Selasa, 10 Januari 2017

Sinopsis Hwarang Episode 7 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS

“Memang kamu siapa? Siapa kamu beraninya membuatku merasa menyedihkan?” ucap Maek Jong marah, Saat itu Moo Myung sedang berjalan menuju suatu tempat.
“Kalau kau terus begini kepadaku, kakakku tidak akan memaafkanmu.” Ucap Ah Ro memperingatinya. Maek Jong makin marah menyuruh Ah Ro tak lagi membahas mengenai kakaknya.
“Kakakku akan...”ucap Ah Ro saat itu Maek Jong langsung mencium Ah Ro, Ah Ro berusaha melepaskan tapi Maek Jong tetap memaksa untuk menciumnya.
Maek Jong akhirnya melepaskan ciuman dan keduanya saling menatap, ia ingin kembali mencium Ah Ro tapi Ah Ro lebih dulu membenturkan kepalanya membuat Maek Jong mengaduh kesakitan. Terdangar suara langkah yang semakin mendekat, Ah Ro langsung menutup mulut Maek Jong dan menarikanya agar bersembunyi karena kakaknya yang datang. 

Moo Myung membuka pintu tak melihat ada sosok adiknya dalam ruangan, akhirnya keluar kembali. Ah Ro menanjamkan pendengaranya, memastikan kalau kakaknya itu sudah pergi. Akhirnya ia pun berlari keluar dengan terburu-buru dari Ruang tabib agar tak ketahuan oleh kakaknya. Saat itu Moo Myung keluar dari persembunyianya, bisa melihat Ah Ro yang berlari meninggalkan ruangan.
“Apa yang telah kau lakukan?” ucap Moo Myung sudah berdiri di depan Maek Jong akan keluar ruangan. Maek Jong dengan sinis kalau itu bukan urusan Moo Myung.
“Apa Karena kau kakaknya?” ejek Maek Jong. Moo Myung langsung memberikan pukulan diwajah Maek Jong sebagai pelajaran.
“ Jangan mendekati dia!!! Jangan melihat dia!! Jangan bicara kepada dia!!” ucap Moo Myung memperingati.
“Aku tidak bisa melakukannya... Kurasa... aku menyukai adikmu.” Akui Maek Jong, Moo Myung memilih untuk pergi dan tak mengubrisnya. 

Moo Myung melihat lampu ruangan yang menyala lalu masuk dan melihat Ah Ro terlihat ketakutan. Ah Ro dengan terbata-bata mengaku  tidak enak badan dan ingin pergi tapi.... Moo Myung memberikan sapu tangan ditangan adik Sun Woo untuk bisa mengelap keringatnya.
“Malam ini kita beristirahat. Segalanya baru bagi ku, sehingga aku tidak tahu cara menjadi kakak yang baik. Aku tidak pernah ragu dalam hal apa pun selama ini, tapi kau selalu menghentikan ku. Jadi beri aku waktu , Aku akan segera menjadi kakakmu yang sesungguhnya.” Ungkap Moo Myung yang ingin mengantikan posisi Sun Woo sebagai kakak Ah Ro . 

Maek Jong duduk di dalam ruangan melihat gambar yang diperlihatkan Ah Ro seperti meresapi semua arti dari dirinya selama ini yang jatuh dari sangkar dan terus menutupi jati dirinya sebagai seorang raja.
Joo Ki mengikuti Ah Ro dari belakang sambil berkata kalau  Ada dua kemungkinan yaitu Kepedulian pria terhadap wanita atau sebaliknya. Ah Ro mengeluh pada Joo Ki kalau  bisa pergi sendirian. Joo Ki menegaskan kalau ini menurut feelingnya, kalau Moo Myung sungguh tidak mengenal adiknya dan demi mendapatkan perak, akan mengadu sapi. Tapi tidak mendengarkan.

“Apa Kakakku memintamu untuk mengantarku pulang?” ucap Ah Ro kaget
“Apa lagi alasanku melakukan ini? Tidak ada yang bisa mempengaruhiku.” Ucap Joo Ki
“Apa Kau sungguh mengatakan hal itu kepada kakakku Bahwa aku akan mengadu sapi demi perak?” ucap Ah Ro tak yakin
“Aku tidak mengarangnya. Tapi apa dia benar-benar kakakmu?” ucap Joo Ki sedikit ragu, Ah Ro binggung dengan ucapan Joo Ki
“Ini terasa Aneh sekali. Dia bilang, kalung itu milik temannya.” Kata Joo Ki, Ah Ro terlihat sedikit kaget. 


Moo Myung berjalan kembali ke kamar tiba-tiba seseorang di pinggir danau bertanya apa yang sedang dilakukanya. Wi Hwa sedang duduk sambil memancing dimalam hari, bertanya apa yang dilakuan Moo Myung di sana saat tengah malam, Moo Myung pikir bukan urusan Wi Hwa

“Peraturannya, kau harus bersama teman sekamarmu. Kau ingat itu?” kata Wi Hwa, Moo Myung meminta agar bisa meninggalkan sendirian dan sedang tidak ingin bicara. Wi Hwa mulai mengumpat.
“Kudengar, julukanmu adalah Anjing-Burung. Kau memang bagaikan anjing dan burung, yaitu Pecundang berdarah campuran.” Ucap Wi Hwa, Moo Myung meminta agar tak mencampuri urusannya.
“Apa kau tahu? Aku menyukaimu. Bagimu, semua orang adalah musuh. Kau temperamental dan itu membutakanmu, sehingga kau bodoh. Orang sepertimu, membuatku semangat mengajar.” Akui Wi Hwa 


Esok harinya
Semua anggota Hwarang berlari melatih fisik mereka, sementara Moo Myung dan 4 teman sekamarnya harus mengontong tandu yang diduduki oleh Wi Hwa. Wi Hwa mengingatkan kalau  Teman sekamar adalah pasangan jadi mereka harus tidur dan bangun bersama Tapi seseorang berkeliaran sendiri pada tengah malam, kalau itu  buruk sekali.
“Tidakkah kau setuju, Anjing-Burung?” ejek Wi Hwa terlihat bahagai naik diatas tandu layaknya pejabat negara.
“Dasar kau.. Lihat perbuatanmu yang menyebabkan kami menjadi begini.” Ucap Ban Ryu marah, Soo Ho menyuruh Ban Ryu untuk mengangkat dengan benar saja karena menopang berat lebih berat disininya.
Ia pun memperingatkan Moo Myung kalau akan  menghabisiny nanti. Maek Jong merasa kalau Pa Oh akan terkejut kalau menyaksikan ini. Sementara Wi Hwa bisa melihat bagian puncaknya.

Semua sudah ada di puncak dengan menghadap ke matahari, Wi Hwa duduk dibagian depan dengan semua anak murid yang berbaris dengan rapih.
“Sebagai anggota Hwarang untuk Silla, jadilah seperti matahari itu. Menjadi sesuatu baru dan bersemangat setiap hari. Buang semua prasangka dan kesombongan. Kalian harus terlahir kembali. Mengerti?” ucap Wi Hwa, semua menjawab mengerti. 

Moo Myung dkk mencuci pakaian disungai. Ban Ryu yang kesal memberikan cucian kotornya pada Moo Myung karan ulahnya jadi harus mencucin semuanya, dengan memperingatkan kalau ia terkena hukuman lagi karena ulahnya maka semua tidak akan berakhir dengan mudah.
“Dia tidak pernah berubah. Kenapa dia selalu kasar?” keluh Soo Ho melihat musuh berbuyutanya pergi.
“Kau juga harus mencuci pakaianku, kemarin Aku sudah banyak bekerja.” Ucap Soo Ho.
Dari jauh Maek Jong melihat tingkah para pria, Soo Ho pun meminta agar Moo Myung memberitahu alasan keluar kamar dimalam hari, Moo Myung menghela nafas lalu teringat kalau Soo Ho itu memiliki seorang adik perempuan. Maek Jong menatap Moo Myung yang berbicara pada So Ho.

Ah Ro baru saja membuka pintu langsung dikagetnya dengan Maek Jong yang sudah berdiri didepan pintu. Maek Jong langsung masuk kedalam ruangan dengan nada mengoda bertanya apakah tidurnya nyenyak, menurutnya seperti itu karena mata Ah Ro yang tidak berkedip. Ah Ro mengambil sebuah jarum untuk bersiaga bertanya alasan Maek Jong datang lagi.
“Karena kita berciuman tadi malam.” Ucap Maek Jong merasa Ah Ro itu tertarik padanya.
“Pasti kau terlalu yakin bisa memahami wanita. Wanita sangat tidak...” ucap Ah Ro terhenti merasa  tidak perlu menjelaskannya.
“Dan Kalau tujuanmu untuk meminta maaf, akan kumaafkan.” Kata Ah Ro, tapi Maek Jong malah bertanya kesalahanya dan kenapa harus meminta maaf.
“Kau harus meminta maaf setelah berbuat kesalahan.” Tegas Ah Ro, Maek Jong malah mengoda kalau yang dilakukan itu  bukan kesalahan

“Kalau menciumku di luar kemauanku bukanlah kesalahan, apa itu kemarahan dari anak kecil?” sindir Ah Ro
Maek Jong hanya menatapnya, Ah Ro ingin memberitahu karena Maek Jong yang tak mengenalnya, menurutnya Maek Jong sudah mati jika saat itu menjadi dirinya yang biasanya, lalu tak ingin membahasnya agar menganggap itu tidak pernah terjadi. Maek Jong malah heran kalau Ah Ro menganggap sebagai kemarahan dari anak kecil dan tidak pernah terjadi, semakin mendekati Ah Ro.
“Satu langkah lagi saja kau mendekat, akan kutancapkan jarum akupunktur yang dapat melumpuhkan kemaluanmu.” Ucap Ah Ro memperingati tapi Maek Jong tak takut tetap melangkah mendekatinya. Ah Ro langsung menancapkan jarum di bagian paha Maek Jong
“Kau tidak akan bisa bergerak untuk beberapa saat dan Aku sungguh akan menancapkan jarumnya ke titik akupunktur, jadi jangan mendekat.” Kata Ah Ro lalu keluar dari ruangan. Maek Jong berusaha untuk bergerak tapi kakinya benar-benar terasa kaku. 


Ah Ro bertemu kembali dengan temanya agar bisa  meminjaminya 20 perak. Temanya bertanya ada apa dengan temanya karena selama ini mengira tidak mau berutang kepadanya. Ah Ro menceritakan memiliki hutang yang harus dibayar, meskipun itu merupakan penghinaan.
“Kau berutang kepada siapa?”tanya temanya penasaran, Ah Ro pikir temanya tak perlu tahu.
“Dia pria yang kasar, kejam, dan menyusahkan.” Ungkap Ah Ro. Temanya bisa tahu kalau  penagih utang memang seperti itu.
“Seseorang berkata "Aku tidak pernah ragu dalam hal apa pun selama ini tapi kau selalu membuatku berhenti." Kedengarannya, orang ini mencemaskanku, kan?” cerita Ah Ro
Temanya menebak kalau yang berkata adalah  orang yang meminjamkan perak kepadanya. Ah Ro mengaku bukan orang yang sama, temanya berkomentar kalau ini alasannya mereka tidak boleh mempelajari cinta melalui buku saja.
“Coba kau Dengar. Mencemaskan itu bagaikan saat pedagang garam takut hujan, pembuat penyumbat tidak takut hujan. Begitulah maksud mencemaskan. Dia berkata  "Kau selalu membuatku berhenti." Bukankah mereka menganggap ini sebagai cinta?” ucap teman Ah Ro, sementara Ah Ro malah terlihat binggung
“Jadi, maksudmu pria itu mencemaskanmu gara-gara penagih utang itu.  Aku cemburu dan Sudah kusangka kau akan mendapatkan sesuatu di sana.” Komentar temanya,  Ah Ro merasa itu mustahil,  menyuruh temanya agar Makan kue beras saja.


So Ho melatih otot tanganya dengan berolahraga dikamar, membahas pertanyaan Moo Myung tentang  Bagaimana cara memperlakukan adik perempuan, lalu memberitahukan yang pertama  adalah jangan anggap dia sebagai wanita.
“Kasih sayang di antara kakak beradik akan tumbuh saat kalian saling bertindak kasar. Kalau melihat dia dari kejauhan, maka kau harus bagaimana?” ucap So Ho. Moo Myung dengan wajah penasaran menunggu jawabanya.
“Kau harus Lari  dan hampiri dia, lalu Piting dia lebih dahulu. Anggap saja dia hewan peliharaanmu, dan teruslah piting dia. Bahkan Piting terus sampai dia menyerah.” Ucap So Ho memperagakanya, Moo Myung pun mencoba mengikutinya.
“Saat kau pulang, jangan melakukan apa pun dan Panggil saja dia.” Ucap  So Ho duduk layaknya raja memanggil adiknya seperti pelayan agar menyuruh melakukan apapun.
Moo Myung heran merasa kalau Soo Ho itu tak akrab dengan adiknya,  So Ho menegaskan kalau sebenaranya Adik-adik mereka  lebih kuat dari yang kita pikir Serta, semua kakak bertanggung jawab melatih adik-adiknya menjadi lebih kuat. Kalau tidak, maka bagaimana mereka  bisa bertahan di dunia kejam ini saat kakaknya tidak bisa menjaga adiknya. Moo Myung pun seperti bisa mengerti.
So Ho melihat wajah Moo Myung merasa kalau temanya sudah mengerti dengan yang dikataknya. Moo Myung malah bertanya apa saja tadi yang dikatanya dan meminta agar bisa mengulanginya. 


Ah Ro berjalan dengan wajah cemas, merasa sangat terganggu kalau nanti menemui Tuan Mesum lagi dan bagiamana kalau sampai kakaknya itu mengetahuinya merasa semuanya jadi rumit tapi tak bisa membayar hutangnya kalau pergi begitu saja dan memantapkan diri kalau harus bertahan. Tiba-tiba Moo Myung sudah ada didepan Ah Ro yang membuatnya kaget.
“Aku rasa kau hendak menghindar.” Ucap Moo Myung melihat adiknya malah berbalik arah, Ah Ro menyangkalnya dengan wajah gugup.
“Aku harus berbicara dengan Pi Joo Ki.” Kata Ah Ro, Moo Myung mengikuti cara Soo Ho dengan meminting kepala Ah Ro.
Ah Ro sempat sedikit tercekik dan Moo Myung sedikit melonggarkan tanganya, lalu memegang kepala Ah Ro dengan menekanya. Setelah  itu menyuruh Ah Ro pergi dan ia berjalan meninggalkan adiknya merasa kalau tadi terlihat sikap yang alami. Tapi Ah Ro melihat sikap Moo Myung itu Aneh sekali berpikir kalau sedang memberikan perawatan akupresur.

Ratu sedang terdiam dengan tatapan kosong mengingat saat anaknya yang berbaring dipangkuan Ah Ro, lalu bertanya pada pengawalnya keberadan tuan Ahn. Pengawalnya memberitahu kalau Tuan Ahn baru saja tiba di istana. Ratu akan berjalan tapi tiba-tiba kepalanya terasa sakit, pengawal menahanya agar tak terjatuh, tapi Ratu seperti masih bisa bertahan.
Akhirnya Ratu masuk ke dalam ruangan dan langsung jatuh pingsan saat itu Tuan Ahn yang sudah ada diruangan langsung memeluknya sebelum Rtu Ratu jatuh tak sadarkan diri. Ratu Ji So sudah terbaring diatas tempat tidurnya, Tuan Ahn siap dengan jarumnya ingin menusuk ke bagian telinga.
“Titik akupunktur ini bisa merenggut nyawa seseorang dalam hitungan detik.” Ucap Tuan Ahn seperti memiliki dendam tapi akhirnya mengurungkan niatnya. 

Ratu membuka matanya melihat Tuan Ahn dengan menyindirnya kalau tidak memanggil untuk merawatnya. Tuan Ahn memerintahkan agar Ratu tak banyak  bicara dahulu dan akan menancapkan jarumnya pada titik akupunktur ini akan menenangkannya. Ratu melihat di bagian pengelangan tanganya seperti mengingat sesuatu.
Flash Back
Tuan Ahn melakukan hal yang sama dengan menusuk ke bagian pergelangan tangan agar bisa membuat Ratu tenang. Ratu Ji So memohon pada Tuan Ahn agar bisa lari bersamanya dan meminta untuk kabur dari Silla bersamanya.
“ Aku sudah berkeluarga.” Ucap Tuan Ahn menolak permintaan Ratu Ji So
“Aku tahu kau menikah karena dendam kepadaku.” Ungkap Ratu Ji So, Tuan Ahn pikir semua sudah terjadi dan tak bisa diputar ulang.
“Maksudmu kau akan menolak permohonanku, gara-gara pelayan bisu itu?” ucap Ratu Ji So marah
“Dia bukan seorang pelayan lagi tapi Kini dia istriku.” Tegas Tuan Ahn membela istrinya.
Ratu Ji So tak percaya kalau Tuan Ahn  akan meninggalkannya dan  membiarkan  begitu saja menikah dengan paman Tuan Ahn  yang usianya lebih dari 60 tahun. Tuan Ahn menegaskan kalau Ratu Ji So yang  yang meninggalkannya. Ratu Ji So memberikan peringatakan kalau melepaskan tanganya maka akan menyesal. Tuan Ahn tak peduli memilih untuk melepaskan tangan Ratu Ji So. 

Ratu Ji Soo tak yakin kalau Tuan Ahn tidak akan membunuhnya  dengan jarum-jarum ini. Tuan Ahn mendekat lalu meraba bagian wajah Ratu Ji Soo, Ratu terlihat panik karena tiba-tiba disentuh oleh pria yang dulu mencintianya.
“Kau sakit akibat sirkulasi darah yang mendadak buruk dan akan baik-baik saja. Mintalah tabib istana untuk mencabut jarum-jarumnya setelah 15 menit.” Ucap Tuan Ahn lalu akan pergi, Ratu Ji So bangun dari tempat tidurnya berkomentar kalau anak Tuan Ahn mirip dengan ibunya.

“Putrimu bekerja sebagai tabib di Rumah Hwarang. Kurasa cuma itu caranya agar bisa melihat wajah cemasmu.” Ucap Ratu Ji So dengan tatapan sinis, Tuan Ahn sempat kaget mendengarnya.
“Bagaimana rasanya mengontrol semua yang ada di hidupku?” sindir Tuan Ah, Ratu Ji So malah bertanya haruskah ia  mengontrol hidupnya.
“ Itu sebabnya aku akan memikirkan cara agar bisa merenggut sesuatu darimu.” Gumam Tuan Ahn penuh dendam. 


Moo Myung sibuk belajar dalam kamar, Yeo Wool mengejek Moo Myung kalau tak banyak yang bisa dipelajari, karena yakin teman satu kamarnya itu yang pertama akan meninggalkan Rumah Hwarang jadi meminta agar Jangan buang-buang tenaga.
“Selain dia, kau juga akan sulit bertahan di tempat ini.” Ucap Yeo Wool menunjuk ke arah Ban Ryu. Moo Myung menopang tangan di dagunya menyuruh Yeo Wool tak perlu ikut campur karena tidak tertarik kepadanya. 

Sementara So Ho sudah siap tidur dengan berkata kalau  merasa diremehkan, yang menganggap Raja dan air lalu bertanya-tanya dimana raja. Maek Jong menatap temanya mendengarkan pembicaran tentang raja. Ban Ryu pikir itu tak penting keberadaanya karena  Raja tanpa wajah itu lemah dan tidak bisa disebut Raja.
“Bukankah orang-orang memberitahumu bahwa kau seperti pohon? Kau selalu kasar bagaikan pohon cemara.” Ucap So Ho mengejeknya. 

Maek Jong terdiam  mengingat ucapan Ah Ro tentang gambar burung “ Ibu Suri tidak ingin turun takhta, sehingga Raja harus bisa menjadi kuat dan terbang. Aku mengasihani burung muda itu.”
Sementara Moo Myung mengingat terakhir kalinya bertemu dengan Sun Woo yang dikejar seseorang mengaku kalau  melihat Raja. Lalu saat tidur di gudang jerami, Sun Woo menceritakan seseorang memanggil pria itu  "Yang Mulia." dan tampak seperti seorang raja biasa.

Semua anggota Hwarang masuk kedalam ruangan dan sibuk membuat contekan pada tempat yang nyaman. Yeo Wool hanya bisa mengeluh tempat itu Menyedihkan sekali dan menurutnya Ini bukan hal yang bisa diselesaikan dengan cara seperti itu. So Ho tiba-tiba menempelkan sesuatu pada punggungnya.
“Itu catatanku, karena orang yang tidak bisa berpikir saat sedang terkejut.” Ucap Soo Ho, Yeo Wool mengeluh pada Han Sung yang  tidak menghentikannya.
“Han Sung ingin duduk di sebelahku.” Ucap So Ho memperlihatkan punggung kalau Han Sung menempelkan pada punggungnya. 
Yeo Wool berkomentar So Ho memang terlihat begitu sempurna tapi sangat disayangkan. So Ho merasa tidak sesempurna itu. Yeo Wool menegaskan kalau ia tak memujinya. Han Sung berbisik ingin tahu  Apa yang terjadi pada Anjing-Burung jika tidak lulus. So Ho mengatakan kalau Moo Myung  akan kehilangan satu dari tiga kesempatannya dan semakin sulit bertahan. Moo Myung terlihat berusaha keras untuk belajar. 

Wi Hwa sudah ada dibagian atas memimpin tes untuk anggota Hwarang,  dengan menanyakan lebih dulu  apakah mereka mendambakan otoritas atau mau menjadi pejabat tapi menurutnya Lebih baik menjadi pejabat.
“Meski tidak memiliki tanggung jawab, tapi kekuasaan kalian akan menjadi luar biasa. Saat menjadi pejabat, maka kalian akan memiliki Silla selamanya. Kalau kalian ingin memanjat ke sesuatu yang lebih tinggi dari keadaan kalian... Kalau kalian ingin melindungi semua yang berharga bagi kalian... Kalau ingin bertahan, maka kalian harus lulus. Hanya ini caranya untuk meraih impian kalian.” Ucap Wi Hwa, semua terlihat serius mendengarkanya.
“Diskusikan raja sebagai air. Tapi, harus berdasarkan "Tao Te Ching". "'Tao Te Ching mendiskusikan nilai alami" dan Kalian boleh memulainya.” Kata Wi Hwa akan memulai tesnya.

Beberapa anak mulai mencoba kembali catatan yang ada ditangan, kaki bahkan kipas untuk mencontek. Tiba-tiba Wi Hwa berteriak, membuat semua orang kaget memperingatkan agar semuanya jangan menyontek. Ah Ro berjalan mengendap-ngendap lalu menempelkan  kue beras di pintu dan membuat lubang di pintu.
“Kakak harus lulus... Kumohon.” Ucap Ah Ro melihat dari lubang kakaknya yang sedang mengikuti tes, Asisten Wi Hwa yang berjalan diluar ruangan berteriak saat melihat Ah Ro yang mengintip. Ah Ro buru-buru kabur meningalkan ruangan. 

Wi Hwa memeriksa hasil jawabany dengan berkomentar kalau Orang ini menyontek Bab Tiga dari "Tao Te Ching" dan yang lainya dengan menuliskan "Sulit sekali mengatur orang-orang karena mereka bijaksana. Maka kita harus membuat semua orang menjadi seperti air. Seperti air di dalam air, dan air di dalam alkohol."
So Ho mendengar jawaban yang dibacakan lalu bertanya apakah jawabanya salah, Yeo Wool yang mendengar jawabanya hanya bisa mengelengkan kepala. Wi Hwa melihat lembaran lainya, seperti milik Ban Ryu dan langsung membedakan di sisi kanan.
Yang lainya lebih banyak ke sisi kiri, karen Wi Hwa bisa tahu yang menyalin. Ia merasa seperti dianggap membuang kertas berharga untuk membaca jawaban buruk mereka padahal  Tugas ini telah diberikan agar bisa tahu dunia macam apa yang mereka impikan.
“Tapi aku terkejut karena kalian tidak tahu apa-apa. Di antara semuanya, siapa yang harus bertanggung jawab untuk kedua jawaban bodoh ini?” ucap Wi Hwa mengangkat dua lembar jawabanya, Maek Jong dan Moo Myung berdiri, Wi Hwa merasa kalau keduanya berencana gagal atau sebagai ide cemerlang untuk keduanya.
“Menurutku Lao Tzu tidak akan menjawab pertanyaan ini dengan tulisan. Filosofinya menentang tindakan pemaksaan.” Ucap Maek Jong, Wi Hwa bertanya apakah Moo Myung setuju dengan Maek Jong.
“Aku tidak bisa menulis apa yang kumau Maka aku mau menyampaikannya lewat ucapan.” Ucap Moo Myung, Wi Hwa ingin tahu siapa yang ingin memulainya. Maek Jong langsung mengangkat tangan kalau  akan mulai pertama.
“Hukum Silla adalah Sistem Tingkatan Tulang. Jalur air.... Hukum adalah jalur air. Jadi, aliran alaminya ditentukan oleh alam. Tapi jalur air tidak ada di mana-mana. Sebagian tanah mengering saat yang lainnya dilimpahi air. Mengikuti jalur yang dibentuk oleh air mengalir. Ada harmoni dan kekuatan dari kekosongan yang tidak mengusik. Hukum raja dan jalur raja ada di sana.” Ucap Maek Jong,  Han Sung sempat mengangkat tangan untuk bertepuk tangan pelan. Moo Myung menyela
“Itu omong kosong. Kebangsawanan menggunakan rendah hati sebagai akarnya, dan ketinggian menggunakan kerendahan sebagai dasarnya.” Kata Moo Myung
“Itu bahkan lebih omong kosong. Kau berani menyebut "Tao Te Ching" sebagai omong kosong?” sindir Wi Hwa

“Sebuah jalur air membuat air mengalir dari permukaan tinggi ke rendah. Lalu di manakah sesuatu yang berasal dari permukaan rendah menemukan jalurnya?” ucap Moo Myung, Maek Jung menatap dari kejauhan.
“Jalur yang membuat rendah menjadi tinggi. Bukan hanya jalur air yang mengalir dari tinggi ke rendah, tapi jalur yang kering dan tandus yang harus diberi air untuk membasahinya. Aku tidak bisa menemukan jawaban di buku "Tao Te Ching" dan Tidak ada jalur yang dimulai sebagai jalur. Seseorang harus berjalan di atasnya agar itu menjadi jalur. Kita harus menghantam dan menghancurkan tanah yang keras serta membuat lubang agar air bisa mengalir melewatinya. Jika hukum mengabaikan tanah yang kering dan ada yang namanya jalur raja, maka raja seharusnya tidak menjadi raja.” Jelas Moo Myung panjang lebar.
So Ho yang mendengarnya bisa tersenyum, Maek Jung terlihat hanya bisa diam sementara Wi Hwa hanya bisa menghela nafas.
Bersambung ke part 2

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar