Rabu, 01 Maret 2017

Sinopsis Ms Perfect Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS

Keduanya keluar dari rumah sakit, Jung Hee binggung karena situasinya menjadi serumit ini. Jae Bok merasa semua ini sangat mencurigakan dan tidak bisa diam saja jadi akan mencarikan pengacara yang hebat. Jung Hee tak percaya kalau Jae Bkok mengenal pengacara dan tempat firma hukumnya berkerja.
“Di sana terlalu mahal..Aku harus mencari pengacara yang terjangkau dan jujur. Kau juga turut bertindak! Kau adalah kepala keluarga” kata Jae Bok lalu bergumam kalau suaminya itu berselingkuh.
 “Dan Ingat, kau ayah yang punya dua anak. Apa Mengerti?” ucap Jae Bok memilih untuk tak membahasnya.
“Tapi itu tidak benar. Aku tidak bersalah. Bagaimana jika citraku rusak dan dipecat?” kata Jung Hee khawatir.
“Bisa-bisanya pengecut semacam ini berselingkuh?” keluh Jae Bok bergumam melihat suaminya.
Jae Bok mengulang perkataa suamianya kalau tidak bersalah, jadi baik-baik saja akan baik-baik saja dan menyuruhnya kembali berkerja. Jung Hee pun merasa yakin karena istrinya. Jae Bok yak percaya karena merasa yakin salah satu alasanya berselingkuh, lalu menyuruh suaminya agar berdiri yang tegak. Jung Hee pun berjalan dengan tegap kembali ke kantor. 


Hye Ran turun dari mobil memberitahu untuk pergi ke lantai tiga ada Total Care Center Dokter Hong. Jae Bok sedang mencari rumah sewa tak mengenal nama Dokter Hong. Hye Ran menegaskan kalau bukan menemui dokter tapi mantan kekasihnya dan akan memperkenalkan dengan pengacara hebat.
 Saat itu Hye Ran langsung bersembunyi ketakutan melihat istri dari pria sebelumnya sudah menunggu didepan gedung. Akhirnya mengakhir telp Jae Bok dengan Bok Joo. 

Jae Bok menerima telp dari Eun Hee. Eun Hee dengan ramah kembali memanggilnya “Unniie”memberitahu kalau bertemu saat datang melihat rumahnya. Jae Bok pun mengingatnya dan bertanya kenapa menelp. Eun Hee mengingatkan kalau bertemudi kantor polisi kemarin dan melihat Jae Bok tampak murung saat itu.
“Aku selalu memikirkan dan khawatirmu. Aku tahu aku berlebihan..Aku meminta nomor dari agensi properti itu dan...” ucap Eun Hee. Jae Bok pun bisa mengerti kenapa Eun Hee bisa mengetahui nomornya.
“Mungkin ini terdengar aneh, tapi saat aku kemari saat itu, aku sungguh menyukaimu. Kau tahu bagaimana rasanya dekat secara naluriah kepada orang yang baru kali pertama bertemu. Kau pasti menganggap aku aneh. Saat aku sedang bersih-bersih, tiba-tiba aku teringat dengan mu” cerita Eun Hee
“Terima kasih telah perhatian dan memikirkanku.” Ucap Jae Bok
“datanglah kapan saja sebelum pindah kemari. Aku akan mentraktir teh.” Ucap Eun Hee.
Jae Bok mengerti dan mengucapkan terimakasih menurutnya merkea  tidak jadi pindah karena terbiasa tinggal di apartemen, jadi tidak tahu bagaimana nanti saat menyewa di sebuah rumah. Eun Hee pikir Jae Bok tak perlu mengkhwatirkan hal itu.
“Seperti yang Kaulihat, di lantai dua ada pintu terpisah, jadi pasti akan merasa nyaman Ruangannya juga kedap suara.” Kata Eun Hee menyakinkan
“Itu... Ada beberapa faktor lain juga. Aku tidak bisa bilang bahwa ini terasa aneh. Dan..  Intinya, kami tidak bisa pindah ke sana dan akan mencari tempat lain.” Ucap Jae Bok
Eun Hee pun bisa mengerti, Jae Bok merasa tak enak hati meminta maaf. Eun Hee pikir untuk apa meminta maaf, menurutnya ia yang seharusnya meminta maaf karena tiba-tiba menelepon dan  telah mengganggu. Sebelum menutup telp Eun Hee memberikan nasehat.
“Unniee...  Bertahanlah. Semoga semua masalahmu dapat diselesaikan dengan baik.” Kata Eun Hee. Jae Bok pun mengucapkan terima kasih.
Eun Hee menelp seseorang berjalan ke lantai dua, memberitahu seseorang kalau ingin mendekorasi ulang lantai dua jadi meminta agar melihatnya dan mengatakan kalau berniat menyewakannya untuk keluarga dengan dua anak. Seperti menrencanakan sesuatu. 


Seorang pria bernama Hong Sam Gyu sedang mengunting kuku buru-buru menaruhnya dan berpura-pura sedang membaca buku, mendengar suara pintu terbuka. Jae Bok masuk menyapanya memberitahu kalu Na Hye Ran merekomendasikan Sam Gyu sebelumnya.
“Aku sudah dihubungi oleh Hye Ran, kau pasti sedang stres. Tapi begini.. Aku bukan pengacara. Aku CEO firma ini. Hong Sam Gyu.” Ucap Sam Gyu
“Lalu pengacaranya...” kata Jae Bok, Sam Gyu memberitahu kalau pengacara sedang dalam perjalanan.  Seorang pria masuk mengeluh toilet yang jorok bahkan mampet dan mengeluarkan bau tak sedap.
Jae Bok dan Bong Goo kaget karena bertemu kembali di tempat yang berbeda. Jae Bok lalu bertanya apakah Bong Goo, pengacara yang ingin diperkenalkan, Sam Gyu membenarkan.
“Kang Bong Goo berkecimpung dalam firma hukum besar dan terkenal tangkas...” ucap Sam Gyu, Bong Goo balik bertanya apakah Jae Bok sebagai klien pertamanya. Sam Gyu membenarkan.

“Nona Shim Jae Bok adalah teman mantan kekasihku...” kata Sam Gyu.
“Aku berubah pikiran dan  akan mencari tempat lain. Semoga hari kalian menyenangkan.” Kata Jae Bok akan keluar ruangan, Bong Goo langsung menahanya.
“Lagi pula, aku juga tidak berminat pada kasusmu. Jangan khawatir. Kau membaca SMS-ku, kan? Kau menyimpan dokumen biaya konstruksi itu, kan?” kata Bong Goo 
Jae Bok terdiam teringat saat membereskan barangnya melihat berkas  "Perkara Biaya Konstruksi 2014" lalu mengaku pada Bong Goo kalau tak membawanya. Bong Goo mengikuti Jae Bok keluar, dengan  mengartikan kalau Jae Bok itu sudah membuangnya. Jae Bok membenarkan kalau sudah  membakarnya.
“Itu akan mempersulit keadaan.Foto-foto asli tempat konstruksi itu ada di sana, dan itu adalah dokumen pentingku. Ahh.. Bisa-bisanya kau membuang itu. Kau telah bekerja di sebuah firma selama enam bulan. Apa Kau tidak bisa membedakan mana yang penting? Inilah sebabnya kau dipecat setelah masa percobaan.” Kata Bong Goo menyindir
“Kau tahu aku akan dipecat setelah masa percobaan, tapi kau mempekerjakanku seperti ibu tiri Cinderella.Aku heran orang oportunis seperti kau bisa menjadi pengacara. Tahukah kau bagaimana rasanya dipermainkan oleh para bedebah dan akhirnya dipecat?” kata Jae Bok kesal 

“Aku sangat mengerti dan aku juga dipecat. Aku mengerti perasaanmu saat ini.” Kata Bong Goo
“Jangan bohong kepadaku!” ucap Jae Bok tak percaya
“Aku akan membuktikan kejujuranku, apa kau setuju? Apa kau mau kucarikan pekerjaan? Aku punya banyak koneksi, jadi, tenang saja.” Ucap Bong Goo dengan bangga ingin menelp seseroang meminta bantu.
“Sudahlah. Lebih baik aku menggali lubang dan bersembunyi. Aku tidak mau berutang budi pada bedebah keji seperti kau.” Ucap Jae Bok ketus.

Bong Goo tak pecaya Jae Bok mengumpatnya sebagai “Bedebah keji” lalu mengetahui tentang keadaan Jung Hee karena Sam Gyu yang sudah menceritakanya. Jae Bok pun seperti tak peduli. Bong Goo heran merlihat Jae Bok seperti tampak pasrah dan merasa kalau Orang-orang akan berpikir suami Jae Bok itu berselingkuh..
“Coba Lihatlah dirimu... Kau seperti wanita yang bersikeras membuat surat cerai karena suaminya berselingkuh. Terlihat menyalahkan diri sendiri dan jengkel.Kau mudah mengatakan itu karena bukan kau yang merasakannya, tapi lihatlah dirimu sekarang.Jika suamimu sungguh berselingkuh, kau akan gila.”Ucap Bong Goo dengan nada mengejek, Jae Bok berhenti melangkah dan terlihat marah

“Kau tidak boleh terbawa emosi. Ingatkah yang selalu kau katakan kepada para klienmu? Kau bilang "Nona Lee Jung Soo, dalam situasi seperti ini, Anda tidak boleh emosional, harus bersikap rasional. Jangan menyiksa dirimu. Jangan menyalahkan dirimu."kata Bong Goo dengan nada mengejek sambil mengelus kepala Jae Bok
Jae Bok menatap Bong Goo seperti merasakan sesuatu, Bong Goo pun merasakan hal yang sama seperti merasakan sesuatu dan terlihat gugup. Akhirnya Jae Bok mengaku kalau terlalu mudah bicara soal itu karena bukan diri sendiri yang merasaka. Ia bahkan  sangat bodoh, berpura-pura pintar dan membiarkan orang-orang seperti Bong Goo dan suaminya bisa memperalat orang bodoh seperti dirinya serta dikhianati oleh orang lain. Bong Goo melihat Jae Bok terlihat marah binggung karena membuatnya takut saja. 

Na Mi duduk di dalam toilet, mengingat pesan Duk Boong yang  sudah mentransfer 30.000 dolar ke rekeningnya. Saat itu juga dengan tangan bergetar Na Mi mengirimkan uang  ke rumah sakit di Kota Hantang.
Flash Back
Sang ibu masuk ruang operasi, Jung Hee menemaninya menenangkan Ibu Na Mi kalau Operasinya akan berjalan lancar jadi jangan khawatir. Na Mi terlihat sangat khawatir dengan ibunya, Jung Hee pun menemaniya dengan memeluk Na Mi agar tenang. 

Bong Goo mengemudikan mobilnya mengingat kembali ucapan Jae Bok  “Aku berpura-pura pintardan membiarkan orang-orang seperti kau dan suamiku, memperalat orang yang bodoh seperti aku  dan dikhianati oleh orang lain. Apa Kamu puas?”
“Dasar Ahjumma.. Dia punya cara membuat orang merasa dirinya jahat. Sudahlahh... aku tak peduli” ucap Bong Goo
Tapi saat itu ia sudah berdiri mengatakan kalau tidak tahu gaji Jae Bok dipotong kalau memang tahu mungkin  tidak akan membuatnya bekerja terlalu keras bahkan ia dipecat... Bong Goo ternyata sedang berlatih di depan lorong rumah merasa kalau perkataan sebelumnya terlihat dirinya seperti sangat buruk.
“Dengar, Jae Bok... Apakah semua itu berat? Coba Katakan apa maumu.” Ucap Bong Goo dengan nada sinis. 

Bong Goo seperti serba salah dan ingin pergi saja, saat itu juga Jae Bok baru saja pulang dan menyadari Bong Goo berdiri didepan rumahnya, lalu bertenya kenapa ada didepan rumahnya, tapi memilih untuk tak peduli. Bong Goo akhirnya memanggil Jae Bok.
“Apa kau mengikutikuuntuk mendapatkan dokumen itu? Apa itu Alasanku kemari?” kata Jae Bok sinis
“Sebenarnya, ada sesuatuyang ingin kukatakan kepadamu. Sebenarnya...” kata Bong Goo sudah disela oleh Jae Bok
“Aku mengirim dokumen itu ke kantor melalui kurir jadi Periksalah.” Kata Jae Bok
“Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?” ucap Bong Goo kesal karena tak bisa mengatakan sesuatu. 

Jin Wook keluar rumah  bersama dengan adiknya, lalu bertanya Apakah Ayahnyy akan dipenjara. Jae Bok dan Bong Goo kaget mendengarnya. Jin Wook mendengar kalau ayahnya  memukul seseorangyang mungkin saja akan mati. Jae Bok pun bertanya siapa yang memberitahu anaknya.
“Ayah ketua kelasku bekerja di perusahaan Ayah. Jadi Ketua kelasku diberitahukanbahwa Ayah mungkin dipenjara karena memukul seseorangdan akan dipecat. Aku malu sekali.” Ucap Jin Wook, Hae Wook yang mendengarnya hanya bisa menangis. Jae Bok pun menenangkan anak bungsunya.
“Hei, Bocah! Dasr Anak nakal. Meskipun benar, kenapa kau bicara seperti itu?” ucap Bong Goo mendengar nada bicara Jin Wook pada Jae Bok yang tinggi.
“Paman siapa?” ucap Jin Wook. Bong Goo marah di panggil “Paman” dan ingin tahu siapa dirinya.
Jae Bok langsung mengajak anak-anaknya untuk masuk, Bong Goo sempat memberitahu kalau ia adalah atasan ibunya di kantor. Jae Bok buru-buru menutup pintu, Bong Goo menahan lebih dulu dan sempat melihat foto keluarga Jae Bok dari celah pintu lalu membiarkan pintu rumah tertutup.
Akhirnya menel Sam Gyu untuk menanyakan Apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya Shim Jae Bok, lalu dikagetkan dengan apa yang menimpa pada Jung Hee. 


Jae Bok memotong buah untuk anak-anknya, lalu bertanya pada ankanya Apa marah jika teman-temannya salah pahampadahal ia tidak melakukan kesalahan. Jin Wook dengan sinis merasa kalau itu kejam. Jae Bok meminta anaknya agar bicara dengan sopan.
“Karena itu kita harus percaya kepada Ayah. Apa kau Mengerti?” ucap Jae Bok, keduanya pun mengangguk mengerti.

Saat itu ponsel Jae Bok berdering, Na Mi berani menelp dengan mengaku sebagai Orang yang berkencan Jung Hee, lalu akhirnya ia pun pergi ke kamar mandi dengan menyalakan shower agar anaknya tak mendengar.
“Apa masalahmu? Beraninya kamu meneleponku.” Ucap Jae Bok merah
“Aku tidak bisa mendengarmu karena suara air itu.Aku ingin kita bertemu. Ada yang harus kukatakan kepadamu.” Ucap Na Mi
Jae Bok dengan mengumpat marah dan kebinggungan saat memilih pakaian. 


Tuan Cho masuk ke toilet seperti orang yang susah bergerak karena terkena struk. Bong Choo masuk sambil berbicara di telp, melihat Tuan Cho yang berdiri di sampingnya lalu memberitahu ada serangga diwajahnya.
Tuan Cho langsung panik melepaksan kacamata dan terlihat sangat norma dan nampak baik-baik saja. Bong Goo tertawa melihatnya dan berhasil merekam denga ponselnya karena sebelumnya mengira wajah Tuan Cho yang lumpuh dan tak bisa digerakan. Tuan Cho pun panik mengejar Bong Goo keluar dari toilet.
Bong Goo dengan bangga melihat hasil rekamanya, bisa menjadikan bukti dan yakin Jae Bok akan berutang banyak kepadanya, tapi saat itu seorang dari belakang seorang pria memukul punggungnya. Ia pun jatuh tak sadarkan diri dengan ponsel yang diambil oleh pria misterius. 

Jae Bok datang ke rumah temanya, Hye Ran merasa Na Mi memang Wanita berengsek yang nekat sekali tapi menurutnya Jung Hee pasti menyukai wanita yang kuat dan Jae Bok juga seperti itu. Won Jae  rasa Pemikiran yang bagus.
“Jangan berpenampilan lusuh saat kau menemuinya.” Kata Won Jae lalu mengajak pergi ke dress room. Jae Bok mengucapkan terimakasih  sementara Hye Ran mengeluh karena selama ini selalu dilarang menyentuhnya.
Won Jae memilih baju dan Hye Ran memberikan komentar, dari pakaian dress merah, putih akhirnya memilih sebuah pakaian dengan seperti blazer dengan kain besar. Hye Ran pikir itu Penampilan perang. Won Jae pun melihat Jae Bong terlihat akan bertarung dengan hebat.

“Jae Bok... Campakkan Jung Hee dan menikah lagi.” Ucap Hye Ran melihat Jae Bok yang masih terlihat cantik dengan pakaian milik Won Jae dengan heelsnya.
“Untuk apa dia menikah lagi? Hiduplah sendirian dengan angkuh.” Kata Won Jae berpikir kalau Jae Bok harus segera pergi.
“Aku akan terlambat 30 menit.” Kata Jae Bok, Won Jae pikir itu Ide bagus.

Jae Bok datang melihat Na Mi yang sudah menunggu lalu melihat si selingkuhan suaminya berdandan rapi. Na Mi pun melihat Jae Bok yang juga berpakaian tak seperti biasanya.  Akhirnya Jae Bok pun mendekati meja tempat Na Mi duduk. Hye Ran dan Won Jae juga ikut datang melihat dari kejauhan.
“Seharusnya kamu berdiri untuk menghormati yang lebih tua.” Sindir Jae Bok. Na Mi dengan wajah sinis berdiri menyapa Jae Bok.
“Kenapa kau kabur waktu itu?” tanya Jae Bok, Na Mi balik bertanya kenapa Jae Bok ada didalam lemari kamarnya.
“Entah apa yang akan kulakukan jika bertatap muka. Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah.” Kata Jae Bok, Na Mi merasa seperti itujuga.
“Aku kabur agar tidak ada pertumpahan darah.” Tegas Na Mi
Pelayan datang menanyakan pesanan mereka. Jae Bok memesan bir sementara Na Mi memesan Anggur. Jae Bok makin sinis meminta yang dingin dan Na Mi dengan angkuh memesan Anggur merah.


Jae Bok yang sangat marah melampiaskan dengan meminum langsung dua gelas Bir dengan cepat, sementara Na Mi meminum red wine dengan perlahan. Hye Ran tersenyum melihat keduanya yang minum di siang hari. Won Jae pun memesan wiski untuk mereka berdua sambil menonton dari jauh.
“Maaf telah menelepon dan mengajakmu bertemu.” Kata Na Mi
“Bukan hanya karena hal itu kau harus minta maaf.” Balas Jae Bok
“ Maafkan aku.” Kata Na Mi dengan wajah tertunduk sambil menangis,
Hye Ran melihat Na Mi yang menangis, Won Jae yakin Jae Bok tidak akan tertipu. Jae Bok memberikan selembar tissue lalu bertanya meminta maaf untuk apa, apakah Menggoda suaminya atau Tinggal bersama suaminya. Na Mi mengaku bukan itu tapi untuk beranimencintai Jung Hee.
“Kau bilang "Mencintai"? Coba Katakan lagi.” Ucap Jae Bok bener-bena tak percaya
“Aku minta maaf Karena telah mencintai Jung Hee. Kami saling mencintai” Ucap Na Mi 

Jae Bok benar-benar tak bisa menahan amarah ingin memukulnya, tapi Na Mi lebih dulu menahan karena sebelumnya sudah pernah menarik rambutnya, Jae Bok mengumpat marah.
“Tapi...Aku tidak tinggal bersamanya.” Ucap Na Mi sambil menahan tangan Jae Bok yang ingin memukulnya.
“Kau bilang begitu... Kau bilang kalian tinggal bersama!” teriak Jae Bok marah
“Itu karena kau bertanya, jadi, aku hanya...” kata Na Mi membela diri
“Sandi pintu rumahmu sama dengan rumahku. Jadi Beraninya kau.” Kata Jae Bok
“Soal sandi pintu itu, Oppa bilang... Bukan... maksudku Tuan Koo bilang membingungkan jika ada terlalu banyak sandi.” Kata Na Mi
Jae Bok makin marah mengetahui komentar suaminya kalau membingungkan, Na Mi menjelaskan bukan berarti Jung Hee sering datan tapi hanya datang ketika ia tidak ada untuk beristirahat. Jae Bok tak percaya suaminya malah ke rumah Na Mi untuk beristirahat. Na Mi menegaskan kalau bukan sepert itu pemikirannya.

Akhirnya Jae Bok bisa memutar tangan Na Mi dan membuatnya terjatuh dari kursi, semua orang pun bisa melihatnya. Hye Ran dan Won Jae yang melihatnya tersenyum bahagia karena Jae Bok bisa membalas dendamkan pada Na Mi. Jae Bok melihat Na Mi seperti sudah tahu cara jatuh, sementara Na Mi melihat Jae Bok itu cukup atletis.
“Hei... Kau mungkin saja beralasan dengan menyebutnya "cinta", tapi ini tetaplah perselingkuhan. Perselingkuhan yang menjijikkan.” Tegas Jae Bok marah
Won Jae pun menegur temanya agar bisa mendengarkan ucapan Jae Bok, Hye Ran membela diri kalau tidak tahu Tuan Park sudah menikah. Na Mi menegaskan kalau Persoalannya berbeda, karena alasan mengajak Jae Bok bertemu adalah untuk persoalan lain. Jae Bok pun menyuruh Na Mi mengatakanya. 


Saat itu terdengar teriakan nyaring, Hye Ran sudah ditarik rambutnya oleh istri Tuan Park dan juga teman-teman yang berjaga dibelakang. Akhirnya Jae Bok pun mendekati temanya. Istri Tuan Park melihat Hye Ran yang berani datang memberitahu kalau bangunan ini milik suaminya.
Hye Ran meminta tolong, Nyonya Park tak peduli ingin menghajar Hye Ran. Won Ja tak bisa menolong temanya yang sudah kena tendang, Jae Bok ingin membela pun terkena pukulan sampai hidungnya berdarah. Na Mi terlihat kasihan melihat Jae Bok ingin membela tapi malah membuat tubuhnya melayang karena terlempar dan akhirnya tak sadarkan diri. Sementara Hye Ran berhasil kabur saat terjadi keributan. 

Jae Bok pun tak tega melihat Na Mi yang pingsan lalu mengendongnya keluar, Won Jae membantu membawakan barang-barangnya sambil mengeluh Jae Bok malah mengedong bukan menelp ambulance. Jae Bok tahu kalau rumah sakitnya itu tak terlalu jauh.
Akhirnya Na Mi sudah ditangani dokter dan mengalami gegar otak ringan jadi harus memantaunya, tapi tampaknya tidak parah. Jae Bok terlihat shock karena akhirnya malah menolong Na Mi dan membawaknya kerumah sakit lalu meminta tolong pada Won Jae agar membelikan minuman dingin
Won Jae pun bergegas keluar lalu bertanya-tanya kemana Hye Ran itu pergi karena tak mengangkat telpnya. Lalu ponsel lain berdering dan tersadar kalau membawa tas milik Na Mi, karena penasaran ingin tahus siapa yang menelp bertapa kagetnya melihat nama "Jung Hee" tanda hati dibelakangnya.
Jung Hee sedang menemani ibu Na Mi kaget mengetahui Na Mi dirumah sakit. Won Jae sengaja membuat seperti layaknya perawat meminta Jung Hee segera pergi ke bagian UGD rumah sakit, senyuman terlihat senang bisa mempertemukan ketiganya dalam satu ruangan. 

Na Mi tersadar melihat Jae Bok duduk disampingnya, karena ketakutan memilih untuk pura-pura tertidur. Jae Bok pun berjalan pergi saat itu Jung Hee datang dengan wajah panik memanggil Na Mi, bertanya kenapa kepalanya bisa terluka dan berteriak memanggil Perawat dan Dokter. Jae Bok bisa melihat suaminya yang datang mendekati Na Mi. Jae Bok menatap sinis, Jung Hee kaget langsung melepaskan tanganya dari Na Mi
“Sedang apa kau di sini?Aku dikabari bahwa kolegaku dibawa kemari, jadi...” ucap Jun Hee gugup dan salah mencoba dengan bahasa formal tapi seperti tak bisa.
Akhirnya Na Mi pun terbangun dari tempat tidurnya. Jung Hee kembali mencoba bicara formal tapi lidahnya seperti tak biasa, lalu memberitahu kalau keduanya pernah bertemu di pernikahan Tuan Hwang lalu diberik kabar kalau Na Mi terluka jadi perusahaan memintanya untuk datang sebagai perwakian. Na Mi memanggil “Oppa”. Jung Hee panik
“Di kantor, kami saling memanggil dengan nama depan. Dia ada di departemen kami, jadi...” ucap Jung Hee mencoba menjelaskan.
“Dia sudah tahu.”ucap Na Mi, Jung Hee pikir kepala Na Mi  pasti terluka parah mencoba agar bisa berdalih
“Berhenti mengoceh. Kita sudah ketahuan!” teriak Na Mi. Jung Hee binggung bagaimana mereka bisa ketahuan.

Jae Bok memanggil suaminya. Jung Hee mendekati istrinya menyakinkan kalau Na Mi tidak menggodanya dan ia juga tidak menggoda Na Mi. Jae Bok mengumpat marah sambl memukul Jung Hee.  Na Mi turun dari tempat tidurnya seperti ingin menarik Jung Hee tapi Jung Hee akhirnye berlutut didepan istrinya memohon ampun.
“Maafkan aku, Sayang!” kata Jung Hee, Na Mi kaget melihat Jung Hee berlutut didepan istrinya. Jung Hee pun meminta maaf pada Na Mi
“Kau berlutut di hadapanku, tapi kau mengatakan, "Maafkan aku, Na Mi"?” kata Jae Bok marah.
“Sayang, bukan begitu maksudku” ucap Jung Hee terlihat kebingunan.  Na Mi menyuruh Jung Hee agar bangun.

Jung Hee pikir Na Mi sudah gila dan menginginkan mereka mati, Na Mi tak peduli menyuruh Jung Hee untuk segera berdiri. Jae Bok pun memanggil Na Mi bertanya apakah sudah merasa lebih baikan. Na Mi mengangguk.
“Apa Kau sungguh tidak apa-apa? Apa Kau tidak pusing?” ucap Jae  Bok , Na Mi mengangguk.
“Kalau begitu, kau berlutut juga. Kau juga bersalah jadi Berlutut.” Ucap Jae Bok, Na Mi dengan angkuhnya berdiri menolaknya. Jae Bok semakin marah berteriak menyuruh Na Mi berlutut didepanya. 
bersambung ke episode 3 


FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar