Kamis, 05 Januari 2017

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 14 Part 1

PS : All images credit and content copyright : SBS
Sea Wa memeluk erat Dam Ryung yang sudah tak bernyawa lagi lalu menusukan juga ke dalam tubuhnya tombak dan mati bersama. Joon Jae terlihat membuka matanya dan terlihat kaget, Dokter Jin sempat memanggilnya. Joon Jae mengaku kalau tidak bisa melindunginya.
“Pada akhirnya... Karena aku....tidak bisa melindunginya...” ungkap Joon Jae mengingat saat Dam Ryung berbicara dengan Sea Wa ketika masih remaja.
Sea Wa bertanya apakah Dam Ryung mampu mengingat cerita mereka.  Dan Ryung berjanji, walaupun dilahirkan kembali akan menjaga, menemukannya, bertemu dengannya, mencintainya dan melindunginya. Dengan yakin kalau  pasti akan mengingatnya.
“Setelah mengatakan hal itu..., setelah berjanji seperti itu..., Aku lupa semua tentang hal itu. Meskipun dia terlahir kembali dan mencariku, bertemu denganku, dan mencintaiku. Aku tidak ingat apa-apa. Aku hanya membuatnya menangis. Aku tidak bisa melindungi semua itu.” Ungkap Joon Jae sambil menangis. Dokter Jin hanya terdiam mendengar cerita Joon Jae. 

Dae Young selesai meminum kopi lalu membuang gelas dan siap membuka pintu ruangan Neuropsychiatry dan melihat bagian punggung Joon Jae yang sedang berkonsulatsi dengan Dokter Jin. Ia pun memasang telinga untuk mendengarnya.
“Orang itu berusia 27 tahun. Dia seumuran denganku sekarang dan Wanita itu terperangkap dalam jaring. Pria itu meninggal ketika mencoba menyelamatkannya sementara wanita itu menusuk dirinya dengan tombak yang menusuk orang itu lalu mati bersama-sama dengan dia. Itulah... Itulah akhir kisah mereka.” Cerita Joon Jae
“Nasib yang menyedihkan.” Komentar Dokter Jin
“Kenapa kita dilahirkan kembali dan Kenapa kita bertemu lagi?”ucap Joon Jae binggung
“Bagi seseorang yang dilahirkan kembali, bukankah itu artinya bahwa ada mimpi yang belum terpenuhi? Mimpi itu bisa jadi cinta  yang tak terpenuhi atau bisa jadi keserakahan yang tidak habis-habisnya.” Jelas Dokter Jin .

Joon Jae masih heran kenapa nasib buruk terulang terus. Dokter Jin bertanya dari dua cerita itu mana yang  merupakan nasib buruk,  Apakah itu nasib diri Joon Jae dan orang yang mencoba menyakitimu ataukah nasib diri Joon Jae dan orang yang di cintai. Dae Young terus mendengar pembicaraan keduanya.
“Jika kau tidak mencintainya dan jika dia tidak mencintaimu maka seharusnya tidak  akan ada akhir yang tragis seperti itu. Cinta kalian akhirnya  saling membunuh satu sama lain. Apa ada nasib yang lebih  buruk dari hal itu?” kata Dokter Jin
“Apa menurutmu semua ini akan terulang?”tanya Joon Jae
“Jika kau berhenti di sini dan  mengembalikannya ke tempat asalnya, bukankah kau mampu menghindari akhir yang tragis?” kata Dokter Jin
“Tidak... Kenyataan bahwa segalanya telah terulang bukanlah kutukan, melainkan kesempatan. Sebuah kesempatan untuk mengubah akhirnya.” Kata Joon Jae yakin, Dae Young mendengarnya berjalan pergi dengan menginjak gelas kopi yang diminumnya. 


Joon Jae mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, teringat kembali saat bicara dengan Dokter Jin.
Flash Back
“Apa kau percaya  kau mampu mengubah nasib?” tanya Dokter Jin
“Pasti ada alasan kenapa aku bisa mengingat semuanya. Kali ini... Aku akan melindunginya. Aku pasti akan melindunginya. “ ungkap Joon Jae. 

Joon Jae bergegas masuk ke rumah menanyakan keberadan Sim Chung sekarang dengan wajah panik. Nam Doo kaget melihat Joon Jae yang tiba-tiba masuk rumah, memberitahu tidak tahu karena tadi keluar rumah menurutnya hanya disekitar perumahan saja. Joon Jae langsung bergegas pergi. Nam Do mengejek Joon Jae yang sudah dibutakan oleh wanita padahal sikapnya dulu biasa-biasa saja.
Sim Chung sedang sibuk dengan bermain mesin boneka dengan berusaha mengambil boneka cumi-cumi berwarna pink, beberapa anak menunggu hanya bisa melihatnya. Joon Jae berlari melihat Sim Chung dan langsung memeluknya dengan erat, Sim Chung berpikir kalau Joon Jae  mengalami mimpi menakutkan lagi.
“Mimpi menakutkan itu...Aku sudah tak mau lagi bermimpi menakutkan. Dan tidak akan bermimpi lagi.” Kata Joon Jae lalu bertanya apakah ada sesuatu yang dinginkan Sim Chung sekarang dan mengajak untuk melakukan bersama.
“Apa maksudmu, Semua yang dinginkanya?” ucap Sim Chung heran, Joon Jae mengangguk.
“Heo Joon Jae, apa kita harus menikmati formalitas dan kesombongan bagi orang yang pacaran?” kata Sim Chung, Joon Jae tak mengerti maksudnya.
“Sebenarnya, ada tiga tingkatan cinta: Cinta romantis, cinta yang panas, dan cinta kotor. Yang akan kita coba lakukan adalah cinta romantis, yaitu Minum teh, menonton film, makan bersama, merencanakan kegiatan khusus, pernyataan cinta, hal-hal seperti itulah Tapi semua ini mengarah ke cinta kotor.” Jelas Sim Chung mengulang kata-kata si bibi tuna wisma.
Joon Jae tak mengerti maksudnya cinta kotor,  Sim Chung juga penasaran apa itu, tapi ada yang bilang kalau cinta kotor hanya bisa dilakukan orang yang sudah ahlinya, apabila mereka  sembarangan mewujudkan cinta kotor itu, maka bisa berakhir dengan cara yang berantakan jadi merkea  harus berhati-hati dan harus menikmati cinta romantis terlebih dahulu. Joon Jae pun setuju. 


Keduanya berjalan bergandengan tangan dan makan diwarung tenda dengan saling menyuapi, tangan mereka tetap bergandengan tanpa mau terlepas. Joon Jae menggelap mulut Sim Chung yang saat makan begitu juga sebaliknya. Orang yang melihat mereka hanya bisa menatap heran.
Di tempat Arcade, keduanya bermain dance dengan tangan tetap saling bergendangan, tanpa terlepas sedikitpun. Sim Chung melihat bermain memukul dan mencobanya, dengan kekuatanya membuat permaian itu malah  mengeluarkan api dan terlihat rusak. Joon Jae hanya bisa melonggo dan mengajak Sim Chung agar pergi.
Keduanya menonton bioskop, Sim Chung terus menangis melihat film Titanic yang diputar. Tangan mereka masih terus saling menggengam,Joon Jae hanya bisa tersenyum melihat Sim Chung yang menangis. Saat Bibi pembersih theater ingin membersihkan lantai, melihat butiran mutiara. 

Joon Jae dan Sim Chung duduk bersama dalam cafe menikmati kopi. Joon Jae akhirnya memulai berbicara kalau hanya ingin menanyakan sesuatu Jadi jangan terlalu dipikirkan, dan jawab saja langsung. Sim Chung mengangguk mengerti.
“Di film yang kita tonton tadi, si pria menyelamatkan wanitanya dan meninggal. Maksudku, hal itu tak mungkin terjadi, tapi jika aku mati seperti itu ,apa yang akan kau lakukan?” ucap Joon Jae,
“Aku akan menyusulmu.” Kata Sim Chung dengan cepat, Joon Jae malah memarahi karena malah ingin ikut denganya menurutnya harus berpikir dulusebelum menjawab.
“Tadi katamu aku langsung jawab saja tanpa perlu dipikirkan.” Kata Sim Chung heran
“Tapi tetap saja, siapa orang yang menjawab seperti itu, seolah-olah mereka disuruh pergi ke minimarket?” keluh Joon Jae
“Jika kau hidup, aku harus hidup denganmu dan jika kau mati, aku harus mati denganmu.” Ungkap Sim Chung

Joon Jae mengumpat Sim Chung itu bodoh, dengan memberitahu kalau  si Pria itu meninggal untuk menyelamatkan wanita itu dan berpesan untuk terakhir kalinya, "Kumohon dengarkanlah permintaanku. Berjanjilah kalau kau akan hidup dan kau tidak akan menyerah. Hiduplah, dan temukan seseorang yang bisa  membuatmu bahagia sampai menua umurmu."
“Apa kau juga mampu seperti itu? Jika aku tidak berada di dunia ini, apa kau mau bertemu orang lain dan hidup menua bahagia bersamanya?” tanya Sim Chung membalikan keadaan, Joon Jae menjawab “ya” dan akan melakukannya. Sim Chung tak percaya mendengarnya.
“Kau juga harus begitu. Jika, kalau memang sesuatu terjadi padaku maka kau harus tetap hidup. Jangan menyerah. Semua hal yang baik, yang indah maka milikilah semua itu.” Ungkap Joon Jae.

Sim Chung heran dengan Joon Jae karena sebelumnya hanya ingin  mengatakan tapi malah terlihat serius sekarang. Joon Jae menegaskan kalau "jika itu terjadi " maka meminta agar berjanji, jangan berpikir yang lainya Sampai akhirnya akan hidup dengan baik. Sim Chung langsung menolaknya, Joon Jae heran kenapa Sim Chung malah menolaknya.
“Kalau aku berjanji, rasanya ada hal berbahaya yang akan terjadi.” Komentar Sim Chung, Joon Jae mengatakan maka itu mengatakan "jika."
“Bagaimana "jika" atau apapun itu,  aku tidak suka itu!” tegas Sim Chung
Joon Jae meyakinkan kalau Sim Chung tidak mau berjanji. Sim Chung mengatakan tidak mau. Joon Jae kembali menanyakanya, Sim Chung tetap mengatakan tak mau. Joon Jae terdiam terlihat menahan amarahnya.

Keduanya pulang bersama, Sim Chung melihat tangan Joon Jae yang tak mengenggam tanganya seperti sebelumnya, lalu bertanya apakah ia  tidak mau memegang tangannya sekarang. Joon Jae hanya diam terlihat masih marah dengan Sim Chung.
“Apa Kau tidak mau lagi bicara denganku?” kata Sim Chung, Joon Jae meminta Sim Chung agar berjanji seperti yang diinginkanya.
“Apa kau membahas tentang itu lagi? Kubilang, aku tidak mau. Kenapa aku harus berjanji semacam itu? Sudahlah Jangan bicara padaku. Aku juga  tak mau bicara denganmu.” Ucap Sim Chung kesal dan memalingkan wajahnya ke luar jendela. 

Keduanya sampai dirumah, Joon Jae melihat Tae Oh dan langsung mengajak bicara berdua saja.  Nam Do bertanya pada Sim Chung apa yang terjadi pada keduanya karena terlihat seperti sedang bertengkar. Sim Chung dengan wajah cemberut mengadu kalau Joon jae terus bicara aneh, Nam Do makin penasaran bicara aneh seperti apa.
“Dia berkata jika sesuatu terjadi padanya, dia memintaku hidup dengan baik. Itua Aneh, 'kan?” kata Sim Chung, Nam Do measa kalau akhirnya terjadi juga.  Sim Chung binggung apa maksudnya.
“Dia bosan, Masa berlaku cinta itu hanya 3 bulan dan Kalian sudah bersama sekitar 3 bulan. Kau harus mengatasi hal ini dengan baik, kalau tidak maka perpisahan kalian ibarat tertabrak kereta.” Kata Nam Do
“Heo Joon Jae bukan orang semacam itu.” Ucap Sim Chung yakin dengan pacarnya.
“Dia memang orang semacam itu. Aku telah mengenalnya selama 10 tahun, dan dia belum punya pacar selama lebih dari 3 bulan. Mereka semua putus sebelum itu.” Kata Nam Do, Sim Chung terlihat kesal memilih untuk masuk ke dalam kamar. 

Joon Jae memerintahkan Tae Oh agar mengatur keamanan rumah sampai maksimal dan Hubungkan jaringan agar ia bisa memonitor semua ruangan dalam radius 100 m setiap saat, bahkan Jika ada penerobosan dari luar, buat  alat itu mengeluarkan bunyi tanda bahaya.
“Apa ini karena Ma Dae Young?” tanya Tae Oh, Joo Jae menatapnya. 

Dokter Jin sedang membaca buku diruanganya, Dae Young masuk ruangan menyapa dokternya. Dokter Jin kaget melihat Dae Young datang ke tempat prakteknya.  Dae Young pikir Sudah sekitar 9 bulan mereka tak bertemu, Dokter Jin terlihat tenang.
“Heo Joon Jae datang ke sini, kan? Jangan coba berbohong karena aku sudah lihat semuanya. Dan Aku juga mau diperiksa seperti Heo Joon Jae. Sepertinya dia sudah melihat akhirnya, dan aku juga ingin melihat akhirku” kata Dae Young sudah siap untuk di hipnoterapi oleh Dokter Jin.
“Sepertinya aku perlu tahu itu. Biar aku bisa tahu kenapa hidupku seperti itu. Dari saat aku lahir maka aku selalu mengira  kalau aku ini kena karma. Kenapa hidupku seperti ini dan aku selalu ingin bertanya. Aku tidak tahu kenapa tapi kurasa jawabannya terletak pada kehidupan itu.” Ungkap Dae Young yakin. 

Dae Young sudah di hipoterapi untuk melihatnya, lalu membuka matanya mengatakan kalau bukan ia orangnya  Dokter Jin hanya melihatnya, Dae Young pun bertanya-tanya siapa yang membunuhnya. Chi Hyun terlihat mengubah penampilan seperti layaknya pemimpin perusahan berjalan dengan bawahnya dan masuk ke dalam ruangan rapat. 

Chi Hyun duduk sebagai pimpinan rapat, merasa semua sudah tahu kalau sekarang kan menjadi orang yang bertanggung jawab atas keputusan final dan memimpin pertemuan dengan para pemegang saham. Salah satu petinggi bertanya  Apa Ketua Heo sakit parah sekali karena Ada orang luar bertanya begitu.
“Tidak, Beliau sedang berlibur sebentar untuk bersantai dan memulihkan diri. Bahkan Beliau kembali dan  ingin mundur dari lingkungan kerja. Kalau ada yang ingin saudara-saudara  sampaikan, kalian bisa memberitahuku” ucap Chi Hyun percaya diri
“Namun masih ada hal-hal yang perlu dilaporkan langsung kepada Beliau.” Komentar Salah satu petingggi lainya.
“Apa kau takut aku akan mencampuri hal itu? Apa kau tidak bisa percaya padaku?” kata Chi Hyun dengan mata dinginya, Si petinggi mengelengkan kepalanya.
“Jika kalian semua memihak Ayahku dan tidak bisa bekerja di bawah Pengawasanku, maka dipersilakan keluar sekarang.” Ucap Chi Hyun berdiri dari tempat duduknya, semua pun hanya bisa duduk diam. Chi Hyun mengartikan kalau semua setuju dengan perintahnya. 


Tuan Heo membuka matanya dan terlihat masih saja kabur dan tak jelas Chi Hyun mencoba memanggil ayahnya, memberitahusudah bertemu dengan dokter, ternyata hasil pemeriksaannya baik jadi meminta agar ayahnya bisa beristirahat beberapa hari setelah itu bisa pulang kerumah. Untuk pengobatan rawat jalan.
“Mataku makin parah seiring berjalannya waktu. Ini masalah besar.” Kata Tuan Heo heran
“Oh, itu karena Ayah baru menjalani operasi untuk pendarahan sulit melakukan operasi mata Ayah. Jadi Untuk saat ini, minum obat dulu dan berhati-hati agar tidak memperparah kondisi Ayah.”ucap Chi Hyun menenangkan ayahnya Tuan Heo mengerti.
“Chi Hyun... Kau bisa menghubungi Joon Jae, 'kan?” kata Tuan Heo, Chi Hyun sedikit kaget mengaku tentu saja bisa menghubunginya dengan menceritakan saat Tuan Heo jatuh pingsan langsung menghubunginya.
Tuan Heo seperti mempercayainya, Chi Hyun sengaja menghasut kalau Joon Jae pasti sibuk dan yakin akan segera datang karena akan menghubunginya lagi. Tuan Heo mengangguk mengerti, Chi Hyun mengepalkan tanganya menahan amarah karena ayahnya hanya mempedulikan Joon Jae. 

Sim Chung duduk diruang TV sambil menonton drama, Joon Jae keluar kamar pergi ke dapur dan bisa mendengar suara hati Sim Chung. Sim Chung mengumpat Joon Jae adalah pria berpikiran sempit dan pendek, karnea marah soal itu  dan tidak mau bicara dengannya.
“Aku pasti telah dibutakan oleh cinta dan memang naif.cAku tinggal di air sepanjang hidupku, dan datang ke daratan untuk pertama kalinya. Jadi, aku tahu apa? Satu-satunya pria kutemui secara kebetulan hanya Heo Joon Jae. Jadi kukira dia pria yang terbaik.” Ungkap Sim Chung, Joon Jae santai masuk ke dapur dengan mendengar suara hati Sim Chung.
“Jika Seoul itu jauh, dia seharusnya memberitahuku dulu. Dia terbang naik pesawat. Tapi, aku butuh waktu 3 bulan dan 10 hari, hanya karena dia dan aku berenang sepanjang lautan  sampai-sampai kukira tulang ekorku patah! Kenapa juga dia memintaku  berjanji hal yang tak masuk akal?” keluh Sim Chung ngedumel dalam hati.
Joon Jae berteriak menyuruh Sim Chung agar menghentikanya, Sim Chung binggung. Joon Jae meminta agas Sim Chung berhenti memakinya. Sim Chung heran kenapa Joon Jae bisa mengetahuinya lalu kembali bergumam
“Dia memang merasakan apa yang terjadi rupanya. Kukira Heo Joon Jae Cuma pria tampan di dunia tapi ternyata banyak pria tampan di TV. Apa dia pikir cuma dia yang tampan? Dia pasti punya sindrom-pangeran dan mengira semua orang tertarik padanya!” gumam Sim Chung kesal 
Joon Jae berteriak kesal dan Sim Chung pun melawanya, Nam Do baru keluar kamar mengeluh pada keduanya  yang terus bertengkar karena menurutnya memang tidak cocok lebih baik putus saja. Joon Jae memperingatkan Sim Chung agar jangan keluar dan daiam dirumah saja. Sim Chung menolak karena ada janji.
“Kau mau bertemu siapa?” tanya Joon Jae, Sim Chung pun balik bertanya karena melihat Joon Jae sudah membawa jaketnya. Joon Jae hanya diam. Sim Chung pun menyindir kalau Joon Jae tidak bisa memberitahunya. Nam Do setuju dengan Sim Chung.
“Kalau begitu, kau ikut dengan dia, Hyung.” Kata Joon Jae, Nam Do heran kenapa ia harus mengikutinya.
“Aku tidak mau. Ini janji ketemuanku dan tidak perlu siapa pun.” Ungkap Sim Chung, Joon Jae pun tak peduli menyuruh Sim Chung melakukan yang dinginkan saja lalu keluar dari ruangan. 

Nam Do memuji sikap Sim Chung menurutanya Joon Jae  mau bertemu dengan "Mi-Mi" berubah jadi mi-mi. Sim Chun binggung apa yang dimaksud “Mi Mi”. Nam Do memberitahu maksunya “Mitchin Misery!” (Sengsara gila) menurutnya Joon Jae itu Orang yang suka obsesif.
“Tapi aku tidak masalahdengan keobsesifan atau semacamnya. Aku juga sedikit menyukainya.” Komentar Sim Chung tak terganggu.

“Karena kau seperti inilah, makanya dia bosan. Keraskan hatimu dan yang kuat!” komentar Nam Do. 


Joon Jae membesuk Sek Kim yang sudah bisa membuka matanya, meminta maaf karena jarang membesuknya, lalu bertanya Apa boleh menceritakan kisah yang tidak masuk akal. Sek Kim hanya diam saja. Joon Jae menatap Sek Kim mengingat saat jaman joseon, Sek Kim sebagai teman baik menyelamatkan Sim Chung.

“Dahulu kala, Ahjussi  teman baikku, dan selalu di sisiku dan Kali ini, kau lahir sedikit lebih cepat dan berada di sisiku waktu aku masih kecil. Sekarang, siapa pun yang membuat Ahjussi kecelakaan seperti ini maka Aku akan menemukan mereka.” Ungkap Joon Jae
“Jika orang ini pelakunya,  berkediplah dua kali.” Kata Joon Jae memperlihatkan foto Dae Young pada ponselnya, Sek Kim memberikan jawaban dua kali mengedipkan matanya. Joon Jae kaget melihatnya.
“Apa menurutmu ada seseorang yang kau kenal berhubungan dengan Ma Dae Young?” tanya Joo Jae, Sek Kim belum menjawabnya dan saat itu tedengar suara yang memanggilnya. Chi Hyun sudah berdiri didepan pintu kamar rawat Sek Kim. 


Keduanya pergi ke sudut ruangan rumah sakit, Chi Hyun pikir waktu itu sangat mabuk dan pasti kaget setelah menerima telepon darinya. Joon Jae mengingat Chi Hyun berkata akan melindungi ibunya dan Tuan Heo sebagai ayahnya, bertanya-tanya pakah itu yang dikatakan karena mabuk. Chi Hyun seperti baru menyadarinya seperti mengakupasti mabuk sekali saat itu.
“Bagaimana kesehatan Ayah?” tanya Joon Jae khawatir, Chi Hyun mengaku Tuan Heo sudah baikan sekarang.
“Hei, Ayah kita melimpahkan semua tugas pekerjaan padaku dan dia sedang berlibur bersama teman-temannya, selain itu kau akan tahu ini cepat atau lambat, kalau Ayah sudah meresmikan  surat warisannya. Dia meninggalkan hampir semua asetnya kepadaku dan ibu.” Kata Chi Hyun seperti sengaja mengadu domba, Joon Jae hanya terdiam
“Aku menyuruh Ayah untuk mempertimbangkannya beberapa kali. Setelah bertemu kau terakhir kalinya, Ayah pasti sedih.” Ucap Chi Hyun bersikap ramah tapi didalam hatinya menyimpan dendam

“Apa kau selalu seperti orang yang ramah seperti ini? Aku akan membenci ayahku sendiri dan Kau tidak perlu mempengaruhiku untuk membencinya. Jika kau terus seperti ini, sepertinya kau punya motif tersembunyi.” Komentar Joon Jae akan berjalan pergi.
Chi Hyun langsung bertanya kabar Sim Chung sekarang, Joon Jae membalikan badanya heran kenapa Chi Hyun menanyakan hal itu. Chi Hyun mengaku tak tahu hanya selalu memikirkannya dan ingin tahu bagaimana keadaannya, lalu meminta agar Joon Jae menitipkan salam untuknya.
Joon Jae pikir kenapa harus ia yang melakukanya, Chi Hyun berdiri dengan menatap Joon Jae bisa menerima kalau tak mau melakukan lalu meremas bagian pundak saudara tirinya. Joon Jae terdiam seperti merasakan sesuatu. 


Si Ah terlihat kebinggungan memikirkan keadaan sekarang, lalu menguatkan diri untuk mengirimkan pesan pada Joon Jae “Joon Jae, ternyata Ahjummeoni di rumah kami adalah ibu...” tapi Si Ah seperti ragu mengirimkanya, saat itu Nyonya Moo datang membawa nampan, Si Ah kaget melihat calon ibu mertuanya itu datang.
“Katanya kau sakit. Kau pun tidak berangkat kerja. Cobalah makan bubur.” Ucap Nyonya Moo
“Oh, aku sakit karena membuatmubekerja berlebihan.” Kata Si Ah merasa tak enak
“tak masalah Panggil aku kalau sudah  selesai makannya” ucap Nyonya Mo, Si Ah merasa punya tangan dan kaki jadi tak akan memanggil, bahkan bisa membereskan sendiri. Nyonya Mo mengerti, lalu akan keluar kamar. 

Tiba-tiba Si Ah memeluk Nyonya Moo dengan erat dari belakang. Nyonya Mo binggung dengan sikap dari Bibinya Elizabeth. Si Ah mengaku hanya ingin melakuan sekali saja, Nyonya Moo mengaku kalau  merasa sedikit tidak nyaman dan bergegas pergi.
Jin Joo duduk diruang tengah dengan sibuk menelp, Nyonya Mo datang menemui majikan menceritakan kalau Si Ah sepertinya sakit karena tidak seperti biasanya dan agak aneh. Jin Joo pikir tak mungkin adik iparnya itu bersikap normal.
Nyonya Moo tak bisa berbuat apa-apa lagi, Jin Joo pun sibuk menelp lalu mengomel karena Kang Seo Hee mengabaikan panggilannya. Nyonya Moo berhenti melangkah mendengar nama Kang Seo Hee lalu duduk disofa,
“Anak mereka...” ucap Nyonya Moo, Jin Joo bertanya apakah  yang dimaksud Anak kandungnya Ketua Heo

“Ya, apa kau tahu sesuatu tentang anak itu?”tanya Nyonya Moo, Jin Joo malah heran kalau pembantunya itu ingin tahu, Nyonya Mo mengaku hanya ingin tahu saja.
“Anak yang mengurus semua bisnis CEO Heo adalah... anaknya Kang Seo Hee. Sementara Anak kandungnya minggat dari rumah 10 tahun yang lalu dan tidak ada orang yang tahu keberadaannya.” Cerita Jin Joo
Nyonya Moo kaget dan wajahnya sedih mengetahui kalau Joon Jae  minggat dari rumah bahkan tidak kuliah di luar negeri. Jin Joo yakin kalau anak kandung Tuan Heo tak berada diluar negeri,
“Yang kutahu dia minggatwaktu masih SMA.Kalau seperti itu, jika anak Kang Seo Hee menerima semua warisan berarti hanya orang asing yang mendapat keuntungan dari rumahnya. Ketua Heo itu tidak terlalu pintar. Ayah macam apa dia? Kenapa dia menelantarkan anaknya sendiri, dan mendedikasikan dirinya buat anak orang lain? Meskipun dia suka wanita,  tega sekali dia menelantarkan anaknya.” Keluh Jin Joo mengomel.

Nyonya Moo tak bisa menutupi rasa sedihnya, Jin Joo binggung melihat bibinya itu malah terlihat sedih,  Nyonya Moo pun meminta izin karena harus pergi ke suatu tempat. Jin Joo tak bisa memperbolehkanya kalau anaknya pulang harus menyiapkan makanan.
Si Ah tiba-tiba datang mempersilahkan Nyonya Moo pergi, Jin Joo melonggo melihat sikap adik iparnya. Si Ah mengatakan kalau akan mengantikan tugas Nyonya Moo dengan mempersiapkan makanannya dan membawakannya ke sekolah. Nyonya Moo pun bergegas pergi.
“Ahjumma itu! Apa dia bertingkah semaunya karena dia mau berhenti atau apa?!” kata Jin Joo kesal Si Ah menahan kakaknya agar tak marah,
“Dia pasti ada urusan mendesak. Dan Juga, bagaimana kau bisa memanggilnya "Ahjumma," dasar!” keluh Si Ah, Jin Joo pikir panggulan apa selain Ahjumma.

“Zaman sekarang, siapa orang yang memanggil pembantu rumah tangga Ahjumma? Tren sekarang ini, memanggilnya "Ibu."” Kata Si Ah
“Bibi Elizabeth coba dengar, beda usia antara Ahjumma itu dan aku... tidak terlalu jauh buat aku memanggilnya "Ibu."” Kata Jin Joo heran
“ Panggilan "Ibu" itu artinya.. berbagi makanan yang sama, dan tidur di bawah atap yang sama. Dia mempersiapkan makananku, dan bahkan mencuci bajuku.... Ahh..  Aku bahkan membiarkan Ibu mencuci pakaianku!” jerit Si Ah panik dan malu, Jin Joo benar-benar aneh dengan sikap adik iparnya yang tak seperti biasanya.

Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar