereka. Jakas Yoon binggung melihat tempat mereka yang ada dibawa jembatan sungai Han.
“Kami tidak punya uang, dan ingin mencari tempat yang sepi. Jadi tempat ini pilihan terbaik. Dan Kalian tahu sendiri, Seo Joon Oh tidak boleh kelihatan orang-orang.” Ucap Bong Hee
“Aku senang kau dapat tempat seperti ini. Rasanya kita seperti berkemah.” Komentar Jaksa Cho
“Tapi Jung Ki Joon tidak ada di sini. Sepertinya untuk sementara ini kita tak usah mengandalkannya. Tapi sebaliknya, ada mantan manajerku di sini. Dia seorang pria yang pendek dan kecil” kata Joon Oh yang tetap mengejek Byung Joo. Byung Joo pun menyapa semua jaksa.
“Aku pernah bertemu Jaksa Yoon. Senang bertemu denganmu.” Ucap Byung Joo, Jaksa Yoon mengajak Jaksa Cho agar memulainya. 

“Baik. Berdasarkan pernyataan Seo Joon Oh dan apa yang telah kita temukan selama menyelidiki ulang kasus ini kami telah menelusuri dan menerka isi yang mungkin ada di dalam ponsel So Hee.” Ucap Jaksa Cho.
“So Hee bilang dia akan bersaksi bahwa kematian Shin Jae Hyun adalah murni pembunuhan..., tapi dia seringkali berubah pikiran. Mungkin karena itulah Reporter Kim menyelidiki ulang kasusnya.”
Reporter Kim menunggu disebuah cafe dan menerima pesan dari So Hee kalau tak jadi bertemu. Akhirnya Reporter Kim bertemu dengan detektif di bagian Kejahatan dan Kekerasan untuk mengetahui  kasus Shin Jae Hyun, Detektif memberitahu kalau Kasus itu sudah ditutup.
“Tapi tidak ada bukti, selain pernyataan Yoon So Hee yang menyatakan  Shin Jae Hyun tidak bunuh diri.”

Reporter Kim kembali ke rumahnya saat itu melihat CEO Jang yang berada dalam mobil seperti menguntitnya. Lalu pergi ke bagian kotak surat dan melihat sebuah surat berisi gambar rekaman CCTV saat Tae Ho masuk ke tempat Jae Hyun setelah Joon Oh.
“Saat itulah... ada orang yang mengirimi foto padanya yang bisa dijadikan barang bukti. Setelah kasus itu  kembali lagi dalam status awal..., Reporter Kim mungkin punya pemikiran yang sama seperti kita. Kalau si pelaku memanipulasi kematian Shin Jae Hyun sebagai bunuh diri.”
Jae Hyun menatap ke arah apartement, seperti bisa membayangkan saat Tae Ho bertemu dengan Jae Hyun.
“Choi Tae Ho datang  menemui Shin Jae Hyun.”
Saat itu Tae Ho yang sudah membunuh Jae Hyun pergi naik taksi dengan gugup menemui semua orang sudah berkumpul bersama dan saat masuk apartement CEO Jang melempar mayat Jae Hyun dan tetap jatuh diatas mobil CEO Hwang.

“Dia pasti punya komplotan yang membantunya untuk membuktikan alibinyadan menutupi kejahatannya Pada hari kejadian, polisi memastikan bahwa ada kamera CCTV di pintu masuk depan dan belakang. Dilaporkan bahwa tidak ada yang terekam  di kedua CCTV itu, karena CCTV-nya rusak. tapi Reporter Kim dikirimi foto gambar dari kamera CCTV pintu depan.”
Reporter Kim pergi menemui satpam penjaga apartement dengan gambar CCTV yang didapatkanya, tapi satpam itu memilih mengaku tak tahu apapun.
“Aku sudah mencari tahunya, ternyata CCTV di pintu belakang memang sudah lama rusak..., tapi isi rekaman CCTV yang di pintu depan tak ada yang terekam pada saat hari kejadian. Intinya CCTV itu sebenarnya  tidak rusak sepanjang waktu.”
“Jika Jang Do Pal memang benar komplotannya Choi Tae Ho..., dia pasti membantu Choi Tae Ho membereskan semuanyadan kabur lewat pintu belakang bukan lewat pintu depan. Kemudian dia juga  pasti menyuap Satpam untuk mengambil rekaman dari CCTV pintu depan.” Jelas Jaksa Yoon. CEO Jang membersihkan seluruh darah yang ada di lantai. 

“Dan setelah itu si Satpam langsung mengundurkan diri jadi satpam setelah kejadian tersebut..,dan kita sampai sekarang pun tak bisa menghubungi satpam itu. Sampai akhir pekan ini...” kata Jaksa Cho, Byung Joo seperti shock kalau semua adalah ulah Tae Ho dan CEO Jang. Joon Oh menenangkanya.
“Jadi, semua itu membuat kita bertanya-tanya apakah Jang Do Pal yang memang mendorong Shin Jae Hyun keluar jendela. Dan sisanya ada di dalam ponsel.” Kata Jasksa Yoon
“Tae Ho dibimbing oleh Jang Do Pal. Dia bukan seorang  penyanyi yang baik...,tapi setidaknya dia punya modal jadi selebriti jadi CEO Hwang pun juga suka dengan Tae Ho. Jika Tae Ho lagi dalam keadaan susah, Jang Do Pal pasti langsung membantunya.” Cerita Joon Oh

“Reporter Kim juga bilang kalau Jang Do Pal mengancam So Hee..., jadi menurutku memang dia komplotannya. Dan...” kata Bong Hee mengingat saat Soo Hee berbicara di telp saat masuk pesawat
So Hee berkata “ Aku akan memberitahumu kalau sudah kembali. Yaitu Hanya hal itu yang perlu  kubicarakan denganmu, Wakil CEO Jang.” Joon Oh pun bertanya apa kelanjutan ucapan Bong Hee.  Bong Hee memilih untuk tak melanjutkan.
Ponsel Byung Joo berdering, lalu memberitahu Joon Oh kalau seseorang bisa bertemu dengan mereka. Jaksa Yoon binggung bertanya siapa yang akan bertemu dengan mereka. 

Bong Hee dan Joon Oh menunggu didalam mobil. Joon Oh seperti tak sabar bertanya sudah jam berapa sekarang.  Bong Hee memberitahu kalau mereka baru menunggu 10 menit, jadi lebih baik menunggu saja sebentar lagi karena yakin orang itu pasti akan segera datang.
“Tapi, Seo Joon Oh,  apa kau tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya?” tanya Bong Hee
“Hubunganku dengan So Hee jadi canggung setelah Jae Hyun meninggal jadi aku tidak kenal siapapun yang ada di tim manajemennya.” Akui Joon Oh
“Pokoknya, nanti aku saja yang tanya semuanya padanya. Kau harus menutup mata... dan mulutmu dan hanya Telingamu saja yang terbuka.” Ucap Bong Hee menarik masker Joon Oh sampai menutupi wajahnya. Joon Oh mengerti menurunkan kembali maskernya. 

Bong Hee melihat ada yang datang dan langsung turun dari mobil, Byung Joo datang dengan seorang wanita. Bong Hee pun menyapa Se Mi dengan berkata sudah banyak  dengar tentangnya lalu memberikan minuman hangat.
“Se Mi... Kau pindah dari tim Ji Ah Noona ke tim So Hee Noona, 'kan? Apa kau sudah bersama  timnya selama satu tahun?” kata Byung Joo, Se Mi pikir seperti itu.
“Apa kalian ingin bicara denganku  soal Yoon So Hee, bukannya Ji Ah?” kata Se Mi lalu terlihat kesal akan pergi. Byung Joo menahanya
“Padahal aku sudah membawakanmu kopi. Kau tidak bisa pergi begitu saja.” Kata Byung Joo menahan agar Se Mi tak pergi. Akhirnya Se Mi pun bertahan. Joon Oh terus mendengar pembicaraan ketiganya.


“Se Mi mungkin sudah cukup lama pernah  bekerja sebagai stylist So Hee Noona. Timnya yang lain pada mengubah nomor telepon mereka, jadi aku tidak bisa menghubungi mereka. Membujuk dia ini juga sangat sulit.” Cerita Byung Joo, Bong Hee pun mengucapkan terimakasih.
“Ceritakan padanya apa yang kau tahu soal So Hee Noona.” Kata Byung Joo menyuruh Se Mi tak perlu takut.
Se Mi ingin tahu alasannya harus menceritakan So Hee pada Bong Hee. Bong Hee mengerti kalau menjadi  stylist memang sulit kalau ia juga bekerja sebagai stylist, walaupun hanya sebentar, tapi pernah mengalaminya Si artis mungkin suka marah-marah atau sensitif. 
“Apa So Hee juga orangnya sensitif?” tanya Bong Hee.
“Tapi, So Hee Unni itu memang agak aneh.” Ungkap Se Mi 

Flash Back
So Hee masuk ruangan make up dengan panik bertanya dimana ponselnya, Se Mi sedang membereskan pakaian kalau sebelumnya So Hee yang memegangnya. So Hee dengan mata melotot kalau sebelumnya memberikan pada Se Mi.
“Aku sudah bilang, jangan sampai ponselku hilang dan kau harus jaga baik-baik ponsel itu.” Ucap So Hee lalu mencari-cari di seluruh ruangan dan menemukan terselip disofa. Wajah So Hee seperti baru saja menemukan sesuatu yang paling disayanginya.
“Awalnya, aku cuma berpikiran kalau dia itu kecanduan ponselnya dan kukira hal itu wajar-wajar saja. Tapi kadang, dia  sering serius sekali dan juga sangat ragu-ragu. Setiap kali aku bersamanya, aku merasa seolah-olah aku bisa gila. Waktu itu, aku sangat butuh uang untuk melunasi biaya kuliahku.Jika CEO Jang tidak memberikanku bonus..., aku pasti sudah mengundurkan diri.”


Se Mi sedang membawa barang, melihat So Hee dengan berbicara serius dengan CEO Jang. So Hee berkata kalau CEO Jang jangan berani membuat dirinya dalam bahaya seperti yang dilakukan pada Jae Hyun karena memilik kartu AS CEO Jang. Dan kalau terjadi sesuatu padanya maka mereka semua akan mati.
“Dan juga, dia itu sangat kasar dan tidak sopan pada CEO Jang.Aku saja sampai tak habis pikirkenapa CEO Jang terus memanjakan dirinya” Cerita Se Mi melihat So Hee seperti berani melawan CEO Jang. 

Joon Oh yang mengetahui cerita Se Mi merasa tak masuk akal karena yakin So Hee yang diancam. Ji Ah bersama dengan Joon Oh yakin kalau itu masuk akal. Joon Oh pun menanyakan alasan So Hee  mengancam Jang Do Pal
“Waktu itu, aku cuma mengira kalau Wakil CEO Jang sangat menyukai So Hee...,tapi aku sekarang menyadari kalau So Hee-lah orang yang membuatnya panik.” Cerita Ji Ah
Flash Back
Ji Ah masuk ruangan melihat So Hee sudah duduk disofa lalu melihat CEO Jang sedang membuat kontrak artis Yoon So Hee. Ia pun merasa kalau mulai dikhianati oleh aktris di agensinya sendiri. So Hee duduk dengan angkuh.
“Apa Kau pikir ini masalah sepele? Hah?” kata Ji Ah marah, CEO Jang meminta agar Ji Ah membiarkan agar So Hee  yang dapat kontrak kali ini saja.
“Selain itu Aku bisa apa kalau si sutradara sendiri yang  menginginkan So Hee buat mainkan peran itu?” kata CEO Jang

“Kau bilang aku yang membuat si sutradara  terinspirasi hingga dia membuat karakter untukku. Kau juga sudah menyerahkan semua timku menjadi timnya So Hee Sekarang, aku harus merelakan peranku pada dia juga?” ucap Ji Ah marah
“Hei... So Hee... Kau pasti tahu kelemahan mematikannya Wakil CEO Jang sampai kau bisa jadi artis yang cepat naik daun seperti sekarang ini, 'kan? Apa Kau puas sekarang?” kata Ji Ah marah, So Hee tak mengubrisnya memilih untuk keluar ruangan. 
Bong Hee menceritakan melihat So Hee bicara dengan Jang Do Pal lewat telepon waktu  di pesawat. Joon Oh ingin tahu apa yang dikatakan So Hee. Bong Hee mengingat kalau So Hee akan bicara dengan Wakil CEO Jang kalau sudah kembali, menurutnya Mungkin itu ada hubungannya dengan Shin Jae Hyun.
“Tapi dari percakapannya lewat telepon Wakil CEO Jang sepertinyamemang yang merasa terancam.” Kata Bong Hee
“Jika dia mampu mengancam Jang Do Pal..., maka mungkin itu artinya dia punya bukti kematian Jae Hyun. Jadi apa mungkin buktinya memang ada di ponselnya itu?” kata Joon Oh

“Jang Do Pal dan Choi Tae Ho juga sangat mengincar ponselnya. Bukankah itu bisa jadi  karena memang ada bukti di ponsel itu?” pikir Bong Hee
Joon Oh tak percaya darimana So Hee bisa mendapatkan bukti itu. Ji Ah mengeluh pada Joon Oh kalau dia saja seolah-olah bangkit dari kematian dan masih naif sekali. Byung Joo masuk ke mobil memberitahu  tak perlu menemani Tae Ho kerja hari ini karena Ki Joon  yang bersama menemaninya  hari ini bahkan menyuruh tak usah datang.
Ji Ah sedikit binggung, Byung Joo mengaku juga tak tahu alasanya, tapi Tae Ho H dan Ki Joon menghabiskan hari bersama-sama laluberpikir keduanya seperti akan menikah,  Ji Ah bertanya-tanya kenapa keduanya harus bersama-sama. Joon Oh berkomentar kalau yakin ada alasannya.


Tae Ho berbicara ditelp agar memberitahunya langsung kalau  sudah tahu keberadaan ponselnya dan harus melihatnya sebelum CEO Jang. Ki Joon mengemudikan mobil bertanya  kemanan mereka sekarang. Tae Ho mengatakan kalau Ki Joon akan tahu sendiri kalau sudah sampai. Ki Joon pun hanya terdiam.
“Ki Joon Hyung... Jika kau terlalu banyak berpikir..., Joon Oh dan Ji Ah akan mati. Kau sebaiknya jangan macam-macam.” Kata Tae Ho memperingatinya. Ki Joon pun mengangguk mengerti.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar