Jumat, 27 Januari 2017

Sinopsis Missing Nine Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC
Penyidik Oh membahas tentang Cahaya itu dari sebuah ponsel kalau mereka menemukan seorang korban dalam bahaya dan ingin tahu siapa yang itu. Bong Hee mencoba mengingatnya tapi benar-benar lupa, Semua yang ada diruangan langsung menghela nafas panjang.
Tiba-tiba Penyidik Oh berteriak “Siapa di sana?” lalu keluar dari ruangan memberitahu Hee Kyung kalau mereka sudah terekspos. Hee Kyung melihat dari CCTV sudah banyak orang yang ada didepan rumah, merasa heran wartawan bisa tentang tempat ini akhirnya mereka pun buru-buru keluar.
Wartawan ingin menerobos masuk ingin mengambil gambar dan Penyidik Oh berusaha menghalanginya. Bong Hee keluar dari rumah, pengawal langsung menutupinya dengan selimut. Hee Kyung memerintahkan Bong Hee untuk menundukkan kepala dan Bersembunyilah dari wartawan. Bong Hee binggung karena dirinya tidak melakukan kesalahan.
Pengawal membawa Bong Hee masuk ke dalam mobil, para wartawan didepan rumah langsung menghentikan mobil dan mengajukan pertanyaan. Bong Hee terlihat panik melihat banyak wartawan dan langsung menunduk menyembunyikan wajahnya. 
Jaksa Yoon masih sangat sedih mengingat kepergian adiknya sebagai korban kecelakaan pesawat, mengingatkan kenangan dengan So Hee.
Flash Back
Tae Young datang ke lokasi syuting sebagai karya pertamanya maka akan memberikan sebuah hadiah, lalu memberikan sebuah kotak. So Hee kaget melihat isinya sebuah kalung, Tae Young memperingatkan agar Jangan sampai hilang lagi karena memilik cincin cincin pasangannya di jari kelingkingnya.
So Hee mengeluh kakaknya itu seharusnya mencari pacar saja. Tae Young pikir tak ada yang salah menyuruhnya agar memakainya sebelum syuting. So Hee mengucapkan terimakasih pada sang kakak dan pamit pergi karena harus segera syuting. 

Jaksa Yoon masih sangat sedang mengetahui adiknya yang ditemukan di dekat garis pantai, tapi bukan kecelakaan pesawat yang menewaskannya melainkan dibunuh.Sementara Jaksa Cho meminta temanya agar menanyakan pada pihak rumah sakit berapa lama prosesnya. Temanya memberitahu kalau mereka akan menyiapkan mobil, dan tidak akan lama.

Saat itu Tae Young melihat sosok Presdir Jang lewat didepanya dan mengingat saat menonton TV Presdir Jang yang memberikan pernyataan menyangkal kalau merancang kecelakaan ini sebagai sebuah sandiwara.
Presdir Jang berjalan menuju lorong rumah sakit, diam-diam Tae Young terus mengikutinya dari belakang sampai akhirnya Presdir Jang masuk ke dalam sebuah ruang rawat.  Tae Young melihat dari celah pintu Presdir Jang mengenggam tangan seseorang dan berkata kalau akan menjadi berita mengejutkan jika orang tahu pasien masih hidup dan berharap cepat sembuh. 

Tae Young ingin membuka pintu saat itu datang seorang pria seperti seorang pengawal, dengan tatapan sinis Pengawal seperti menyuruhnya pergi. Akhirnya Tae Young berjalan pergi dengan wajah penasaran, saat itu Jaksa Cho dan temanya datang dengan wajah panik karena mencari Tae Young.
“Maaf... Bisa kau cari tahu siapa pasien di kamar itu?” ucap Tae Young menunjuk kamar yang didatangi oleh Presdir Jang, Temanya ingin tahu alasanya.
“Tidak terlalu serius tapi Pokoknya cari tahu identitasnya. Aku minta bantuanmu.” Kata Tae Young, temanya pun mengangguk mengerti. 

Ki Joon membuat perangkap dengan kopernya saat kelinci mendekat menari talinya, tapi gagal. Tapi ia tak mau menyerah mencoba kembali, untuk kesekian kalinya Ki Joon akhirnya berhasil menangkap seekor kelinci yang masuk perangkapnya.
“Kami akan segera memakanmu.” Teriak Ki Joon bahagia, tapi melihat wajah kelinci dari dekat merasa binatang itu terlalu lucu.
Akhirnya ia mengancam si kelinci untuk pergi dalam hitungan ketiga kalau tidak maka akan memakannya atau memukul dengan ranting. Tapi si Kelinci tetap saja berada disekitar Ki Joon tak mau pergi.  Akhirnya Ki Joon memutuskan akan memakan kelinci lucu itu. 

Presdir Hwang dan Ho Hang berada di pinggir pantai, Ho Hang berusaha menangkap ikan dengan mengunakan baju sebagai jalanya tapi gagal. Presdir Hwang mengomel karena Ho Hang tidak bisa menangkapnya padahal  hanya perlu mengangkat jalanya.
“Kau bilang akan menangkap ikannya asal aku yang mengumpulkan mereka dan pernah melakukannya di wamil.” Ucap Ho Hang karena melakukan sesuai dengan perintah Presidr Hwang.
“Ini bukan wamil... Kita di negeri asing... Segalanya berbeda di sini.” Teriak Presdir Hwang marah
Ho Hang hanya bisa meminta maaf. Presdir Hwang pikir kalau kakak Ho Hang tak menyelamatkanya maka pasti sudah mati karena asap briket menurutnya lebih baik mati saja. Ho Hang mengingat perkataan ibunya tak boleh bicara seperti itu
“Nenekku dahulu suka mengatakan lebih baik mati daripada menua. Lalu dia sungguh mati muda. Dia tersedak saat memakan sepotong kue ketan besar.” Cerita Ho Hang, Presdir Hwang pun tak bisa berkata-kata lagi berteriak marah karena sangat lapar. 

Ki Joon datang membawa koper besar, berteriak kalau membawakan makanan. Ho Hang dan Presdir Hwang langsung berseri kalau yang dibawanya adalah daging. Ki Joon membuka kopernya memperlihatkan isinya adalah buah kelapa, dua wajah pria yang kelaparan langsung kecewa.
“Tadi aku pergi menangkap kelinci, tapi ada hewan pemangsa. Jadi, aku membawa kelapa.” Cerita Ki Joon
“Kenapa tidak menangkap pemangsanya?” ucap Presdir Hwang
“Itu tidak semudah dugaanku. Jadi Mari makan kelapa lagi hari ini dan ini kepala lokal, Lezat jika semakin banyak dimakan.” Ucap Ki Joon yang menyarankan untuk membakarnya karena mungkin rasanya akan seperti daging
Mereka pun berada di pinggir pantai lainya, membakar kelapa tapi ternyata rasanya tetap saja kelapa bukan daging.  Presdir Hwang pikir Rasanya lebih tidak enak saat dibakar. Ki Joon berjanji  pasti akan menangkap hewan liar besok. Presdir Hwang mengeluh Ki Joon yang selalu mengatakan “besok”
“Aku harus bersyukur karena kita masih hidup jadi terima saja nasibnya” Kata Presdir Hwang 
“Menurut kalian, apa penumpang lain sudah mati?” tanya Ho Hang
“Kalau selamat, kita pasti sudah melihat mereka dan Kelihatannya pulau ini besar.” Ucap Ki Joon menyuruh Ho Hang makan saja.
Presdir Hwang tiba-tiba merasakan mencium sesuatu dibakar. Ki Joon pikir dirinya yang sedang membakar kelapa. Presdir Hwang merasa ini bukan kelapa. Ki Joon mengeluh Presdir Hwang yang mengatakan hal-hal yang aneh.
“Aku mencium aroma daging dibakar.” Ucap Presdir Hwang, Ho Hang juga bisa menciumnya bahkan Aromanya sama dengan restoran di depan kantor mereka.
Akhirnya mereka berjalan dengan indera penciuman mencari tahu asal aroma daging bakar, saat itu melihat sosok pria sedang membakar cumi. Presdir Hwang berteriak memanggil Tae Ho yang ternyata masih hidup. Tae Ho pun tak percaya melihat tiga orang lainya yang ternyata masih hidup. 


Jaksa Yoon kembali ke korea dengan menaiki pesawat, Jaksa Cho memberitahu Seorang teman yang bekerja di kepolisian mengatakan salah satu orang yang hilang adalah Seo Joon Oh, anggota Dreamers menurutnya Latar belakangnya menarik. Jaksa Yoon tak mengerti maksud ceritanya. Jaksa Cho menjelaskan Ketika Shin Jae Hyun mati, Joon Oh diinvestigasi oleh polisi.
Flash Back
Tae Young bertanya siapa pria yang akan di interogasi, temanya memberitahu kalau itu leader grup  Dreamers. Joon Oh membuka maskernya, Tae Young bisa melihat dengan jelas wajahnya. 

Jaksa Cho menceritakan ada kasus bunuh diri seorang pria berusia 20-an bernama Shin Jae Hyun dan Joon Oh sedang diinvestigasi, lalu bertanya apakah ia perlu menyelidikinya. Tae Young pikir  Investigasi bertarget tidak menyenangkan. Jaksa Cho mengerti.
“Jakas Yoon Itu pasti salah satu dari mereka, kan?” ucap Jaksa Cho menerka-nerka, Tae Young pikir mereka masih belum tahu siapa yang hidup atau mati.
“Ada orang-orang yang selamat di pulau itu bersama adikmu, Satu di antara mereka pasti telah...” ucap Jaksa Cho tak bisa berkata-kata, Tae Young tahu maksudnya pasti ada yang Membunuh adiknya.
“Jangan merasa tidak enak mengatakannya. Tidak apa-apa kalau di antara kita.” Ucap Tak Young tak ingin Jaksa Cho sungkan mengatakanya, lalu menyandarkan tubuhnya karena akan tidur sebentar.
Jaksa Cho binggung melihat Tae Young karena sebelumnya malah tersenyum, Tae Young mengaku kalau tak ada yang baik dan sangat marah lalu berusaha memejamkan matanya. 

Hee Kyung memberikan secangkir teh untuk wartawan lalu minta maaf jika tempo hari timny memperlakukan dengan buruk tapi itu karena datang tanpa pemberitahuan. Wartawan mendengar berita kalau Ra Bong Hee kehilangan ingatannya. Hee Kyung terlihat tegang.
“Apa Karena itukah kau menyembunyikannya? Kau takut publik akan mengecammu jika saksi korban satu-satunya itu amnesia?” ucap si wartawan
“Bukan itu alasan persisnya. Apa yang akan terjadi jika kubeberkan ke publik?” ucap Hee Kyung
“Itu akan cukup menghibur.” Jawab Si wartawan
“Kau bilang Menghibur? Apa yang begitu menghibur?” kata Hee Kyung wartawan pikir Seluruh situasi ini menarik. Akhirnya Hee Kyung menanyakan nama si wartawan.  Wartawan menyebut nama Seo Dong Min.

“Tuan Seo Tahukah Anda alasanku mengetuai dewan ini?Karena aku adalah ketua Dewan Penyidikan, mungkin masyarakat berasumsi bahwa tugasku adalah mengusut dan mencari tahu kebenaran tentang kecelakaan itu. Tapi bukan itu tugasku.” Tegas Hee Kyung, Dong Min terdiam mendengarnya.
“Tanggung jawabku adalah membuat masyarakat melupakannya secepat mungkin. Membuat masyarakat melupakan kematian para selebriti itu agar mereka dapat kembali ke rutinitas sehari-hari. Itulah tugasku. Apa kau mengerti ucapanku?” ucap Hee Kyung dengan wajah serius.
Dong Min meras tidak terlalu mengerti. Hee Kyung menegaskan kalau dirinya berada untuk menghibur orang bodoh seperti Dong Min jadi meminta agar  jangan duduk dengan bersilang kaki dan menyeringai kecuali berpikir bisa mengatasi ini. Jadi menurutnya lebih baik Dong Min menyimpan masalah itu untuk menghadapi orang yang bisa diatasinya.


Bong Hee kembali melakukan CT Scan,  Dokter melihat dari foto CT-nya, kurasa kondisinya mengalami banyak kemajuan lalu bertanya apakah Bong Hee masih mengatakan tidak ingat apapun. Penyidik Oh membenarkan kalau  ingatannya yang hilang masih belum pulih.
“Secara medis, seharusnya ingatannya sudah pulih sekarang dan dia sudah ingat sekarang. Dia sudah tidak menunjukkan gejala serebromeningitis.” Jelas Dokter, Saat itu Bong Hee duduk diam diruang tunggu.
Saat itu datang seorang wanita yang menemui Bong Hee, Penyidik Oh masih dalam ruangan memastikan maksud ucapan dokter kalau  ada kemungkinan Bong Hee pura-pura tidak ingat padahal sebenarnya mengingat.

Diluar ruangan Bong Hee binggung melihat wanita yang mendekatinya bertanya siapa wanita itu. Wanita itu menjawab kalau ia adalah ibu Ha Ji Ah lalu bertanya apakah anaknya masih hidup atau sudah mati. Bong Hee mengaku kalau tak mengetahuinya dengan wajah ketakutan dan pergi
“Jangan pergi. Jawab saja aku. Apa Ji Ah masih hidup atau sudah mati? Apa kau melihat mayatnya? Kau tidak melihatnya, kan?” ucap Ibu Ji Ah dengan menguncangkan tubuh Bong Hee, Bong Hee minta agar melepaskanya.
“Pasti dia masih hidup! Jika sudah mati... Jika dia tidak pulang, maka keluargaku akan mati kelaparan.” Jerit Ibu Ji Ah mengancam, Bong Hee terlihat benar-benar ketakutan
Dokter merasa kalau Secara medis situasi ini tidak masuk akal. Penyidik Oh meminta agar jangan beri tahu Nyonya Jo mengenai ini untuk sementara waktu.
Ibu Ji Ah tak terima kalau Bong Hee tak mengetahuinya, menurutnya pasti menyembunyikan sesuatu dan melakukan sesuatu padanya. Bong Hee mengaku tak ingat apapun. Penyidik Oh datang langsung menarik Bong Hee untuk pergi.
“Ingat kata-kataku! Aku akan memastikan bahwa aku mengetahui semua perbuatanmu! Dan aku akan menemukan Ji Ah. Kalian membuang waktu mencari orang-orang tidak berguna. Putriku Ji Ah aktris favorit semua orang. Aku pasti akan menemukannya.” Teriak Ibu Ji Ah sambil menangis , Bong Hee sempat terdiam akhirnya Penyidik Oh mengajak mereka segera pergi.
Saat keluar dari rumah sakit wartawan sudah menunggu, Penyidik Oh memberikan masker pada Bong Hee agar segera memakainya. Bong Hee akhirnya sampai di depan rumahnya menatap laut lepas didepanya, tiba-tiba dua orang pria datang menemuinya. 

So Hee sedang berbaring seperti bermimpi naik ke bagian atap dan melihat Jae Hyun sudah berdiri di tepi pagar permbatas. Jae Hyun bertanya apakah ia memercayai orang lain. So Hee hanya menatapnya. Jae Hyun meminta agar jangan mempercayainya karena  Mereka akan mengkhianatinya seperti mengkhianatinya sekarang.
Saat itu Jae Hyun menjatuhkan diri dari atap gedung dan jatuh tepat diatas mobil. Joon Oh menangis melihat Jae Hyun yang mati bunuh diri, sementara So Hee seperti bisa melihat senyuman licik Joon Oh yang senang melihat Jae Hyun yang mati. So Hee terbangun dari tidurnya, lalu melihat Joon Oh sedang memasak lalu segera memalingkan wajahnya ke arah lain. 

Joon Oh seperti tak menyadarinya, memberikan makanan pada Ji Ah yang duduk didepan bongkahan kapal. Menurutnya Aromanya tidak sedap, tapi rasanya cukup enak dan bisa nambah lagi. Ji Ah mulai memakanya, merasa kalau tak ingin nambah karena rasanya yang aneh. Joon Oh pikir Ji Ah itu belum terlalu lapar karena bisa milih makanan.
“Mungkin sudah tidak ada korban lain, kan?” kata Ji Ah sedih, Joon Oh tahu kalau Ji Ah  Pasti mencemaskan Tae Ho. Ji Ah pikir tak mungkin kalau tidak mencemaskannya karena Tae Ho adalah pacarnya.
“Ji Ah... Aku bukan mengatakan ini untuk menghiburmu tapi Aku yakin Tae Ho masih hidup, bahkan Lee Yeol juga mendadak muncul.” Ucap Joon Oh
“Benar. Sebelumnya aku juga mengira kau sudah mati.” Ungkap Ji Ah. Joon Oh mengeluh Ji Ah bisa bicara semudah itu

“Terserah. Apakah sebelum ini kau mengira aku masih hidup?” ucap Ji Ah, Joon Oh bisa mengerti dengan mencubit bagian pipi Ji Ah seperti gemas terhadap adikny
Joon Oh pikir pengemar Ji Ah mengetahui perangai buruknya itu. Ji Ah tahu karena semua pengemar meminta agar  mengumpat saat bertemu dengan Joon Oh, menurutnya itu cukup seksi.  Joon Oh meminta gar Ji Ah itutidak cedera lagi karena kalau Ki Joon  tahu tentang cederanya maka... Ji Ah mengingat Ki Joon lalu bertanya-tanya apakah pria itu masih hidup.
“Mari kita meyakininya. Sampai kita bertemu dengan Ki Joon dan Tae Ho lagi, kau harus menjaga dirimu baik-baik. Kau bahkan tidak punya obatnya.” Ucap Joon Oh dengan senyuman agar bisa terus optimis.


So Hee datang mendekati keduanya dengan tatapan sinis, Joon Oh pun menyapanya. So Hee tak percaya Joon Oh masih bisa tersenyum padahal mereka hampir mati kelaparan. Joon Oh heran berpikir dirinya itu harus menangis dalam keadaan seperti ini.
“Kau bahkan tidak terlihat cemas dan masih bercanda.” Ucap So Hee sinis. Ji Ah terlihat mulai marah dengan sikap So Hee.
“Apa Dia sudah lupa soal Jae Hyun?” sindir So Hee, Ji Ah menyuruh So Hee agar menjaga ucapanya, So Hee menyuruh Ji Ah diam saja. Joon Oh menahan keduanya agar tak bertengkar
“So Hee, aku ingat apa yang terjadi terhadap Jae Hyun. Aku tidak pernah melupakannya, dan tidak mau melupakannya.” Tegas Joon Oh
“Kau tidak boleh lupa karena Kaulah yang membuatnya mati. Aku yakin kau sanggup membunuh orang lain. Lagi pula, ini pulau tidak berpenghuni. Mungkin sekarang kau bisa tertawa dan bercanda karena kita punya persediaan dan bahan makanan. Tapi bagaimana jika semuanya habis?" kata So Hee sinis 

" Cuaca akan semakin dingin dan kita akan kehabisan makanan. Bagaimana jika bertahan hidup menjadi lebih sulit? Apa Kau masih bisa tersenyum seperti ini? Orang bisa saling membunuh demi menyelamatkan diri sendiri..Aku melihat semuanya.” ucap So Hee dan seperti mengingat yang dilihatnya kalau seseorang mencekik untuk bisa bertahan hidup. Joon Oh penasaran apa yang dilihatnya.
So Hee mengingat saat berlari dihutan melihat seseorang yang mencekik untuk bertahan hidup, menurutnya Joon Oh itu pernah melakukannya sekali dengan membunuh seseorang. Ji Ah dan Joon Oh hanya terdiam melihat So Hee yang pergi. 
 
Flash Back

Joon Oh mengingat saat memberikan penghormatan pada Jae Hyun,  So Hee memukul badanya dengan semua bunga dan menjerit histeris merasa kalau Joon Oh adalah pembunuhnya. Semua berkumpul melihat Joon Oh yang masih terus bersujud didepan foto Jae Hyun, sampai akhirnya satu persatu meninggalkan ruangan. Joon Oh terlihat benar-benar terpukul dengan kepergiaan Jae Hyun yang mati karena bunuh diri. 

Bong Hee membuat pisau dari batang kayu dan membersihkan isi perut ikan di pingir pantai. Joon Oh datang ingin mengambil ikan sambil berkata kalau mereka sudah menemukan yang lain menurutnya  merka harus memberi makanan lain seperti tuna karena Telur goreng akan sulit untuk dibuat. Bong Hee hanya melirik sinis mendengarnya.
“Yah... Kurasa ikan sudah cukup baik.” Komentar Joon Oh yang bisa makan karena hasil tangkapan Bong Hee.
Lee Yeol berusaha mengambil air dari tetesan tapi masih kesusahan hanya dengan satu tanganya. Ji Ah sedang menganyam daun meminta agar Lee Yeol berhati-hati. Saat itu So Hee terlihat berjalan ke tepi pantai, Bong Hee melihat So Hee meminta agar So Hee jangan pergi terlalu jauh. So  Hee terus berjalan masuk ke dalam air.
So Hee berteriak kalau Lautnya dalam. Ji Ah melihat So Hee merasa ada yang aneh, lalu memanggil Joon Oh. Bong Hee melihat So Hee sudah masuk ke dalam air setinggi dadanya lalu berlari menyelamatnya, semua pun akhirnya berlari masuk ke dalam air. So Hee malah berteriak tak mau ditolong, Joon Oh dan Bong Hee berusaha menarik So Hee ke pinggir pantai. 


Presdir Hwang menikmati makan ikan yang enak sampai terharu karena lezat, merasa berkat Tae Ho bisa makan daging ikan. Ho Hang pikir apabila mereka memiliki ikan dan air tinggal dipulau itu tak akan jadi masalah. Presdir Hwang memuji Tae Ho yang hebat dalam berakting dan bernyanyi bahkan dalam segalanya. Tae Ho dengan senyuman meminta Presdir Hwang makan yang banyak karena akan menangkap ikan yang besar.
“Ki Joon. Kamu tidak mau makan? Apa selera makanmu hilang setelah makan kelapa itu?”komentar Ho Hang,
“Makanlah. Kau harus makan jika ingin bertahan hidup.” Ucap Presdir Hwang yang lahap makan ikan tangkapan Tae Ho
“Presdir Hwang. Aku sudah memikirkan ini. Kita harus mencari yang lain.”kata Ki Joon, Tae Ho yang mendengarnya sempat terdiam. 

So Hee menjerit histeris saat dibawa ke tepi pantai karena ingin mati dan tak mau hidup, memarahi keduanya karena menghentikannya. Joon Oh berteriak memarahi So Hee yang bertindak konyol, So Hee terus berteriak kalau akan bunuh diri.
“Hei.. Lagi pula kita semua akan mati di sini! Entah kelaparan atau terbunuh, kita tetap akan mati di sini. Siapa yang akan membunuhmu?” teriak Joon Oh
“Jangan meneriakinya. Kamu membuatnya takut.” Ucap Bong Hee, Joo Oh kesal karena So Hee  terus bicara omong kosong.
“So Hee... Kita bersama-sama di sini. Kita hidup bersama, dan mati bersama, tidak maksudku...... Kita tidak akan mati di sini, Kita akan keluar dari sini dengan selamat. Aku yakin.” Ucap Bong Hee menenangkan So Hee.
So Hee mengaku kalau melihatnya,  mereka akan mati di sini karena akan saling membunuh demi menyelamatkan diri. Bong Hee ingin tahu apa yang dilihat oleh So Hee. Tiba-tiba terdengar teriakan Lee Yeol  memangil Joon Oh, Ji Ah terlihat dipapah oleh Lee Yeol.
“Dia tergores di terumbu karang.” Ucap Lee Yeol, Bong Hee dan Joon Oh melihat bagian paha Ji Ah yang mengeluarkan banyak darah.
“Pendarahanmu tidak akan berhenti! Di mana obatmu? Ki Joon memberikannya. Di mana itu?” ucap Joon Oh.
Bong Hee mengingat saat dipesawat Ki Joon memberikan obat dan memintanya agar Jangan makan banyak. Ji Ah mengatakan kalau  Obat itu hilang saat pesawat jatuh. Lee Yeol panik mengetahui kalau pendarahan yang tak berhenti berpikir mengidap suatu penyakit. Ji Ah pikir dirinya tidak akan mati.
“Ya, kau akan mati! Jika terus berdarah seperti ini,  maka kau akan mati! Kenapa kau memakai rok mini? Kau bahkan tidak bisa berenang, kenapa masuk ke air?”teriak Joon Oh mulai memarahi Ji Ah
“Bagaimana ini? Apa ada.. Adakah sesuatu yang bisa menghentikan pendarahannya?” tanya Joon Oh, Bong Hee tak tahu karena dirinya sebagai stylist. Ketiganya terlihat kebinggungan memikirkan cara agar menghentikan pendarahan. 


Di sisi pantai lainya
Tae Ho pikir mereka tidak boleh melakukannya jadi lebih baik tetap ditempat ini dan menunggu diselamatkan karena bahkan tidak yakin yang lain masih hidup. Ji Koon pikir Tae Ho itu ingin sendirian dipulau ini, Tae Ho menjelaskan bukan itu maksudnya kalau mungkin penumpang lain sudah mati jadi tak ada guna membuang tenaga
“Mungkin mereka masih hidup.” Kata Ki Joon yakin
“Aku yakin mereka sudah mati, Sudah sepekan berlalu sejak pesawat itu jatuh. Mana bisa mereka bertahan di pulau tidak berpenghuni ini?” ucap Tae Ho.
“Kau bisa bertahan. Kita semua bertahan secara ajaib an Mungkin yang lain juga bertahan. Aoa Kau tidak mencemaskan pacarmu Ji Ah?” kata Ki Joon, Presdir Hwang kagetTae Oh berpacaran dengan Ji Ah dan bertanya sejak kapan. Tae Ho mengaku baru sekitar tiga bulan

“Ini bukan masalah berapa lama kalian telah berhubungan. Kalian mulai berpacaran karena kau mencintainya, kan?” ucap Ki Joon
Tae Ho mengaku untuk berpacaran dengan Ji Ah bukan berarti mencintainya. Ki Joon bertanya apakah Tae Oh tahu kalau Ji Ah itu sakit,  Presdir Hwang binggung karena tak mengetahui tentang semua anak didiknya itu. Ki Joon mengingat saat di pesawat obat Ji Ah yang jatuh, lalu mengetahui Ji Ah tak memiliki obat itu, menurutnya akan mati tanpa obatnya.
“Dia tidak akan bertahan hidup tanpa obatnya. Obat itu masih ada di tasku. Aku akan pergi dan mulai mencarinya.” Ucap Ki Joon lalu pergi meninggalkan ketiganya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar