PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Sabtu, 18 Mei 2019

Sinopsis Her Private Life Episode 12 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Duk Mi dan Ryan duduk bersama sambil saling mengenggam tangan. Ryan heran dengan Duk Mi yang tidak bertanya apa-apa. Duk Mi hanya diam sambil terus mengenggam tangan pacarnya. Ryan seperti bisa tersenyum dengan sikap Duk Mi.
“Aku bermimpi.” Cerita Ryan. Duk Mi bertanya Apa mimpinya menakutkan. Ryan mengaku kalau Bukan sekedar mimpi.
“Menakutkan karena itu dari ingatanku. Mengenai hari saat aku ditinggalkan di panti asuhan. Sebelum diadopsi di luar negeri... Aku hampir tidak punya ingatan sebelum umur tujuh tahun. Tapi aku masih ingat hari itu samar-samar” ucap Ryan.
“Tangan yang melepaskanku sangat dingin. Aku ingat saat itu dengan jelas. Karena itu... Karena itu aku tidak suka melepaskan tangan yang aku pegang. Aku tidak suka memegang perasaan yang ditinggalkan.”cerita Ryan sedih
“Apa kau merasa baik-baik saja sekarang?” tanya Duk Mi, Ryan pikir tak masalah karena bersama Duk mi.
“Kita harus tetap bersama seperti ini.” Ucap Duk Mi yang terus mengengam tangan Ryan.
“Apa Kau akan membuatku pergi bekerja tanpa membiarkanku tidur?” kata Ryan. Duk Mi membenarkan.
“Aku sering mengalami mimpi menakutkan saat masih kecil. Aku tidak ingat persis apa mimpi itu, tapi aku bangun menjerit dan menangis. Setiap kali itu terjadi, aku mengganggu seluruh keluargaku dan tidak membiarkan mereka tidur. “ cerita Duk Mi
“Dan setiap kali, ibuku tidak memaksaku untuk tidur, tapi menghabiskan waktu bersamaku sepanjang malam. Hari ini, aku akan menghabiskan waktu bersamamu sepanjang malam.” Ucap Duk Mi
Ryan binggung Duk Mi akan bersama Sepanjang malam. Duk Mi mengajak Ryan pergi dengan penuh semangat. Duk Mi binggung kemana mereka akan pergi.  Duk Mi mengoda kalau Sebagai gantinya, begitu masuk maka Ryan tidak bisa keluar.



Ryan masuk rumah Duk Mi melonggo binggung melihat kartu Go Stop berjejer, lalu bertanya Apa ini. Duk Mi memberitahu kalau ini  "Perang Bunga" dan Juga dikenal sebagai "Hwatu. Ia menjelaskan apakah Ryan  akan lanjut atau berhenti, Go Stop.
“Ini adalah permainan yang sangat mendalam yang mencerminkan semua aspek kehidupan.” Jelas Duk Mi
“Apa ini yang kau maksud dengan menghabiskan waktu bersamaku sepanjang malam?” keluh Ryan. Duk Mi membenarkan.
“Apa ada hal lain yang ingin kau lakukan?”goda Duk Mi, Ryan mengaku tak ada.
“Kartu-kartu ini terlihat sangat berwarna. Jika kartu truf dapat dianggap semiologis, Hwatu menekankan desainnya.” Kata Ryan
“Itu tidak penting. Biarkan aku jelaskan aturan paling kritis dan utama.Coba Lihat di sini. Ada lima burung... 3 di sini, 1 di sini, dan 1 di sini. Ini disebut "Godori". Bernilai lima poin. Tidak perlu mengingat nama-nama itu.” Jelas  Duk Mi
“Apa kau lihat lima kartu yang memiliki "Gwang" pada mereka?”  Ini disebut, "5 Gwang". Lima dari kartu ini bernilai 15 poin. Keduanya adalah kartu terbaik. Apa kau lihat ini dengan ikat pinggang di sekitar mereka seperti kontes kecantikan?” kata Duk Mi kembali menjelaskan
“Yang kosong adalah "Chodan", yang merah adalah "Hongdan", dan yang biru adalah "Cheongdan". Ini bernilai 3 poin. Masing-masing 3 poin. Singkatnya, 5, 5, 3, 3, dan 3 poin. Dan lebih baik jika kau mengambil kartu sebanyak mungkin. Kau tidak akan mengerti, jadi,....” Kata Duk Mi
“Apa  Lebih baik ambil lebih banyak?” ucap Ryan, Duk Mi membenarkan lalu mengakhir penjelasanya.
Ryan kaget karena Duk Mi menyelesaikan, Duk Mi pikir Ryan  tidak dapat mempelajari Hwatu melalui penjelasan seseorang da nSatu-satunya cara adalah mendapatkan pukulan saat bermain sehingga tidak lupa lalu dengan penuh semangat mengajak untuk segera bermain. 
Duk Mi bermain penuh semangat, Ryan pikir kalau dirinya menang karena menemukan kartu goblin. Duk Mi memberitahukalau itu kartu bonus. Ryan binggung karena Duk Mi yang mengambil kartu milikya. Duk Mi mengaku itu hadiah dari Ryan.
“Tunggu. Sudah jelas aku harus terus lanjut sekarang, tapi, aku akan berhenti karena aku kasihan. Berhenti.” Kata Duk Mi
“Apa Kau kasihan padaku?” kata Ryan tak mau kalah, Duk Mi kembali menangak karena mendapatkan 10 poin dan pibak.
“Itu menggandakan skor. Aku harus memukulmu 20 kali, tapi... Aku akan mengasihani dan memukulmu dua kali.” Kata Duk Mi
“Kenapa 20 poin?” tanya Ryan masih binggung, Duk Mi menjelaskan kartu pibak. Ryan memastikan kaalu kartu itu untuk menggandakan skor. Duk Mi membenarkan.
“Kau harus jelaskan itu padaku.” Keluh Ryan. Duk Mi berjanji kalau  hanya akan memukul 2 kali. Ryan pun pasrah menerima pukulan di tanganya.
“Ini tidak akan menyenangkan jika aku mengalah karena kita berkencan.” Kata Duk Mi penuh semangat.
Ryan merasakan tanganya sakit, Duk Mi pun bahagia melihat pacarnya yang kesakitan. Ryan mencoba melawan tapi terus kalah dan menerima pukulan, tapi tetap saja akhirnya Ryan pasrah memberikan tangan meminta mereka agar berhenti bermain karena  sama sekali tidak menyenangkan.
“Apa tidak menyenangkan?” tanya Duk Mi tiba-tiba memberikan hukuman dengan mencium tangan Ryan.
“Kini sedikit menyenangkan.” Kata Ryan tersenyum bahagia menerima ciuman dari Duk mi
“Berapa kali?” tanya Duk Mi, Ryan malah meminta lima kali. Duk Mi memberikan ciuman dan mengajak Ryan bermain lagi karena menyenangkan tapi Ryan menolak.




Duk Mi dan Ryan akhirnya menonton acara komedi, sambi meminum wine dan cemilan. Wajah mereka terlihat bahagia, setelah itu mereka menonton film romantis dengan terlihat adegan pasangan yang berciuman, Duk Mi menatap Ryan lalu menyadarkan kepalanya dibahu sang pacar.
Ryan pun memeluk Duk Mi dan mencium bagian keningnya, tak beberapa lama Duk Mi sudah tertidur pulas di pelukan Ryan. Ryan akhirnya mengendong Duk Mi berbaring diatas tempat tidur lalu menatapnya. Beberapa saat kemudian, Duk Mi terbangun melihat Ryan tidur didepanya.
Ia teringat saat Ryan mengatakan “Aku sudah melihatmu, aku harus pulang sekarang. Aku sudah diisi ulang sekarang. Maaf sudah membangunkanmu. Kau harus kembali ke dalam.” Tapi ia seperti tahu kalau Ryan sedang merasakan kesedihan dan tak ingin sendirian.
Keduanya pun tertidur dengan tangan saling mengenggam seperti tak ingin terpisah. 


 [EPISODE 12: KENYATAAN AKU PENGGEMARMU, ARTINYA AKU ADA DI PIHAKMU]
Sun Joo memasukan biji kopi dimesin lalu meminta agar Joo Hyuk pesan biji kopi lagi. Joo Hyuk mengerti akan memesannya, berjanji tidak akan membuat kesalahan... tapi gelas ditanganya malah terjatuh lagi.
“Aku sudah percaya suamiku atas hidupku. Jadi, aku pasti bisa mempercayakanmu atas ini. Buatlah pesanan apa pun yang kau inginkan.” Ucap Sun Joo sudah terbiasa dengan Joo Hyuk yang ceroboh.
“Temanku yang cantik, Sun Joo.” Sapa Duk Mi dengan senyuman abahagi.
“Temanku Deok Mi, yang sibuk berkencan dengan pria.” Komentar  Sun Joo mengejek
“Tapi pasangan fan-girlku selalu datang sebelum belahan jiwaku.” Balas Duk Mi lalu memberikan hadiah untuk Sun Joo
“Kau ada di jalur yang benar. Saat kau tidak dapat menghabiskan waktu dengan temanmu. Setidaknya kau harus mengeluarkan uang.” Jelas Duk Mi memberikan produk minum kesehatan. Sun Joo pun mengucapkan terimakasih .
“Bagaimana denganmu? Apa kau merasa nyaman sekarang karena dia tahu kau fan-girl?” tanya Sun Joo. Duk Mi menganguk.
“Omong-omong, apa sudah berbaikan dengan suamimu?” tanya Duk Mi
“Sejujurnya, aku merasa bersalah padamu... Karena aku merasa seperti membuatmu khawatir.” Ucap Sun Joo. Duk Mi pikir kalau Sun Joo   tidak perlu merasa bersalah.
“Aku akan buat dia menjalani sisa hidupnya seperti berjalan di atas kulit telur.” Ucap Sun Joo.
“Kau harus memaafkannya. Dia salah mencuri file-file itu tanpa beri tahu kita. Tapi, dia tidak berbohong soal apa pun Dan kita memegang tanggung jawab untuk membuatnya tampak seperti Shi An is My Life sedang menguntit orang normal.” Ucap Duk Mi
“Duk Mi.. Masalah pria dan wanita, ada yang tidak bisa diselesaikan dengan logika. Ini masalah emosi.” Tegas Sun Joo. Duk Mi bisa mengerti. 



Saat itu Eun Gi datang, Duk Mi terlihat gugup. Eun Gi terlihat santai memesan Es Americano lalu bertanya apakah Duk Mi akan berangkat kerja. Duk Mi menganguk,  Eun Gi tahu kalau hari ini akan turun hujan bertanya apakah Duk Mi sudah membawa payung
“Payung? Ada di kantor.” Kata Duk Mi sangat gugup. Sun Joo pun bisa melihat gaya bicara Duk Mi yang berbeda.
“Syukurlah.” Kata Eun  Gi santai, Duk Mi melihat jam tanganya berpikir harus pergi sekarang dan bergegas pamit.
“Eun Gi. Apa kau...” kata Sun Joo menebak, Eun Gi memberitahu kalau sudah mengakui perasaan. Sun Joo marah memukul Eun Gi yang Gila.
“Bagaimana lagi? Aku tidak bisa rahasiakan selamanya.” Kata Eun Gi, Sun Joo terlihat binggung. 

Kyung Ah melihat Duk Mi yang baru datang, Duk Mi meminta maaf karena sedikit terlambat lalu bertanya apakah Rapat sudah dimulai. Kyung Ah memberitahu kalau Semua orang belum datang. Duk Mi bertanya apakah Sindy belum datang juga.
“Aku disini.” Ucap Duk Mi yang sudah membawa beberapa gelas kopi. Duk Mi tersenyum melihatanya.
“Nona Sung kau harus menemui Direktur lebih dulu Dan kau, Hyo Jin, beri gelas itu dan ikuti aku.” Kata Kyung Ah. Sindy binggung tapi akhirnya mengikuti Kyung Ah. 

Ryan sibuk menatap layar komputernya, tanpa sadar kalau Duk Mi sudah masuk dan berdiri dibelakangnya. Ryan sedang melihat [PANDUAN SEMPURNA TENTANG CARA MAIN GO-STOP] Duk Mi menyindir kalau sekarang sedangjam kerja.
“Aku punya perasaan sudah ditipu kemarin Jadi, aku memeriksanya” ucap Ryan sedikit panik karena Duk Mi sudah ada disampingnya.
“Ditipu apa? Aku mengajarimu apayang perlu kau tahu sebagai pemula.” Komentar Duk Mi
“Tapi kau tidak mengajariku hal yang paling penting. Dan apa itu? Membuang dan memenangkan kartu Kau belum ada pada level itu. Aku akan memberimu pelajaran mendalam di waktu berikutnya. Sekarang, ayo kita rapat.” Kata Duk Mi
“Bagaimana bisa kau tidur nyenyak sesudah memukulku sebanyak itu?” keluh Ryan.
“Apa sangat sakit?” goda Duk Mi sambil mengelus dagu pacarnya, Ryan pun tersenyum bisa tersenyum. 



Sindy menjelaskan kalau  akan membuat ruang pameran kecil design yang dibuatnya dan memajang lukisan di dalamnya. Ia pikir juga bisa menambahkan sofa kecil atau barang-barang rumah tangga lainnya seperti TV.
“Galeri seniku sendiri yang disesuaikan.” Ucap Sindy, Kyung Ah pikir  Sangat lucu. Dan Yoo Sub melihat itu Lumayan.
“Apa kau sudah jelaskan ini kepada para seniman dan kolektor?” tanya Ryan.
“Kami mengirimi mereka proposal, dan sudah menerima tanggapan positif.” Jelas Kyung Ah
“Bicaralah dengan desainer dan buat kemasannya sedikit lebih sederhana. Dan lihat apa kau dapat menggunakan magnet untuk lukisan bukannya memasukkannya seperti itu. Harga satuan untuk minimum...” kata Ryan.
“Apa artinya kita benar-benar akan menjual ini di galeri kita?” tanya Sindy penasaran.
“Jangan berharap pada penjualannya. Produk seperti ini...”kata Ryan. Yoo Sub menyela kalau sepertinya akan terjual habis.
“Aku akan melakukan reservasi terlebih dahulu. Aku akan memastikan semua produk terjual habis. Jangan khawatir.” Ucap Yoo Sub
“Akan lebih baik untuk memutuskan ukuran produk dan furnitur miniatur sesudah kau mensurvei klien potensial.” Ucap Duk Mi . Yoo Sub mengangguk mengerti.
“Bagaimana dengan pameran khusus ini?” tanya Ryan. Duk Mi memberitahu barus selesai mengedit desain katalog dan akan mendapatkan draf pertama dari percetakan.
“Bagaimana dengan siaran pers?” tanya Ryan. Duk Mi mengatakan masih menulisnya.
“Dan iklan untuk majalah ini mengalami kemajuan dengan suntingan kedua.” Jelas Duk Mi
“Pameran yang merayakan tahun kelima Cheum Gallery sudah dekat. Aku tahu kalian semua sibuk, tapi tolong periksa semuanya sehingga tidak ada yang salah. Sekian.” Kata Ryan. 



“Hari penutupan mendatang akan jadi kesempatan terakhir untuk beristirahat. Apa yang kau lakukan hari itu?” tanya Yoo Sub
“Aku akan ke panti asuhan. Aku melakukan pekerjaan sukarela dengan mengajar seni kepada anak-anak.” Kata Kyung Ah
“Apa Kau bekerja sukarela di panti asuhan?” tanya Yoo Su penasaran, Saat itu Ryan memilih keluar seperti tak suka mendengar kata panti asuhan, Duk Mi pun melihat perubahan wajah Ryan.
“Ada apa dengan nada bicara yang aneh itu?” kata Kyung Ah, Yoo Sbu mengaku hanya saja benar-benar cocok untuk Kyung Ah.
“Aku juga suka beristirahatpada hari-hari liburku. Itu benar-benar membuatku merasa luar biasa sesudahnya.” Jelas Kyung Ah
“Apa kau pergi sendiri? Pasti sulit.” Kata Yoo Sub, Kyung Ah pun menawarkan diri kalau Yoo Sub ingin bergabung. Yoo Sub setuju, Kyung Ah malah tak percaya temanya ingin bergabung.
“Bagaimana denganmu, Nona Sung?” tanya Kyung Ah, Duk Mi setuju, Kyung Ah pikir mereka semua pergi bersama. Sindy tak pecaya akan pergi juga. Kyung Ah menganguk. 

Di rumah
Ibu Duk Mi minum teh bersama dengan Nyonya Nam, lalu membahas tentang Duk Mi kalau Direktur memang kencan dengan anaknya. Nyonya Nam kaget mendengarnya tapi berusaha tetap santai, Ibu Duk Mi pikir anaknya itu hanya pandai mengejar idola.
“tapi dia memiliki standar tinggi dalam hal pria. Dia tampan, kompeten, dan sangat sopan. Itu membuatku memandang Duk Mi berbeda... Ah.. Apa aku terlalu banyak pamer?”kata Ibu Duk Mi merasa bersalah.
“Jangan khawatir... Eun Gi akan bertemu wanita yang baik saat waktunya tepat. Kita berdua tahu dia pemuda yang baik.” Ucap Ibu Duk Mi melihat wajah Nyonya Nam seperti tak nyaman.
“Aku... Ayah mertua yang menyayangi menantu perempuan mereka. Saat Eun Gi bawa pulang wanita, aku akan...” ucap Tuan Sung tiba-tiba datang.
“Aku lebih suka kau tidak melakukan apa pun dan memoles batumu sebagai gantinya. Begitulah seharusnya ayah mertua jaman sekarang.” Kata Ibu Duk Mi.
Ayah Duk Mi tak bisa berkata-kata lagi, sementara Nyonya Nam seperti menahan rasa sedih karena anaknya pasti kecewa.  


Sun Joo melihat nama [MANTAN SUAMI] di ponselnya lalu memilih untuk tak mengangkatnya. Joo Hyuk terus berdiri didepan Sun Joo seperti tak ingin lepas dari pandanganya. Sun Joo memperingatkan Joo Hyuk Berhenti mengintai di sekitarnya dan pecahkan beberapa cangkir saja.
“Direktur, kenapa kita tidak tutup dan bersenang-senang?” kata Joo Hyuk
“Aku tidak percaya kau meminta pada bosmu untuk bolos.” Keluh Sun Joo. 

Akhirnya mereka pergi ke taman dan banyak orang yang menampilkan kemampuan diatas panggung. Joo Hyuk membawa gitar dan mic, Sun Joo binggung dan bertanya Apa yang ada dalam pikirannya sekarang karena Joo Hyuk menyarankan bernyanyi.
“Aku pikir kita akan pergi ke ruang karaoke.” Keluh Sun Joo malu. Joo Hyuk pikir kalau Mengamen jauh lebih menghibur.
“Bagaimana bisa aku bernyanyi di depan semua orang ini? Terserah. Aku tidak melakukan ini, aku pergi.” kata Sun Joo.
“Direktur... katamu kau penggemarku. Penyanyi yang kau sukai akan segera tampil. Apa kau benar-benar akan membiarkan dia bernyanyi tanpa penonton?” kata Joo Hyuk.
Soo Jun pun pasrah menemani Joo Hyuk  yang memberikan mic dan memainkan gitar. Sun Joo terlihat binggung, Joo Hyuk mengajak Sun Joo agar bernyanyi bersama. Sun Joo sempat malu tapi beberapa saat kemudian bisa tersenyum bahagia ketika bernyanyi
“Sun Joo-ku... selalu berseri saat dia bersenang-senang seperti itu.” Gumam Seung Min melihat dari kejauhan istrinya, teringat saat pertama kali melihat dihalte bus seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. 


Eun Gi sibuk berlatih di ruangan seperti melampiaskan amarahnya, llau teringat kembali saat mengirimkan pesan pada Duk Mi  tapi tak dibalas [DuK MI, SUDAH PULANG KERJA? KAPAN SAMPAI RUMAH?] Ia berpikir saat itu Duk Mi dan Ryan mulai berkencan.
“Eun Gi!...” teriak Nyonya Nam datang, Eun Gi kaget melihat ibunya datang di ruang latihanya.
“Apa kau tidak muak dan lelah berolahraga? Kau berkeringat seperti babi bahkan sampai jam segini.” Keluh Nyonya Nam
“Bagaimana seorang atlet muak dan lelah berlatih?” kata Eun Gi, Nyonya Nam akhirnya mengajak anaknya untuk jalan-jalan. Eun Gi pun setuju meminta agar menunggu karena akan mandi lebih dulu. 

Keduanya jalan ditaman, Nyonya Nam merangku lengan anaknya mengkau tidak tahu anaknya setinggi ini dan Lehernya akan pegal karena terus menatapnya. Eun Gi sengaja melebarkan kaki agar ibunya bisa menatap tanpa harus mengangkat kepalanya. Nyonya Nam terlihat senang
“Sulit, kan? Cinta yang tak berbalas... Eonni memberitahuku soal Deok Mi dan Direktur” kata Nyonya Nam lalu mengajak mereka duduk ditaman.
“Aku seharusnya memberi selamat padanya dan mensyukurinya. Tapi aku tidak bisa. Yang bisa kupikirkan hanyalah betapa hancurnya hati anakku nantinya.” Ucap Nyonya Nam, Eun Gi menatap ibunya.
“Ibu tidak ingin kau kesulitan.” Kata Nyonya Nam, Eun Gi bertanya apakah ibunya merasa sulit saat bersama Ayah.
“Tentu saja. Seolah-olah aku adalah satu-satunya dalam hubungan itu. Aku pasti sudah gila saat itu. Tetap saja, aku tidak menyesali semua itu karena melahirkanmu.” Kata Nyonya Nam
“Putramu cukup menarik, kan?” ucap Eun Gi bangga. Nyonya Nam membenarkan makanya  itulah sebabnya  tidak ingin kehilangan anaknya pada siapa pun.
“Anaku... bertemulah orang yang kau cintai yang mencintaimu juga. Itu saja yang Ibu ingin.” Kata Nyonya Nam
“Kenapa begitu sulit menyukai seseorang? Padahal itu hanya perasaan. Aku sudah berkompetisi dalam kompetisi yang tak terhitung sebelumnya, tapi tidak ada yang sesulit ini.” Ucap Eun Gi
“Aku mungkin bukan apa-apa, tapi kau masih punya Ibu. Jangan lupakan itu.” Ucap Nyonya Nam. Eun Gi mengerti dengan senyuman bahagia. 



Kyung Ah membuka bagasi mobillnya, Duk Mi hanya bisa melonggo melihat isi mobil. Kyung Ah menjelaskna ada Pensil warna, pastel kapur, krayon, spidol, cat, kertas, gunting... Duk Mi bertanya apakah Kyung Ah persiapkan semua ini sendiri
“Kau ikut membantuku, itu pun sudah cukup.” Kata Kyung Ah dan saat itu mobil Hyo Jin datang
“Apa Hyo Jin juga ikut?” tanya Duk Mi tak percaya, Kyung Ah menganguk.
Sindy datang membawakan kotak besar, Yoo Sub langsung membawakanya. Kyung Ah Ah bertanya apa yang dibawa itu. Sindy memberitahu kalau itu  CD White Ocean jadi akan membuat anak-anak jadi penggemar juga. Semua hanya bisa tersenyum.
Kyung Ah pikir Direktur akan ikut juga karena keduanya bersikap baik jadi akan datang. Sindy tiba-tiba bertanya apakah keduanya putus, keduanya langsung menatap sinis.  Sindy meminta maaf karena jadi kebiasan bertanya tentang hubungan keduanya.
“Dia cukup sibuk minggu ini, jadi  butuh hari libur.” Ucap Duk Mi tapi saat itu Ryan datang dengan mobilnya. Duk Mi kaget melihatnya. 


“Maaf aku terlambat karena Ada pekerjaan.” Ucap Ryan turun dari mobilnya, Duk Mi tersenyum bahagia melihat pacarnya yang datang.
“Nona Sung, Apa kau akan naik mobil dengan Direktur?” tanya Kyung Ah, Duk Mi menganguk. Ryan membuka pintu mobil agar Duk Mi naik lebih dulu.
“Kau seharusnya beri tahu aku kau akan datang.” Keluh Duk Mi, Ryan mengaku ingin lihat ekspresi terkejut di wajahnya.
“Untuk apa semua boneka binatang ini?” tanya Duk Mi melihat ada banyak boneka dikursi belakang. 
Flash Back
Ryan berdiri didepan lift teringat yang dikatakan Kyung Ah “Aku akan pergi ke panti asuhan. Aku melakukan pekerjaan sukarela dengan mengajar seni kepada anak-anak.” Lalu masuk ke dalam lift. Shi An melihat Ryan dan menyapanya dengan santai tapi Ryan tetap membalas dengan panggilan formal.
“Aku sudah bilang untuk memanggilku dengan santai... Aku tidak melihat Nona Sung hari ini.” Ucap Shi An.
“Dia pergi ke panti asuhan untuk jadi sukarelawan.”kata Ryan. Shi An pikir itu bagus dan meminta Ryan untuk menunggu lalu kembali ke rumahnya.

Ryan melonggo melihat ada banyak boneka yang dibawa Shi An keluar dari rumah. Shi An memberitahu kalau Ada boneka binatang dari penggemarnya yang belum disumbangkan jadi meminta agar membawanya.
“Astaga.... Bukankah Shi An seorang malaikat?” kata Duk Mi dengan senyuman bahagia mendengar cerita Shi An.
“Permisi... Aku yang membawa mereka ke sini.”keluh Ryan, Duk Mi pun memuji kalau pacarnya memang baik. 


Mereka pun sampai ke panti asuhan, banyak anak-anak yang berlari-lari dalam ruangan. Kyung Ah memanggil semua anak-anak memberitahu kalau akan melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan jadi meminta mereka untuk duduk. Semua menuruti perintah Kyung Ah.
Yoo Sub dkk seperti tak percaya kalau Kyung Ah bisa mengendalikan anak-anak.  Kyung Ah memperlihatkan sebuah lukisan terkenal dibuat oleh seniman yang sangat terkenal bernama Vincent van Gogh.
“Siapa yang bisa menebak judul lukisan ini?” ucap Kyung Ah,  Chang Min menjawab "Telor goreng"
“Benda bundar ini terlihat seperti telur goreng yang enak, bukan?Lalu Apa Ada yang lain?” tanya Kyung Ah.
"Angin". Kata salah satu anak, Anak yang lain berpikir itu "Laut" lalu anak yang lain menjawab "Api Jahat".
“Menurutmu apa lingkaran-lingkaran ini? Siapa yang mau menjawab? Warna apa ini?” kata Kyung Ah, semua menjawab Kuning.
Duk Mi dan Ryan duduk bangku belakang seperti tak percaya Kyung Ah bisa menjelaskan lukisan pada anak-anak agar tertarik. Bahkan ada ada yang bisa menjawab judul lukisan "Malam berbintang" setelah itu meminta teman-teman memberikan makanan. 

Ryan duduk di tepi lapangan melihat semua anak sedang bermain, lalu tiba-tiba terlintas dalam pikiranya saat masih kecil bermain dengan teman-temanya. Saat itu bola datang bergelinding ke arah Ryan, Yoo Sub memanggil Ryan agar bisa bergabung . Ryan seperti enggan.
Didalam ruangan
Duk Mi dan Sindy membagikan buku gambar dan alat gambar diatas meja, Sindy bertanya kenapa Duk Mi memberikan jenis pendidikan seni ini, menurutnya lebih baik hanya mendukung mereka secara finansial, dan ingin tahu Apa ada bedanya jika mereka belajar soal seni.
“Yang pasti, Mereka tidak bisa beli lukisan.” Ucap Sindy, Duk Mi hanya terdiam. Sindy pikir kalau itu pertanyaan yang menjengkelkan
“Hyo Jin, apa kau jatuh cinta dengan Cha Shi An pada pandangan pertama?” kata Duk Mi. Sindy membenarkan.
“Lalu, jika kau harus kembali lagi, saat kau tidak tahu Cha Shi An dan melupakan semuanya, bisakah kau melakukannya?” tanya Duk Mi. Sindy mengaku tak bisa
“Kenapa? Bahkan tanpa Cha Shi An, kau bisa makan dengan baik, pergi ke tempat-tempat yang bagus, dan lakukan hal-hal bahagia...” kata Duk Mi
“Bagaimana bisa melupakan Shi An-ku? Aku tidak pernah bisa melupakannya. Dia terjebak dalam hatiku seumur hidup. Apa kau tahu betapa bahagianya aku berkat Shi An-ku?” Kata Sindy
“Bukankah menurutmu bahwa seni mirip dengan itu? Tentu saja, dukungan finansial itu penting. Mereka bisa hidup bahagia bahkan tanpa seni. Namun, jika kita memberi mereka kesempatan untuk jadi akrab dengan seni seperti ini” ucap Duk Mi
“dan biarkan mereka menggambar dan mewarnai juga mengenali arti dari keindahan, hidup mereka akan jadi lebih berlimpah dan penuh kebahagiaan. Itu yang aku yakini. Karena aku hidup seperti itu pada saat ini.” Jelas Duk Mi lalu menatap Ryan dan terlihat Ryan sedang bermain bersama anak-anak mendorong sepeda terlihat bahagia. 



Duk Mi dkk bermain batu, gunting kertas, dan Duk Mi kalah lalu duduk dibangku depan. Kyung Ah memberitahu kalau ada guru cantik didepan jadi mereka akan menggambar wajah guru cantik ini dan menunjukkannya untuk dilihat semua orang.
“Kita akan melihat bagaimana masing-masing mengekspresikan orang yang sama dengan cara sendiri yang berbeda, dan berbagi pendapat dengan kami. Bisakah melakukan itu?” kata Kyung Ah, Semua mengerti dan mulai mengambar. 
Ryan memberikan semangat pada Duk Mi sebagai model, Yoo Sub memberikan buku gambar pada Ryan kalau ingin menggambar pacarmu juga, Duk Mi hanya menatap, lalu melihat  Ryan hanya menaruh begitu disampinganya.
“Ibu Guru, jangan bergerak.” Kata salah seorang anak, Duk Mi meminta maaf karena berbicara dengan Ryan. 

Semua anak mulai mengambar, Sindy sibuk mengambil gambar dengan kameranya. Ryan tiba-tiba didekati seorang anak, Ia memperlihatkan gambarnya yang menurutnya itu mirip dengan Duk Mi. Ryan tersenyum melihatnya dan berkomentar kalau itu memang mirip.
Ia memperlihatkan gambar si anak pada Duk Mi, Si anak berpikir kalau akan menggambar wajahnya juga. Ryan terlihat binggung, si anak meminta agar diberikan krayon. Ryan pun memberikanya lalu meminta agar membuat matanya lebih lebar.

Bersambung ke part 2

Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar