Jumat, 10 Maret 2017

Sinopsis Missing Nine Episode 15 Part 2

PS : All images credit and content copyright :MBC

Jaksa Yoon menahan amarahnya saat masuk dengan memegang saurat Pemberitahuan Tindakan Disipliner, di dalam ruangan sudah ada kepala Jaksa dan juga Kepala Lee. Jaksa Yoon mengatakan kalau Pemberitahuan pemberhentiantiba-tiba dikirim ke kantornya. Kepala Jaksa pikir Jaksa Yoon itu harus berkemas sekarang.
“Aku akan pergi...,tapi ingin bertanya.Kasus pembunuhan Yoon So Hee. Apa kalian berdua sudah merencanakan semuanya dan menentukan hasilnya sendiri?” ucap Jaksa Yoon, Kepala Jaksa marah mendengar tuduhan jaksa Yoon.
“Yoon Sunbae... Sepertinya kau sendiri yang sudah dapat keputusan dari rencanamu itu. Sepertinya kau ingin Choi Tae Ho menjadi pelakunya apapunyang terjadi. Bukankah begitu?” kata Jaksa Lee

“Kau sendiri yang sudah merencanakan semuanya dengan hasil: Seo Joon Oh sebagai pelakunya.Karena itulah kaumembebaskan Choi Tae Ho.” Kata Jaksa Yoon
“Yoon Tae Young, pergi saja kau diam-diam.Kenapa kau mencobacari masalah disini? Apa Kau pikir itu semua direncanakan?Apa kau langsung salah menuduh orang tiap kali rencanamu gagal?” kata Kepala Jaksa Marah
“Baiklah. Aku secara mental sudahsiap tidak bekerja di kejaksaan lagi jadi aku tidak punya masalah pergidarisini. Tapi hanya karena aku berhenti bukan berarti kalian bakallolos akan perbuatan kalian ini.Aku akan pastikan memanfaatkan pengalaman bekerja disini dengan baik bahkan setelah berhenti jadi jaksa.Aku akan membuat kalian berwaspada sepanjang hari.” Tegas Jaksa Yoon, Kepala Yoon sempat marah tapi membuatnya tak bisa berkata-kata.


Bong Hee sampai di halte membuka ponselnya, berita di internet pun tersebar [Seo Joon Oh dalam Persembunyian, Kenapa Korban PertamaMenyembunyikan Seo Joon Oh?] Wajahnya pun langsung disembunyikan karena terlihat ada fotonya dalam internet.
Tiga orang remaja, lalu membahas Bong Hee yang memiliki sifat suka menggoda pria dan masih berani keluar-keluar setelah menjebak Tae Ho sebagai pembunuh, kalau itu dirinya mungkin takkan bisa keluar dari rumah. Bong Hee memilih pergi ke menaiki bus, tatapan orang dalam bus seperti berbisik mengenali dirinya. 

Ho Hang mengajak CEO Hwang keluar dari rumah sakit dengan kursi roda dan melihat ada beberapa anak buah seperti menjaga mereka, Akhirnya kembali  masuk dalam, ternyata didepan ruangan juga ada orang seperti mengawasi.
Ia memberitahu CEO Hwang kalau mereka sedang diawasi, CEO Hwang dengan gerakan bibirnya menyebut nama Joon Oh. Ho Hang bertanya apakah mereka sedang diawasi karena Joon Oh, CEO Hwang membenarkan dengan mengedipkan matanya. Ho Hang pun memikirkan tentang Joon On dan memutuskan untuk kamar kecil dulu untuk bersembunyi.

Ji Ah dan Ki Joon masuk mobil melihat ada mobil yang berhenti tak jauh dari mereka. Ji Ah piki Sepertinya ada orang yang membuntuti mereka dan itu artinya harus berhenti menghubungi Joon Oh. Ki Joon pikir seperti itu untuk saat ini.

Ki Joon menelp kembali Joon Oh, Joon Oh sedang datang toilet memberitahu Bong Hee sudah pulang, menurutnya lebih aman di rumah, dibanding bersamanya. Ki Joon pikir juga sepert itu Sebaiknya tidak boleh bersama dulu. Joon Oh pun menutup telpnya.
Saat itu dua orang pelajar melihat wajah Joon Oh, yang keluar disiang hari. Mereka pun langsung membicarakan kalau Bong Hee itu kaki tangannya Seo Joon Oh. Joon Oh pun mendengar pembicaraan keduanya dari depan toilet. 


Bong Hee pulang ke rumah, melihat banyak tulisan didepan rumahnya “Kenapa kau tidak mati saja di pulau?. Kaki tangan pembunuh, Enyah kau!!”
Sementara didalam rumah dua bibi kembali bertengkar dengan Ibu Bong Hee dengan saling menjambak,  Si bibi pikir tak ada yang salah dengan ucapanya kalau Bong Hee  jatuh cinta dengan seorang pembunuh dan anaknya itu  naif sekali dan sudah tak waras?
Ibu Bong Hee membela anaknya, menurutnya Daripada menumpahkan kecap ke seharusnya men-segel bibirnya lalu menjambak dua bibi yang menganggunya, Si bibi satunya mengambil baskom dan ingin menyiram air saat itu Bong Hee baru masuk terkena siraman air.
Si bibi malah mengeluh Bong Hee yang datang tiba-tiba, Ibu Bong Hee berteriak mengusir keduanya untuk segera pergi, dan memarahi karena sudah menyiram putrinya, Bong Hee terdiam dengan tatapan sedih karena keadaanya sekarang malah makin kacau. 

Ibu Bong Hee hanya diam saja sambil tertunduk, Bong Hee mengerikan rambutnya mengetahui ibunya pasti merasa kesulitan dan marah. Ibu Bong Hee hanya diam, Bong Hee merayu Ibuny agar tak marah. Ibu Bong Hee merasa anaknya itu tak tahu sama sekali.
“Apa kau tahu bagaimana Mengerikannya ketika orang menganggapmu  yang aneh-aneh? Kenapa hidup kita bisa berubah seperti ini?” ucap Ibu Bong Hee sedih
“Tidak, Ibu... Anggap saja ini sebagai angin lalu... Semuanya akan berlalu. Setelah itu terjadi, kebenaran akan terungkap kalau Seo Joon Oh dan aku tidak bersalah.” Kata Bong Hee menyakinkan.
“Kau ini keras kepala sekali.  Sifatmu ini keturunan dari siapa?” keluh Ibu Bong Hee
“Aku kuat dan berhati lembut seperti Ibu. Aku ini mirip Ibu.” Ucap Bong Hee lalu mengeluh lapar karena belum makan apa-apa sepanjang hari
“Karena semua sudah berubah seperti ini...,maka kita harus kuat. Bilang pada pria itu, Kalau dia tidak bisa menangani situasi ini..., maka Ibu akan memarahinya.” Ucap Ibu Bong Hee marah
“Seo Joon Oh pasti  sangat berterima kasih pada Ibu.” Kata Bong HEe, Ibu Bong Hee yang sudah kesal memilih untuk pergi. 

Jaksa Yoon dan Joon Oh duduk di pinggir Sungai Han, Jaksa Yoon menceritkan kemarin mengunjungi kantor polisi untuk menemui Jang Do Pal Tapi  tidak bertemu dengannya, dengan alasan polisi belum boleh bertemu siapa pun.
“Kenapa? Apa dia takut kalau dia akan berubah pikiran?” kata Joon Oh, Jaksa Yoon pikir seperti itu. Saat itu CEO Jang duduk diam seperti merenungkan dirinya.
“Dia pasti banyak pikiran karena Choi Tae Ho sudah bebas. Untuk saat ini, pasti sulit mengunjungi Jang Do Pal kecuali Choi Tae Ho yang mulai bergerak. Aku punya banyak waktu sekarang dan akan menyelidiki  Jang Do Pal dan Choi Tae Ho.” Kata Jaksa Yoon
“Apa menurutmu ada caranya?” tanya Joon Oh, Jaksa Yoon yakin  Tak ada yang mustahil.
“Bagian tersulit adalah tetap gigih menghadapi situasi ini. Kita tunjukkan pada mereka bahwa tidak ada yang mustahil.” Kata Jaksa Yoon. 



Bong Hee baru menekan ponselnya dikagetkan dengan suara Joon Oh yang mengomel karena tidak bisa menghubunginya sepanjang hari. Bong Hee kaget dan heran karena Joon Oh yang mengangkat teleponnya cepat sekali. Joon Oh memberitahu kalau sudah menelpnya dari tadi berpikir kalau Bong Hee itu tidak memeriksa ponselnya. Bong Hee seperti tak sadar.
“Apa semuanya baik-baik saja di rumah?”tanya Joon Oh, Bong Hee pun mengetahui kalau Joon Oh sudah baca artikel itu rupanya dan memberitahu kalau baik-baik saja,
“Beritahu ibumu. Kalau semua ini sudah beres...,maka aku akan minta maaf pada ibumu.” Kata Joon Oh yang menerima telp dari atas mobinya.
“Jangan khawatir soal itu. Kau harus tetap waspada dan harus aman” kata Bong Hee
“Aku aman-aman saja,  jadi jangan khawatir. Aku mengkhawatirkanmu.” Ungkap Joon Oh.
Bong Hee mengaku baik-baik saja jadi jangan khawatirkannya dan besok  akan kembali lagi. Joon Oh ternyata duduk tak jauh dari Bong Hee bisa melihatnya dari kejauhan, ia pikir kalau Besok terlalu cepat jadi menyuruhya agar dirumah saja lebih lama lagi karena keadaan pasti sulit kalau bersamanya. Bong Hee yakin Joon Oh pasti bosan kalau tak ada dirinya. Joon Oh terdiam menatap Bong Hee dengan wajah sedih.
“Benar juga, aku pasti bakal bosan.” Ucap Joon Oh, Bong Hee pun berjanji akan ke Seoul.
“Bong Hee... Cepatlah kesini.” Ucap Joon Oh yang berjarak tak jauh dari rumah Bong Hee. Bong Hee mengerti menutup telp dan segera masuk kerumah. Joon Oh sedih karena dirinya malah membuat keadaan Bong Hee juga bahagia. 

Bong Hee sudah siap berangkat, ibunya masuk kamar melihat anaknya yang tidak sarapan. Bong Hee pikir tak perlu karena tidak lapar. Ibunya ingin anaknya harus makan di saat seperti ini agar bisa semangat. Bong Hee seperti ingin cepat pergi ke Seoul.
“Bong Hee... apa kau yakin bisa mempercayai orang itu?Untuk mempercayai seseorang dan selalu mendukung..., maka kau juga harus kuat. Apa Kau sanggup?” kata ibu Bong Hee.
Bong Hee menganguk mengerti dengan mata berkaca-kaca memeluk ibunya, Ibu Bong Hee menepuk punggung anaknya yang menangis lagi. Bong Hee mengucapakanTerima kasih. 

Beberapa jaksa keluar dari agency, Tae Ho melihat dari lantai atas. Byung Joo baru akan masuk melihat Tae Ho memlih untuk pergi seperti ketakutan, Tae Ho memanggilnya dan meminta agar memperlihatkan ponselnya, lalu menelp Joon O dengan ponsel Byung Joo. Joon Oh pikir yang menelp Byung Joo langsung mengangkatnya.
“Ini aku, Hyung.” Ucap Tae Ho, Joon Oh yang marah tak ingin di panggil “Hyung” karena tidak pernah merasa kalau mereka kakak adik dan ingin tahu alasanya menelepon
“Kita dulu biasa memanggil seperti itu. Semua sudah berubah sekarang.” Komentar Tae Ho
“Berhenti bicara omong kosong, Aku bahkan tidak ingin mendengar  suaramu. Sudah, aku tutup” kata Joon Oh tak bisa menahan amarahnya, Tae Ho kembali memanggil Joon Oh.
“Aku juga tidak ingin  sejauh ini. Aku juga manusia. Hatiku juga hancur jika melihatmu menderita lagi. Jadi Hyung, sudahlah, lupakan perkara ini. Menyerahlah jika kau tidak ingin membuat orang-orang terdekatmu terluka. Aku menelepon Cuma untuk memberitahumu hal itu.” Kata Tae Ho
Saat itu Jaksa Cho memberitahu Jaksa Yoon,  kalau keadanya Gawat. Joon Oh dan Jaksa Yoon terlihat tegang mendengarnya. 

Polisi memberitahu kalau  sudah  mendapat lokasi Ra Bong Hee saat ini yaitu dalam perjalanan ke Seoul sekarang. Jaksa Lee pun meminta agar segera membawa ke kantor jaksa.
“Surat perintah penangkapan Ra Bong Hee telah dikeluarkan. Sepertinya Lee Jae Joon  sudah mengeluarkan ultimatumnya. Jadi Kita harus bagaimana?” ucap Jaksa Cho binggung, Joon Oh dan Jaksa Yoon nampak bingung
Polisi sudah memegang profile milik Bong Hee, Sementara Bong Hee dalam bus duduk disebelah pria seperti seorang polisi dan mencurigakan. Bong Hee terlihat ketakutan menutupi wajahnya dan tak merasakan getaran ponselnya saat jaksa Yoon menelp. 

Jaksa Yoon pikir Bong Hee dalam perjalanan dalam perjalanan jadi tak sadar dengan ponselnya, jaksa Cho panik karena Bong Hee yang tidak tahu apa yang terjadi jadi lebih bai sekarang harus mencoba mencarinya. Joon Oh tiba-tiba ingin masuk mobil, Jaksa Yoon menahanya.
“Kau mau apa? Mereka bertindak seperti ini untuk melacakmu.” Kata Jaksa Yoon menyadarkanya.
“Aku tahu itu. Tapi mana  bisa aku diam saja?” ucap Joon Oh kebingungan
“Jangan lakukan ini. Kita cari cara terbaik saja dulu.” Kata Jaksa Yoon menenangkan.
“Bong Hee tidak salah apapun...,tapi dia mau ditangkap. Aku harus mencoba  mencegah ini semua.” Kata Joon Oh masuk ke dalam mobil. 


Jaksa Yoon terus mencoba menelp tapi Bong Hee seperti tak sadar ponselnya bergetar karena pria duduk disebelahnya mencurigakan. Joon Oh sampai di halte mencari ke bagian kedatangan. Jaksa Yoon dan Jaksa Yoon datang, mereka berpecar agar mencari Joon Oh dan Bong Hee.
Bong Hee baru turun dari bus, tiba-tiba pria tadi memanggilnya. Bong Hee tegang berpikir pria itu adalah polisi. Tapi ternyata pria itu hanya mengembalikan ponsel milik Bong Hee yang jatuh dikursi. Bong Hee bisa bernafas lega saat itu telp masuk dan ingin mengangkatnya, saat itu polisi dengan surat penangkapan. 

Joon Oh mencari Bong Hee mendengar jeritan Bong Hee yang meminta agar dilepaskan, polisi menarik Bong Hee sampai dilihat oleh orang-orang di halte bus.
Joon Oh ingin mendekat, Jaksa Yoon datang langsung menahanya karena kalau polisi melihatnya maka akan tertangkap. Bong Hee terus meminta agar dilepaskan, Joon Oh tak tega melihat Bong Hee yang dibawa oleh polisi atas kesalahanya. Jaksa Yoon langsung menariknya dengan mendorongnya pada dinding bus.
“Seo Joon Oh... Sadarlah... Jika kau terlibat sekarang, kalian berdua akan ditangkap. Maka aku tidak bisa  membantumu lagi. Tahanlah jika kau ingin menyelamatkannya. Apapun yang terjadi. Sekarang Kita pergi dari sini dulu.” Kata Jaksa Yoon 

“Aku akan menyuruh Byung Joo membawa mobilmu. Kau harus sangat berwaspada.Jika mereka membuntutimu,kau bisa dalam masalah besar. “ucap Jaksa Yoon yang melihat Joon Oh hanya menatap keluar jendela
“Apa yang akan terjadi sekarang? Mereka menculik Bong Hee. Apa yang akan terjadi padanya?” kata Joon Oh khawatir
Bong Hee melihat ponselnya dan sedikit tegang dalam mobil polisi lalu masuk ke gedung kejaksaan. Jaksa Lee sudah menunggu di ruang interogasi dengan laptop.
Jaksa Yoon seperti tahu kalau Bong Hee akan bertemu Lee Jae Joon lalu akan menanyakan dimana keberadaan Joon Oh. Dan Jaksa Lee pasti akan mengatakan kalau akan melepaskan Bong Hee jika memberitahukan dimana keberadaan Joon Oh. 

“Dia pasti akan terus  menerus menanyakan keberadaanmu sampai Bong Hee memberitahunya. Dia tahu bahwa  dengan membuat Bong Hee menderita adalah cara yang tepat untuk menangkapmu. Dia pasti akan berusaha keras sehingga kau tidak punya pilihan selain pergi menemui Jaksa itu sendiri.” Cerita Jaksa Yoon didalam mobil
Jaksa Lee mulai menanyakan keberadan Joon Oh pada Bong Hee, tapi Bong Hee dengan tatapan dingin mengatakan tidak tahu. Jaksa Lee memperingatakan kalau terus seperti ini, maka   akan mempersulit keadaannya sendiri dan meminta agar memberitahunya.
“Kau bisa keluar dari sini jika memberitahu kami di mana dia. Apa kau mau terus-terusan seperti ini?” ucap Jaksa Lee sambil mengebrak meja untuk menakuti Bong Hee, tetap saja Bong Hee diam.
“Kita lihat saja siapa yang menang.” Kata Jaksa Lee lalu keluar dari ruangan. 


Joon Oh berada di pinggir sungai Han, Jaksa Yoon datang dengan wajah sedikit panik membahas yang dikatakan Joon Oh apakah yakin karena menurutnya  memang bukan keputusan tepat.
“Tapi, aku tidak bisa membiarkan mereka seperti ini.” Ucap Joon Oh, Jaksa Yoon seperti tak bisa berbuat apapun.
Bong Hee duduk diam, salah seorang jaksa memberitahu kalau bisa pergi sekarang.

Bong Hee keluar dari kejaksaaan, melihat Jaksa Yoon sudah menunggunya dengan mata berkaca-kaca bertanya apa sebenarnya yang terjadi dan kenapa bisa keluar dari kantor kejaksaan. Jaksa Yoon seperti hanya diam saja. Saat itu Jaksa Lee masuk ruanganya melihat Joon Oh sudah ada dalam ruanganya.
“Joon Oh sudah memutuskannya.” Ucap Jaksa Yoon, Bong Hee tak ingin Joon On melakukan ingin kembali masuk. Jaksa Yoon menahanya.
Flash Back
Joon Oh pikir dirinya itu gilatapi tidak ada pilihan lain, karena Hanya ada satu cara ini yaitu akan menyerahkan diri.

Joon Oh pun bertemu dengan Jaksa Lee dalam ruanganya,  Jaksa Lee berkomenta kalau sangat sulit bertemu dengan  Joon Oh dan Karena telah menyerahkan dirinya maka tidak langsung saja. Joon Oh hanya menatap Jaksa Lee dengan senyumanya
Bong Hee pikir seharusnya Jaksa Yoon mencegahnya padahal sebelumnay menyarankan agar tak pergi ke kantor kejaksaan dan betapa teganya Jaksa Yoon yang membiarkan saja. Ia pikir dengan menyerahkan diri tanpa rencana yang matang, artinya tamatlah bagi Seo Joon Oh. Joon Oh tak banyak bicara hanya mengemudikan mobilnya. 

Jaksa Yoon membawa Joon Oh ke ruangan interogasi, ia mengeluh kalau  Joon Oh yang tak bicara selama berjam-jam sejak mengucapkan namanya. Joon Oh hanya diam saja.
“Kenapa kau tidak jawab pertanyaanku? Bukannya kau datang ke sini untuk menyerahkan diri?” kata Jaksa Yoon mulai marah.
Kepala jaksa dalam ruang kontrol bertanya apakah Joon Oh masih tidak bicara. Anak buahnya memberitahu kalau sudah enam jam. Kepala Jaksa heran dengan tingkah Joon On hanya tak mau bicara.
Joon Oh pun diberikan makan tapi hanya dimainkan saja, setelah itu bermain didepan kaca didepan ruang kontrol dengan menuliskan dikaca. Jaksa Lee pikir Joon Oh sudah gila. 

Flash Back
Jaksa Yoon memperingatkan Joon Oh agar jangan beritahu Jaksa apapun, dengan Apapun yang jaksa lakukan, jangan menunjukkan reaksi apapun karena Jika melakukannya, maka pihak  akan bicara dengannya.
Akhirnya Jaksa Lee kembali masuk dengan berkomentar cara makan Joon Oh yang lucu dan menegaskan harus jawab pertanyaannya.
“Kenapa kau membunuh Yoon So Hee? Dia memanggilmu pembunuh. Apa benar demikian?” ucap Jaksa Lee, Joon Oh tetap diam.
“Apa Kau mau diam terus? Sampai kapan kau mau diam? Kau sendiri yang datang pada kami, kan? Kenapa kau tidak bicara? Keadaan tidak akan membaik walaupun kau terus seperti ini. Apa Kau pikir tingkahmu ini akan membuatkuberhenti menjebloskanmu ke penjara?” ucap Jaksa Lee akhirnya ninggikan suaranya.
“Jadi Apa maumu? Untuk apa kau  menyerahkan diri seperti ini?” kata Jaksa Lee, Joon Oh meliriknya. 

Flash Back
Jaksa Yoon memberitahu saat Jaksa Lee mengatakan itu maka Joon Oh harus mengatakan tawaran yang menggoda bagi Jaksa Lee.
“Aku akan bicara..., tapi tolong bantu aku sedikit. Jang Do Pal, Izinkan aku menemui dia.” Kata Joon Oh
“Kenapa kau ingin menemuinya? Jika aku mengizinkanmu menemuinya..., apa untungnya buatku?” ucap Jaksa Lee.
“Anda hanya ingin satu hal, 'kan? Jika Anda mengizinkanku menemui dia..., mungkin aku akan  memberikan apa yang Anda mau.” Kata Joon Oh. 
Flash Back
Jaksa Yoon tahu Bagi Jaksa Lee, tidak ada yang lebih penting dari pengakuan Joon Oh sekarang maka akan mengizinkannya menemui Jang Do Pal, setidaknya sekali.

Kepala Jaksa  bertemu dengan CEO Jang, dan langsung menegaskan bahwa Orang yang memerintahkan seseorang untuk membunuh Hwang Jae Goo adalah CEO Jang orangnya, dan ingin tahu Dimana menyembunyikan anak buahnya, yaiu orang yang membawa  suntikan saat itu ke RS. Kepala Jaksa hanya diam saja.
“Jawab aku sekarang!” teriak kepala Jaksa, CEO Jang hanya diam sambil memejamkan matanya.
Flash Back
“Jang Do Pal pasti  merasa sangat tertekan. Polisi sudah melakukan segalanya untuk menemukan anak buahnnya itu.” Ucap Jaksa Yoon
Akhirnya CEO Jang dibawa keluar dari sel penjara, CEO Jang bertanya kemana akan dibawanya.
“Jika antek itu tertangkap...,maka Jang Do Pal akan segera dinyatakan bersalah atas tindak upaya pembunuhan. Itu artinya, dia mungkin akan dipenjara seumur hidup. Jang Do Pal sadar akan hal itu..., tapi dia masih tidak melakukan apa-apa kecuali berdiam diri. Menurutmu apa artinya itu?” kata Jaksa Yoon


“Ini artinya pasti ada sesuatu yang dia andalkan.” Kata Joo Oh
“ Choi Tae Ho pasti telah dibebaskan karena adanya kesepakatan. Tae Ho pasti sudah berjanji untuk menyingkirkan anak buahnya tersebut.” Kata Jaksa Yoon
Joon Oh pun mengartikan  kalau harus melibatkan dirinya  pada dua orang itu. Jaksa Yoon menyerahkan semuanya pada Joon Oh, bisakan  membuat Jang Do Pal memihaknya atau tidak. Ia tahu Tidak ada yang pastijadisemua itu takkan mudah

CEO Jang melihat Joon Oh yang ada dalam ruang interogasi, Joon Oh mengejek yang dipakai oleh CEO Jang pada kepalanya dn kelihatannya baik-baik saja. CEO Jang tak ingin berlama-lama ingin tahu Kenapa mau menemuinya.
“Membiarkan mereka berdua sendirian di satu ruangan..., apa tidak masalah?” ucap jaksa junior khawatir, Jaksa Lee meminta agar membesarkan volume agar bisa mendengar pembicaraan keduanya.
“Bagaimana rasanya tinggal disini?” tanya Joon Oh, CEO Jang pikir  Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang jadi merasa lebih baik.
“Kau berpendirian luas juga,  Padahal kau yang dipenjara, bukannya Tae Ho” komentar Joo Oh
“Jika kau mencoba  Memprovokasiku, untuk entah apa yang kau rencanakan...” kata CEO Jang tak ingin terhasut.

Joon Oh pun bertanya apakah Tae Ho sering menengokinya dan tahu yang dilakuanya belakangan ini. CEO Jang pikir tak perlu harus tahu itu. Joon Oh pikir CEO Jang harus tahu, karena ia yang menanggung  semua kesalahan hanya untuk  mendapatkan bantuan, jadiseharusnya mengetahui  apakah ia mampu melakukannya.
“Apa menurutmu Tae Ho sungguh  akan membantumu? Kau sudah banyak berbuat keji demi dia tapi dia tidak akan melakukan apapun demi kau. Sepertinya dia sudah lupa untuk membantumu.” Kata Joon Oh kembali menghasut.
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Aku tidak pernah meminta bantuan padanya, dan...” kata CEO Jang berdalih, lalu Joon Oh menyela
“CEO Hwang...sudah bisa bicara sekarang.” Kata Joon Oh
CEO Jang merasa merasa tak perlu harus mendengar perkataannya dan ingin keluar. Joon Oh langsung menariknya dengan mendorongnya kepintu. Jaksa Lee dan yang lainya langsung berlari keluar untuk merelainya. Joon Oh seperti marah karena CEO Jang seperti mempercayai Tae Ho. Jaksa Yoon tak bisa membuat pintu karena dikunci, Joon Oh tetap mencengkram baju CEO Jang seperti ingin mengancamnya.
Bersambung ke episode 16

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar