Jumat, 03 Maret 2017

Sinopsis Missing Nine Episode 14 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC
Hee Kyung terdiam setelah mengetahui semua kebenaranya lalu menganggap bahwa Tahun ini ternyata tahun yang buruk rupanya. Penyidik Oh pun menawarkan untuk minum. Hee Kyung pikir Minum takkan membuatnya tenang.
Penyidik Oh sadar bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan hal ini pada Hee Kyung, lalu bertanya apakah masih mengingat kalau  mendapat telepon dari Cina, yaitu Ketika komisi waktu itu hampir dibubarkan, ada orang yang menelepon dan meminta kita membawa para jasad korban
“Dia memberitahukan pada kita dimana lokasi jasad korban yang tersisa lalu dia mengatakan padaku, dimana jasad Reporter Kim.Karena Seo Joon Oh masih hidup...,aku yakin orang yang  menelepon kita waktu itu pasti Seo Joon Oh.” Ucap penyidik Oh,
“Jadi Apa Kau ingin aku menemuinya dan berterima kasih padanya soal itu?” kata Hee Kyung
“Jika dia membunuh mereka..., maka dia tidak mungkin menelepon  kita untuk mengambil jasad korban. Aku tahu, penting bagi kita menilai situasi sebagai pejabat publik tapi kita sudah sejauh ini. Aku ingin meminta Anda mempertimbangkan situasi ini seobjektif mungkin.” Saran Penyidik Oh lalu keluar ruangan ingin membawakan minum. 

Dokter keluar dari ruangan, semua wartawan langsung menanyakan pertanyaan tentang keadaan Tae Ho. Dokter pun tak menjawab dan pergi begitu saja. Dalam ruangan sudah ada CEO Jang dengan Tae Ho dengan nada sinis memberitahu kalau seharusnya menuruti perkataakanya.
“Jika kau menurutiku, semua ini tidak akan terjadi.” Ucap CEO Jang, Tae Ho pun ingin tahu alasan CEO Jang melakukannya
“Jae Hyun Hyung...Kenapa kau membunuhnya?” kata Tae Ho marah, CEO Jang membela diri
“Alasanya Tentu saja, aku melakukannya demi kau. Dia sudah mendengar  semua pembicaraan kita. Apa aku harus membiarkan dia hidup? Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan.” Kata CEO Jang merasa tak bersalah
“Jadi dengan Membunuh orang, itu hal yang harus kaulakukan? Aku jadi tersanjung. Demi aku,  kau sampai membunuh orang.” Ucap Tae Ho menyindir. CEO Jang memperingatkan Tae Ho agar menjaga mulutnya.
“Kau yang membunuhnya...,dan aku menutupi kejahatanmu itu. Bukankah begitu?” kata CEO Jang
“Walaupun begitu, kau seharusnya tidak membunuhnya. Jika kau tidak membunuhnya, hidupku mungkin telah berbeda dari yang sekarang.” Ungkap Tae Ho merasa menyesal.
CEO Jang mengejek Tae Ho memang Naif. Tae Ho tak ingin membalasnya meminta agar menyingkirkan wartawan-wartawan itu dan pastikan dokter  tetap menjaga rahasia soal kondisinya, serta  akan keluar besok. CEO Jang tak peduli menyerarkan semuanya pada Tae Ho.
“Oh iya... Tapi, ponsel itu...akan kauapakan?” kata CEO Jang, Tae Ho terdiam. 


Flash Back
Joon Oh kesal menelp Tae Ho,  menyuruh agar Polisi segera pergi dari kediamanya sekarang. Tae Ho binggung Joon Oh mendapatkan nomornya dari mana. Joon Oh pikir mengetahui semua yang diketahui Tae Ho dan tahu kalau ia menyuruh polisi datang untuk menangkapnya.
“Hei, bajingan bodoh... Jika aku tertangkap, mereka juga akan menemukan ponselnya So Hee Jadi Pakai otakmu itu.” Tegas Joon Oh.
Tae Ho memberitahu CEO Jang kalau akan menemukan ponselnya. CEO Jang pun mengerti dan menyuruh Tae Ho agar istirahat. Tae Ho terlihat penuh dendam siap mengambil kembali ponsel dari tangan Joon Oh. 

Flash Back
Tae Ho sedang melakukan jumpa wartawan dengan melambaikan tangan ke arah kamera, tiba-tiba ia meihat sosok Jae Hyun dengan luka diwajahnya. Tae Ho sempat kaget dan memalingkan wajahnya, saat melihat ke arah Jae Hyun kembali bayangan itu tak ada.
CEO Jang membuka pintu mobil. Tae Ho terlihat gelisah merasa tidak sanggup lagi dan harus mengakuinya, karena tidak bisa hidup seperti ini. CEO Jang langsung menampar Tae Ho, menyuruhnya agar sadar kalau Insiden itu hanya kecelakaan.
“Jangan biarkan insiden itu menghancurkan hidupmu. Hidup itu bisa hancur dalam sekejap mata. Apa kau tahu bagaimana keadaan Joon Oh?” ucap CEO Jang. 

Tae Ho ingat dengan keadaan Joon Oh sekarang. Joon Oh keluar dari kantor polisi Byung Joo memberikan jaket. Wartawan  langsung bertaya Apa insiden tersebut memang bunuh diri. Tae Ho pun dari kejauhan melihat Joon Oh seperti menanggung semua yang seharusnya dilakukanya.
“Apa yang terjadi dengan Joon Oh dan Jae Hyun itulah nasib mereka. Insiden itu juga akan mereda jika kau tak buka mulut. Kenapa kau tidak bisa melakukannya? Jadi Untuk saat ini, lakukan saja apa yang kusuruh. Apa kau Paham?” kata CEO Jang
“Kalau begitu... Apa selama sisa hidupku..., aku harus hidup merasa bersalah?Aku sungguh tidak bisa,Wakil CEO Jang.” Kata Tae Ho sambil menangis
“Tanpa tekad yang cukup..., lalu kenapa kau minta bantuanku saat itu? Ini Sudah terlambat dan Kita sudah terlanjur sejauh ini. Tae Hoo.. Dalam hidup...,manusia mampu melakukan hal jahat. Kau akan segera menyadarinya.” Kata CEO Jang bisa menghasut artisnya lalu memeluknya. Tae Ho pun menangis dipelukan CEO Jang. 

Tae Ho berjalan dilorong dengan wartawan yang terus mewawancarinya, saat itu So Hee lewat dengan tatapan sinis. Tae Ho sempat binggung. Saat Tae Ho akan masuk lift melihat So Hee sudah dalam lift dan kedunya pun satu lift bersama.
“Dasar... Pembunuh. Apa Kau pikir bisa melupakan kenyataan itu?” ucap So Hee. Tae Ho terdiam mendengarnya tak percaya kalau So Hee itu mengetahui rahasianya.


Ki Joon melihat Ji Ah yang baru selesai syuting, lalu mengajaknya untuk bicara. Keduanya duduk di bangku taman depan gedung.  Ki Joo mulai bicara, meminta maaf karena selama ini dengan sikapnya membuat Ji Ah marah dan tidak menjelaskan apa yang sedang terjadi.
“Aku yakin kau frustrasi. Jadi hari ini, aku akan memberitahumu semuanya yang tak bisa kuberitahukan padamu.” Kata Ki Joon
“Tidak perlu, Jangan khawatirkan hal itu lagi. Selain itu, aku tahu apa yang ingin kaukatakan padaku.” Ucap Ji Ah, Ki Joon pikir mana mungkin Ji Ah mengetahuinya.
“Apa CEO Jang mengancammu karena ibuku yang sering minta uang perusahaan? Aku tahu kau mencoba menghentikannya secara diam-diam.” kata Ji Ah, Ki Joon terdiam karena ternyata Ji Ah mengetahuinya.
“Hei... Aku mau bertanya satu hal padamu. Apa mungkin kau berpikiran, kalau aku terlalu banyakmencampuri urusanmu?Apa kau merasa tertekanolehku?” kata Ki Joon, Ji Ah mengaku tidak.
“Aku tahu alasannya. Aku merasa tak enak padamu, Padahal kau tak perlu melakukannya.” Kata Ji Ah
Ki Joon binggung karena Ji Ah mengatakan kalau tahu alasannya. Ji Ah menegaskan dirinya itu tidak bodoh dan tahu segalanya, soal apa yang terjadi  antara Ki Joon dan kakaknya. Ki Joon kaget bagaimana Ji Ah bisa mengetahuinya.
“Kau datang ke pemakaman kakakku, 'kan? Kau dulu dokter bedah yang bertugas saat dia wajib militer. Kau lebih banyak menangis daripada keluargaku sendiri. Jadi Tentu saja, aku tahu.” Cerita Ji Ah, Ki Joon tak percaya kalau Ji Ah itu mengetahuinya lagi.
“Tapi kenapa kau tidak mengatakan apapun? Apa Kau tak membenciku?” kata Ki Joon yang selama ini merasa sangat bersalah.
“Aku tahu itu bukan salahmu. Kehidupan kakakku berakhir saat dia wamil. Hal itu bukan salah siapapun dan Memang nasibnya-lah begitu. Begitulah menurutku.” Ungkap Ji Ah.
“Seorang anak SMP kehilangan kakaknya. Bagaimana bisa dia memaafkanku? Bagaimana bisa kau memaafkan orang yang membunuh kakakmu?” kata Ki Joon tetap merasa bersalah.
“Kau tidak membunuhnya tapi Kau tak sengaja melakukannya. Kau hanya mencoba menyelamatkannya dan Tidak semua orang bisa memutuskan hal itu karena mereka menyesal. Kau sampai rela memutuskan tak melanjutkan karirmu jadi dokter. Dan Kau begitu demi aku, bahkan Ibuku juga masih saja sering memarahimu. Padahal itu sudah lama berlalu.” Ucap Ji Ah
Ia meraa sudah cukup yang dilakukan Ki Joon dan meminta maaf, Karena itulah ia sudah bisa memaafkannya. Ki Joon terdiam seperti masih merasa bersalah. Ji Ah tak ingin membahasnya lagi, karena menurutnya sudah lama berlalu. Ki Joo tetap diam, Ji Ah merasa udara semakin dingin memberikan jaketnya pada Ki Joon dan bergegas pergi masuk kedalam mobil. 

Joon Oh menelp Ki Joon bertanya apakah sudah bicara dengan mereka, lalu berkata kalau sudah melakukanya juga dan bertanya kapan akan datang karena Bong Hee mengundang untuk datang ke rumahnya makan malam dan meminta agar cepat datang.
Setelah menutup telpnya, Joon Oh melihat mesin boneka dan mencoba memainkanya. Dengan memasukan satu koin, Joon Oh bisa mendapatkan satu boneka. Wajahnya langsung bahagia, tapi menyesal karena tak ada orang yang melihatnya. Akhirnya ia mencoba kembali dan mendapatkan boneka yang kedua.
Bong Hee baru saja selesai berbelanja melihat Joon Oh bermain mesin boneka, karena ingin mencobanya meminta koin 500 won,  Joon Oh pun memberikanya karena uang itu juga milik Bong Hee. Bong Hee mencobanya tapi dua kali mencoba tak mendapatkan apapun. 

Bong Hee berjalan dengan membawa dua boneka yang didapatkan Joon Oh, sementara Joon Oh membawakan barang belanjaan. Bong Hee terlihat bahagia mendapatkan dua bonek yang imut dan mengaku tidak pernah mendapat hadiah boneka.
Joon Oh dengan bangga merasa kalau Bong Hee itu tak pernah mendaapatkan apapun sebelum bertemu denganya dan menurutnya sangat beruntung menjadi stylistnya.  Bong Hee mengaku kalau bisa melakukan banyak hal setelah bertemu dengan Joon Oh.
“Kau harus berterima kasih padaku.” Kata Joon Oh
“Aku memang berterima kasih padamu.Hari ini, aku menyadari kauternyata bisa pandai melakukan hal tertentu.” Ucap Bong Hee mengakuinya.
“Selebriti harus pandai dalam semua hal. Kau harus tahu bahwa menjadi selebriti itu sulit” ucap Joon Oh.
“Ahhh. Kau memang selebriti. Aku hampir lupa.” Kata Bong Hee.
Joon Oh mengeluh Bong Hee bisa melakukan statusnya sebagai selebriti, Akhirnya Bong Hee pun mengucapkan terimakasih dengan memanggil Joon Oh “Oppa” lalu bergegas pergi dengan dua boneka. Joon Oh terdiam seperti merasakan sesuatu dalam hati mendengar nama panggilan “oppa” 

Semua berkumpul, Ji Ah pun membahas kalau So Hee merekamnya dan ingin tahu Kapan, tapi menurutnya kenapa So Hee harus  terus menyalahkan Joon Oh  atas kematian Jae Hyun. Ki Joon menegur Ji Ah karena tak enak ada Jaksa Yoon sebagia kakak So Hee.
“Sepertinya ada banyak hal yang menyangkut So Hee yang tak kuketahui. Awalnya, aku menduga So Hee terkadang mencurigakan tapi aku hanya terus mengabaikannya.” Kata Jaksa Yoon dengan nada menyesal
“Kami semua juga begitu. Dia wanita yang sensitif, jadi kupiki dia bertingkah aneh karena kematian Jae Hyun.” Kata Joon Oh

“Aku yakin dia tidak merekam pembicaraan itu untuk memanfaatkannya. Dia pasti sudah melakukannya tanpa sadar. Kami tahu dia mencoba  melaporkannya ke polisi beberapa kali.” Komentar Bong Hee.
“Tapi, aku masih tidak mengerti kenapa dia menyalahkan Joon Oh Oppa. So Hee tidak seperti itu pada awalnya. Dia dulu menyukai dan  menghormati Joon Oh Oppa. Menurutku dia takkan memperlakukan Joon Oh Oppa seperti itu jika dia sudah tahu.” Komentar Ji Ah
“Sepertinya aku baru menyadari apa maksud So Hee saat itu. Ketika Joon Oh sedang kesulitan..., aku pergi ke apartemenuntuk membersihkan apartemennya.” Cerita Ki Joon


Flash Back
Ki Joon masuk ke dalam rumah dan melihat  Joon Oh terbaring dengan banyak minuman dan So Hee duduk didekatnya, sambil menangisnya memandanginya. Ki Joon pun sengaja berdiri didepan pintu mendengarkan ucapan So hee.
“Oppa... Aku juga minum-minum hari ini... Aku saja datang ke tempatmu ini tanpa sadar. Maafkan aku, Oppa. Aku tahu, kau tidak salah apapun dan itu bukan kesalahanmu. Tapi jika aku tidak melakukannya..., maka aku tidak sanggup lagi. Aku tidak akan bisa hidup dan Jangan ampuni aku, Oppa.” Ucap So Hee sambil menangis berbicara pada Joon Oh yang tertidur setelah banyak minum. 

“Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi..., tapi dia membiarkan Tae Ho dan Jang Do Pal mengendalikannya. Menurutku dia ingin menyangkal hal itu.</i> Semakin kau merasa  bersalah dan tertekan..., maka semakin kau mengunci diri dan menyangkalnya. Aku tahu dia seperti itu saat aku menyelidiki kasus tersebut.” Ucap  Jaksa Cho
“Aku tidak percaya hal itu terjadi pada adikku sendiri. Aku minta maaf, Seo Joon Oh. Atas nama So Hee, aku ingin minta maaf padamu.” Kata Jaksa Yoon merasa bersalah.
“Kau tidak perlu minta maaf, Itu semua sudah berlalu. Kita harus menangkap Tae Ho dan Jang Do Pal secepat mungkin. Kami semua ini korban: So Hee,  Reporter Kim, CEO Hwang dan aku. Dan Juga, Tae Ho mungkin saja bisamelakukan hal yang tak diinginkan lagi..” Jelas Joon Oh
“Kita harus tetap waspada sampai jumpa pers tiba” ucap Bong Hee, Ji Ah setuju dengan hal itu.
“Kami juga akan mengatakan yang sebenarnya saat ini, Oppa.” Kata Ji Ah
Ki Joon juga setuju menurutnya  merasa jauh lebih baik setelah memberitahusemua rahasia ini dan menegaskan bahwa mereka akan melindungi Joon Oh dan tidak takut apapun lagi sekarang. Joon Oh mengejek kalau Ki Joon itu harus takut padanya.  Jaksa Yoon memberitahu bersama denan Jaksa Cho akan mengumpulkan para polisi agar Tae Ho dan Jang Do Pal tidak tahu harus melakukan apapun setelah jumpa pers.
“Jika rekaman di ponsel itu terkuak  ke masyarakat, saat jumpa pers nanti maka hal itu akan menyebabkan efek yang luar biasa.” Ucap Jaksa Yoon mewanti-wanti.  Joon Oh yakin mereka bisa dan mengajak mereka semua bersulang.

“Oh, kenapa kita tidak pindahkan  saja CEO Hwang ke RS lain? Kita pasti merasa tenang kalau dia dirawat  di RS yang tidak diketahui Jang Do Pal.” Ucap Joon Oh
“Tapi apa yang akan kita katakan pada Sekretaris Tae? Sekretaris Tae belum  berubah pikiran sepenuhnya. Walaupun kita memindahkan CEO Hwang, mereka akan segera tahu karena Sekretaris Tae memberitahunya.” Ucap Ki Joon. 


Ho Hang masuk ruangan melihat Istri CEO Hwang tertidur saat menjaga suaminya, lalu membuka selimut agar tak kedinginan. Saat itu Ho Hang merasakan sesuatu dari tangan CEO Hwang, ia pun mencoba memegangnya dan tangan CEO Hwang bisa mengenggamnya. Ho Hang terkejut dan membuat istrinya terbangun.
“Matanya terbuka!!!.. Jae Gook Hyung......Dia sudah sadar! Apa Kau mengenaliku?” ucap Ho Hang, CEO Hwang menjawab dengan kedingan satu kali.  Istri CEO Hwang pun segera keluar untuk memanggil dokter.

Saat itu Ki Joon menerima telp Ho Hang, Ho Hang terdengar seperti menangis. Ki Joon pun mulai panik dan ingin tahu Apa ada yang terjadi dengan CEO Hwang. Semua pun terlihat tegang. 
Akhirnya Ji Ah, Ki Joon, Bong Hee, Ki Joon datang melihat CEO Hwang yang terbaring akhirnya sadar. CEO Hwang melihat semua orang yang datang perlahan. Ji Ah dan Ki Joon mendekat tak bisa menahan tangis bahagianya, begitu juga Bong Hee akhirnya bisa melihat CEO Hwang sadar.
CEO Hwang terdiam melihat Jooh Oh dengan maskernya, Joon Oh membuka masker dan mendekati CEO Hwang. CEO Hwang langsung menangis melihat Joon Oh ternyata masih hidup karena sebelumnya dianggap sudah mati.


CEO Jang pun menerima telp dari anak buahnya kalau Hwang Jae Gook sudah sadar.  Ho Hang baru sampai kantor ingin masuk dan mendengar CEO Jang yang sedang bicara ditelp. CEO Jang bertanya Apa itu artinya dia sudah sepenuhnya pulih dan bisa bicara.
“Dia sudah siuman..., tapi sepertinya dia belum bisa bicara atau bergerak.” Ucap anak buahnya.
“Berapa lama waktu yang dibutuhkan baginya biar dia bisa mulai berbicara?” tanya CEO Jang
“Saya belum bertanya pada dokter soal itu.”kata anak buah CEO Jang,
CEO Jang mengumpat marah karena tak ada yang benar ditanyakan pada dokter, lalu menegaskan bahwa mereka  tidak bisa membiarka CEO Hwang buka mulut dan membiarkan CEO Hwang hidup karena tidak bisa bicaraa tapi jika mulai bicara maka mereka harus langsung saja bunuhny.
Ho Hang kaget ternyata CEO Jang ingin membunuh CEO Hwang,  CEO Jang pun ingin agar anak buahnya itu segera menanyakan dokter. Saat itu Tae Ho datang menegur Ho Hang yang hanya berdiri didepan pintu.  Ho Hang mengaku hanya ingin mampir untuk menyapa CEO Jang tapi merasa kalau atasanya itu sibuk jadi ingin segera pamit pergi. 

Tae Ho pun masuk ruangan mengeluh CEO Jang yang tidak menjemput di rumah sakit. CEO Jang mengaku tadi ada urusan. Tae Ho memastikan kabar kalau  CEO Hwang sudah siuman. CEO Jang bertanya Siapa yang memberitahunya, lalu mengatakan kalau baru mengetahuinya. Tae Ho pun panik bertanya apa lagi sekarang.
“Kau pikir apalagi? Dia akan memberitahu semua orang kalau aku yang membuat dia celaka seperti itu. Kita harus membunuhnya.” Kata CEO Jang, Tae Ho melotot kaget karena untuk kedua kalinya, CEO Jang ingin membunuh CEO Hwang. 

Berkas [Laporan Perkembangan Penyelidikan Kasus Pembunuhan Yoon So Hee] diberikan pada kepala Jaksa oleh Jaksa Yoon. Kepala Jaksa mengatakan kalau mereka sudah menyelidiki kasus ini dan melihat laporan yang cukup tebal pasti  jaksa Yoon sudah mengumpulkan banyak intel. Jaksa Yoon memberikan berkas lainya  [Kasus Pembunuhan Shin Jae Hyun]. Kepala Jakas bertanya apa lagi sekarang.
“Ini isinya terkait kasus pembunuhan Shin Jae Hyun yang dinyatakan sebagai bunuh diri empat tahun lalu. Selidiki ulang kasus ini. Dengan begitu, kau juga bisa menangani kasus Yoon So Hee.” Kata Jaksa Yoon
“Kasus ini sudah selesai. Kenapa kau mau menyelidikinya lagi? Pernyataan saksi sudah diterima, dan kita sudah menginterogasi pelakunya. Semuanya sudah berakhir sekarang. Apa kau pikir aku punya banyak waktu? Apa kau ingin menyusahkanku?” ucap Kepala Jaksa
“Kasus Yoon So Hee... Apa kau menyelidikinya dengan semestinya?” tanya Jaksa Yoon, Kepala Jaksa dengan sangat yakin kalau sudah menyelidikinya dan itu tidak jauh berbeda dari yang dinyatakan komisi.
“Karena itulah aku mau mengatakan hal ini. Kenapa kita harus menolak pernyataan itu sekarang dan menyelidiki ulang kasus tersebut? Seo Joon Oh sudah kembali. Aku tahu kau sadar akan hal itu.” Kata Jaksa Yoon

“Aku juga dengar kalau Seo Joon Oh  masih hidup, tapi aku belum melihatnya. Aku harus memastikannya dulu...” kata Kepala Jaksa
“Bukannya kau menyuruh polisi datang ke rumah Ra Bong Hee untuk menangkapnya? Ternyata Alasanmu payah sekali” ungkap Jaksa Yoon,
Kepala Jaksa pikir Seo Joon Oh kalau memang kembali  sendirian tanpa ada bukti maka tidak akan mudah mampu membalikkan keadaan lalu bertanya apakah Jaksa Yoon punya rencana yang bagus. Jaksa Yoon pikir mereka harus menunggu saja sampai jumpa pers besok.
“Besok, kebenaran akan terungkap. Dari yang kutahu..., bahwa pelaku insiden yang menimpa Hwang Jae Gook adalah pelaku yang  membunuh Shin Jae Hyun juga. Aku akan menyerahkan buktinya padamu. Jika kau tidak ingin berurusan dengan penghinaan publik..., maka kau sebaiknya tahu pihak  mana yang kaupilih dengan bijaksana.” Kata Jaksa Yoon memperingatinya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


2 komentar: