Kamis, 13 April 2017

Sinopsis Radiant Office Episode 7 Part 1

PS : All images credit and content copyright : MBC

Woo Jin bertanya apakah Ho Won itu bunuh diri karena dirinya, Ho Won seperti sudah tak kuat dan langsung jatuh pingsan. Woo Jin panik mencoba menyadarkan Ho Won tapi tiba-tiba Hyo Ri datang langsung mendorong Woo Jin  menjauh dari temanya
“Apa Kau cari mati? Beraninya kau macam-macam dengan wanita mabuk? Pergi kau!!” teriak Hyo Ri berpikir Ho Won tak sadarkan diri karena mabuk. Woo Jin bertanya siapa wanita yang berani mendorongnya.
“Aku temannya. Terus, kau siapa?” ucap Hyo Ri sinis
“Temanmu pingsan. Ayo kita bawa dia ke rumah sakit.” Kata Woo Jin khawatir, Hyo Rin merasa kalau Woo Jin itu bercand
“Apa Kau pikir kau bisa kabur seperti ini? Aku ini cukup kuat menghajarmu karena punya 5 kerjaan sambilan sehari!” kata Hyo Ri bangga
Woo Jin mengajak mereka agar bisa mengurus Ho Won lebih dulu karena jatuh pingsan. Hyo Rin menyuruh Woo Jin pergi saja dan tak ingin dibantu saat ingin membawa Ho Won masuk rumah. 

Hyo Rin pun membawa Ho Won masuk kamar mengeluh temanya yang mabuk bahkan pingsan di jalanan, lalu berusaha untuk membangunkanya, lalu tersadar kalau tak ada bau alkohol. Ho Won tetap diam seperti tak sadarkan diri.
Woo Jin pulang kerumah melihat ada sedikit luka di tanganya mengeluh Hyo Rin si wanita galak. Saat akan masuk seseorang menyapanya, Woo Jin binggung bertanya siapa. Terlihat ibu Ho Won yang datang mengunjungi rumah Woo Jin. 

Ho Won akhirnya tersadar, Adiknya dan Hyo Rin melihat memastikan kalau Ho Won bisa mendengar suaranya. Ho Won pun bangun berpikir kalau dirinya sudah mati dan hanya mimpi.Hyo Rin mengeluh dengan temanya yang tiba-tiba pingsan membuatnya panik
“Noona, Apa kau pingsan di jalan?” ucap Ho Jae,  Ho Wo terlihat senang melihat adiknya yang datang.
“Kenapa kau kesini tiba-tiba? Katanya kau tak mau datang kesini.” Ucap Ho Won

“Kau tahu sendiri Ibu bagaimana. Dia bilang kami bisa melihat bagaimana hidupmu sebenarnya dan ingin mengejutkanmu. Ibu menyuruhku tutup mulut. Kami buru-buru kesini karena Ibu mimpi buruk.” Cerita Ho Jae, Ho Won pun bertanya mimpi apa ibunya.
“Sungguh menakjubkan dia bermimpi seperti itu. Lalu Kenapa kau pingsan? Katanya Hyo Ri Noona, dia yang menggendongmu kesini.” Ucap Ho Jae.
“Tidak apa-apa. Aku hanya...pusing saja.” Kata Ho Won lalu teringat sebelumnya bertemu dengan Woo Jin dan bertanya tentang atasanya itu.
“Kenapa kau menanyakan bos-mu? Kau itu barusan nyaris dilecehkan pelh orang aneh di depan rumah Kukira kau itu pingsan karena mabuk..., jadi aku menghajarnya. Tapi ternyata kau tidak minum.” Cerita Hyo Rin. Ho Won panik bertanya siapa yang dihajar temanya. 


Ibu Ho Won memotong abalone sambil membahas kalau tak menyangka manager anaknya itu masih muda, lalu memberitahu kalau sebaai orang ibu  mengkhawatirkan anak-anak mereka saat terpisah. Woo Jin tak bisa menolak suapan abalone dari ibu Ho Won dengan mengatakan tak perlu melakukan seperti ini.
“Aku tidak begini karena ingin kau baik-baik sama Ho Won. Aku yakin setiap orang juga merasakan seperti itu. Aku mana bisa memintamu memberikan perlakuan khusus pada anakku.” Ucap Ibu Ho Won
“Sepertinya sifat Ho Won keturunan dari Anda.” Komentar Woo Jin, Ibu Ho Won mengelak kalau Ho Won itu mirip dengan ayahnya.
“Sikapnya memang dewasa lebih cepat..., jadi dia tidak mau menunjukkan ke orang kalau dia sedang kesusahan. Namun, Manager Seo.. kata orang, anak dari keluarga miskin memang selalu hidup susah. Kalau-kalau nanti kau tidak puas dengan kinerja dia..., tolong kasihanilah dia karena dia punya orang tua yang miskin. Bukan salahnya kalau kerjaannya tidak bagus. Tapi salahku.” Ucap Ibu Ho Won, Woo Jin mengangguk mengerti 

Sementara Ho Won berlari panik karena ibunya  datang ke tempat Manager Seo. Woo Jin tiba-tiba menjerit panik melihat belut yang berjalan di lantai dan langsung naik ke atas meja. Ibu Ho Won dengan santai kalau belutnya itu ingin melihat rumah Woo Jin dan menangkapnya, Woo Jin menjerit histeris saat ibu Ho Won memperlihatkan kepala belut padanya. 

Ho Won baru saja akan keluar dari lift melihat ibunya yang memberikan sebuah amplop seperti sogokan. Woo Jin pun menolak karena prinsipnya yang tak mudah disogok. Ho Won berteriak memanggil ibunya. Woo Jin melihat Ho Won datang menanyakan keadaanya.  Ho Won mengaku baik-biak saja dan meminta maaf dan bertanya untuk apa ibunya datang ke rumah Woo Jin.
“Apa salahnya datang ke sini? Ibu datang buat menyapa saja.” Ucap Ibu Ho Won, Ho Won segera mengajak ibunya untuk pergi sekarang juga.
“Maaf soal temanku dan ibuku ini.” Ucap Ho Won pada Woo Jin dan menarik ibunya pergi.
Lift didepan pintu terlihat lama naik, akhirnya Ho Won memutuskan untuk menuruni tangga saja. Ibu Ho Won pun mengaku senang bertemu dengan Woo Jin. Woo Jin pun berpesan agar hati-hati dijalan.

Woo Jin masuk rumah merasa kalau hari yang melelahkan sekali. Lalu melihat isi kotak makanan yang dibawakan oleh ibu Ho Won. Ia melihat salah satu toples dan memberikan label “Simpanlah dalam freezer dan makanlah sedikit demi sedikit.”
Lalu ia melihat toples lainya “Simpanlah dalam freezer dan makan ini secepat mungkin.” Senyuman Woo Jin terlihat dan mengambil kotak makan lain dengan label “Makanan ini tahan lama disimpan.” Woo Jin seperti merasakan perhatian dari ibunya. 

Ketiganya duduk dikamar, Ho Won memberitahu ibunya kalau Woo Jin itu bukan gurunya, menurutnya itu memalukan dengan datang kerumahnya. Ibu Ho Won tak percaya kalau dianggap memalukan anaknya. Ho Won menegaskan kaalu ia sangat malu gara-gara Ibunya.
“Aku saja sudah khawatir kalau bertatap muka dengan Manager Seo. Tapi Ibu malah membuatnya jadi makin parah.” Keluh Ho Won, Ibunya ebrtanya apa kesalahanya.
“Apa Ibu tak tahu? Manager Seo tidak suka hal-hal seperti itu. Kenapa Ibu buat masalah terhadapku?” ucap Ho Won
“Semua orang suka hal-hal yang gratisan. Kau bilang bersyukur karena apa yang dia lakukan bagimu. Kau ingin mengirimkan dia sesuatu, dan kau pun memberikan alamatnya pada Ibu. Bukannya mengirimnya, aku malah memberikannya langsung sama dia. Apa Ibu harus butuh izinmu biar bisa kasih makanan padanya?” ucap Ibu Ho Won
“Kenapa Ibu tega mempermalukanku? Ibu saja belum berbuat apa-apa untukku.” Kata Ho Won kesal
Hoo Jae tak habis pikir kakaknya bisa berkata seperti itu dan merasa hanya bercanda saja. Ho Won merasa memang ibunya tak pernah berbuat apa-apa untuknya. Ibu Ho Won akhirnya meminta maaf.
“Apa Ibu mengerti bagaimana perasaanku? Apa Ibu tahu betapa sengsaranya aku setiap hari?” ucap Ho Won yang merasa selama ini tak pernah diperhatikan.
“Jadi, apa menurutmu cari uang itu mudah? Bukan kau saja yang sengsara. Aku memang tak banyak berbuat apapun untukmu, tapi aku ini masih ibumu. Ucapanmu itu terlalu mengerikan. Coba saja kau merawat anak yang seperti tingkahmu ini.” Ucap ibu Ho Won marah
“ Aku malah ingin hidup lama dengan anak yang seperti diriku. Karena itu, aku tidak akan membuatnya menderita seperti ini.” Kata Ho Won
“Kau pasti kesusahan karena punya ibu yang tak baik. Ayo pergi. Kalau Ibu lama-lama disini, dia ini mungkin bisa memukul Ibu.” Ucap Ibu Ho Won tak  tahan menahan emosi. Ho Jae memanggil ibunya dan bergegas keluar berjanji akan menelp kakaknya. 


Hyo Ri datang mengeluh agar Hoo Won menyudahinya karena ia pun tak pulang ke rumahnya setahun sekali, dan tak perlu bersikap kasar karena mungkin nanti bisa sempat melihatnya lama-lama. Ia pun melihat ada banyak makanan yang dibawa Ibu Ho Won dan bertanya-tanya cara membawanya.
“Semua Ibu memang hebat.” Ucap Hyo Ri, Ho Won kaget melihat Ibunya yang membawa banyak sekali makanan untuk dirinya lalu berlari mengejar ibunya, tapi Ibu dan adiknya sudah lebih dulu naik taksi.
Ia pun hanya bisa menangis sambil berlutut di jalan, merasa bersalah karena sudah marah-marah pada ibunya. Woo Jin keluar dari rumah melihat Ho Won ingin mengembalikan amplop, tapi karena Ho Won seperti sangat sedih memilih untuk mengurungkan niatnya dan kembali masuk ke dalam rumah. 

Tuan Seo mengajak anaknya makan bersama, Dokter Seo memuji ayahnya yang kelihatan keren. Tuan Seomengaku Suasana hatinya sangat baik sekali hari ini. Dokter Seo pikir Ayahnya  pasti merasa lebih nyaman setelah berhenti mengurusi manajemen keuangan lagi.
“Hauline sudah seperti keluarga bagiku Berhenti tidak membuatku lebih nyaman. Aku malah frustrasi dan penasaran kalau aku tidak tahu bagaimana keadaan perusahaan. Seperti itulah rasanya mengelola perusahaan.” Ucap Tuan Seo
“Bukankah Ayah penasaran denganku?” ucap Dokter Seo, Tuan Seo mengaku karena itu menelpnya lalu menyuruh anaknya makan udang yang masih sangat segar. Dokter Seo pun makan udang yang ada didepanya.

“Kenapa kau tidak datang saat peringatan kematian ibumu?” tanya  Tuan Seo, Dokter Seo mengaku  harus menangani pasien darurat.
“Padahal kau tinggal dengan ibumu lebih lama daripada kau tinggal denganku. Bukannya peringatan kematian seharusnya penting buatmu? Apalagi cuma setahun sekali.” Ucap Tuan Seo
“Ayah peduli soal peringatan kematian mantan istri Ayah..., tapi kenapa Ayah menceraikannya?” sindir Dokter Seo

Tuan Seo pun mengalihkan dengan membahas anaknya yang membuka sebuah rumah sakit dan bertanya apakah lancar. Dokter Seo mengangguk menurutnya Karena "ayah, anak sama saja" jadi mengelola rumah sakit dan mendapatkan keuntungan besar.
“Kau bilang Keuntungan? Menyelamatkan nyawa pasien seharusnya itu bentuk kewajiban.” Ucap Tuan Seo menasehati.
“Yang penting apapun yang kulakukan..., aku tidak pernah memuaskan Ayah, 'kan?” kata Dokter Seo dingin
“Semua ayah mana pernah tidak puas dengan anaknya kalau tidak ada alasan.” Ucap Tuan Seo membela diri.
“Aku selalu saja salah...,tapi kakakku selalu benar. Ayah saja tidak peduli padaku. Apa Ayah tidak tahu kalau aku ini alergi udang? Apa sebenarnya yang Ayah ketahui tentangku?” ucap Dokter Seo memperlihatkan kulit ditanganya memerah karena makan udang.
“Ayah saja menyarankan kami bersaing. Tentu saja aku pasti yang akan kalah.” Kata Dokter Seo sinis lalu pamit pergi lebih dulu.
“Apa kau marah?” ucap Tuan Seo, Dokter Seo balik bertanya kalau memang marah apakah ayahnya akan mentolerirnya
“Kau tak pernah mengatakan apa yang kau inginkan..., kau selalu bertele-tele.” Ucap Tuan Seo, Dokter Seo harus mengatakannya sekarang



Woo Jin sarapan dengan makanan yang dibawa oleh Ibu Ho Won lalu memuji kalau  Sup buatannya enak pasti karena menuruni bakat ibunya. Ia makan lahap dengan seperti bisa merasakan masakan rumah seperti masakan ayahnya.  Sementara Ho Won terbangun dan melihat baju yang dibelikan oleh adiknya, seperti ingin memakainya.

Ji Na kembali masuk ke kantor, menyapa Tuan Heo. Ki Taek pun seperti sudah tak peduli hanya diam saja. Tuan Heo pun menanyakan keadaan Ji Na karena kemarin tak masuk kantor. Ji Na mengaku masih sakit, tapi tidak terlalu parah. Ki Taek akhirnya menyapa Ji Na dengan bahasa formal seperti baru mengenalnya. 
Woo Jin baru datang, melihat Ho Won yang belum datang. Ki Taek malah binggung Woo Jin bisa mengetahuinya.  Woo Jin melihat meja Ho Won yang masih kosong, Ki Taek bisa mengerti dan memberitahu Ho Won datang terlambat hari ini.
Woo Jin meminta agar bisa menghubunginya. Ji Na mengerti, Ki Taek mengatakan akan yang menghubunginya. Ji Na melirik sinis, Woo Jin pun meminta apabila Ho Won sakit sampaikan padanya kalau boleh istirahat di rumah. Ki Taek mengangguk mengerti. Ji Na menyindir Ho Won  karyawan sementara datang terlambat kerja

“Apa kau tadi bilang dia terlalu ceroboh buat jadi karyawan sementara? Oh ya ampun. Bukankah semua pekerja kantor seharusnya tunduk dan patuh?Dia ini rupanya harus masih banyak belajar.” Ejek Yong Jae, Ji Na mengaku benci sekali selera humornya.
“Kenapa memang selera humorku?” kata Yong Jae. Ji Na menyuruh agar Yong Jae agar duduk saja.
“Bukannya Asisten Ha pernah izin sakit lewat telepon juga? Ho Won mungkin saja sakit.” Ucap Ki Taek membela
“Ki Taek. Ketika kau cuma karyawan baru...,kau tidak boleh sakit tanpa persetujuan bosmu. Apa Kau mengerti? Kalau kau sakit,  itu namanya mengabaikan tugas.” Kata Yong Jae. Ki Taek hanya bisa menghela nafas. 

Ho Won baru saja sampai di depan lift, lalu masuk dengan wajah lesu, seseorang menyeberobot disampingnya. Terdengar suara lift, menandakan kalau lift penuh. Akhirnya Ho Won mengalah untuk keluar dari lif lalu menatap bayangan di depan pintu lift.
“Kalaupun aku mati besok, aku harus menjalani hidup hari ini. Meskipun tak tertahankan hidup terus berlanjut.” Gumam Ho Won
Woo Jin memikirkan kalau memberikan sesuatu maka akan terjadi salah paham.  Tapi menurutnya Ia adalah bosnya jadi Tak masalah memberikan hadiah pada bawahannya dan harusnya bersyukur bisa dapat ponsel gratis.
“Tapi kalau dia bertanya padaku kenapa aku memberikannya..., aku harus bilang apa ke dia?” ucap Woo Jin binggung, Saat itu ponsel diketuk. Woo Ji pun buru-buru menyembunyikan dan Ho Won masuk ruangan.

“Maaf soal ibuku semalam.” Ucap Ho Won, Woo Jin menanyakan keadaan Ho Won sekarang.
“Kenapa kau pingsan dan membuatku panik seperti itu?” keluh Woo Jin, Ho Won pun meminta maaf. 
“Aku kurang tidur selama beberapa hari ini. Semalam, aku sepertinya pusing.” Kata Ho Won.
Woo Jin menyuruh Ho Won agar bisa merawat diri baik-baik , serta Tetap sehat adalah bagian dari tugas pekerjaannya. Ho Won menganguk mengerti. Woo Jin lalu memberikan kotak ponselnya,  mengaku baru mendapatkan dari acara promosi perusahaan tempat temannya bekerja dan baru saja membeli ponsel  dan tidak membutuhkannya. Ho Won binggung tiba-tiba Woo Jin memberikannya ponsel.

“Baterai ponsel-mu 'kan tak awet..., lalu jaringannya juga jelek.”kata Woo Jin, Ho Won mengaku kalau itu karena ponsel model lama.
“Ketika kau bekerja, pasti ada banyak keadaan darurat di toko cabang dan di kantor. Kau itu anggota tim pemasaran. Apa menurutmu kau bisa menangani situasi seperti itu pakai ponsel itu?” kata Woo Jin menyindir, Ho Won  pikir lebih baik memberikan uang itu saja dan akan membelikan ponsel
Woo Jin binggung uang apa maksudnya, Ho Won tak tahu sebanyak apa uang itu tapi ibunya susah payah menguliti tiram dari pagi buta buat cari uang, dan pasti menabung uang itu dengan tangan ibunya juga sampai melepuh. Jadi meminta agar mengembalikan saja karena  tidak ingin menyogoknya. Woo Jin mengaku tak mengerti yang dikatakan Ho Won padanya.

“Kau itu dapat amplop dari ibuku. Aku melihatnya.” Kata Ho Won, Woo Jin pun mengerti kalau itu yang dimaksud.
“Tapi kau berlagak kau itu pria yang punya integritas.” Komentar Ho Won melihat amplop yang diterima Woo Jin
“Dengar. Aku tadinya mau mengembalikannya..., tapi ibumu memaksaku. Kembalikanlah itu pada ibumu. Dan Juga..., sampaikan salam terima kasihku pada ibumu.” Kata Woo Jin, Ho Won melihat isi dari amplopnya bukan uang tapi jimat dari peramal.
“Apa kau memberikan ponsel ini padaku seebagai imbalan atas makanan yang dibawa ibuku?” ucap Ho Won, Woo pikir Ho Won bisa menganggapnya seperti itu.

“Tapi..., ibuku hati-hati sekali membuat hidangan itu untukmu. Apa kau harus kasih harga seperti itu?” ucap Ho Won.  Woo Jin malah menyindir kalau Ho Won sendiri yang ingin menganggapnya seperti itu padahl menyuruhnya menganggapnya seperti itu.
“Aku malah menikmati makanannya pagi ini dan seterusnya, aku akan tetap menikmatinya. Sampaikan itu pada ibumu.” Kata Woo Jin, Ho Won pun mengangguk mengerti lalu pamit pergi dengan mengucapkan Terima kasih. Woo Jin pun bisa bernafas lega karena Ho Won tak salah paham.



Ho Won menelp ibunya mengomel karena memberika jimat pada Woo  Jin. Ibu Ho Won mengingatkan anaknya kalau mengecam seaka ingin membunuhnya, menurutnya tak ada yang salah  memberikan jimat padanya. Ho Won merasa kalau ibunya itu memberitahukan hal itu.
“Kalau Ibu bilang, apa kau akan mengizinkanku? Aku dapat jimat itu dari dukun hebat Jimat seperti itu mana ada di Seoul. Katanya si dukun itu, jimat itu bisa membuat dia jadi Presdir. Bosmu suka, 'kan?” ucap Ibu Ho Won
“Gara-gara Ibu, aku bisa gila. Sudahlah” kata Ho Won menutup ponselnya, Ibu Ho Won pun sedikit mengumpat.
Ho Won merasa kalau sudah terlau kasar pada ibunya, lalu memberikan bertanya-tanya alasan Woo Jin memberikan ponsel tapi ia bersyukur bosnya itu memberikannya. Saat itu Ki Taek menelp menyuruh Ho Won agar segera datang karena keadaanya gawat. 

Ho Won dtang melihat semua sudah berbaring lalu berisik dengan dengan bertanya pada Ki Taek, apa yang terjadi. Ki Taek memberitahu kalau Direktur Han datang ke tempat mereka.  Direktur Han mngomel kalau sudah lama menunggu kinerja mereka membaik tapi sampaikana harus menunggu.
“Aigoo. Data penjualan ini tidak mencakup perubahan terbaru..Bisa-bisanya kalian enak-enakan makan tidur saat kalian... membuat penjualan buruk seperti ini?Aku saja tidak bisa tidur karena aku tidak percaya angka penjualan untuk kuartal pertama ini. Tapi kalian selalu dapat gaji walau kinerja kalian bagus atau jelek. Karena itulah kalian ini tak bisa diharapkan. “ ucap Direktur Han marah
“Memangya kalian pikir ini yayasan amal apa? Jika kalian tidak mencapai target penjualan kali ini..., akan kubuat kalian semua mengundurkan diri. Mengerti?” ucap Direktur Han, Manager Park mengangguk mengerti.

“Jadi, apa semuanya lancar dengan rencana peluncuran Hauliz ini?” tanya Direktur Han pada Woo Jin dengan nada lembut.
“Ya. Setelah kita memperbaiki anggaran publisitas, nanti aku akan melaporkannya pada Anda.” Kata Woo Jin
“Tapi, Manager Seo, bukannya kau terlalu bekerja keras belakangan ini? Tampangmu sepertinya kelelahan sekali.” Kata Direktur Han, Ho Won mengaku tak seperti itu.
“Kau memang hebat. Aku merasa tidak enak, kau yang kerja keras sendiri.. sementara yang lain kerjanya santai-santai saja.”sindir Direktur Han pada Manager Park.
Manager Park setelah Direktur Han pergi mengajak semua  Tim penjualan berkumpul diruanganya. Sementara Tim pemasaran meminta agar kembali berkerja kembali seperti biasa. 


Manager Park bersama dengan timnya yang berdiri seperti sedang dihukum, mengaku kalau tidak percaya ini, lalu melihat kalau Yong Jae adalah masalahnya karena bohong padanya, padahal  menggatakn akan menghasilkan penjualan yang bagus bulan ini.
“Apa ini namanya penjualan yang bagus? Kenapa aku harus dimarahi pagi-pagi begini? Apa salahku?” ucap Manager Park sangat marah.
“Yong Jae... Jadi kau mau bagaimana? Salah siapa ini? Apa salah dia, si karyawan baru? Apa salahnya Manajer Jo? Ini tugas pekerjaanmu! Aku tidak membelikanmu sup ikan tiap hari biar bisa cari gara-gara denganku seperti ini!” teriak Manager Park marah merasa memiliki anak buah yang bodoh dari timnya.
Semua hanya diam saja, Managar Park pikir mereka lebih baik dipecat dan mati kelaparan. Yong Jae mengeleng kalau akan bekerja lebih keras. Tapi Manager Park yang sudah sangat marah merasa lebih baik mereka mati saja. 

Ho Won melihat dari luar merasa khawatir dengan tim penjualan karena Manager Park itu sangat marah sekali. Ki Taek pikir  Semua yang ada di luar dan dalam kantor ini memang mimpi buruk.
Yong Jae ketakutan melihat Manager Park yang mengambil stik golf. Manager Park memberikan stick golf pada Yong Jae merasa kalau dirinya itu akan dipecat jadi lebih baik mati saja dengan menyuruh Yong Jae memukulnya. Yong Jae menolaknya sambil menangis tak ingin melakuanya
“Tingkatkanlah nilai penjualan. Aku tidak peduli kau mau melakukan apa di kantor. Pokoknya, tingkatkan nilai penjualan atau Pukul aku, cepat!” teriak Manager Park, Suk Kyung yang melihatnya meminta agar Manager Park menghentikanya.
“Hentikan apa maksudmu?!! Jika kita tidak bisa meningkatkan penjualan bulan ini..., maka kita semua akan dipecat!” teriak manager park 

Ho Won benar-benar khawatir dengan Kang Ho karena Mereka sudah di dalam selama satu jam. Manager Park tetap menyuruh mereka memukulnya saja karena .Yang penting adalah memenuhi kuota penjualan. Yong Jae mengaku tak bisa memukul Manager Park dengan stick golf.
“Kalau begitu, tingkatkan angka penjualanmu dan Yong Jae...Jika kau tidak bisa menaikkannya, maka kau juga akan mati.” Ancam Manager Park lalu keluar dari ruangan.
“Kang Ho dan Min Jae, rapikan ruangan ini. Dan Asisten Lee, sore nanti, kunjungi toko.” Perintah Suk Kyung melihat kertas yang banyak berserakan dan keluar ruangan.
Sementara Yong Jae yang terlihat sedih mengeluh dengan Manager Park yang marah-marh sampai muncrat di wajahnya dan berpikir harusnya bunuh diri saja lalu keluar dari ruangan. Hanya tinggal Min Jae dan Kang Ho dalam ruangan.
“Kau pasti senang... Kau tidak perlu khawatir soal target penjualan karena kau cuma pegawai sementara. Jadi Rapikan ruangan ini.” Ucap Min Jae dengan gaya sombongnya keluar dari ruangan. Kang Ho pun membenarkan kalau sangat senang sambil mengumpat.
Ho Won dan Ki Taek masuk ruangan memastikan kalau teman mereka baik-baik saja. Terdengar teriakan “Eun Jang Do, berkumpullah ke atap!” suara Yong Jae yang memanggil ketiganya. 


Ho Won kaget mengetahui Yong Jae yang ingin agar mereka bisa menjual furniture dan bertanya kemana harus menjualnya. Yong Jae mengingatkan mereka yang ingin menjadi pegawai tetap.
“Cara tercepat dan termudah agar bisa diakui oleh atasan kalian ialah dengan memperoleh angka penjualan yang tinggi.” Ucap Yong Jae, Ho Won heran karena mereka anggota tim pemasaran.
“Tim itu tidak penting bagi kalian karena kalian karyawan sementara. Menurutmu bagaimana perusahaan mengevaluasi kinerja kita? Bukankah membantu perusahaan menghasilkan keuntungan lebih itu cara terbaik agar prestasimu yang tak terbantahkan?” kata Yong Jae
Ki Taek pun meminta agar menurunkan targetnya sedikit, Ho Won pun bertanya akah ini usul dari Yong Jae sendiri, Suk Kyung atau Manager Park.  Yong Jae pikir Mereka tak bisa mengatakannya langsung jadi menyampaikan padanya dan mengingatkan siapa Siapa yang mempekerjakan mereka.

“Jika kalian tidak bisa kerja bagus kali ini..., maka kalian akan dipindah ke toko dan bekerja disana sebagai sales.” Kata Yong Jae mengancam. Ho Won langsung menolak tidak bersedia melakukannya.
“Ini tidak adil sekali. Bukannya Anda ini mencoba memanfaatkan kami, dengan menggunakan posisi permanen sebagai umpan?” ucap Ho Won melawan, Yong Jae melihat Ho Won itu kurang ajar sekali.
“Ya. Aku memanfaatkan kalian. Jadi Anggap saja aku memanfaatkan kalian. Terus kenapa, memang? Perusahaanlah yang memutuskan apa yang jadi tugas kalian. Berhenti saja kalau kau tak mau dan Tak usah kerja!” ucap Yong Jae menantang
“Aku yang akan bicara soal itu dengan Manager Park” kata Ho Won,  Kang Ho langsung melarangnya.
“Kami paham apa maksud Anda.” Ucap Kang Ho, Yong Jae pun akan menunggu hasilnya. Ki Taek dan Ho Won terdiam tak percaya Kang Ho mau saja di berikan tugas yang bukan tangung jawabnya.

Bersambung ke part 2


FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar