Kamis, 13 April 2017

Sinopsis Queen Of Mystery Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Seol Ok mengatakan Ini bukan pencurian tapi sesuatu yang lain telah terjadi. Ia melihat bekas jejak kaki yang mengartikan  Penjahatnya masuk ke kamar dan ia pun masuk  melihat kamar dibagian atas, dengan Tempat tidurnya tampak bersih dan seprei-nya berubah.
“Ini agak aneh.” Kata Seol Ok mencium bagian selimut, lalu melihat jendela dikamar tak terkunci dan membukanya, terlihat tanaman dibagian bawah rusak.
Seol Ok akhirnya keluar dan masuk ke kamar sesuai dengan jejak pelaku, ada buku pelajaran matematika.  Ia yakin kalau ini adalah kamar remaja yang menakutkan itu. Joon Oh tahu pelajar itu menginap di rumah temannya pada hari kejadian. Seo Ok pun mengartikan bahwa anak itu tidak ada yang di rumah.
“Iya. Pencuri nya pergi saat penelepon pulang kerumah.” Kata Joon Oh, Seol Ok pergi ke kamar lainya melihat ada gelang dengan bantul salip.
“Pasangan itu pergi ke gereja dan Aku dengar mereka berada di sana.” Kata Joon Oh
“Aku kira tidak banyak yang diambil. Ini lebih bersih daripada kamar lain.” Komentar Seol Ok. Joon Oh menjelaskan kalau pasangan itu sangat hemat.
“Tidak ada jejak kaki yang mengarah ke ruangan ini.” Kata Seol Ok, petugas forensik memberitahu kalau Itu kamar mandi. Joon Oh pun membukanya. 


Wan Seung melihat dari luar jendela ada Seol Ok bersama dengan Joon Oh. Seol Ok bertanya apakah ada yang hilang. Jin Won memberitahu ada  Uang dan sedikit perhiasan. Seol Ok merasa sangat aneh, Joon Oh pikir itu Wajar bagi mereka untuk mengambil itu.
“Maksudku, kamar anak mereka, beberapa Gadget-nya ada disana. Itu 'kan bernilai ratusan dolar. Pencuri bahkan tidak mengambil berlian Padahal terbuat dari batu mulia. Lalu Ruang tamu memang terlihat cukup berantakan, tapi orang ini tidak mengambil AC atau TV. Itu kelihatan masih baru, jadi pasti mahal harganya.” Jelas Seol Ok heran
“Bukankah karena itu berat?” pikir Joon Oh

“Lalu mengapa mereka tidak mengambil piagam penghargaan? Itu dilapisi dengan emas 18 karat. Yang bernilai setidaknya 3.000 dolar.” Kata Seol Ok menunjuk. Joon Oh pikir si pelaku mungkin lupa.
“Tidak mungkin... Ini emas asli. Aku yakin pasangan sering bertengkar karena itu.” Ucap Seol Ok. Joon Oh binggung mengapa mereka memperebutkan ini
“Dia pasti menghabiskan banyak uang  untuk membeli minuman. Mereka bahkan memberinya sebuah plakat  emas untuk berterima kasih padanya.” Ucap Seol Ok. Wan Seung yang melihat dari luar merasakan sesuatu yang berbau amis.



Nyonya Park keluar dari kamar melihat Seol Ok belum pulang padahal hanya membeli telur tapi sangat lama. Tapi akhirnya ia tak peduli memilih menyanyi sambl berjalan keluar dari rumah.
Seol Ok menjelaskan Banyak karakteristik pencuri. Jika cari perhiasan, maka pelaku pergi  ke kamar tidur utama. Jika uang tunai, maka pergi mencari tas dan laci. Jika perangkat elektronik, tidak perlu susah-susah mencarinya.
“Namun, pencuri yang masuk ke rumah ini tidak memiliki urutan tertentu.” Jelas Seol Ok. Lalu Joon Oh pikir kalau ini kasus narkoba lagi karena Penjahat itu tidak mencari sesuatu.
“Ada hal yang lain...Hal yang paling aneh adalah kamar mandi. Dia tidak masuk kamar mandi. Tapi, bagaimana penjahat tahu itu kamar mandi? Semua pintunya sama Dan jejak kaki ini terlalu jelas.” Jelas Seol Ok, Joon Oh melihat bentuk pintu yang sama.
“Mereka semua pergi ke kamar dan Penjahatnya tidak ragu-ragu. Mereka pergi langsung ke kamar yang ditargetkan. Penjahatnya tahu dengan rumah ini dan Penjahat tidak datang ke sini untuk mencuri.” Ucap Seol Ok. Jin Won pun bertanya apakah ada yang lainya.
“Sesuatu yang lebih parah daripada pencurian, yaitu Pembunuhan.” Ucap Seol Ok dengan nada misterius. Joon Oh kaget mendengarnya.
“Iya. Seseorang sudah meninggal di sini.” Kata Seo Ok
“Bagaimana dengan tubuhnya?” tanya Jin Won. Petugas lain yang mendengarnya lalu bertanya pada Petugas Na, apakah sudah melihat seluruh tempat. Petugas mengatakan kalau Tidak ada mayat di tempat ini.
“Seseorang meninggal di lantai  atas kamar tidur utama. Dan tubuh itu.....”ucap Seol Ok terhenti dengan teriakan dari Wan Seung yang memanggil Ahjumma!


Seo Ok kaget melihat Wan Seung sudah ada duduk didepanya, Jin Won memberitahu kalau Seol Ok datang karena tak sengaja. Wan Seung pikir sudah memperingatkan Seol Ok kalau melihatnya lagi, akan menangkapnya karena ikut campur dengan memperlihatkan borgol ditangan.
“Mengapa kau mengurusi ini? Ini bukan taman bermain! Ini TKP!” ucap Wan Seung marah.
“Itu Telur-telurku. Cepat Pindah.”perintah Seol Ok melihat Wan Seung duduk di atas trolly belanjaanya.
“Mengapa Aku harus pindah? Aku tidak mau!” kata Wan Seung. Akhirnya Seol Ok yang marah langsung mendorong Wan Seung dari trolly belanjanya. 

Petugas Junior sedang menyapu jalan, Petugas Jang mengeluh Juniornya hanya membuat debu padahal sudah cuci tangan tadi. Petugas Junior pikir Petugas Jang baru saja berpatroli. Petugas Jang mengaku mampir ke toilet untuk mencuci tangan. Petugas Junior tahu kalau ada wastafel di ruangan mereka.
Petugas Jang akhirnya mengalihkan pembicaraan dan melihat seorang ana yang duduk didekat mereka dan menyuruh pulang karena kantor polisi bukan tempat untuk anak-anak. Si anak hanya diam saja.
“Dia tampak seperti memiliki sesuatu untuk dikatakan.” Kata petugas Junior. Petugas Jang menyuruh juniornya saja yang bicara karena perlu istirahat karena Patroli itu melelahkan.
“Kau pasti lelah setelah tiga jam di sauna.” Keluh Si petugas Junior mengedumel. Petugas Jang yang akan masuk seperti bisa merasakanya lalu membalikan badan
Si petugas junior buru-buru menghampiri si anak mengaku orang yang selalu berurusan  dengan anak-anak dan bertanya apa yang ingin dikatakan. 

Semua telur pun akhirnya pecah berantakan, Wan Seung measa kalau Seol Ok itu merendahkan otoritas polisi. Seol Ok pun mengomel karena seorang polisi duduk di atas telurnya. Wan Seung tak mau kalah dengan menyalahi telur yang ada di depanya dan mengancam akan menangkapnya kalau Seol Ok ada di TKP lainya.
“Aku menelepon untuk meminta sarannya. Aku minta maaf.” Ucap Joon Oh
“Dasar Bodoh kau! Apa Kau polisi?!! Mengapa polisi membutuhkan saran seorang ibu rumah tangga?!” ucap Won Seung mengejek
“Ibu rumah tangga ini lebih tahu dari kau. Bagaimana kau bisa mengatakan ini  pencurian padahal ini pembunuhan?” teriak Seol Ok tak mau kalah.
“Kau terlalu banyak menonton TV. Jika pembunuhan, pasti ada mayat!” ucap Wan Seung berdiri
“Apa kau tahu berapa persentase mayat  yang ditemukan di TKP?” ucap Seol Ok ikut berdiri
“Apa kau pikir kami bosan untuk belajar statistik? Siapapun bisa mengatakan itu adalah  pencuri yang berpengalaman!” teriak Wan Seung.
Seol Ok yakin Wan Seung itu tidak lulus ujian. Wan Seung menegaskan kalau ia lulus dari akademi polisi. Seol Ok pikir akaedmi polisi itu  menerima dan mengajarkan sembarang orang dengan uang pajak yang dibayarkanya. Wan Seung makin marah dianggap "Sembarang orang" lalu bertanya Seol Ok itu kuliah dimana.
“Apa kau pascasarjana? Apa kau memiliki gelar doktor?” teriak Wan Seung, Seol Ok membenarkan  kalau memiliki gelar Ph.D. Wan Seung seperti kecil dengan berkomentar Seol Ok itu banyak belajar.Seol Ok membenarkan.

“Ahjumma, pengetahuan dari buku tidak cukup.” Kata Won Jae.Seol Ok membalas kalau Pangkat tidak bisa menangkap penjahat.
“Ya benar. Orang pintar karena penalaran. Kami menangkap penjahat dengan  berkeliling mencari mereka!” ucap Won Seung
“Dengan pengalaman dan kesabaran, Penjahat tidak peduli tentang hasil ujian kau.” Balas Seol Ok.
Keduanya terus saja adu mulut sampai akhirnya petugas forensik keluar,  kalau mereka mengkontaminasi TKP. Keduanya saling menunjuk siapa yang salah. Joon Oh merasa tak enak hati dengan minta maaf dan akan segera membersihkannya.

Seorang pria datang seperti melihat keributan, Jin Won memberitahu kalau masih menyelidiki, lalu memperkenalkan pada semuanya kalau pria itu adalah pemilik rumah yang menelpon. Tuan Cha mengeluh dengan tindakan polisi yang dianggap penyelidikan malah membuat berantakan saja. Jin Won kembali meminta maaf.
“Aku sungguh minta maaf. Polisi tidak bertanggung jawab. Tapi Ini kesalahan warga.” Ucap Wan Seung menyalahkan Seol Ok.
“Aku akan membatalkan laporan jadi Keluar dari sini.”kata Tuan Cha
“Kami sudah menganalisis tempat dan Hasil akan keluar segera.”ucap Jin Won. Tuan Cha tak peduli
“Aku meminta kalian untuk menangkap pencurinya.” Ucap Tuan Cha
Seol Ok yang melihat Tuan Cha langsung datang mendekatnya merasa kalau kejadian ini membuatnya khawatir karena Ada orang yang meninggal. Tuan Cha sedikit emosi bertanya Siapa yang meninggal. Seol Ok pikir perlu menyelidiki dulu.

“Apa kau menemukan mayatnya?” tanya Tuan Cha. Seol Ok yakin mereka  akan menemukannya.
“Dia warga yang tadi aku bilang dan tidak  ada hubungannya dengan kami.” Ucap Wan Seung pada Tuan Cha.
“Aku meminta kalian untuk menemukan pencuri. Jika ada pembunuhan, harusnya ada mayat.” ucap Tuan Cha.
“Apa kau membunuh seseorang?Aku hanya mengatakan ada yang meninggal. Apa ada seseorang yang membunuh disini?” ucap Seol Ok curiga
“Jika seseorang meninggal, pasti ada pembunuh. Jadi Keluar dari sini.” Kata Tuan Cha tak ingin peduli.
Seol Ok pikir Tuan Cha tak perlu seperti ini karena menurutnya  Ini adalah kasus yang aneh. Tuan Cha merasa tidak butuh bantuan polisi dan menyuruhnya pergi. Seol Ok merasa heran Tuan Cha yang mengulur-ulur investigasi. Tuan Cha langsung mengancam akan melapor pada Kepala Polisi kalau mereka bertindak seperti ini. Wan Seung langsung menutup mulut Seol Ok dan menariknya keluar dari TKP. 

Wan Seung menarik Seol Ok ke sebuah toko dengan memarahi karena sudah membuat kekacauan dan meminta tanggung jawab atas kesalahanya. Seol Ok mengatakan akan membersihkannya dan Tidak butuh waktu lama untuk membersihkan kemeja.
“Kau tidak bisa menyingkirkan bau telur mentahnya.” Ucap Wan Seung menjejali tanganya yang bau amis.
“Pilih apapun yang kau mau.” Kata Seol Ok, Wan Seung menegaskan kalau Seol Ok harus membayarnya karena dirinya kaya jadi harus pilih-pilih yang ingin dikenakan.
Seol Ok melihat luka ditangan Wan Seung teringat kalau itu karena menolongnya. Akhirnya ia pun berjanji akan membelikan pakaian untuk Wan Seung dan memberikan satu syarat. Wan Seung bertanya apa syaratnya itu. 

Seol Ok mengintip dari balik jendela. Wan Seung menempelkan plester pada luka sobeknya dan keluar bertanya apakah syaratnya agar mengobati luka saja. Seol Ok lalu memberikan kantung baju berharap agar cocok. Wan Seung melihat jaket jins.
“Aku mungkin bisa mati. Terima kasih karena telah menyelamatkan hidupku.” Kata Seol Ok. Wan Seung menyindir Seol Ok akhirnya sadar dan Seol Ok melihat jaket yang dibelikanya cocok.
“Aku yang membuatnya jadi keren.” Komentar Wan Seung akan berjala pergi. Seol Ol menarik Wan Seung kalau mereka  belum selesai, Wan Seung kesal apa lagi sekarang ini. 

Bus tahanan berhenti didepan sebuah tembok besar dengan papan bertuliskan [Pusat Penahanan Seoul] Do Jang dan beberapa tahanan lainya turun dari mobil. Polisi menelp Wan Seung melaporkan kalau mereka sudah sampai kalau memang masih mengkhawatirnya lebih baik datang dan melihat sendiri. Wan Seung meminta anak buahnya agar tak lengah sampai Do Jang masuk tahanan.
Wan Seung sedang berada di minimarket, mengambil 150 telur, dengan mengejek Seol Ok itu ingin jualan karena sangat banyak membelinya. Seol Ok mengatakan kalau mengunkan untuk pijat sebagai pekerjaanya. Wan Seung memberitahu kalau Telur mahal sekarang.
“Ini bukan berarti kau melanggar hukum. Kau perlu banyak untuk pijat seluruh badan.” Sindir Seol Ok 
“Istri jaksa melakukan hal-hal yang baru sekarang.” Balas Wan Seung  

Wan Seung menerima telp Petugas Lee kalau  Ada laporan kehilangan dari Anak laki-laki dan tidak bisa menghubunginya, lalu mengatakan akan segera datang. Seol Ok langsung bertanya apakah ini kasus Pencurian. Wan Seung dengan sinis kalau Seol Ok Tidak perlu tahu.
“Apa Anak laki-laki? Ibunya yang hilang Dan tidak menjawab teleponnya. Jadi anaknya melaporkan dia hilang.” Ucap Seol Ok, Wan Seung merasa Seol Ok itu hanya omong kosong.
“Bagaimana kau tahu siapa yang hilang? Apa kau tahu dari petugas Hong?” kata Wan Seung, Seol Ok mengatakan kalau Wan Seung yang memberitahukanya.  Wan Seung merasa tak pernah mengatakanya.
Seol Ok memutar rekaman suara saat Wan Seung menerima telp, Wang Seung berteriak marah karena Seol Ok yang merekam panggilan teleponnya. Seol Ok pikir sudah membahasnya kalau  legal untuk merekam percakapan ini. Wan Seung pun bertanya Bagaimana tahu itu Ibunya, mungkin saja Ayah yang  hilang.
“Apa kau bodoh? Ayahnya yang menyuruh kita pergi tadi.” Kata Seol Ok, Wan Seung pikir itu mungkin saja.
“Orang akan tahu hanya dengan melihatnya.” Kata Seol Ok, Wan Seung tak ingin membahasnya menurutnya tanggung jawabnya sudah selesai karena sudah membelikan telur. Seol Ok memberitahu kalau Wan Seung belum membayarnya. Wan Seung dengan kesal mengeluarkan dompet kalau akan membayarnya. 


Sementara si anak Tuan Cha meminta agar menemukan ibunya, dan seharusnya polisi melakukan sesuatu setelah melaporkanya hilang, bahkann hanya duduk saja dan tak mungkin bisa menemukan kalau tak bergerak. Jin Won memberitahu kalau mereka sedang mengacak teleponnya sekarang.
“Tidak ada waktu untuk ini.” Ucap Anak Tuan Cha.
“Petugas yang menyelidikinya sangat berbakat. Dia menangkap 34 anggota geng dan mengirim mereka semua ke penjara. Dia akan menemukan ibumu segera, atau dia mungkin saja kembali  sebelum dia menemukannya. Jangan khawatir. “ ucap Joon Oh menenangkanya.
“Jika kau tidak cepat menemukannya, Ibuku mungkin akan mati.” Kata Si anak, Joon Oh terlihat kaget. 

Keduanya sampai dikasir, Seol Ok tetap yakin kalau ini  bukan pencurian dan meminta agar menyelidiki rumahnya sekali lagi, karena pasti akan menemukan sesuatu menurutnya Tidak ada yang bisa menyembunyikan  kejahatan dengan teliti. Bibi pemilik minimarket datang.
“Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, tetapi kau jangan hidup dengan rasa berdosa nanti. Maka Ubah dirimu. Kau tidak bisa membodohi gadis ini.” Ucap Si bibi. Won Seung mengeluh kalau Seol Ok itu ahjumma bukan gadis.
“Sebuah rumah kosong dirampok dan nyonya-nya hilang. Bukankah itu aneh?”ucap Seol Ok berusah menyakinkan.
“Apa yang aneh? Rumahnya dirampok, laalu dia menjadi frustrasi dan pergi. Atau dia pergi, jadi ada yang mencuri. Aku ini jenius.” Tegas Won Seung bangga.
“ Dia tidak meninggalkan rumahnya tapi orang yang meninggal. Dia meninggal di kamar tidur utama.” Kata Seol Ok
Si bibi menghitung telur yang harganya 30 dolar. Won Seung memberikan uangnya, Si bibi mengulang kalau semuanya 35dolar, Wan Seung heran karena sebelumnya si bibi mengatakan 30 dolar. Si Bibi menegaskan kalau Seol Ok yang membeli maka memberikan harga 30 dolar tapi karena Wan Seung yang bayar jadi akan menjadi 35 dolar.
“Dan apa kau memberikan diskon  hanya untuk lulusan universitas saja? Aish.. Aku harus mendapatkan gelarku. Toko mengerikan ini mendiskriminasikan pendidikan.” Keluh Wan Seung.
“Dia hanya satu-satunya yang mendapat diskon khusus.” Tegas si bibi. Wan Seung merasa di diskriminasi dan akan membuat laporan.
“Aku akan memberikan diskon khusus nanti. Turuti dia jika kau melakukan sesuatu Gadis ini tahu segalanya.” Kata Si bibi menyarankan pada Wan Seung.
“Ahjumma, kau bahkan pergi ke toko yang paling aneh.” Kata Wan Seung lalu memilih untuk pergi. 



Seol Ok melihat mobil Wan Seung berhenti didepanya bertanya bertanya apakah bisa bertemu dengan anak itu. Won Seung sedang menegaskan itu tak mungkin dan meminta agar Seo Ok jangan datang di dekat kantor polisi.
“Jika aku menemukanmu, maka Aku akan menangkapmu.” Ucap Wan Seung memperlihatkan borgol ditanganya.
“Aku tidak meminta uang atau makanan. Aku hanya ingin membantu.” Kata Seol Ok, Wan Seung meremehkan Seol Ok yang ingin membantu lebih bak pulang saja dan masak makan malam.
“Jangan kembali lagi nanti untuk memohon bantuanku.”tegas Seol Ok, Wan Seung menegaskan kalau tak akan melakukanya dan menegaskan kalau  akan menangkapnya. 

Seorang kakek berada dalam mobil memberesihkan bagian dalam mobil dan juga bagian gantungan.  Seol Ok yang baru saja lewat menatapnya. Si kakek dengan sinis bertanya kenapa menatap mobilnya. Seol Ok pun memastikan kalau itu mobil sang kakek.
“Ya tentu saja. Mengapa aku masuk mobil orang lain?” kata si kakek. Seol Ok piki benar tak mungkin ada yang membersihkan mobil orang lain lalu melihat ada noda darah di handuk.
“Apa Kau tinggal disini?” tanya Seol Ok. Si kakek membenarkan kalau itu rumahnya sambil menyembunyikan handuk dibelakang tubuhnya.
“Itu berarti kau keluarganya. Aku senang kau tidak parkir di sini secara ilegal dan Aku harus pergi dan masak makan malam.” Kata Seol Ok langsung berlari ketakutan meninggalkan tempat kejadian. 

Seol Ok mengoceh kesal kalau Ini akan berakhir sebagai kasus yang belum terpecahkan Karena mereka tidak  akan pernah menemukan pencurinya dan itu karena tidak ada pencuri
“Dan Mengapa? Karena ini adalah kasus pembunuhan yang ditutupi sebagai pencurian. Itu berarti kita tidak bisa menangkap penjahatnya.” Kata Seol Ok kesal memasukan telur sembarang ke dalam toples. Kyung Mi yang membantu menyuruh agar pelan-pelah karena bisa memecahkan telurnya.
“Aku bercerai karena mertuaku. Mengapa aku membantumu memasak  telur untuk ibu mertuamu?” keluh Kyung Mi. Seol Ok pun kembali mengeluarkan jurus ampuhnya dengan meluapkan rasa cintanya.
“Untuk itu, datang lebih awal ke toko hari Jumat ini.” Pinta Kyung Mi, Seol Ok setuju dan mengetahui temanya  akan bertemu Dong Ho pada hari itu dan sudah lama tak bertemu dengan anaknya dan pasti sudah besar sekarang.
“Dia benar-benar tinggi seperti ayahnya.” Cerita Kyung Mi, Seol Ok bertanya apakah akan dibawa ke restoran karena merindu Dong Ho.


“Aku hanya bisa melihat dia sebentar di depan rumahnya. Dia tidak ingin menghabiskan waktu denganku, karena Dia pikir aku meninggalkan dia. Neneknya bilang bahwa aku menukar Dong Ho dengan uang untuk membuka tokoku.” Cerita Kyung Mi sedih
Seol Ok tak percaya ibu mertua Kyung Mi bisa  mengatakan itu pada cucunya. Ia merasa bersalah karena pasti temanya benar-benar frustrasi Tapi semua yang di bicara  hanya kasus pembunuhan dan berpikir sebagai seorang teman yang mengerikan.
“Iya. Kau seorang teman yang mengerikan. Jadi jangan bercerai, idiot.” Kata Kyung Mi, Seol Ok mengangguk setuju. 
Nyonya Park baru pulang mengaku sangat panas di luar dan meminta segelas air. Seol Ok pun buru-buru mengambilnya. Kyung Mi menyapa ibu mertua Seol Ok dengan ramah, Nyonya Park melihat Kyung Mi  lalu melihat mereka yang menempatkan semua  telurnya ke dalam air. Kyung Mi memberitahu kalau itu bukan air tapi cuka.
“Kami sedang membuat telur cuka.” Ucap Seol Ok, Nyonya Park pikir Kyung Mi ingin menjual telur di tokonya. Kyung Mi binggung
“Kau bilang menyukai telur cuka” kata Seol Ok. Nyonya Park mengeluh kalau tak mungkin bisa makan sebanyak itu
“Kau mengatakan kepadaku untuk  membeli lima papan telur.” Ucap Seol Ok. Nyonya Park berdalih kalau  mengatakan itu karena lagi murah dan Bukan untuk membuat telur cuka semua dan Lima butir saja sudah cukup
“Mungkin dia sudah kena penyakit demensia.” Keluh Nyonya Park lalu berjalan meninggalkan keduanya. Seol Ok pikir harusnya mencatat ucapan mertuanya. 


Kyung Mi dengan menahan amarah bertanya apa yang akan mereka lakukan. Seol Ok mengaku senang ibu mertuanya  pulang cepat dan berpikir untuk menyiimpan yang setengahnya. Kyung Mi pikir Seol Ok itu bisa menetaskan dengan duduk diatas telur.
“Mari kita masukkan ke dalam bak  untuk pijat seluruh badan.” Kata Seol Ok, Kyung Mi pikir akan melakukan dengan ibu mertuanya.
“Ini Menarik sekali, Ayo Lakukan cepat...” kata Kyung Mi. 

Akhirnya topless dengan berisi telur pun berjejer. Seol Ok duduk didepanya sambil mengomel sendiri kalau Wan Seun sangat kasar dan menegaskan kalau tak akan melakukannya. Dan tidak ada hubungannya dengannya, biar polisi yang mengusunya karena pasti sangat pintar. Tapi akhirnya ia berpikir kalau tak akan mati kalau memang ditangkap. 

Joon Oh mengangkat ponselnya diluar ruangan,  memberitahu sedang menanganinya sambil melirik pada Wan Seung yang sedang ada di dalam. Seol Ok memohon agar bisa bicara dengan anak itu sebentar saja. Wan Seung tiba-tiba melonggokan kepala dari pintu.
“Jangan menerima telepon ahjumma itu. Jika kau membawanya lagi, maka Aku akan menggigitmu.” Ucap Wan Seung memperingatinya dan menyuruhnya agar segera menutup ponselnya dan masuk.
“Apa kau dengar itu? Aku tidak dapat membantumu.” Ucap Jin Won sedikit takut.
“Bukankah kau yang bertanggung  jawab atas kantor itu? Detektif Han adalah seorang letnan dan begitu juga kau. Pikirkan tentang itu. Kalian  memiliki posisi yang sama. Dia mungkin seniormu, tapi  dia tidak bisa menyuruhmu.” Kata Seol Ok menyakinkan. Joon Oh pun membenarkan.
“Jika kau seorang polisi, Bukankah seharusnya kau melakukannya  tanpa melihat senior?” ucap Seol Ok, Joon Oh setuju.
“Apa kantor polisi tempat alumni? Siapa perwira pangkat tertinggi di sana?” ucap Seol Ok, Joon Oh menjawab itu Kepala Cabang. Seol Ok pun menyuruh Joon Oh agar mengunakan kekuasaannya karena ini adalah petugas dari kantor pusat.


Akhirnya Joon Oh masuk kembali dengan sengaja menelungkupkan ponselnya dan keadaan masih menelp, lalu meminta agar anak Tuan Cha menjawab pertanyaannya dengan keras dan jelas. Seol Ok yang ada diseberang telp pun bisa mendengarnya.
“Kau kelas 8, kan?” ucap Wan Seung,  Si anak mengelengkan kepala menyebutkan namanya Cha Hee Chul.
“Ahjussi... Aku dengar kau seorang detektif terkenal, jadi temukan ibuku sebelum terlambat. Bagaimana jika dia meninggal?” ucap Hee Chul
“Bukankah kau di sini untuk melaporkan dia hilang?” kata Wan Seung kaget.


“Aku pikir dia pergi karena mau mati.” Kata Hee Chul. Wan Seung pun bertanya kemana ibunya pergi. Seol Ok yang mendengar mengeluh kalau Pertanyaan macam apa itu.
“Aku akan pergi dan melihatnya jika kau tahu itu. Bisa kau pikirkan tempatnya?” ucap Won Seung, Seol Ok langsung mengumpat polisi itu bodoh menanyakan hal itu.
“Aku sudah pergi ke semua tempatnya. Apa kau pikir aku main-main karena  aku masih kecil?” ucap Hee Chul dengan nada kesal
Seol Ok tahu kalau polisi itu  menghilangkan kepercayaannya dan tidak tahu tentang "menjaga hubungan" karena pasti tidak akan mengatakan apa-apa sekarang. Wan Seung seperti terlihat marah-marah dalam ruangan sementara Joon Oh menerima telp lagi dari Seol Ok.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar