Rabu, 19 April 2017

Sinopsis Ms Perfect Episode 15 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Jung Hee memastikan kalau Jae Bok sudah mengajukan komplain. Jae Bok pikir tak perlu  mengulur waktu dan Jung Hee tidak bisa menemui anak-anak semaunya sebelum sidang berakhir dan membutuhkan izin untuk menemui mereka Begitu juga ibu mertuanya. Jung Hee seperti tak percaya dengan Jae Bok yang bisa berkata seperti itu.
“Itu yang ingin kukatakan kepadamu.” Kata Jae Bok, Jung Hee pun setuju mengajak mereka untuk ke pengadilan.

“Aku akan mengajukan permintaan formal ke pengadilan untuk menemui anak-anakku” ucap Jung Hee. Jae Bok mengumpat Jung Hee itu egois.
“Apa Kau melakukan segalanya semaumu, dan menginginkan anak-anak juga?” ucap Jae Bok. Jung Hee tak peduli dengan pemikirkan Jae Bok.
“Keadaan akan berubah saat persidangan berakhir.” Kata Jung Hee yakin. Jae Bok menantang kalau itu hanya dalam pikiranya. 


Jung Hee keluar dari kantor bertemu dengan Bong Goo yang baru datang. Bong Goo menyapa dan bertanya tentang  persiapan pengadilannya. Jung Hee mengetahui Bong Go yang menjadi pengacaranya Jae Bok dan mulai mengumpat.
“Aku seorang pengacara.” Tegas Bong Goo tak ingin dipanggil dengan umpatan
“Dasar Bedebah. Aku akan mencari tahu niat mesummu.” Kata Jung Hee
“Aku tidak mesum, tapi Kau mesum dan juga menyembunyikan foto-foto itu.”ucap Bong Goo
Jung Hee terlihat panik, Jae Bok keluar dari pintu melihat keduanya lalu bertanya apa yang sedang mereka lakukan. Jung Hee memperingatkan jae Bok agar Waspadalah terhadap Bong Goo dan Jangan sampai dikhianati.
“Hei,.. Jung Hee. Aku sudah kebal sejak kau mengkhianatiku berkali-kali.” Ucap Jae Bok lalu mengajak Bong Goo masuk karena banyak pekerjaan.
“Maafkan aku.” Ucap Bong Goo dengan nada mengejek karena mendapatkan pembelaan. Jung Hee makin kesal seperti diejek dan melihat Bong Goo dan Jae Bok terlihat akrab saat masuk kamar. 


Jae Bok dan Bong Goo mulai rapat berdua. Bong Goo mengatakan Untuk membantumemenangkan hak asuh, psikopat itu, merka harus membuktikan dia wanita gila dan tidak boleh membiarkan wanita gila membesarkan anak-anak.

Sementara di rumah, Eun Hee duduk tegang dengan ibunya dan seorang pengacara. Nyonya Choi menyakinkan kalau anaknya pernah menerima perawatan psikologis di masa lalu, maka bisa kehilangan hak asuh. Eun Hee mengingatkan ibunya kalau  Itu sudah lama berlalu.
“Aku sudah sembuh dan baik-baik saja.” Kata Eun Hee menyakinkan pengacaranya.
“Tapi penyakit kejiwaan tetap bisa merugikan dalam pengadilan ini.” Kata pengacara 


Bong Goo bertanya Apakah ada catatan tentang perawatan psikologis... Jae Bok yakin Eun Hee sudah menghapus semua catatan tentang perawatan psikologisnya bahkan memalsukan kematian Na Mi jadi pasti Itu hal sepele.
Eun Hee pun mengaku sudah menghapus semua catatan perawatan. Bong Goo pun menganggap semua catatannya hilang, tapi mereka akan membutuhkan hal lain. Misalnya, pengakuan orang terdekat. Jae Bok yakin Tapi ibu Eun Hee dan Jung Hee tidak akan melakukan itu.

“Bagaimana dengan ibunya Jung Hee?” tanya Bong Goo
“Aku sudah berbicara dengannya, tapi aku tidak yakin. Aku tidak bisa memercayainya. Aku yakin dia akan memihak anaknya.” Kata Jae Bok
“Kalau begitu... Kita harus mengatur sebuah situasi yang membuktikan Lee Eun Hee adalah wanita gila.” Kata Bong Goo.
“Rencana agar dia memperlihatkan bahwa dirinya gila.” Kata Jae Bok 


Pengacara pun menyarankan Eun Hee harus mengendalikan emosi sampai pengadilan berakhir karena menurutnya Meskipun tidak ada catatan, mereka bisa mengetahuinya dan Jadi, jika menunjukkan sedikit saja sisi lain diri Eun Hee maka mereka akan berusaha menggunakannya sebagai bukti.
Sementara di ruangan, Jae Bok meminta agar mereka waspada jangan sampai Na Mi tahu soal ini. Bong Goo bertanya apakah itu maksudnya tentang Membangunkan sisi gelap wanita gila itu. Jae Bok mengaku takut Na Mi  akan melakukan hal gegabah lagi.
“Benar. Jika mengetahuinya, dia akan berusaha melakukan sesuatu seolah-olah dia detektif terbaik di dunia.” Komentar Bong Goo. Na Mi akan masuk ke kantor kakaknya bisa mendengar rencana mereka. 

Nyonya Choi pun bertanya pada Eun He apakah bisa mengendalikan sifat pemarahnya. Eun Hee pikir Jangan khawatir karena sudah menunggu sepuluh tahun demi memiliki Jung Hee jadi pasti bisa menanganinya lebih jauh lagi.
“Lalu kenapa kau berbuat begitu waktu itu?” sindir Nyonya Choi. Eun Hee mengingat saat itu berteriak marah tanpa bisa mengontrol emosinya didepan Jae Bok dan pingsan.
“Itu sebelum aku mengetahui perasaan Jung Hee Tapi sekarang tidak lagi. Karena dia sepenuhnya milikku. Aku harus menahan diri dan akan berubah sekarang. Aku akan menjadi Lee Eun Hee yang polos dan ramah. Jadi, jangan menggangguku.” Ucap Eun Hee.
Nyonya Choi hanya diam saja, Ponsel Eun Hee menerima sebuah gambar Na Mi yang sedang berbicara dengan Jung Hee. Eun Hee langsung mengumpat marah. Nyonya Choi tersenyum mengejek kalau Eun Hee masih tak bisa mengontrol emosinya. 


Seorang pria mengambil gambar keduanya, Na Mi seperti sengaja mendekatkan diri pada Jung Hee. Jung Hee bertanya apa yang ingin dikatakan dengan wajah sinis. Na Mi mengatakan hanya ingin memberikan peringatan kalau orang-orang memanggil Jung Hee sekarang “Cinderella.” Dan pasti tahu apa artinya.
“Aku tidak peduli ucapan orang tentangku. Apa Kau menemuiku hanya untuk mengatakan itu?” keluh Jung Hee seperti sudah tak peduli dengan Na Mi

“Yahh.... Lagi pula, berkat Eun Hee, kamu sudah sampai sejauh ini. Kuharap kau akan diakui karena kemampuanmu.” Ejek Na Mi
“Apa Kau mencoba menggodaku lagi?” balas Jung Hee, Na Mi pikir tak ada gunanya mengoda Jung Hee karena  Tidak ada yang membayarnya lagi.
“Orang yang membayarku kini hidup bersamamu.” Kata Na Mi lalu pamit pergi.
Na Mi sempat berhenti kalau Situasi yang menunjukkan bahwa dirinya gila dan akan memancing sifat aslinya yaitu Sifat gilanya.


Bryan berjalan bersama dengan kakaknya yang  ingin memecat Na Mi. Eun Hee merasa kalau Na Mi terus menggoda Jung Hee dan itu mengganggunya. Bryan meragukan itu karena pasti tahu statusnya itu mereka berkencan. Eun Hee pun meminta agar Na Mi pindahkan ke cabang lain maka tidak mau mengganggunya lagi.
“Tolong lakukan itu demi aku Katamu, keinginan terbesarmu adalah membahagiakan kakakmu ini” ucap Eun Hee merengek manja pada adiknya.
“Jadi, Apa Kakak bahagia karena bersama Jung Hee?” tanya Bryan
“Aku merasa paling bahagia dibanding sebelumnya. Aku angat bahagia hingga merasa takut.” Ungkap Eun Hee dengan senyuman sumringah. 

Bong Goo memberikan segelas kopi pada Jae Bok meminta agar Bergembiralah karena akan memenangi pertarungan hak asuh. Jae Bok heran melihat tingkah Bong Goo yang sangat baik kepadanya belakangan ini. Bong Goo juga tak mengerti. Jae Bok ingin mengajukan satu pertanyaan
“Apa misi yang Eun Hee berikan kepadamu? Kalian pasti membuat kesepakatan sebagai balasan untuk mengelola departemen legal.” Kata Jae Bok penasaran
“Jika mendengarnya, kau mungkin marah.” Kata Bong Goo, Jae Bok makin penasaran. Bong Goo masih ingat Eun Hee yang meminta agar  Menggoda Jae Bok.
“Menggoda Jae Bok.” Kata Bong Goo membuka kartunya. Jae Bok  mengumpat marah kalau Wanita jahat itu selalu mencoba menggoda semua orang.

“Coba Lihat? Kau marah. Karena itu, tidak kuberi tahu.” Kata Bong Goo, Jae Bok mengelak kalau  tidak marah.
“Jika sudah membuat kesepakatan, kenapa kau tidak berpura-pura?” tanya Jae Bok. Bong Goo mengejek Jae Bok yang mengharapkan itu.
Jae Bok pun menyuruh Bong Goo agar melawan saja  bahakn akan membuatnya jatuh terguling-guling. Bong Goo memberitahu kaalu Saat ini, seseorang mungkin mengawasi mereka untuk melihat apakah menjalankan misi lalu mengajak untuk memulai misi "Menggoda Jae Bok". Denan memeluk Jae Bok agar terlihat akrab dan Jangan gugup.
Jae Bok terlihat gugup. Bong Goo yang konyol mencoba membayangkan seperti paparazi yang di berjalan di Newyork dan foto mereka diambil. Anak buah Eun Hee pun mengambil foto saat Bong Goo memeluk Jae Bok,  dan mengeluh karean banyak sekali yang harus dipotret.


Eun Hee pun melihat seperti Bong Goo sudah merasa  sedang jatuh cinta, Saat itu Ibu Jung Hee keluar dari rumah dan ingin membuang sampah, Eun Hee langsung mendekatinya. Ibu Jung Hee ketakutan meminta Eun Hee tak mendekat.  Eun Hee mengaku khawatir setelah Ibu mertuanya pergi seperti itu.
“Ibu... Bukankah Jung Hee meminta Ibu untuk akur denganku? Aku bukan Eun Kyung yang dahulu. Aku akan sangat baik kepada Ibu. Tolong beri aku kesempatan.” Kata Eun Hee menyakinkan. Ibu Jung Hee yang ketakutan menyuruh Eun Hee pergi dan bergegas masuk.

Seorang pria memberikan berkas kalau Semua ini aset Lee Eun Hee pada Jung Hee. Jung Hee pun mengucapkan terimakasih  lalu membahas kalau pria itu ingin pindah ke cabang AS. Si pria membenarkan tapi mengetahui kalau di sana sangat kompetitif.
“Itu bukan masalah jika aku mendukungmuu,  Sebagai gantinya, kau harus membantuku sampai akhir. Mengerti?” kata Jung Hee.
“Ya, tentu saja. Akan kuabdikan diriku kepadamu.” Kata Si pria dan Jung Hee pun mempersilahkanya pergi.
“Tapi masih ada kekurangan pada detail properti Eun Hee. Aku akan mengerjakannya lagi dengan lebih teliti.” Kata si pria. Jung Hee menganguk mengerti. 

Ibu Jung Hee keluar dari rumah dengan wajah ketakutan, Eun Hee tiba-tiba sudah datang menghampirinya, Ibu Jung Hee kaget melihat Eun Hee ynag masih belum pergi. Eun Hee langsung berlutut di didepan ibu Jung Hee memohon maaf dan meminta agar menerimanya sebagai menantu.
“Kenapa kau... membuatku malu.” Ucap Ibu Jung Hee lalu membantu Eun Hee agar bangun.
“Ini sebuah tanda permohonan maaf.” Kata Eun Hee memberikan sebuah amplop l
Ibu Jung Hee hanya menatapnya. Eun Hee memberitahu kalau isinya sebuah kunci  apartemen seluas 192 meter persegi. Jika Ibu Jung Hee bisa memaafkannya maka surat tanahnya akan kuberikan atas nama Ibu mertuanya. Ibu Jung Hee menegaskan kalau tak akan berpengaruh dan menyuruhnya pergi
“Jika Ibu menerimaku sebagai menantu, maka aku akan sangat baik kepada Ibu” kata Eun Hee lalu meninggalkan amplop pada Ibu Jung Hee dan buru-buru pergi.
Ibu Jung Hee berteriak kalau agar membawanya, lalu melihat kunci apartment dan mulia gundah karena  Tempat ini luar biasa mahal di "Royal Lakeville” dengan 192 meter persegi.
Jin Wook dan Che Ri berjalan keluar dari sekolah,  Jin Wook kaget melihat Eun Hee datang ke sekolah. Che Ri pun bertanya dengan sinis alsan Eun Eun Hee datang. Eun Hee pun meminta agar meninggalkan mereka berdua.  Che Ri menegaskan tidak bisa melakukan itu karena Bibi Jae Bok memintanya melindungi Jin Wook
“Terutama jika Bibi "Enyah" muncul jadi Bicaralah di sini. Aku tidak akan mendengarkan.” Kata Che Ri menuntup satu kupingnya.
“Kenapa kau tidak berkunjung lagi? Bibi sangat merindukanmu Begitu juga ayahmu.” Ucap Eun Hee bersikap ramah dengan senyuman.
“Bibi Lee... Bukankah Bibi marah kepadaku? Kenapa Bibi tiba-tiba berubah?” kata Jin Wook mengingat saat Eun Hee mengatakan manja karena meminta dibuatkan cemilan.
“Sebenarnya, bibi kurang sehat waktu itu.”kata Eun Hee mencari alasan.
“Teganya Bibi berbuat begitu kepada anak kecil, Apa hanya karena merasa kurang sehat? Lalu pada hari itu, Bibi pergi bersama neneknya.” Sindir Che Ri

Eun Hee sempat melirik sinis tapi akhirnya meminta maaf dan berjanji akan bersikap baik dan meminta Jin Wook agar datang bermain,  dengan memberitah kalau baru saja membeli gitar baru dan pengeras suara dengan Merek yang sesuai keinginannya. Jin Wook langsung sumringah seperti terpada. Che Ri pun menyadarkanya.
“Datanglah saat kamu punya waktu, Bibi akan menunggu.” Ucap Eun Hee keluar dari sekolah berjalan ke mobil
“Aku mendengar dari ibuku betapa mudahnya para pria terbuai, tapi kau payah sekali. Kau masih muda. Ada apa denganmu?” keluh Che Ri. Jin Wook pikir tak ada yang salah denganya, saat keluar dari sekolah senyumanya pun di lihatkan pada Eun Hee.

Sam Kyu masuk ke sebuah restoran dan melihat menu makanan dan menjerit saat melihat harganya yang semuanya mahal sekali. Ketika akan pergi, Won Jae sudah datang melambaikan tangan. Sam Kyu akhirnya duduk kembali.
“Sudah lama tidak memakai korset. Aku tidak bisa bernapas.” Gumam Won Jae sebelum menghampiri Sam Kyu untuk berkencan.
“Tempat ini luar biasa mewah.” Komentar Sam Kyu sambil berpikir caranya agar bisa keluar dari restoran. Tiba-tiba ia seperti merasa tersedak yang membuat Won Jae sedikit panik.
“Aku alergi kerang-kerangan dan Baunya saja sudah menyulitkanku.” Kata Sam Kyu
Won Jae mengingat perkataan Hye Ran “Apa Kau tahu betapa murahannya Sam Kyu? Aku yakin ketertarikanmu akan hilang.” Lalu ia dengan senyuman mengatakan akan membayar semuanya, jadi memintanya agar kembali duduk. Sam Kyu pun bisa tenang dan duduk kembali.  Won Jae memberitahu Menu set di restoran ini sangat enak.

Hye Ran tiba-tiba sudah ada disamping Won Jae, membahas kalau temanya iu akan membayar semuanya.  Won Jae dengan sinis bertanya Untuk apa Hye Ran datang. Hye Ran menegaskan  datang untuk makan bersama mantan pacar dan teman seumur hidupdan tahu kalau mereka pasti ada restoran ini
“Kalian harus mencari restoran lain. Kau sangat mudah diprediksi.” Komentar Hye Ran dan ingin makan banyak dengan memesan lobster.
Sam Kyu makan dengan lahap lobster ukuran besar, Hye Ran pun dengan senang hati mengajak Sam Kyu makan bersama hanya Won Jae terlihat cemberut.
“Kenapa kau tidak makan?” ucap Hye Ran tanpa rasa bersalah pada Won Jae.
“Kau saja, temanku tersayang.” Kata Won Jae kesal 

Eun Hee menelp Bryan menanyakan tentang foto ternyata, tak ada pada adiknya. Bryan bertanya Apakah foto-foto itu di lantai tiga. Eun Hee pun bertanya-tanya kalau bukan adiknya maka siapa yang mengambil semua foto-foto itu.
“Untuk apa aku masuk ke ruangan itu? Aku tahu itu ruangan rahasia Kakak.” Kata Bryan.
Eun Hee makin bertanya-tanya lalu mengintat saat Jung Hee bertanya Eun Hee, apakah ada foto-foto di sana sebelumnya” lalu menduga Jung Hee yang melakukanya. 

Eun Hee akhirnya menelp Tuan Ha, agar melakukan sesuatu sekarang. Jung Hee sedang berjalan dengan sekertarisnya. Na Mi melihat dan ingin mendekat tapi langkahnya dihalangi Bryan dan langsung menariknya untuk pergi. Na Mi binggung kemana Bryan akan membawanya.
“Hentikan.... Jika kau terus begini, maka aku akan memecatmu.” Ucap Bryan mengancam
“Apa ini mengenai aku menggoda Jung Hee lagi? Jangan cemas. Aku punya harga diri.” Ucap Na Mi menyangkal, tapi Bryan sudah tahu dibalik sifat Na Mi
“Baiklah, aku akan berhenti. Jadi, kumohon jangan pecat aku. Aku juga harus mencari nafkah.” Rengek Na Mi memegang tangan Bryan. 

Saat itu Bong Goo lewat melihat adiknya dan berjalan mendekat, Bryan langsung melepaskan tangan Na Mi, dan langsung buru-buru pergi. Bong Goo mengumpat Bryan itu tak punya sopan santun karena pergi begitu saja.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Na Mi, Bong Goo kesal Na mi menanyakan hal itu karena sudah pasti alasanya untuk menjemputnya. Na Mi tersentuh mendengarnya.
“Dasar pembuat onar yang tidak tahu malu.” Ejek Bong Goo sambil mengelus kepala adiknya dan mengajak pergi. 

Na Mi naik ke dalam mobil mengaku sangat beruntung karena diantarkan pulang dan melihat Jeruk clementine diatas dasbord dan memakanya, lalu bertanya  Dari mana Bong Goo mendapatkannya. Bong Goo mengaku Ada di kantor dan Sam Kyu pasti membawanya.
“Kau tidak menemui Jung Hee lagi, kan?”kata Bong Goo memastikan adiknya
“Kenapa semua orang menceramahiku hari ini?” keluh Na Mi, Bong Goo menduga kalau orang lainya itu Bryan.
“Jung Hee telah kehilangan akal sehatnya. Jadi, lupakan saja dia dan hiduplah dengan tulus, mengerti?” pesan Bong Goo, Na Mi mengangguk mengerti. Bong Goo meminta jeruk yang sudah dikupas Na Mi, tapi saat memakanya mengernyit karena rasa asam. 

Tuan Ha datang memberikan ponsel baru dan sudah membuat tiruan ponsel Jung Hee jadi bisa melacak, mendengarkan, dan melihat pesan teksnya. Jun Hee datang, Tuan Ha langsung pergi dan Eun Hee langsung menyembunyikanya dan menyapa Jung Hee dengan senyuman.
“Apakah hal baik terjadi? Kau tampak bahagia.” Komentar Jung Hee. Eun Hee pikir itu karena Jung Heepulang lebih awal.
“Mandilah, lalu ke lantai bawah Aku membuatkan banyak makanan.” Kata Eun Hee. Jung Hee mengangguk mengerti. 

Keduanya makan di meja makan yang besar dan hanya berdua. Eun Hee sengaja memancing denga bertanya kabar Na Mi belakangan ini. Jung Hee mengaku tak tahu karena mereka berbeda departemen. Eun Hee pun bertanya apakah Na Mi tidak datang menemuinya.
“Aku tidak mau membicarakan hal itu, kecuali jika kau tidak memercayaiku.” Tegas Jung Hee. Eun Hee mengaku bukan seperti itu dan menyuruh Jung Hee makan kembali.
Nyonya Choi datang membawakan  Galbi-jjim yang baru matang, Jung Hee terdiam melihat potongan daging besar dan banyak diatas meja, matanya berkaca-kaca seperti mengingat sesuatu. 

Flash Back
Jung Hee dan anak-anaknya sudah ada direstoran daging dengan menu yang sama dirumah Eun Hee, Jin Wook ingin makan lebih dulu. Jung Hee menahanya karena ibu mereka belum datang.  Jae Bok pun datang sambil mengeluh suaminya yang tiba-tiba mau makan galbi.
Jin Wook pun meminta izin agar bisa makan karena ibunya sudah datang. Jae Bok pun menyuruh anaknya makan lebih dulu. Jin Wook dan Hae Wook terlihat senang makan daging.
“Kau sangat lelah belakangan ini, Pengacara Kang Bong telah menyusahkanmu.” Ucap Jung Hee
“Dwaeji-galbi juga tidak apa-apa. Kita nyaris tidak bisa membiayai pengeluaran bulan ini.” Kata Jae Bok khawatir.
“Aku menggunakan tunjangan tabunganku untuk membayar ini. Jadi, jangan khawatir dan makanlah.” Kata Jung Hee.
Jae Bok pikir suaminya ingin makan ingin dan bisa menghasilkan lebih banyak uang. Jin Wook meminta agar bisa menambah lagi karena itu porsinya hanya cukup untuk dua orang. Jae Bok seperti kasihan melihat anaknya dan menyuruh agar memesan lagi karena akan membayar sisanya. 

Jung Hee terdiam seperti memikirkan anaknya yang dulu tak bisa makan daging, sementara didepanya ada banyak daging dan harus makan sendiri. Eun Hee dengan gaya ramhanya akan memisahkan tulangnya untuk calon suaminya. Jun Hee mengaku  tidak enak badan dan ingin berbaring lalu bergegas pergi dari ruang makan.

Jae Bok kaget menerima telp dari Jung Hee, kalau Sudah bilang tidak bisa menemui anak-anak sesukanya. Jun Hee mengatakan  ingin membelikan mereka makanan enak dan akan datang sekarang, jadi meminta agar membawa anak-anak turun. Jae Bok menegaskan kalau Jung Hee tidak bisa membawa mereka ke luar dan langsung menutup telpnya.
Eun Hee mendengar percakapan Jung Hee dari balik dinding, Jung Hee menuruni tangga dan kaget melihat Eun Hee sudah dibawa lalu bertanya mau pergi kemana. Jung Hee dengan gugup mengaku Ada yang harus dikerjakan di kantor dan akan segera kembali.
Eun Hee ingin marah tapi mengingat ucapan pengacaranya “Kau harus mengendalikan emosi sampai pengadilan berakhir.”  Akhirnya pun mempersilahkan Jung Hee pergi dengan mengendalikan amarahnya. 

Jin Wook baru saja pulang melihat adik dan Che Ri sedang mengambar. Jae Bok pun menyuruh Jin Wook agar mencuci atangan dan mereka akan segera makan malam, lalu dikagetkan dengan melihat Jung Hee ada didepan pintu masuk.
“Ayah menjemputku dari tempat kursus.” Ucap Jin Wook, Hae Wook melihat ayahnya datang langsung memeluknya. Jae Bok pun seperti tak tega mengusirnya karena Hae Wook seperti merindukan ayahnya. 

Mereka pun makan bersama dengan Che Ri, Jung Hee pun menyuapi Hae Wook ikan tanpa duri. Hae Wook memberikan Telur gulung pada Jung Hee selalu mengingatkan pada Ayahnya. Jung Hee tersenyum mendengarnya, Jae Bok hanya menatap keduanya seperti kasihan.
Sementara Eun Hee duduk sendirian di meja makan seperti berusaha menahan amarahnya, tapi akhirnya melempar semangkuk daging ke lantai dan pergi. Nyonya Choi berteriak memanggilnya tapi Eun Hee lebih dulu pergi. 

Jin Wook memuji masakan Doenjang-jjigae buatan Ibunya memang yang terbaik. Hae Wook pun menyuapi anaknya, wajah keluarga bahagia pun terlihat di meja makan.  Jung Hee mengaku kaalu Rasanya tambah lezat karena Hae Wook menyuapinya.  Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan Eun Hee yang sudah masuk ke dalam rumah. Jae Bok kaget melihat Eun Hee yang bisa masuk.  Eun Hee mencoba mengontrol emosi mengaku Pintunya terbuka.
“Apa Bibi tahu kode pintu rumah kami?” ucap Che Ri, Jin Wook langsung tertunduk. Che Ri bisa tahu kalau Jin Wook yang memberitahu.
Jae Bok pun menyuruh Jung Hee untuk pergi, Hae Wook menahan tangan ayahnya agar tak pergi. Jae Bok memberikan pengertian pada Hae Wook kalau ayahnya harus pergi karena harus kembali untuk bekerja. Hae Wook pun menahan rasa sedihnya melihat ayahnya yang pergi.

“Hei.. Eun Hee... Bukankah seharusnya kau minta maaf karena menyusup seperti itu?” tegas Jae Bok
“Maafkan aku. Ini sangat mendesak.” Kata Eun Hee.
Jae Bok balik bertanya apa yang membuatnya seperti  sangat mendesak da apakah itu Karena ia sangat marah. Eun Hee hanya diam saja. Jae Bok memperingatkan Jangan menanyakan kode kepada anak-anak lagi dan Jika kau melakukannya, maka akan melaporkannya. Eun Hee mengangguk mengerti lalu keluar bersama dengan Jung Hee. 

Jung Hee keluar rumah sambil mengeluh sikap Eun Hee yang keterlaluan, karena tidak pernah bertingkah seperti itu. Eun Hee dengan wajah sinis merasa kalau selama makan bersama denganya, Jung Hee tidak pernah tertawa seperti itu, bahkan tidak pernah sekali pun tertawa dengan sangat bahagia.
“Itu karena aku sudah lama tidak makan bersama mereka.” Ucap Jung Hee.
“Kenapa kau berbohong? Katamu, kau harus pergi ke kantor. Kenapa kau membohongiku dan datang kemari?” tanya Eun Hee
“Ada apa denganmu? Kenapa kau menguping di telepon?” kata Jung He marah
“Karena aku tahu kau akan berbohong seperti ini.” Kata Eun Hee. Jung Hee tahu kalau Eun Hee pasti akan marah dan tidak membiarkannya pergi.
Eun Hee merasa kalau Jung Hee berpura-pura tidak tahu siapa  dirinya agar bisa memanfaatkannya, lalu berpura-pura mencintainya agar bisa menikah, mengambil uangnya dan meninggalkannya. Ia pikir Jung Hee itu  sudah mengelabuinya.
“Eun Hee, kau sudah kelewatan. Apakah salah bagi seorang ayah untuk menemui anak-anaknya?” ucap Jung Hee marah
“Lalu kenapa kau membohongiku? Aku mempercayaimu. Kenapa kau berbohong dan datang ke sini? Aku sangat marah, tapi kutahan. Bagaimana kau bisa berbohong?” kata Eun Hee
“Tapi Tetap saja, bagaimana kau bisa datang kemari? Katamu, kamu sudah berubah. Katamu, kau bukan Eun Kyung. Kalau begini, siapa yang akan menganggapmu berpikiran sehat?” kata Jung Hee
Eun Hee makin marah karena dianggap dirinya tak memiliki pemikiran yang sehat dan juga seorang psikopat, Jung Hee pikir kalau Eun Hee terus bersikap sepertii ini maka.. Eun Hee langsung memberikan tamparan diwajah Jung Hee dan langsung  memperlihatkan sifat asilnya dengan menyuruh Jung Hee diam sambil mengumpat. 


“Beraninya kamu berkata begitu kepadaku.” Ucap Eun Hee, Jung Hee tak percaya kalau Eun Hee baru saja menamparnya.
Sementara Jae Bok sudan merekam dengan ponselnya dan mengatakan kalau itu Bukti nomor satu yaitu Lee Eun Hee, yang tidak bisa mengendalikan amarah dan memiliki masalah obsesi dan Koo Jung Hee, yang akan menikahinya , tidak layak mendapatkan hak asuh anak-anak seperti yang diperlihatkan dalam video. Jung Hee dan Eun Hee kaget mendengarnya.
Eun Hee langsung ingin merampas mengambil ponsel dari tangan Jae BOk dengan kasar. Jae Bok bisa menahan tangan Eun Hee untuk tak bertindak kasar, Jung Hee pun memeluk Eun Hee agar bisa menahanya. Jae Bok menegaskan tak ingin memberikanya. Tapi Eun Hee tetap ingin Jae Bok memberikan ponsel itu.
“Aku sudah melarangmu melakukan ini.” Kata Jae Bok, Eun Hee tetap tak bisa mengontrol emosinya menyuruh Jae Bok agar memberikan ponselnya.
“Lee Eun Hee, makin marah dirimu, makin buruk keadaannya bagimu. Mengerti?” ucap Jae Bok memberikan ancaman dengan mata melotot
Bersambung ke episode 16

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

4 komentar:

  1. terima kasih mba atas sinopsis nya.. di tunggu sinopsis ep 16 nya. semangat ya nulisnya..

    BalasHapus
  2. Bolak balik di buka lom ada yg baru recapan sinop ny mba dee... Sehat terus yahh..

    BalasHapus