Kamis, 16 Maret 2017

Sinopsis Radiant Office Episode 1 Part 2

PS : All images credit and content copyright :MBC

Ho Won meminum bir dengan sedotan melihat tulisan   [Dalam kehidupan, suatu saat, hari yang baik pasti akan kunjung datang] lalu mengejek itu lucu. Ia berjalan di pinggir jembatan sungai Han dengan melihat tulisan
 [Bagaimana harimu? Apa harimu melelahkan? Orang yang paling kaucintai Renungkanlah sekali lagi.]
“Dalam kehidupan..., suatu saat hari yang baik takkan kunjung datang. Itulah hidup. Aku sudah ditolak 100 kali. Penolakan yang ke-100 ini.. berkata padaku begini. "Dalam kehidupan ini..., kau memang sial."” Gumam Ho Won.
“Aku akan hidup sembarangan dan akan menjadi orang yang parah. Apa semuanya baik-baik saja asalkan kau menjalani hidup yang baik? Lagipula kau juga berhenti  dari pekerjaanmu. Tapi, kenapa kau menolakku? Kenapa? Dasar Brengsek kau.” Teriak Ho Won marah

Saat itu di rumah, Woo Jin seperti merasakan kalau ada yang menyebut namanya, lalu membereskan semua makan dari lemari dan mengeluarkanya, mulai dari nasi instant, ramen semua dikeluarkana dalam lemari dan dibuat pada kotak. Setelah itu membuka kulkas dan membuangnya ke dalam kardus.
“Mereka ini tak bisa buat makanan yang layak. Sudah berapa lama umur produk itu? Wah.. Perusahaan itu sudah kacau balau rupanya. Dasar sekelompok orang bodoh.” Komentar Woo Jin membuang semua makanan yang menurutnya tak ada yang akan mencobanya.
“Aku sudah menuruti  apa katamu. Aku sudah belajar rajin dan buat bisa kuliah. Aku sudah bekerja keras. Untuk mendapatkan beasiswa,  aku bekerja keras tanpa tidur nyenyak. Agar bisa makan dan hidup..., maka aku bekerja paruh waktu siang dan malam. Aku sudah berusaha yang terbaik. Kenapa semua orang seperti ini padaku?” ucap Ho Won sudah berdiri diatas pinggiran sungai. 



Ho Won melihat ponselnya yang berdering  Manajer Mini Market dan langsung berteriak saat Ho Won mengangkatnya. Ho Won pun menjawab dengan terikan juga, Manager merasa Ho Won sudah gila. Ho Won yang frustasi membenarkan.
“Gila itu masalahmu, Sudah jam berapa sekarang? Kau terlambat bekerja hari ini. Kenapa kau tidak datang?”teriak si manager
“Aku tidak datang bekerja hari ini. Aku tidak bisa. Minggu lalu, Bos tidak bayar upah lemburku, 'kan? Apa Bos pikir aku tidak tahu? Kenapa semua orang seperti ini padaku?” teriak Ho Won kesal 

Saat itu kakinya tak sengaja terpeleset dan jatuh dari jembatan, Ho Won berada dalam air melihat isi ponselnya ucapan selamat. Dan saat itu juga Ho Won sudah berada di rumah sakit dan terlihat tak sadarkan diri dibawa oleh penjaga sungai Han.
Jiwa Ho Won seperti melayang mengingat kejadian  dengan wjah bahagia kalau ia diterima dengan pakaian seragam sekolahnya, ketika masuk ruangan Ibunya sudah menangis. Ho Won terlihat masih belum sadar dan diberikan alat kejut jantung oleh Dokter.
“Aku akhirnya bisa kuliah. Kau padahal sudah menantikannya. Kenapa kau cepat sekali meninggalkan kami? Aku diterima kuliah.  Kau bilang kau mau datang di hari orientasi mahasiswa.” Ucap Ho Won pada ayahnya yang sudah meninggal sambil menangis.
Ho Woon masih belum sadar dan kembali mendapatakan kejutan jantung lagi agar sadar. Ho Won melihat note yang bertuliskan “Pengumuman Pegawai Baru Dongki Food”sebagai wawancaranya yang ke 100, lalu merobeknya. 

Woo Jin bertemu dengan seorang wanita memberitahu  Tidak ada banyak pilihan untuknya lagi lalu memberitahu sebuah Perusahaan yang cocok dengan Cvnya dan hanya itu perusahaan yang terakhir. Ia menegaskan Woo Jin harus tetap bekerja  di salah satu perusahaan.
“Bukankah tugasmu yang mencocokkanku dengan perusahaan yang kuinginkan?” ucap Woo Jin
“Reputasimu itu terparah di bidangmu. Pengalaman kerjamu saja yang membuatmu bertahan selama ini. Mengganti pekerjaan itu bukan hobimu.” Kata Si wanita. Woo Jin seperti tak mengerti.
“Soal syarat yang kau tanyai itu..., perusahaan ini  yang sempurna. Pemilik perusahaan  tidak terlibat dengan manajemen. Karyawan gaji bisa sukses di perusahaan itu. Mungkin saja kau cocok di perusahaan ini.” Ucap si wanita
“Mungkin saja kalau perusahaan ini punya integritas. Kalau begitu...,kapan aku bisa mulai bekerja?” tanya Woo Jin penuh semangat, Wanita itu mengatakan Woo Jin bisa mulai Senin depan.

Woo Jin bertemu dengan seorang wanita memberitahu  Tidak ada banyak pilihan untuknya lagi lalu memberitahu sebuah Perusahaan yang cocok dengan Cvnya dan hanya itu perusahaan yang terakhir. Ia menegaskan Woo Jin harus tetap bekerja  di salah satu perusahaan.
“Bukankah tugasmu yang mencocokkanku dengan perusahaan yang kuinginkan?” ucap Woo Jin
“Reputasimu itu terparah di bidangmu. Pengalaman kerjamu saja yang membuatmu bertahan selama ini. Mengganti pekerjaan itu bukan hobimu.” Kata Si wanita. Woo Jin seperti tak mengerti.
“Soal syarat yang kau tanyai itu..., perusahaan ini  yang sempurna. Pemilik perusahaan  tidak terlibat dengan manajemen. Karyawan gaji bisa sukses di perusahaan itu. Mungkin saja kau cocok di perusahaan ini.” Ucap si wanita
“Mungkin saja kalau perusahaan ini punya integritas. Kalau begitu...,kapan aku bisa mulai bekerja?” tanya Woo Jin penuh semangat, Wanita itu mengatakan Woo Jin bisa mulai Senin depan.

Ho Won berpikir dirinya yang terkena penyakit parah, lalu membuka tirai saat itu di ruang sebelah terlihat Ki Taek juga melonggokan kepalanya dan ruangan depan Jang Kang Ho ikut melihat keluar ruangan. Ketiganya pun langsung buru-buru menutup tirai.
Saat itu terjadi kecelakan dan ruang UGD pun ramai, Ha Won mendengar sebuah keluar yang dibawa kesebelahnya. Seorang pria tak sadarkan diri, seorang anak perempuan meminta ayahnya agar bisa sadar. Dan saat itu juga Dokter memberitahu “13 Maret 2017, pukul 21:23. Pasien Choi Tae Min telah wafat.” Dan turun berdua. Semua pun menangis, Ho Won ikut menangis seperti mengingat saat kehilangan ayahnya. 

Perawat masuk ke ruangan Kang Ho menyuruhnya agar bangun dan segeran membayar tagihannya di ruang administrasi. Ho Wo mendengarnya mencoba melihat isi kontornya hanya ada lembaran uang yang basah ketika akan membukanya malah membuatnya uangnya robek.
Saat itu perawat datang memanggil Ho Won Dan Ho Won pura-pura tertidur. Perawat pun menyakini kalau Ho Won belum sadarkan diri lalu keluar.
Ho Won melepaskan selang infusnya dan menjatuhkan diri dilantai, tiba-tiba disampingnya Ki Taek melakukan hal yang sama.Ho Won memberitahu kalau ingin keluar, Ki Taek melihat Ho Won menyuruh agar memakai jaket. Keduanya berusaha keluar dari rumah sakit tanpa diketahui oleh dokter dan perawat dengan mengunakan kursi roda. 

Keduanya akhirnya berhasil keluar padahal Hampir saja  ketahuan karena ada ambulance yang datang. Ho Won tersenyum lalu meminta Ki Taek agar mencubitnya,  Ki Taek binggung tiba-tiba Ho Won ingin mencubitnya. Ho Won merasa kalau tadi itu sangat lucu jadi mengira hanya mimpi.
“Aku juga berharapnya ini mimpi.” Kata Ki Taek saat itu terdengar suara yang memanggil keduanya. Ki Taek dan Ho Won melonggo bingung melihat Kang Ho juga ikut kabur dari rumah sakit. 

Keduanya duduk ditaman dengan wajah lesu. Kang Ho pikir itu bisa dianggap kejahatan ringan karana tidak bayar tagihan RS dan bisa dianggap  melanggar hukum. Ki Taek pikir KangHo bisa menghindar dari setiap tuntutan pidana jika menjadi orang kaya.
“Orang rumah sakit pasti sedang panik sekarang. Aku pasti sakit sekarat karena sedang  dihukum. Padahal aku tadi tidak sengaja terjun. Aku tidak terjun karena aku sangat ingin mati.” Cerita Ho Won
“Apa karena itu  kau datang ke sini juga? Berarti dokter yang tadi itu membicarakan tentangku atau dirimu.” Kata Ki Taek
“Padahal itu peluangnya 1 banding 3.” Ucap Kang Ho lesu. 

Ibu Kang Ho melihat CV yang dibuat anaknya, dengan anda marah kalau membayar orang untuk membuat surat lamaran yang bagus ke setiap perusahaan bahkan Dari transkripmu hingga  skor TOEIC dengan nilainya sudah bagus semua.
“Tapi kenapa kau tidak bisa dapat pekerjaan? Ibu sudah menghabiskan banyak uang untuk memastikanmu memiliki kualifikasi yang bagus. Bukankah kau seharusnya sudah dapat pekerjaan di salah satu perusahaan besar?” teriak Ibu Kang Ho
“Masalahnya, wawancara itu sedikit...”ucap Kang Ho tertunduk ketakutan
“Percaya dirilah. Bicara dengan penuh percaya diri! Karena itulah kau selalu gagal tiap wawancara!” kata Ibu Kang Ho 

Kang Ho yang mengingat ucapan ibunya merasa ingin mati saja,  dan merasa kalau kata-kata yang keluar dari mulut ibunya, menyuruhnya agar mati saja.  Ki Tae pikir itu tidak mungkin, karena itu ibunya. Tapi menurutnya waktunya sangat tepat sekali.
“Kita mencoba bunuh diri, tapi salah satu dari kita sakit parah.” Kata Ki Taek
“Apa kita harus mencari uang dari suatu tempat agar kita bisa ke RS lagi untuk cari tahu?” kata Kang Ho. Ki Taek pikir darimana mereka mendapatkan uang.
“Aku tidak mau. Apa untungnya cari tahu? Apa yang akan  kita lakukan setelah kita tahu?” kata Ho Won sudah pasrah
“Tadi dokter itu bilang  "sakit parah". Mati juga takkan bisa dihindari, walaupun kau sudah mengetahuinya. Maka aku lebih baik tidak tahu soal itu dan hanya mati saja kalau sudah waktunya. Lagipula itu semua tak penting. Aku sudah muak dengan segalanya. Aku juga tidak yakin apa aku masih bisa hidup seperti ini. Apakah hari esok lebih baik?” kata Ho Won menahan rasa sedihnya. 

Dokter Seo dan juniornya berjalan di lorong, seperti baru saja selasai makan. Perawat datang memberitahu Dokter Seo  kalau ada pasien yang kabur membuka tirai Kang Ho, lalu Ki Tak dan juga Ho Won yang kosong. Dokter Seo pun menyuruh agar mereka  lapor polisi saja.
“Mereka ini mau bunuh diri dan kabur tanpa bayar tagihan rupanya.” Ucap Dokter Seo geram 

Ketiga sudah berdiri di atas jembatan sungai Han, Kang Ho pikir kalau mereka mati pasti tak ada orang  yang akan mengingat mereka. Ho Won pikir itu tak penting lagi.
“Ada orang yang bilang padaku, kalau aku tak punya masa depan. “Semoga hidupmu berhasil, wanita jahat.” Kata Ki Taek dengan penuh dendam
Ki Taek mengambil ponsel yang ada dalam jaket yang dipakai oleh Ho Won, lalu membuka rekaman suara dan mulai merekam sebagai pesan terakhirnya.

“Ayah, Ibu... Aku minta maaf... Aku juga...tidak banyak keinginan. Sama seperti Ayah dan Ibu...,aku ingin bertemu  seseorang yang kucintai dan hidup bahagia. Itulah impianku. Tapi semua itu tidak berjalan lancar, Ibu. Aku minta maaf, Ayah Ibu.” Ucap Ki Taek sambil menangis
“Apa Kau mau hubungi orang tuamu juga?” tanya Ki Taek pada Kang Ho, Kang Ho mengelengkan kepala karena sudah meninggalkan surat. Akhirnya Ho Won mengambil ponselnya
“Aku berasal dari Tongyeong, Provinsi Gyeongsang Selatan. Aku lahir tanggal 21 Oktober 1990.” Ucap Ho Won
Keduanya saling berbisik melihat Ho Won yang berbicara menjauh dan bertanya-tanya apa yang akan dikatakanya. Kang Ho juga tak tahu tapi setidaknya ia masih merasa senang bisa bersama seseorang dan meminta izin aga bisa menganggap mereka bertema. Ki Taek pun menyetujuinya. Ha Won pun mengembalikan ponsel pada Ki Taek
“Apa salahku sebenarnya? Apa kau pikir aku ingin terlahir miskin? Apa kau pikir aku ingin  menjadi pengangguran? Pepatah bilang, impianmu bisa tercapai jika kau mencoba 100 kali. Kenapa tingkat kompetisi  selalu 1 banding 100? Itu artinya 99 dari mereka gagal.” Teriak Ho Won marah
“Ibu, ini 'kan keinginanmu? Aku menuruti semua perintah Ibu..., tapi aku selalu gagal. Ibu ingin aku seperti apa?”ucap Kang Ho 

Woo Jin pergi ke Gym menyalakan TV yang sedang menanyakan berita Saat itu tim penyelamat Sungai Han mengangkat telp. Seorang reporter melaporkan kalau Bunuh diri adalah penyebab nomor  satu kematian bagi orang-orang berusia 20-an dan 30-an.
“Ya. Saya sekarang ada di Jembatan Dongjak, Sungai Han, di mana disini ada anak muda mencoba bunuh diri.” Ucap Repoter Na
Ki Taek, Ho Won dan Kang Ho panik melihat ada banyak wartawan yang mengambil gambar dan petugas yang ingin menyelamatkanya. Kang Ho mengancam akan melompat kalau mendekat.
Ho Won terlihat malu mengaku hanya jalan-jalan saja. Ki Taek berteriak kalau ada orang yang ingin bunuh diri diseberang jalan. Semua melihat kearah seberang.Ketiganya pun mencoba kabur dan Saat itu rekaman saat petugas mengejarnya di tampilkan pada berita TV.
“Omong kosong macam apa itu? Mereka pikir hidup mereka sulit seperti itu? Bocah-bocah itu harusnya...” komentar Won Jin
Banner berita bertuliskan “Realitas pemuda pengangguran”dan Ha Won dengan wajah di blur meminta agar jangan merekamnya. Won Jin yan menonton melihat kalau wanita itu tak cantik lalu turun dari treadmill. 


Ketiganya akhirnya berjalan tanpa alas kaki karena sudah sempat melepaskan di jembatan. Lalu ketiganya merasakan perut berbunyi karean kelaparan. Akhirnya mereka duduk di sebuah restoran
“Uangnya tidak cukup buat pesan 3 porsi nasi, cuma cukup buat 1 porsi.”ucap Kang Ho
“Kenapa kau ingin makan seafood rebus?” tanya Ki Taek pada Ho Won
“Karena seafood rebus mengingatkanku pada kampung halamanku.” Kata Ho Won
Ki Taek mengajak untuk mulai makan, dengan membagikan satu nasi untuk bersama-sama karena  lebih baik mati dengan perut kenyang, daripada mati kelaparan Semua hanya terdiam, si bibi pemilik berteriak menyuruh mereka agar membalikanya. Akhirnya ia turun tangan membalikan kepiting memberitahu kalau terlalu matang dagingnya keras dan memasukan gurita.
Si bibi melihat ketiganya hanya tertunduk sedih, lalu datang dengan semangkuk nasi penuh diberikan pada ketiganya. Kang Ho pikir merkea tak memesanya. Si Bibi mengatakan Semua orang merasa ingin mati setiap hari karena hidup keras yang dijalani.
“Memang hidup itu buat apa? Hidup itu juga buat makan dan bisa tinggal di tempat nyaman. Aku barusan menanak  nasi ini. Jadi rasanya pasti enak.” Ucap Si bibi dan memberikan sepasang sandalnya untuk Ho Won. Mereka pun makan sambil menangis. 


Dokter Seo menerima telp sambil mengatakan kalau  tadi sedang menghubungi seseorang dan mengatakan kalau masih pikir-pikir dulu. Ia memberitahu kalau mengambil kuliah kedokteran karena  tidak ingin dibandingkan dengan kakaknya yang sukses. Dan ia merasa ayahnya itu ingin mereka bersaing lagi. 

Ho Won sudah membawa kopernya dan masuk ke rumah  pemilik yang masih muda sedang melakukan posisi lilin.  Ho Won memberitahu kalau mau pindah dan karena tidak bisa membayar sewa lalu memberikan notebooknya. Si wanita memastikan kalau Notebook  tidak rusak
“ Aku mau pulang kampung dan nanti  datang lagi buat bayar uang sewanya setelah aku dapat uang. Aku hanya memberikan notebook itu sebentar saja jadi tidak bermaksud agar kau menggunakannya.” Jelas Ho Won  meminta agar Jangan di pakaia untuk menulis skenario
“Kau juga harus bayar bunganya.  Kau tahu itu, 'kan?” ucap si wanita, Ho Won mengumpat si wanita itu memang kejam
“Aku tidak punya ponsel sekarang. Boleh aku memeriksa email-ku untuk terakhir kalinya?” kata Ho Won 

Ho Won membuka email dari Hanul Mail lalu dikagetkan dengan email yang didapatkanya. Si wanita mendekat ada apa,  Ho Won seperti masih tak menyangka lalu melihat email yang memberitahu kalau ia lulus tahap seleksi berkas.
“Mencoba 100 kali ada untungnya juga. Hal seperti keajaiban itu memang tidak ada.” Ucap Ho Won seperti tak merelakan notebooknya diambil.

Ho Won sudah berada di ruangan Penerimaan Pegawai Baru Hauline. Ia memohon untuk terakhir kalinya berharap keajaiban terjadi. Disampingnya seseorang berlatih bicara dengan bahasa inggris didepanya, seorang wanita berlatih bahasa China.
Pegawai kantor memberiitahu bahwa Wawancaranya akan dimulai 30 menit lagi. Mereka pun bersiap-siap, Ho Won berdiri dari bangku dan melihat sosok yang dikenalnya. Kang Ho juga melihat Ho Won dan membalas lambai tanganya dengan wajah gugup. 

Keduanya bertemu diluar ruangan, Kang Ho bertanya apakah Ho Won  pergi ke rumah sakit lagi. Ho Won mengelengkan kepala. Kang Hoo pikir  Ternyata peluang 1 banding 3 itu masih saja ada. Ho Won menceritakan selalu gagal wawancara kerja tapi ketika harus wawancara di perusahaan sekarang,mau tak mau harus datang sambil berpikir kalau bisa jadi kali terakhirnya.
“Aku juga. Ini hari ketiga wawancara. Perusahaan ini memiliki skandal besar  tentang perekrutan yang adil tahun lalu. Mungkin karena itulah  mereka menerima semua orang yang telah  melamar tahun ini.” Ucap Kang Ho
“Pantas saja... Padahal aku juga selalu gagal di seleksi berkas.” Kata Ho Won

“Aku juga merasa aneh kenapa bisa lulus. Menurut pelamar yang sudah wawancara..., pewawancara tahun ini, katanya, sangat kejam. Mereka memeriksa CV-mu pakai pena merah dan menekanmu.Mereka secara cermat  mengkritik pakaian dan rambutmu dan suka orang-orang dengan  latar belakang pendidikan yang bagus.” Cerita Kang Ho, seorang berada dalam lift memegang pulpen merah.
“ Jika kau berada di bawah kualifikasi,  mereka akan mempermalukanmu sampai mati. Banyak pelamar keluar dari ruangan  sambil menangis. Karena mereka memberi kesempatan wawancara untuk setiap orang..., mereka jadi sangat pemarah dan kejam karena terlalu banyaknya orang yang harus diwawancarai” jelas Kang Ho
Ho Won pun dengan ketautan bertanya apakah tahu  nampewawancara kejam itu. Kang Ho mengingat namanya Seo Woo Jin. Saat itu Woo Jin berjalan melihat  Ho Won yang sedang berbicara dan keduanya sama-sama menatap seperti saling mengenal.
Bersambung ke episode 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar