Selasa, 18 April 2017

Sinopsis Ms Perfect Episode 15 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Eun Hee yang ketakutan mengatakan akan pergi dan melakukan karena hanya terlalu mencintai Jung Hee sehingga bersikeras serta tidak bisa melupakan dia. Ia meminta maaf pada Jae Bok dan juga Jung Hee kaena  terlalu mencintainya.
“Eun Hee... Tutup mulutmu.... Yang keluar dari mulutmu hanyalah dusta. Jadi, tolong tutup mulutmu. Dan kini, enyahlah dari kehidupan keluargaku.” Ucap Jae Bok tak bisa menahan amarahnya lagi. Jung Hee hanya diam saja.
“Jung Hee.. Aku melakukan ini bukan untuk kembali bersamamu tapi karena tidak bisa membiarkanmu melompat ke jurang. Pindahlah dan buka lembaran baru. Jangan menjadi ayah yang memalukan bagi Jin Wook dan Hae Wook.” Kata Jae Bok
“Memangnya Kenapa? Apa yang memalukan dariku? Aku terkenal dan menjadi kepala direktur. Apa Mempunyai kekayaan dan kehormatan dianggap memalukan?” ucap Jung Hee berdiri dari kursi, Jae Bok kaget dengan reaksi Jung Hee begitu juga Eun Hee.
“Dahulu, aku membuatmu malu, karena aku culun dan tidak berkompeten. Apa Kau terganggu jika aku sukses dan hidup bahagia?” ucap Jung Hee menyindir. Jae Bok merasa Jung Hee sudah gila.
“Siapa peduli jika dia Moon Eun Kyung? Apa salahnya sedikit berbohong? Dia melakukannya demi cinta dan Eun Hee akan menjadi istriku. Jadi Apa urusanmu?” kata Jung Hee menarik dan memeluk erat Eun Hee.


Eun Hee tak percaya mendengarnya sementara Jae Bok benar-benar merasa Jung Hee sudah buta dan menyuruh aga membuka mata. Dibelakang mereka ibu Jung Hee datang terlihat shock langsung mendengar semua pembicaraan. Eun Hee mencoba mendekat tapi Ibu Jung Hee terlihat ketakutan meminta agar tak mendekat.
Jae Bok akhirnya mendekati mantan ibu mertuanya, Ibu Jung Hee memanggil Eun Hee dengan julukan “nenek sihir” menyuruhnya pergi dan saja dan tahu kalau Eun Hee adalah Moon Eun Kyung, sampai-sampai  tidak menyadarinya.
“Jung Hee, Apa kau baik-baik saja? Bagaimana bisa kau baik-baik saja saat wanita gila itu kembali?” ucap Ibu Jung Hee khawatir. Eun Hee memalingkan wajahnya seperti menahan amarah.
“Aku baik-baik saja” ucap Jung Hee. Eun Hee berusaha menndekat dan menenangkan calon ibu mertuanya. Tapi Ibu mertuanya langsung menyuruh Eun Hee tak mendekat padanya dengan wajah ketakutan sampai akhirnya jatuh lemas. Jae Bok dan Jung Hee akhirnya saling membantu. 


Bong Goo baru sampai rumah,  Nyonya Choi datang melihat Bong Goo bertanya dengan sinis. Bong Goo menyapa dengan gayanya meminta agar dibukakan pintunya. Nyonya Choi kembali bertanya alasan harus membuka pintu.
“Surat penyelidikan untuk Anda atas percobaan pembunuhan akan sangat membantu, tapi itu bukan bidangku. Aku ingin bertemu dengan Jae Bok.” Ucap Bong Goo. Nyonya Choi pun akhirnya membuka pintu rumah. Bong Goo dengan senyumannya mengucapkan terimakasih. 

Jae Bok melonggo tak percaya kalau Ingatan Jung Hee sudah kembali, karena Menurut Ibunya Jung Hee hilang ingatan setelah shock  dikarenakan Eun Hee. Jung Hee mengaku belakang ini, ingatanya  kembali. Jae Bok tak percaya dengan tingkah Jung Hee seperti tidak tahu.
“Kini Eun Hee sudah lebih baik dan Dia akan baik-baik saja.” Ucap Jung Hee yakin. Jae Bok pikir itu yang diharapkan Jung Hee.
“Baiklah. Jika kau ingin masuk ke sumur, Aku tak bisa berbuat apa-apa.   Lakukan sesukamu. Hubungan kita sungguh telah berakhir. Kau tidak bisa menemui anak-anak semaumu lagi.” Tegas Jae Bok. Jung Hee kaget mendengarnya.
“Apa hakmu melakukan itu ?” ucap Jung Hee menantang, Jae Bok menegaskan ia punya hak menjadi ibu mereka dan juga punya hak asuh dan berjalan pergi
Jung Hee berkata kalau mengenai hal itu harus merevisinya dan tidak bisa menyetujuinya.  Jae Bok  kali ini yang kaget membalikan badanya. Jung Hee mengaku lebih unggul secara finansial  untuk membesarkan anak-anak jadi tidak akan membiarkan anak-anak hidup miskin dengan Jae Bok. Jae Bok yang mendengarnya merasa Jung Hee benar-benar sudah gila.
“Pikirmu kau pantas menjadi seorang ayah?”ucap Jae Bok
“Kau melarat dan tinggal di rumah temanmu dan membuat anak-anak menderita. Apa itu membuatmu pantas?” ucap Jung Hee membalas
“Aku tidak melarat. Aku menyewa lantai dua di sini dan mampu membayarnya.  Serta, setelah ini diurus di pengadilan, maka aku akan menghalalkan segala cara. Aku akan meminta tunjangan sebesar mungkin darimu. Kau tidak akan bisa menang melawanku.” Tegas Jae Bok menantang. Jung Hee seperti sedikit panik mendengarnya.  


Bong Goo keluar dari rumah bersama Jae Bok, bercerita kalau Saat Sam Kyu memberitahunya maka merasa khawatir dan langsung datang. Jae Bok merasa Bong Goo berpikir mereka itu akan melakukan sesuatu padanya.
“Kau memasuki kapal musuh sendirian. Tentu, aku khawatir.” Ungkap Bong Goo. Jae Bok pun mengucapkan  Terima kasih telah mencemaskannya dan menyuruhnya pergi sekarang.
“Ayo kita pergi bersama.” Kata Bong Goo. Jae Bok mengak kalau ingin pulang.  Bong Goo meraih tangan Jae Bok dan melihat tanganya yang gemetar.
Akhirnya Ia pun mendorong Jae Bok untuk duduk di kursi penumpang dan ia yang akan menyetir mobilnya, sebagai balasan karena Jae Bok yang dulu menyupir juga mobilnya.  

Nyonya Choi membahas kalau Jung Hee telah mengetahui segalanya dan berlagak tidak tahu. Eun Hee membenarkan dengan wajah bahagia merasa Jung Hee sekarang pasti sangat mencintaiknya dan Pengorbanannya selama bertahun-tahun telah terbayarkan.
“Apa Kau yakin tidak ada udang di balik batu?” ucap Nyonya Choi curiga.


Jung Hee mengantar ibunya sampai dirumah dan menyakinkan kalau keadaanya  baik-baik saja dan sudah memutuskan. Ibu Jung Hee bertanya apa yang sudah diputuskan, merasa tak percaya kalau anaknya hidup dengan wanita gila itu.
“Ibu, jika aku berhati-hati, Eun Kyung bukanlah masalah. Aku benar-benar tahu cara mengendalikan dia.” Kata Jung Hee yakin
Sementara Eun Hee memperingatkan ibunya agar Jangan bicara seperti itu soal Jung Hee, lalu menyindir ibuna mungkin cemburu karena kini dirinya bahagia dan punya hak untuk berbahagia. Nyonya Choi memanggil nama Eun Hee dengan Eun Kyung.
“Kubilang, jangan panggil aku itu. Aku merinding setiap kali Ibu memanggilku begitu. Itu mengingatkanku pada masa lalu.” Tegas Eun Hee merasa muak. 

Jung Hee memegang tangan ibunya menyakinkan kalau akan mengatasinya. Dan akan menikahi Eun Hee dan membangun jabatan untuk dirinya dan  akan berjuang dan bertahan di sana.
“Aku bukan Moon Eun Kyung lagi, Aku akan dicintai Jung Hee dan hidup bahagia sebagai Lee Eun Hee.” Ucap Eun Hee pada ibunya.
“Bukalah matamu. Tahukah kau apa kelemahan terbesarmu? Kau lupa dengan tujuanmu saat di depan Jung Hee. Kau sudah buta.” Kata Nyonya Choi memperingati. Eun Hee tak peduli karena ingin mandi menyuruh ibunya segera keluar dari ruangan. 

“Dahulu, hidup kita teratur. Kita sangat bahagia. Aku akan mencari kekayaan dan kehormatan lagi.” Ucap Jung Hee menyakinkan ibunya.
Ia mengubah kalimat kalau  akan hidup lebih baik lagi Lalu,akan menafkahi Jin Wook dan Hae Wook sebaik mungkin. Maka dari itu meminta ibunya agar juga menjadi kuat dan butuh dua tahun. Tapi ia merasa  kalau Setahun sudah cukup. Ibu Jung Hee merasa kasihan pada anaknya yang harus melakui semua ini. Jung Hee meminta ibunya agar mempercayainya. 

Jae Bok duduk sambil melamun menatap keluar jendela mengingat perkataan Jung Hee “Siapa peduli jika dia Moon Eun Kyung? Apa salahnya sedikit berbohong? Dia melakukannya demi cinta. Eun Hee akan menjadi istriku.” Sambil memeluknya tanpa ragu.
“Karena kau sedang sedih, ayo kita lihat bunga sakura.” Ajak Bong Goo melihat Jae Bok hanya termenung sedih. 

Keduanya berjalan di malam hari dengan bunga sakura yang berguguran Bong Goo melihat Bunganya benar-benar bersemi. Jae Bok pun mengucapkan Terima kasih pada Bong Goo. Bong Goo merasa ia  yang harus berterima kasih. Jae Bok balik bertanya berterimakasih untuk apa.
“Sup rumput laut.” Akui Bong Goo, Jae Bok pikir Bong Goo  tidak menyukainya.
“Aku belum pernah mencoba sup rumput laut dan mengatakan itu tanpa alasan. Jadi Aku tidak tahu harus bagaiman saat sedang emosional. Aku belum pernah merasa tersentuh. Dan juga, maafkan aku. Soal wanita yang membuat keributan di kantor...” kata Bong Goo
“Tapi Bukan itu masalahnya. Aku hanya tidak setuju dengan prinsip hidupmu.” Kata Jae Bok
“Apa Kau menyukai yang lainnya? Apa skorku sudah hilang banyak? Tidak bisakah kau sedikit menambahkan skorku? Aku banyak berbuat baik hari ini dan datang seperti pasukan penyelamat barusan dan melindungimu dari samping.” Kata Bong Goo mencoba mengodanya.
“Baiklah. Awalnya kau kehilangan 30 poin, tapi akan kukembalikan 10 poin.” Kata Jae Bok, Bong Goo pikir itu sedikit sekali dan merengek meminta menambahkanya. Jae Bok menolak dan berjalan pergi. Bong Goo pun terus merengek mengikutinya. 


Won Jae sedang mencoba kursi pijat dan merasa sangat menyaman, dengan mata terpejam mengingat saat Sam Kyu mengodanya dengan memuji tanganya yang  lembut sekali lalu berusaha mendekat. Tiba-tibba kursi pijat memberikan pijatan yang kencang. Won Jae membuka mata dan melhat Hye Ran sudah ada disampingnya sambil mengejek apakah menyukai pijatan yang dibuatnya.
“Seluruh tubuhmu pasti luluh karena cinta. Yang kau lihat di bukumu hanyalah Hong Sam Kyu.” Kata Hye Ran mengejek dengan mengambil buku dari tangan Won Jae.
“Kau terus membuatku jengkel belakangan ini. Karena sedang membahasnya, ayo kita meluruskan segalanya.” Tegas Won Jae. Hye Ran pun bertanya Meluruskan apa maksudnya.
“Kau dan Tuan Hong sudah putus, dan Kau menggoda pelatih lain belakangan ini, kan?” kata Won Jae menekankan.
“Hei, bukan aku yang memulainya tapi Dia yang pertama mendekatiku. Dia masih muda, tapi seleranya bagus.” Komentar Hye Ran bangga
Won Jae pikir kalau itu artinya Hye Ran  sudah mencampakkan Sam Kyu,  Hye Ran melihat Sam Kyu itu miskin dan masa depannya tidak cerah serta menyedihkan. Won Jae pikir masalah selesai dan Sam Kyu  akan menjadi miliknya. Hye Ran kaget mendengarnya. Won Jae pun mengeluarkan ponselnya.
“Profesor Kim. Ada apa menelepon malam-malam?” tanya Sam Kyu yang tidur di kantor.
“Aku ingin mengajakmu berpacaran secara resmi. Ayo kita berpacaran.” Kata Won Jae terus terang. Sam Kyu kaget dan Hye Ran duduk disamping Won Jae berteriak marah dan mengambil ponsel dari tangan Won Jae.
“Hei, Sam Kyu. Jika kau memacari Won Jae, aku akan membunuhmu.” Teriak Hye Ran mengancam, Won Jae pun ingin mengambil ponselnya kembali merasa Hye Ran itu terobsesi sekali.
Sam Kyu kebingungan akhirnya berpura-pura kalau hilang sinyal dantak terdengar suaranya, lalu mematikan ponselnya. Ia terlihat bahagia mengetahui Profesor Kim memintanya berpacaran, karena sangat menyukai wanita yang kaya. 


Keduanya saling berebut ponsel seperti anak kecil sampai Che Ri melihat keduanya. Won Jae kaget melihat Che Ri. sudah bangun. Che Ri berkomentar kalau bisa paham dengan ibunya yang mengatakan kalau Bibi Hye Ran kalau mirip dengan Eun Hee. Hye Ran langsung melotot tajam.
“Che Ri, sudah ibu bilang, jangan menguping pembicaraan orang dewasa.” Kata Won Jae menasehati anaknya.
“Ibu, haruskah dia orangnya? Haruskah Ibu mempertaruhkan pertemanan selama 20 tahun demi dia?” kata Che Ri
“Mestinya Che Ri menjadi kakakmu.” Komentar Jae Bok mendengar Che Ri yang bicara dengan sangat dewasa sekali. Won Jae langsung berdiri bertanya bagaimana tadi. Jae Bok mengaku sudah mengurus segalanya.

Ketiganya duduk diruang tengah, Hye Ran yang mendengarnya merasa Jun Hee sudah gila karena tidak peduli wanita itu adalah Moon Eun Kyung. Won Jae merasa sepertinaik darah mengetahui Jung Hee yang ingin merevisi masalah hak asuh dan menurutnya itu  Tidak boleh.
“Kubilang, silakan saja, tapi bagaimana jika aku benar-benar menyerahkan anak-anak pada Eun Hee?” ucap Jae Bok khawatir.
“Itu Mustahil. Bagaimana mungkin dia membesarkan Jin Wook dan Hae Wook? Dia bukan orang yang bisa membesarkan anak-anak. Dia akan segera membuka topengnya. Itu pasti akan sangat berbahaya.” Ucap Hye Ran
“Kau benar. Eun Hee tipikal orang yang menghalalkan segala cara demi tujuannya. Aku harus tetap fokus. Aku tidak bisa membiarkan mereka merebut anak-anak.” Kata Jae Bok benar-benar harus kuat. 


Jung Hee kembali ke rumah, sedikit kaget meliha sosok Eun Kyung yang tersenyum di depanya. Tapi setelah menyadarinya yang di lihatnya adalah Eun Hee. Eun Hee menyambut Jung Hee pulang bertanya  sudah mengantarkan Ibu. Jung Hee mengangguk.
“Jung Hee... Kenapa kau bertingkah seakan-akan tidak mengenaliku? Kau sudah tahu bahwa aku adalah Moon Eun Kyung. Sebenarnya, aku agak malu. Selama ini, aku menganggapmu tidak mengenaliku.” Ungkap Eun Hee dengan wajah tersipu malu tapi menurutnay Jung Hee juga jahat sekali.
“Menurutku, akan canggung jika aku memberitahumu. Semua itu masa lalu. Kini aku mulai menyukaimu. Jadi, tidak ada alasan untuk memberitahumu.” Kata Jung Hee. Eun Hee langsung memeluk erat Jung Hee merasa kalau dirinya sangat bahagia sama seperti Jung Hee.
“Omong-omong, Apa kau sudah melihat sesuatu di lantai tiga?” tanya Eun Hee. Jung Hee mengingat saat melihat foto dirinya yang dikumpulkan oleh Eun Hee, lalu berpura-pura bertanya foto apa maksudnya.
“Itu Hanya sesuatu.” Kata Eun Hee. Jung Hee berbohong kalau tak melihatnya. Eun Hee pun percaya menyuruh Jung Hee segera mandi.
“Ayo kita berpesta hari ini. Dalam rangka merayakan cinta kita. Bagaimana menurutmu?” kata Eun Hee memegang erat tangan Jung Hee. Jung Hee pun tak bisa menolak walaupun terlihat seperti terpaksa. 


Ibu Jung Hee duduk diam  sambil bergumam kalau “Moon Eun Kyung telah kembali, si Wanita mengerikan itu telah kembali.” Teringat kembali dengan masa lalunya.
Flash Back
Ibu Jung Hee berada dirumah sakit merawat anaknya, Jung Hee terbangun dari tidurnya, Ibunya pun memastikan kalau Jung Hee bisa mendengar dan melihatnya. Tapi Jung Hee malah histeris melihat ibunya, berteriak “Jangan mendekat, Moon Eun Kyung!” Ibunya mencoba menyadarkan tapi Jung Hee seperti trauma tetap berteriak histeris melihat ibunya Eun Kyung.
“Jung Hee-ku yang malang. Mana bisa dia hidup dengan Moon Eun Kyung setelah saat itu sangat ketakutan? Putraku yang malang.” Ungkap Ibu Jung Hee menangisi keadaan anaknya. 

Jung Hee pergi ke taman, Eun Hee sudah mempersiapkan semuanya dan menuangkan wine dan juga memutar musik lalu mengajak Jung Hee berdansa. Jung Hee pun mengikuti kemauan Eun Hee dengan wajah terpaksa.
“Jung Hee, terima kasih telah menerimaku Dan memaafkanku” ungkap Eun Hee bahagia. Jung Hee pikir itu tidak masalah untuknya.
“Aku menyesal selama bertahun-tahun. Aku tidak bisa tidur dan menyiksa diriku. Aku sungguh menyesal karena telah menyiksamu saat itu.” Ungkap Eun Hee
“Lebih baik jangan membahas itu. Masa depan lebih penting. Kita akan hidup bahagia mulai kini.” Kata Jung Hee.
“Aku akan bersikap baik kepadamu. Aku tidak percaya kau menerima cintaku. Ini bagaikan mimpi. Kini aku bisa mati dengan bahagia.” Akui Eun Hee lalu menari-nari dengan guguran bunga yang bertebaran. Jung Hee hanya diam saja melihat tingkah Eun Hee yang tak masuk akal. 

Jae Bok melihat buku tabungan diatas tempat tidur. "Saldo: 2.571 dolar, Saldo: 1.433 dolar" dan mengingat kembali ucapan Jung Hee “ Aku lebih unggul secara finansial darimu untuk membesarkan anak-anak. Aku tidak akan membiarkan anak-anak hidup miskin denganmu.”
“Aku banyak bicara, tapi aku ketakutan.” Ungkap Jae Bok merasa tak bisa menang melawan Jung Hee
“Ah...Tidak... Aku tidak boleh kehilangan mereka... Aku akan melindungi mereka.” Kata Jae Bok menatap anaknya yang tertidur dengan sangat yakin. 

Eun Hee memasangkan dasi untuk Jung Hee kaget kalau calon suaminya itu  ingin membawa anak-anak. Jung Hee mengatakan tidak bisa hidup tanpa Jin Wook dan Hae Wook. Eun Hee berdalih akalu Anak-anak seharusnya hidup dengan ibu mereka dan bisa menemui mereka setiap saat,bahkan bisa membantu mereka secara finansial.
“Eun Hee. Aku ingin meluruskan yang satu ini. Baik kesuksesan maupun pernikahan, Jin Wook dan Hae Wook adalah prioritas. Itu tidak akan pernah berubah.” Tegas Jun Hee. Eun Hee pun terdia,
“Jung Hee. Tidak bisakah kamu mempertimbangkannya kembali? Haruskah kita membawa anak-anak untuk tinggal bersama? Kurasa aku sungguh tidak bisa.” Kata Eun Hee mengikuti Jung Hee menuruni tangga.
“Jika kau sungguh mencintaiku, tolong sayangi anak-anakku juga. Katamu, kau akan berusaha. Kenapa tidak bisa?” ucap Jung Hee seperti ingin mulai mengontrol Eun Hee.
“Bagaimana denganmu? Katamu, kau juga akan berusaha. Kenapa kau tidak bisa menghargai keinginanku?” balas Eun Hee.
“Aku bisa melakukan semua keinginanmu yang lain, tapi bukan anak-anak. Aku tidak akan menikahimu tanpa anak-anak.” Tegas Jung Hee. Nyonya Choi baru keluar mengajak Jung Hee sarapan. Tapi Jung Hee yang marah merasa tak lapar dan langsung bergegas pergi. 


Nyonya Choi pun kaget mengertahui kalau Jung Hee tidak akan menyerah untuk anak-anaknya. Eun Hee terlihat sangat marah, Padahal segalanya sudah lancar tapi Jung Hee itu harus melibatkan anak-anak. Nyonya Choi yakin Jung Hee  pasti merasa bersalah karena hidup mewah sendiri. Eun Hee pun mulai mengumpat marah.
“Aku sangat baik kepada dia. Tapi bukannya berterima kasih, dia malah egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Dasar Bedebah egois.” Ucap Eun Hee 

Jae Bok mengingatkan pada anak-anaknya tentang pesannya, Jika Bibi Lee Eun Hee datang ke sekolah, apakah akan ikut denganya. Jin Wook mengatakan tidak akan karena membencinya. Jae Bok pun mengoda anak sulungnya bertanya bagaimana perasaan Jin Wook pada ibunya. Jin Wook yang tak suka mengutarakan perasaanya memilih untuk segera pergi.
“Aku menyayangi Ibu... Rasa sayangku seluas langit.” Ungkap Hae Wook dengan senyuman. Jae Bok pun senang mendengarnya lalu memeluk anaknya dengan erat.
“Katakan, hanya dengan siapa kamu boleh pulang?” tanya Jae Bok, Hae Wook menjawa hanya dengan  Bibi Won Jae atau pelayannya. Jae Bok pun memuji anaknya.
“Apa kau merindukan Ayah?” tanya Jae Bok, Hae Wook mengelengkan kepala. Jae Bok meminta agar Hae Wook mengatakan kalau merindukan ayahnya. 

Jung Hee menaiki mobil mengingat perkataan Jae Bok semalam “Aku melakukan ini karena tidak bisa membiarkanmu melompat ke jurang. Pindahlah dan buka lembaran baru. Jangan menjadi ayah yang memalukan bagi Jin Wook dan Hae Wook.”
Tiba-tiba di persimpangan jalan melihat Hae Wook dan meminta sopirnya agar berhenti, tapi ketika mendekat hanya potongan rambutnya yang sama dan berjalan dengan ibu lainya. Jung Hee seperti merasakan perasaan rindu pada anaknya. 

Sementara dirumah, Eun Hee membaringkan tubuhnya mengingat perkataan Jung Hee “Jika kau sungguh mencintaiku, tolong sayangi anak-anakku juga. Katamu, kau akan berusaha. Kenapa tidak bisa? Aku tidak bisa menikah tanpa anak-anak.”
“Setelah semua yang kulakukan. Setelah semua...” ucap Eun Hee kesal tapi akhirnya dudk dengan tegak merapihkan rambutnya merasa  Tidak masalah.
“Setelah semua yang kulakukan. Aku tidak boleh kehilangan dia karena anak-anak. Tidak karena anak-anak bodoh itu.” Kata Eun Hee menyakinkan dirinya. 

Jung Hee sedang berkerja dalam ruangan pintu diketuk dan kaget melihat Eun Hee yang datang. Keduanya duduk di meja dengan kotak makan siang yang dibawa oleh Eun Hee. Eun Hee mengaku  sangat khawatir karena Jung Hee yang tidak sarapan.
“Aku minta maaf soal tadi pagi, Aku akan menurutimu.” Ucap Eun Hee. Jun Hee tak percaya mendengarnya.
“Aku hanya berpikir, demi pertumbuhan anak-anak, lebih baik mereka hidup bersama ibu mereka. Tapi jika kau bersikeras, bawalah anak-anak. Aku pasti akan menjadi ibu yang baik.” Kata Eun Hee dengan gaya ramah yang dibuat-buat

“Apa Kau sungguh berubah pikiran?” ucap Jung Hee masih tak percaya
“Aku akan membantumu dan akan mencarikan pengacara terbaik untuk memenangkan hak asuh.” Kata Eun Hee
Jung Hee langsung mengucapak Terima kasih banyak. Eun Hee langsung memeluk Jung Hee yang pasti sangat senang dan meminta Maaf karena telah membuatnya kecewa. Jung Hee mengaku kaalu mengerti perasaannya. Eun Hee pun mengatakan kalau  ingin segera memiliki anak yang mirip dengan Jung Hee. Jung Hee terlihat kaget.
Eun Hee dengan gaya mengodanya bertanya berapa anak yang ingin dimiliki Jung Hee nanti. Jung Hee gugup, Eun Hee pun bertanya-tanya apakah tubuhnya akan menjadi jelek jika terlalu banyak punya anak lalu berharap semoga mereka bisa segera menikah. Jung Hee tak banyak komentar dengan kegilaan Eun Hee. 


Ibu Jung Hee kaget kalau Jae Bok sungguh akan menggugatnya tentang Perebutan hak asuh. Jae Bok membenarkan dan apabila Jika itu terjadi, maka ingin Ibu Jung Hee bersaksi, karena mereka tidak boleh membiarkan Jin Wook dan Hae Wook hidup bersama Eun Hee. Ibu Jung Hee setuju.
“Kumohon.. Demi anak-anak... Tolong bersaksilah demi kami.” Pinta Jae Bok
“Kau seharusnya rukun dan tetap bersama Kau malah membuang dan membiarkan Jung Hee-ku bersama psikopat itu.” Komentar Ibu Jung Hee.
“Apa Eun Hee menelepon Ibu? Apa Dia tidak menemui Ibu?” tanya Jae Bok. Ibu Jung Hee pikir untuk apa Eun Hee menemuinya karena  Sungguh mengerikan.
“Berhati-hatilah. Dia bisa melakukan apa pun jika dia mau. Dia juga bisa berada di rumah Ibu.” Kata Jae Bok, Ibu Jung Hee terlihat ketakutandan langsung duduk mendekati Jae Bok. 

Jung Hee masuk ruangan berkata dengan sinis kakau  pria sibuk dan kenapa Jae Bok malah memanggilnya padahal meminta agar datang ke kantornya. Jae Bok menegaskan kalau ia juga sibuk. Sam Kyu yang ada di depan mereka kebinggungan.  Jae Bok pun mengeluh dengan Jung Hee yang datang tapi tak menelp lebih dulu lalu mengajak agar pergi ke cafe depan kantor.
“Tidak usah.. Dia sudah datang. Kalian bisa berbicara dengan nyaman di sini. Aku akan meninggalkan kalian.” Kata Sam Kyu
“Terima kasih. Kami cuma sebentar.” Ucap Jae Bok, Jung Hee pun mengatakan hal yang sama saat Sam Kyu keluar ruangan.
“Dia bilang "Terima kasih". Dasar sok asyik. Kenapa aku harus...” kata Sam kesal lalu melihat ponselnya yang berdering. 

Eun Hee berada di mobil menelp Sam Kyu merasa kalau Belakangan ini menghilang lalu bertanya apakah ada kabar baru. Sam Kyu sediki gugup dan mengatakan kalau Tidak ada yang penting. Eun Hee bertanya apakah Tidak ada yang datang ke kantornya atau apa pun itu.
“Tidak ada yang datang.” Kata Sam Kyu berbohong melirik ke arah kantornya, Eun Hee seperti percaya dan langsung menutup telpnya.
“Sam Kyu, dasar keparat. Apa Kau membohongiku?” ucap Eun Hee marah
“Nenek sihir itu selalu mengatakan semaunya dan seenaknya menutup. Dasar...” umpat Sam Kyu marah lalu berpikir tempat untuk menghabiskan waktu.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Posting Komentar