Selasa, 31 Januari 2017

Sinopsis Hwarang Episode 13 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Ah Ro mencoba kembali mencari Moo Myung dibalik pohon menyakinkan kalau harus bisa mendapatkanya, lalu dikagetkan dengan Joo Ki tiba-tiba sudah disampingnya.  Joo Ki heran sepertinya apa yang ingin dilihatnya. Ah Ro mengatakan kalau Itu bukan urusan Joo Ki.
“Kau ingin melihat orang itu,tapi ia tidak akan keluar.”ucap Joo Ki sudah bisa  menembaknya.
“Apakah semua orang seperti itu? Menganggapnya tidak berarti Atau perasaan mereka berubah dengan mudah?” kata Ah Ro
“Perasaan pria yang berubah dengan mudah dan memang seperti itu, .. Kalau kau akan mengatakan siapa, aku bisa mengatakannya lebih rinci. Siapa dia?” ucap Joo Ki penasaran, Ah Ro ingin menyebutkan namanya akhirnya memilih untuk tak mengatakanya.
Saat itu Pengawal Putri Sook datang mengatakan kalau Putri mencari Ah Ro.

Wi Hwa memberitahu kalau mereka  akan diutus untuk berdamai tapi tidak bisa menjamin keselamatan hidup mereka.  Maek Jong mengerti pesan ibunya agar tetap tinggal diam.
“Kalian akan pergi selama tiga hari, Aku akan akan memilih orangnya... di halaman besok. Sampai saat itu.. Aku akan memikirkannya dengan matang,  Siapa yang akan melakukan itu?” kata Wi Hwa. Semua terlihat tegang mendengarnya. 

Ah Ro menemui Putri Sook dengan wajah binggung menanyakan alasan harus pergi. Putri Sook bertanya apakah Ah Ro lupa kalau ia adalah tabib pribadinya. Ah Ro pikir dirinya bukan tabib resmi dan kalau dirinya pergi maka Hwarang...
“Ini adalah perintah Ratu. Apa kau berani menolak Ratu? Semua harus kau lakukan adalah tetap tenang dan ikut denganku” tegas Putri Sook, Ah Ro pun keluar dengan wajah gelisah.
“Apa Aku pergi... ke Baekje? Apa yang harus aku katakan Kepada Ayah?. Dia pasti akan khawatir. Dan kakak... Ahh apakah dengar atau tidak dia tidak akan perduli, dia itu berpikiran sempit, kecil, dan egois seperti cacing.” Ucap Ah Ro berbicara sendiri. 

Pengawal Putri Sook menanyakan alasan membawa tabib Ah Ro, padahal Ada banyak tabib yang lebih baik di istana. Putri Sook pikir pengawalnya itu mengetahui alasan ingin membawanya. Pengawal Putri Sok hanya diam. 

Maek Jong mengetahui Sook Myung akan pergi ke Baekje. Pa Oh memberitahu karena untuk persahabatan, sehingga adiknya hanya perlu membawa beberapa orang. Maek Jong pikir Hanya karena Putri pergi, itu tidak akan membuat persahabatan.
“Kita harus membujuk mereka dengan ... emas dan sutra.”Ucap Pa Oh bisa mengerti
“Sampai kapan Silla .. akan terus membungkuk pada kerajaan kerajaan itu?” kata Maek Jong penuh dendam.


Wi Hwa sedang berada didepan lilin penerangan, Joo Ki datang dan Wi Hwa langsung memberitahu kalau Ini dimulai terlalu cepat. Joo Ki tak mengerti maksudnya. Wi Hwa mengungkapkan “Mengaduk sesuatu.” Joo Ki makin binggung mengaduk apa maksudnya.
“Saatnya telah tiba... lebih cepat dari yang diharapkan.” Ucap Wi Hwa
“Sejak tadi kau terus terusan bergumam Waktu apa yang sudah tiba?” tanya Joo Ki makin penasaran
“Waktu untuk Hwarang ... untuk memasuki dunia.” Tegas Wi Hwa lalu mematikan lilin yang ada didepanya.
Wi Hwa berbicara di depan para Hwarang bertanya apakah mereka sudah berpikir dan tidak ada satupun yang mau mewakili hwarang. Yeo Wool pikir tak akan ada yang pergi ketika tahu kalau  sangat berbahaya. Saat itu Putri Sook masuk ke dalam ruangan dengan Ah Ro.
“Para utusan akan pergi ke Baekje untuk menciptakan persahabatan dengan mereka. Tapi, aku tidak bisa menjamin kalian akan tetap hidup. Ini adalah misi pertama Silla untuk Hwarang. Jika kalian pulang dengan selamat, maka kalian akan diberikan kehormatan besar. Tapi, jika kalian gagal, maka tidak akan ada perdamaian di Silla. Aku dan tabibku akan membawa sebuah kelompok kecil.” Ucap Putri Sook
Maek Jong bertanya-tanya dalam hati ingin tahu alasan Putri Sook itu membawa Ah Ro bersamanya.
“Aku akan bertanya lagi. Siapa Yang akan menemaniku untuk ke Baekje?” ucap Putri Sook.
“Jangan bilang kau akan pergi. aku sungguh-sungguh.” Gumam Ah Ro menatap ke arah Moo Myung.
Moo Myung mengangkat tangan dan mengatakan bersedia pergi, Ah Ro kaget tapi tak bisa berkata apapun. Soo Ho melihat Moo Myung akan pergi langsung menunjuk tangan. Yeo Wool kaget karena Soo Ho ingin ikut. Wi Hwa pun memuji So Ho yang membuat pilihan yang bagus.
Ban Ryu mengangkat tangan memutuskan akan pergi, Teman Ban Ryu tak percaya temanya akan ikut. Maek Jong mengangkat tanganya, Wi Hwa pura-pura tak melihatnya dan berpikir kalau tak ada yang mau pergi. Maek Jong langsung berkata kalau akan ikut pergi dengan mereka. Wi Hwa pun tak bisa melarang dengan menyimpulkan ada empat orang yang akan ikut dengan Putri Sook.
“Lindungi Putri Sook Myung... dan bangun persahabatan dengan mereka Apakah kalian mengerti?” ucap Wi Hwa, semua hanya diam dengan wajah tegang. 

Ah Ro menyiapkan makanan untuk ayahnya, Tuan Ahn binggung melihat menu diatas meja berpikir kalau mereka kehabisan Nasi lagi dan mengajak untuk makan bersama. Ah Ro menolak dengan alasan makan sudah tadi.
“Apa ada masalah?” tanya Tuan Ahn melihat wajah anaknya, Ah Ro menyangkal
“Karena aku, kau pasti menderita Aku minta maaf.” Ucap Tuan Ahn merasa bersalah
“Orang-orang miskin di ibukota bisa diobati  dan aku ucapkan terima kasih kepada ayah.” Kata Ah Ro menenangkan ayahnya.
Tuan Ahn pikir kalau Ah Ro bisa menunggu sebentar lagi maka... Ah Ro memotong kalau dirinya baik-baik saja dan akan bekerja di Rumah Hwarang hari ini, jadi menginginkan agar ayahnya terus menjadi Tabib besar dan jangan membedakan kalangan manapun.
“Jadilah orang yang membantu orang lemah dan tak berdaya. Dengan begitu, Aku bisa hidup, Ini aku katakan dengan tulus,Ayah” ungkap Ah Ro 

Ah Ro menuliskan surat, dengan menahan tangis meminta agar ayahnya tak perlu mengkhawatirkannya karena akan kembali dengan selamat. Sementara Ratu dalam kamarnya terlihat marah dan panik mengetahui Maek Jong yang ikut dalam utusan Putri Sook.
“Anak itu menerima surat ku. tapi dia tetap menawarkan diri sebagai utusan” ucap Ratu murka, Pengawalnya hanya bisa mengucapkan permintaan maafnya.
“Kenapa dia tidak mematuhiku? Dia membuat ibunya menjadi orang bodoh. Mengapa?!! Mengapa?!!” teriak Ratu Ji Soo benar-benar murka. 

Sun Yun menangis tersedu-sedu, Ah Ro meminta temanya berhenti menangis. Sun Yun merasa Ban Ryu itu tidak peduli sama sekali dan tak percaya kalau membuat keputusan seperti itu  bahkan tanpa berbicara  dulu kepadanya.
“Bisakah kau memikirkanku juga?aku juga akan pergi” keluh Ah Ro pada temanya hanya memikirkan Ban Ryu
“Aku harus memberinya sesuatu” kata Sun Ryu, Ah Ro ingin tahu apa yang akan diberikanya.
“Rambutku” kata Sun Yun, Ah Ro pikir kalau ini sedikit berlebihan
“Ini juga terlalu berlebihan, Aku tidak tahu apa dia.. akan Hidup atau mati Aku perlu melakukan ini supaya dia mengingatku” kata Sun Yun sangat peduli dengan Ban Ryu
Ah Ro mengingatkan temanya kalau ia juga akan pergi bersama, Sun Yun pikir Ah Ro akan pergi dengan kakaknya jadi tak perlu mengkhawatirkanya. Ah Ro tahu tapi wajahnya terlihat ikut mengkhawatirkan sesuatu. 

Sung Rang tiba-tiba merengak pada Moo Myung sambil mengejarnya. Moo Myung pikir Sung Rang tak perlu mengeluh padanya dan seharusnya mengatakan saat pertemuan tadi. Sung Rang mengaku tidak tahu karena bersembunyi jadi meminta agar Moo Myung membawanya dan mengatakan pada Wi Hwa.
“Bilang sama saja dengan yang lain.” Perintah Moo Myung
“aku tidak suka orang lain, tapi Aku menyukai kau.” Ungkap Sung Rang
“Bagaimana bisa kau mengatakannya terang terangan? Aku tidak tahu harus berkata apa.” Keluh Moo Myung, Sung Rang menekan bagian wajah Moo Myung.
“Apa kau pikir aku bayi ? Aku sudah dewasa. Aku bisa menahan semua itu”kata Sung Rang
Moo Myung ingin tahu alasan Sung Rang menyukainya. Sung Rang juga tak tahu tapi menurutnya Moo Myung itu keren.

Dan Se yang melihat Sung Rang langsung membungkuk meminta maaf pada Moo Myung dengan menghalangi sang adik. Moo Myung senang melihat Dan Se datang meminta agar menahan Sung Rang agar tak mengikutinya.
“Aku merasa seperti dia akan mengikutiku ke Baekje.” Ungkap Moo Myung lalu pamit pergi. Sung Rang panik dan ingin mengikutinya. Dan Se langsung menahanya
“Tidak! Aku ingin pergi denganmu.” Rengek Sung Rang meraung seperti anak kecil. 

Pa Oh duduk merenung dengan wajah sedih, Maek Jong melihat berpikir kalau Pa Oh Sekarang tidak tahan lagi. Pa Oh meminta maaf karena tidak punya kekuatan untuk berdiri jadi meminta agar tetap duduk selama satu menit.
“Katakan saja yang sebenarnya ... Kau ingin pergi denganku” kata Maek Jong

“Kata "Tetap Tinggal." Kau melihat bahwa surat itu menyuruhmu untuk tetap tinggal. Ratu memperingatkanmu dalam suratnya. Kenapa kau harus menjadi Utusan? Apa kau pikir hidupmu hanya untukmu sendiri? Tanpa kau, tidak akan ada Silla. Ketika umurmu 7 tahun aku membawamu keluar dari istana menyaksikan kau tumbuh  dan aku dilindungi mu” kata Pa Oh panik
“Aku mengerti, jadi tenanglah” ucap Maek Jong
“Kau tidak boleh melakukan ini padaku. Kau bahkan tidak berbicara dengan ku tentang hal itu. Bagaimana bisa kau dalam bahaya terus seperti ini? Aku bahkan tidak bisa pergi dengan mu... Tapi...” kata Pa Oh langsung menangis tersedu-sedu. Maek Jong seperti malu meminta Pa Oh agar menangis. 

Ban Ryu keluar dari Rumah Hwarang lalu melihat Sun Yun yang sudah menunggunya. Di sisi lainya tempat lain, Sun Yun memberikan sebuah kantung kain, meminta agar Ban Ryu mengambilnya. Ban Ryu melihat itu adalah kepangan rambut milik Sun Yun,
“Karena aku tidak bisa pergi dengan mu. Jangan terlalu memberatkan diri...” kata Sun Yun,Ban Ryu mengaku tak memberatkan diri
“Kalau begitu... Pergilah dan kembalilah dengan selamat. Aku akan menunggumu” ucap Sun Yun lalu memberikan kecupan di pipi Ban Ryu lalu beranjak pergi. Ban Ryu menarik Sun Yun dan langsung memberikan ciuman, Sun Yun sempat terkejut tapi akhirnya menutup mata menerima ciuman dari Ban Ryu. 


Ban Ryu tersenyum-senyum sendirian memegang bibirnya karena baru saja mencium Sun Ryu. Tiba-tiba Kang Sung datang memberikan hormat lalu dengan mata mendelik memperingatkan agar Ban Ryu menyadarkan dirinya.
“Kali ini jangan mengecewakan Tuan Young Shil” tegas Kang Sung, Ban Ryu pun hanya diam saja dan Kang Sung pun pergi lebih dulu. 

Pa Oh mengikuti Maek Jong yang akan pergi seperti tak rela melepaskanya, meminta agar memilirkannya lagi. Maek Jong menegaskan kalau pilihanya sudah bulat. Tiba-tiba Pa Oh berlutut sambil menangis, Maek Jong panik takut ada orang yang melihatnya lalu menyuruh Pa Oh berhenti sebagai perintah dari Raja. 

Dan Se berjalan dengan Moo Myung berpikir kalau Ia kembali hidup-hidup, maka akan mempertimbangkannya. Moo Myung binggung apa maksud ucapannya, Dan Se mengaku akan melayani Moo Myung sebagai gurunya. Moo Myung tersenyum berpikir lebih baik Jangan melayaninya, karena sudah mengatakan kalau status mereka itu sama.
Putri Sook sudah siap dengan pedangnya, saat melihat Ah Ro tatapan sinis dan pergi meninggalkanya lebih dulu. Ratu datang ke lapangan rumah Hwarang, tatapan sinis melihat anaknya yang ikut menjadi utusan. 

Wi Hwa sudah ada dibalkon atas, memberitahu Tugas mereka adalah untuk menjaga Putri Sook Myung dan Menjaga kehormatan sebagai Hwarang. Serta berpesan agar  Jangan mundur dari pertarungan dan harus melakukan semuanya untuk Silla.
“Kalian mungkin akan menghadapi situasi tak terduga di perjalanan, Ingat setiap kali ...Kalau kalian adalah Hwarang!Kalian adalah kebanggaan Silla!Apakah kalian mengerti?” ucap Wi Hwa, semua menjawab mengerti.
“Kalian Ber Empat akan pergi sebagai Utusan meminta persahabatan dengan Baekje. Kalian juga akan menjaga Putri Sook Myung. Pergi dan perkuat hubungan dengan Baekje  yang telah di tempat sejak raja ke-19 Silla.” Pesan Ratu, Semua menjawab mengerti. 

Semua pun keluar dengan menunggangi kuda. Soo Ho duduk diatsa kuda mengingat percakapan dengan ayahnya.
Flash Back
Kim Seub memuji anaknya yang sudah memilih keputusan terbaik meminta agar melindungi Putri dari Silla  adalah sesuatu yang Hwarang harus lakukan, lalu ingin tahu alasan Soo Ho yang melaukan hal seperti ini demi ratu.
“Ayah.... Melindungi Raja ... sama juga melindungi Ratu. Apa itu benarkan?” ucap Soo Ho yakin
Sementara Ban Ryu mengingat tujuanya untuk ikut bersama dengan Moo Myung, saat itu kaget karen harus ikut pergi menjadi utusan.
Flash Back
Tuan Park mengatakan kalaua da sesuatu yang harus dilakukan, lalu memberikan selembar amplop meminta agar di beriksan secara diam-diam  pada Putra Mahkota Baekje. Ban Ryu menanyakan isinya,  Tuan Park mengatakan kalau surat ini adalah judi.
“Sebuah pertaruhanku mengambil Silla. Kau harus memberikan surat ini ... untuk Putra Mahkota.” Perintah Tuan Park 


Maek Jong mengingat perkataan ibunya kalau semakin ia  mencoba untuk melakukan sesuatu, maka orang-orang di sekitarnya akan terluka karena Maek Jong sendiri, maka meminta agar  jangan melakukan apa-apa jika ingin melindungi orang-orang di sekitarnya.
Sementara Moo Myung mengingat pesan Tuan Ahn agar melindungi Ah Ro dan harus melakukan apa pun untuk melindunginya. Moo Myung benar-benar ikut dengan Putri Sook karena ingin melindungi Ah Ro. Putri Sook terlihat duduk anggun dalam tandu. 

Tuan Ahn baru membaca surat yang ditinggalkan Ah Ro, “Ini Perintah Ratu, Aku akan pergi sebagai utusan dengan Putri ke Baekje. Aku pergi dengan Sun Woo, jadi jangan khawatir. Kami akan kembali dengan selamat. Jaga diri baik baik, Ayah.” Tuan Ahn terlihat sangat marah membacanya.
“Harus... Sampai kapan...” jerit Tuan Ahn sangat kesal
Saat itu ia sudah duduk kedai meminum arak, Wi Kyung Kong datang heran melihat Tuan Ahn seorang tabibi yang tidak menuangkan Arak kedalam cangkirnya dan ingin tahu tujuanya. Tuan Ahn dengan penuh rasa amarah merasa harus tahu bagaimana cara menurunkan Ji So dari Takhta

Moo Myung melihat Putri Sook duduk sendirian dan langsung datang menghampiri ingin tahu alasannya membawa Ah Ro. Putri Sook mengaku tidak membawanya, tapi ada satu Hwarang yang bisa dipercaya, yaitu orang yang berdiri didepanya.
“Akui saja kau yg melakukannya. Dengan begitu, Kau tidak perlu membawa adikku.” Kata Moo Myung
“Kita membutuhkan Tabib dan Aku juga butuh seorang wanita untuk melayani ku.” Tegas Putri Sook.
Moo Myung tiba-tiba mengarahkan kepalanya dan Putri Sook terlihat kaget langsung memejamkan mata berusaha untuk menghindar. Ia pikir  Seharusnya membiarkannya saja dari dulu dan sekarang lalu melepaskan lalat yang ada ditanganya.
Putri Sook yang terlihat kaget seperti tak bisa mengatur irama jantungnya, dan merasakan sesak dibagian dada, bunyi nafasnya pun tak teratur. Moo Myung langsung menahan Putri Sook yang akan jatuh pingsan, Putri Sook seperti makin panik karena berdekatan langsung dengan Moo Myung.
Dari kejauhan Ah Ro melihat Moo Myung yang memegang Putri Sook seperti sangat perhatian. Putri Sook pun berusaha untuk mengatur nafasnya dengan Moo Myung yang menahanya agar tak terjatuh, Ah Ro terus melihat Moo Myung dari balik pintu seperti hatinya terasa sakit. 


Ban Ryu duduk di pinggir sungai dengan memegang rambut milik Sun Yun, dan mengingat kembali ciumanya yang membuatnya tersenyum bahagia.  Tiba-tiba Soo Ho datang bertanya apa yang sedang dipikirkanya, Ban Ryu buru-buru menyimpan kantung dari Sun Yun dan akan pergi.
Soo Ho memanggilnya, melihat kantung milih Ban Ryu yang terjatuh dan mengembalikanya. Ban Ryu mengambilnya kembali dan mengucapakn Terima kasih lalu bergeras pergi. Soo Ho melonggo binggung karena Ban Ryu  mengucapkan "Terima kasih" karena tidak pernah mendengar dia mengatakan itu sebelumnya.

Moo Myung membawakan bawaan Putri Sook ke dalam kamar,  Putri Sook melihat tempat tidur kayu yang tersedia. Moo Myung memberitahu mereka  akan memasuki Baekje besok jadi Putri Sook harus tidur bahkan jika tidak bisa tidur sehingga bisa menaiki kuda. Putri Sook pun mengucapkan terimakasih.
“Aku tidak ingin orang melihatnya dan Kau tidak tahu bagaimana memalukannya itu.” Kata Putri Sook, Moo Myung sudah mengetahuinya lalu keluar dari ruangan. Putri Sook hanya bisa terdiam mendengarnya. 

Maek Jong duduk diam dalam ruangan, mengingat kembali ucapan Wi Hwa sebelumnya “Sebuah bangsa Dengan Rakyat yang bahagia dan rajanya menderita. Kalau kau ingin membuat sebuah bangsa seperti itu,maka kau jadi Raja itu akan baik baik saja”
Sementara Ah Ro mengingat saat melihat Moo Myung yang memegang Putri Sook, lalu mensugesti dirinya agar tidak akan menangis. Tapi malah membuatnya makin menangis, dan seseorang datang menghampirinya, terlihat Moo Myung datang. 

Ah Ro mengaku kalau memang bodoh,menurutnya Moo Myung ikut pergi itu karena alasan Putri Sook bukan karena dirinya. Moo Myung hanya diam, Ah Ro dengan menahan tangis  mengaku kalau Hatinya seperti ingin beristirahat setiap kali Moo Myung bahkan ketika sudah melihat Moo Myung masih merindukannya.
“Tapi kau... Kau baik-baik saat melihatku, kan?” kata Ah Ro dengan menahan tangisnya.
“ini karena aku.... Bukan karena kau.. tetapi karena aku.. Aku sangat marah dengan diriku sendiri dan merasa sangat buruk. Itu sebabnya aku tidak bisa melihat mu..” akui Moo Myung
“ Lalu... Apa kau juga.. Merindukan aku.. dan putus asa ?”tanya Ah Ro
“Aku sangat membenci diriku sendiri, tapi keinginanku untuk melihatmu... Sangat putus asa  yang selalu mengalahkan itu.” Akui Moo Myung dan langsung memeluk Ah Ro.
Ah Ro pun bisa tersenyum dipelukan Moo Myung, tiba-tiba beberapa orang datang dengan membawa obor seperti ingin menyerang. Moo Myung mengajak Ah Ro untuk segera pergi, tapi mereka malah sudah terkepung seperti semua siap untuk membalas dendam. Saat itu dari kejauhan, Maek Jong melihat orang-orang dengan obor yang mengepung Ah Ro dan Moo Myung.
Bersambung ke episode 14

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar