Senin, 17 April 2017

Sinopsis Strong Woman Do Bong Soon Episode 16 Part 1

PS : All images credit and content copyright : JBTC
Min Hyuk mengemudikan mobilnya, dengan senyuman bahagia mengaku kalau Akhirnya  bisa tidur dengan tenang sekarang. Lalu mengingat Setelah bersaksi di kantor polisi untuk Bong Soon, Bong Soon mengatakan  "Mengapa kau berbohong? Kau seorang laki-laki. Kau harus malu pada dirimu sendiri."
“Kau menatap tepat di mataku sambil berkata begitu. Sekarang, aku bisa berkata padamu. Kau tampak sangat...” ucap Min Hyuk terhenti karena baru sadar sedari tadi Bong Soon sudah tertidur duduk disampingnya.
Min Hyuk tersenyum melihat Bong Soon yang tertidur dan mengeluh sedari tadi ternyata hanya bicara sendirian. Ia melihat Bong Soon yang sangat lelah sampai mendengkur. 

[Episode 16 – Final ]
Sementara Gook Doo bertatapan langsung dengan Tuan Kim di ruang interogasi, lalu menanyakan alasan melakukanya. Tuan Kim yang memiliki jiwa yang terganggu pun menjawab kalau melakukanya karena  menyenangkan. Gook Doo kaget mendengarnya.
“Kalian semua harus memohon padaku yaitu Memohon padaku untuk menyelamatkan kalian semua dan Harusnya kalian mendengarkanku. Menahan lapar saat aku memerintahkan kalian untuk jangan makan. Merangkak saat aku memerintahkan kalian untuk merangkak.” Ucap Tuan Kim
Gook Doo tak bisa menahan amarah ingin memberikan pukulanya, Detektif Kim dan ketua Yook masuk ruangan menahan Gook Doo agar tenang. Ketua Yook menasehati kalau tidak boleh melakukan kekerasan terhadap pelaku. Tuan Kim tersenyum mendengarnya.
“Kau hanya boleh memukuli manusia. Jangan malah menghajar binatang.” Kata Ketua Yook dan tak bisa menahan amarah langsung menoyor kepala Tuan Kim sampai terjatuh dan menendangnya. Detektif Kim panik langsung berlari menahan Ketua Yook agar tak memukuli pelaku. 

Berita di layar besar, wartawan langsung mendekat saat Tuan Kim keluar dari kantor polisi ingin tahu alasan membunuh dan melakukan penculikan. Baek Tak diruanganya berteriak bahagia karena berhasil membantu dan menurutnya itu namanya noblesse oblige.
Nyonya Hwang dkk dalam toko kue kenari pun bahagia karena polisi  akhirnya menangkapnya. Bong Soon masuk kantor dengan wajah bahagia. Min Hyuk pun masuk dengan roda duanya dan gayanya saat membuka pintu seperti penyirih yang bisa membua pintu dengan gerakan tanganya


Bong Soon memperlihatkan gambar Captain Tak pada Sek Gong. Sek Gong yang  melihat merasa  begitu familiar tampak seperti salah satu karyawan mereka. Min Hyuk sudah dibelakang mendengarnya.Sek Gong tetap merasa kalau sering melihat wajah itu tapi tak bisa menebaknya.
Min Hyuk dan Bong Soon tersenyum saling menyapa, Sek Gong kaget Min Hyuk tiba-tiba sudah ada dibelakangnya. Min Hyuk pun mengajak rapat dan Sek Gong boleh bergabung dengan mereka. Sek Gong pun duduk disamping Min Hyuuk.
“Tim Perencanaan dan Pengembangan dikenal sebagai tim yang paling pemilih di perusahaan ini. Aku yakin mereka akan mengajukan beberapa pertanyaan yang rumit. Jangan merasa kewalahan dan Kau harus menjawabnya. Ini tidak akan mudah. Tapi, aku juga tidak bisa membantumu. Kau harus mengatasi ini sendiri.” Jelas Min Hyuk. Bong Soon mengangguk mengerti.
“Do Bong Soon. Saat kau mempertimbangkan tren Game jaman sekarang, menurutmu apa Game 2D side-scoller dapat memenangkan penjualan game?” tanya Min Hyuk seolah-oleh sebagai tim perencanan.
“Ya. Menurutku, kita adalah orang-orang yang harus menciptakan trend dan Juga, salah satu keuntungan dari game kasual seperti ini yaitu, siapa pun dapat dengan mudah mengaksesnya dan memainkannya.” Kata Bong Soon, Min Hyuk ingin Bong Soon langsung ke intinya.
“Maksudku, adalah dari anak-anak sampai orang dewasa, siapa pun bisa memainkannya. Anak kecil yang sering memainkan Game lama sekarang sudah tumbuh menjadi orang dewasa. Game kita bisa membawa kenangan masa kecil mereka kembali. Itu bisa menjadi salah satu nilai jual kita.” Jelas Bong Soon.
“Bagus. Dan kau harus bersiap untuk menjawab beberapa pertanyaan yang tak terduga. Dengan begitu, kau bisa menyiapkannya dan mengakhiri presentasimu dengan catatan positif.” Jelas Min Hyuk
“Lalu Apa yang terjadi dengan kedua karakter utama di Game itu pada level terakhir?” tanya Sek Gong

“Super Bong Soon menyelamatkan Pangeran Min Min Dan mereka hidup bahagia selamanya. Akhir yang bahagia...Selamanya.” kata Bong Soon, Min Hyuk yang mendengarnya langsung tersipu malu.
“Oh, jadi maksudmu, mereka menikah, punya anak, dan...” kata Sek Gong, Min Hyuk makin sumringah membayangkanya.
Bong Soon pikir mereka bisa melakukannya di Game bagian kedua. Sementara Sek Gong binggung melihat bosnya yang senang sekali. Min Hyuk pikir Game yang sangat menyenangkan dan berharap ini bisa terjual di pasaran secepat mungkin dan dengan begitu bisa cepat membuat yang bagian kedua.

Keduanya saling sumringah, Sek Gong pikir lebih baik meninggalkan mereka berdua saja.  Min Hyuk merasa lebih baik mereka yang pergi dan mengandeng tangan Bong Soon keluar ruangan. Tuan Oh melihat keduanay yang keluar dengan senyuman bahagia. mengajak Bong Soon agar keluar saja. 
Tuan Oh berteriak kalau memerlukan tanda tangan Min Hyuk, tapi Min Hyuk yang bahagia memilih untuk pergi saja. Tuan Oh akhirnya datang melihat wajah Sek Gong, berpikir kalau Do Bong Soon dan Presdir Ahn mengabaikannya lagi. Sek Gong mengak merasa sangat
kesepian hari ini.
“Cuaca semakin hangat, tapi hatiku semakin dingin. Ada seekor gagak yang sedang menangis di hatiku.” Ungkap Sek Gong, Tuan Oh terlihat prihatin mendengarnya.
“Kau seperti seorang penyair. "Seekor gagak di dalam hati." Seekor gagak menetas di hatiku.” Ungkap Tuan Oh mengoda. 


Keduanya pergi ke sisi lainya, Min Hyuk bertanya apakah ayah Bong Soon  tidak pulang tadi malam. Bong Soon mengangguk, Min Hyuk yang mendengarnya terlihat sedikit kesal lalu bertanya apakah sudah menelpnya. Bong Soon mengangguk dan ayahnya berkata kalau  butuh waktu sendirian.
“Dia seperti anak SMA yang kabur dari rumah.” Ungkap Min Hyuk, Bong Soon memberitahu ayahnya yang mengatakan  butuh waktu untuk berpikir.
“Apa Ibumu tidak menelponnya? Kalau Ibumu menelponnya dia akan...” kata Min Hyuk dan Bong Soon menyela kalau ayahnya pastitidak menjawab panggilannya. Min Hyuk pun sudah bisa menduganya
“Oke. Aku akan mengurusnya.” Kata Min Hyuk, Bong Soon ingin tahu caranya.
“Aku bisa menelponnya dan berkata "Ayah." Lalu... aku berkata "Aku di sini, Ayah." Kata Min Hyuk.
Bong Soon tersenyum langsung mengelus rambut Min Hyuk dan mengaku  sangat bangga padanya. Min Hyuk langsung sumringah karena Bong Soon yang  membuat jantungnya berdebar lagi lalu memegang pipinya. Bong Soon mengingatkan kalau mereka sedang bekerja. Min Hyuk pikir Tidak ada yang mengawasi
“Ini ada kaca.” Kata Bong Soon menunjuk ke arah luar jendela
“Memangnya aku kenapa? Aku hanya memeluk wajahmu.” Goda Min Hyuk dan ingin mendekatkan bibirnya. Bong Soon meminta agar menghentikanya. Min Hyuk makin mengoda menghentikan apa maksudnya.
“Aku malu. Bagaimana jika ada orang yang lihat?” ucap Bong Soon saat Min Hyuk memeluknya.
“Tidak ada orang dan Tidak akan ada yang datang kesini hari ini.” Kata Min Hyuk. Bong Soon pun akhirnya memeluk Min Hyuk dengan erat. 


Nyonya Hwang yang sibuk memotong pie merasa tak perlu melakukan sesuatu karena suaminya itu  bisa pergi kapan saja, jika menginginkanya tapi  tidak boleh pulang ke rumah semaunya, jadi kenapa harus minta maaf karena tak membuat kesalahan.
“Aku tidak akan mengatakan ini, karena rasanya, aku seperti ikut campur masalah keluargamu. Tapi, Ibu nya Bong Ki. Waktu tu... Kau memukulnya sampai memar, Di seluruh wajahnya. Kau tidak boleh sampai segitunya. Menurutmu, apa tidak masalah jika wanita menghajar pria?”kata Ibu Myung Soo. Nyonya Hwang tak mengerti maksudnya.
“Siapa yang memukuli siapa?” tanya Nyonya Hwang binggung
“Mata Ayah nya Bong Ki memar dan bibirnya bengkak. Dan juga Rambutnya berantakan” cerita Ibu Myung Soo.
“Hei.. Kalian menganggapku apa? Aku tidak memukulnya itu bukan aku. Kami berdebat, dan aku mendorongnya. Dia jatuh lalu menghantam sudut mesin jahit. Sejak aku berumur 19 tahun,  aku tidak pernah memukuli pria.” Kata Nyonya Hwang kesal karena teman-temanya menganggap seperti itu.
“Aku sering mengomelinya setiap kali kami berdebat. Menyerangnya dengan perkataan. Aku lebih suka seperti itu. Kalian   kenapa sebenarnya?” kata Nyonya Hwang, dua temanya hanya bisa tertunduk diam. 


Min Hyuk datang menemui Ayah Bong Soon yang sedang kamping di pinggir danau dengan memasukan banyak tanaman. Ayah Bong Soon pikir it mugwort. Min Hyuk memberitahu kalau itu putik daisy.
“Jika bukan kau yang telpon, aku tidak akan mengangkat telepon nya. Aku sudah secara resmi memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan semua orang.” Kata Tuan Do memalingkan wajahnya.
“Bukannya tidak nyaman tidur di sini?” komentar Min Hyuk. Tuan Do bertanya apakah Do Bong Soon yang bilang, kalau kabur dari rumah. Min Hyuk membenarkan. Tuan Do mengeluh kalau itu Memalukan sekali.
“Kenapa bicara begitu? Aku tinggal sendirian tapi terkadang aku kabur dari rumah.” Kata Min Hyuk berusaha melucu tapi Tuan Do malah menatap sinis. Min Hyuk pun hanya bisa tertunduk meminta maaf. Keduanya akhirnya Min Min Soju bersama.
“Ayah.. Kau tidak bisa pulang sekarang?” ucap Min Hyuk sedikit merengek. Tuan Do langsung menolak.
“Jika tidak mendesak... Kurasa, kau harus cepat pulang... Aku... Aku ingin menikahi Bong Soon.”kata Min Hyuk, Tuan Do sampai tersedak mendengarnya.
“Aku butuh restu darimu.” Kata Min Hyuk. Tuan Do pun  bertanya paakah Min Hyuk yakin. Min Hyuk mengaku kalau ia sangat yakin
“Aku ingin menikahinya secepat mungkin. Bahkan Aku akan menikahinya besok jika semua orang setuju. Tapi jika kau pergi-pergian seperti ini... Aku harus menunda pernikahanku, dan aku... Jadi Tolong bantu aku, Ayah. Menjalani satu hari tanpa Bong Soon terasa seperti selamanya. Terutama di malam hari...” kata Min Hyuk dan Tuan Do langsung mengumpat mendengarnya.

“Hei, aku Ayahnya Bong Soon.... Jaga ucapanmu... Kau bilang "Terutama di malam hari?"” kata ayah Bong Soon. Min Hyuk buru-buru meminta maaf.
“Seperti yang kau lihat, aku sudah tidak waras lagi. Aku sangat mencintai Bong Soon. Tolong selamatkan aku, Ayah.” Kata Min Hyuk merengek.
Tuan Do kembali bertanya apakah Bong Soon itu membuatnya gila. Min Hyuk mengangguk dan bahkan  bisa menyelam langsung ke air jika  menyuruhnya. Tuan Do pun langsung menyuruhnya, Min Hyuk sempat panik tapi setelah itu memberanikan diri untuk menyelam, Tuan Do menahanya kalau ia bisa yakin dengan Min Hyuk.
“Kau tidak akan membuat putriku menangis, kan?” kata Tuan Do kembali bertanya.
“Kenapa juga aku membuatnya menangis? Tidak ada untungnya buatku. Aku akan kena hajar, jika aku melakukan sesuatu yang salah.” Kata Min Hyuk kembali salah bicara.
“Dia hanya kuat di luar. Sebenarnya, dia rapuh di dalam. Dia itu seperti kaca. Dia bisa terluka dengan mudah.” Cerita Tuan Do, Min Hyuk mengangguk mengerti.
“Kenapa kau suka sekali dengan Bong Soon?” tanya Tuan Do

“Bong Soon... Dia seperti diriku. Seperti ini... Rasanya, hidupku sangatlah berarti saat dia ada di sini. Dan rasanya, aku menghilang saat dia tidak ada di sini. Itu artinya Aku sangat menyukai Bong Soon, kan?” kata Min Hyuk, Tuan Do pun bisa melihat Min Hyuk yang suka sekali padanya.
“Terima kasih telah membesarkan Bong Soon menjadi seorang wanita yang menggemaskan dan cantik. Sekarang aku akan membuatnya bahagia.” Kata Min Hyuk meminta izin. Tuan Do pun mempersilahkanya dan mereka pun minum bersama. 

Hee Ji bertemu dengan Bong Ki memberitahu akan pergi ke Vienna bulan depan dan mungkin bisa bergabung dengan orkestra mereka. Bong Ki mengatakan kalau sudah tahu itu. Hee Ji kaget bertanya darimana mengetahuinya.  Bong Ki mengaku kalau Gook Doo yang bilang padanya.
“Saat itu, aku tidak tahu. Tapi ada satu hal yang benar-benar bisa aku yakini sekarang. Mengenai Beberapa orang,suatu Hubungan. Atau takdir? Kurasa, memang ada orang yang ditakdirkan untuk bersama. Gook Doo, aku dan Hee Ji... Kita semua suka dan tertarik pada seseorang Lalu, kita bisa lupa dan menjalani kehidupan semula Dan kita bertemu orang yang lain lagi. Jika kita benar-benar beruntung kita bisa bertemu dengan orang yang telah ditakdirkan untuk bersama dengan kita.” Kata Bong Ki
“Kalau begitu, sepertinya kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Apa ada perbedaan saat kau bertemu dengan orang itu?” tanya Hee Ji
“Itu saja yang aku dengar.”ungkap Bong Ki. Hee Ji bertanya siapa yang mengatakanya. Bong Ki menjawab kalau itu kakaknya.
“Katanya, rasanya kau bisa merasakan kebahagiaan hidup selama orang itu ada di dunia ini bersamamu.” Ungkap Bong Ki. Hee Ji hanya diam saja. 

Bong Soon berjalan dengan Kyung Shim membahas tentang sesuatu berbeda saat bertemu dengan "takdirnya?" yaitu mereka bisa melihat dirinya sendiri dimata orang itu. Kyung Shim merasa heran mendengarnya.
“ Aku ada di matanya dan diriku di sorot matanya terlihat sangat bahagia. Dan kau bisa melihat "Kebahagiaanmu" dengan matamu sendiri. Itu yang terjadi saat kau bertemu dengan takdirmu.” Cerita Bong Soon.
“Wah... Sedikit sulit di pahami... Tapi... Aku iri padamu.” Komentar Kyung Shim
“Hei, omong-omong... Bukankah menurutmu lingkungan kita sangat bersih dan bagus?” kata Kyung Shim, Bong Soon pikir Ini menakjubkan dengan berpura-pura tak tahu dan mengajaknya pulang.


 Bong Soon membuka pintu dibuat kaget, Min Hyuk datang membawa ayahnya yang mabuk. Bong Soon pun membuka sepatu untuk ayahnya. Tuan Do yang mabuk mengataka kalau Min Hyuk tidak perlu melakukan apa-apa dan Bong Soon akan melakukan semuanya untuknya.
Nyonya Hwang yang melihat suaminya pulang langsung melirik sinis. Tuan Do pun menyapa istrinya dengan menanyakan kabarnya lalu mengatakan akan melakukan segalanya untuk istrinya. Mereka pun membaringkan Tuan Do di sofa. Tuan Do yang mabuk terus mengoceh.
Min Hyuk ingin pamit pergi, tapi Nyonya Hwang melarangnya menyuruh mereka menunggu diatas dan minum seccangkir teh.  Min Hyuk menolaknya tapi Nyonya Hwang sudah mendorong keduanya agar menunggu di lantai atas.
Tuan Do yang mabuk pun mengajak istrinya agar minum secangkir teh juga? Nyonya Hwang melihat keadaan suaminya dan sedih melihat kuku Tuan Do  yang kotor sekali. 

Bong Soo membuka kamarnya yang kosong. Min Hyuk terlihat gugup dan melihat Kyung Shim yang tak dikamar dan menanyakan keberadaanya. Bong Soon memberitahu kalau Kyung Shim, ke rumah bibinya di Bongsun-dong dan akan menginap malam ini. Akhirnya Min Hyuk pun masuk kamar dengan wajah gugup mengaku  merasa sangat aneh. Bong Soon binggung
“Itu Tempat tidurmu. Jadi kau tidur di sini, kan? Dan Ini tempat saat kau mengatakan "Selamat malam Min Min." Kan?” kata Min Hyuk malu-malu.
“Semuanya sudah beres, kan? Aku membawa Ayahmu pulang.” Kata Min Hyuk bangga. Bong Soon pun memberikan pujian dengan mengelus kepala Bong Soon.
“Ibumu tidak akan membawakan makanan penutup sekarang, kan?” kata Min Hyuk mengoda menarik tangan Bong Soon agar mendekat. 

Tiba-tiba Nyonya Hwang masuk membawakan sepiring buah yang besar dan mengucapkan Terima kasih untuk segalanya hari ini. Min Hyuk langsung duduk tegap merendahkan dirinya,  Nyonya Hwang bisa mengetahui keduanya sedang berdua dan buru-buru keluar dari kamar.
“Oh Yah.. Omong-omong.... Kau boleh menginap malam ini.” Kata Nyonya Hwang dari depan pintu. Min Hyuk kaget, Bong Soon mengeluh ibunya yang selalu murah didepan Min Hyuk. 

Bong Soon mengambil buah dan ingin menawarinya. Min Hyuk melihat ibu Bong Soon yang sudah tak ada lagi dan bisa menganggap tak akan kembali lagi. Bong Soon pun bertanya lalu kenapa. Min Hyuk sudah memegang wajah Bong Soon seperti ingin menciumnya.
Bong Ki tiba-tiba membuka pintu memanggil kakaknya, keduanya pun kaget. Min Hyuk buru-buru menurunkan tanganya. Bong Ki merasa tak enak hati karena melihat Min Hyuk ada di kamar kakaknya juga. Min Hyuk merasa harus pamit sekarang karena sudah mengantar Ayah pulang dan hanya mampir untuk melihat kamarnya.
Bong Ki pikir lebih baik mereka lanjutkan saja, Min Hyuk menolak terlihat malu dan buru-buru keluar dari kamar. Bong Soon pun langsung mengikutinya. 

Keduanya jalan bersama menaiki tangga, Min Hyuk merengek kalau tidak ingin pulang sendirian. Bong Soon melihat sekeliling lalu memberikan ciuman di pipi dan menyuruh agar Min Hyuk harus cepat pulang. Min Hyuk tersipu malu dan tak tahan akhirnya memberikan ciuman pada Bong Soon. 
“Aku akan berada di mimpimu malam ini. Kau harus pergi sebelum aku tidur. Supaya aku bisa hadir dalam mimpimu.” Kata Bong Soon mengoda.
“Kau tahu itu tidak masuk akal sama sekali, kan?” kata Min Hyuk. Bong Soo tahu dan menurutnya itu sangat memalukan.
“Bong Soon... Aku akan melihatmu di mimpiku.” Kata Min Hyuk, Bong Soon pun mengau selalu melihat Min Min dalam mimpinya.
Min Hyuk pun memeluk Bong Soon, keduanya pun kembali saling menyuruh siapa yang lebih dulu pergi. Min Hyuk kembali memeluk Bong Soon sambil menyuruhnya pergi, Bong Soon melepaskan pelukan menyuruh Min Hyuk pergi tapi tak bisa melepaskanya seperti tak ingin berpisah. 

Baek Tak terlihat sangat marah dan merasa memalukan. Agari meminta Baek tak untuk duduk karena Tekanan darahnya akan naik nanti. Baek Tak masih tak pecaya kalau Biksu Nijamuttin orang Korea. Agari memberitahu kalau mengetahui yang dengarnya kalau nama  aslinya Jo Dal Bong. Baek Tak bernar-benar tak percaya sudah ditipu.
“Ia bisa meraup 500 juta won, karena telah menipu orang-orang baik seperti kita.” Ucap Hyun Dok, Baek Tak makin marah karena Biksu itu  menyembuhkannya.
“Tubuhku jadi bugar. Aku merasa lebih baik. Bekas luka di perutku hilang.” Kata Baek Tak heran, Agari pikir memang sudah seharusnya.
“Mungkin agama dan pengobatan di rumah sangat mempan untuk Anda. Wine kotoran nya juga mempan.” Ucap Agari
Baek Tak melirik sinis mendengar nama kotoran, Agari memberitahu kalau Tuan Jo sekarang jadi buronan. Di kantor polisi tertempel foto Buronan Tuan Jo yang sedang dicari oleh mereka. 

Sidang dilakukan oleh pengadilan Seoul, Tuan Kim dibawa masuk oleh polisi masuk ke dalam sel tahanan.
“Terdakwa membunuh korban pertama, Jung Hyang Sook tanpa alasan secara kejam. Hidup adalah hal yang paling berharga yang tidak boleh direnggut oleh siapapun. Terdakwa tidak dapat diampuni. Selanjutnya, terdakwa menculik dan mengurung empat wanita lainnya tanpa alasan yang jelas.”
Salah satu korban yang merasa sangat trauma akhirnya terganggu jiwanya dengan menjerit ketakutan, setelah disekap oleh Tuan Kim. Begitu juga Tuan Kim menjerit dalam sel tahanan.
“Terdakwa menyiksa korban dan membuat mereka trauma. ia juga membuat para tetangga di lingkungan sangat ketakutan. Meskipun demikian, terdakwa masih belum mengakui kesalahannya. Mengingat kepribadiannya, metode dan alasan perbuatan jahatnya, ada kemungkinan kuat bahwa ia bisa melakukan kejahatan lain. Berdasarkan penalaran, metode dan hasil dari kasus ini Hakim telah memutuskan untuk memberikan dia hukuman mati.”
Bong Soon melipat jaket pink dengan bangga kalau sudah menangkapnya dengan tangannya sendiri dan membuka lemari penyimpanan buku-buku dari neneknya. 


Di lingkungan rumah Bong Soon pun dipasang spanduk besar. Min Hyuk menerima penghargaan dan bunga dari polisi dan wartawan sibuk mengambil gambarnya. Ketua Lee mulai berpidato didepan wartawan setelah mengambil foto dalam beberapa gaya.
“Dengan mengumumkan, bagaimana cara polisi dan warga bekerja sama untuk menangkap pelakunya, kita bisa lebih membujuk orang-orang untuk lebih bersikap kooperatif. Kami akan melakukan yang terbaik untuk melindungi keselamatan lingkungan kita.” Kata ketua Lee. Min Hyuk pun memilih kabur dari wartawan.

Bong Soon memberikan acungan jempol pada Min Hyuk sebagai Penghargaan Warga yang Pemberani. Min Hyuk mengelh hanya dapat penghargaan dari Polisi dan itu karena mereka harus merahasiakan kekuatan Bong Soon jadi menutupi itunya dan bahkan tidak bisa mengungkapkan betapa malunya sekarang. Bong Soon pun mengerek kalau tak bisa berbuat apapun.
“Sepertinya, kau akan dapat penghargaan lagi nanti, karena menggantikan diriku. Aku mohon.” Kata Bong Soon. Min Hyuk terlihat kesal dan mengajak pergi dari kantor polisi karena sudah tak tahan.
“Kerja bagus. Kau jadi seorang warga yang berani. Tolong lanjutkan untuk bersikap kooperatif dengan polisi.” Ucap Gook Doo menepuk pundak Min Hyuk seperti ingin mengodanya.
“Aku dipindahkan ke Kantor Polisi Gangnam. Kurasa, aku tidak bisa bertemu denganmu lagi.” Kata Gook Doo lalu pamit pergi.
Min Hyuk kesal karena Gook Doo malah di pindah ke Gangnam bukan Ulleungdo. Bong Soon tersenyum mengajak Min Hyuk agar si  warga pemberani pergi saja. Min Hyuk pun pergi dengan menyerahkan bunga pada Bong Soon agar membawanya karena malu. 



Bong Soon tegang masuk ruang presentasi, Sek Gong, Min Hyuk dan Tuan Do duduk disamping panggung. Bong Soo menerima senyuman dari Min Hyuk menerima semangat, lalu memperkenalkan diri sebagai calon anggota Tim Perencanaan dan Pengembangan. Semua yang duduk dibangku penonton saling berisik kalau tak ada tim calon.
“Game yang ingin saya perkenalkan hari ini pada hadirin sekalian adalah The Super Girl Bong Soon. Ini adalah kisah Strong Girl Bong Soon yang menanggung segala kesulitan dengan sabar untuk menyelamatkan Pangeran dari Walnut Nation, Pangeran Min Min. Untuk menyelamatkan Pangeran Min Min, dia harus melawan tentara pemecah kacang dan bos mereka, Kapten Tak.” Cerita Bong Soon. Min Hyuk menatap Bong Soon sambil menerawang.
Saat itu Min Hyuk bertanya Siapa yang akan Bong Soonni selamatkan. Bong Soon mengatakan kalau itu adalah Pangeran yang tinggal sendirian di istana Pangeran yang sangat kesepian.
Ia mengingat saat Bong Soon yang mengendongnya karena terkena peluru dan pura-pura pingsan, lalu menyelamatkan dari penjahat yang menyusup kerumahnya. Min Hyuk pun sengaja menaruh lukisan wanita yang mengunakan jaket merah yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Min Hyuk pun tahu Bong Soon adalah si jaket merah yang selama ini di carinya dan mengajak ke makam ibunya. Keduanya berada di pinggir sungai, Min Hyuk berkata kalau Bong Soon seperti King Kong yang sangat istimewa dan berukuran kacang.
Mereka berdua pun berlatih agar Bong Soon bisa mengontrol kekuatanya, Min Hyuk pun berjanji akan melindunginya. Di pingir danau, Min Hyuk berkata “Ada cara sederhana supaya teman bisa menjadi sepasang kekasih. Salah satu dari mereka, harus maju satu langkah.” Dan Min Hyuk erani melangkah lebih dekat. Bong Soon pun datang ke tempat Min Hyuk mengaku kalau ingin melihatnya. 


Nyonya Hwang membantu suaminya membuat kue, Tuan Do mengeluh istrinya yang sudah memecahkannya semua jadi tak mungkin bisa laku dijual. Nyonya Hwang menceritakan kalau sudah memeriksa kecocokan Bong Soon dan menantu Ahn dan hasilnya mereka sangat sempurna dan tak perlu memeriksa kecocokan mereka jika mereka seumuran.
“Apa Kau pikir pasangan yang umurnya sama punya kecocokan yang bagus? Kita juga seumuran.” Goda Tuan Do, Nyonya Hwang terlihat malu-malu seperti pasangan yang baru menikah. Ibu Gook Doo masuk ke toko
“Lingkungan ini tidak akan pernah membosankan dan Sangat bagus. Apa Kau tahu kenapa aku tidak bisa meninggalkan lingkungan ini? Aku tidak bisa menulis lagi jika aku tinggal di lingkungan yang berbeda.” Kata Nyonya Jang
“Apa Bukan karena kau tidak ahli menulis?” sindir Nyonya Hwang, Tuan Do memperingatkan istrinya agar menjaga ucapanya.
“Secara geografis, ini adalah lokasi yang bagus. Banyak orang yang bilang kalau orang terkenal akan lahir di sini. “ ucap Tuan Do
“Omong-omong, Gook Doo akan dipindahkan ke Kantor Polisi Gangnam.” Kata Nyonya Jang bangga. Tuan Do pun memberikan selamat. Nyonya Hwang tetap saja terlihat sinis. 

Bong Soon dan Gook Doo duduk dibawah pohon, Gook Doo mulai mengingatkan Saat tamasya sekolah kelulusan SMP Bong Soon menari hip-hop dengan Young Hoon dari perwakilan kelas lima. Bong Soon tak percaya Gook Goo masih mengingatnya meminta melupkan karena Itu masa lalu kelam yang ingin dilupakan.
“Bagaimana aku bisa lupa? Itu sangat lucu. Kau memang istimewa bahkan sejak saat itu. Jika ingin menari hip-hop, kenapa kau harus menempelkan bunga di kepalamu...” kata Gook Doo mengejek, Bong Soon meminta Gook Doo tak membahasnya lagi.
“Apa Kau ingat ? Saat SMA, saat pelajaran olahraga... Aku bilang suka gadis yang seperti bunga kosmos.” Ucap Gook Doo, Bong Soon mengaku tak akan pernah lupa dengan hal itu.
“Karena itu, aku mencoba untuk menjadi seperti "kosmos." Itu sebabnya aku terus merahasiakan kekuatanku.” Akui Bong Soon
“Dasar Kau bodoh. Apa Kau tidak tahu bagaimana cara orang melihatmu? Bunga kosmos yang aku bicarakan waktu itu... Itu kau.. Yaitu Kecil dan lemah... Begitulah dirimu di mataku.” Kata Gook Doo mengakuinya. Bong Soon terdiam ternyata Gook Doo menyimpan perasaan juga padanya.

“Aku mengatakan itu, supaya kau bisa mendengarnya.” Ucap Gook Doo, Bong Soon pun merasa tak menyadarinya seperti ada perasaan menyesal karena berpikir Gook Doo tak menyukainya
“Bong Soon... Tidak peduli bagaimana penampilanmu... Aku akan terus menyukaimu. Aku... Aku sangat senang kalau gadis aneh, perhatian dan berhati hangat bernama Do Bong Soon menjadi temanku. Kita... akan berteman selamanya.” Kata Gook Doo
Bong Soon sempat terdiam tak percaya karena Gook Doo akan menganggap mereka teman, lalu saat akan pergi berpesan pad Bong Soon agar  Berbahagialah. Bong Soon juga berharap Gook Doo harus berbahagia juga.

Bong Soon masuk ke dalam kamar mengingat pengakuan Gook Doo “ Bunga kosmos yang aku bicarakan waktu itu... Itu kau. Aku suka gadis yang seperti bunga kosmos. Agar aku ingin untuk melindunginya. Aku merasa aman karena kau menjadi temanku. Kita akan berteman selamanya, kan?”
Lalu melihat foto yang ada di wallpapernya, foto bersama dengan Gook Doo dari saat masih SMA dan menganti nama di ponselnya.
Saat itu Gook Doo masuk ke dalam mobil dan terlihat menangis karena harus merelakan Bong Soon dan melihat kotak perhiasan yang seharusnya diberikan pada Bong Soon tapi telat mengakui perasaanya. Ia pun mencoba untuk tegang dengan takdirnya yang tak bisa memiliki Bong Soon. 

Gook Doo dan Bong Ki main basket bersama seperti saling bersaing, Bong Ki lebih dulu meminta maaf  tentang Hee Ji dan merasa tidak nyaman. Gook Doo bertanya apakah Bong Ki mengantarnya. Bong Ki mengangguk.
“Kenapa kau berhenti? Apa karena aku?” ucap Gook Doo, Bong Ki pun menjawab dengan memasukan bola ke dalam keranjang.
“Kau tahu itu, kan? Bong Soon dan aku.”ucap Gook Doo. Bong Ki mengetahuinya. Gook Doo mengeluh dengan Bong Ki yang tak memberitahukanya.
“Kau tahu itu juga dan sudah jelas terlihat kalau dia suka padamu. Apa Kau sungguh tidak sadar?” kata Bong Ki
“Aku tidak sadar. Karena aku juga suka pada Bong Soon. Jadi aku tidak tahu itu. Aku terhalangi oleh hatiku dan tidak bisa melihatnya.” Ungkap Gook Doo
“Jika aku mengatakan padamu waktu itu, Apa menurutmu hubungan kalian berdua akan berbeda?” kata Bong Ki, Gook Doo terdiam lalu Bong Ki pun mengajak mereka untuk  main satu ronde lagi.


Suasana di ruangan terlihat tegang, Min Hyuk bertanya apakah Ketua Tim Oh sudah mengkonfirmasinya. Sek Gong mengatakan masih belum tapi  akan segera membuat keputusan. Sementara Bong Soon yang pasrah merasa Ketua Oh akan menolaknya karena setelah melakuan sesuatu.
“Ketua Tim Oh tidak akan melakukannya. Dia tidak akan menggabungkan pekerjaan dengan masalah pribadi.” Kata Min Hyuk yakin, Saat itu Tuan Oh masuk dan semua pun langsung berdiri
“Do Bong Soon akan bergabung dengan Tim Perencanaan dan Pengembangan. Semua anggota tim setuju untuk memasukkan dia dalam tim.” Kata Tuan Oh, Bong Soon tersenyum lebar begitu juga Sek Gong dan Min Hyuk.
“ Mulai sekarang, aku akan bertanggung jawab untuk mengembangkan game Super Bong Soon. Ada beberapa hal untuk di perbaiki, tapi menurutku itu adalah Game yang bagus. Karakternya berbeda dari karakter wanita yang lainnya. Itu sangat menguntungkan bagi kita.” Jelas Tuan Oh  yang akan menggabungkan semuanya dan membuat beberapa perubahan, lalu memuji gelang sumpit dan sendok yang dibuat Bong Soon dan keluar dari ruangan. 
Semua pun tepuk tangan dengan wajah bahagia, Sek Gong yakin game ini akan berhasil 100 persen dan Min Hyuk pun tahu kalau  bahkan tingkat keberhasilan yang tinggi. Sek Gong tahu kalau Tuan Oh itu  ahli dalam bidang ini dan orang yang kompeten.
“Selamat, Do Bong Soon. Game yang sebenarnya dimulai sekarang.” Kata Min Hyuk. Bong Soon pun mengucapkan terimaksih sambil menari-nari dengan kepalan tanganya bersama Sek Gong. Min Hyuk tak bisa menahan senyuman melihat tingkah Bong Soon yang imut.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted
                                                                                                                                                                

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar