Selasa, 24 Januari 2017

Sinopsis Hwarang Episode 11 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Tuan Park melihat gelang yang ditemukan oleh Kang Sung dengan bertanya dimana menemukanya. Kang Sung menjawab menemukannya di Rumah Hwarang menurutnya terlihat istimewa. Ho Kong  hanya melihat dari kejauhan tanpa menyentuhnya. Tuan Park bertanya  Siapa yang pakai memakai gelang itu.
Kang Sung memberitahu kalau  Salah satu orang di Hwarang. Tuan Park menatap Kang Sung ingin tahu siapa Hwarang itu.  Kang Sung mengatakan dengan sangat yakin kalau gelang itu milik Sun Woo, Putra Ahn Ji Gong, saat keluar dari rumah Tuan Park terlihat bangga bisa membawakan sebuah informasi untuk ayah tiri Ban Ryu. 

Ho Kong sibuk melihat gelang yang bentuknya berbeda, sementara Tuan Park mengeluarkan sesuatu dari lemarinya yang terkunci, sambil mengatakan menyimpan surat raja masa lalu dikirim pada raja baekje saat aliansi mulai goyah.
“Simbol raja itu ditemukan di Rumah Hwarang. Dan itu.. putra keturunan campuran Ahn Ji Gong.” Ucap Tuan Park melihat stampel yang sama pada ukiran gelang. 

Maek Jong bermimpi dengan Gambar naga terlihat dibagian depan istana, ibunya melepaskan panah dan tertancap pada tubuh Ah Ro, Maek Jong berteriak melihat Ah Ro yang jatuh dan akhirnya ia terbangun dari tidurnya. 

Ratu Ji Soo duduk dalam kamarnya memegang pisau mendengar kalau dirinya dianggap sebagai ibu yang paling kejam, lalu bertanya pada pengawalnya apakah setuju dengan hal itu. Pengawalnya hanya diam. Ratu Ji Soo mengangap jawabanya adalah “iya” meremas pisau dengan tangan sampai mengeluarkan darah. Pengawalnya kaget mengambil pisau dari tangan Ratu Ji Soo.
“Aku tidak perlu takut. Selama aku bisa melindungi istana...Selama anak dan keturunanku dapat mewarisi Silla dan aturan untuk generasi akan datang tidak ada yang tidak bisa ku lakukan.” Ucap Ratu Ji Soo

“Putri Ahn Ji Gong... Aku tak bisa kehilangan segalanya karena dia. Aku akan membunuhnya. Ini tidak sesederhana itu. Tidak ada harus tahu. Bahkan dia... tidak harus tahu mengapa harus mati.” Kata Ratu Ji Soo memerintahkan pada pengawalnya. 
Putri Sook Myung menemui Ratu Ji Soo diruanganya, Ratu Ji Soo mengatakan kalau Ada sesuatu harus dilakukan. 

Setelah itu Putri Sook datang ke tempat Ah Ro berkerja, Ah Ro kaget melihat Putri Sook datang ke ruangan tabib dan akhirnye memeriksa denyut nadinya.
“Aku bukan tabib hebat, jadi tak bisa tahu semua penyakit tapi Jantung Anda lemah dan paru membeku. Tampaknya pemulihan anda memakan waktu lama.” Ucap Ah Ro setelah memeriksanya. Putri Sook mengaku kalau  baik-baik saja sekarang.
“Aku menjadi lebih kuat karena belajar seni bela diri.” Ungkap Putri Sook, Ah Ro mengatakan  akan memberikan obat melindungi tubuh Putri Sook
“Dari pada itu, aku berharap kau menjadi tabib pribadiku.” Ucap Putri Sook, Ah Ro binggung karena sekarang ia sebagai tabib di rumah Hwarang.
“Ratu juga akan merasa yakin kalau aku di rawat di sini.” Kata Putri Sook. 
Ah Ro terdiam mengingat saat Ratu Ji Soo yang memikirkan cara  membiarkan tetap hidup Namun tak bisa menemukan jalan dan ingin membunuhnya karena mengetahui jati diri sang pangeran.
“Aku tak berharap banyak. Datang saja ke tempatku saat aku memanggilmu.” Ucap Putri Sook. Ah Ro hanya bisa diam saja. Putri Sook menganggap kalau Ah Ro sudah menerima tawarannya. 

Wi Hwa terdiam mengingat ucapan Putri Sook sebelumnya ” Aku tak tahu apa Ratu atau kau pikir tentang hal itu tapi bagiku, Hwarang hanyalah alat. Dengan  Melindungi keluarga kerajaan, maka mereka harus membunuh atau dibunuh. Aku akan memberikan 10 hari dan Latih mereka sampai saat itu. Jika itu mungkin, jangan ada yang mati.”
“Dia mirip seperti Ratu.” Ucap Wi Hwa mengingat sikap Putri Sook, tiba-tiba Joo Ki sudah ada didepan wajah Wi Hwa bertanya apa yang sedang dilakukanya lalu memberikan cemilan kerak beras.
“Jika kau membawanya... mengapa kau tak membawa yang lebih membuat selera?” keluh Wi Hwa,  Joo Ki memberitahu kalau ini makanan yang sedang trend sekarang.
“Tapi... Putri mengirim ini dan itu, Dia mengirim orang mempersiapkan pertarungan itu. Dia tak memberitahumu, 'kan?” kata Joo Ki. Wi Hwa terdiam mendengarnya.
 Ahh.. Lebih baik aku beralih pada Putri. Kepala tak ada bandingnya dengan Putri, sepertinya Aku harus beralih.” Komentar Joo Ki
“Ini tak ada hubungannya pada kekuasanku.” Tegas Wi Hwa lalu menyuruh Joo Ki keluar dari ruanganya saja sekarang.
Joo Ki melihat kalau Wi Hwa itu pasti menuruti keinginan Putri jadi kenapa harus kesusahan menolaknya. Wi Hwa meminta agar Joo Ki mendekat dan ingin memberitahukanya,  Joo Ki mendekat. Wi Hwa menyuruh Joo Ki agar keluar dari ruanganya. Joo Ki pikir lebih baik ia beralih saja mulai sekarang. 


Ah Ro berjalan sambil melamun, seperti hidupnya sedang gundah. Moo Myung melihat Ah R yang sedang berjalan mengikutinya disamping tapi seperti Ah Ro tak menyadarinya. Moo Myung berusaha untuk memegang tangan Ah Ro tapi sangat gugup dan mengurungkan niatnya sampai akhirnya mengajaknya bicara.
“Di mana kau, hari itu saat pertunjukan?” tanya Moo Myung, Ah Ro kaget tiba-tiba Moo Myung ada disebelahnya dan mengaku kalau dirinya ada disekitar tempat itu.
“Itu tidak mungkin, Aku memeriksa di mana-mana.” Kata Moo Myung yang tak melihat Ah Ro dimana pun.
“Maksudku... Orang pasti menutupiku karena Ada banyak orang hari itu. Itu benar-benar mungkin, 'kan?” ucap Ah Ro mencoba menyakinkanya lalu pamit pergi. 

Saat didepan pintu melihat ayahnya yang sudah menunggu, bertanya kenapa ayahnya datang ke tempat Hwarang. Tuan Ahn mengaku  kebetulan lewat dan berpikir kalau Ahn Ro akan pulang sekarang. Ah Ro merasa kalau ini pertama kali Ayahnya melakukan ini karena saat kecil tak pernah menjemputnya yang membuatnya sangat sedih.
“Aku minta maaf dan sangat menyesal.” Ungkap Tuan Ahn menatap sedih anaknya. Ah Ro menegaskan bukan itu maksud ucapanya lalu mengajak Tuan Ahn untuk pergi.
“Aku harap Ayah menjemputku setiap hari seperti ini.” Ungkap Ah Ro memegang lengan ayahnya yang sangat dicintainya. Tuan Ah pikir ia juga harus mengantarnya juga. Ah Ro akhirnya menolak.
“Ini berkatmu aku jadi tabib paling terampil di Shilla. Terima kasih sudah datang hari ini.” Kata Ah Ro sangat bangga pada ayahnya. 

Tuan Ahn duduk dalam ruanganya, melihat kembali cairan dalam botol dan ucapan temanya.
“Dia tak bisa membunuh saat ini, jadi aku pastikan akan membunuh waktu berikutnya. Tidak peduli di mana kau lari dalam Shilla maka kau tidak dapat menghindari Ji Soo. Aku memperingatkanmu jadi lindungi anak itu” 

Semua anggota Hwarang kaget saat membuka pintu melihat Putri Sook yang masuk, Soo Ho bertanya apa yang terjadi sekarang. Moo Myung yakin kalau ini pasti bukan sesuatu yang baik. Anak buah Wi Hwa memberitahu kalau  Sepuluh hari dari sekarang, Hwarang akan tanding satu sama lain.

“Sang Putri akan mengawasi ini sendiri sehingga hanya Hwarang yang menang akan menerima lulus.” Kata anak buah Wi Hwa, semua binggung maksud dari mereka bertanding.
“Dia belum berubah.” Komentar Maek Jong melihat putri Sook yang kejam seperti ibunya.
“Ini berbeda dari setiap tugas sebelumnya. Kalian mungkin kehilangan nyawa selama pertandingan tersebut. Bertarung pada nyawamu. Seorang panglima yang takut mati, tak bisa melindungi anak buahnya. Dan Perlu diingat, Bertanding sampai mati.” Tegas anak buah Wi Hwa


Putri mondar mandir dalam ruangan dan semua anggota Hwarang sudah keluar. Anak Buah Wi Hwa bertanya apakah yang dimaksud oleh Putri Sook adalah berburu. Putri Sook pikir Pelatihan akan lebih baik di sana sebelum bertanding.
“Namun, kupikir keluarga kerajaan melarang bunuh hewan” ucap anak Buah Wi Hwa binggung.
“Ketika prajurit membunuh seseorang... Apa dianggap membunuh hewan? Hwarang adalah prajurit Untuk seorang prajurit tidak peduli siapa lawannya. Itu yang terpenting.” Ucap Putri Sook 

Hwarang sudah berganti pakaian, Anak buah Wi Hwa memberitahu kalau mereka semuanya akan melakukan  pelatihan berburu. Semua terlihat kaget dan binggung. Anak buah Wi Hwa menjelaskan mereka harus tahu berburu cara terbaik melatih menuggang dan menembak.
“Dia terlihat cantik tapi dia menyakitkan.” Komentar Yeo Wool
“Kalian bisa menangkap kelinci dan dapat menangkap burung tapi siapa menangkap rusa pertama maka akan menjadi pemenang.” Ungkap Anak buah Wi Hwa
“Aku tahu dimana letak hati Putri, terlihat Sangat jelas.” Kata Yeo Wool melihat tatapan Putri tertuju pada Moo Myung. Maek Jong yang berdiri dibelakangnya bisa melihat dengan jelas. 

Tuan Park mengetahui kalau kalau memang Maek Jong dalam Hwarang bertanya-tanya bagaiman abisa membunuhnya dan apa yang akan dilakukan apabila Raja Jinheung terjebak pada kail pancingnya.
Sementara Ah Ro didatangi oleh pengawal Putri bertanya apakah terjadi sesuatu. Pelayan menceritakan kalau Putri pergi dengan alasan berburu tapi belum kembali sejak kemarin. Ah Ro ingin tahu apakah ada sesuatu yang terjadi.
“Dia tidak bisa tidur dan merasa pusing di pada malam, jadi melewatkan makan malam. Bisakah kau mencari dia?” ucap pelayan khawatir, Ah Ro pun bersedia untuk mencarinya. Pelayan memberitahu kalau putri ada di hutan belakang Rumah Hwarang.

Ban Ryu dkk sedang siap-siap dengan panahnya, saat itu putri Sook datang dengan kudanya, semua pun memberikan jalan. Moo Myung memilih untuk menunduk tak menatapnya, sementara Putri Sook terus memandangi Moo Myung tanpa berkedip lalu akhirnya pergi dengan kudanya.
“Bagaimana dia sangat berbeda dengan ibunya? Bagiku Ratu... begitu hangat.” Ungkap Soo Ho, Maek Jong menatap Soo Ho heran mendengar ibunya menerima pujianya, Sementara Ban Ryu merasa Soo Ho itu hanya omong kosong.

“Kau belum tahu wanita sejati. Aku belajar sesuatu dari wanita tak terhitung jumlahnya...., seorang wanita yang tak menunjukkan perasaan sebenarnya. Bagiku Ratu...wanita yang paling feminin.” Ungkap Soo Ho
Moo Myung hanya bisa menghela nafas, Maek Jong benar-benar tak percaya kalau Soo Ho benar-benar menyukai ibunya, Soo Ho heran melihat tatapan Maek Jong padanya. Maek Jong tak membahasnya. Moo Myung mengingat kalau Putri yang mengatakan orang menangkap rusa pertama menang. Ban Ryu pikir kalau sampai putri Sook  menangkap duluan maka terlihat seperti orang bodoh. Mereka pun bergegas pergi. 


Ah Ro berjalan dihutan mencari-cari keberaaan Putri Sook karena diberitahu ada diPohon terbesar. Dibalik pohon Putri Sook bisa melihat Ah Ro yang berusaha mencarinya, sebuah panah dengan ujung sangat runcing sudah dipersiapkan. Ah Ro berteriak memanggil putri
Flash Back
Ratu memerintahkan Putri Sook untuk  melenyapkan gadis bernama Ah Ro dengan Lakukan dalam Rumah Hwarang dan Jangan ada yang tahu. Lalu bertanya apakah mengerti maksud ucapanya.
Ah Ro terus memanggil putri Sook merasa kalau memang ini tempatnya karena menemukan sebuah pohon yang besar. Putri Sook sudah siap dengan busur panahnya.
Maek Jong menemukan sebuah rusa dan mulai memanahnya, Moo Myung yang sedang berburu bingggung melihat Ah Ro yang ada didalam hutan. Sebuah panah tiba-tiba melewati bagian samping Ah Ro dan tertancap di pohon.
Moo Myung melihat sosok dari kejauhan seperti sengaja mengarahkan panahnya pada A Ro, Putri Sook menarik kembali busur panahnya saat itu Moo Myung langsung berlari menghalanginya dengan bagian dada yang tertusuk panah. Ah Ro langsung menangis melihat Moo Myung yang tertusuk panah.
Putri Sook kaget melihat panahnya malah mengenai Moo Myung, Maek Jong mendengar jeritan Ah Ro langsung memacu kudanya dan melihat sosok wanita berlari kabur dan mengikutinya. Moo Myung dengan menahan sakit meminta agar jangan menangis dan menarik busur panahnya. Ah Ro seperti tak tega melakukanya. 

Putri Sook sudah duduk diam dengan kudanya, Maek Jong datang langsung bertanya alasan Putri Sook melakukan itu dengan nada penuh amarah. Menurutnya kalau itu sudah  berada di luar garis kewajaran. Putri Sook merasa kalau Maek Jong itu tak tahu siapa dirinya. Maek Jong tetap ingin tahu alasanya.
“Jangan lakukan ini lagi, Aku tidak akan memaafkanmu, Jika kau mencoba menyakitinya lagi... Apa kau Paham?” tegas Maek Jong pada Putri Sook mengancamnya. 

Moo Myung sudah dibawa ke ruangan tabib, Ah Ro sambil menangis membersihkan lukan Moo Myung, merasa tak percaya kalau kakaknya itu sampai bisa menghalangi panah itu. Moo Myung menegaskan kalau sebelumnya mengatakan  akan melindunginya. Ah Ro berpikir dirinya itu yang akan membuat Moo Myung terluka.
“Jangan menangis... Melihatmu menangis maka sakitnya tambah parah.” Ungkap Moo Myung lalu ingin menghapus ari mata Ah Ro lalu terhenti dengan kejadian sebelumnya.
Flash Back
Tuan Ahn menemui Moo Myung didepan rumah Hwarang, dan memohon agar melindungi Ah Ro dan harus lakukan apa pun melindunginya.
Moo Myung pun menurunkan tangan membiarkan Ah Ro menangis, Sementara Maek Jong menunggu diluar seperti merasa bersalah. 


Putri Sook duduk di kamarnya, mengingat saat Moo Myung menyelamatkan Ah Ro dengan terkena panah lalu Maek Jong marah besar dengan yang dilakukanya, serta memperingatakan agar tak melakukan lagi.
“Jika kau mencoba menyakitinya lagi, maka Aku tak akan memaafkanmu.” Tegas Maek Jong. 

Moo Myung akhirnya keluar dari ruang tabib, Maek Jong langsung menghampirinya dengan menanyakan keadaanya lalu meminta maaf. Moo Myung binggung kenapa Maek Jong yang meminta maaf. Maek Jong seperti tak bisa menjelaskan kalau itu ulah dari Putri Sook. Moo Myung kembali bertanya kenapa Maek Jong meminta maaf.
Tiba-tiba sebuah pengumuman terlihat bertuliskan “Raja ada dalam Hwarang.” Semua berkumpul melihat tak percaya kalau seorang raja ada dalam Hwarang, Ah Ro terdiam melirik pada Maek Jong, sementara Maek Jong gugup karena identitasnya mungkin akan terbongkar. Wi Hwa datang melihat tulisan lalu naik kebagian atas balkon lalu merobeknya.
“Jika ini lelucon, maka aku akan maafkan sekali saja. Namun jika ada motif di balik ini maka aku tak akan mengampuni berikutnya. Apa kalian Paham?” tegas Wi Hwa,  Semua menjawab mengerti lalu menyuruh mereka semua kembali.
Semua pun bergegas pergi, hanya ada Maek Jong yang gugup, Moo Myung yang terlihat kalau musuhnya itu ada didekatnya, sementara Ah Ro juga seperti menyimpan rahasia yang cukup berat untuk dirinya. Saat itu hujan turun sangat deras, ketiga tetap berdiri dibawah hujan yang deras.
Bersambung ke episode 12

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar